Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan dan

merupakan garda depan yang menghadapi masalah kesehatan klien

selama 24 jam secara terus menerus harus mampu memberikan

pelayanan kepada klien sesuai dengan keyakinan profesi dan standar

yang ditetapkan. Hal ini ditunjukkan agar pelayanan keperawatan yang

diberikan senantiasa merupakan pelayanan yang aman serta dapat

memenuhi kebutuhan klien. Tuntutan masyarakat terhadap kualitas

pelayanan keperawatan dirasakan sebagai fenomena yang harus

direspons oleh perawat. Respons yang ada harus bersifat kondusif

dengan belajar banyak langkah-langkah konkrit dalam pelaksanaannya

(Nursalam, 2014),

Pasien sebagai pengguna jasa pelayanan keperawatan menuntut

pelayanan keperawatan yang sesuai dengan haknya. Kepuasan pasien

sangat mempengaruhi dan mampu menciptakan hubungan yang baik

antara rumah sakit dengan pelanggan. Kepuasan pasien merupakan

salah satu indikator kualitas pelayanan yang kita berikan dan kepuasan

pasien adalah modal untuk mendapatkan pasien lebih banyak lagi dan

untuk mendapatkan pasien yang loyal (setia). Oleh karena itu, diperlukan

adanya hubungan yang baik antara pasien dan perawat dalam

1
2

menerapkan suatu model asuhan keperawatan. Dengan menerapkan

model yang baik maka pelayanan pasen menjadi sempurna sehingga

kepuasan pasien bisa terpenuhi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hendra di RSUD.

Luwuk Kab. Banggai tahun 2012 tentang kepuasan pasien terhadap

pelayanan keperawatan menunjukkan dari 64 respnden yang diteliti

didapatkan 74,8 % tingkat kepuasan belum sesuai harapan, dimensi

loyalitas 75,9 % belum sesuai harapan dan pada dimensi kepuasan 70,5

% belum sesuai harapan. Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa

pelayanan yang diberikan oleh perawat kepada pasien masih jauh dari

kata puas. Penerapan model asuhan keperawatan professional (MAKP)

khususnya sentralisasi obat yang baik merupakan merupakan salah satu

usaha untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

Pengecekan terhadap penggunaan dan konsumsi obat, sebagai

salah satu peran dari perawat, perlu dilakukan dalam suatu pola atau alur

yang sistematis sehingga mampu meningkatkan kepuasan pasien dalam

menerima pelayanan. Sentralisasi obat merupakan pengelolaan obat

dimana seluruh obat yang akan diberikan kepada pasien diserahkan

pengelolaan sepenuhnya oleh perawat (Nursalam, 2014). Tujuan yang

ingin dicapai dalam program ini adalah menggunakan obat secara

bijaksana dan menghindari pemborosan tetapi fokusnya adalah

memberikan keamanan bagi pasien dalam pengelolaan obat dan

meningkatkan kepuasan pasien atas asuhan keperawatan yang diberikan.


3

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan dengan teknik wawancara

terhadap 10 pasien rawat inap Diruang Baji’ pa’mai’ RSUD Labuang Baji

Makassar menunjukkan bahwa 20 % pasien menyatakan puas dan 80 %

menyatakan tidak puas terhadap pengelolaan obat. Ketidakpuasan pasien

disebabkan karena kurangnya informasi mengenai managemen

sentalisasi obat yang diterima oleh pasien. Berdasarkan latar belakang

diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan

Pelaksanaan Sentralisasi Obat Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap di

RSUD Labuang Baji Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, maka

rumusan masalah penelitian ini adalah: “Apakah ada hubungan

pelaksanaan sentralisasi obat dengan kepuasan pasien rawat inap di

RSUD. Labuang Baji Makassar ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan pelaksanaan sentralisasi obat dengan

kepuasan pasien rawat inap di RSUD. Labuang Baji Makassar.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya pelaksanaan sentralisasi obat di RSUD Labuang Baji

Makassar.
4

b. Diketahuinya kepuasan pasien rawat inap di RSUD Labuang Baji

Makassar.

c. Diketahuinya hasil analisis hubungan antara pelaksanaan

sentralisasi obat dengan kepuasan pasien rawat inap di RSUD

Labuang Baji Makassar.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dan

penguat terhadap teori keperawatan tentang manajemen keperawatan

terutama berkaitan dengan pelaksanaan sentralisasi obat dalam

memberikan asuhan keperawatan pada pasien.

2. Manfaat Praktis.

a. Bagi Pihak Rumah Sakit

Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam peningkatan

mutu pelayanan khususnya pengelolaan obat/sentralisasi obat.

b. Bagi institusi

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan di

perpustakaan atau sumber data bagi peneliti selanjutnya yang

memerlukan masukan berupa data atau pengembangan.


5

c. Bagi Peneliti

Sebagai pengalaman untuk menambah wawasan dan ilmu

pengetahuan tentang manajemen keperawatan khususnya

pelaksanaan sentalisasi obat dengan tingkat kepuasan pasien dan

peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.