Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang disampaikan seseorang kepada


orang lain agar bisa mengetahui apa yang menjadi maksud dan tujuannya. Pentingnya
bahasa sebagai identitas manusia, tidak bisa dilepaskan dari adanya pengakuan
manusia terhadap pemakaian bahasa dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Untuk menjalankan tugas kemanusiaan, manusia hanya punya satu alat, yakni bahasa.
Dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan apa yang ada di benak mereka.
Sesuatu yang sudah dirasakan sama dan serupa dengannya, belum tentu terasa serupa,
karena belum terungkap dan diungkapkan. Hanya dengan bahasa, manusia dapat
membuat sesuatu terasa nyata dan terungkap.
Era globalisasi dewasa ini, mendorong perkembangan bahasa secara pesat,
terutama bahasa yang datang dari luar atau bahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan
bahasa internasional yang digunakan sebagai pengantar dalam berkomunikasi antar
bangsa. Dengan ditetapkannya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional (Lingua
Franca), maka orang akan cenderung memilih untuk menguasai bahasa Inggris agar
mereka tidak kalah dalam persaingan di kancah internasional sehingga tidak buta
akan informasi dunia. Tak dipungkiri memang pentingnya mempelajari bahasa asing,
tapi alangkah jauh lebih baik bila kita tetap menjaga, melestarikan dan
membudayakan Bahasa Indonesia. Karena seperti yang kita ketahui, bahasa
merupakan idenditas suatu bangsa. Untuk memperdalam mengenai Bahasa Indonesia,
kita perlu mengetahui bagaimana perkembangannya sampai saat ini sehingga kita
tahu mengenai bahasa pemersatu dari berbagai suku dan adat-istiadat yang
beranekaragam yang ada di Indonesia, yang termasuk kita di dalamnya. Maka dari itu
melalui makalah ini penulis ingin menyampaikan sejarah tentang perkembangan
bahasa Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan :
1. Bagaimana sejarah perkembangan bahasa Indonesia ?
2. Apa saja peristiwa – peristiwa penting dalam perkembangan bahasa
Indonesia ?
3. Apa saja fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia ?
4. Bagaimana perkembangan bahasa Indonesia masa kini ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan bahasa Indonesia
2. Untuk mengetahui peristiwa – peristiwa penting dalam perkembangan bahasa
Indonesia
3. Untuk mengetahui fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia
4. Untuk mengetahui perkembangan bahasa Indonesia masa kini

D. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Penulis
Dengan makalah ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan
penulis mengenai bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai bahasa nasional
serta fungsi dan kedudukannya
2. Pembaca
Dengan membaca makalah ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan
pembaca khususnya Mahasiswa/i Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia bearasal dari bahasa Melayu dan termasuk ke dalam rumpun
Bahasa Austronesia. Bahasa Indonesia telah digunakan sebagai lingua franca di
Nusantara sejak abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk
informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu
Pasar. Bahasa Melayu Pasar sangat mudah dimengerti, ekspresif, memiliki toleransi
kesalahan yang sangat besar, dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai
bahasa yang digunakan penggunanya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bahasa
Melayu Pasar adalah bahasa yang sangat lentur. Selain Melayu Pasar, terdapat pula
istilah Melayu Tinggi. Pada masa lalu, bahasa Melayu Tinggi digunakan di kalangan
keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk Bahasa Melayu
Tinggi lebih sulit daripada Melayu Pasar karena penggunaanya sangat halus, penuh
sindiran, dan tidak seekspresif bahasa Melayu Pasar. Pemerintah kolonial Belanda
menganggap kelenturan bahasa Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan
budaya. Pemerintah kolonial Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan
bahasa Melayu Tinggi. Diantaranya dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa
Melayu Tinggi oleh Melayu Tinggi, diantaranya dengan penerbitan karya sastra
dalam bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Akan tetapi, bahasa Melayu Pasar
sudah terlanjur digunakan oleh banyak pedagang yang melintasi Indonesia.

Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke- 7. Bukti
yang menyatakan hal tersebut ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit
yang berangka 683 M (Palembang), Talang Tuwo yang berangka 684 M
(Palembang), Kota Kapur berangka 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi yang
berangka 688M (Jambi). Prasasti-prasasti tersebut bertuliskan huruf Pranagarai
berbahasa Melayu Kuno. Bahasa Melayu Kuno tidak hanya dipakai pada zaman
Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli), juga ditemukan prasasti yang berangka
tahun 832M dan di Bogor, ditemukan prasasti yang berangka tahun 942 M yang juga
menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu
bahasa buku pelajaran agama Buddha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa
penghubung antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, yang
digunakan untuk berkomunikasi dengan para pedagang yang dating dari luar
Nusantara.

Informasi dari seseorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang mempelajari agama
Buddha di Sriwijaya, antara lain menyatakan bahwa di Sriwijaya, terdapat bahasa
yang bernama Koen-luen (I-Tsing, 159), Kou-luen (I-Tsing, 183), Koen-luen
(Ferrand, 1919), Kwenlun (Alisjahbana, 1971:1089), Kun ‘lun (Farnikel, 1977;91),
Kun’lun (Prentice, 1978 :19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Bahasa yang
dimaksud I-Tsing adalah bahasa penghubung (lingua franca) di Kepulauan
Nusantara, yaitu Bahasa Melayu.

Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak semakin jelas dari


peninggalan kerjaan Islam, baik yang berupa baru bertulis (seperti tulisan pada batu
nisan di Minye Tujoh, Aceh, yang berjangka 1380 M), maupun hasil sastra abad ke-
16 dan ke-17 (seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah
Melayu, Tajussalatin, dan Batunussalatin). Bahasa Melayu menyebar ke pelosok-
pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah
Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara karena bahasa
melayu tidak mengenal tingkat tutur.

Awal mula penamaan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermuka dari
peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oketober 1928. Pada Kongres Pemuda
Kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa
pemersatu bangsa. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, yaitu bahasa jawa
(yang sebenarnya bahasa mayoritas pada saat itu) sebagai dasar bahasa Indonesia,
tetapi beliau memilih bahasa Indonesia yang didasarkan dari bahasa Melayu yang
dituturkan di Riau.

Ki Hajar Dewantara menjabarkan bahwa yang dinamakan “Bahasa Indonesia”


adalah bahasa Melayu yang sesungguhnya berasal dari “Melayu Riau”. Namun,
bahasa Indonesia yang dikenal saat ini adalah bahasa Melayu Riau yang sudah
ditambah, diubah, atau dikurangi menurut keperluan zaman dan alam baru sehingga
bahasa itu mudah dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia. Pembaruan bahasa Melayu
menjadi bahasa Indonesia harus dilakukan oleh kaum ahli yang beralam baru, yaitu,
alam kebangsaan Indonesia (Kridalaksana, 1991).

Selanjutnya, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan,


bahasa persatuan, sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia. Apabila bahasa
Indonesia sebagai unsur dari system Negara tidak lagi mampu memberikan ketiga
fungsi tersebut, maka akan terjadi guncangan pada system social budaya Indonesia.
Misalnya, semua orang yang menghadiri suatu acara kenegaraan menggunakan
bahasa mereka anggap benar sehingga mengacaukan acara kenegaraan tersebut. Oleh
karenanya, bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa memberikan aturan
baku dalam berbahasa dan juga dapat menjembatani penuturnya untuk dapat saling
mengerti.

Adapun alasan mengapa bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan
bangsa Indonesia, berikut beberapa alasan diantaranya,

1. Jika bahasa jawa yang digunakan sebagai bahasa nasional, suku-suku bangsa
lain akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan golongan mayoritas
di Republik Indonesia.
2. Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan bahasa Melayu Riau.
Ada tingkatan-tingkatan kesopanan pada bahasa Jawa, yaitu halus, biasa, dan
kasar. Tingkatan kesopanan tersebut digunakan untuk berbicara dengan orang
yang berbeda usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang
memahami budaya Jawa, maka ia dapat menimbulkan kesan negatif yang
lebih besar.
3. Bahasa Melayu Riau dan bukan bahasa Melayu Pontianak, Banjarmasin,
Samarinda, Maluku, Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dipilih sebagai bahasa
Nasional dengan pertimbangan. (a) Suku Melayu berasal dari Riau. Bahkan,
Sultan Malaka yang terakhirpun melarikan diri ke Riau setelah Malaka direbut
oleh Portugis, (b) Sebagai lingua franca, bahasa Melayu Riau yang paling
sedikit terkena pengaruh, misalnya pengaruh dari bahasa Tionghoa Hokkien,
Tio Ciu, Ke, ataupun pengaruh dari bahasa lainnya.
4. Pengguna bahasa Melayu bukan hanya terbatas di wilayah Nusantara. Pada
1945, pengguna bahasa Melayu selain Republik Indonesia, yaitu Malaysia,
Brunei Darussalam, dan Singapura. Dengan menggunakan bahasa Melayu
sebagai bahasa persatuan, diharapkan dapat menumbuhkan semangat
patriotisme dan nasionalisme di kawasan Republik Indonesia dan Negara-
negara di sekitarnya.

Dengan terpilihnya bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pemersatu, para


pejuang kemerdekaan bersatu seperti pada masa pekembangan Islam di Indonesia.
Namun, kali ini dengan tujuan persatuan dan kebangsaan. Kemudian dilakukan
standarisasi (pembakuan) bahasa Indonesia dengan nahu (tata bahasa) dan kamus
baku. Hal ini telah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

Berikut ini adalah peristiwa penting berkaitan dengan perkembangan bahasa


Indonesia.
1. 1901. Ejaan resmi bahasa Melayu disusun oleh Ch. A. van Ophuijsen yang
dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
2. 1908. Pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang
diberi nama Commissie voor de Volkslectuur ( Taman Bacaan Rakyat), yang
kemudian diubah menjadi Balai Pustaka pada 1917. Balai Puskata
menerbitkan berbagai jenis buku, seperti novel Siti Nurbaya (Marah Rusli)
dan Salah Asuhan (Abdul Muis), buku-buku penuntun bercocok tanam, dan
buku kesehatan. Buku-buku tersebut sangat membantu penyebaran bahasa
Melayu di kalangan masyarakat luas.
3. 28 Oktober 1928. Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan momen yang paling
menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada peristiwa ini,
pemuda Indonesia mencanangkan tonggak yang kukuh bagi perjalanan bahasa
Indonesia melalui salah satu butir sumpah yang mereka ucapkan, yaitu :
Kami, putra-putri Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.
4. 1933. Berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya
sebagai Pujangga Baru, yang dipimpin oleh Sultan Takdir Alisyahbana dan
kawan-kawan.
5. 25-28 Juni 1938. Kongres Bahasa Indonesia 1 di Solo. Dari hasil kongres
tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan
Bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan
budayawan Indonesia saat itu.
6. 18 Agustus 1945. Undang-Undang Dasar RI 1945 ditandatangani. Salah satu
pasal di dalam UUD 1945 (Pasal 36) menetapkan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa negara.
7. 19 Maret 1947. Penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai
pengganti Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
8. 28 Oktober-2 November 1954. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan
merupakan salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-
menerus menyempurnakan Bahasa Indonesia yag diangkat sebagai Bahasa
kebangsaan dan ditetapkan sebagai Bahasa negara.
9. 16 Agustus 1972. H. M. Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia,
meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
(EYD) melalui pidato kenegaraan dan dikuatkan dengan Keputusan Presiden
No. 57 Tahun 1972.
10. 31 Agustus 1972. Menteri Pendidikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang secara resmi berlaku di
seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
11. 28 Oktober-2 November 1978. Kongres Bahasa Indonesia II yang
diselenggarakan di Jakarata merupakan peristiwa penting bagi bahasa
Indonesia. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah
Pemuda yang ke-50 ini memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan
perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928. Selain itu, kongres ini juga
berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
12. 21 Oktober-6 November 1983. Kongres Bahasa Indonesia IV
diselenggarakan di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka
memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusan kongres,
disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus
lebih ditingkatkan sebagai amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar
Haluan Negara, yang mewajibkan semua warga negara Indonesia untuk
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai.
13. 28 Oktober-3 November 1988. Kongres Bahasa Indonesia V
diselenggarakan di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira 700 pakar
bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat,
seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan
Australia. Peristiwa penting yang terjadi pada kongres ini adalah
dipersembahkannya Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku
Bahasa Indonesia, yang merupakan karya besar Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa kepada pecinta Bahasa di Nusantara.
14. 28 Oktober-2 November 1993. Kongres Bahasa Indonesia VI
diselenggarakan di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari
Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara yang meliputi Australia,
Brunei Darussalam, Jerman, Hong Kong, India, Italia, Jepang, Rusia
Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi
Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang
Bahasa Indonesia.
15. 26-30 Oktober 1988. Kongres Bahasa Indonesia VII diselenggarakan di
Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan
Pertimbangan Bahasa dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Keanggotaannya terdiri dari tokoh masyarakat dan pakar yang memiliki
kepedulian terhadap bahasa dan sastra.
b. Tugas Badan Pertimbangan Bahasa adalah memberikan nasihat kepada
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan
peningkatan status kelembagaan Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.
16. 14-17 Oktober 2003. Kongres Bahasa Indonesia VII diselenggarakan di
Jakarta. Kongres ini menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa. Hal ini
dikarenakan para pemuda mendeklarasikan penggunaan satu bahasa, yaitu
Bahasa Indonesia, pada peristiwa Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).
Diharapkan, dengan adanya Bulan Bahasa pada bulan Oktober setiap
tahunnya dan Kongres Bahasa Indonesia setiap lima tahun sekali, masyaarakat
dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
17. 28 Oktober-1 November 2008. Kongres Bahasa Indonesia IX. Kongres ini
membahas tiga persoalan utama: (1) bahasa Indonesia; (2) bahasa daerah; dan
(3) penggunaan bahasa asing. Kongres bertempat di Jakarta, tepatkan di Hotel
Bumi Karsa, Jakarta Selatan. Secara umum, Kongres Bahasa Indonesia IX ini
bertujuan untuk meningkatkan peran bahasa dan sastra Indonesia dalam
mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif menuju Indonesia
yang bermartabat, berkepribadianm dan berperadaban unggul.
18. 28-31 Oktober 2013. Kongres Bahasa Indonesia X dilaksanakan di Hotel
Grand Sahid Jaya, Jakarta. Kongres ini diikuti oleh 1.168 peserta dari seluruh
Indonesia dan peserta-peserta lain dari luar negeri, antara lain dari Jepang,
Rusia, Pakistan, Jerman, Balgia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia,
Tiongkok, Italia, dan Timor Leste. Kongres merekomendasikan hal-hal
sebagai berikut:
 Pemerintah perlu memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa
Indonesia melalui penerjemahan dan penerbitan, baik nasional maupun
internasional, untuk mewujudkan konsep-konsep IPTEKS berbahasa
Indonesia guna menyebarkan ilmu pengetahuan dan teknologi ke
seluruh lapisan masyarakat.
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa perlu berperan lebih
aktif dalam melakukan penelitian, diskusi, penataran, penyegaran,
simulasi, dan pendampingan dalam implementasi Kurikulum 2013
untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP) perlu bekerja sama dalam upaya
meningkatkan mutu pemakaian bahasa dalam buku materi pelajaran.
 Pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi hasil-hasil pembakuan
bahasa Indonesia untuk kepentingan pembelajaran bahasa Indonesia
dalam rangka memperkukuh jati diri dan membangkitkan semangat
kebangsaan.
 Pembelajaran bahasa Indonesia perlu dioptimalkan sebagai media
Pendidikan karakter untuk meningkatkan martabat dan harkat bangsa.
 Pemerintah perlu memfasilitasi studi kewilayahan yang berhubungan
dengan sejarah, persebaran, dan pengelompokkan bahasa dan sastra
untuk memperkukuh NKRI.
 Pemerinntah perlu menerapkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia
(UKBI) untuk menyeleksi dan mempromosikan pegawai, baik di
lingkungan pemerintah maupun swasta, guna memperkuat jati diri dan
kedaulatan NKRI, serta memberlakukan UKBI sebagai “paspor
bahasa” bagi tenaga kerja asing di Indonesia.
 Pemerintah perlu menyiapkan formasi dan menempatkan tenaga
fungsional penyunting dan penerjemah bahasa di lembaga pemerintah
dan swasta.
 Untuk mempromosikan jati diri dan kedaulatan NKRI dalam rangka
misi perdamaian dunia, pemerintah perlu memperkuat fungsi Pusat
Layanan Bahasa (National Language Center) yang berada di bawah
tanggung jawab Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
 Kualitas dan kuantitas kerja sama dengan berbagai pihak asing untuk
menginternasionalkan bahasa Indonesia perlu terus ditingkatkan dan
dikembangkan, baik di tingkat komunitas ASEAN maupun dunia
internasional, denga dukungan sumber daya yang maksimal.
 Pemerintah perlu melakukan “diplomasi total” untuk
menginternasionalkan bahasa Indonesia dengan melibatkan seluruh
komponen bangsa.
 Presiden/wakil presiden dan pejabat negara perlu melaksanakan
Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa,
dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan dan Peraturan Presiden
Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaaan Bahasa Indonesia dalam
Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara
Lainnya secara konsekuen.
 Perlu ada sanksi tegas bagi pihak yang melanggar Pasa 36 dan Pasal
38 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 sehubungan dengan
kewajiban menggunakan bahasa Indonesia untuk nama dan media
informasi yang merupakan pelayanan umum.
 Pemerintah perlu menggiatkan sosialisasi kebijakan penggunaan
bahasa dan pemanfaatan sastra untuk mendukung berbagai bentuk
industri kreatif.
 Pemerintah perlu lebih meningkatkan kerja sama dengan komunitas-
komunitas sastra dalam membuat model pengembangan industri
kreatif berbasis tradisi lisan, program penulisan kreatif dan penerbitan
buku sastra yang dapat diapresiasi siswa dan peminat sastra lainnya.
 Pemerintah perlu mengoptimalkan penggunaan teknologi informatika
dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
 Perlindungan bahasa – bahasa daerah dari ancaman kepunahan perlu
dipayungi dengan produk hukum di tingkat pemerintah daerah
secara menyeluruh.
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa perlu meningkatkan
perencanaan dan penetapan korpus bahasa daerah untuk kepentingan
pengayaan dan peningkatan daya ungkap bahasa Indonesia sebagai
bahasa penjaga kemajemukan Indonesia dan pilar penting NKRI
 Pemerintah perlu memperkuat peran bahasa daerah pada jalur
pendidikan formal melalui penyediaan kurikulum yang berorientasi
pada kondisi dan kebutuhan faktual daerah dan pada jalur pendidikan
nonformal/informal melalui pembelajaran bahasa berbasis komunitas
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa perlu meningkatkan
pengawasan penggunaan bahasa untuk menciptakan tertib berbahasa
secara proporsional
 Pemerintah perlu mengimplementasikan kebijakan yang mendukung
eksistensi karya sastra termasuk produksi dan reproduksinya, yang
menyentuh identitas budaya dan kelokalannya untuk mengukuhkan
jati diri bangsa Indonesia
 Penggalian karya sastra harus terus digalakkan dengan dukungan dana
dan kemauan politik pemerintah agar karya sastra dapat dinikmati
sesuai dengan harapan masyarakat pendukungnya dan masyarakat
dunia pada umumnya.
 Pemerintah perlu memberikan apresiasi dalam bentuk penghargaan
kepada sastrawan untuk meningkatkan dan menjamin keberlangsungan
daya kreatifitas sastrawan sehingga sastra dan sastrawan Indonesia
dapat sejajar dengan sastra dan sastrawan dunia.
 Lembaga-lembaga pemerintah terkait perlu bekerja sama mengadakan
lomba-lomba atau festival kesastraan, khususnya sastra tradisional,
untuk memperkenalkan sastra Indonesia di luar negeri yang dilakukan
secara rutin dan terjadwal, selain mendukung festival-festival
kesastraan tingkat internasional yang sudah ada.
 Peran media massa sebagai sarana pemartabatan bahasa dan sastra
Indonesia di kancah internasional perlu dioptimalkan
 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu mengingatkan dan
memberikan teguran agar lembaga penyiaran menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menerima usualan dari masyarakat
untuk menyampaikan teguran kepada lembaga penyiaran yang tidak
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
 Diperlukan kerja sama yang sinergis dari semua pihak, seperti pejabat
negara, aparat pemerintahan dari pusat sampai daerah, media massa,
Dewan Pers, dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, demi
terwujudnya bahasa media massa yang logis dan santun.
 Literal pada anak, khususnya sastra anak, perlu ditingkatkan agar nila-
nilai karakter yang terdapat dalam sastra anak dipahami oleh anak.
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa harus memperkuat unit
yang bertanggung jawab terhadap sertifikasi pengajar dan
penyelenggara Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berkoordinasi dengan
para pakar pengajaran BIPA dan praktisi pengajar BIPA
mengembangkan kurikulum, bahan ajar, dan silabus standar, termasuk
bagi komunitas ASEAN.
 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa memfasilitasi
pertemuan rutin dengan SEAMEO Qitep Language, SEAMOLEC,
BPKLN Kemendikbud, dan perguruan tinggi untuk menyinergikan
penyelenggaraan pengajaran BIPA.
 Pemerintah Indonesia harus mendukung secara moral dan material
pendirian pusat studi/kajian bahasa Indonesia di luar negeri.

B. Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia

Sejarah bahasa Indonesia cukup jelas menyebutkan apa fungsi dan bagaimana
kedudukan bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia. Fungsi bahasa Indonesia bagi
bangsa Indonesia ialah sebagai pemersatu suku-suku bangsa di Republik Indonesia
yang beraneka ragam. Setiap suku bangsa yang begitu menjunjung nilai adat dan
bahasa daerahnya masing-masing disatukan dan disamakan derajatnya dalam sebuah
bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Memandang pentingnya persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia, maka setiap suku bangsa di Indonesia bersedia menerima
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan dapat terlihat dari penduduk Indonesia yang bertransmigrasi. Perbedaan
wilayah juga berarti terdapat perbedaan budaya, termasuk perbedaan bahasa. Untuk
memperlancar komunikasi, transmigran dan penduduk asli wilayah tersebut
menggunakan bahasa Indonesia untuk dapat saling mengerti.

Selain sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara atau bahasa nasional, bahasa
Indonesia juga berkedudukan sebagai budaya. Sebagai budaya, bahasa Indonesia
merupakan bagian dari budaya Indonesia dan merupakan ciri khas atau pembeda dari
bangsa – bangsa lain di dunia. Untuk lebih memahami fungsi dan kedudukan bahasa
Indonesia , mari kita lihat penjelasan berikut ini :

1. Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Negara Dan Bahasa Resmi

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara ditetapkan pada 18


Agustus 1945, pada saat Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-
Undang Dasar Negara Repulik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945,
disebutkan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, pasal 36)

Dalam kedudukannya sebagai bahan negara, bahasa Indonesia dipakai dalam


segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik secara lisan maupun tulisan.
Dokumen, undang-undang, peraturan, dan korespondensi yang dikeluarkan oleh
pemerintah dan intansi kenegaraan lainnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Pidato-
pidato kenegaraan ditulis dan diucapkan dengan bahasa Indonesia. Hanya dalam
kondisi tertentu, demi komunikasi internasional (antarbangsa dan antarnegara), pidato
kenegaraan terkadang ditulis dan diucapkan dengan bahasa asing, terutama bahasa
Inggris. Warga masyarakat pun dalam kegiatan yang berhubungan dengan upacara
dan peristiwa kenegaraan harus menggunakan bahasa Indonesia. Untuk melaksanakan
fungsi sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia perlu senantiasa dibina dan
dikembangkan. Penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang
menentukan dalam pengembangan ketenagaan, baik dalam penerimaan karyawan
atau pagawai baru, kenaikan pangkat, maupun pemberian tugas atau jabatan tertentu
pada seseorang. Fungsi ini harus diperjelas dalam pelaksanaannya sehingga dapat
menambah kewibawaan bahasa Indonesia.

Dalam kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia


bukan saja dipakai sebagai alat komunikasi dua arah antara pemerintah dan
masyarakat; dan bukan saja dipakai sebagai alat perhubungan antardaerah dan
antarsuku, tetapi juga dipakai sebagai alat perhubungan formal pemerintahan dan
kegiatan atau peristiwa formal lainnya. Misalnya, korespondensi antar-instansi
pemerintahan, penataran pegawai pemerintahan, lokakarya masalah pembangunan
nasional, dan surat dari karyawan atau pagawai ke instansi pemerintah.

Dengan kata lain, apabila pokok persoalan yang dibicarakan menyangkut


masalah nasional dan/atau dalam situasi formal, bahasa Indonesia cenderung
digunakan. Terlebih, terdapat jarak sosial yang cukup jauh diantara perlaku
komunikasi tersebut, misalnya antara bawahan dan atasan, mahasiswa dan dosen,
kepala dinas dan bupati atau walikota, camat, lurah dan kepala desa.

Terdapat dua peristiwa sejarah Indonesia yang membantu perkembangan bahasa


Indonesia. Peristiwa tersebut adalah kebangkitan nasional (20 Mei 1908) dan
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945). Kebangkitan
nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan
kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran dan majalah sangat besar dalam
memodernkan bahasa Indonesia. Sementara itu, proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara
konstitusional sebagai bahasa Negara. Kini, bahasa Indonesia digunakan oleh
berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.
2. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan1

Unsur ketiga dalam Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa
Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada momen itulah bahasa
Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.

Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku yang


mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing, bahasa Indonesia
justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu tanpa meninggalkan
identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang
bahasa etnik yang bersangkutan. Bahkan lebih dari itu dengan bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan, kepentingan nasional diletakkan jauh di atas kepentingan
daerah dan golongan.

Latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda berpotensi untuk


menghambat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Tetapi, berkat bahasa
Indonesia, etnis yang satu bisa berhubungan dengan etnis yang lain sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Kenyataan ini meningkatkan sebaran
pemakaian bahasa Indonesia dalam fungsinya sebagai alat komunikasi antardaerah
dan antarbudaya. Penyebaran ini terjadi karena bertambah baiknya sarana
komunikasi, luasnya pemakaian alat komunikasi umum, banyaknya jumlah
perkawinan antarsuku, dan banyaknya perpindahan pegawai negeri atau swasta dari
daerah satu ke daerah yang lain karena mutasi tugas atau inisiatif sendiri.

3. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan


Seni2

Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia telah menempatkan bahasa


Indonesia dalam dua kedudukan penting, yakni sebagai bahasa nasional dan sebagai

1
Prof.Dr.Ahmad H.P,2016,Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi,Jakarta:Erlangga, hlm. 10
2
Ibid., hlm.11
bahasa negara. Sejak saat itu, bahasa Indonesia telah mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Di samping itu, bahasa Indonesia juga telah mampu mengemban
fungsinya sebagai sarana komunikasi modern dalam penyelenggaraan pemerintahan,
pendidikan, pengembangan ilmu, dan teknologi, serta seni.

Dalam Bab XV, Pasal 36 UUD 1945, bahasa Indonesia juga berkedudukan
sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu, di samping sebagai bahasa negara dan
bahasa resmi. Dalam hubungannya sebagai bahasa budaya, bahasa Indonesia
merupakan satu-satunya alat yang memungkinkan pembinaan dan pengembangan
kebudayaan nasional karena bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri dan identitasnya
sendiri yang membedakannya dengan kebudayaan daerah. Saat ini, bahasa Indonesia
digunakan sebagai alat untuk menyatakan semua nilai sosial-budaya nasional. Pada
situasi inilah, bahasa Indonesia telah menjalankan kedudukannya sebagai bahasa
budaya.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa ilmu, bahasa Indonesia berfungsi sebagai


bahasa pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk kepentingan
pembangunan nasional. Penyebaran IPTEK dan pemanfaatannya di dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan negara dilakukan dengan menggunakan
bahasa Indonesia. Penulisan dan penerjemahan buku-buku teks serta penyajian
pelajaran atau perkuliahan di lembaga-lembaga pendidikan untuk masyarakat umum
dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, masyarakat
Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada bahasa-bahasa asing (bahasa
sumber) dalam upaya mengikuti perkembangan dan penerapan IPTEK. Bahasa
Indonesia juga dipakai sebagai alat untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada
kalangan dan tingkat pendidikan. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar di
dalam semua jenjang pendidikan Indonesia. Dengan demikian, bahasa Indonesia
memiliki peran penting sebagai bahasa pengembang ilmu pengetahuan dan teknolgi.
Dalam kedudukanya bahasa Indonesia harus benar-benar dipahami oleh
semua kalangan terutama kaum muda dan pelajar, agar jiwa patriotisme dan
nasionalisme mereka terus terjaga, hal ini berkenaan dengan keadaan saat ini yang
semangkin hari semangkin krisis akan jiwa nasionalisme tersebut. Kaum muda dan
pelajar lebih bangga akan bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Mandarin, Arab dan
lainya, yang menyampingkan bahasa nasional dan negara kita, hal ini karena bahasa
Indonesia adalah bahasa Ibu yang mudah untuk dipahami dan tidak memerlukan
belajar khusus.3

4. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa dalam Pembangunan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi Republik Indonesia. Pada saat ini,
bahasa Indonesia digunakan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Bahasa Indonesia
merupakan bahasa resmi dan bahasa pertama yang digunakan, selain bahasa daerah.
Sebagai bahasa resmi Negara, bahasa Indonesia digunakan dalam berbagai
kesempatan dan kegiatan.

Sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai alat


penghubung pada tingkat nasional dalam berbagai kepentingan nasional. Perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan sebagai kepentingan nasional tentu akan
menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Indonesia akan digunakan
dalam hal kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Bahasa Indonesia memiliki peran penting di dalam kehidupan bermasyarakat,


berbangsa dan bernegara. Komunikasi pada berbagai kegiatan masyarakat telah
memanfaatkan bahasa Indonesia (disamping bahasa daerah) sebagai wahana dan
peranti untuk membangun kesepahaman, kesepakatan, dan persepsi yang
memungkinkan terjadinya kelancaran pembangunan masyarakat di berbagai bidang.

3
Arifin, dkk. 2010. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: AKAPRESS.
Bahasa Indonesia sebagai milik bangsa, dalam perkembangan dari waktu ke
waktu telah teruji keberadaannya, baik sebagai bahasa persatuan maupun bahasa
resmi negara. Adanya gejolak dan kerawanan yang mengancam kerukunan dan
kesatuan bangsa Indonesia bukanlah bersumber dari bahasa persatuannya, melainkan
bersumber dari krisis multidimensi, terutama krisis ekonomi, hukum, politik, dan
pengaruh globalisasi. Justru, bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu
yang belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya
yang berasal dari berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi karena bahasa
Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi yang efektif,
berdampingan dengan bahasa daerah dalam mengembangkan dan melancarkan
berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan. Dengan demikian, bahsa Indonesia dan
juga bahasa daerah memiliki peran penting dalam memajukan pembangunan
masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.

C. Perkembangan Bahasa Indonesia Masa Kini

Indonesia memiliki beragam bahasa. Dari 1.331 suku bangsa di Indonesia,


terdapat 1.211 bahasa daerah.4 Karena begitu banyaknya bahasa daerah yang dimiliki
Indonesia, oleh karena itu bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa nasional atau
bahasa persatuan dan telah diakui pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober
1928.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia wajib digunakan dalam segala


kegiatan resmi kenegaraan. Demikian juga dalam jenjang pendidikan mulai dari
sekolah dasar hingga perguruan tinggi, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa
pengantar. Hal itu dimaksudkan agar bahasa Indonesia dapat berkembang secara
wajar di tengah masyarakat pemakainya. Selain itu, upaya tersebut diharapkan pula

4
Badan Pusat Statistik, ”Mengulik Data Suku di Indonesia”, diakses dari
https://www.bps.go.id/news/2015/11/18/127/mengulik-data-suku-di-indonesia.html pada tanggal 10
Februari 2018 pukul 08.23
dapat menjadi perekat persatuan suku yang ribuan jumlahnya ini menjadi satu bangsa
yang besar yakni, bangsa Indonesia

Bila kita berbicara tentang bahasa dan kita, pertama kita harus mengetahui apa
arti dari bahasa itu sendiri dan pengaruh bahasa bagi kita. Dalam arti yang sangat
singkat, bahasa adalah alat atau sarana untuk berkomunikasi. Pengertian bahasa
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah
“ sistem lambang bunyi arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
Dimana pelaku/pengguna bahasa adalah kita sendiri dan sangat berpengaruh
dalam kehidupan kita. “
Beralih ke penggunaan bahasa di setiap bangsa atau negara, bahasa mengambil
peran yang sangat penting dan merupakan identitas suatu bangsa. Seperti di negara
kita, Indonesia mempunyai banyak bahasa, yang semakin memperjelas identitas
negara kita dengan negara lain, tetapi bahasa yang dapat menyatukan masyarakat
Indonesia sendiri dan telah di akui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928 adalah bahasa Indonesia.
Sebagai bahasa nasional dan juga sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia
wajib digunakan dalam segala kegiatan resmi kenegaraan. Demikian pula di semua
jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, bahasa
Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar. Hal itu dimaksudkan agar bahasa
Indonesia dapat berkembang secara wajar di tengah masyarakat pemakainya. Selain
itu, upaya tersebut diharapkan pula dapat menjadi perekat persatuan suku yang ribuan
jumlahnya ini menjadi satu bangsa yang besar yakni, bangsa Indonesia.
Kecenderungan mengunggulkan identitas asing akhir-akhir ini telah menjadi-
jadi, tidak terkecuali bahasa. Hampir setiap gedung-gedung megah di Indonesia,
terpampang tulisan-tulisan asing sebagai lambang kemodernan, sedangkan pemakai
bahasa Indonesia dianggap kampungan atau tidak keren dan telah ketinggalan zaman.
Sikap yang demikian ini tentu akan melunturkan citra dan identitas bangsa.
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di zaman sekarang sungguh
memprihatinkan. Kemajuan teknologi yang semakin berkembang, memaksa para
kaum muda di zaman sekarang kurang memperdulikan penggunaan bahasa Indonesia
yang tepat. Anak muda sekarang lebih cenderung menggunakan bahasa atau
ungkapan yang sedang ngetrend di seluruh dunia. Pengaruh sosial media dapat
memenuhi aspek fungsi definisi bahasa Indonesia yang tepat.
Sehingga ini membuat kedudukan bahasa Indonesia semakin terjepit. Kita
sering mendengar orang berdalih bahwa berbahasa itu yang terpenting lawan
berbicara dapat memahami informasi yang kita sampaikan, dan tidak harus
menggunakan bahasa yang baik dan benar sebagaimana yang diatur dalam bahasa
Indonesia. Pretensi itu berkembang menjadi sebuah aksioma di tengah masyarakat.
Dampaknya, bahasa Indonesia menjadi terabaikan.
Sepanjang sejarah bahasa Indonesia selalu mengalami perkembangan. Dalam
perkembangannya bahasa Indonesia tidak menampik kenyataan terhadap masuknya
bahasa lain. Justru bahasa-bahasa yang masuk itu dapat memperkaya bahasa
Indonesia terutama dari segi perbendaharaan kata. Sungguhpun bahasa Indonesia
diperkaya oleh bahasa lain, tetapi tidak sampai pada struktur bahasa secara
keseluruhan. Karena itu, bahasa Indonesia tetap dapat menunjukkan jati dirinya.
Kenyataan memang tidak dapat dipungkiri. Kendati telah ditetapkan aturan
baku tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (formal), tetapi
aturan tersebut masih diingkari oleh sebagian masyarakat kita. Bahkan, gejala
merendahkan bahasa sendiri semakin nyata. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku
berbahasa masyarakat kita dewasa ini.
Bila kita berbicara tentang bahasa dan kita, pertama kita harus mengetahui apa
arti dari bahasa itu sendiri dan pengaruh bahasa bagi kita. Dalam arti yang sangat
singkat, bahasa adalah alat atau sarana untuk berkomunikasi. Bahasa dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi arbitrer, yang digunakan oleh
anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
Dimana pelaku/pengguna bahasa adalah kita sendiri dan sangat berpengaruh dalam
kehidupan kita.
Beralih ke penggunaan bahasa di setiap bangsa atau negara, bahasa mengambil
peran yang sangat penting dan merupakan identitas suatu bangsa. Seperti di negara
kita, Indonesia mempunyai banyak bahasa, yang semakin memperjelas identitas
negara kita dengan negara lain, tetapi bahasa yang dapat menyatukan masyarakat
Indonesia sendiri dan telah di akui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928adalah bahasa Indonesia.
Sebagai bahasa nasional dan juga sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia
wajib digunakan dalam segala kegiatan resmi kenegaraan. Demikian pula di semua
jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, bahasa
Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar. Hal itu dimaksudkan agar bahasa
Indonesia dapat berkembang secara wajar di tengah masyarakat pemakainya. Selain
itu, upaya tersebut diharapkan pula dapat menjadi perekat persatuan suku yang ribuan
jumlahnya ini menjadi satu bangsa yang besar yakni, bangsa Indonesia.
Kecenderungan mengunggulkan identitas asing akhir-akhir ini telah menjadi-
jadi, tidak terkecuali bahasa. Hampir setiap gedung-gedung megah di Indonesia,
terpampang tulisan-tulisan asing sebagai lambang kemodernan, sedangkan pemakai
bahasa Indonesia dianggap kampungan atau tidak keren dan telah ketinggalan zaman.
Sikap yang demikian ini tentu akan melunturkan citra dan identitas bangsa.
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di zaman sekarang
sungguhmemprihatinkan. Kemajuan teknologi yang semakin berkembang, memaksa
para kaum muda di zaman sekarang kurang memperdulikan penggunaan bahasa
Indonesia yang tepat. Anak muda sekarang lebih cenderung menggunakan bahasa
atau ungkapan yang sedang ngetrend di seluruh dunia. Pengaruh sosial media dapat
memenuhi aspek fungsi definisi bahasa Indonesia yang tepat.
Sehingga ini membuat kedudukan bahasa Indonesia semakin terjepit. Kita
sering mendengar orang berdalih bahwa berbahasa itu yang terpenting lawan
berbicara dapat memahami informasi yang kita sampaikan, dan tidak harus
menggunakan bahasa yang baik dan benar sebagaimana yang diatur dalam bahasa
Indonesia. Pretensi itu berkembang menjadi sebuah aksioma di tengah masyarakat.
Dampaknya, bahasa Indonesia menjadi terabaikan.
Sepanjang sejarah bahasa Indonesia selalu mengalami perkembangan. Dalam
perkembangannya bahasa Indonesia tidak menampik kenyataan terhadap masuknya
bahasa lain. Justru bahasa-bahasa yang masuk itu dapat memperkaya bahasa
Indonesia terutama dari segi perbendaharaan kata. Sungguhpun bahasa Indonesia
diperkaya oleh bahasa lain, tetapi tidak sampai pada struktur bahasa secara
keseluruhan. Karena itu, bahasa Indonesia tetap dapat menunjukkan jati dirinya.
Kenyataan memang tidak dapat dipungkiri. Kendati telah ditetapkan aturan
baku tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (formal), tetapi
aturan tersebut masih diingkari oleh sebagian masyarakat kita. Bahkan, gejala
merendahkan bahasa sendiri semakin nyata. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku
berbahasa masyarakat kita dewasa ini.
Sikap bangsa Indonesia terhadap bahasa Indonesia cenderung ambivalen,
sehingga terjadi dilematis. Artinya, di satu pihak kita menginginkan bahasa Indonesia
menjadi bahasa modern, dan dapat mengikuti perkembangan zaman serta mampu
merekam ilmu pengetahuan dan teknologi global, tetapi di pihak lain kita telah
melunturkan identitas dan citra diri itu dengan lebih banyak mengapresiasi bahasa
asing sebagai lambang kemodernan. Atas dasar itu, tidak heran jika para remaja masa
kini lebih cenderung menggunakan bahasa asing atau bahasa gaul sebagai bagian dari
hidupnya jika mereka tidak ingin disebut ketinggalan zaman.
Interaksi global dalam berbagai bidang dewasa ini tidak bisa dihindari.
Akibatnya proses transaksi nilai-nilai global dengan sendirinya juga akan terjadi.
Pentingnya kesadaran dari diri kita sendiri terhadap penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Sepanjang kita berada di wilayah negara Indonesia, merupakan
suatu keniscayaan untuk tetap mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
sesuai dengan kaidah. Hal ini juga mempertegas kecintaan kita terhadap bahasa kita
sendiri agar identitas bangsa kita lebih dihargai dalam skala internasional. Sehingga
tidak menutup kemungkinan, bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa Internasional di
masa mendatang. Bahasa dan kita lah penentunya.5

5
www. kompasiana.com. diakses Sabtu, 10 Februari 2018 pukul 11.50 WIB
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Dapat disimpullkan dari makalah ini, bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa
melayu. Bahasa melayu dipilih sebagai bahasa pemersatu (bahasa Indonesia) karena :
 Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa
perhubungan dan bahasa perdangangan.
 Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dielajari karena dalam
bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa
halus).
 Suku jawa, suku sunda dan suku suku yang lainnya dengan sukarela
menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
 Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai
bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

Selain itu, fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai berikut :


 Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa resmi
 Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan
 Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
 Bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pembangunan

Sepanjang sejarah bahasa Indonesia selalu mengalami perkembangan. Dalam


perkembangannya bahasa Indonesia tidak menampik kenyataan terhadap masuknya
bahasa lain. Justru bahasa-bahasa yang masuk itu dapat memperkaya bahasa
Indonesia terutama dari segi perbendaharaan kata. Sungguhpun bahasa Indonesia
diperkaya oleh bahasa lain, tetapi tidak sampai pada struktur bahasa secara
keseluruhan. Karena itu, bahasa Indonesia tetap dapat menunjukkan jati dirinya.
2. Saran
Bahasa Indonesia yang kita ketahui sebagai mana dari penjelasan terdahulu
memiliki banyak rintangan dan kendala untuk mewujudkan menjadi bahasa
pemersatu, bahasa nasional, bahasa Indonesia. Sehingga kita sebagai generasi penerus
mampu untuk membina, mempertahankan bahasa Indonesia ini, agar tidak mengalami
kemerosotan dan diperguna dengan baik oleh pihak luar.
Daftar Pustaka

Arifin, dkk. 2010. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: AKAPRESS.

Prof.Dr.Ahmad H.P. 2016. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.


Jakarta:Erlangga

Badan Pusat Statistik, ”Mengulik Data Suku di Indonesia”, diakses dari


https://www.bps.go.id/news/2015/11/18/127/mengulik-data-suku-di-indonesia.html
pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 08.23

www. kompasiana.com. diakses Sabtu, 10 Februari 2018 pukul 11.50 WIB