Anda di halaman 1dari 11

Fungsi Dan Peran Pancasila

Posted on November 10, 2016


Fungsi dan Peranan Pancasila – Dari Makna Pancasila
yang sangat luas dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa
dan bernegara dapat diketahui dari fungsi dan peranan
Pancasila. Fungsi dan Peranan Pancasila adalah sebagai
berikut….

 Pancasila Sebagai Jiwa Bangsa Indonesia : Hal ini


berarti, Pancasila berfungsi dan berperan
memberikan gerak atau dinamika, serta membimbing ke
arah tujuan guna mewujudkan masyarakat Pancasila.
Pancasila sebagai jiwa bangsa yang lahir bersamaan
dengan adanya bangsa Indonesia.
 Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia
: Hal ini berarti, Pancasila berfungsi dan berperan
dalam menunjukkan kepribadian bangsa Indonesia yang
dapat dibedakan dengan bangsa lain, yaitu sikap
mental, tingkah laku, dan amal perbuatan bangsa
Indonesia.
 Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
: Pancasila berfungsi dan berperan sebagai dasar
untuk mengatur pemerintahan negara atau
penyelenggara negara. Pancasila sebagai dasar
negara terdapat dalam Pembukaan UUD NRI (Negara
Republik Indonesia) Tahun 1945 Alinea IV dan
sebagai landasan konstitusional.
 Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum
Negara : DI dalam Pasal 2 UU RI No. 12 Tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
yang menyatakan “Pancasila merupakan sumber segala
hukum negara”. Penempatan Pancasila sebagai sumber
dari segala sumber hukum adalah sesuai dengan
Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 Aline IV. Menempatkan
Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta
sekaligus dasar filosofis negara sehingga setiap
materi muatan peraturan perundang-undangan tidak
boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila.
 Pancasila Sebagai Perjanjian Luhur : Pancasila
sebagai perjanjian luhur berarti bahwa pada tanggal
18 Agustus 1945 PPKI (sebagai wakil seluruh rakyat
Indonesia) yang menetapkan dasar negara Pancasila
secara konstitusional dalam Pembukaan UUD NRI Tahun
1945.
 Pancasila Sebagai Cita-Cita dan Tujuan Bangsa
Indonesia : Pancasila yang dirumuskan dan
terkandung dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945,
memuat cita-cita dan tujuan nasional (Alinea II dan
IV). Cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia,hal
tersebut lalu dijabarkan ke dalam tujuan
pembangunan nasional. Dengan kata lain, Pembukaan
UUD NRI Tahun1945 merupakan penuangan jiwa
proklamasi, yaitu Pancasila. Oleh karena itu,
Pancasila juga merupakan cita-cita dan tujuan
bangsa Indonesia.
 Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia
: Dalam hal ini Pancasila disebut dengan way of
life, weltanschauung, pandangan dunia, pegangan
hidup, pedoman hidup, dan petunjuk hidup. Dalam hal
ini, Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk
sehari-hari. Artinya, Pancasila diamalkan dalam
hidup sehari-hari. Dengan demikian, Pancasila
digunakan sebagai penunjuk arah semua kegiatan atau
aktivitas hidup dan kehidupan dalam segala seperti
yang terpancar pada sila Pancasila yang tercantum
dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.
 Pancasila Sebagai Moral Pembangunan : Hal ini
mengandung maksud nilai-nilai luhur Pancasila
(norma-norma yang tercantum dalam Pembukaan UUD NRI
Tahun 1945) dijadikan tolok ukur dalam melaksanakan
pembangunan nasional, baik dalam perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, maupun
dalam evaluasinya.
 Pembangunan Nasional Sebagai Pengamalan Pancasila
: Pancasila di samping sebagai dasar negara juga
merupakan tujuan nasional. Tujuan ini dapat
diwujudkan melalui pembangunan nasional. Dengan
perkataan lain, untuk mewujudkan nilai-nilai luhur
Pancasila harus dilaksanakan pembangunan nasional
di segala bidang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI
Tahun 1945.

Jadi, fungsi pokok Pancasila adalah sebagai dasar


negara sesuai dengan Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, dan
pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala
sumber hukum negara.
Pengaruh Pancasila Terhadap Kehidupan Bermasyarakat

Pancasila pada saat ini cenderung menjadi lambang dan


hanya menjadi formalitas yang dipaksakan kehadirannya
di Indonesia. Kehadiran Pancasila pada saat ini bukan
berasal dari hati nurani bangsa Indoensia. Bukti dari
semua itu adalah tidak aplikatifnya sila-sila yang
terkandung pada Pancasila dalam kehidupan masyarakat
Indonesia. Berdasarkan realita yang ada dalam
masyarakat, aplikasi sila-sila Pancasila jauh dari
harapan. Banyaknya kerusuhan yang berlatar belakang
SARA (suku, ras, dan antargolongan), adanya pelecehan
terhadap hak azasi manusia, gerakan separatis,
lunturnya budaya musyawarah, serta ketidak adilan dalam
masyarakat membuktikan tidak aplikatifnya Pancasila.
Adanya hal seperti ini menjauhkan harapan terbentuknya
masyarakat yang sejahtera, aman, dan cerdas yang
diidamkan melalui Pancasila.

Sebenarnya bangsa Indonesia bisa berbangga dengan


Pancasila, sebab Pancasila merupakan ideologi yang
komplit. Bila dibandigkan dengan pemikiran tokoh
nasionalis Cina, dr. Sun Yat Sen, Pancasila jauh lebih
unggul. Sun Yat Sen meunculkan gagasan tentang San Min
Chu I yang berisi tiga pilar,yaitu nasionalisme,
demokrasi, dan sosialisme. Gagasan Sun Yat Sen ini
mampu mengubah pemikiran bangsa Cina di selatan.Dengan
gagasan ini, Sun Yat Sen telah mampu mewujudkan Cina
yang baru, modern, dan maju. Apabila San Min ChuI-nya
Sun Yat Sen mampu untuk mengubah bangsa yang sedemikian
besar, seharusnya Pancasila yang lebih komplit itu
mampu untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Di Indonesia, sejak diresmikannya Pancasila sampai


sekarang, penerapan Pancasila masih ‘jauh bara dari
api’. Yang terjadi pada saat ini bukan penerapan
Pancasila, melainkan pergeseran Pancasila.Ketuhanan
yang menjadi pilar utama moralitas bangsa telah diganti
dengan keuangan. Kemanusiaan yang akan mewujudkan
kondisi masyarakat yang ideal telah digantikan dengan
kebiadaban dengan banyaknya pelanggaran terhadap hak
azasi manusia. Persatuan yang seharusnya ada sekarang
telah berubah menjadi embrio perpecahan dan
disintegrasi. Permusyawarahan sebagai sikap
kekeluargaan berubah menjadi kebrutalan. Sementara itu,
keadilan sosial berubah menjadi keserakahan.

Selain dari pihak masyarakat sendiri, pergeseran makna


Pancasila juga dilakukan oleh pihak penguasa. Pada masa
tertentu, secara sistematis Pancasila telah dijadikan
sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasaan.
Tindakan yang dilakukan terhaap Pancasila ini turut
menggoncang eksistensi Pancasila. Pancasila seakan-
akan momok yang menakutkan, sehingga oleh sebagian
masyarakat dijadikan sebuah simbol kekuasaan dan
kelanggengan salah satu pihak.

Dalam era kesemrawutan global sekarang, ideologi asing


mudah bermetamorfosa dalam aneka bentuknya dan menjadi
pesaing Pancasila. Hedonisme (aliran yang mengutamakan
kenikmatan hidup) dan berbagai isme penyerta, misalnya,
semakin terasa menjadi pesaing yang membahayakan
potensialitas Pancasila sebagai kepribadian bangsa.
Nilai intrinsik Pancasila pun masih sangat dipengaruhi
oleh berbagai faktor kondisional. Padahal, gugatan
terhadap Pancasila sebagai dasar negara dengan
sendirinya akan menjadi gugatan terhadap esensi dan
eksistensi kita sebagai manusia dan warga bangsa dan
negara Indonesia.

Untuk menghadapi kedua ekstrim (memandang nilai-nilai


Pancasila terlalu sulit dilaksanakan oleh segenap
bangsa Indonesia di satu pihak dan di pihak lain
memandang nilai-nilai Pancasila kurang efektif untuk
memperjuangkan pencapaian masyarakat adil dan makmur
yang diidamkan seluruh bangsa Indonesia) diperlukan
usaha bersama yang tak kenal lelah guna menghayati
Pancasila sebagai warisan budaya bangsa yang bernilai
luhur, suatu sistem filsafat yang tidak bertentangan
dengan nilai-nilai agama, bersifat normatif dan ideal,
sehingga pengamalannya merupakan tuntutan batin dan
nalar setiap manusia Indonesia.

Dari berbagai kenyataan di atas timbul berbagai


pertanyaan, apakah pancasila sudah tidak cocok lagi
dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kalau pancasila
masih cocok di Indonesia, dalam hal ini siapa yang
salah, bagaimana membangun Indonesia yang lebih baik
sehingga sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.

Salah seorang budayawan Indonesia yaitu Sujiwo Tejo


mengatakan bahwa “untuk memajukan bangsa ini kita harus
melihat kebelakang, karena masa depan bangsa Indonesia
ada dibelakang”. Maksudnya kita harus melihat kembali
sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Cita-cita untuk
memajukan bangsa Indonesia ada disana. Cita-cita
bersama itu adalah suatu paham yang diperkanalkan oleh
Ir.Soekarno dalam rapat BPUPKI. Cita-cita tersebut
ialah pancasila.

Pancasila merupakan perpaduan nilai-nilai yang tumbuh


dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena
itu secara konsep pancasila merupakan suatu landasan
ideal bagi masyarakat Indonesia. Presiden Republik
Indonesia (Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono) dalam
pidato kenegaraannya mengatakan bahwa pancasila sebagai
falasafah Negara sudah final. Untuk itu jangan ada
pihak-pihak yang berpikir atau berusaha
menggantikannya. Presiden juga meminta kepada seluruh
kekuatan bangsa untuk mempraktikkan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan
bermasyarakat. Penegasan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono adalah bentuk sikap reaktif atas
kecenderungan realitas sistem sosial politik yang saat
ini mengancam eksisitensi Pancasila sebagai ideologi
bangsa. Dengan demikian pernyataan itu jika sikapi
secara konstruktif merupakan peringatan dan sekaligus
ajakan politis kepada generasi sekarang untuk menjaga
Pancasila dari berbagai upaya taktis dari pihak-pihak
yang ingin mencoba menggantikannya.

Pengertian Ideologi Terbuka dan Ideologi


Tertutup Beserta Ciri-Cirinya
Pengertian Ideologi

Ideologi merupakan istilah yang berasal dari Yunani.


Terdiri dari dua kata, idea dan logi. Idea artinya
melihat (idean), dan logi berasal dari kata logos yang
berarti pengetahuan atau teori. Dengan demikian dapat
diartikan bahwa ideologi adalah hasil penemuan dalam
pikiran yang berupa pengetahuan atau teori. Ideologi
dapat pula diartikan sebagai suatu kumpulan konsep
bersistem yang dijadikan asas, pendapat (kejadian) yang
memberikan arah tujuan untuk kelangsungan hidup.

Ideologi merupakan gabungan dua kata,


yaitu idea dan logos. Idea berarti gagasan, konsep,
pengertian dasar, dan cita-cita;
sedangkan logos berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi,
ideologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan
tentang ide-ide atau ajaran tentang pengertian-
pengertian dasar (Kodhi dan Soejadi, 1988 : 49)

Pengertian dari ideologi ini juga juga dimaknai


berbeda-beda oleh beberapa orang, diantaranya adalah:

 Karl Marxmendefinisikan ideologi sebagai pandangan


hidup yang dikembangkan berdasarkan kepentingan
golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang
politik atau sosial ekonomi.
 Lanurmenyatakan bahwa ideologi bisa dimasukkan
dalam kategori pengetahuan yang subjektif.
 Carl J. Friederichmendefinisikan ideologi sebagai
suatu sistem pemikiran yang dikaitkan dengan
tindakan.
 C Rodeemenyatakan bahwa ideologi adalah sekumpulan
gagasan yang secara logis berkaitan dan
mengidentifikasikan nilai-nilai yang memberi
keabsahan bagi institusi politik dan pelakunya.

Ideologi Tertutup dan Ideologi Terbuka

Terkait dengan soal penafsiran ideologi, secara


pengelompokkan ideologi terbagi dalam dua macam watak
ideologi, yaitu ideologi tertutup dan ideologi terbuka.
Dari kedua ideologi tersebut dapat dipahami tentang
pengertian dan ciri-cirinya, sebagaimana terangkum
seperti berikut:

Ideologi Tertutup

Pengertian: Ideologi tertutup adalah ideologi yang


bersifat mutlak. Dengan kata lain bahwa Ideologi
tertutup merupakan ajaran atau pandangan dunia atau
filsafat yang menentukan tujuan-tujuan dan norma-norma
politik dan sosial, yang ditasbihkan sebagai kebenaran
yang tidak boleh dipersoalkan lagi, melainkan harus
diterima sebagai sesuatu yang sudah jadi dan harus
dipatuhi.

Ciri-ciri ideologi tertutup, adalah:

 bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam


masyarakat, melainkan cita-cita sebuah kelompok
yang digunakan sebagai dasar untuk mengubah
masyarakat;
 apabila kelompok tersebut berhasil menguasai
Negara, ideologinya itu akan dipaksakan pada
masyarakat. Nilai-nilai, norma-norma, dan berbagai
segi kehidupan masyarakat akan diubah sesuai dengan
ideologi tersebut;
 bersifat totaliter, artinya mencakup/ mengurusi
semua bidang kehidupan. Karena itu, ideologi
tertutup ini cenderung cepat-cepat berusaha
menguasai bidang informasi dan pendidikan; sebab,
kedua bidang tersebut merupakan sarana efektif
untuk mempengaruhi perilaku masyarakat;
 pluralisme pandagan dan kebudayaan ditiadakan, hak
asasi tidak dihormati;
 menuntut masyarakat untuk memiliki kesetiaan total
dan kesediaan untuk berkorban bagi ideologi
tersebut.
 isi ideologi tidak hanya nilai-nilai dan cita-cita,
tetapi tuntutab-tuntutan konkret dan operasional
yang keras, mutlak, dan total.

Ideologi Terbuka

Pengertian: Ideologi terbuka adalah ideologi yang tidak


dimutlakkan. Dapat diartikan juga bahwa nilai-nilai dan
cita-citanya tidak dipaksakan dari luar, melainkan
digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral dan
budaya masyarakatnya sendiri. Ideologi terbuka
merupakan ideologi yang dapat berinteraksi dengan
perkembangan zaman dan adanya dinamika secara internal.

Ciri-ciri ideologi terbuka, adalah:


 merupakan kekayaan rohani, dan budaya masyarakat
(falasafah). Jadi, bukan keyakinan ideologis
sekelompok orang, melainkan kesepakatan masyarakat;
 tidak diciptakan oleh Negara, tetapi ditemukan
dalam masyarakat sendiri; ia adalah milik seluruh
rakyat, dan bisa digali dan ditemukan dalam
kehidupan mereka;
 isinya tidak langsung operasional. Sehingga, setiap
generasi baru dapat dan perlu menggali kembali
falasafah tersebut dan mencari implikasinya dalam
situasi kekinian mereka.
 tidak pernah memperk0sa kebebasan dan tanggungjawab
masyarakat, melainkan menginspirasi masyarakat
untuk berusaha hidup bertanggungjawab sesuai dengan
falsafah itu.
 menghargai pluraritas, sehingga dapat diterima
warga masyarakat yang berasal dari berbagai latar
belakang budaya dan agama.

Demikian tadi pemaparan mengenai pengertian dan ciri-


ciri dari ideologi terbuka dan ideologi tertutup.
Dengan memahami masing-masing ideologi tentunya bisa
kita ambil kesimpulan mengenai ideologi yang saat ini
dipergunakan di Indonesia. Seperti kita ketahui
bahwa Pancasila merupakan ideologi Bangsa Indonesia.
Semoga bermanfaat

Analisis Nilai Pancasila

Analisis Nilai Pancasila ;

PENGERTIAN NILAI

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu,


menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu
itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna
bagi kehidupan manusia.

PANCASILA SEBAGAI SUMBER NILAI

Diterimanya pancasila sebagai dasar negara dan ideologi


nasional membawa dampak, bahwa nilai-nilai pancasila
dijadikan landasan pokok, landasan bagi penyelenggaraan
negara Indonesia. Pancasila berisi lima sila yang pada
hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental.
Nilai-nilai dasar dari pancasila tersebut adalah nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa, Nilai Kemanusiaan Yang Adil
dan Beradab, nilai Persatuan Indonesia, nilai
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalan permusyawaratan atau perwakilan, dan nilai
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dengan
pernyataan secara singkat bahwa nilai dasar Pancasila
adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai
persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.

NILAI – NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Makna sila ini adalah:

 Keyakinan dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa


sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-
masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
 Menghormati dan saling
bertoleransi antara pemeluk agama dan penganut-
penganut agama atau kepercayaan yang berbeda-beda
agar tercipta kerukunan hidup antar umat beragama.
 Saling menghormati dan bertoleransi dalam
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaan atau keyakinan masing-masing.
 Tidak memaksakan orang lain untuk memeluk suatu
agama atau keyakinan tertentu.
 Membina kerjasama antara pemeluk-pemeluk agama.

2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

Makna sila ini adalah:

 Mengakui persamaan derajat, persamaan hak serta


kewajiban antar umat manusia.
 Saling menghargai antar umat manusia.
 Menggunakan sikap tenggang rasa dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
 Tidak semena-mena dalam berbuat terhadap orang
lain.
 Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
 Berani membela kebenaran dan keadilan.
 Menghindari segala bentuk penindasan dalam
kehidupan bermasyarakat.
 Mengembangkan sikap saling hormat-menghormati dan
bergotong-royong antar umat manusia.

3. Persatuan Indonesia

Makna sila ini adalah:

 Ikut serta dalam menjaga Persatuan dan Kesatuan


Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 Rela berkorban demi bangsa dan negara.
 Tidak membeda-bedakan antar suku atau ras,semua
sama-sama bagian dari negara Republik Indonesia.
 Berbangga sebagai bagian dari warga Bangsa
Indonesia.
 Menjaga persatuan,kesatuan, dan keutuhan bangsa
yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.Yang artinya berbeda-
beda tetapi tetap satu tujuan.
 Menempatkan persatuan kepentingan bangsa dan negara
di atas kepentingan pribadi/golongan.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan


Dalam Permusyawaratan Dan Perwakilan

Makna sila ini adalah:

 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.


 Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
 Mengutamakan budaya bermusyawarah dalam mengambil
keputusan.
 Bermusyawarah dalam mencapai kesepakatan dilandasi
dengan rasa kekeluargaan.
 Mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan
pribadi.
 Mengakui bahwa semua warga Indonesia memiliki
kedudukan dan hak yang sama.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Makna sila ini adalah:

 Bersikap adil terhadap sesama umat manusia.


 Menghormati hak-hak orang lain.
 Menolong sesama umat manusia yang sedang
membutuhkan bantuan.
 Menghargai dan saling menjaga martabat orang lain.
 Melakukan pekerjaan yang berguna bagi kepentingan
umum atau bersama.
 Adanya hak dan kewajiban yang sama untuk
menciptakan keadilan sosial