Anda di halaman 1dari 18

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan

Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat kesempurnaan pelayanan

akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan

standar pelayanan dengan menggunakan potensi sumber dayan yang

tersedia di rumah sakit atau puskesmas secara wajar dan efisien dan

efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan norma,etika,

hokum, dan social budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan

kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen. (herlambang

susatyo,2016)

Kemenkes RI dalam Gede muninjaya, (2013) memberikan

pengertian tentang mutu pelayanan kesehatan, yang meliputi kinerja

yang menunjukan tingkat kesempurnaan, pelayanan kesehatan, tidak

saja yang dapat menimbulkan kepuasan kepada pasien sesuai dengan

kepuasan rata-rata penduduk tapi juga sesuai dengan standard an kode

etik.

Pengertian mutu pelayanan kesehatan (Wijono, 2008) :

1. Penampilan yang sesuai atau pantas (yang berhubungan dengan

standar)
10

dari suatu interfensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan

hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah

mempunyai kemampuan untuk menghasilkan pada kmatian,

kesakitan, ketidak mampuan dan kekurangan gizi

2. Kualitas pelayanan adalah suatu pelayanan yang diharapkan untuk

memaksimalkan suatu ukuran yang inklusif dari kesejahteraan

kelien sesudah itu dihitung keseimbangan antara keuntungan yang

diraih dan kerugian yang semua itu merupakan penyelesaian proses

atau hasil dari pelayanan diseluruh bagian.

3. Secara umum pengertian mutu pelayanan kesehatan adalah derajat

kesempurnaan pelayanan kesehatan yang sesuai setandar profesi

dan standar kelayanan dengan menggunakan potensi sumberdaya

yang tersedia dirumah sakit atau puskesmas secara wajar, efisien

dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai

norma, etika, hokum, dan sosisal budaya dengan memperhatikan

keterbatasan dan kemampuan pemerintah serta masyarakat

konsumen.

Jadi yang dimaksud dengan mutu kelayanan kesehatan adalah

menunjuk pada tingkat kesempurnan pelayanan kesehatan dalam

menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Makin sempurna kepuasan

tersebut, makin baik pula mutu kelayanan kesehatan. Sekalipun pengertian

mutu yang terkait dengan kepuasan ini telah diterima secara luas, namun

penerapannya tidakah semudah yang diperkirakan. Masalah pokok yang

ditemukan iyalah karena kepuasan tersebu bersifat subyektif. Setiap orang,


11

tergantung dari latar belakang, yang dimiliki, dapat saja memiliki tingkat

kepuasan yang berbesda untuk suatu mutu pelayanan kesehatan yang sama.

Disamping itu, sering pula ditemukan pelayanan kesehata yang sekalipun di

nilai telah memuaskan pasien, namun ketika ditinjau dari kode etik serta

standar kelayanan provesi, kinerjanya tetap tidak terpenuhi.

Guna mempermudah penilaian dan pengukuran kualitas pelayanan

dikembangkan suatu alat ukur kualitas layanan yang disebut SERVQUAL

(servicquality). SERVIQUAL ini merupakan sekala multi item yang dapat

digunakan untuk mngukur persefsi pelanggan atas kualitas kelayanan yang

meliputi 5 dimensi (Herlambang susatyo. 2016) yaitu

1. Tangibles (bukti langsung), yaitu kemampuan suatu perusahaan menunjukan

eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan

prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti

nyata dari pelayanan yang diberikan perusahaan.

2. Reliability (kehandalan) yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang

dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan. Kinerja harus sesuai

pelanggan yang berarti ketetapan waktu pelayanan yangbsama untuk semua

pelanggan tanpa kesalahan, sikap simpatik dan akurasi yang tinggi.

3. Responsiveness (daya tanggap) yaitu kemampuan untuk membantu dan

memberikan pelayanan yang cepat (responsive) dan tepat kepada para

pelanggan dengan penyampaian informasi yang jelas. Mebiarkan pelanggan

menunggu adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang

negative dalam kualitas pelayanan.


12

4. Assurance (jaminan) adalah adanya kepastian yaitu pengetahuan,

kesopansantunan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan

rasa percaya para pelanggan kepada pelayanan perusahaan yang memiliki

beberapa komponen antara lain :

a. Communication (komunikasi) yaitu secara terus menerus memeberikan

informasi kepada pelanggan dalam bahasa dan penggunaan kata yang

jelas sehingga para pelnggan dapat dengan mudah mengerti disamping

itu perusahaan hendaknya dapat secara cepat dan tanggap dalam

menyikapi keluhan dan komlain yang dilakukan oleh pelanggan.

b. Credibility (kredibilitas), perlunya jaminan atau suatu kepercayaan yang

diberikan kepada pelanggan, believability atau sifat kejujuran yang

menanamkan kepercayaan memberikan kredibilitas yang baik bagi

perusahaan pada masa yang akan dating.

c. Security (keamanan) adanya suatu kepercayaan yang tinggi dari

pelanggan akan pelayanan yang diterima tentunya pelayanan yang

diberikan memberikan suatu jaminan kepercayaan yang maksimal.

d. Competence (kompetensi) yaitu keterampilan yang dimiliki dan

dibutuhkan agar dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan dapat

dilaksanakan dengan optimal

e. Courtesy (sopan santun), dalam pelayanan adanya suatu nilai moral yang

dimiliki sebuah perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada

pelanggan. Jaminan akan kesopan santunan yang ditawarkan kepada

pelanggan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada.


13

5. Empethy (empati), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat

individu atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan

beupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan

diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan,

memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu

pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

2.1.2 Menurut Zeithalm dan Berry dalam Gede Muninjaya, 2013) dimensi

dari kualitas pelayanan antara lain :

a. Cepat Tanggap (Responsiveness)

Berhubungan dengan respon atau kesigapan karyawan dalam

membantubpelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat dan tangga,

yang meliputi kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan

karyawan dalam menangani transaksi, dan penanganan keluhan

pelanggan atau pasien.

b. Reliabilitas (reliability)

Berkaitan dengan kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan

dengan tepat waktu dan akurat sesuai dengan yang ditawarkan.

c. Jaminan (Assurance)

Yaitu meliputi kemampuan kariawan atas pengetahuan terhadap produk

secara tepat, jaminan keselamatan, keterampilan dalam memberikan

keamanan didalam memanfaatkan jasa yang ditawarkan dan kemampuan

dalam menanamkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan.


14

d. Empati (Empathy)

Merupakan perhatian secara individual yang diberikan terhadap pasien

dan keluarganya seperti kemudahan untuk menghubungi, kemampuan

untuk berkomunikasi, perhatian yang tinggi dari petugas, kemudahan

dalam mencapai lokasi, kemudahan dalam membayar, dan mengurus

administrasi.

e. Bukti Fisik (Tangible)

Berkenaan dengan wujud kenyataan secara fisik yang meliputi

penampilan dan kelengkapan fasilitas fisik seperti, ruang perawatan,

gedung, dan ruang front office yang nyaman, tersedianya tempat parkir ,

kebersihan, kerapihan, dan kenyamanan ruang tunggu dan ruang

pemeriksaan, kelengkapan peralatan komunikasi, dan penampilan.

2.1.3 Batasan mutu pelayanan kesehatan

Untuk mengetahui masalah dalam perbedaan tingkat kepuasan setiap

orang dalam menerima pelayanan kesehatan, maka telah disepakati

bahwapembahasan tentang kepuasan pasien yang dikayitkan dengan mutu

kelayanan kesehatan mengenal palig tidak dua pembatasan yaitu :

1. Pembahsan pada derajat kepuasan pasien

Pembahasan pertama yang telah disepakati adalah pada derajat

kepuasan pasien. Untuk menghindari adanya subjektifitas individual

yang dapat mempersulit pelaksanaan program menjaga mutu, maka

ditetapakan bahwa ukuran yang dipakai untuk mengukur krpuasa disisni


15

bersifat umum yakni sesuai dengan tingkat kepuasan rata – rata

penduduk.

2. Pembatasan pada upaya yang dilakukan

Pembatasan kedua yang tela disepakati pada uaya yang dilakukan

dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien untuk melindungi

kepentingan pemakayan jasa pelayan kesehatan, yang pada umumnya

awam terhadap tindakan kedokteran, ditetapkanlah upaya yang dilakukan

tersebut harus sesuai dengan kode etik serta standar pelayanan profisi,

bukanlah pelayanan kesehatan yang bermutu. Dengan kata lain dalam

pengertian mutu pelayanan kesehatan tercakup pula kesempurnaan tata

cara penyelanggarannya sesuai dengan kode etik serta standar pelayanan

yang telah ditetapkannya. (Hamzah hayatul, 2015)

2.1.4 Indikator Penilaian Mutu Pelayanan Kesehatan


Menurut Griffiths LJ et al. (2008), Indikator penilaian mutu pelayanan

kesehatan, yaitu:

1. Indikator yang mengacu pada aspek medis.

2. Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat efisiensi RS.

3. Indikator mutu yang mengacu pada keselamatan pasien.

4. Indikator mutu yang berkaitan dengan tingkat kepuasaan pasien.

Kebijakan dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan, mencakup :

a. Pengngkatan kemampuan dan mutu pelayanan


16

Upaya ini melalui pengembangan dan pemantapan dijaring pelayanan

kesehatan dan rujukannya serta penetapan pusat-pusat unggulan sebagai

pusat rujukan (top referral).

b. Penetapan dan penerapan berbagai standard an pedoman

Yaitu dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan

tehnologi terkini dan standar internasional

c. Peningkatan mutu sumber daya manusia

Upaya ini diharapkan pada peningkatan profesionalisme mencakup

kompetensi moral dan etika.

2.1.5 Strategi Peningkatan Mutu Pelayanan

Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam pendekatan untuk

mencapai pelayanan prima melalui peningkatan mutu pelayanan, yaitu

sebagai berikut :

1. Pelanggan dan harapannya

Harapan pelanggan mendorong upaya peningkatan mutu

pelayanan. Organisasi pelayanan keehatan mempunyai banyak

pelanggan potensial. Harapan mereka harus diidentifikasikan dan

dipioritaskan lalu membuat criteria untuk menilai kesuksesan.

2. Perbaikan kinerja.

Bila harapan pelanggan telah diidentifikasi, langkah selanjutnya

adalah menindentifikasi dan melaksanakan kinerja staf dan dokter

untuk mencapai konseling adanya pengakuan, dan pemberian reward.


17

3. Proses perbaikan

Proses perbaikan juga penting. Sering kali kinerja disalahkan

karena masalah pelayanan dan ketidakpuasan pelanggan pada saat

proses itu sendiri tidak dirancang dengan baik untuk mendukung

pelayanan. Dengan melibatkan staf dalam dalam proses pelayanan,

maka dapat diidentifikasikan masalah proses yang dapat mempengaruhi

kepuasan pelanggan, mendiagnosis penyebab, menidentifikasi, dan

menguji pemecahan atau perbaikan.

4. Budaya yang mendukung perbaikan terus menerus

Untuk mencapai pelayanan prima diperlukan organisasi yang

tertib. Itulah sebabnya perlu untuk memperkuat budaya organisasi

sehingga dapat mendukung peningkatan mutu. Untuk dapat

melakukannya, harus sejalan dengan dorongan peningkatan mutu

pelayanan terus – menerus. (Hamzah hayatul, 2015)

2.1.6 Keteraturan Berobat

Menurut Neil Niven dalam Hamzah hayatul (2015), keteraturan pasien

sejauh mana prilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh

professional kesehatan. Kurang mematuhi perintah dari orang yang

mempunyai kekuasaan bukan hal yang mengherankan karena ketidak

patuhan seringkali diikuti dengan beberapa bentuk hukuman.meskipun

demikian, yang menarik adalah pengaruh dari orang yang tidak memiliki
18

kekuasaan dalam membuat orang mematuhi perintahnya dan sejauh mana

kesetiaan orang untuk mematuhinya.

1) Keteraturan Pengobatan TB Paru

a. Minum obat sesuai petunjuk

b. Jadwal mengambil obat

c. Lama pengobatan

d. Macam obat (Niven, 2002)

2) Ketidakteraturan

Derajat ketidakteraturan menurut Neil Niven (2002)

a. Kompleksitas prosedur pengobatan

b. Derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan

c. Lamina waktu pengobatan

d. Apakah penyakit tersebut benar-benar menyakitkan

e. Apakah pengobatan tersebut berpotensi menyelamatkan hidup

f. Keparahan penyakit

3) Factor yang mempengaruhi ketidakteraturan

a. Pemahaman tentang instruksi

b. Kuliatan interaksi

c. isolasi social dan keluarga

d. keyakinan, sikap, dan kepribadian (Niven, 2002)

4) Mengurangi Ketidakteraturan

a. Mengembangkan tujuan keteraturan

b. Mengembangkan prilaku sehat dan mempertahankannya

c. Meningkatka pengetahuan penderita


19

d. Dukungan social

e. Dukungan dari profesi kesehatan

f. Pendidikan pasien

g. Modifikasi factor lingkungan social

h. Meningkatkan interaksi profisional kesehatan dengan pasien

i. Perubahan model terapi (Niven, 2002)

Keteraturan berobat yaitu diminum tidaknya obat-obat tersebut, penting

karena ketidakteraturan berobat menyebapkan timbulnya masalah resistensi.

Karena semua tatalaksana yang telah dilakukan dengan baik akan menjadi sia-sia,

bila tanpa disertai dengan system system evaluasi yang baik pula. Oleh karena itu,

peranan pendidikan mengenai penyakit dan keteraturan berobat sangat penting

(Taufan,2008). Walaupun telah ada cara pengobatan tuberculosis dengan

efektivitas yang tinggi, angka sembuh masih lebih rendah dari yang diharapkan.

Penyakit utama terjadinya hal tersbut adalah pasien tidak mematuhi ketentuan dan

lamanya pengobatansecara teratu untuk mecapai kesembuhan. Terutama

pemakaian obat secara teratur pada 2 bulan fase inisial sering kali tidak teracapi,

sementara itu dengan mempersingkat lamanya pengobatan menjadi 6 bulan telah

menunjukkan penurunan angka drop out.

Hal ini mudah dimengerti, karena kalau penderita ini tidak tekun

meminum obat-obatnya, hasil akhir hanyalah kegagalan penyembuhan ditambah

dengan timbulnya basil-basil TB yang multiresisten. Resitensi obat anti

tuberkolosis terjadi akibat pengobatan tidak sempurna, putus berobat atau karena

kombinasi obat anti tuberkolosis tidak adekuat. Sejak tahun 1995, manajemen
20

oprasional yang menyesuaikan strategi DOTS (Directly Obseved Treatment

Shortcourse) menekankan adanya pengawas minum obat (PMO) untuk setiap

penderita TB paru dengan harapan dapan menjamin keteraturan minum obat bagi

setiap penderita selama masa pengobatan.

Kondisi seorang penderita penyakit tuberculosis sering berada dalam

kondisi rentan dan lemah, baik fisik maupun mentalnya. Kelemahan ini dapat

menyebapkan penderitan tidak berobat, putus beobat, dan atau menghentikan

pengobatan karena berbagai alasan. TB dapat disembuhkan dengan berobat secara

teratur sampai selesai dalam waktu 6-8 bulan. Tata cara penyembuhan itu

terangkum dalam strategi DOTS. Dalam proses penyembuhan, penderita TBC

dapat diberikan obat anti TB (OAT) yang diminum secara teratur sampai selesai

dengan pengawasan yang ketat.

Masa pemberian obat memang cukup lama yaitu 6-8 bulan secara terus-

menerus, sehingga dapat mencegah penularan kepada orang lain. Oleh sebab itu,

para penderita TB jika ingin sembuh harus minum obat secara teratur. Tanpa

adanya keteraturan minum obat penyakit sulit disembuhkan. Jika tidak teratur

minum obat penyakit sukar diobati kuman TB dalam tubuh akan berkembang

semakin banyak dan menyerang organ tubuh lain. Akan membutuhkan waktu

lebih lama untuk dapat sembuh biaya pengobatan akan sangat besar dan tidak

akan ditanggung oleh pemerintah (Ainur, 2008).


21

2.1.7 Pengertian Tuberkolosis

1. Definisi

Tuberkolosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan

bakteri Mycobacterion tuberculosis yang dapat menyerang paru-paru tetapi

biasa juga organ tubuh lainnya.(Kemenkes RI, 2016)

Mycobacterion tuberculosis menyebabkan TBC dan merupakan pathogen

manusia yang sangat penting. Kuman ini non motil, tidak berspora, berbentuk

batang yang tidak berkapsul dan tidak memproduksi toksin. Sebagai besar

dinding kuman terdiri atas lipid, kemudian peptidoglikan dan arabinomannan.

Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alcohol)

sehingga bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap

gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat hidup dalam udara kering maupun

keadaan dingin, hal ini terjadi karena kuman berada didalam sifat dormant.

Sifat dormant inilah yang dapat menyebapkan penyakit tuberkolosis menjadi

aktif lagi (Widoyono, 2008).

2. Cara Penularan

Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara

dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman

dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat

terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan, kuman

TB tersebut dapat menyebar dari aru ke bagian tubu lainnya. Melalu sistem

peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, ata penyebaran langsung

ke bagian-bagian tubuh lainnya (Widoyono, 2008).


22

3. Gejala-gejala Tuberkulosis

a. Gejala umum

Batuk terus-menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih.

b. Gejala lain, yang sering dijumpai :

1) Batuk berdarah

2) Sesak nafas

3) rasa nyeri dada

4) Badan lemah, nafsu makan menurun berat badan turun, berkeringat

malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.

(Widoyono, 2008)

4. Pengobatan tuberculosis

Pengobatan pada penderita tuberculosis dewasa dibagi menjadi beberapa

katagori :

a. Katagori 1

Tahap inseptif terdiri dari isoniazid (H). Rifampisin (R). Pirazinamid (Z)

dan Ethambutol (E). Obat-obatan tersebut diberikan setiap hari selama 2

bulan (2HRZE). Kemudian diteruskan dengan tahap lajutan yang terdiri

dari Isoniazid (H) dan Rifampisin (R), diberikan tiga kali dalam seminggu

selama 4 bulan (4H3R3). Obat ini diberikan untuk :

1) Penderita baru TB Paru BTA Positif

2) Penderita TB Paru BTA negatif Rontgen Positif yang “sakit berat”

3) Penderita TB Ekstra Paru berat

b. Katagori 2
23

Tahap intensif diberikan selama 3 bulan. Dua bulan pertama dengan

Insoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Ethambutol (E) dan

suntikan Streptomisin setiap hari di Unit Pelayanan Kesehatan dilanjutkan

1 bulan dengan isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (P), dan

Ethambutol (E)nsetiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan

selama 5 bulan dengan 5 HRE yang diberikan tiga kalidalam seminggu.

Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita

selesai menelan obat. Obat ini diberikan untuk :

1) Penderita kambuh (relaps)

2) Penderita gagal ( failure)

3) Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)

c. Katagori 3

Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan,

diteruskan dengan tahapan lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan

diberikan 3 kali seminggu. Obat ini diberikan untuk penderita baru BTA

negatif dan rontgen positif sakit ringan. (PDPI, 2006)

d. OAT Sisipan

Bila pada akhir tahap intensif dari pengobatan dengan katagori atau

katagori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat

sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan, (Nizar. M, 2017)


24

5. Program DOTS di Indoneia

Pada tahun 1994, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Word Healh

Organization (WHO) melaksanakan suatu evaluasi bersama (WHO Indonesia

Joint Evaluation) yang menghasilkan rekomendasi, “Perlunya segera dilakukan

perubahan mendasar pada strategi penanggulangan TB di Indonesi, yang

kemudian disebut sebagai strategi DOTS. Sejak saat itulah dimulailah era baru

pemberantasan TB di Indonesia (DepKes, 2008).

Upaya penurunan angka penderita TB paru yang telah dilakukan oleh

pihak program pada tahun 1995 berupa pemberian obat intensif melalui

puskesmas ternyata kurang berhasil. Survei pada tahun 1995 menunjukan

bahwa TB merupakan penyebab kematian nomer 3 setealah penyakit

kardiovakuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua golongan dan

nomer satu dari golongan infeksi (sukana, 1999). Lima kunci utama dalam

strategi DOTS yaitu : (1) Komitmen; (2) Diagnosis yang benar dan baik; (3)

Ketersediannya dan lancarnya distribusi obat; (4) Pengawasan penderita

minum obat; (5) Pencatatan dan pelaporan penderita dengan sistem kohort

(WHO, 2008).

Kunci sukses penanggualngan TB adalah menemukan penderita dan

mengobati penderita sampai sembuh. WHO menetapkan target global Case

Detection Rate (CDR) atau penemuan kasus TB menular sebesar 70%, dan

Cure Rate (CR) atau angka kesembuhan/keberhasilan pengobatan sebesar 85%.

Sejak DOTS diterapkan secara intensif terjadi penularan angka kesakitan TB

menular yaitu pada tahun 2001 sebesar 122 per 100.000 penduduk dan pada

tahun 2005 menjadi 107 per 100.000 penduduk. Hasil yang dicapai Indonesia
25

dalam menggulangi TB hingga saat ini telah meningkat. Angka penemuan

kasus TB menular yang ditemukan pada tahun 2004 sebesar 128.981 orang

(54%) meningkat menjadi 156.508 orang (67%) pada tahun 2005. Keberhasilan

pengobatan TB dari 86,7% pada tahun 2004 (DepKes, 2008).

Selain itu mulai tahun 2003 dipergunakan Obat Anti TBC (OAT) dalam

bentuk kombipaks bagi penderita dewasa dan anak dan didukung pula dalam

kebijakan pemerintah melalui Surat Keputusan tentang pemberian gratis Obat

Anti Tuberkulosis dan Obat Anti Retro Viral untuk HIV/AIDS (DepKes,

2008).

2.2 Kerangka Teori

Mutu pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan

pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien.

Makin sempurna kepuasan tersebut, makin baik pula mutu pelayanan

kesehatan. Dalam penelitian ini, mutu pelayanan kesehatan dilihat dari 5

(lima) dimensi mutu/kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti langsung

(tangibles), Kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness). Jaminan

(assurance). Dan empati (emphaty). (Herlambang susatyo. 2016)

Keteraturan adalah tingkat ketepatan prilaku seorang individu dengan

nasehat medis atau kesehatan dan menggambarkan penggunaan obat sesuai

dengan petunjuk pada resep serta mencakup penggunaannya pada waktu yang

besar (Siregar, 2006)


26

Gambar 2.1 kerangka teori

Mutu pelayanan kesehatan Keteraturan berobat TB


paru

Sumber data : (Gde Muninjaya, 2013)

2.3. Kerangka Konsep

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

Mutu pelayanan

 Cepat tanggap Keteraturan Berobat Penderita


 Reliabilitas Tuberculosis paru
 Jamianan
 Empati
 Bukti fisik

2.4. Hipotensi Penelitian

Hipotensi penelitian adalah jawaban sementara dari suatu penelitian,

patokan duga, dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam

penelitian. (Notoatmodjo: 2010)

Ha : Ada hubungan antara mutu pelayanan kesehatan dengan keteraturan

berobat penderita tuberculosis pari di puskesmas Labuan.