Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pemikiran yang melatarbelakangi penulis adalah, adanya realita bahwa
antara hukum dan politik keduanya tidak dapat dipisahkan baik dalam
pembentukan maupun implementasinya. Soehardjo SS, pakar hukum tata negara
Undip, mengatakan “…antara hukum dan politik adalah pasangan, bila hukum
dikaitkan dengan recht, politik dikaitkan dengan macht, dengan demikian,
hubungan antara keduanya diungkapkan sebagai: ”. . . recht bendichte Werking
des macht, nicht macht bendichte Werking des recht....”1 Studi Moh. Mahfud
(1994)2 dalam disertasinya yang berjudul ”Perkembangan Politik : Studi tentang
Pengaruh Konfigurasi Politik terhadap Produk Hukum di Indonesia”,
menunjukkan bahwa ada pengaruh cukup signifikan antara konfigurasi politik
terhadap produk hukum di Indonesia. Karena itu, kata Mahfud, kebanyakan
produk hukum sudah terkooptasi kekuasaan atau Muladi3 menyebutnya terjadi
”instrumentalisasi hukum dan politisasi hukum” dalam kehidupan sosial. Begitu
pula studi yang dilakukan Loeby Loqman4 tentang tindak pidana politik sedikit
banyak memberi gambaran tentang ketidakjelasan konsep tindak pidana politik
dalam perundang-undangan di Indonesia. Ketidakjelasan ini dapat dilihat pada
produk putusan peradilan pidana, yaitu, yang di dalamnya terdapat inkonsistensi
antara satu putusan dengan putusan lainnya.

1
Dalam karya tulis Soehardjo SS, yang berjudul “Kekuasaan Kehakiman dan Sistem
Peradilan Berdasarkan UUD 1945, Suatu Analisis Atas Memorandum IKAHI II, Tanggal
23 Oktober 1996.
2
Moh. Mahfud MD, 1993,”Perkembangan Politik : Studi tentang Pengaruh Konfigurasi
Politik terhadap Produk Hukum di Indonesia” (Disertasi Doktor), Yogyakarta: Universitas Gadjah
Mada.

Muladi, ”Wajah Hukum Indonesia Menapak Tahun 2002”, yang disampaikan pada
3

Seminar Nasional Sehari Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI), 26 Januari 2002.
Namun instrumentalisasi dan politisasi hukum merupakan hal wajar baik di negara demokratis
maupun negara totaliter. Namun, instrumentalisasi dan politisasi hukum hanya sah apabila
dikendalikan oleh asas-asas hukum demokrasi yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab.
4
Lihat Loeby Loqman, Delik-Delik Politik di Indonesia, Penerbit Hill-Co, Jakarta, 1993
hal 41.
Sejarah dan perkembangan politik hukum di Indonesia dimulai pada saat
diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus
1945 oleh sang proklamator Ir. Soekarano dan Muh. Hatta. Dari kemerdekaan
itulah mulai dijalankannya suatu roda pemerintahan dengan menciptakan hukum –
hukum yang baru yang terlepas dari hukum-hukum para penjajah yang selama
hampir 3,5 abad menjajah negeri ini.
Hukum dalam pengertiannya sebagai kaidah-kaidah yang berlaku tidaklah
lahir begitu saja akan tetapi memerlukan suatu proses pembentukkan hukum,
hukum itu adalah suatu produk politik yang berasal dari kristalisasi kehendak-
kehendak politik yang saling berinteraksi serta bersaing. Karena hukum berasal
dari suatu proses polotik didalamnya maka demi menjaga kerangka cita hukum (
rechtside ) perlu adanya suatu acuan yakni Politik Hukum.Pengertian politik
hukum sebagai ilmu studi ( ilmu politik hukum ) adalah studi tentang kebijakan
hukum dan latar belakang poltik dan lingkungan yang nantinya mempengaruhi
lahirnya hukum itu sendiri. Kebijaksanaan disini tentang menentukan bagian
aspek-aspek mana yang diperlukan dalam pembentukan hukum.
Pembentukan hukum dalam suatu sistem hukum sangat ditentukan oleh
konsep hukum yang dianut oleh suatu masyarakat hukum, juga oleh kualitas
pembentuknya. Proses ini berbeda pada setiap kelas masyarakat. Dalam
masyarakat sederhana, pembentukanya dapat berlangsung sebagai proses
penerimaan terhadap kebiasaan-kebiasaan hukum atau sebagai proses
pembentukan atau pengukuhan kebiasaan yang secara langsung melibatkan
kesatuan-kesatuan hukum dalam masyarakat itu. Dalam masyarakat Eropa
Kontinental pembentukan hukum dilakukan oleh badan legeslatif. Sedangkan
dalam masyarakat common law (Anglo saxion) kewenangan terpusat pada hakim.
Negara Indonesia sebagai Negara hukum, konsep hukumnya mengikuti
Eropa Kontinental, dimana pembentukan hukumnya dilakukan oleh badan
legislative (DPR). Landasan Juridis pemberian kewenangan kekuasaan
pembentukan undang-undang kepada badan legislative didasarkan pada pertama,
Pasal 20 UUD Negara RI Tahun 1945 ayat 1: “DPR memegang kekuasaan
membentuk undang-undang”. Ayat 2 : “setiap RUU dibahas oleh DPR dan
Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama” ayat 5 : “Dalam hal
rancangan undang undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan
oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak rancangan undang undang
tersebut disetujui rancangan undang undang tersebut sah menjadi undang
undang dan wajib diundangkan”. adalah UU No. 10 tahun 2004 tentang peraturan
pembentukan perundang-undangan sebagi landasan yuridis kedua. Kewenangan
DPR dalam pembentukan undang-undang diatur dalam BAB IV tentang
“perencanaan penyusunan undang-undang” dan BAB V tentang “pembentukan
peraturan perundang-undangan”.
Kembali pada sejarah politik hukum di Indonesia dari awal kemerdekaan
hingga sampai saat ini yang mengalami beberapa periode serta era kepemimpinan
yang berkuasa didalamnya ternyata telah terjadi tolak tarik atau dinamika antara
konfigurasi politik otoriter (nondemokeratis). Demokerasi dan Otoriterisme
muncul secara bergantian dengan kecenderungan linier disetiap periode pada
konfigurasii otoriter. Sejalan dengan hal itu, perkembangan karakter produk
hukum memperlihatkan keterpengaruhannya dengan terjadi tolak tarik antara
produk hukum yang berkarakter konservatif dengan kecenderungan linier yang
sama.
Tolak tarik karakter hukum menunjukan bahwa karakter produk hukum
senantiasa berkembang seirama dengan perkembangan konfigurasi politik.
Meskipun kepastianya bervariasi, konfigurasi politik yang demokeratis senantiasa
diikuti munculnya produk hukum yang responsive/otonom, sedang konfigurasi
politik yang otoriter senantiasa disertai oleh munculnya hukum yang berkarakter
konserfatif/ortodoks.
Dari latar belakang itulah perlunya suatu kajian terhadap perkembangan dan
sejarah poltik hukum di Indonesia.
BAB II
PERMASALAHANN
2.1 Pembahasan

Sebelum jauh membicarakan tentang pembentukan hukum dan


implementasinya, akan sangat berguna jika terlebih dahulu dipahami tentang
konsep hukum, sehingga akan mampu memberikan pemahaman yang lebih utuh
pengetahuan tentang hukum.

Menurut Hart, HLA, bahwa hukum adalah merupakan sebuah konsep,5 dan
menurut Soetandyo Wignyosoebroto tak ada konsep yang tunggal mengenai apa
yang disebut hukum itu. Menurut pendapatnya dalam sejarah pengajian hukum
tercatat sekurang-kurangnya ada 3 konsep hukum yang pernah dikemukakan
orang, yaitu :

(a) hukum sebagai asas moralitas atau asas keadilan yang bernilai universal, dan
menjadi bagian inheren sistem hukum alam;
(b) hukum sebagai kaidah-kaidah dan positif yang berlaku pada suatu waktu dan
tempat tertentu, dan terbit sebagai produk eksplisit suatu sumber kekuasaan
politik tertentu yang berlegitimasi; dan
(c) hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional di dalam sistem
kehidupan bermasyarakat, baik dalam proses-proses pemilihan ketertiban
dan penyelesaian sengketa maupun dalam proses pengarahan dan
pembentukan pola-pola perilaku yang baru.6
Dijelaskannya pula, bahwa konsep tersebut (a) di atas ada konsep yang
berwarna moral dan filosofis, yang melahirkan cabang kajian hukum yang amat
moralistis. Konsep (b) jelas kalau konsep positivistis tidak hanya Austinian juga
yang pragmatik realis dan yang Neo-Kantian atau Kelselian yang melahirkan
kajian-kajian Ilmu hukum positif. Konsep-konsep (c) adalah konsep sosiologik
atau antropologik, yang kemudian melahirkan kajian-kajian sosiologi hukum,
5
Hart, HLA, The Concept of Law, Oxford at The Clarendon Press London, 1981
hal. 13.
6
Soetandyo Wignyosoebroto, Hukum dan Metode-Metode Kajiannya, BPHN 1980, hal. 2.
antropologi hukum, atau cabang kajian yang akhir-akhir ini banyak dikenal
dengan nama "hukum dan masyarakat”.7 Apa yang disebutkan terakhir inilah
yang menjadi topik pembahasan tulisan ini. Selain itu, patut dicatat konsepsi-
konsepsi hukum seperti apa yang diungkapkan di atas juga tidak mencakup dan
dapat memasukkan seluruh konsepsi tentang hukum yang berlaku pada masa
akhir-akhir ini.

Menurut Mochtar Kusumaatmadja, dalam arti luas konsepsi hukum


tidak hanya merupakan keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur
kehidupan manusia dalam masyarakat tetapi meliputi pula lembaga/institusi dan
proses-proses yang mewujudkan berlakunya kaidah-kaidah dan asas-asas itu
dalam kenyataan.8 Konsepsi ini dapat dinilai sebagai konsepsi yang kompromistis.

Djojodigoeno mengajukan suatu konsepsi yang tidak memandang hukum


sebagai rangkaian pengugeran, seperti pada tahun lima puluhan, tetapi sebagai
rangkaian pengugeran ( normering ) tingkah laku dan perbuatan orang.
Pengugeran ini ukurannya, ialah ”unsur-unsur yang menentukan cita-cita keadilan
yang hidup dalam masyarakat” dan ”pengugeran” harus langsung
dipergantungkan pada perikatan-perikatan yang menentukan peragaan masyarakat
dan nilai-nilai yang dijunjung rakyat dalam hubungan timbal balik dan saling
menentukan. Selanjutnya dikatakan :

“een onophoudelijk zich vernieuwend process van normeringen door een


gemeenschap, rechtstreeks of door middel van hare gezagsorganen, van
de voor zakelijk verhouding en relevante handelingan van hare leden, dat
de zin heeft orde, gerechtigheid en gezamelijke welvaart te funderen en te
onderhouden”.

7
Ibid hal. 2
8
Mochtar Kusuma Atmadja, Pidato sambutan dan pengarahan Menteri Kehakiman pada
Upacara Pembukaan Sejarah Hukum BPHN, Simposium Sejarah Hukum, Buana cipta Bandung,
1976, halaman 5.
(hukum adalah suatu proses pengugeran yang terus menerus memburu
yang dilakukan oleh masyarakat secara langsung atau dengan
perantaraan alat kekuasaannya, perihal perbuatan-perbuatan dalam
hubungan pamrih (lugas) dan tindak laku dari anggota-anggotanya, yang
mempunyai makna untuk memberi dasar dan mempertahankan ketertiban,
keadilan dan kesejahteraan bersama).9

A.A.G. Peters memandang hukum sebagai bagian dari masyarakat. Ia


melihat di dalam hukum itu, di satu pihak endapan dari perbandingan kekuatan
yang nyata dan kepentingan-kepentingan yang dominan, sedang di lain pihak
juga aspirasi untuk keadilan dan legitimitasi. Ajaran ini mengkaji hukum dengan
ukuran-ukuran yang dipergunakan oleh hukum itu sendiri. Ia hendak mengetahui
sejauh mana di belakang bentuk juridis yang universal tersembunyi isi yang
khas, yang ditentukan oleh perbandingan kekuatan
( power relationship ) dan struktur kepentingan. Watak hukum yang
sesungguhnya dapat dipahami dari aspirasi-aspirasi menuju hukum yang
optimal, yang melekat pada asas-asas hukum, yang tertuju mengurangi
kesewenang-wenangan penguasa dan melindungi hak-hak asasi manusia.10

Walaupun tiga pendapat yang disebutkan terakhir, tidak dapat


dimasukkan ke dalam salah satu konsepsi mengenai hukum seperti yang
dikemukakan oleh Soetandyo, tetapi kalau diteliti secara seksama ketiga
pendapat tersebut ternyata hukum sebagai realita, masyarakat diberi penekanan
secara khusus, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan pendapat tersebut juga
sebagai bentuk variasi daripada konsepsi hukum yang sosiologik.

9
Djojodigoeno, M.M. What is Recht?; Over de aard van het recht asssocial process van
normeringen, UNTAG University Press, Jakarta, 1971, G. Soedarto, Hukum dan Hukum Pidana,
Alumni Bandung, 1977, halaman 15.
10
Peters, AAG, Het rechtskarakter van het recht, Deventer, 1972, lihat Soedarto,
Op. Cit, halaman 17.
Bilamana berbicara tentang hukum dalam perspektif sosial, ada beberapa
perspektif tentang ( fungsi ) hukum di dalam masyarakat.
Antonie A.G. Peters mengemukakan ada tiga perspektif yaitu :

 Perspektif kontrol sosial dari hukum. Tinjauan demikian ini dapat disebut
sebagai tinjauan dari sudut pandangan seseorang polisi terhadap hukum ( the
policeman view of the law ). Untuk memahami fungsi hukum dalam perspektif
ini dapat diajukan teori Emile Durkheim;
 Perspektif kedua dari fungsi hukum di dalam masyarakat adalah perspektif
Social Engineering, merupakan tinjauan yang dipergunakan oleh para pejabat
( the official's perspective of the law ) dan oleh karena pusat perhatiannya
adalah apa yang diperbuat oleh pejabat penguasa dengan hukum, maka
tinjauan ini kerapkali disebut juga the technocrat's view of the law. Yang
dipelajari di sini adalah sumber-sumber kekuasaan yang dapat dimobilisasikan
dengan menggunakan hukum sebagai mekanisme. Untuk memahami hukum
dalam perspektif ini diajukan teori Max Weber mengenai hukum dan
perubahan masyarakat.
 Perspektif yang ketiga adalah perspektif emansipasi masyarakat dari hukum.
Perspektif ini merupakan tinjauan dari bawah terhadap hukum ( the bottom's
up view of law ) dan dapat pula disebut sebagai perspektif konsumen ( the
consumer's perspective of the law ). Dengan perspektif ini ditinjau
kemungkinan-kemungkinan dan kemampuan hukum sebagai sarana untuk
menampung aspirasi masyarakat. Untuk memahami fungsi hukum dalam
perspektif emansipasi masyarakat dari hukum, oleh Peters ditunjuk konsepsi
yang dikemukakan oleh Philipe Nonet dan Philip Selznick mengenai hukum
responsif.11
Apa yang dikemukakan oleh Peters di atas masih dapat dipersoalkan lebih
lanjut, misalnya berkenaan dengan konsepsi ”social engineering” kiranya tidaklah
sesempit yang dikemukakan oleh Peters, karena seperti yang dikemukakan oleh

11
Ronny Hanitiyo Soemitro, Studi Hukum dan Masyarakat, Alumni Bandung,
1982. halaman 10 - 11.
Soerjono Soekanto tentang social engineering merupakan cara-cara
mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih
dahulu, yang mengandung makna hukum sebagai alat untuk merubah
masyarakat12. Yang masih dapat dikaitkan dengan apa yang dikemukakannya di
dalam tulisannya yang lain adalah salah satu fungsi hukum sebagai sarana untuk
memperlancar proses interaksi sosial law as a facilitation of social interaction .13

Atau seperti yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo di dalam


disertasinya, bahwa hukum sebagai sarana social engineering adalah
penggunaan hukum secara sadar untuk mencapai suatu tertib atau keadaan
masyarakat sebagaimana dicita-citakan atau untuk melakukan perubahan-
perubahan yang diinginkan.14 Namun karena hal itu tidak perlu untuk
diperdebatkan karena dalam tulisan ini hanya ingin menyoroti bagaimana
pengembangan konsep sosiologik tentang hukum yang dikaitkan dengan salah
satu perspektif yang diungkapkan oleh Peters.

Pandangan yang dikemukakan di atas adalah senada pula dengan apa yang
dikemukakan oleh Lawrence Rosen, seorang ahli sosiologi hukum dari Pronceton
University, yang melihat adanya tiga dimensi penting pendayagunaan pranata-
pranata hukum di dalam masyarakat yang sedang berkembang, yakni :

1. Hukum sebagai pencerminan dan wahana bagi konsep-konsep yang berbeda


mengenai tertib dan kesejahteraan sosial yang berkaitan dengan pernyataan
dan perlindungan kepentingan masyarakat.
2. Hukum dalam peranannya sebagai pranata otonom dapat pula merupakan
pembatas kekuasaan sewenang-wenang, pendayagunaan hukum tergantung
pada kekuasaan-kekuasaan lain di luarnya.
12
Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. Rajawali Press, Jakarta, 1980,
halaman 115.
13
Soerjono Soekanto, Fungsi Hukum dan Perubahan Sosial, Alumni Bandung, 1981,
halaman 44.
14
Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan Sosial. Alumni Bandung, 1979,
halaman 142.
3. Hukum dapat didayagunakan sebagai sarana untuk mendukung dan
mendorong perubahan sosial ekonomi.15 Namun di sini tidak tergambar
kemungkinan berperannya hukum sebagai sarana penampung aspirasi
masyarakat.

2.1.1 Wacana Teoretik Interaksi Politik Dalam Hukum Menurut Max


Weber
hukum tidak dapat lepas dari kepentingan-kepentingan dan pengaruh
termasuk kepentingan dan pengaruh politik. Adalah seperti apa yang dikatakan
oleh yang mengatakan bahwa, hukum itu dipengaruhi kepentingan-kepentingan,
baik itu kepentingan material maupun kepentingan-kepentingan ideal dan
menurut pendapatnya, hukum juga sangat dipengaruhi cara berpikir kelas-kelas
sosial dan kelompok-kelompok yang berpengaruh termasuk partai politik.16
Bahkan secara ekstrim Grifiths mengatakan bahwa, suatu undang-undang tidak
akan pernah ada tanpa ada suatu keputusan politik, begitu pula rincian undang-
undang akan menentukan pula pengaruh suatu kebijakan politik17.

Sependapat dengan Max Weber, Seorang ahli hukum bernama Donald


Black, pada tahun 70-an sudah mengingatkan masyarakat agar tidak memaknai
hukum sekadar sebagai barisan kalimat dalam perundang-undangan18. Senada
dengan Black adalah Meir Friedman, mengajarkan ada tiga unsur dalam hukum,
yakni substance, ( aturan main ), structure ( pranata penegak hukum ), dan legal

15
Mulyana W. Kusumah, Peranan dan Pendayagunaan Hukum dalam
Pembangunan, Alumni Bandung, 1982, halaman 4–5.
16
Max Weber dalam buku “HAM, KEJAHATAN NEGARA DAN
IMPERIALISME MODAL, Agung dan Asep, Pustaka Pelajar, 2001, hal XXII.
17
Jhon Grifiths, Is Law Important, 54.N.Y.U.L REV 339 (1976) dalam Robert B,
Seidman & Nalin Abeyeskere, Penyusunan Rancangan Undang-Undang dalam Perubahan
Masyarakat yang Demokratis.
18
Donald Black dalam bukunya Behavior of Law (1976). Black menegaskan
hukum bukan sekadar perangkat aturan-aturan, baik tertulis tak tertulis, namun harus
dipahami sebagai perilaku.
culture ( budaya hukum ), artinya hukum bukan sekadar yang tertulis melainkan
juga norma agama, etika, dan norma sosial19.

20
Menurut Milovanovic tokoh aliran Legal Realism dan pendukungnya
seperti Karl Lewellyn dan Frank secara tegas menentang paham hukum yang
formal mekanik, lebih mendahulukan rasionalitas yang substantif, dan menolak
kerja hakim yang menekankan pada metode deduksi dalam memahami hukum.
Pendapat tersebut diikuti oleh paham sociological dan realistis
jurisprodence,yang berpendapat bahwa hukum tidak bebas dari konteks-
konteksnya. Mereka menolak hukum sebagai sistem normatif yang tertutup, yang
lepas dari konteks-konteksnya, yakni politik, sosial maupun kultural. Tokoh
kaum realis, Oliver Wendell Holmes mengatakan, Law has not been logic, it
exprerience. Hukum bukanlah suatu sistem teks normatif yang tertutup. Karena
itu kemurnian hukum dengan menutup diri dari pengaruh konteks-konteksnya
adalah suatu upaya yang tidak hanya sia-sia tetapi juga tidak realistis21.

Hukum, sekalipun telah dibentuk dalam wujudnya yang formal sebagai


produk kebijakan suatu badan pemerintahan negara yang terbilang tinggi,
bukanlah sesuatu yang sakral dan berstatus di atas segala-galanya ( the suprene
law –state, de hoogste rechstaat ). Alih-alih menurut konsepnya yang mutakhir,
hukum pada hakikatnya adalah produk aktivitas politik rakyat yang berdaulat,
yang digerakkan oleh kepentingan-kepentingan ekonomi mereka yang ditujukan
ke norma-norma sosial dan/atau nilai-nilai ideal kultur mereka.

Pemahaman tidak dapatnya hukum dipisahkan dari politik semakin meluas


setelah gerakan pemikiran kritis, yang dikenal dengan The Critical Legal Studies
Movement ( CLS ) tidak bisa menerima produk hukum yang positivis-formalis.
Karena itu, sekalipun merupakan hasil kesepakatan yang sah, tetapi apakah benar-

19
Lihat Kompas 29 Juli 2001.
20
Dragan Molovanovic, A Primer The Sociology of Law, New York , Harrow
and Heston, 1994, hal 89-90.
21
Soetandiyo Wignjosoebroto, Hukum dalam Realitas Perkembangan Sosial
Politik dan Perkembangan Kritik-Teoretik yang Mengarah Mengenai Fungsinya, 2003,
hal 13.
benar bisa bersifat netral dan dapat ditegakkan oleh lembaga yudisial yang
independen dan tidak memihak. Menurut CLS, formalisme hukum hanya akan
berdaya guna melegitimasi para elit yang tengah berkuasa termasuk elit politik.
Rakyat banyak terkecoh oleh formalisme pemikiran di bawah prinsip rule of law.
Hukum dan teorinya menurut Kruish, hakikatnya sebagai suatu ideologi dengan
fungsinya sebagai pelegitimasi, berlangsung melalui proses-proses refikasi dan
proses hegemoni politik.22

Menurut Satjipto Rahardjo, bahwa sistem hukum dipengaruhi oleh


sistem yang lebih luas yang disebut “super system” yaitu sistem sosial23 (
social system ) dimana sistem hukum itu di bangun. Sistem sosial ini dapat berupa
sistem sosial budaya, sistem politik, sistem ekonomi, sistem ilmu pengetahuan,
teknologi dan lain-lain. Ini berarti bahwa sistem hukum harus dibangun dari
berbagai bahan yang terdapat dimana sistem hukum itu dibangun. Lebih jauh
Satjipto Rahardjo menyatakan, “konsentrasi energi hukum selalu kalah kuat dari
konsentrasi energi politik”.24 Pendapat tersebut sangat tepat apabila disandingkan
realitas yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembentukan hukum di DPR RI,
dimana berbagai sistem politik yang ada di DPR RI ikut melingkupi, terutama
sistem politik dari partai-partai politik yang besar. Dengan demikian sistem
hukum ( nilai-nilai hukum ) yang terbangun dalam UU Nomor 32 Tahun 2004
sejatinya adalah manifestasi dari sistem politik, terutama sistem politik dari partai-
partai politik yang besar.

Menurut Trasymashus, “hukum tidak lain kecuali kepentingan mereka


yang kuat”25. Kondisi dimana kalahnya hukum ketika harus berhadapan dengan

22
Soentandyo Wignjosoebroto, Op Cit hal 12.
23
Sistem sosial yang dimaksud adalah : sistem sosial ekonomi, politik,
pendidikan, sistem sosial budaya termasuk adat istiadat dan karakter manusianya dimana
hukum itu akan dibuat.
24
Satjipto Rahardjo, Beberapa Pemikiran Tentang Ancangan Antardisiplin
dalam Pembinaan Hukum Nasional, Penerbit Sinar Baru Bandung, 1985, Hal. 71.
25
Dalam karangan ilmiah yang ditulis oleh Haryatmoko, di Surat Kabar Harian
Kompas dengan judul “ Hukum dan Moral dalam Masyarakat Majemuk”, Kompas 10
Juli 2001
politik dalam perspektif konflik adalah hal yang dimungkinkan26. Tidak
berlebihan jika kemudian dikatakan, fenomena menonjolnya fungsi instrumental
hukum sebagai sarana kekuasaan politik dan itu bersifat dominan serta lebih besar
dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya. Lebih dari itu, instrumental hukum
menjadi penopang tangguh struktur politik, ekonomi, dan sosial.27

Pandangan pluralis mengatakan bahwa, hukum qada dan terbentuk karena


shift atau pergeseran kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang
berbeda-beda28. Perbedaan kepentingan antar kelompok ini dapat menimbulkan
terbentuknya koalisi dalam menanggapi isu-isu dan permasalahan tertentu, dan
menumbuhkan kekuasaan melalui dan dengan jalan proses politik. Kelompok--
kelompok ini bertindak melalui partai-partai politik dan pemilihan-pemilihan,
yang dapat membuat dan menjadikan mereka dapat mengontrol dan
mengendalikan hukum negara.

Perbincangan dan perdebatan tentang pendekatan pluralisme ini pada


awalnya dimulai oleh Robert Dahl dalam satu studi tentang kekuasaan yang
dilakukan di New Haven, Connecticut pada tahun 1961. Dalam mempelajari
kekuasaan dan penyusunan hukum dan peraturan yang berlaku di New Haven,
Dahl menemukan adanya 3 kelompok terorganisir yang saling bertentangan dan
dihadapkan pada konflik yang merupakan sumber yang digunakan oleh para
politisi dan pegawai pemerintah kota sebagai bahan pertimbangan dalam
pengambilan keputusan dalam sentra kekuasaan.

Pembahasan tentang pluralisme ini secara lebih menyeluruh dikemukakan


Lawrence Friedman ( 1977 ). Menurutnya, hukum adalah hasil dari persaingan

26
Menurut Bruce L. Berg, “from this conflict perspective, then, criminal laws
serve a central purpose of protecting the haves from the haves nots and maintaining their
superior position in society”. Lebih jauh lihat Bruce L. Berg, Law Enforcement, An
Introduction To Police In Society, Allyn And Bacon, A Division Of Simon & Schuster,
Inc, Boston, 1991, hal.9.
27
Mulyana W. Kusuma, Perspektif, Teori dan Kebijaksanaan Hukum.
Rajawali, Jakarta 1986 Hal 19-20.
28
Pendapat Lawrence dalam Geral Turkel, Law and Society, Critical Aprroaches,
Bab 5 : Hukum hal 89-106
dan perbedaan kepentingan antara kelompok-kelompok yang ada, yang seringkali
membutuhkan kekuatan dalam jumlah dan jenis yang berbeda-beda. Hubungan
yang terjadi antara persaingan dan perbedaan kepentingan kelompok dengan
terbentuknya kekuasaan melalui hukum adalah, kemampuan mereka kelompok-
kelompok tersebut untuk membentuk opini publik, dengan cara memperkuat dan
memperluas kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai mereka masing-masing.
Perdebatan kepentingan dan nilai-nilai yang mereka miliki akan membawa
dampak kepada terciptanya persaingan antar kelompok tadi untuk sama-sama
bersaing dan berkompetisi menanamkan pandangan-pandangan mereka dalam
pengambilan keputusan yang nantinya akan dipakai sebagai dasar-dasar
pengambilan keputusan untuk menetapkan hukum dan peraturan, serta
implementasi atau penerapannya. Secara kontras, para elit yang ada di lembaga
dan badan-badan hukum, mereka melakukan usaha untuk mengelola dan
menegakkan kekuatan atau kekerasan ekonomi dan politik, yang dikonsentrasikan
bagi kelompok-kelompok yang sedang berkuasa, yang memiliki kontrol terbesar
dalam pengambilan keputusan dalam lembaga-lembaga pemerintahan. Para elit di
badan-badan hukum mengemukakan argumen mereka, bahwa sementara mereka
melakukan pengaturan atau kontrol terhadap kelompok yang sedang berkuasa,
mereka kurang dapat melakukan kontrol terhadap masyarakat secara detail dan
menyeluruh, pada waktu yang bersamaan.

Secara spesifik, GSHK ( Gerakan Studi Hukum Kritis ) melalui Roberto


M. Unger29 mengkritik teori pemisahan hukum dan politik
( law politics distinction ). Teori ini mengandalkan bahwa, hukum itu
dikonstruksikan secara objektif, seperti yang didalilkan oleh Ronald Dworkin,30
“law is based on “obyective” decicion of principle, while polincs dependen on
“subjektive decicion of policy”. Inilah yang ditolak keras oleh GSHK. Mereka
menyatakan, tidak mungkin proses-proses hukum (apakah itu dalam membuat

29
Lihat Roberto M. Unger, Knowledge and Politics (New York; Free Press, 1975)
Hlm 63.
30
Lihat Ronald Dworkin , A Matter of Priciples (Cambridge : Harvard University
Press, 1985)
undang-undang atau menafsirkannya) berlangsung dalam konteks bebas atau
netral dipengaruhi pengaruh moral, agama dan pluralisme politik. Kalangan
GSHK kadang mungkin mengisolasi hukum dari konteks di mana ia eksis, dan
bagi mereka teori tersebut merupakan bentuk penghindaran terhadap adanya latar
belakang politik dan dialogis dibalik putusan-putusan hakim dan undang-
undang31.

Makanya berbeda dengan teori liberal, bagi kalangan GSHK hukum


dikonstruksikan sebagai “negotiable, subjektictive dan poly dependent as politis”.

Menurut Roberto M. Unger ada dua alasan utama mengapa tidak mungkin
membayangkan netralitas dan objektivitas dalam hukum, karena seperti di bawah
ini :

First procedure is inseparable from outcame: every methode makes


certain legislatifve choices more likely than other………. Second, each law
making sistem it self embodies certain values; it incorporateas a view of
haw power ought to be ditrubuted in the society and how conflicts should
be recolved.32

Dengan mengacu kepada proses-proses empiris pembuatan kebijakan hukum,


Unger menunjukkan betapa tidak realistiknya teori pemisahan hukum dan
politik. Analisis hukum yang hanya memusatkan pengkajian pada segi-segi
doktrinal dan asas-asas hukum semata dengan demikian mengisolasikan hukum
dari konteksnya. Sebab hukum bukanlah sesuatu yang terjadi secara alamiah,
melainkan direkonstruksi secara sosial.33 Kritik terhadap teori pemisahan hukum

31
Untuk mendapatkan uraian yang lengkap mengenai kritik-kritik GSHK
terhadap doktrin, teori, dan asas-asas hukum liberal, dapat dilihat dalam Mark Keman, A
Guide to Critical Studies (Cambridge : Harvard University Press, 1987).
32
Lihat, Unger, Law and Modern Society, (New York, Free Press , 1975)
33
Analisis mengenai bagaimana hukum itu direkonstruksi untuk mengabsahkan
suatu tatanan sosial tertentu dapat dilihat dalam analisis Kennedy terhadap karya ahli
hukum abad 18, William Blackstone, yang sangat berpengaruh pada proses pembentukan
dan politik yang dipaparkan di atas, hanya merepresentasikan salah satu aspek
dari kritik GSHK terhadap tradisi hukum liberal. Meskipun demikian, lewat
uraian singkat mengenai kritik terhadap asas pemisahan hukum dan politik, apa
yang ingin diungkap GSHK sebetulnya juga ikut tersibak, yaitu menggunakan
kontradiksi internal di dalam teori hukum liberal. Maksudnya adalah kesenjangan
yang tajam antara apa yang diidealkan dan apa yang ada dalam realis.
Kesenjangan inilah yang menurut kalangan GSHK menyebabkan dan gagal
memahami secara koheren antara aturan ( rules ) di satu pihak dengan nilai-nilai (
values ) di pihak lain. Di sinilah letaknya apa yang dikatakan di muka sebagai
“self-contradiction” atau “incoherent” di dalam struktur internal pemikiran
( doktrin ) hukum liberal itu. Sebagai akibatnya adanya kontradiksi-kontradiksi
internal, menurut Roberto M. Unger 34
“Inabalit, to arrive at a coherent
understanding it the relation between rules and values in social life”.
2.1.2 Pembahasan era orde lama
Saat diproklamirkannya kemerdekaan dimulailah tatanan hidup berbangsa
dan bernegara Republik Indonesia. Seperti halnya suatu bangunan baru yang
pertama dibangun adalah pondamen yang kuat begitu pula dalam bernegara
diperlukan konsep-konsep dasar bernegara dan berbangsa yang menunjukan
bahwa bangsa ini memiliki suatu ideolog i yang memberikan pandangan dalam
bernegara serta memberikan ciri tersendiri dari bangsa- bangsa lainnya.
Pada masa yang dipimpin oleh soekarno ini memang dasar-dasar berbangsa
dan bernegara yang dibangun memiliki nilai yang sangat tinggi yang dapat
menggabungkan kemajemukan bangsa ini seperti Pancasila yang didalammya
melambangkan berbagai kekuatan yang terikat menjadi satu dengan semboyan
negara bhineka tunggal ika. Serta merumuskan suatu undang-undang dasar 1945
yang dipakai sebagi kaedah pokok dalam perundang-undangan di indonesia dan
dalam pembukaannya yang mencerminkan secra tegas sikap bangsa Indonesia
baik didalam maupun diluar negeri.

hukum di Amerika. Kennedy, The Structure of Blackston’s Commentaries”, (1978) 28


Buffalo Law Rev.
34
Lihat Roberto M. Unger, Knowledge and Politics (New York : Free Press,
1975) Hal 63.
Dalam perjalanan sejarahnya bangsa Indonesia mengalami berbagai
perubahan asas, paham, ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara dan melalui berbagai hambatan dan ancaman yang
membahayakan perjuangan bangsa indonesia dalam mempertahankan serta
mengisi kemerdekaan. Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959 mengeluarkan
Dekrit Presiden yang isinya pembubaran konstituante, diundangkan dengan resmi
dalam Lembaran Negara tahun 1959 No. 75, Berita Negara 1959 No. 69
berintikan penetapan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi
UUDS 1950, dan pembentukan MPRS dan DPAS. Sistem ini yang
mengungkapkan struktur, fungsi dan mekanisme, yang dilaksanakan ini
berdasarkan pada sistem “Trial and Error” yang perwujudannya senantiasa
dipengaruhi bahkan diwarnai oleh berbagai paham politik yang ada serta
disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang cepat berkembang. Sistem “Trial and
Error” telah membuahkan sistem multi ideologi dan multi partai politik yang pada
akhirnya melahirkan multi mayoritas, keadaan ini terus berlangsung hingga
pecahnya pemberontakan DI/TII yang berhaluan theokratisme Islam fundamental
(1952-1962) dan kemudian Pemilu 1955 melahirkan empat partai besar yaitu PNI,
NU, Masyumi dan PKI yang secara perlahan terjadi pergeseran politik ke sistem
catur mayoritas
Wujud berbagai hambatan adalah disintegrasi dan instabilisasi nasional
sejak periode orde lama yang berpuncak pada pemberontakan PKI 30 September
1945 sampai lahirlah Supersemar sebagai titik balik lahirnya tonggak
pemerintahan era Orde Baru yang merupakan koreksi total terhadap budaya dan
sistem politik Orde Lama dimana masih terlihat kentalnya mekanisme, fungsi dan
struktur politik yang tradisional berlandaskan ideoligi sosialisme komunisme.

2.1.3 Pembahasan era orde baru


Setelah lahirnya supersemar era kepemerintahan kini berada penuh ditangan
Soeharto setelah Orde Baru dikukuhkan dalam sebuah sidang MPRS yang
berlangsung pada Juni-Juli 1966. Harapan pun banyak dimunculkan dari sejak
orde baru berkuasa mulai dari konsistensinya menumpas pemberotakan PKI
hingga meningkatkan taraf hidup bangsa dengan Program pembangunan ( yang
dikenal PELITA ).
Pada masa Orde Baru pula pemerintahan menekankan stabilitas nasional
dalam program politiknya dan untuk mencapai stabilitas nasional terlebih dahulu
diawali dengan apa yang disebut dengan konsensus nasional. Ada dua macam
konsensus nasional, yaitu :
1. Pertama berwujud kebulatan tekad pemerintah dan masyarakat untuk
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Konsensus pertama ini disebut juga dengan konsensus utama.
2. Sedangkan konsensus kedua adalah konsensus mengenai cara-cara
melaksanakan konsensus utama. Artinya, konsensus kedua lahir sebagai
lanjutan dari konsensus utama dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan. Konsensus kedua lahir antara pemerintah dan partai-partai
politik dan masyarakat.

Pada awal kehadirannya, orde baru memulai langkah pemeritahannya


dengan langgam libertarian, lalu sistem liberal bergeser lagi ke sistem otoriter.
Seperti telah dikemukakan, obsesi orde baru sejak awal adalah membangun
stabilitas nasinal dalam rangka melindungi kelancaran pembangunan ekonomi
Hal pertama yang dapat terlihat guna menjalankan kekuasaan adalah dengan
menambahkan kekuatan TNI dan Polri didalam berbagi bidang kehidupan
berbangsa dan bernegara dengan cara memasukkan kedua pilar ini ke dalam
keanggotaan MPR/DPR. Tampilnya militer di pentas poitik bukan untuk pertama
kali, sebab sebelum itu militer sudah teribat dalam politik praktis sejalan dengan
kegiatan ekonomi menyusul dengan diluncurkannya konsep dwifungsi ABRI.
Lalu dengan menguatkan salah satu parpol, Kericuhan dalam pembahasan
RUU-RUU yang mengantarkan penundaan pemilu (yang seharusnya
diselenggarakan tahun 1968) itu disertai dengan Emaskulasi yang sistematis
terhadap partai-partai kuat yang akan bertarung dalam pemilu. Pengebirian ini
sejalan dengan Sikap ABRI yang menyetujui peyelenggaraan pemilu, tetapi
dengan jaminan bahwa “kekuatan orde baru harus menang”. Karena itu,
disamping menggarap UU pemilu yang dapat memberikan jaminan atas dominasi
kekuatan pemerintah, maa partai-partai yang diperhitungkan mendapat dukungan
dari pemilih mulai dilemahkan. Menghadapi pemilu 1971, selain mernggarap UU
pemilu dan melakukan emaskulasi terhadap partai-partai besar, pemerintah juga
membangu partai sendiri, yaitu Golongan karya (Golkar). Sejak awal orde baru
golkar sudah didesain untuk menjadi partai pemerintah yang diproyeksikan
menjadi tangan sipil angkatan darat dalam pemilu.sekretariat bersama (Sekber)
golkar adalah tangan sipil angkatan darat yang dulu berhasil secara efektif
mengimbangi (kemudian menghancurkan (PKI).
Selain itu untuk menguatkan keotoriteranya pada massa ini sistem berubah
drastis menjadi non demoratik dengan berbagi hal misalnya pembatsan
pemberitaan,kebebasan perss yang tertekan,dan arogansi pihak-pihak
pemerintahan yang memegang kekuasaan.

2.1.4 Pembahasan era setelah reformasi


Bermula dari krisis ekonomi nasional yang terjadi pada tahun 1997-1998
yang melumpuhkan segala sendi kehidupan mulailah muncul ketidak kepercayaan
terhadap pemerintahan orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto. Ketidak
percayaan ini mulai memunculkan keinginan suatu perubahan yang menyeluruh
sehingga mulailah dielu-elukan suatu yang dinamakan reformasi. Adapun tokoh-
tokoh reformasi yang menjadi pelopor gerakan ini diantaranya Amien Rais,Adnan
Buyung Nasution,Andi Alfian Malaranggeng dan tokoh-tokoh lainnya yang
didukung oleh gerakan besar-besaran mahasisiwa seluruh Indonesia serta berbagai
lapisan masyarakat. Gerakan ini berhasil menumbangkan orde baru dan rezim
kepemimpinan Soeharto.

2.1.5 Pembahasan era kepemimpinan Habibie


Pengangkatan BJ. Habibie dalam Sidang Istimewa MPR yang mengukuhkan
Habibie sebagai Presiden, ditentang oleh gelombang demonstrasi dari puluhan
ribu mahasiswa dan rakyat di Jakarta dan di kota-kota lain. Gelombang
demonstrasi ini memuncak dalam peristiwa Tragedi Semanggi, yang menewaskan
18 orang.Masa pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerjasama
dengan Dana Moneter Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan
ekonomi. Selain itu, Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media
massa dan kebebasan berekspresi. Kejadian penting dalam masa pemerintahan
Habibie adalah keputusannya untuk mengizinkan Timor Timur untuk
mengadakan referendum yang berakhir dengan berpisahnya wilayah tersebut
dari Indonesia pada Oktober 1999. Keputusan tersebut terbukti tidak populer di
mata masyarakat sehingga hingga kini pun masa pemerintahan Habibie sering
dianggap sebagai salah satu masa kelam dalam sejarah Indonesia.

2.1.6 Pembahasan era kepemimpinan Gusdur


Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan Gus dur memenangkan pemilihan
presiden tahun 1999 yang pada saat itu masih dipilih oleh MPR walaupun
sebenarnya partai pemenang pemilu adalah partai Megawati Soekarno Putri yakni
PDIP. PDIP berhasil meraih 35 % suara namun adanya politik poros tengah yang
digagas oleh Amien Rais berhasil memenangkan Gus Dur dan pada saat itu juga
megwati dipilih oleh Gus Dur sendiri sebagai wakil presiden. Masa pemerintahan
Abdurrahman Wahid diwarnai dengan gerakan-gerakan separatisme yang makin
berkembang di Aceh,Maluku dan Papua. Selain itu, banyak kebijakan
Abdurrahman Wahid yang ditentang oleh MPR/DPR. Serta kandasnya kasus
korupsi yang melibatkan rezim Soeharto serta masalah yang lebih modern yakni
adanya serang teroris dikedubes luar negeri. Pada 29 Januari2001, ribuan
demonstran berkumpul di Gedung MPR dan meminta Gus Dur untuk
mengundurkan diri dengan tuduhan korupsi dan ketidak kompetenan. Di bawah
tekanan yang besar, Abdurrahman Wahid lalu mengumumkan pemindahan
kekuasaan kepada wakil presiden Megawati Soekarnoputri.

2.1.7 Pembahasan era kepemimpinan megawati


Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli2001, Megawati secara resmi
diumumkan menjadi Presiden Indonesia ke-5.Meski ekonomi Indonesia
mengalami banyak perbaikan, seperti nilai mata tukar rupiah yang lebih stabil,
namun Indonesiapada masa pemerintahannya tetap tidak menunjukkan perubahan
yang berarti dalam bidang-bidang lain. Megawati yang merupakan anak dari
Presiden terdahulu yakni Soeharto pada awalnya diharapkan dapat memberikan
perubahan namun seirng sikapnya yang dingin dan jarang memberikan suatu
paparan tentang politiknya dianggap lembek oleh masyarakat. Dan serangan
teroris semakin sering terjadi pada masa pemerintahan ini.
Namun satu hal yang sangat berarti pada masa pemerintahan ini adalah keberanian
megawati untuk menyetujui pemilihan Presidan Republik Indonesia secra
langsung oleh rakyat. Pemilihan langsung dilaksanakan pada pemilu tahun 2004
dan Susilo Bambang Yudhuyono keluar sebagi pemenangnya.
2.1.8 Pembahasan era kepemimpinan SBY
Setelah memenangkan pemilu secara langsung SBY tampil sebagai presiden
pertama dalam pemilihan yang dilakukan secara langsung. Pada awal
kepemimpinanya SBY memprioritaskan pada pengentasan korupsi yang semakin
marak diIndonesia dengan berbagi gebrakannya salah satunya adalah dengan
mendirikan lembaga super body untuk memberantas korupsi yakni KPK. Dalam
masa jabatannya yang pertama SBY berhasil mencapai beberapa kemajuan
diantaranya semakin kondusifnya ekonomi nasional. Dengan keberhasilan ini pula
ia kembali terpilih menjadi presiden pada pemilu ditahun 2009 dengan wakil
presiden yang berbeda bila pada masa pertamanya Jusuf Kalla merupakan
seorang bersal dari parpol namun kini bersama Boediono yang seorang
profesional eonomi. Dimasa pemerintahanya yang kedua ini dan masih berjalan
hingga kini mulai terlihat beberapa kelemahan misalnya kurang sigapnya
menaggapi beberapa isu sampai isu-isu tersebut menjadi hangat bahkan
membinggungkan, lalu dari pemberantasan korupsi sendiri menimbulkan banyak
tanda tanya sampai sekarang mulai dari kasus pimpinan KPK, Mafia hukum, serta
politisasi diberbagai bidang yang sebenarnya tidak memerlukan suatu sentuhan
politik yang berlebihan guna pencitaraan.
ARGUMENT
1. Era orde lama, apa yang dicapai para pendiri bangsa ini pada orde lama
sebenarnya menjadi suatu kebanggaan bagi Indonesia sampai sekarang,
hanya saja adanya keinginan yang begitu kuat dari para pendiri bangsa
tersebut membawa kediktatoran untuk menjalanakan politik didalam
pemerintahannya membawa boomerang bagi dirinya sendiri kelemahan
inilah yang dapat diambil kesempatan oleh rezim orde baru untuk
menggulingkan pemerintahan. Selain itu poltik nasional pada saat itu juga
masih dipengaruhi besar oleh isu politik duniaseusai perang dunia kedua
adanya ketakutan tumbuhnya kembali paham-paham komunis bagi negara
barat juga membawa dampak baik itu yang dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung. Secara lebih spesifik lagi disini saya mencurigai
adanya dorongan dari negara barat untuk menggulingkan rezim Soekarno.

2. Era orde baru, rezim Soeharto pada masa ini berlangsung sangat lama
bahkan sangat tidak sehat karena seseorang yang sudah berkuasa terlalu
lama cenderung merasa memilki sepenuhnya dan tidak mengetahui yang
sebenarnya bahwa ia menjalankan politik demi kepentingan rakyat.
Terlihat dari bebabagai aturan hukum yang dibuat adanya kesan yang
sangat kuat untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa tersentuh oleh
siapapun. Namun ada satu hal yang dilupakan oleh soeharto yakni masih
ada mahasiswa yang siap melakukan perubahan sebagai agen of change.

3. Era setelah reformasi, pada era ini terlihat arah politik bangsa yang terjadi
adalah kembali mencari dan menemukan jati dirinya yang setelah sekian
lama hilang pada saat era orde baru. Ini terlihat dari gerakan-gerakan yang
mengarah pada kebebasan namun yang terbatas serta mengexpresikan diri.
Adanya suatu sistem hukum yang lebih transparan serta meningkatnya
peran masyarakat baik sebagai pembuat,pelaku, dan pelaksana hukum atau
lebih dikenal dengan demokrasi. Namun saya garis bawahi melihat
perkembangan arah politik yang mengutamakan rakyat, banyak dari
pelaku politik yang dengan segala kemampuan dan kekuasaanya namun
belum tentu memiliki tujuan yang baik mencoba mengambil kesempatan
ini. Jadi masyarakat haruslah jeli melihatpemimpin yang benar-benar
bekerja demi negara.

2.2 POLITIK HUKUM ISLAM DI INDONESIA PADA ERA ORDE


BARU
1. Pengertian Politik Hukum Islam
Menurut Mahfud MD., di dalam studi mengenai hubungan antara politik dan
hukum terdapat tiga asumsi yang mendasarinya, yaitu: (1)Hukum determinan
(menentukan) atas politik, dalam arti hukum harus menjadi arah dan pengendali
semua kegiatan politik. (2) Politik determinan atas hukum, dalam arti bahwa
dalam kenyataannya, baik produk normatif maupun implementasi penegakan
hukum itu, sangat dipengaruhi dan menjadi dipendent variable atas politik.
(3) Politik dan hukum terjalin dalam hubungan yang saling bergantung, seperti
bunyi adagium, “politik tanpa hukum menimbulkan kesewenang-wenangan
(anarkis), hukum tanpa politik akan jadi lumpuh.
Berangkat dari studi mengenai hubungan antara politik dan hukum di atas
kemudian lahir sebuah teori “politik hukum”. Politik hukum adalahlegal
policy yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah
Indonesia yang meliputi: pertama, pembangunan yang berintikan pembuatan dan
pembaruan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan
kebutuhan. Kedua, pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk
penegasan fungsi lembaga dan pembinaan para penegak hukum. Jadi politik
hukum adalah bagaimana hukum akan atau seharusnya dibuat dan ditentukan
arahnya dalam kondisi politik nasional serta bagaimana hukum difungsikan.
Dalam Islam istilah politik hukum disebut dengan as-Siyasah as-
Syar’iyyah yang merupakan aplikasi dari al-maslahah al-mursalah, yaitu
mengatur kesejahteraan manusia dengan hukum yang ketentuan-ketentuannya
tidak termuat dalam syara’. Sebagian ulama mendefinisikan politik hukum Islam
sebagai perluasan peran penguasa untuk merealisasikan kemaslahatan manusia
sepanjang hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama.
2. Pemikiran Politik Hukum Islam di Indonesia
Negara dan agama, di negara sekulerpun, tidak dapat dipisahkan begitu saja,
karena para pengelola negara adalah manusia biasa yang juga terikat dengan
berbagai macam norma yang hidup dalam masyarakat, termasuk norma agama.
Misalnya, meskipun negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman,
Perancis dan Belanda adalah negara yang memaklumkan diri sebagai negara
sekuler, tetapi banyak kasus menunjukkan bahwa keterlibatannya dalam urusan
keagamaan terus berlangsung sepanjang entitas agama dan negara itu ada. Bukti
empiris keterkaitan agama dan negara dalam konteks Indonesia dapat dilihat
misalnya dalam perjuangan sebagian umat Islam untuk memberlakukan Islam
sebagai dasar negara.
Menurut Mahfud MD, secara yuridis-konstitusional negara Indonesia
bukanlah negara agama dan bukan pula negara sekuler. Menurutnya Indonesia
adalah religious nation state atau negara kebangsaan yang beragama. Indonesia
adalah negara yang menjadikan ajaran agama sebagai dasar moral, sekaligus
sebagai sumber hukum materiil dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Karena itu dengan jelas dikatakan bahwa salah satu dasar negara
Indonesia adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Abdul Ghani Abdullah mengemukakan bahwa berlakunya hukum Islam di
Indonesia telah mendapat tempat konstitusional yang berdasar pada tiga alasan,
yaitu: Pertama, alasan filosofis bahwa ajaran Islam rnerupakan pandangan hidup,
cita moral dan cita hukum mayoritas muslim di Indonesia, dan ini mempunyai
peran penting bagi terciptanya norma fundamental negara Pancasila. Kedua,
alasan sosiologis bahwa perkembangan sejarah masyarakat Islam Indonesia
menunjukan bahwa cita hukum dan kesadaran hukum bersendikan ajaran Islam
memiliki tingkat aktualitas yang berkesinambungan, dan Ketiga, alasan yuridis
yang tertuang dalam pasal 24, 25 dan 29 UUD 1945 memberi tempat bagi
keberlakuan hukum Islam secara yuridis formal.
Mengenai kedudukan hukum Islam dalam tata hukum negara Indonesia,
sistem hukum di Indonesia bersifat majemuk, ini sebagai akibat dari
perkembangan sejarahnya. Disebut demikian karena hingga saat ini di Indonesia
berlaku tiga sistem hukum sekaligus, yakni sistem hukum adat, sistem hukum
Islam, dan sistem hukum barat.
Namun tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa hukum Islam di Indonesia
adalah “hukum yang hidup” (the living law), kendati secara resmi dalam aspek-
aspek pengaturan tertentu, ia tidak atau belum dijadikan kaidah hukum positif
oleh negara. Banyaknya pertanyaaan dan permaslahan mengenai hukum dalam
masyarakat yang diajukan kepada para ulama, media massa, dan organisasi sosial
keagamaan Islam, haruslah dilihat sebagai sebagai salah satu isyarat bahwa
hukum Islam adalah hukum yang hidup dalam masyarakat.
Untuk mewujudkan anggapan tersebut maka dibutuhkan aktualisasi hukum
Islam itu sendiri, agar tetap urgen menjadi bagian dari proses pembangunan
hukum nasional. Aktualisai hukum Islam dapat dibedakan menjadi dua
bentuk: pertama, upaya pemberlakuan hukum Islam dengan pembentukan
peraturan hukum tertentu yang berlaku khusus bagi umat Islam. Kedua, upaya
menjadikan hukum Islam sebagai sumber hukum bagi penyusunan hukum
nasional. Adapun prosedur legislasi hukum Islam harus mengacu kepada politik
hukum yang dianut oleh badan kekuasaan negara secara kolektif. Suatu undang-
undang dapat ditetapkan sebagai peraturan tertulis yang dikodifikasikan apabila
telah melalui proses politik pada badan kekuasaan negara yaitu legislatif dan
eksekutif, serta memenuhi persyaratan dan rancangan perundang-undangan yang
layak.
3. Romantika Politik Islam Masa Orde Baru
Rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto merupakan hasil dari
“CPM (Cudeta Politik Militer)” terhadap Soekarno, telah membuat stempel
sejarah dengan menjadikan dua tregedi sejarah yang terjadi di masa Orde Lama
yaitu berdirinya NII 1949 (-“pemberontakan DI/TII”) dan G 30 S/PKI 1965
sebagai stempel negarauntuk mengokohkan dan mempertahankan kekuasaan
sosio politiknya. Stigma yang dibuat secara sistemik menjadikan “ekstrim
kanan” NII dan “ekstrim kiri” PKI sebagai monster yang membahayakan bagi
kelangsungan hidup bangsa dan negara (Baca : Orde baru).
H. Hartono Mardjono S.H., (Alm) menangkap fenomena unik yang terjadi
pasca penumpasan G 30 S/PKI 1968-an dalam kehidupan sosial politik bangsa
Indonesia. Setidakanya ada tiga fenomena unik diantaranya :
 Pertama, ditengah-tengah kehidupan sehari-hari gairah masyarakat untuk
mempelajari dan mengamalkan Islam memang luar biasa. Semua masjid
penuh sesak pada setiap shalat Jum’at dan pada saat-saat Shalat Taraweh
dan Shalat Ied. Di kantor-kantor, gedung-gedung, sekolah-sekolah,
kampus-kampus maupun hotel diselenggarakan shalat Jum’at dan
pengajian-pengajian, jumlah jama’ah Haji terus meningkat.
 Fenomena kedua, dikantor-kantor pemerintah maupun perusahaan swasta
dan kampus terjadi pembersihan terhadap sisa-sisa yang tersangkut
langsung maupun tidak dengan G30S/PKI terus dilakukan.
 Fenomena ketiga, adanya satu kekuatan yang sikap dan tindakannya
sangat tidak menyenangkan Islam serta selalu berupaya menyingkirkan
Umat Islam dari pemerintahan yang mengelilingi Soeharto sebagai
pimpinan Orde Baru. Klik atau kelompok kecil itu berada di bawah
pimpinan Ali Moertopo, asisten pribadi bidang politik pimpinan Orde
Baru disamping menjadi pemimpin Operasi Khusus (Opsus), sebuah
badan ekstrakonstitusional yang melakukan operasi-operasi khusus dengan
cara-cara intelejen. Dalam prakteknya OPSUS merupakan invisible
government yang dapat melakukan segala macam tindakan, termasuk
merekayasa kehidupan sosial politik sehingga peranannya sangat besar dan
ditakuti rakyat.
Sebenarnya telah terjadi dua fenomena yang kontradiktif. Disatu pihak,
Islam sangat diminati dalam kehidupan masyarakat, sekaligus dipelajari, dan
diamalkan. Bahkan potensi umatnya sangat diperlukan dalam menumpas
pemberontakan PKI. Akan tetapi, ibarat anomaly, di dalam masalah politik hal itu
menjadi lain sama sekali.
Kuntowijoyo , menyatakan bahwa hubungan antara Islam dan negara
sebagian ajeg sebagian naik-turun. Menurutnya Kita “terpaksa” membedakan
agama (Islam) sebagai kekuatan politik dan Islam sebagai Ibadah. Politik Islam
demikian sudah dijalankan pada peralihan abad ke-20 oleh pemerintahan Hindia
Belanda atas anjuran C. Snouck Hurgroje (Baca H. Aqib Suminto, Politik Islam
Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985) “Islam Politik” ditekan, “Islam Ibadah” di
angkat. Hasilnya? Lahirnya SI (Syarekat Islam) pada tahun 1911 berkat mobilitas
social kelas menengah terpelajar dan usahawan yang menjadikan Islam sebagai
Aqidah dan Ideologi.
Sadar atau tidak rupanya Orde Baru memakai politik islam made in C.
Snouck Hurgronje sepanjang 1970-1990. Kepada “Islam Politik” Orde Baru
hubungannya diwarnai kecurigaan, dan kepada “Islam Ibadah” sepanjang tahun
1970 – 1990 menunjukan kenaikan terus menerus.
Dr. Din Syamsudin melihat hubungan “Islam Politik” dan pemerintahan
Orde Baru diantaranya menyebutkan bahwa masa sepuluh tahun pertama (1966-
1976) merupakan “masa pengkondisian” dimana terjadi depolitisasi terhadap
kalangan Islam. Sepuluh tahun kedua (1976-1986) muncul apa yang disebut
“masa uji coba” yang meniscayakan kalangan Islam menerima Pancasila sebagai
asas tunggal dalam berbagai organisasi sosial politik .
Sementara R. William Liddle, Indonesianis asal Amerika, menyebutkan
bahwa akhir 1960-an sampai pertengahan tahun 1980-an merupakan masa yang
sangat berat bagi umat Islam, dalam posisinya sebagai kambing hitam tercetusnya
berbagai peristiwa di tingkat nasional. Namun sejak pertengahan 1980-an,
kebijakan politik Orde Baru melalui perlawanan yang bersifat manifes. Dalam hal
ini, berkembang berbagai model koreksi dan kontrol terhadap jalannya kekuasaan
melalui cara-cara yang terbuka dan artikulasi terus-terang.
Berbagai telaah tentang hubungan umat Islam dengan pemerintahan Orde
Baru ternyata bermuara pada kesimpulan yang sama, yaitu diwarnai pasang surut.
Responsifitas panggung politik Orde Baru terhadap Umat islam secara umum
yang berdampak pada gerakan dakwah Islam secara khusus mengalami 3 masa
peralihan.
4. Marginalisasi Islam Dari Panggung Politik Orde Baru (1968 –
1988)
Kuntowijoyo menuliskan tentang “Islam Politik” (istilah yang dipakai
beliau tentang Politik Islam) dimana mitos politik tentang pembangkangan Islam
sangat terpateri dalam kesadaran sejarah bangsa, yaitu sejak kerajaan-kerajaan
tradisional (dengan “Kudeta” para wali melahirkan Kerajaan Demak) Zaman
Belanda dengan PerlawananGerakan Islam), dan NKRI dengan (“DI/TII”) yang
menyebabkan pengambil kebijakan Orde Baru bersikap sangat kritis terhadap
“Islam Politik”. Demikianlah sepanjang tahun 1970 –1988 kata-kata “ekstrem
kanan”, “NII”, “mendirikan Negara Islam”, “SARA” dan “Anti Pancasila” sangat
gencar dituduhkan pada “Islam Politik”. Berjatuhan korban-korban di
Nusakambangan, Cipinang, dan tempat-tempat lain.
Kalangan umat Islam, khususnya keluarga besar eks-Masyumi merasa
sangat kecewa atas sikap dan kebijakan pemerintahan Orde Baru pada rentang
tahun 70-an. Orde Baru telah melarang kehadiran kembali Masyumi, sementara
Ali Moertopo dan kawan-kawan selaku invisible government melakukan rekayasa
politik untuk mengubah status Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber
Golkar) sebagai partai politik dengan dukungan penuh ABRI dan birokrasi. Hal
lain yang patut dicatat adalah adanya slogan atau doktrin yang disiapkan Ali
Moertopo Cs dan kemudian selalu didengung-dengungkan di tengah masyarakat
bahwa “Islam sangat membahayakan kelangsungan hidup Pancasila”, bahwa
“Politik No, Pembangunan Yes”, “Rakyat harus menjadi floating mass” serta bagi
pegawai negeri dan karyawan BUMN berlaku asas monoloyalitas mutlak kepada
Golkar, bukan kepada bangsa dan Negara”.
Apa yang terjadi di tahun 1980-an dalam rangkaian peristiwa politik Orde
Baru, diantaranya yang penting dicatat :
 Tanggal 16 Agustus 1982, Presiden Soeharto dengan resmi
mengemukakan gagasan “Asas Tunggal Pancasila” di depan sidang pleno
DPR RI yang kemudian tertuang dalam Tap II/MPR/1983, tentang GBHN
yang mengatur kehidupan sosio politk, yang menegaskan : “… demi
kelestarian dan pengamalan Pancasila, secara partai politik dan Golongan
Karya harus benar-benar menjadi kekuatan sosial politik yang hanya
berasaskan Pancasila, sebagai satu-satunya asas.”
 Sementara itu Menteri Agama RI pada tanggal 6 November 1982
menyatakan “Wadah Musyawarah antar Umat Beragama” yang diakui
oleh pemerintah sebagai lembaga, terdiri dari MUI (Majelis Ulama
Indonesia) DGI (Dewan Gereja Indonesia), MAWI (Majelis Agung Wali
Gereja Indonesia), PHDP (Parasida Hindhu Dharma Pusat) dan WALUBI
(Perwalian Umat Budha Indonesia). Sementara majelis agama dan
organisasi kemaysrakatan mempunyai asas keyakinan menurut agama
masing-masing dengan tetap tidak mengabaikan penghayatan dan
pengamalan Pancasila, sebab tujuan mereka ialah “ …Untuk membina
umatnya masing-masing agar menjadi pemeluk/pengikut agama yang taat,
sekaligus warga negara yang Pancasilais”.
 Selanjutnya Menteri Pemuda dan Olah Raga, Abdul Gafur mendesak
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bukan parpol untuk merubah
Anggaran Dasar Organisasinya dalam Kongres HMI di Medan,
menjadikan Pancasila sebagai asas.
 Pemerintah Orde Baru mengajukan RUU tentang Organisasi
Kemasyarakatan yang menegaskan pasal 2 berbunyi : “Organisasi
kemasyarakatan berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas”. Dan
RUU tersebut disahkan menjadi UU oleh DPR.
Menarik untuk dicermati respon M. Natsir (alm) terhadap perkembangan
politik pemerintahan Orde Baru tahun 1980-an pada Panji Masyarakat No. 542
Juni 1987 beliau menyatakan : “ Dulu Islam dan Pancasila ibarat dua sejoli,
“kerabat kerja” yang bersama-sama tampil ke depan dalam menghadapi
persoalan-persoalan hidup bermasyarakat dan bernegara. Sementara itu zaman
beredar, musim berganti. Sekarang (1980-an) kelihatan duduk berdampingan
saja tidak diperbolehkan lagi. Selanjutnya beliau menyatakan “ adapun perspektif
di zaman seterusnya banyak sekali tergantung kepada umat Islam sendiri. Kepada
kemampuannya memulihkan rasa-harga-diri, dan kualitas kegiatannya
menghadapi ujian masa. Tidak ada yang tetap dalam hidup –duniawi ini. Yang
tetap hanya terus beredarnya perubahan.
5. Masa Orde Baru yang akomodatif terhadap Islam (1988 – 1996)
Bila Dasawarsa 1970-an dihiasi dengan adanya peristiwa Komando Jihad
(Komji), 1984 terjadi Peristiwa Tanjung Periok, tahun 1989 ada GPK Lampung.
Pada tahun 1990-an istilah “Islam phobi” balik digunakan untuk orang-orang yang
mencoba mendeskriditkan Islam maka sejak itu menurut Kunto gugurlah mitos-
mitos politik pembangkangan Islam. Umat merasakan kembali hak sebagai warga
negara penuh, umat Islam bukan lagi Underdog.
Diawali pada periode Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan
diteruskan pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998), kebijakan politik
Mandataris MPR yang akomodatif terhadap Islam memang dapat dilihat dan
dirasakan. Islam dan umat tidak “lagi” dipinggirkan dan disudutkan dari
kekuasaan politik sehingga ajaran-ajarannya mulai dirasakan manfaatnya bagi
kepentingan pembangunan dan kehidupan bangsa Indonesia . Keadaan sosio
politik pasca 1988 berpengaruh pula terhadap adanya iklim kondusif bagi
berkembangnya gerakan dakwah.
Sikap akomodatif pemerintah terhadap umat Islam diantaranya :
 Disetujuinya Inisiatif pemerintah yang mengajukan RUU Sistem
Pendidikan Nasional kepada DPR dan menjadi UU Sistem Diknas yang
salah satu ketentuan dalam UU tersebut tercantum adanya Pendidikan
Agama menjadi mata pelajaran wajib yang harus diberikan kepada anak
didik dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi.
 Disyahkannya UU Peradilan Agama yang memuat bahwa bagi mereka
yang beragama Islam berlaku hukum Islam dalam masalah perkawinan,
warisan, waqaf, hibah dan sedekah.
 Disyahkannya UU Perbankan tentang keberadaan Bank Muamalat
Indonesia dengan system Ekomoni Syari’at dan diperbolehkannya
berdirinya Bank-bank yang berdasarkan system ekonomi syari’at, maka
berdirilah Bank-bank Perkeriditan Syari’at (BPR Syariah).
 Penghapusan larangan mengenakan Jilbab. Sebelum SU MPR 1988, sejak
tahun 1978 di lingkungan sekolah oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Daud Yusuf yang juga Direktur CSIS melarang siswa
Muslimah mengenakan Jilbab yang berdampak pada banyaknya korban
yang dikeluarkan oleh pihak sekolah. Kebijakan ini mendapat reaksi yang
sangat keras dari Umat Islam yang akhirnya larangan mengenakan jilbab
di hapus oleh pemerintah.
 Penghapusan Judi SDSB seusai SU MPR 1988.
 Berdirinya ICMI yang diketuai oleh Prof. Dr. Ing B.J. Habibie yang juga
selaku Menristek pada tahun 1990. Dengan hadirnya ICMI berdampak
pada akomodatif pemerintah terhadap umat Islam.
 Dijadikannya IMTAK (Iman dan Takwa) sebagai asas Pembangunan
Nasional dalam GBHN 1993 yang merupakan produk SU MPR 1993.
 Melemahnya kekuasaan “RMS” (Radius, Mooi, Sumarlin) pada Kabinet
Pembangunan VI tahun 1993 dan digantikan perannya oleh Saleh Afif dan
Mar’ie Muhammad, serta banyak menteri baru dari ICMI, sehingga
menguatnya isu Islamisasi atau “penghijauan” di pemerintahan.
Mendekatnya Soeharto ke Islam adalah realitas politik yang dihadapi pada
masa ini. Menurut sejumlah pengamat, bergesernya sikap politik Soeharto yang
lebih cenderung ke Islam memunculkan tiga kemungkinan.
Pertama adanya kooptasi pemerintah terhadap umat Islam. Pemerintah
sebagai subyek menjadikan umat Islam sebagai obyek dan dimanfaatkan untuk
tujuan politiknya.
Kedua, adanya akomodasi pemerintah terhadap umat Islam. Pemerintah
menyadari akan kekeliruannya di masa lalu. Sebagai balasannya, pemerintah
mengakomodasi kepentingan umat Islam dengan cara mendekati, merangkul umat
Islam dan memberikan tempa yang layak di dalam inner circle kekuasaan.
Ketiga, suatu bentuk integrasi umat ke pemerintah. Disini posisi umat
sebagai pihak yang pro-aktif terhadap pemerintah. Umat Islam sebagai subyek
melakukan integrasi ke dalam lingkar kekuasaan. Hal ini dapat juga dibaca
sebagai keberhasilan umat Islam membuat jaringan dakwah hingga menembus
lapisan kekuasaan tertinggi, yakni presiden .
Sulit untuk melihat dari tiga kemungkinan itu mana yang benar karena
sejarah politik Islam di Indonesia tidak pernah terlepas dari idiom “pendorong
mobil mogok” “habis manis sepah dibuang” atau politik “NU (Nurut Udud)”.
BAB III
PENUTUP
1. Menyimak perjalanan sejarah transformasi hukurn Islam di Indonesia,
memang sangat sarat dengan berbagai dimensi historis, filosofis, politik,
sosiologis dan yuridis. Dalam kenyataannya, hukum Islam di Indonesia telah
mengalami pasang surut seiring degan politik hukum yang diterapkan oleh
kekuasaan negara. Ini semua, berakar pada kekuatan sosial budaya mayoritas
umat Islam di Indonesia telah berinteraksi dalam proses pengambilan
keputusan politik, sehingga melahirkan berbagai kebijakan politik bagi
kepentingan masyarakat Islam tersebut.
2. Dari alur pembahasan yang telah dipaparkan dalam makalah ini, jika
dihubungkan dengan teori politik hukum yang dirumuskan oleh Mahfud MD.
maka nampaknya penulis cenderung berkesimpulan bahwa yang terjadi
Indonesia adalah politik determinan atas hukum. Situasi dan kebijakan politik
yang sedang berlangsung sangat mempengaruhi sikap yang harus diambil oleh
umat Islam, dan tentunya hal itu sangat berpengaruh pada produk-produk
hukum yang dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA

Gaffar. Affan, Politik Indonesia: Tradisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka


Pelajar, 1999.
Anwar. M. Syafi’i, Politik Akomodasi Negara dan Cendekiawan Muslim Orde Baru:
Sebuah Retrospeksi dan Refleksi, Bandung: Mizan, 1995.
Mahfud MD., Moh., “Perjuangan Politik Hukum Islam di Indonesia”, makalah
disampaikan pada seminar yang diadakan oleh Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas
Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 25 November 2006.