Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN 5

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA

“PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN MASSA JENIS GAS”

OLEH :

KELOMPOK 2

1. MOHAMMAD SYAFI’I (160332605891)


2. VISELLY NABILA F (160332605878)
3. YUSIDA SETIYANI (160332605808)**

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

MARET 2018
A. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan diharapkan mahasiswa dapat menentukan berat
molekul suatu senyawa yang mudah menguap dengan cara mengukur massa jenis uap
dari senyawa tersebut.
B. DASAR TEORI
Gas merupakan suatu zat yang terdiri dari molekul-molekul yang jauh terpisah
antara satu dengan yang lainnya. Sebagian besar volume yang dihuni oleh gas
merupakan ruang kosong sehingga molekul-molekul gas bebas bergerak didalam
wadah yang dihuniya. Sampel materi gas mudah digambarkan dengan empat variable
keadaan atau parameter (sifat-sifat yang dapat diukur), yakni volume (V), tekanan (P),
suhu (T), dan jumlah mol gas n yang terkandung dalam suatu wadah.
Gas dibagi 2 yaitu gas ideal dan nyata. Gas ideal merupakan gas yang
mengikuti secara sempurna hukum-hukum gas. Gas nyata merupakan gas yang hanya
mengikuti hukum-hukumnya gas pada tekanan rendah. Gas ideal sebenarnya tidak ada
sehingga hanya merupakan gas hipotesis. Semua gas sebenarnya gas nyata. Gas ideal
dianggap bahwa molekul-molekulnya tidak tarik menarik dan volume molekulnya
dapat diabaikan terhadap volume gas itu sendiri atau ruang yang ditempati. Sifat gas
ideal hanya didekati oleh gas beratom satu pada tekanan rendah dan temperatur yang
relatif tinggi (Sukardjo, 1989).
Gas bersifat dapat berekspansi ke dalam ruangan yang tersedia sehingga
mencapai tekanan yang homogen terhadap dinding dari ruangan tempat gas itu
berada. Suatu gas dikatakan ideal apabila:
a) Jarak antara molekul-molekul gas itu sedemikian jauhnya sehingga gaya tarik
menarik dan gaya tolak-menolak antar molekul-molekul gas dapat diabaikan.
b) Isi dari molekul-molekul gas itu kecil sekali sehingga dapat diabaikan
sehingga yang ada hanyalah volum ruangan tempat gas itu berada.
c) Memenuhi hukum-hukum yang berlaku pada gas ideal, yaitu: hukum Boyle,
hukum Gay-Lussac, hukum Avogadro, dan Gas ideal.
Hukum-hukum yang mengatur mengenai hubungan variable keadaan pada gas
diantaranya yakni:
a) Hukum Boyle
“Pada suhu konstan, volume gas dengan massa tertentu berbanding terbalik
dengantekanannya”
1
𝑉~ 𝑃

b) Hukum Charles
“Pada tekanan konstan, volume gas yang massanya tertentu adalah
berbanding terbalik langsung dengan suhu absolute dan suhu Kelvin”
V ~T (P dan n tetap)
c) Hukum Gay-Lussac
“Pada volume konstan, tekanan suatu gas yang massanya tertentu adalah
berbanding langsung dengan suhu Kelvin atau suhu mutlak”
P ~ T (V dan n tetap)
d) Hukum Avogadro
“Volume gas sebanding dengan jumlah mol gas”
V ~ n

Apabila hukum Boyle, hukum Charles, dan hukum Avogadro digabung


menjadi satu dan dengan memasukkan tetapan kesetimbangan R maka akan
didapatkan persamaan gas ideal :

PV = nRT

Persamaan gas ideal dan massa jenis gas dapat digunakan untuk menentukan
berat molekul senyawa volatil. Dari persamaan gas ideal:

PV = nRT (1)

dan konsep mol diperoleh

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
PV = ( ) 𝑅𝑇 (2)
𝐵𝑀

Persamaan (2) dapat diubah menjadi :

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
P (BM) = ( ) RT
𝑉

= ρ RT (3)

Dimana :
P : tekanan gas (atm)

BM : Berat molekul (g/mol)

m : massa (gram)

R : tetapan gas (J/k.mol)

T : Suhu (0K)

ρ : massa jenis (g/mL)

Bila suatu cairan volatil dengan titik didih lebih kecil daripada 100ºC
ditempatkan dalam labu erlenmeyer bertutup yang mempunyai lubang kecil bagian
penutupnya dan kemudian labu erlenmeyer tersebut dipanaskan sampai kurang lebih
100ºC, maka cairan tadi akan menguap dan uap itu akan mendorong udara yang
terdapat pada labu erlenmeyer keluar melalui lubang kecil tadi. Setelah semua udara
keluar , pada akhirnya uap cairan tadi akan keluar, sampai uap ini akan berhenti
keluar bila keadaan kesetimbangan tercapai, yaitu tekanan udara cairan dalam labu
erlenmeyer sama dengan tekanan udara luar.
Pada kondisi kesetimbangan ini, labu erlenmeyer hanya berisi uap cairan
dengan tekanan sama dengan tekanan atmosfer, volume sama dengan volume labu
erlenmeyer dan suhu sama dengan suhu titik didih air dalam penangas air (kurang
lebih 100ºC). Labu erlenmeyer ini kemudian diambil dari penangas air, didinginkan
dalam desikator dan ditimbang sehingga massa gs yang terdapat didalamnya dapat
diektahui. Kemudian dengan menggunakan persamaan (3) berat molekul senyawa
volatil tersebut dapat ditentukan.
C. ALAT DAN BAHAN
a) Alat :
 Labu Erlenmeyer (150 mL)
 Beaker glass (600 mL)
 Aluminium foil
 Karet gelang
 Neraca
 Desikator
 Barometer
b) Bahan :
 Kloroform
D. PROSEDUR PERCOBAAN
1) Diambil sebuah labu Erlenmeyer berleher kecil yang bersih dan kering
2) Ditutup labu Erlenemeyer dengan aluminium foil dan karet gelang
3) Ditimbang labu Erlenmeyer berserta aluminium foil dan karet gelang dalam
neraca analitik
4) Dimasukkan kurang lebih 5 ml larutan kloroform ke dalam labu Erlenmeyer
5) Ditutup kembali dengan menggunakan karet gelang erat-erat
6) Direndam labu Erlenmeyer dalam penangas air bersuhu kurang lebih 100ºC
7) Diangkat labu Erlenmeyer setelah semua cairan volatil menguap
8) Ditempatkan labu Erlenmeyer ke dalam desikator
9) Ditimbang labu Erlenmyer yang sudah dingin dengan neraca analitik
10) Ditentukan volume labu Erlenmyer dengan diisi air sampai penuh pada labu
Erlenmeyer, ditimbang labu Erlenmeyer beserta air
11) Diukur tekanan atmosfer ruangan.
E. DATA PENGAMATAN
Massa Erlenmeyer kosong 74,78 g
Massa Erlenmeyer kosong + alumunium foil + karet gelang 75,69 g
Suhu air penangas 91ºC
Massa Erlenmeyer + alumunium foil + uap air + karet gelang 76,12 g
setelah di desikator
Tekanan ruang 737 mmHg
Massa Erlenmeyer + air penuh 219,01 g
Suhu ruang 27ºC
Suhu air dingin 28ºC
Massa Air [ (Massa Erlenmeyer +air penuh) – Massa 143,23 g
Erlenmeyer kosong]

F. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan kali ini dilakukan penentuan berat molekul suatu senyawa
yang mudah menguap berdasarkan massa jenis gas. Cara ini merupakan alternative
lain dari metode penentuan berat molekul berdasarkan massa jenis gas dengan alat
victor meyer.
Senyawa volatile yang digunakan yakni kloroform, yang memiliki rumus
kimia CHCl3, Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang labu Erlenmeyer
kosong, kemudian menimbang labu Erlenmeyer kosong beserta aluminium foil dan
karet gelang, perlakuan ini bertujuan untuk menghitung massa cairan volatil yang
tebentuk pada perlakuan selanjutnya, dan diperoleh massa Erlenmeyer kosong sebesar
74,78 g, sedangkan massa labu Erlenmeyer kosong beserta aluminium foil dan karet
gelang sebesar 75,69 g.
Langkah berikutnya yakni mengisi labu Erlenmeyer dengan cairan kloroform.
Labu erlenmeyer kemudian ditutup kembali dengan aluminium foil dan karet gelang
sehingga tutup ini bersifat kedap udara. Pada tutup Erlenmeyer diberi lubang kecil
yang bertujuan uap dapat keluar. Labu Erlenmyer kemudian direndam dalam
penangas air yang bersuhu kurang lebih 100ºC. Larutan tersebut dipanaskan hingga
semua cairan volatil menguap. Persamaan reaksi untuk proses penguapan cairan
kloroform yakni :

CHCl3(l)→CHCl3(g)
Setelah itu labu Erlenmeyer diletakkan ke dalam desikator yang bertujuan
untuk mendinginkan labu Erlenmeyer agar terbentuk cairan volatil kembali. Setelah
semua uap cairan volatil kembali menjadi cairan, labu Erlenmeyer kemudian
ditimbang dan didapatkan massa sebesar 76,12 g. Untuk menghitung volume labu
Erlenmyer yaitu dengan cara mengisi labu Erlenmeyer dengan air sampai penuh dan
ditimbang. Volume air bisa diketahui bila massa jenis air pada suhu air dalam labu
Erlenmeyer diketahui dengan menggunakan rumus :

𝑚
ρ=
𝑣

Untuk menentukan berat molekul senyawa (tanpa faktor koreksi) diperlukan


data sebagai berikut :

- Volume erlenmeyer
Volume erlenmeyer dihitung dengan menggunakan massa jenis air dari tabel
di bawah ini (massa jenis air dinyatakan dalam g/mL)
Suhu 0ºC 2ºC 4ºC 6ºC 8ºC
10ºC 0,9997 0,9995 0,9993 0,9990 0,9986
20ºC 0,9982 0,9978 0,9973 0,9968 0,9963
30ºC 0,9957 0,9951 0,9944 0,9937 0,9930

Pada percobaan ini diketahui suhu air dingin yaitu sebesar 28ºC, jadi massa jenis
air yaitu sebesar 0,9963 g/mL
o Massa air
Massaair = massaErlenmeyer + air penuh – massaErlenmeyer kosong
= 218,01 g – 74,78 g
= 143,23 g
massa air
o VolumeErlenmeyer = ρair
143,23 g
=
0,9963 g/mL

= 143,762 mL
- Massa jenis uap
o Massa uap kloroform = (Massa Erlenmeyer setelah didesikator) – (Massa
Erlenmeyer+ aluminium foil + karet gelang)
= 76,12 g – 75,69 g
= 0,43 g

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑢𝑎𝑝
o Massa jenis uap = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐸𝑟𝑙𝑒𝑛𝑚𝑒𝑦𝑒𝑟
0,43 𝑔
= 143,23 𝑚𝐿

= 0,00299 g/mL
- Tekanan atmosfer
Pada percobaan ini diketahui tekanan atmosfer sebesar 737 mmHg.
1 𝑎𝑡𝑚
737 mmHg x = 0,9697 atm
760 𝑚𝑚𝐻𝑔

- Suhu penangas air


Pada percobaan diketahui suhu penangas sebesar 91ºC.
92ºC + 273,15 = 364,15 K
- Berat molekul (tanpa faktor koreksi)
Berdasarkan perhitungan diatas didapatkan data sebagai berikut :
P = 0,9697 atm
𝑔 1000 𝑚𝐿 𝑔
ρ = 0,00299 𝑚𝐿 x = 2,99 𝐿
1𝐿

T = 364,15 K
R = 0,0812 L.atm / K.mol

P (BM) = ρ RT

𝑔
0,9697 atm (BM) = 2,99 𝐿 x 0,082 L.atm / K.mol x 364,15 K
89,28 𝑔/𝑚𝑜𝑙
BM = 0,9697

= 92,072 g/mol
Massa molekul Kloroform (CHCl3) secara teori yaitu:
M = (Ar atom C) + (Ar atom H) + (3 x Ar atom Cl)
= 12,011 g/mol + 1,008 g/mol + (3x 35,453 g/mol)
= 119,378 g/mol
Berdasarkan hasil data percobaan diperoleh berat molekul sebesar 92,072
g/mol, sedangkan secara teoritis, massa molekul kloroform sebesar 119,38 g/mol.
Perbedaan ini terjadi karena adanya beberapa faktor kesalahan dalam percobaan yang
dilakukan, maka untuk menentukan berapa persen kesalahan dapat diperoleh dengan
cara sebagai berikut:
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
% kesalahan = x 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

g
92,072 − 119,378 g/mol
mol
= x 100% = 22,87 %
119,378 g/mol

Jadi, persen kesalahan yang didapat yaitu sebesar 22,87 %. Beberapa faktor
yang mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam percobaan yakni diantaranya
kesalahan dalam penimbangan menggunakan neraca, tidak teliti dalam membaca
skala pada neraca analitik dan skala pada thermometer, lubang yang dibuat di
alumunium foil terlalu besar sehingga banyak uap cairan kloroform yang menguap
meninggalkan labu Erlenmeyer, dan pendinginan dalam desikator yang terlalu singkat
sehingga tidak semua uap kloroform kembali ke wujud cairnya. Untuk mencari berat
molekul dengan menggunakan faktor koreksi, diperlukan data sebagai berikut:
 Untuk mengetahui tekanan uap kloroform pada suhu tertentu:
log P = 6,90328 – 1163,03/(227,4 + T)
1163,03
log P = 6,90328 –
227,4+28

log P = 6,90328 – 4,554


log P = 2,349
P = 223,625 mmHg
1
P = 223,625 mmHg x
760 𝑚𝑚𝐻𝑔

= 0,294 mmHg = 0,000387 𝑎𝑡𝑚


- Massa udara yang tidak dapat masuk
Massa udara yang tidak dapat masuk jika massa molekul (berat molekul)
udara sebesar 28,8 g/mol adalah sebagai berikut:
𝑚𝑅𝑇
PV =
𝐵𝑀
𝑃𝑉 𝐵𝑀
m =
𝑅𝑇
0,000387 atm x 0,143762 L x28,8 g/mol
=
0,082 L.atm/ K.mol x 301,15 K

0,0016𝑔
= 24,69

= 6,5 x 10−5 g
Berat molekul kloroform jika ditambahkan dengan berat udara yang hilang :
𝑚𝑅𝑇
BM =
𝑃𝑉

𝐿.𝑎𝑡𝑚
(𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎+𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑢𝑎𝑝 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚)𝑥 0,082 𝑥365𝐾
𝐾.𝑚𝑜𝑙
BM =
0,9697 atm x 0,143762 L

𝐿.𝑎𝑡𝑚
( 6,5 x 10−5 g+ 0,43 g)𝑥 0,082 𝑥365𝐾
𝐾.𝑚𝑜𝑙
=
0,9697 atm x 0,143762 L

BM = 92,118 g/mol
Jadi berat molekul kloroform setelah ditambah berat udara yang hilang adalah
92,118 g/mol
berat molekul percobaan−berat molekul teoritis
% kesalahan = x 100%
berat molekul teoritis
𝑔
92,118 −119,378 g/mol
𝑚𝑜𝑙
x 100% = 22,83 %
119,378 g/mol

Sehingga berdasarkan hasil percobaan didapatkan berat molekul klorofrom


tanpa faktor koreksi sebesar 92,072 g/mol dengan persentase kesalahan sebesar
22,87%. Sedangkan berat molekul menggunakan faktor koreksi sebesar 92,228 g/mol
dengan persentase kesalahan sebesar 22,83%.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh berat molekul klorofrom tanpa faktor
koreksi sebesar 92,072 g/mol, sedangkan berat molekul kloroform menggunakan
faktor koreksi sebesar 92,228 g/mol.

H. DAFTAR PUSTAKA
- Tim Kimia Fisika. 2017. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. Universitas Negeri
Malang: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
- Sukardjo. 1989. Termodinamika Kimia. Jakarta: Erlangga.
- Atkins, P.W. 1994. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
PERTANYAAN
1. Apakah yang menjadi kesalahan utama dalam percobaan ini,
2. Dari analisis penentuan berat molekul suatu cairan X yang bersifat volatil
diperoleh nilai = 120 gr/mol. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa tersebut
mengandung unsur karbon 10%, klor 89%, dan hydrogen 1%. Tentukan rumus
molekul senyawa tersebut.
Jawab:
1. Kesalahan utama pada percobaan kali ini adalah ketidaktelitian menggunakan
neraca analitik pada saat penimbangan massa, pelubangan yang terlalu besar pada
kertas alumunium foil pada saat proses penguapan cairan kloroform, dan proses
kondensasi yang belum berjalan seluruhnya.
2. C = 10/12 gram/mol = 0,833
Cl = 89/35,5 gr/mol = 2,55 Dibagi 0,833
H = 1/1 gr/mol =1
Maka,
C = 1, Cl = 3, H = 1,2
Dari perbandingan persentase dengan massa molekul relatif maa didapatkan
rumus molekul unsur CHCl3. Untuk menentukan rumus molekul senyawanya
dapat menggunakan rumus berikut,
[CHCl3]n = 120 gr/mol
[(1x12) gr/mol + (3x35) gr/mol + (1x1) gr/mol]n = 120 gr/mol
[119,5 gr/mol]n = 120 gr/mol
n = 120 gr/mol = 1,004
119,5 gr/mol
Jadi rumus molekul senyawa tersebut adalah CHCl3.