Anda di halaman 1dari 2

BANYAK TIKUS BANYAK REJEKI

Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali merupakan wilayah lereng Gunung


Merapi yang sebagian besar penduduknya hidup bekerja sebagai petani, buruh tani,
serta peternak. Dari 29.813 KK hampir 78% adalah petani, buruh tani, dan peternak
sebagai mata pencahariannya. Secara faktual dari tahun ke tahun lahan pertanian
semakin sempit sehingga mempengaruhi sumber ekonomi penduduk yang mengalami
penurunan sehingga kondisi petani jauh dari kata sejahtera. Begitu juga dari sisi
peternakan, penurunan terjadi sangat drastis karena banyak hewan ternak (sapi dan
kambing) yang mati pada saat bencana alam erupsi merapi tahun 2010.
Dari hasil observasi, akibat erupsi merapi inilah berbagai jenis tikus berkembang
biak dengan pesat namun tidak disadari oleh warga. Bahkan tikus positif ada di 85%
rumah warga kecamatan tersebut dan 25% berada dilokasi sekitar pemukiman
penduduk. Namun, populasi tikus ini bukanlah membuat takut warga sekitar melainkan
tersebar rumor “Banyak tikus dirumah itu membawa rezeki.”Adapula budaya petani
setempat diperoleh data bahwa di kecamatan tersebut terdapat nilai-nilai budaya ngirim
sawah yang merupakan penyajian makanan oleh penduduk yang lahan pertaniannya
sedang digarap oleh penduduk-penduduk sekitar. Hal ini berupa kerjasama keterlibatan
masyarakat dalam pertanian yang berupa solidaritas. Adapun ditemukan bahwa pada
masyarakat Kecamatan Musuk kebanyakan pekerjaan homogenya, sebagian besar
sebagai petani, dari pekerjaan yang homogen inilah masyarakat tetap mempertahankan
solidaritas sesama kelompok pekerjaan sebagai petani dan menjaga tetap
dipertahankannya budaya saling membantu satu sama lain jika salah satunya ada
“gawe” atau pekerjaan entah memanen, menanam, menyemprot tanaman, menyiangi
rumput, dan lain-lain. Dengan adanya budaya ngirim sawah tersebut mereka
menghabiskan waktu seharian di sawah Dengan keadaan seperti itu, biasanya setelah
bekerja petani-petani tersebut akan mencuci tangan dan kakinya diair sekitar sawah.
Lalu makan makanan yang sudah disediakan oleh penduduk yang lahan pertaniannya
sedang digarap. Momen seperti ini sangat sering terlihat di Kecamatan Musuk karena
sudah menjadi suatu budaya yang melekat, adapula kebiasaan anak-anak kecamatan
tersebut suka bermain diluar rumah dan permainannya tidak lepas dari air dan tanah.
Dengan adanya air yang sangat melimpah, ibu-ibu sudah tidak perlu repot-repot
menimba air karena biasanya setiap sore ataupun pagi hari mereka akan berkumpul di
sendang dekat rumah mereka untuk mencuci pakaian, mengisi derigen untuk air minum,
dan mandi. Penyebaran penyakit leptospirosis banyak terjadi pada musim hujan
terutama pasca banjir, karena ketika banjir baik tikus rumah, tikus werok, maupun tikus
sawah menyebar ke pemukiman penduduk. Selain itu pada musim hujan juga banyak
ditemukan genangan air yang terkontaminasi oleh bakteri penyebab leptospirosis. Hal
ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan warga terkait penanggulangan leptospirosis
di wilayah mereka. Karena memang di wilayah tersebut PHBSnya belum begitu bagus
dikarenakan tidak ada petugas pengangkut sampah dikecamatan tersebut, jadi sampah
merupakan tanggungjawab dari setiap rumah. Namun pada kenyataannya, warga
membuang sampah di belakang rumah merka masing-masing dan ditumpuk tanpa ada
tindakan lebih lanjut. Keberadaan sampah terutama sisa-sisa makanan yang diletakkan
ditempat sampah yang tidak memenuhi syarat (tertutup) akan mengundang kehadiran

1
tikus karena tumpukan sampah akan menjadi tempat bersarang dan mencari makan
tikus.
Jenis kelamin
Penderita Leptospirosis di Kabupaten Boyolali didominasi laki-laki yaitu sebesar 13
orang atau 68,42%. Hal ini diakibatkan laki-laki memiliki pekerjaan yang lebih besar
terpapar. Pada saat banjir laki-laki biasanya turun langsung membersihkan lingkungan
sehingga kemungkinan terpapar kotoran rodent lebih besar.
Usia
Penyakit leptospirosis sering dijumpai pada kelompok usia dewasa karena pekerjaan
mereka banyak terpapar oleh hewan terinfeksi dan lingkungan yang terkontaminasi.
Pendidikan
Penderita Leptospirosis di Kabupaten Boyolali tahun 2015 berdasarkan jenis pendidikan
didominasi pendidikan SMA yaitu sebesar 6 orang atau 31,58%. Hasil penelitian ini
sejalan dengan penelitian Rejeki (2005) dan Suratman (2006) menunjukkan bahwa
pendidikan tinggi tidak berpengaruh dengan kejadian leptospirosis.
Jenis pekerjaan
Petani merupakan salah satu pekerjaan yang berisiko terhadap penyakit leptospirosis
karena pekerjaan petani berhubungan dengan air dan tanah yang dapat terkontaminasi
bakteri leptospira.
Pemetaan
Analisis spasial menggunakan analisis buffering pada aliran sungai dilakukan dengan
pertimbangan bahwa air merupakan media penularan leptospirosis karena bakteri
leptospira dapat bertahan hidup di air sampai sekitar satu bulan dan jarak rumah yang
dekat dengan aliran sungai 1,58 kali lebih tinggi terkena leptospirosis.

Solusi :
1) Bagi Instansi Terkait (Dinas Kesehatan, Puskesmas) : Sebagai bahan masukan
atau pertimbangan untuk merumuskan kebijakan dalam menangani penyakit
leptospirosis serta untuk meningkatkan program pencegahan dan pengendalian
penyakit leptospirosis dalam upaya menurunkan angka kematian leptospirosis.
2) Bagi masyarakat dan penderita leptospirosis.
a. Diharapkan menjaga kebersihan lingkungan didalam atau disekitar
rumah agar tidak menjadi tempat atau sarang tikus
b. Diharapkan ikut berperan aktif bila ada penyuluhan yang diberikan
petugas kesehatan dalamupaya pencegahan penyakit leptospirosis.
3) Bagi Peneliti : Perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait analisis spasial
kejadian penyakit leptospirosis dengan jenis desain dan variable yang berbeda
untuk lebih lanjut mengetahui faktor risiko lain yang berhubungan dengan
kejadian leptospirosis di Kabupaten Boyolali.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.srinthilwangi.com/2017/08/profil-desa-musuk-kabupaten-boyolali.html
Diakses pada tanggal 03 April 2018.
http://eprints.ums.ac.id/44559/17/NASKAH%20PUBLIKASI-yuliadita.pdf Diakses
pada tanggal 03 April 2018.