Anda di halaman 1dari 27

SKENARIO 3

1.1. DEFINISI
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel
di daerah skuamokolumner junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan
mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada
serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang
merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang
senggama atau vagina.

1.2. EPIDEMIOLOGI

1.3. ETIOLOGI
Kanker seviks uteri adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel
skuamosa. Sebelum terjadinya kanker, akan didahului oleh keadaan yang disebut
lesi prakanker atau neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyebab utama kanker
leher rahim adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Saat ini terdapat 138
jenis HPV yang sudah dapat teridentifikasi yang 40 di antaranya dapat ditularkan
lewat hubungan seksual. Beberapa tipe HPV virus risiko rendah jarang
menimbulkan kanker, sedangkan tipe yang lain bersifat virus risiko tinggi. Baik
tipe risiko tinggi maupun tipe risiko rendah dapat menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada sel tetapi pada umumnya hanya HPV tipe risiko tinggi yang dapat
memicu kanker. Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan
seksual adalah tipe 7,16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan
mungkin masih terdapat beberapa tipe yang lain. Beberapa penelitian
mengemukakan bahwa lebih dari 90% kanker leher rahim disebabkan oleh tipe 16
dan 18. Yang membedakan antara HPV risiko tinggi dengan HPV risiko rendah
adalah satu asam amino saja. Asam amino tersebut adalah aspartat pada HPV
risiko tinggi dan glisin pada HPV risiko rendah dan sedang. Dari kedua tipe ini
HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker leher rahim. Seseorang yang
sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki resiko kemungkinan terkena kanker leher
rahim sebesar 5%. Dinyatakan pula bahwa tidak terdapat perbedaan probabilitas
terjadinya kanker serviks pada infeksi HPV-16 dan infeksi HPV- 18 baik secara
sendiri-sendiri maupun bersamaan. Akan tetapi sifat onkogenik HPV-18 lebih
tinggi daripada HPV-16 yang dibuktikan pada sel kultur dimana transformasi
HPV-18 adalah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan HPV-16.
Selain itu, didapatkan pula bahwa respon imun pada HPV-18 dapat
meningkatkan virulensi virus dimana mekanismenya belum jelas. HPV-16
berhubungan dengan skuamous cell carcinoma serviks sedangkan HPV-18
berhubungan dengan adenocarcinoma serviks. Prognosis dari adenocarcinoma
kanker serviks lebih buruk dibandingkan squamous cell carcinoma. Peran infeksi
HPV sebagai faktor risiko mayor kanker serviks telah mendekati kesepakatan,
tanpa mengecilkan arti faktor risiko minor seperti umur, paritas, aktivitas seksual
dini/prilaku seksual, dan meroko, pil kontrasepsi, genetik, infeksi virus lain dan
beberapa infeksi kronis lain pada serviks seperti klamidia trakomatis dan HSV-2.

Faktor risiko yang mempengaruhi kanker serviks yaitu :


a. Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim.
Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker
laher rahim. Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut
merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah lamanya waktu
pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem kekebalan
tubuh akibat usia.
b. Usia pertama kali menikah. Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap
terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena kanker
leher rahim 10-12 kali lebih besar daripada mereka yang menikah pada usia >
20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-
benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari sudah menstruasi
atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat
di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa baru
matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang
menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di
bawah usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa
pada serviks. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang.
Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima
rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena
masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel
kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya
rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga
perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah
sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia
di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap
perubahan.
c. Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti
pasangan. Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit
kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan
mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih
banyak sehingga tidak terkendali sehingga menjadi kanker.
d. Penggunaan antiseptik. Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan
obat-obatan antiseptik maupun deodoran akan mengakibatkan iritasi di serviks
yang merangsang terjadinya kanker.
e. Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar
terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung
nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan
menurunkan daya tahan serviks di samping meropakan ko-karsinogen infeksi
virus. Nikotin, mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau
menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru maupun
serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin
yang dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher rahim.
f. Riwayat penyakit kelamin seperti kutil genitalia. Wanita yang terkena
penyakit akibat hubungan seksual berisiko terkena virus HPV, karena virus
HPV diduga sebagai penyebab utama terjadinya kanker leher rahim sehingga
wanita yang mempunyai riwayat penyakit kelamin berisiko terkena kanker
leher rahim.
g. Paritas (jumlah kelahiran). Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak
anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai
literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan (banyak anak)
termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim.
Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan berdampak pada
seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari
luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV)
sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim.
h. Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama. Penggunaan
kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka lama yaitu lebih dari 4 tahun dapat
meningkatkan risiko kanker leher rahim 1,5-2,5 kali. Kontrasepsi oral
mungkin dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim karena jaringan leher
rahim merupakan salah satu sasaran yang disukai oleh hormon steroid
perempuan.
i. Defisiensi zat gizi. Defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya
dysplasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan risiko
terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten
dan retinol (vitamin A).
j. Golongan ekonomi lemah, karena tidak bisa melakukan pap smear secara rutin
k. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah
keguguran

KLASIFIKASI

Berdasarkan gambaran histologinya,kelainan prekanker dapat peringkatkan


sebagai berikut:
 CIN(SIL) I : displasia ringan
 CIN II : displasi sedang
 CIN III : displasia berat dan karsinoma in situ

Berdasarkan gambaran sitologinya,kelainan prekanker dapat peringkatkan sebagai


berikut:
 LSIL(Low grade SIL)
 HSIL (High grade SIL)
Jenis histopatologis pada kanker serviks
Jenis skuamosa merupakan jenis yang paling sering ditemukan, yaitu ± 90%
merupakan karsinoma sel skuamosa (KSS), adenokarsinoma 5% dan jenis lain
sebanyak 5%. Karsinoma skuamosa terlihat sebagai jalinan kelompok sel-sel yang
berasal dari skuamosa dengan pertandukan atau tidak, dan kadang-kadang tumor
itu sendiri berdiferensiasi buruk atau dari sel-sel yang disebut small cell,
berbentuk kumparan atau kecil serta bulat seta mempunyai batas tumor stroma
tidak jelas. Sel ini berasal dari sel basal atau reserved cell. Sedang
adenokarsinoma terlihat sebagai sel-sel yang berasal dari epitel torak endoserviks,
atau dari kelenjar endoserviks yang mengeluarkan mucus.
PATOFISIOLOGI

Serviks normal secara alami mengalami proses metaplasi/erosi akibat saling


desak-mendesak kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen,
porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik dapat berubah
menjadi patologik melalui tingkatan NIS I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi
karsinoma invasif. Sekali menjadi mikroinvasif atau invasif, prose keganasan akan
berjalan terus.
Periode laten dari NIS – I s/d KIS 0 tergantung dari daya tahan tubuh
penderita. Umumnya fase pra invasif berkisar antara 3 – 20 tahun (rata-rata 5 – 10
tahun).
Perubahan epitel displastik serviks secara kontinyu yang masih
memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan pengobatan / tanpa diobati itu
dikenal dengan Unitarian Concept dari Richard. Histopatologik sebagian besar 95-
97% berupa epidermoid atau squamos cell carsinoma sisanya adenokarsinoma,
clear cell carcinoma/mesonephroid carcinoma dan yang paling jarang adalah
sarcoma.
Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel,
berubah menjadi neoplastik, dan akhirnya menjadi kanker serviks setelah 10 tahun
atau lebih. Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui
beberapa stadium displasia (ringan, sedang dan berat) menjadi karsinoma insitu
dan akhirnya invasif. Berdasarkan karsinogenesis umum, proses perubahan
menjadi kanker diakibatkan oleh adanya mutasi gen pengendali siklus sel. Gen
pengendali tersebut adalah onkogen, tumor supresor gene, dan repair genes.
Onkogen dan tumor supresor gen mempunyai efek yang berlawanan dalam
karsinogenesis, dimana onkogen memperantarai timbulnya transformasi maligna,
sedangkan tumor supresor gen akan menghambat perkembangan tumor yang
diatur oleh gen yang terlibat dalam pertumbuhan sel. Meskipun kanker invasive
berkembang melalui perubahan intraepitel, tidak semua perubahan ini progres
menjadi invasif. Lesi preinvasif akan mengalami regresi secara spontan sebanyak
3 -35%.
Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang
tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS)
berkisar antara 1 – 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma
insitu menjadi invasif adalah 3 – 20 tahun (TIM FKUI, 1992). Proses
perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya perubahan
displasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul bila
ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik
atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon.
Dalam jangka waktu 7 – 10 tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk
preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya proses
keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka, pertumbuhan yang
eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks,
jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan
atau vesika urinaria. Virus DNA ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel
basal zona transformasi, dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan
gen pada molekul vital yang tidak dapat diperbaiki, menetap, dan kehilangan sifat
serta kontrol pertumbuhan sel normal sehingga terjadi keganasan (Suryohudoyo,
1998; Debbie, 1998). Berbagai jenis protein diekspresikan oleh HPV yang pada
dasarnya merupakan pendukung siklus hidup alami virus tersebut. Protein tersebut
adalah E1, E2, E4, E5, E6, dan E7 yang merupakan segmen open reading frame
(ORF). Di tingkat seluler, infeksi HPV pada fase laten bersifat epigenetic. Pada
infeksi fase laten, terjadi terjadi ekspresi E1 dan E2 yang menstimulus ekspresi
terutama terutama L1 selain L2 yang berfungsi pada replikasi dan perakitan virus
baru. Virus baru tersebut menginfeksi kembali sel epitel serviks. Di samping itu,
pada infeksi fase laten ini muncul reaksi imun tipe lambat dengan terbentuknya
antibodi E1 dan E2 yang mengakibatkan penurunan ekspresi E1 dan E2.
Penurunan ekspresi E1 dan E2 dan jumlah HPV lebih dari ± 50.000 virion per sel
dapat mendorong terjadinya integrasi antara DNA virus dengan DNA sel penjamu
untuk kemudian infeksi HPV memasuki fase aktif (Djoerban, 2000). Ekspresi E1
dan E2 rendah hilang pada pos integrasi ini menstimulus ekspresi onkoprotein E6
dan E7. Selain itu, dalam karsinogenesis kanker serviks terinfeksi HPV, protein
53 (p53) sebagai supresor tumor diduga paling banyak berperan. Fungsi p53 wild
type sebagai negative control cell cycle dan guardian of genom mengalami
degradasi karena membentuk kompleks p53-E6 atau mutasi p53. Kompleks p53-
E6 dan p53 mutan adalah stabil, sedangkan p53 wild type adalah labil dan hanya
bertahan 20-30 menit.
Apabila terjadi degradasi fungsi p53 maka proses karsinogenesis berjalan
tanpa kontrol oleh p53. Oleh karena itu, p53 juga dapat dipakai sebagai indikator
prognosis molekuler untuk menilai baik perkembangan lesi pre-kanker maupun
keberhasilan terapi kanker serviks (Kaufman et al, 2000). Dengan demikian
dapatlah diasumsikan bahwa pada kanker serviks terinfeksi HPV terjadi
peningkatan kompleks p53-E6. Dengan pernyataan lain, terjadi penurunan p53
pada kanker serviks terinfeksi HPV. Dan, seharusnya p53 dapat dipakai indikator
molekuler untuk menentukan prognosis kanker serviks. Bila pembuluh limfe
terkena invasi, kanker dapat menyebar ke pembuluh getah bening pada servikal
dan parametria, kelenjar getah bening obtupator, iliaka eksterna dan kelenjar getah
bening hipogastrika. Dari sini tumor menyebar ke kelenjar getah bening iliaka
komunis dan pada aorta. Secara hematogen, tempat penyebaran terutama adalah
paru-paru, kelenjar getah bening mediastinum dan supravesikuler, tulang, hepar,
empedu, pankreas dan otak.

Penyebaran Kanker Serviks


Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah :
 Ke arah fornices dan dinding vagina
 Ke arah korpus uterus
 Ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum
rektovaginal dan kandung kemih.

Melalui pembuluh getah bening dalam parametrium kanan dan kiri sel tumor
dapat menyebar ke kelenjar iliak luar dan kelenjar iliak dalam (hipogastrika).
Penyebaran melalui pembuluh darah (bloodborne metastasis) tidak lazim.
Karsinoma serviks umumnya terbatas pada daerah panggul saja. Tergantung dari
kondisi immunologik tubuh penderita KIS akan berkembang menjadi mikro
invasif dengan menembus membrana basalis dengan kedalaman invasi <1mm dan
sel tumor masih belum terlihat dalam pembuluh limfa atau darah. Jika sel tumor
sudah terdapat >1mm dari membrana basalis, atau <1mm tetapi sudah tampak
dalam pembuluh limfa atau darah, maka prosesnya sudah invasif. Tumor mungkin
sudah menginfiltrasi stroma serviks, akan tetapi secara klinis belum tampak
sebagai karsinoma. Tumor yang demikian disebut sebagai ganas praklinik (tingkat
IB-occult). Sesudah tumor menjadi invasif, penyebaran secara limfogen melalui
kelenjar limfa regional dan secara perkontinuitatum (menjalar) menuju fornices
vagina, korpus uterus, rektum, dan kandung kemih, yang pada tingkat akhir
(terminal stage) dapat menimbulkan fistula rektum atau kandung kemih.
Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar limfa regional melalui
ligamentum latum, kelenjar-kelenjar iliak, obturator, hipogastrika, prasakral,
praaorta, dan seterusnya secara teoritis dapat lanjut melalui trunkus limfatikus di
kanan dan vena subklavia di kiri mencapai paru-paru, hati , ginjal, tulang dan
otak.
Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan karena
perdarahan-perdarahan yang eksesif dan gagal ginjal menahun akibat uremia oleh
karena obstruksi ureter di tempat ureter masuk ke dalam kandung kencing.
Penyebaran karsinoma serviks terjadi melalui 3 jalan yaitu perkontinuitatum
ke dalam vagina, septum rektovaginal dan dasar kandung kemih. Penyebaran
secara limfogen terjadi terutama paraservikal dalam parametrium dan stasiun-
stasiun kelenjar di pelvis minor, baru kemudian mengenai kelenjar para aortae
terkena dan baru terjadi penyebaran hematogen (hepar, tulang).

Secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah:


 Fornices dan dinding vagina
 Korpus uteri
 Parametrium dan dalam tingkatan lebih lanjut menginfiltrasi septum
rektovagina dan kandung kemih.

Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar kelenjar limfe


regional melalui ligamentum latum, kelenjar iliaka, obturator, hipogastrika,
parasakral, paraaorta, dan seterusnya ke trunkus limfatik di kanan dan vena
subklvia di kiri mencapai paru, hati, ginjal, tulang serta otak.
1.4. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS DIFERENSIAL
a. Anamnesis
Pada anamnesis perlu diidentifikasi data mengenai riwayat perkawinan dan
pesalinan, perilaku seks yang sering berganti ganti pasangan (promiskusitas),
waktu coitus pertama kali, penyakit yang pernah dialami misalnya herpes
genitalis, infeksi HPV, servisitis kronis, gaya hidup seperti meroko, hygienis, jenis
makanan san social ekonomi rendah, juga keluhan perdarahan spontan ataupun
pasca senggama. Gejala Klinis kurang menunjang sebagai penunjuk diagnostic
karena lesi prakanker umumnya asimptomatik kecuali pada keganasan yang sudah
lanjut.

b.Pemeriksaan Fisik
Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut. Ya
ng menjadi masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanke
r serviks, dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadaplesi praka
nker serviks. Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertaidengan ke
mampuan dalam penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkan angka kemat
ian akibat kanker serviks.
1) Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbau
busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2) Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahanti
mbul akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin seringterjadi
diluar senggama.
3) Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
4) Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.
5) Pemeriksaan tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi, suhu badan.
6) Status pasien :
 Ada atau tidaknya anemia.
 Tanda-tanda metastase di paru seperti: sesak napas, batuk darah.
 Status lokalis abdomen: umumnya tak khas, jarang menimbulkan kelainan
berupa benjolan, kecuali bila sudah ada penyebaran ke rektum menimbulk
an obstipasi ileusobstruktif.
 Palpasi hepar, supraklavikula, dan diantara kedua paha untuk melihat ada t
idaknya benjolan untuk meyakinkan ada tidaknya metastase.

c. Pemeriksaan Ginekologi
Pada pemeriksaan makroskopis/inspekulo
o Prekanker: tidak ada kelainan porsio gambaran khas
leukoplakia,erosi,ektropion atau servisitis
o Tetapi tidak demikian halnya pada tingkat lanjut dimana porsio terlihat benjol-
benjol menyerupai bunga kol (pertumbuhan eksofitik) atau
mungkin juga ditemukan fistula rektovaginal ataupun vesikovagina. Pada
keadaan ini porsio mudah sekali berdarah karena kerapuhan sel sehingga pada
pemeriksaan ginekologi dianjurkan mulai dengan pemeriksaan inspekulo yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan vagina bimanual untuk eksplorasi vagina.

d. Pemeriksaan Penunjang
Alur diagnosis ada 2
 Screening : pemeriksaan sitologi,inspeksi visual,HPV DNA
 Diagnosis definitif harus didasarkan pada konfirmasi histopatologi dari hasil
biopsi lesi sebelum pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut dilakukan.1
Tindakan penunjang diagnostik dapat berupa kolposkopi, biopsi terarah, dan
kuretase endoservikal

SCREENING
Sasaran yang akan menjalani skrining
WHO mengindikasikan skrining dilakukan pada kelompok berikut
 setiap perempuan yang berusia antara 25-35 tahun, yang belum pernah
menjalani tes Pap sebelumnya, atau pernah mengalami tes Pap 3 tahun
sebelumnya atau lebih.
 Perempuan yang ditemukan lesi abnormal pada pemeriksaan tes Pap
sebelumnya
 perempuan yang mengalami perdarahan abnormal pervaginam, perdarahan
pasca sanggama atau perdarahan pasca menopause atau mengalami tanda dan
gejala abnormal lainnya
 perempuan yang ditemukan ketidaknormalan pada leher rahimnya

1. Pemeriksaan sitologi (Pap smear)


Screening berbasis pemeriksaan sitologi memiliki beberapa keterbatasan,
termasuk kebutuhan infrastruktur berupa laboratorium, spesialis yang terlatih
untuk memproses dan melaporkan hasil pemeriksaan, system pengontrolan
kualitas, serta system komunikasi untuk bagi pasien sehingga mereka dapat
menerima terapi yang sesuai. Metode ini juga membutuhkan kunjungan pasien
berulang sehingga sering berdampak pada banyaknya pasien yang tidak
mendapat follow-up.2
Alasan Harus melakukan Pap smear :
a. Menikah pada usia muda (dibawah 20 tahun).
b. Pernah melakukan senggama sebelum usia 20 tahun.
c. Pernah melahirkan lebih dari 3 kali.
d. Pemakaian alat kontrasepsi lebih dari 5 tahun, terutama IUD atau
kontrsepsi hormonal.
e. Mengalami perdarahan setiap hubungan seksual.
f. Mengalami keputihan atau gatal pada vagina.
g. Sudah menopause dan mengeluarkan darah pervagina.
h. Berganti-ganti pasangan dalam senggama.

Persiapan Pemeriksaan Pap Smear


a. Menghindari persetubuhan, penggunaan tampon, pil vagina, ataupun
mandi berendam dalam bath tub, selama 24 jam sebelum pemeriksaan,
untuk menghindari ‘kontaminasi’ ke dalam vagina yang dapat
mengacaukan hasil pemeriksaan.
b. Tidak sedang menstruasi , karena darah dan sel dari dalam rahim dapat
mengganggu keakuratan hasil pap smear.

Cara pengambilan sampel Pap smear :


a. Pemeriksaan ini dilakukan di atas kursi pemeriksaan khusus ginekologis.
b. Sampel sel-sel diambil dari luar serviks dan dari liang serviks dengan
melakukan usapan dengan spatula yang terbuat dari bahan kayu atau
plastik.
c. Setelah usapan dilakukan, sebuah cytobrush (sikat kecil berbulu halus,
untuk mengambil sel-sel serviks) dimasukkan untuk melakukan usapan
dalam kanal serviks.
d. Setelah itu, sel-sel diletakkan dalam object glass (kaca objek) dan
disemprot dengan zat untuk memfiksasi, atau diletakkan dalam botol yang
mengandung zat pengawet, kemudian dikirim ke laboratorium untuk
diperiksa.

Ada 2 cara pemeriksaan Pap Smear:


a. Pemeriksaan Sitologi Konvensional
Keterbatasan pemeriksaan Sitologi Konvensional :
o Sampel tidak memadai karena sebagian sel tertinggal pada brus (sikat
untuk pengambilan sampel), sehingga sampel tidak representatif dan
tidak menggambarkan kondisi pasien sebenarnya
o Subyektif dan bervariasi, dimana kualitas preparat yang dihasilkan
tergantung pada operator yang membuat usapan pada kaca benda
o Kemampuan deteksi terbatas (karena sebagian sel tidak terbawa dan
preparat yang bertumpuk dan kabur karena kotoran/faktor
pengganggu)

b. Pemeriksaan Sitologi Berbasis cairan atau Liquid


Merupakan metode baru untuk meningkatkan keakuratan deteksi
kelainan sel-sel leher rahim. Dengan metode ini, sampel (cara
pengambilan sama seperti pengambilan untuk sampel sitologi biasa/Pap
Smear) dimasukkan ke dalam cairan khusus sehingga sel atau faktor
pengganggu lainnya dapat dieliminasi. Selanjutnya, sampel diproses
dengan alat otomatis lalu dilekatkan pada kaca benda kemudian diwarnai
lalu dilihat di bawah mikroskop oleh seorang dokter ahli Patologi
Anatomi. Keungulan pemeriksaan sitologi berbasis cairan/Liquid :
o Sampel memadai karena hampir 100 % sel yang terambil dimasukkan
ke dalam cairan dalam tabung sampel
o Proses terstandardisasi karena menggunakan prosesor otomatis,
sehingga preparat (usapan sel pada kaca benda) representatif, lapisan
sel tipis, serta bebas dari kotoran/pengganggu
o Meningkatkan kemampuan/keakuratan deteksi awal adanya kelainan
sel leher rahim
o Sampel dapat digunakan untuk pemeriksaan HPV-DNA

Hasil Pap Smear


a. Hasil pap smear normal menunjukkan hasil negatif, yaitu tidak adanya sel-
sel serviks yang abnormal,
b. Interpretasi hasil (menurut Papanicolaou)
- Kelas I : Identik dengan normal smear pemeriksaan ulang 1 tahun lagi.
- Kelas II : Menunjukkan adanya infeksi ringan non spesifik, kadang
disertai:
o Kuman atau virus tertentu.
o Sel dengan kariotik ringan.
Pemeriksaan ulang 1 tahun lagi, pengobatan yang sesuai dengan
kausalnya
Bila ada erosi atau radang bernanah, pemeriksaan ulang 1 bulan setelah
pengobatan.
- Kelas III : Ditemukannya sel diaknostik sedang dengan keradangan
berat. Periksa ulang 1 bulan sesudah pengobatan
- Kelas IV : Ditemukannya sel-sel yang mencurigakan ganas dalam hal
demikian dapat ditempuh 3 jalan, yaitu:
o Dilakukan biopsi.
o Dilakukan pap test ulang segera, dengan skreping lebih dalam
diambil 3 sediaan
o Rujuk untuk biopsi konfirmasi.
- Kelas V : Ditemukannya sel-sel ganas. Dalam hal ini seperti ditempuh
3 jalan seperti pada hasil kelas IV untuk konfirmas
2. Metode Inspeksi Visual
a. Inspeksi visual dengan lugol iodin (VILI)
b. Inspeksi visual dengan asam asetat (IVA)
Selain dua metode visual ini, dikenal juga metode visual kolposkopi dan
servikograf

Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)


Prinsip Kerja dan Metode IVA:
1. memulas leher rahim dengan kapas yang telah dicelupkan dalam asam
asetat 3-5%
2. Pemberian asam asetat (3-5%) itu akan mempengaruhi epitel abnormal,
bahkan juga akan meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler
3. Cairan ekstraseluler yang bersifat hipertonik ini akan menarik cairan dari
intraseluler sehingga membran akan kolaps dan jarak antar sel akan
semakin dekat. Sebagai akibatnya, jika permukaan epitel mendapat sinar,
sinar tersebut tidak akan diteruskan ke stroma, tetapi dipantulkan keluar
sehingga permukaan epitel abnormal akan berwarna putih, disebut juga
epitel putih (acetowhite)
4. Daerah metaplasia yang merupakan daerah peralihan akan berwarna putih
juga setelah pemulasan dengan asam asetat tetapi dengan intensitas yang
kurang dan cepat menghilang. Hal ini membedakannya dengan proses
prakanker yang epitel putihnya lebih tajam dan lebih lama menghilang
karena asam asetat berpenetrasi lebih dalam sehingga terjadi koagulasi
protein lebih banyak.
5. Jika makin putih dan makin jelas, main tinggi derajat kelainan
jaringannya.58 Dibutuhkan 1-2 menit untuk dapat melihat perubahan-
perubahan pada epitel. Leher rahim yang diberi 5% larutan asam asetat
akan berespons lebih cepat daripada 3% larutan tersebut. Efek akan
menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat
akan didapatkan hasil gambaran leher rahim yang normal (merah
homogen) dan bercak putih (mencurigakan displasia). Lesi yang tampak
sebelum aplikasi larutan asam asetat bukan merupakan epitel putih, tetapi
disebut leukoplakia; biasanya disebabkan oleh proses keratosis

Prosedur screening dengan inspeksi visual asam asetat memiliki banyak


kelebihan, yaitu sebagai berikut:
a. Inspeksi visual serviks dengan menggunakan asam asetat atau cairan
Lugol untuk mewarnai lesi prekanker sehingga lesi tersebut dapat dilihat
dengan mata telanjang, sehingga identifikasi prekanker dapat dilakukan
secara klinis.
b. Prosedur tersebut mengurangi kebutuhan adanya laboratorium dan
transportasi specimen, sehingga hanya membutuhkansedikit peralatan dan
hasil tesnya dapat diketahui secara cepat oleh pasien.
c. Hampir semua petugas pelayanan kesehatan (dokter, perawat dan bidan
professional) bisa melakukan prosedur ini secara efektif, dengan syarat
telah mendapatkan pelatihan dan supervise yang adekuat.
d. Sebagai uji screening, IVA menghasilkan hasil yang lebih akurat dalam
mengidentifikasi lesi prekanker dibandingkan sitologi serviks. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa dengan IVA, dari wanita yang berisiko
tinggi mengalami karsinoma serviks, 45-79% dia antaranya teridentifikasi
adanya lesi prekanker, namun spesifitasnya lebih rendah dan terdapat
risiko overtreatment. Sedangkan tingkat sensitivitas pemeriksaaan sitologi
sebesar 47-62%.

Namun sama seperti pemeriksaan sitologi, salah satu kekurangan


pemeriksaan IVA adalah bahwa hasilnya sangat bergantung pada tingkat
akurasi dari interpretasi individu. Oleh karena itu, pelatihan dan system
pengontrolan kualitas merupakan hal yang sangat penting.
IVA memiliki banyak kelebihan yang signifikan dibandingkan Pap smear
 untuk kondisi dengan sarana dan prasarana terbatas,
 terutama dari segi peningkatan jangkauan screening,
 perbaikan dalam perawatan dan follow up, serta kualitas program secara
umum.

Syarat mengikuti tes IVA adalah :


a) Sudah pernah melakukan hubungan seksual
b) Tidak sedang datang bulan/haid
c) Tidak sedang hamil
d) 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual

Klasifikasi IVA berdasarkan temuan klinis (SEE AND TRET,2007)


a. Hasil tes – Positif : DITEMUKAN Plak putih yang tebal atau epitel
acetowhite, biasanya dekat SCJ
b. Hasil Tes Negatif : Ditemukan pertemuan polos dan halus, berwarna
merah jambu: ectropion, polyp,cervicitis, inflammantion, Nabothian cysts
c. Kanker : ditemukan secara klinis massa mirip kembang kol atau bisul

Orang-Orang yang dirujuk untuk kelanjutan Tes IVA bila Ditemukan:


a. Diduga Kanker Cervix
b. Lesi > 75%
c. Lesi > 2 mm melebihi cryoprobe
d. Lesi meluas sampai dinding vagina
e. Hamil (> 20 minggu)

Inspeksi visual dengan lugol iodin (VILI) / Tes Schiller


Tes Schiller atau tes pengecatan dengan yodium ialah tes yang
digunakanuntuk mengenal kanker serviks lebih dini. Tes ini
didasarkan pada sifat epitel serviks yang berubah menjadi berwarna
coklat gelap atau tua jika terkena larutan yodium.

Uji Colposcopy
Jika pada saat pap smear ditemukan ketidaknormalan pada serviks, maka
langkah selanjutnya adalah dilakukan colposcopy. Colposcopy adalah suatu
pengujian yang memungkinkan dokter untuk melihat serviks (leher rahim) lebih
dekat dengan menggunakan sebuah alat bernama colposcope.
Cara ini merupakan cara penilaian sel invito dengan pembesaran 200 kali
karena abnormalitas pada neoplasma yang terlihat dengan pembesaran umumnya
terlihat pada inti sel. Maka inti sel harus diwarnai terlebihdahulu dengan biru
tolvidin 1%. Dalam 20-30 detik inti sel akanmengambil zat warna. Zat warna
yang tersisa dibersihkan dengan larutan garam fisiologik dan pemeriksaan
dapat segera dimulai dengan menyentuhujung alat ke serviks. Colposcope akan
dimasukkan ke dalam vagina dan kemudian gambar yang ditangkap oleh alat
tersebut akan ditampilkan pada layar computer atau televisi. Dengan cara seperti
ini, kondisi yang terjadi dalam leher rahim akan sangat jelas terlihat.
Colposcopy Untuk Mengambil Jaringan yang Abnormal

Radiologi
a. Pelvik limphangiografi, yang dapat menunjukkan adanya gangguan pada
saluran pelvik atau peroartik limfe.
b. Pemeriksaan intravena urografi, yang dilakukan pada kanker serviks tahap
lanjut, yang dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal.
Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih
dan rektum yang meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP), enema
barium, dan sigmoidoskopi. Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan
CT abdomen / pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal dari tumor
dan / atau terkenanya nodus limpa regional.

Uji HPV DNA


Tes HPV DNA dapat mendeteksi adanya tipe virus HPV penyebab kanker
pada sel serviks atau vagina yang mengindikasikan apakah wanita tersebut baru
terinfeksi. Sebagian besar infeksi HPV dapat sembuh secara spontan dan tidak
mengarah ke karsinoma serviks, hal yang banyak terjadi pada wanita remaja dan
berumur 20 tahun. Namun apabila virus HPV penyebab kanker ditemukan pada
wanita berusia ≥ 30 tahun, terdapat kemungkinan virus tersebut menetap dalam
tubuh dan wanita tersebut berisiko tinggi untuk menderita karsinoma serviks, baik
pada saat virus HPV dideteksi atau di masa mendatang.
Walaupun sangat efektif, uji HPV yang selama ini digunakan tidak didesain
untuk digunakan pada kondisi dengan sumber daya yang rendah. Uji HPV hanya
digunakan secara terbatas di negara berpenghasilan perkapita rendah, karena
membutuhkan infrastuktur laboratorium, teknisi yang terlatih, dan fasilitas
penyimpanan. yang biasanya ditemukan hanya di daerah perkotaan dengan
sumber daya yang memadai. Selain itu, prosedur uji HPV membutuhkan waktu
sekitar 4,5 jam, yang artinya hasil interpretasinya tidak akan langsung dapat
diterima pasien dalam sekali kunjungan.
Kelebihannya, uji HPV memberikan profil hasil tes yang lebih reprodusibel
bagi wanita yang berisiko tinggi menderita lesi kanker atau prekanker. Apabila
digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan IVA, ujia HPV DNA memberikan
hasil yang sangat menjanjikan.

Suatu uji HPV yang sederhana, akurat, cepat, terjangkau dan dapat diterima
secara luas akan berpotensi besar untuk mengurangi karsinoma serviks di negara-
negara berkembang dan akan lebih hemat biaya pada kondisi dengan sumber daya
terbatas. Suatu asosiasi yang dinamakan Program for Appropriate Technology in
Health (PATH) telah meluncurkan suatu proyek yang diberi nama Screening
Techologies to Advance Rapid Testing for Cervical Cancer Prevention Project
(START Project), yang bertujuan untuk memajukan strategi pencegahan
karsinoma serviks di negara-negara dengan sumber daya terbatas, dengan cara
memfasilitasi pengembangan dan validasi format uji biokimia yang tepat,
terjangkau, dan efektif untuk mendeteksi CIN dan karsinoma serviks tahap awal
dengan deteksi HPV tipe onkogenik.
DIAGNOSIS DEFINITIF
1. Biopsi Serviks dan Kuretase
Selama melakukan colposcopy, dokter mungkin saja melakukan biopsy
dan tentunya biopsy ini dilakukan berdasarkan apa yang dia temukan selama
pemeriksaan itu. Biopsi serviks dilakukan dengan cara mengambil sejumlah
contoh jaringan serviks untuk kemudian diperiksa di bawah mikroskop.
Dibutuhkan hanya beberapa detik untuk melakukan biopsi contoh jaringan dan
hanya menimbulkan ketidaknyamanan dalam waktu yang tidak lama. Jika
diperlukan maka akan dilakukan biospi disekitar area serviks, tergantung pada
temuan saat melakukan colposcopy.
Bersamaan dengan biopsi serviks, kuretase endoserviks juga bisa
dilakukan. Selama kuretase, dokter akan menggunakan sikat kecil untuk
menghilangkan jaringan pada saluran endoserviks, area antara uterus dan
serviks. Kuretase akan menimbulkan sedikit nyeri, tapi nyeri akan hilang
setelah kuretase dilakukan. Hasil biopsi dan kuretase biasanya baru bisa dilihat
paling tidak 2 minggu.

2. Biopsi Kerucut (Konisasi)


Konisasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian
rupa sehingga yang keluarkan berbentuk kerucut (konus), dengan kanalis
servikalis sebagai sumbu kerucut. Untuk tujuan diagnostik, tindakan konisasi
harus selalu dilanjutkan dengan kuretase. Batas jaringan yang dikeluarkan
ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi. Jika karena suatu hal pemeriksaan
kolposkopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan tes Schiller. Pada tes ini
digunakan pewarnaan dengan larutan lugol (yodium 5g, kalium yodida 10g,
air 100 ml) dan eksisi dilakukan di luar daerah dengan tes positif (daerah yang
tidak berwarna oleh larutan lugol).

Konisasi diagnostik dilakukan pada keadaan-keadaan sebagai berikut :


- Proses dicurigai berada di endoserviks
- 2.Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi
- 3.Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar spesimen biopsi

Diagnosis Diferensial
1. Karsinoma ovarium
2. Vaginitis
3. Endometriosis
4. Mola Hidatidosa

1.5. PENATALAKSANAAN
Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi, radioterapi,
dan kemoterapi.
1. Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi. Bila
pasien masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat
menjadi pilihan.
Biopsi Cone. Selama operasi ini, dokter menggunakan scalpel untuk
mengambil selembar jaringan serviks berbentuk cone dimana abnormalitas
ditemukan
Loop electrosurgical excision procedure (LEEP). Teknik ini menggunakan
lintasan kabel untuk memberikan arus listrik, yang memotong seperti pisau
bedah , dan mengambil sel dari mulut serviks

2. Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks :


• Bila ukuran tumor < 4cm: radikal histerektomi ataupun radioterapi
dengan/tanpa kemoterapi
• Bila ukuran tumor >4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin,
histerektomi, ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan
histerektomi
3. Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan
kemo berbasis cisplatin.

4. Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo


dengan kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.

Jika kesembuhan tidak dimungkinkan, tujuannya pengobatan adalah untuk


mengangkat atau menghancurkan sebanyak mungkin sel-sel kanker. Kadang-
kadang pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala-gejala. Hal ini disebut
perawatan paliatif.

Pembedahan untuk Kanker Serviks


Ada beberapa jenis operasi untuk kanker serviks. Beberapa melibatkan
pengangkatan rahim (histerektomi), yang lainnya tidak. Daftar ini mencakup jenis
operasi yang paling umum untuk kanker serviks.
1. Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke
dalam vagina dan pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel abnormal dengan
cara membekukan mereka. Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker
serviks yang hanya ad adi dalam leher rahim (stadium 0), tapi bukan kanker
invasif yang telah menyebar ke luar leher rahim.
2. Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus
sebagian kecil dari jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser
hanya digunakan sebagai pengobatan untuk kanker serviks pra-invasif
(stadium 0).
3. Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher rahim. Hal ini
dilakukan dengan menggunakan pisau bedah atau laser tau menggunakan
kawat tipis yang dipanaskan oleh listrik (prosedur ini disebut LEEP atau
LEETZ). Pendekatan ini dapat digunakan untuk menemukan atau mengobati
kanker serviks tahap awal (0 atau I). Hal ini jarang digunakan sebagai satu-
satunya pengobatan kecuali untuk wanita dengan kanker serviks stadium dini
yang mungkin ingin memiliki anak. Setelah biopsi, jaringan (berbentuk
kerucut) diangkat untuk diperiksa di bawah mikroskop. Jika batas tepi dari
kerucut itu mengandung kanker atau pra-sel kanker, pengobatan lebih lanjut
akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel kankernya telah
diangkat.
4. Histerektomi
• Histerektomi sederhana : Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup
jaringan yang berada di dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar getah
bening panggul tidak diangkat. Rahim dapat diangkat dengan cara operasi
di bagian depan perut (perut) atau melalui vagina. Setelah operasi ini,
seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Histerektomi digunakan untuk
mengobati beberapa kanker serviks stadium awal (I). Hal ini juga
digunakan untuk stadium pra-kanker serviks (o), jika sel-sel kanker
ditemukan pada batas tepi konisasi.
• Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul : pada
operasi ini, dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di
dekatnya, bagian atas vagina yang berbatasan dengan leher rahim, dan
beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah panggul. Operasi ini
paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan perut
dan kurang sering melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak
bisa menjadi hamil. Sebuah histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah
bening panggul adalah pengobatan yang umum digunakan untuk kanker
serviks stadium I, dan lebih jarang juga digunakan pada beberapa kasus
stadium II, terutama pada wanita muda.
5. Trachelektomi
Sebuah prosedur yang disebut trachelectomy radikal memungkinkan wanita
muda tertentu dengan kanker stadium awal untuk dapat diobati dan masih
dapat mempunyai anak. Metode ini melibatkan pengangkatan serviks dan
bagian atas vagina dan meletakkannya pada jahitan berbentuk seperti kantong
yang bertindak sebagai pembukaan leher rahim di dalam rahim. Kelenjar getah
bening di dekatnya juga diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui vagina
ataupun perut.
6. Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan yang disebutkan di atas, pada
jenis operasi ini: kandung kemih, vagina, dubur, dan sebagian usus besar juga
diangkat. Operasi ini digunakan ketika kanker serviks kambuh kembali setelah
pengobatan sebelumnya.
Jika kandung kemih telah diangkat, sebuah cara baru untuk menyimpan
dan membuang air kecil diperlukan. Sepotong usus pendek dapat digunakan
untuk membuat kandung kemih baru. Urine dapat dikosongkan dengan
menempatkan sebuah tabung kecil (disebut kateter) ke dalam lubang kecil di
perut tersebut (disebut: urostomi). Atau urin bisa mengalir ke kantong plastik
kecil yang ditempatkan di bagian depan perut.

Radioterapi untuk Kanker Serviks


Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X)
untuk membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan tumornya. Sebelum
radioterapi dilakukan, biasanya Anda akan menjalani pemeriksaan darah untuk
mengetahui apakah Anda menderita Anemia. Penderita kanker serviks yang
mengalami perdarahan pada umumnya menderita Anemia. Untuk itu, transfusi
darah mungkin diperlukan sebelum radioterapi dijalankan.
Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi
(external maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah
pembedahan. Akhir-akhir ini, dokter seringkali melakukan kombinasi terapi
(radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati kanker serviks yang berada antara
stadium IB hingga IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran tumornya lebih besar dari 4
cm atau bila kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya (di luar
serviks), misalnya ke kandung kemih atau usus besar.

Radioterapi ada 2 jenis, yaitu radioterapi eksternal dan radioterapi internal.


1. Radioterapi eksternal : berarti sinar X diarahkan ke tubuh Anda (area
panggul) melalui sebuah mesin besar.
2. Radioterapi internal : berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam
rahim/leher rahim Anda selama beberapa waktu untuk membunuh sel-sel
kankernya. Salah satu metode radioterapi internal yang sering digunakan
adalah brachytherapy.

Brachytherapy untuk Kanker Serviks


Brachytherapy telah digunakan untuk mengobati kanker serviks sejak awal
abad ini. Pengobatan yang ini cukup sukses untuk mengatasi keganasan di organ
kewanitaan. Baik radium dan cesium telah digunakan sebagai sumber radioaktif
untuk memberikan radiasi internal
Efek Samping Radioterapi Ada beberapa efek samping dari radioterapi, yaitu:
- Kelelahan
- Sakit maag
- Sering ke belakang (diare)
- Mual
- Muntah
- Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
- Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang menyebabkan senggama
menyakitkan
- Menopause dini
- Masalah dengan buang air kecil
- Tulang rapuh sehingga mudah patah tulang
- Rendahnya jumlah sel darah merah (anemia)
- Rendahnya jumlah sel darah putih
- Pembengkakan di kaki (disebut lymphedema)

Kemoterapi untuk Kanker Serviks


Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel
kanker. Biasanya obat-obatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah atau
melalui mulut. Setelah obat masuk ke aliran darah, mereka menyebar ke seluruh
tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan dalam satu waktu.
Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan
tergantung pada jenis obat yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan, dan
berapa lama pengobatan berlangsung. Efek samping bisa termasuki:
- Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
- Kehilangan nafsu makan
- Kerontokan rambut jangka pendek
- Sariawan
- Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih)
- Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
- Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
- Kelelahan
- Menopause dini
- Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)

1.6. KOMPLIKASI
a. Retensi Uri
Terjadi akibat rudapaksa pleksus saraf dan pembuluh darah kecil intra
pelvis, hingga timbul gangguan sirkulasi darah, disuria, retensi uri saat
histerektomi total radikal.
b. Kista Limfatik Pelvis
Terjadi akibat pasca pembersihan kelenjar limfe pelvis, drainase limfe
tidak lancar sehingga dapat terbentuk kista limfatik retroperitoneal .
Penanganan untuk kanker serviks invasive biasanya membuat seseorang tidak
hamil. Pada beberapa wanita terutama wanita yang lebih muda dan yang
belum memulai keluarga- infertilitas merupakan efek samping yang paling
tidak disukai dari penatalaksanaan. Jika pasien mengkhawatirkan tentang
kemampuannya untuk dapat hamil, maka dokter perlu memberikan penjelasan
tentang untung rugi dari penatalaksanaan tersebut dengan jelas.
Untuk beberapa kelompok wanita dengan kanker serviks dini, operasi aman-
dari fertilitas merupakan pilihan yang tepat. Prosedur operasi ini yaitu hanya
dengan memindahkan serviks dan jaringan limfatik (radikal trachelectomy)
dapat mempertahankan uterus. Penelitian mengenai radical trachlectomy
mengatakan bahwa kanker serviks dapat ditangani dengan teknik ini,
walaupun tidak semua wanita cocok dan beberapa resiko tambahan pada
operasi ini. Kehamilan mungkin dapat terjadi namun terjadi peningkatan
resiko yang bermakna terhadap insiden kelahiran premature dan keguguran.

Berdasarkan komplikasi yang dapat terjadi pasca terapi antara lain :


- Berkaitan dengan pembedahan ; fistula uretra, disfungsi kandung
kemih, emboli pulmonal, infeksi pelvis, obstruksi usus besar dan fistula
retovaginal
- berkaitan saat terapi radiasi ; reaksi kulit, sistitits radiasi, dan enteritis
- berkaitan dengan kemoterapi ; tergantung pada obat kombinasi, masalah
yang sering muncul seperti supresi sumsum tulang, mual muntah karena
obat mengandung sisplatin

1.7. PROGNOSIS
Prognosis kanker serviks adalah buruk. Prognosis yang buruk tersebut
dihubungkan dengan 85-90 % kanker serviks terdiagnosis pada stadium invasif,
stadium lanjut, bahkan stadium terminal (Suwiyoga, 2000; Nugroho, 2000).
Selama ini, beberapa cara dipakai menentukan faktor prognosis adalah
berdasarkan klinis dan histopatologis seperti keadaan umum, stadium, besar tumor
primer, jenis sel, derajat diferensiasi Broders. Prognosis kanker serviks tergantung
dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years survival rate untuk stadium I lebih dari
90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira 50%, dan untuk stadium IV
kurang dari 30%.
• Stadium 0 100 % penderita dalam stadium ini akan sembuh.
• Stadium 1 Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi IA dan IB. Dari
semua wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival
rate sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai
90%. Ini tidak termasuk wanita dengan kanker pada limfonodi mereka.
• Stadium 2 Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. Dari semua
wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate
sebesar 70-90%. Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai
65%.
• Stadium 3 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%.
• Stadium 4 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%. 6.
Stadium 5 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 5-10%.

1.8. PENCEGAHAN
Sebagian besar kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat dan
menghindari faktor- faktor penyebab kanker meliputi :
a. Menghindari berbagai faktor risiko, yaitu hubungan seks pada usia muda,
pernikahan pada usia muda, dan berganti-ganti pasangan seks. Wanita yang
berhubungan seksual dibawah usia 20 tahun serta sering berganti pasangan
beresiko tinggi terkena infeksi. Namun hal ini tak menutup kemungkinan akan
terjadi pada wanita yang telah setia pada satu pasangan saja.
b. Wanita usia di atas 25 tahun, telah menikah, dan sudah mempunyai anak perlu
melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali atau menurut petunjuk
dokter. Pemeriksaan Pap smear adalah cara untuk mendeteksi dini
kanker serviks. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cepat, tidak sakit
dengan biaya yang relatif terjangkau dan hasilnya akurat. Disarankan
untuk melakukan tes Pap setelah usia 25 tahun atau setelah aktif berhubungan
seksual dengan frekuensi dua kali dalam setahun. Bila dua kali tes Pap
berturut-turut menghasilkan negatif, maka tes Pap dapat dilakukan sekali
setahun. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik
pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan
teknologi Hybrid Capture II System (HCII).
c. Pilih kontrasepsi dengan metode barrier, seperti diafragma dan kondom,
karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker leher rahim.
d. Memperbanyak makan sayur dan buah segar. Faktor nutrisi juga dapat
mengatasi masalah kanker mulut rahim. Penelitian mendapatkan hubungan
yang terbalik antara konsumsi sayuran berwarna hijau tua dan kuning (banyak
mengandung beta karoten atau vitamin A, vitamin C dan vitamin E) dengan
kejadian neoplasia intra epithelial juga kanker serviks. Artinya semakin
banyak makan sayuran berwarna hijau tua dan kuning, maka akan semakin
kecil risiko untuk kena penyakit kanker mulut Rahim.
e. Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah infeksi HPV tipe
16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker serviks. Vaksin ini bekerja dengan
cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus sebelum memasuki
sel-sel serviks. Selain membentengi dari penyakit kanker serviks, vaksin ini
juga bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV tipe 6 dan 11
yang menyebabkan kutil kelamin.Yang perlu ditekankan adalah, vaksinasi ini
baru efektif apabila diberikan pada perempuan yang berusia 9 sampai 26 tahun
yang belum aktif secara seksual. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam
jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena kanker serviks bisa
menurun hingga 75%.

Pengendalian kinder serviks dengan pencegahan dapat dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu pencegahan prmer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier Strategi
kesehatan masyarakat dalam mencegah kematian karena kanker serviks antara lain
adalah dengan pencegahan primer dan pencegaan sekunder.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan kegiatan uang dapat dilakukan oleh setiap
orang untuk menghindari diri dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan
timbulnya kanker serviks. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menekankan
perilaku hdup sehat untuk mengurangi atau menghindari faktor resiko seperti
kawin muda, pasangan seksual ganda dan lain-lain. Selain itu juga pencegahan
primer dapat dilakukan dengan imuisasi HPV pada kelompok masyarakat
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder kanker serviks dilakukan dengan deteksi dini dan
skrining kanker serviks yang bertujuan untuk menemukan kasus-kasus kanker
serviks secara dibni sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan.
Perkembangan kanker serviks memerlukan waktu yang lama. Dari prainvasif
ke invasive memerlukan waktu sekitar 10 tahun atau lebih. Pemeriksaan
sitologi merupakan metode sederhana dan sensitive untuk mwndeteksi
karsinoa pra invasive. Bila diobati dengan baik, karsinoma pra invasive
mempunyai tingkat penyembuhan mendekati 100%. Diagnosa kasus pada fase
invasive hanya memiliki tingkat ketahanan sekitar 35%. Program skrining
dengan pemeriksaan sitologi dikenal dengan Pap mear test dan telah dilakukan
di Negara-negara maju. Pencegahan dengan pap smear terbukimampu
menurunkan tingkat kematian akibat kanker serviks 50-60% dalamkurun
waktu 20 tahun (WHO,1986).
Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan kanker
serviks, yaitu :
1) Pencegahan Tingkat Pertama
a. Promosi Kesehatan Masyarakat misalnya :
- Kampanye kesadaran masyarakat
- Program pendidikan kesehatan masyarakat
- Promosi kesehatan
b. Pencegahan khusus, misalnya :
- Interfensi sumber keterpaparan
- Kemopreventif

2) Pencegahan Tingkat Kedua


a. Diagnosis dini, misalnya screening
b. Pengobatan, misalnya :
- Kemoterapi
- Bedah

3) Pencegahan Tingkat Ketiga


Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan kanker
umumnya ialah secara pendekatan multidiscipline. Hasil pengobatan
radioterapi dan operasi radikal kurang lebih sama, meskipun sebenarnya sukar
untuk dibandingkan karena umumnya yang dioperasi penderita yang masih
muda dan umumnya baik.

2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ETIKA PEMERIKSAAN PADA


LAWAN JENIS MENURUT AJARAN ISLAM

JIKA WANITA BEROBAT KE DOKTER LELAKI BAGAIMANA HUKUMNYA ?


Islam mensyariatkan, jika seseorang tertimpa penyakit maka ia diperintahkan untuk
berusaha mengobatinya. Al-Qur`ân dan as-Sunnah telah menetapkan syariat tersebut.
Dan pada pelayanan dokter memang terdapat faedah, yaitu memelihara jiwa. Satu hal
yang termasuk ditekankan dalam syariat Islam

PANDANGAN ISLAM TERHADAP IKHTILAT


Yang dimaksud ikhtilat, yaitu berduanya seorang lelaki dengan seorang perempuan di
tempat sepi. Dalam hal ini menyangkut pergaulan antara sesama manusia, yang
rambu-rambunya sangat mendapat perhatian dalam Islam

Dalam hadits di bawah ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah


memperingatkan kaum lelaki untuk lebih berhati-hati dalam masalah wanita.

‫اء َعلَى َوالدُّ ُخو َل إِيَّا ُكم‬


ِ ‫س‬َ ِ‫ار ِمن َر ُجل فَقَا َل الن‬
ِ ‫ص‬َ ‫سو َل يَا اْلَن‬ َّ َ‫ال َموتُ ال َحم ُو قَا َل ال َحم َو أَفَ َرأَيت‬
ُ ‫ّللاِ َر‬

"Berhati-hatilah kalian dari menjumpai para wanita,” maka seorang sahabat dari
Anshar bertanya,"Bagaimana pendapat engkau tentang saudara ipar, wahai
Rasulullah?” Rasulullah menjawab,"Saudara ipar adalah maut (petaka).” [HR Bukhari
dan Muslim

PERINTAH MENJAGA AURAT DAN MENAHAN PANDANGAN


Disebutkan dalam sebuah hadits:

‫الرح َم ِن َعب ِد َعن‬َّ ‫س ِعيد أَ ِبي ب ِن‬


َ ِ ‫سو َل أ َ َّن أ َ ِبي ِه َعن ال ُخد ِري‬ َّ ‫صلَّى‬
ُ ‫ّللاِ َر‬ َّ ‫سلَّ َم َعلَي ِه‬
َ ُ‫ّللا‬ ُ ‫الر ُج ُل يَن‬
َ ‫ظ ُر َل قَا َل َو‬ َّ ‫إِلَى‬
ِ‫الر ُج ِل َعو َرة‬ َ ُ َ َ َ
َّ ‫ال َمرأةِ َعو َرةِ إِلى ال َمرأة َول‬
"Dari ‘Abdir-Rahman bin Abi Sa`id al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang lelaki melihat kepada
aurat lelaki (yang lain), dan janganlah seorang wanita melihat kepada aurat wanita
(yang lain)". [HR Muslim]

IDEALNYA MUSLIMAH BEROBAT KE DOKTER WANITA


Hukum asalnya, apabila ada dokter umum dan dokter spesialis dari kaum Muslimah,
maka menjadi kewajiban kaum Muslimah untuk menjatuhkan pilihan kepadanya.
Meski hanya sekedar keluhan yang paling ringan, flu batuk pilek sampai pada
keadaan genting, semisal persalinan ataupun jika harus melakukan pembedahan.
Berkaitan dengan masalah itu, Syaikh Bin Bâz rahimahullah mengatakan:
“Seharusnya para dokter wanita menangani kaum wanita secara khusus, dan dokter
lelaki melayani kaum lelaki secara khusus kecuali dalam keadaan yang sangat
terpaksa. Bagian pelayanan lelaki dan bagian
pelayanan wanita masing-masing disendirikan, agar masyarakat terjauhkan dari fitnah
dan ikhtilat yang bisa mencelakakan. Inilah kewajiban semua orang”.