Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan pasti tidak terlepas dengan pembelajaran di sekolah yang

menginginkan pembelajaran yang bisa membangkitkan semangat siswa untuk

belajar. Menurut permendikbud NO. 103 Tahun 2014 tentang pembelajaran pada

pendidikan dasar dan menengah pembelajaran dilaksanakan berbasis aktivitas

dengan karakteristik: 1) interaktif dan inspiratif, 2) menyenangkan, menantang,

dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, 3) konstektual dan

kolaboratif, 4) sesuai dengan bakat, minat, kamampuan, dan perkembangan fisik

serta psikologis peserta didik dalam proses pembelajran terdapat tiga elemen yang

sangat penting yaitu pendidik, peserta didik, dan sumber belajar.

Pembelajaran di sekolah pada awalnya bertujuan untuk mencetak siswa

yang berilmu dan bermoral. Ilmu yang diperoleh nantinya digunakan untuk

mempelajari kehidupan dan proses ynag terjadi di kehidupan. Salah satu tindakan

yang dilakukan yaitu dengan menerapkan pembelajaran ilmu pengetahuan alam

(IPA). Salah satu ilmu pengetahuan alam adalah fisika. Fisika merupakan suatu

ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam atau fenomena alam

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran yang

menjadikan siswa mengalami kesulitan dalam memahami suatu pelajaran, oleh

sebab itu dibutuhkan sarana belajar yang menarik yang dapat memotivasi peserta

didik belajar fisika. Sarana belajar yang digunakan oleh guru adalah salah satunya

bahan ajar. Bahan ajar yang sering digunakan dalam proses pembelajaran

diantaranya modul, handout, LKPD dan lain-lain. Seorang guru dituntut


kreativitasnya untuk mampu menyusun media pembelajaran yang inovatif,

variatif, menarik, konstektual dan sesuai dengan tingkat kebutuhanpserta didik

terutama pada bahan ajar salah satunya lembar kerja peserta didik (LKPD).

LKPD merupakan salah satu bahan ajar dalam bentuk lembaran-lemabaran

materi yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang disusun secara

sistematis bertujuan membantu siswa belajar dengan baik. Selain itu melalui

penggunaan LKPD dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di

sekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara

optimal (Nurdin & Andriantoni, 2016). LKPD dalam belajar karena LKPD

disusun dengan mencantumkan gambar yang menarik informasi yang up to date

tentang materi, dan soal-soal.

Kreativitas dapat didefinisikan sebagai proses untuk menghasilkan sesuatu

yang baru dari elemen yang ada dengan menyusun kembali elemen tersebut.

Kreativitas terkait dengan tiga komponen utama yakni: keterampilan berpikir

kreatif, keahlian(pengetahuan, teknis, procedural, dan intelektual) dan motivasi.

Keterampilan berpikir kreatif berkaitan dengan aspek-aspek berpikir kreatif yaitu

kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan kerincian(elaborasi) (Munandar, 2014)

Berdasarkan observasi dan wawancara di SMA Sintt Carolus Kota

Bengkulu, 60% siswa menganggap bahwasannya bahan ajar yang digunakan

dalam proses pembelajaran bisa dikataka biasa saja. Bahan ajar yang tepat dengan

kebutuhan peserta didik diperlukan untuk meningkatkan pemahaman peserta

didik. Selanjutnya guru menyatakan bahwa selama ini beberapa sekolah membeli

LKPD dari penerbit dan cenderung tidak menarik dan tidak inoatif sehingga tidak

mampu mendorong siswa untuk tertarik mempelajarinya.


Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa bahan ajar yang digunakan

selama proses pembelajaran belum menarik, terlihat dari bahasa yang sulit

dipahami, minimnya gambar, langkah yang ada didalam LKPD hanya mendikte

siswa dalam menyelesaikan LKPD, serta tidak adanya pemetaan materi dan

sebagian siswa mengaku masih mengalami kesulitan dalam mempelajari fisika

khususnya materi cahaya. Sehingga siswa cenderung belum maksimal dalam

menyelesaikan masalah yang diberikan guru(kelancaran), belum bisa memberikan

jawaban yang bervariasi dalam menyelesaikan masalah/ soal (luwes) hal ini

mengakibatkan pada hasil belajar dan kemampuan berpikir kreatif yang belum

sesuai dengan yang diharapkan.

Penelitian (Putri & Miralis, 2015) menyebutkan bahwa mind mapping

dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif yang berupa kelancaran,

keluwesan, dan orisinalitas. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Buzan, 2008)

bahwa peta pemikiran atau mind mappng adalah suatu teknik mencetak yang

mengkombinasikan antara gambar, symbol, warna, huruf, dan kata-kata yang

saling berkaitan sebagai penjelasan mengenai sesuatu hal. Kelebihannya dengan

teknik mencatat tersebut dapat menyeimbangkan kerja otak kanan dan otak kiri

sehingga pengetahuan yang diperoleh akan disimpan lebih lama dalam memori

siswa, mind mapping mengembangkan cara berpikir divergen dan berpikir kreatif.

Penggunaan model pembelajaran disuatu kelas tentunya akan

mempengaruhi ketertarikan siswa dalam belajar. Guru dituntut untk bisa

menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum dan kondisi

kelas yang ada. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah model

pembelajaran problem based learning . Model pembelajaran problem based


learning merupakan model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa

pada masalah auntetik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri,

menumbuhkembangkan kemampuan yang lebih tinggi dan inkuiri, memandirikan

siswa dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Murfiah, 2017)

Berdasarkan pemikiran dan pertimbangan yang sudah dipaparkan diatas,

maka dipandang perlu untuk mengembangkan sebuah bahan ajar yaitu lembar

kerja peserta didik(LKPD) sebagai salah satu cara memecahkan masalah

pembelajaran fisika. LKPD yang akan dikembangkan dalam penelitian ini akan

dikombinasikan dengan teknik mind mapping yang diharapkan dapat membantu

siswa dalamm meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kreatif siswa.

Maka diangkatlah pemikiran tersebut dalam penelitian yang berjudul

“Pengembangan LKPD Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan

Kemampan Berpikir Kreatif Pada Kelas X SMA Sintt Carolus Kota

Bengkulu”.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana desain produk LKPD pembelajaran fisika untuk kelas X

SMA Sintt Carolus kota Bengkulu ?

2. Bagaimana efektivitas LKPD pembelajaran fisika terhadap hasil belajar ?

3. Bagaimana efektifitas LKPD pembelajaran fisika terhadap kemampuan

berpikir kreatif

C. Tujuan Penelitian

1. Menghasilkan desain produk LKPD pembelajarn fisika

2. Menentukan efektivitas LKPD pembelajaran fisika terhadap hasil belajar


3. Menentukan efektivitas LKPD pembelajaran fisika terhadap kemampuan

berpikir kreatif.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi semua pihak

yang terkait, baik dari pihak siswa, guru dan sekolah

1. Bagi siswa

Meningkatkan kemampuan beajar siswa dalam penguasaan konsep fisika

sehingga hasil belajar fisika menjadi lebih baik.

2. Bagi guru

Hasil pengembangan LKPD ini diharapkan dapt emnjadi sumbangan bagi

guru fisika dan dapat dijadikan alternatif lembar kerja peserta

didik(LKPD) pembelajaran fisika.

3. Bagi sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam

meningkatkan kualitas pembelajaran fisika di SMA.

E. Spesifikasi Produk

Spesifikasi produk yang akan dikembangkan dalam penelitian ini yaitu:

1. LKPD yang dikembangkan terdiri dari kompetensi dasar, imdikator, tujuan,

materi, kosa kata ipa, mari bereksperimen, soal latihan dan lembar mind mapping.
BAB II

KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Lembar Kerja Peserta Didik

a. Pengertian Lembar Kerja Peserta Didik

Lembar kerja peserta didik sebelumnya disebut dengan lembar kerja siswa.

Bahan ajat sangat diperlukan oleh guru saat mau proses pembelajaran. Bahan ajar

bagus sekali dapat membantu siswa dalam mendaaptkan hasil belajar yang baik

serta kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh. (Prastowo, 2013)

mengemukakan bahwa bahan ajar merupakan seperangakat materi yang disusun

secara sistematis, baik tertulis maupun tidak, akibantnya tercipta kondisi atau

suasana yang baik benar untuk siswaa belajar. Prastowo dalam (Wahyuni,

Albertus, & Anggraini, 2016) menyatakan bahwa satu salah upaya untuk

mencapai tujuan pembelajaran dengan baik diperlukan bahan baku ajar yang

mendukung saat proess pembelajaran. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan

yang disiapkan dan dilakukan gurau untuk membantu melaksanakan kegaitan

belajar menagajar dkellas. Satu salahnya bahan ajar adalah lembar keja peserta

didik (LKPD). Lembar keja peserta didik adalah lembaran-lembaran berisis

materi, tugas, dan ringkasan yang harus dikejarkan oleh peserta didik. Peran

lembar kerja peserta didk dalam pembelajaran astu salahnya adalah sebagian

bahan keajar yang dapat meminimalisir peran pedidik namun lebih

mengaoptimalkan peserta didik.

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa

LKPD merupakan sutau bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran kertas yang
berisi ringkasan, materi, dan petunjuk pelaksanaan tugas belajar mengajar yang

harus diperintahkan oleh peserta didik dan merupakan satu salah bahan ajar yang

dapat dikembangkan oleh guru sebagai fasilitatir dalam kegaiatn pembelajaran.

a. Tujuan LKPD

1. Mengaktifkan siswa saat proses kegiatan pmbelajaran

2. Membantu siswa mengembangkan kosep

3. Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan keterampilan

proses.

4. Sebagai contoh guru dan siswa ketika melaksanakan proses kegaiatan

pembelajaran

5. Menolong siswa saat memperoleh informasi tentang konsep yang

dipelajari melalaui prosess kegiatan pembelajaran secara sistematis

6. Menolong siswa ketika mendapatkan catatan subab yang diajari melalui

kegiatan pembelajaran

a. Syarat-syarat menyusun LKPD

Dalam menyususn LKPD ada beberapa kriteria yang musti dipenuhii agar

LKPD tepat dan akurat, maka harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Susunan kalimat dan kata-kata diutamakan:

a. Sederhana dan mudah dipahami dan mengerti

b. Singjat padat dan jelas

c. Istilah baru hendaknya dikenalkan terlebh dahulu

2. Gambar ilustrasi hendaknya dapat:

a. Membantu siswa mengerti subbab

b. Menunjukkan cara dalam menyusun seuah pngertian


c. Membantu siswa berpikir kristis

d. Menetukan variabel ynag kaan dipecahkan

3. Tata letak hendaknya:

a. Membantu siswa memahami materi dengan menunjukkan uruta kegiatan

secara logis dan sitematis.

b. Menunjukkan bagian-bagian yang sudah diikuti dari awal hingga akhir

c. Desain haus menarik (Nurdin & Andriantoni, 2016)

2. Mind mapping

Teknik mencatat (Buzan, 2008) berpandapat bahwa, mind mapping adalah

cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah, menangkap berbagai

pikira dalam berbagai sudut. Mind mapping adalah alat to thinking organisasional

yang sangat baik juga merupakan cara termudah untuk mengkondisikan informasi

ke otak dan mengambi informasi itu ketika dibutuhkan.

(Karim & Syaiful, 2016) menyebutkan bahwa mind mapping dapat

diartikan sebagai proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep-

konsep permasalahan trtentu dari cabang-cabang sel saraf membentuk korelasi

konsep menuju yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya, sehingga

tulisan yang dihasilkan merupakan gambaanlangsung dari cara kerja koneksi-

koneksi di dalam otak

Nesbit dan Adoscope dalam (Jones, Ruff, Synder, Petrich, & Koonce,

2012) defined a concept map as’ a type of graphic organizer that is distinguished

by the use of labeled nodes denoting relashionships among concepts’(p.415).

typically, when used in an instructional setting, students who complete a concept

map place concept map place concepts or ideas in ovals (or any shape), organize
the ovals in some type of logical manner that shows the relationship among them

(which may or maynot be hierarchical), and connect the concept to one another

with lines that might not be labeled (Novak & Grown, 1984). Mind mapping is

slightly different from concept mapping in that the mind mapping process starts

with topic at the center of the graphic. Berdasarkan kutipan diatas diketahui

bahwa mind mapping digunakan untuk menyusun konsep dengan saling

menghubungkan konsep yan terkait dengan bentuk map adalah oval atau dalam

berbagai bentuk lainnya kemudian dihubungkan dengan garis dari konsep satu ke

konsep lainnya. Selain itu mind mapping ternyata berbeda dengan peta konsep

dimana mind mapping diawali denga topik utama dari materi yang diajarkan.

(Karim & Syaiful, 2016) menyatakan bahwa hukum mind mapping

dirancang untuk membantu lebih cepat mendapatkan akses ke kecerdasan denga

memberkan teknik-telnik khusus yang otak kompatibel. Dengan mengikuti

hukum, ingatan dan kreativiitas akan sangat ditingkatkan.

(Sudarma, 2013) menyatakan bahwa kegunaan dan keunggulan mind mapping

menurutnya adalah berikut:

a. Kegunaan mind mapping

1. Mengumpulkan data yang hendak digunkan untuk berbagai keperluan

secra sistematis

2. Mengembangkan dan menganalisis ide atau pengetahuan seperti yang

biasa diakukan pada saat proses

3. Memudahkan untuk melihat kembali sekaligus mengulang ide dan gagasan

4. Menyeleksi informasi berdasarkan sesuatu yang dianggap penting dan

sesuai dengan tujuan


5. Mempercepat dan menambah pemahaman pada saat pembelajaran karena

dapat melihat keterkaitan antar topik yang satu dengan yang lain

b. Keunggulan mind mapping

1. Menigkatkan kinerja manajemen pengetahuan

2. Memaksimalkan sistem kerja otak

3. Dapat melihat sejumlah besar data dengan mudah

4. Memacu kreativitas, sederhana dan muda dikerjakan (Yakin, 2016)

(Buzan, 2008) juga menyebutkan bahwa mind mapping dapat membantu kita

untuk, merencana, berkomunikasi, menjadi lebih kreatif, menghemat waktu,

menyelesaikan masalah, memustkan perhatian, menyusun dan menjelaskan

pikiran-pikiran, mengingat dengan lebih baik, belajar lebih cepat dan efisien,

mlihat gambar keseluruhan.

(Karim & Syaiful, 2016) implementasi mind mapping dalam kegaiatan

pembelajaran dapat dilaksanakan dengan menampilkan mind mapping buatan

guru, meminta peserta didik untuk memecahkan permasalahan ynag diberikan

dengan membuat mind mapping ataupun dengan pendekatan atau model

pembelajaran. Implementasi mind mapping dalam kegiatan pembelajaran dapat

menumbuhka karakter positif, diantaranya adalah kemadirian, kerja kerjas,

bertanggung jawab, percaya diri, jujur, berpikir kritis dan kreatif sebagaimana

tujuan kurikulum tahun 2013 berbasis pendidikan karakter.

3. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan salah satu indikator ynag menjadi acuan untuk

mengukur keberhasilan proses pembelajaran. Adanya peningkatan hasil belajar

menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan telah berhasil mencapai


tujuan pembelajaran. Berhasil atau tidaknya proses belajar menagajar dapat dilihat

dari hasil belajarnya. Hasil dari proses belajar tersebut dinilai melai evaluasi.

Menurut (Dimyati, 2013) ‘hasil belajar adalah hasil dari suatu intraksi tindak

belajar dan tindak mengajar’. Menurut (Haris & Jihad, 2013) hasil belajar adalah

perubaha tingkah laku sisw asecara nyata setelah dilakukan proses belajar

mengajar yang sesuai dengan tjuan pengajaran.

Klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom dalam (Kurniawan, 2014)

yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu: (1) ranah kognitif,

(2) ranah afektif, (3) ranah psikomotorik. Klasifikasi kemampuan kognitif

menurut Bloom adalah sebagai berikut: (1) pengetahuan (2) pemahaman (3)

penerapan (3) penerapan (4) analisis (5) sinttesis (6) evaluasi.

Selanjutnya (Rusman, 2010) menyebutkan bahwa penilaian yang

dilakukan guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat penacapaian

kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan

kemajuan hasil belajar, dan memperbaiaki proses belajar.

4. Kemampuan Berpikir Kreatif

Kreativitas berasal dari kata to create yang berarti membuat. Dengan lain

kata, kreativitas adalah kebisaan seseorang untuk menciptakan sesutu, apakah itu

dalam bentuk ide, langkah atau produk (Sudarma, 2013). Kreativitas dapat

didefinisikan sebagai proses untuk menghasilkan sesuatu yan baru dari elemen-

elemen yang ada dengan menyusun kembali elemen tersebut. Kreativitas terkait

dengan tiga komponen utama yakni: kemampuan berpikr kreatif,

keahlian(pengetahuan teknis, prosedural, dan intelektual), dan motivasi.


Kemampuan berpikir kreatif untuk memecahkan masalah ditunjukkan dengan

pengajuan ide yang berbeda dengan solusi pada umumnya (Sani, 2014)

Munandar 1992 dalam (Putri & Miralis, 2015) menyatakan bahwa

kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menemukan banyak

kemungkinan jawaban trhadap permasalahan yang ada berdasarkan data atau

informasi. Ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif secara operasional dapat diusukan

sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, orisinalitas

dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi(memperkaya, meperinci,

dan mengembangkan) suatu gagasan.

Kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat

bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan

bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam

pendidikan. Disekolah yang terutama dialtih adalah penerimaan pengetahuan,

ingatan, dan penalaran (berpikir logis) (Munandar, 2014).

Metode paling tepat untuk metode paling tepat untuk menilai kreativitas

siswa, namun gur juga dapat menggunakan tes tertentu. Cropley mengemukakan

beberapa kriteria pertanyaan terbuak(open ended) untuk mengukur kemampuan

berpikir konvergen dan divergen, yaitu: 1) kemahiran(kuatitas jawaban);

2)nfleksibelitas(keragaman kategori ide dalam jawaban); 3) keaslian atau

orisinalitas (jawaban yang tidak umum); 4)elaborasi (kompleksitas dan

kelengkapan jawaban) dan efektivitas(hubungan keterbasan dunia nyata) (Sani,

2014)

Penelitian tentang produk kreatif di indonesia telah dilakukan penulis pada

tahun 1977 yang menghasilkan suatu system penilaian kreativitas siswa dalam
menagrang. Kriteria penilaian kreatif berkaiatan dengan aspek aspek berpikir

kreatif yaitu kelancaran kelenturan, orisialitas, dan kerincian (elaborasi).

Tabel 2.1 Aspek Aspek Kemampuan Berpikir Kreatif

Perilaku Arti
Berpikir lancar -Menghasilkan banyakk
gagasan/jawaban yan relevan
-arus pemikiran lancar
Berpikir luwes Menghasilkan gagasan gagasan yang
seragam
-mampu mengubah cara atau pendekatan
-arah pemikiran yang berbeda
Berpikir orisinal -Memberikan jawaban yang tidak lazim,
yang lain dari yang lain, yang jarang
diberikan kebanyakan orang
Berpikir terinci(elaborasi) -Mengembagkan, menambah,
memperkaya suatu gagasan
-Memperinci detail-detail
-Memperluas suatu gagasan
(Munandar, 2014)

5. Model Pembelajaran Problem Based Learning

Proses pembelajaran tidak terlepas oleh model pembelajaran yang

digunakan oleh guru. Model pembelajaran adalah landasan prsktik didepan kelas

hasil penurunan teori psikologi dan teori belajar. Model pembelajaran dirancang

berdasarkan proses analisis potensi siswa, daya dukung dan keterkaitam dengan

lingkungan dalam implementasi kurikulum (Rohman, 2007).

Sama halnya dengan pendapat ahli diatas, menurut (Aqib & Murtadlo,

2016) model pembelajaran adalah bentuk pembelajarn yang tergambar dari awal

sampai akhir yang disjaikan secara khas oleh pendidik dikelas. Berdasarkan

uraian diatas model pembelajaran adalah kernagka konseptual yang

menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman

belajar.
Salah satu model pembelajaran adalah model pembelajaran problem based

learninh. Menurut Arends dalam (Rerung, Sinon, & Widyaningsih, 2017) PBL

adalah pembelajaran yang memiliki esensi berupa penyuguhan berbagai masalah

yang auntetik dan bermakna kepada peserta didik yang dapat berfungsi sebagai

sarana untuk melakuan investigasi dan penyelidikan. Di awal pembelajaran

peserta didik diberi permasalahan terlebih dahulu selanjutnya masalah tersebut

diinvestigasi dan dianalisis untuk mencari solusinya. Jadi peran guru dalam

pembelajaran adaah memberikan berbagai masalah, pertanyaan, dan memberian

fasilitas terhadap penyelidikan peserta didik.

Duch dalam (Riyanto, 2010) menyatatkan bahwa pembelajaran berbasis

masalah (problem based learning) adalah suatu moel pembelajaran yang

menghadapkan peserta didik pada tantangan belajar untuk belajar. Siswa aktif

bekerja sama didalam kelompok untuk mencari solusi permasalahan dunia nyata.

Permasalahan ini sebagai acuan bagi peserta didik untuk merumuskan,

menganalisis dan memecahkannya. Lebih lanjut Dutch menyatakan bahwa model

ini dimakasudkan untuk mengembangkan siswa berpikir kritis, analitis dan untuk

menemukan serta menggunakan sumber daya yang sesuai untuk belajar.


Sinttaks model PBL telah dirumuskan secra beragam oleh beberapa ahli

pembelajaran. Sinttaks PBL berikut merupakan sinttaks hasil pengembangan yang

dilakukan atas sinttaks terdahulu. sinttaks PBL hasil pengembangan tersebut

disajikan dalam sebagai Gambar 2.1 berikut

fase 2:
pembelajaran fase 1: menemukan membangun
masalah struktur kerja
Gambar 2.1 langkah-langkah PBL

fase 3: fase 4: fase 5:


menetapkan mengumplkan dan merumuska n
masalah berbagi informasi solusi

fase 6: fase 7: pasca


menetukan menyajikan pembelajaran
solusi terbaik solusi

Dari gambar yang ada diatas, bisa dideskripsikan tahapan model PBL :

a. prapembelajaran: yang dilakukan guru di saat belum pada tahap initi

dimulai. pada tahap ini guru merancang memppersiapkan media dan

sumber belajar, mengorganisasikan siswa dan menjelaskan prosedur

pembelajaran.
b. fase 1: menemukan masalah

pada tahap ini siswa membaca asalah yang disajikan guru secra individu.

berdasarkan hasil membaca siswa menuliskan berbagai informasi penting

menemukan hal yang dianggap sebagai masalah, dan meneukan

pentingnya masalah tersebut bagi dirinya sendiri secara individu. Tugas

guru pada tahap ini adalah memotivasi siswa untuk mampu menemukan

masalah

c. fase 2: membangun struktur kerja

pada tahap ini siswa secara individu membangun struktur kerja yang akan

dilakukan dalam menyelesaikan masalah. Upaya membangun struktur

kerja diawali dengna aktivitas siswa mengungkapkan apa yang mereka

ketahui tentang masalah, apa yang ingin diketahui dari masalah, dan ide

apa yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah. Hal terakhir yang

harus siswa lakukan adalah merumuskan rencana aksi akan dilakukan

dalam menyelesaikan masalah. Tugas guru pada tahp ini adalah

memberikan kesadaran akan pentingnya rencana akasi untuk memecahkan

masalah.

d. fase 3: menetapkan masalah

pada tahap ini siswa menetapkan masalah yang dianggap paling penting

atau masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata. Masalah

tersebut selanjutnya dikemas dalam bentuk pertanyaan menjadi sebuah

rumusan masalah. Bentik rumusan masalah berisi masalah utama apa yang

ada dan bagaimana memecahkannya. Tugas guru pada tahap ini adalah
mendorong siswa untuk menemukan masalah utama dan membantu siswa

menyusun rumusan masalah.

e. fase 4: mengumpulkan informasi

dilakukan kegiatan pengumpulan data dengan kegiatan-kegiatan penelitian

atau kegiatan sejenisnya lainnya. Berdasarkan informasi yang telah siswa

peroleh secara individu, selanjutnya siswa membagi informasi tersebut

dengan temannya dalam kelompok yang telah ditentukan

f. fase 5: merumuskan solusi

siswa secara berkelompok mencoba melakukan merumuskan solusi terbaik

bagi menyelesaikan masalah yang dihadapi. proses perumusan solusi

dilakukan dengan kooperatif dengan menekankan komunikasi efektif

kelompok. Semua solusi yang memungkinkan dituliskan oleh masing-

masing team kelompok dan kemudian di tampung oleh seorang siswa yang

di pilih dalam kelompok. Tugas guru adalah memastikan proses kelompok

terjadi secara kolaboratuf, kooperatif dan komunikatif.

g. fase 6: menentukan solusi terbaik

pada tahap ini siswa menimbang kemabali sebagai solusi yang dihasilkan

dan mulai memilih beberapa solusi yang diamggap paling ttepat untuk

menyelesaikan masala. tugas guru adalah meyakinkan siswa interestingnya

mengkaji ulang dan mempertimbangkan kefektifan pemecahan yang

sudah diperoleh pada tahap pascanya.

h. fase 7

perwakilan siswa tiap kelompok memaparkan hasil kerjanya. pemaparan

dilanjutkan dengan diskusi kelas dengan dimodetari dan fasilitatori oleh


guru. pada tahap ini juga melakukan penilaian terhadap performa atau

produk yang dihasilkan oleh siswa.

i. pasca pembelajaran

pada tahap ini guru membahas kembali masalah dan solusi alternatif

yangbisa digunakan untuk memecahkan masalah tesebut. Dalam prosesnya

guru membandingkan atara solusi satu dengan solusi lainnya hasil

pemikiran siswa atau juga dibandingkan dengan solusi secara teoritis yng

telah ada (Abidin, 2016).

B. Penelitian Yang Relevan

1. (Putri & Miralis, 2015) dalam penelitiannya yang berjudul

“Pengembangan Lembar Kerja Siwa Berbasis Mind Mapping Untuk

Meningktakan Kemampuan Berpikir Kreatif Untuk Kelas XI SMA”

menunjukkan bawa kelayakan LKPD didasarkan pada kriteria materi,

penyajian, kaebahasaan dan kesesuaian dengan komponen mind mapping

memperoleh rata-rata peresentase berturut-turut 88,89%, 93,67% dan

96,67%.LKPD dapat melatihkan kemapuan berpikir kreatif siswa dengan

dipenuhinya aspek kelancaran, keluwesan dan orisinalitas

C. Kerangka Berpikir

Salah satu bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajran adlah

lembar kerja peserta didik (LKPD). Umumnya lembar kerja peserta didik yang

digunakan masih monoton dan memiliki banyak kekurangan antara lain: kurang

lengkap dari segi materi, banyak materi kurang bisa dipahami,. Oleh karena itu

dibutuhkan suatu inovasi dalam pembuatan LKPD. LKPD pembelajaran fisika ini

diharapkan dapat membantu


siswa dalam belajar. Dengan mind map pula diharapkan dapat

meningkatkan kreatifitasnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Penelitian terhadap produk yang telah


ada
Penelitian
Pengumpulan data

Perencanaan pengembangan produk

Pengujian internal produk rancangan


produk

Revisi desain

Pembuatan produk

Uji Lap. Awal

Pengembangan
Revisi produk 1

Uji. Lap. utama

Revisi produk 2

LKPD Final

Gambar 2. 2 Kerangka Berpikir


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Peneltian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Menurut (Sugiyono,

2017) metode penelitian pengembangan atau dalam bahasa inggrisnya research

and development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan

produk tertentu dan menguji kefekifan prosuk tertentu.

Langkah-langkah dalam penelitian pengembngan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1 Langkah-Langkah Metode Research And Development

B. Tahap Penelitian

1. Tempat Penelitian

tempat penelitian yang diteliti di SMA Sintt Carolus kota Bengkulu.

2. Sampel Sumber Data Penelitian

Sampel sumber data penelitian adalah siswa kelas X IPA SMA Sintt

Carolus kota Bengkulu

3. Pengumpulan Informasi

Pengumpulan sumber data dengan wawancara digunakan sebagai teknik

pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan


untuk menemukan permasalahan dan potensi yang harus diteliti

(Sugiyono, 2017). Tujuan dari wawancara ini adalah mendapatkan data

analaisis kebutuhan secara langsung, mengetahui proses pembelajaran

fisika didalam kelas. Wawancara tak berstruktur dilakukan deengan guru

mata pelajaran fisika kelas X dan siswa SMA Sintt Carolus kota Bengkulu.

berdasarkan hasil wawancara tersebut adapun identifiskasi masalah dan

pengumpulan infomsi yang diambil di SMA Sintt Carolus kota Bengkulu

berikut:

a. Identifikasi Masalah

Identifikasi maslah dilakukan dengan melakukan observasi ke SMA Sintt

Carolus terhadap pelaksanaan pembelajan fisika dan masalah yang terjadi.

Fakta yang ditemukan disekolah memperlihatkan bahwa pembelajaran

masih bersifat konvensional dan mengunakan bahn ajar berupa LKPD

biasa.

b. Informasi

Berdasarkan hasil wawancara yang menyebabkan rendahnya hasil belajar

dan kemampuan berpikir kreatif siswa adalah slah satunya menggunkaan

bahanajar berupa LKPD ynag biasa(belum maksimal dalam meningkatkan

kemampuan berpikir kreatif), maka diperlukan LKPD yang berbeda

dengan yang sebelumnya dengan mengembangkan bahan ajar yang sudah

ada yaitu LKPD pembelajaran fisika yang dikombinasikan dengan teknik

mind mapping.
C. Rancangan produk

Pengujian Internal Produk

Pengujian internal produk dilakukan terhadap rancangan LKPD. Pengujian

dilakukan berdasarkan pendapat para ahli terhaap rancangan LKPD. Validasi

desain oleh ahli dilakukan dengan penilaian terhadap komponen kelayakan,

penyajian dan komponen kelayakan bahasa. Validasi dilakukan oleh ahli yaitu

dosen. Pengambilan data penilaian dengan teknik angket. Adapun kisi-kisi

instrument angket validasi terdapat pada tabel beikut:

Tabel 3. 1 Kisi-Kisi Instrumen Validasi LKPD Pembelajaran Fisika

Aspek Subaspek Indikator


Kelengkapan materi 1. Mencakup materi yang ada di kurikulum
yang berlaku (sesuai SK dan KD)
Keseuaian dengan RPP 2. Terdapat kesesuaian anatara tujuan
pembelajaran, RPP dan tujuan di LKPD
Kebenaran konsep 3. Kesesuaian konsep dalam LKPD dengan
konsep yang dikemukakan para ahli
Isi
4. Aplikasi konstektual dalam kehidupan
nyata
Kegiatan yang 5. Soal analisis pertanyaan dilengkapi kunci
mendukung materi soal penyelesaian dan pembahasan
6.kebermanfaatan untuk menambah
wawasan pengetahuan
Isi LKPD dapat 7. Pertanyaan analisis dan kesimpulan dapat
meningkatkan hasil mengarahkan siswa menemukan konsep,
Penyajian belajar siswa dan serta mind mapping dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kemampuan berpikir kreatif siswa
kretaif siswa
Penggunaan notasi 8. Notasi, symbol dan satuan yang terdapat
simbol dan satuan dalam isi LKPD sesuai dengan acuan
sistem internasional (SI)
kebahasaan Bahasa yang Indonesia Menggunakan bahasa Indonesia yang baik
yang baik dan benar dan benar
10. Bahasa yang digunakan sederhana,
lugas dan mudah dipahami siswa
Kejelasan bahasa 11. Bahasa yang digunakan komunikatif
D. Tahap Pengembangan

1. Pembuatan Produk

Setelah LKPD dilakukan pengujian internal sehingga divalidasi oleh para

ahli,maka akan diketahui kelemahan atau kekurangan didalamnya. Kemudian

dilakukan revisi terhadap kelemahan dan kekurangan yan terdapat dalam LKPD

setelah itu dibuatlah produk LKPD.

2. Uji Lapangan Awal

a. Desain Uji Lapangan Awal

Desain uji lapangan awal menggunakan one group pretest-postets design

yang dapat digambarkan seperti gambar berikut:

U1 L U2

Dengan :

U1: Respo siswi oleh LKPD pembelajaran fisika yang lama

L: treatment penggunaan LKPD pembelajran fisika yang baru

U2: Respon siswa oleh LKPD pembelajaran fisika yang baru

b. Sampel

Sampel uji coba LKPD pembelajaran fisika akan dilakukan kepada 10

orang peserta didik. Uji ini digunkan untuk melihat respon siswa mengenai

LKPD pembelajaran fisika.

c. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu, dengan lembar angket.

angket pendapat siswa dalam bentuk skala likert, dimana responden akan

memberi jawaban salh satu jawaban kualitatif yang mempunyai gradasi dari
sangat positif menjadi sangat negatif (Sugiyono, 2017). angket siswa

menggunakan lima pilihan jawaban seperti teretera pada tabel

Tabel 3.2 Skala Likert

Pilihan jawaban Skor


Sangat buruk 2
Buruk 2
Sedang 3
Baik 4
Sangat baik 5

d. Istrumen Pengumpulan Data

Instrument pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data

pada uji lapangan awal menggunakan lembar angket.

Tabel 3. 3 Kisi-Kisi Lembar Angket Respon Siswa Untuk LKPD

ASPEK DESKRIPTOR INDIKATOR


Tujuan pembelajaran Kemampuan siswa Saya merasa tujuan
memahami tujuan penelitian dalam LKPD
pembelajaran dalm LKPD sudah cukup baik
Kemampuan LKPD untuk Saya merasa tertarik
membantu siswa mencapai menemukan tujuan
tujuan pembelajara penelitian dalam LKPD
Tes Tes yang diberikan sesuai Saya mampu mengerti
dengan apa yang telah dengan baik maksud
dilakukan didalam LKPD pertanyaan dalam tes
tersebut
Pengembangan LKPD LKPD membantu siswa Saya merasa instruksi dan
untuk melakuan pertanyaan dapat
pengembangan membimbing saya
knmampuan diri mengembangkan diri
LKPD mampu membuat Saya dapat memaknai
siswa memaknai poses pentingya belajar dengan
belajar menggunakan LKPD ini
LKPD mendorong rasa Saya merasa, instruksi
ingin tahu siswa dalam LKPD mendorong
srasa ingin tahu
Keterbacaan Prosedur kerja yang Bagi saya, prosedur kerja
disajiakan dalam LKPD yang disajiakn sudah cukup
dianggap jelas jelas
e. Analisis data

Hasil analisis oleh ahli pada lembar validasi dicari rata-rata dengan

menggunakan rumus:

∑ 𝑛 ̅
𝑃𝑖
𝑉̅ = 𝑖=1
𝑛

Keterangan:

V = skor rata- rata validasi

Pi= skor rata-rata peserta didik ke-i

n = banyak peserta didik (Sudjana, 2011).

Skor rata-rata yang diperoleh kemudian dikonversi menjadi nilai kualitatif dengan
kriteria
Tabel 3. 4Kriteria Penilaian Pengembangan Produk

No. Rentang skor (i) Kuantitatif Kriteria Kualitatif


1 𝑥̅ > Mi + 1.8 SBi Sangat Baik
2 Mi +0.6 SBi < 𝑥̅ ≤ Mi + 1.8 SBi Baik
3 Mi -0.6 SBi < 𝑥̅ ≤ Mi + 0.6 SBi Cukup Baik
4 Mi -1.8 SBi < 𝑥̅ ≤ Mi -0.6 SBi Kurang
5 X≤ Mi -1.8 Sbi Sangat Kurang

Keterangan:

Mi = rerata ideal = ½ (skor tertinggi ideal + skor terendah ideal)

SBi= simpangan baku ideal = 1/6 (skor tertinggi ideal – skor terendah ideal)

(Widoyoko, 2011)

3. Uji Lapangan Utama

a. Desain Uji Lapangan Utama

U1 L U2

Dengan :

U1: hasil belajar pada LKPD pembelajaran fisika yang lama

L: treatment penggunaan LKPD pembelajran fisika yang baru


U2: hasil belajar pada LKPD pembelajaran fisika yang baru

b. Sampel

Sampel uji coba lapangan utama adalah kelas X IPA SMA Sintt Carolus

kota Bengkulu.

c. Teknik Pengumpulan Data

Data efektifitas terbagi menjadi dua yaitu:

1) mengukur hasil belajar

Data ini diperoleh melalui lembar tes.

2) mengukur kemampuan berpikir kreatif

Data ini diperoleh dari lembar tes mind mapping yang diberikan kepada

siswa.

d. Instrument

Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal-

soal pretest-postest. Tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa

terhadap materi yang diberikan. Bentuk tes yang diguakan adalah tes uraian atau

tes esay. Berikut kisi-kisi soal tes hasil belajar yang dapat dilihat pada Tabel 3.5

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Aspek Pengetahuan

Sub konsep Indikator Jumlah soal


C2 C3 C4 Jumlah
Mata 1. Menjeaskan bagian mata dan 1
fungsinya
2. Menganalisis prinsip kerja
optika mata 1
3. Menggunakan persamaan
tentang optika geometris 2
untuk menyelesaikan 5
masalah yang berhubungan
dengan optika mata
4. Mengidentifikasi pengaruh
cacat mata pada manusia 1
2. Kalibrasi Instrumen Penelitian

Sebelum digunakan, soal tes untuk prestasi belajar dan soal tes untuk hasil

belajar ranah pengetahuan dinilai terlebih dahulu oleh 2 orang ahli. Penilaian ini

dilakukan olaeh satu orang guru dan satu orang dosen. Setelah soal tes dinilai oleh

tim ahli, instrumen tes kemudian diperbaiki dan dikonsultasikan kepada

pembimbing. Hasil perbaikan kemudian diuji coba ke lapangan. Uji coba

dilakukan untuk menentukan validitas soal, reliabilitas soal, tingkat kesukaran

soal dan daya pembeda soal.

a. Uji Validitas

Suatu tes dikatakan valid jika mengukur apa yang sebenarnya akan diukur

(Sugiyono, 2008)Untuk menentukan validitas instrumen soal yang berbentuk

essay, maka perhitungan validitas dilakukan dengan rumus korelasi produk

momen dengan persamaan 3.1

𝑁𝛴𝑋𝑌−(𝛴𝑋)(𝛴𝑌)
rxy= (3.1)
√{𝑁𝛴𝑋 2 −(𝛴𝑋)2 }{𝑁𝛴𝑌 2 −(𝛴𝑌)2}

keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y

N= banyaknya peserta tes

X= skor item butir soal

Y= jumlah skor total tiap soal

Dasar pengambilan keputusan adalah apabila rxy > r tabel dengan taraf

signifikansi (a)= 95%, maka instrumen tes dinyatakan valid. Sebaiknya, apabila

rxy < r tabel dengan taraf signifikansi (a)= 95%,, maka instrumen tes dinyatakan

tidak valid. Interpretasi terhadap nilai koefisien korelasi rxy ditunjukan oleh tabel

berikut:
Tabel 3.6 Interpretasi Terhadap Nilai Koefisien Korelasi Rxy

Nilai koefisien korelasi rxy Interpretasi


0,80< rxy 1,00 Sangat tinggi
0,60< rxy ≤ 0,80 Tinggi
0,40 < rxy ≤ 0,60 Cukup
0,20 < rxy ≤0,40 Rendah
rxy ≤ 0,20 Sangat rendah

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas soal merupakan ukuran yang menyatakan tingkat keajegan

atau kekonsistenan suatu soal tes. Untuk menguji reliabilitas instrumen tes dalam

penelitian ini digunakan rumus alpha, karena soal berbentuk essay, dengan

persamaan 3.2

𝑛 𝑠𝑖 2 (3.2)
r 11= (𝑛−1)(1 − 𝑠𝑡 2 )

keterangan :

r 11 = reliabilitas tes yang dicari

𝑠𝑖 2 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟

𝑠𝑡 2 = 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

n= banyaknya butir soal

(Arikunto, 2009)

Dasar pengambilan keputusan untuk uji reliabilitas, jika r11>rtabel dengan

taraf signifikansi (a) = 95%, maka instrumen tes dinyatakan reliabel. Sebaliknya,

apabila r11 < r tabel dengan taraf signifikansi (a)= 95%,, maka instrumen tes

dinyatakan tidak reliabel.


Tabel 3.7Tabel Interpretasi Nilai r11

Nilai r11 Interpretasi


r11≤ 0,20 Sangat rendah
0,20 < r11 0,40 Rendah
0,40 < r11 0,70 Sedang
0,70 < r11 0,90 Tinggi
0,90< r11 1,00 Sangat tinggi
(Haris & Jihad, 2013)

c. Tingkat Kesukaran

Untuk menghitung tingkat kesukaran tiap butir soal digunakan persamaan

persamaan 3.3 berikut :


𝑆𝐴+𝑆𝐵
TK= 𝑛.𝑚𝑎𝑘𝑠

Keterangan:
TK = tingkat kesukaran soal (3.3)

SA = jumlah skor kelompok atas


SB = jumlah skor kelompok bawah
Maks = skor maksimal soal yang bersangkutan
N = jumlah siswa kelompok atas dan kelompok bawah
Jika banyaknya siswa yang dilibatkan dalam tes lebih dari 30 orang, maka

diambil masing- masing sebanyak 27% dari kelompok atas dan kelompok bawah.

Tetapi, jika paling banyak 30 orang maka diambil masing- masing sebanyak 50%.

Interpretasi tingkat kesukaran butir soal ditunjukan oleh Tabel 3.8 dibawah ini:

Tabel 3.8Tabel Interpretasi Tingkat Kesukaran

Nilai tingkat kesukaran Kriteria


0,00-0,30 Sukar
0,31-0,70 Sedang
0,71-1,00 Mudah
d. Daya Pembeda Butir Soal

untuk membedakan antara siswa berkemampuan tinggi dengan siswa

berkemampuan rendah. Untuk perhitungan daya pembeda, langkah-langkah

berikut:

1) siswa diurutkan dengan peringkat pada sebuah kolom tabel

2) Dibuat kelompok siswa dalam 2 kelompok yaitu, kelompok atas

tersusun dari 50% dari keseluruhan siswa yang mendapatkan skor

bagus dan kelompok bawah yang tersusun atas 50 % dari seluruh

siswa yang mendapatkan skor jelek.

Daya pembeda soal bisa diakumulasikan dengan persamaan 3. 4 berikut :


𝑆𝐴−𝑆𝐵
DP = 1 (3.4)
𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠
2

Keterangan:
DP = daya pembeda soal uraiian
SA = jumlah skor kelompok ata pada butir soal yang diolah
SB = jumlah skor kelompok bawah pada buti soal yang diolah
maks = skor maksimal soal yang bersankutan
n = jumlah siswa kelompok atas dan kelompok bawah

Interpretasi daya pembeda soal ditunjukan dalam Tabel 3.9 berikut:

Tabel 3.9 Tabel Interpretasi Daya Pembeda Soal

Indeks daya pembeda Interpretasi


0,40 atau lebih Sangat baik, diterima
0,30-0,39 Cukup baik
0,20-0,29 Minimum, perlu diperbaiki
0,19 kebawah Jelek, ditolak
(Haris & Jihad, 2013)
e. Analisis Data.

1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis yang menggambarkan suatu info yang

akan dibuat, baik sendiri maupun berkelompok. Menurut (Sugiyono, 2008)

analisis deskriptif dilakukan untuk mengolah data dengan langkah menjelaskan

atau mencerminkan info yang sudah dikumpulkan sebagaiman ada tanpa termasuk

menciptakan kesimpulan yang berlaku untuk umum. Termasuk kedalam analisis

deskriptif antara lain adalah penyajian nilai dalam tabel, grafik, perhitungan range,

skor minimum, skor maksimum, rata- rata (mean), varian, standar deviasi. Dalam

penelitian ini, data yang akan dianalisis yaitu data berdasarkan perolehan hasil

belajar

a. Nilai rata- rata (mean)

Perhitungan rata-rata (mean) adalah dengan cara menunjukan semua nilai

data dari tes difine dengan banyaknya data, dengan persamaan 3. 5


𝛴𝑋
X= (3.5)
𝑁

Keterangan :
𝛴𝑋 = jumlah nilai keseluruhan siswa
𝑁 = jumlah siswa
X = 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎

b. Standar Deviasi

Standar deviasi adalah suatu nilai yang memperlihatkan tingkat variasi

kelompok atau nilaian standar penyimpangan dari reratanya.

Standar deviasi bisa didapat dengan menggunakan persamaan 3. 6:

√𝑛𝛴𝑥𝑖 2 −(𝛴𝑥𝑖)2
S= (3.6)
𝑛(𝑛−1)
Keterangan:

n = jumlah siswa

𝛴𝑥𝑖 2 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎


𝛴𝑥𝑖 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑢𝑎𝑑𝑟𝑎𝑡 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
S = standar deviasi
2. Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa

Postest digunakan untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa.

Siswa mengerjakan mind mapping yang dinilai berdasarkan kesesuaian dengan

perilaku mind mapping. Siswa bisa dibilang kreatif apabila bisa menghasilkan

mind mapping dengan standar baik.

Tabel 3.10 perjenjangan Berpikir Kretif

Kategori mind mapping Karakteristik kemampuan Tingkat kemampuan


berpikir kreatif berpikir kreati
Sangat baik Kelancaran, orisinalitas, Sangat kreatif
keluwesan, elaborasi
Baik Kelancaran, orisinalitas, Kreatif
keluwesan
Cukup baik Orisinalitas atau keluwesan Cukup kreatif
Kurang baik Kelancaran Kurang kreatif
Tidak baik Tidak ada komponen Tidak kreatif
berpikir kreatif

Adapun indikator kemampuan berpikir kreatif dengan mind mapping dapat

dilihat pada tabel

Tabel 3.11indikator Kemampuan Berpikir Kreatif Pada Mind Mapping

Pengertian indikator kemampuan berpikir Perilaku


kreatif
Lancar: menciptakan banyak gagasan Mampu menuangkan ide yaitu dengan
jawaban, atau pertanyaan memberikan menemukan kata kunci dari materi yang
banak cara atau saran untuk melakukan saling berkaitan satu sama
berbagai hal, selalu memikirkan lebih dari lain(connection) : jenis cabang lebih tebal
satu jawaban daripada ranting serta bentu cabang
berupa garisnmelengkung dan panjang,
sesuai dengan aturan pembuatan mind
Pengertian indikator kemampuan berpikir Perilaku
kreatif
mapping, siswa juga dapat dengan lancar
menghubungkan kata kunci satu dengan
gagasan utama berada ditengah yang
kemudian dihubungkan denga cabang-
cabang yang sesuai dengan mater, setiap
cabang mempunyai kata kunci
Luwea: menghasilkan gagasan, jawaban Menyampaikan idenya dengan cara
atau pertanyaan yang bervaariasi, dapat mendapatkan keyword yang tidak terdapat
melihat suatu masalah dari sudut pandang dalam bacaan yang diberikan tetapi masih
ynag berbeda-beda, mencari banyak berkesinambungan dengan materi, serta
alternatif atau arah yang berbeda-beda, dilihat dari keanekaragaman produk yaitu,
mampu mengubah cara pendekatan atau penggunaan warna. Warna setiap cabang
cara pemikiran. berbeda-beda dan warna pada ranting
cabang sama dengan warna cabang.
Semakin banyak warna yang digunakan
maka produk yang diciptakan akan
semakin bervariasi
Orisinil: mampu melathirkan ungkapan Desain yang dibuat merupakan sesuatu
yang baru dan uniik, memikirkan langkah yang baru dan berbeda antara siswa
yang tidak lazim untuk mengungkapkan yangsatu dengan yang lain, semua produk
diri, bisa menciptakan campuran yang yang dihasilkan merupakan produk asli
tidak familiar dari bagian bagian atau yang dihsilkan dari kreativitas, masing-
unsur-unsur masing siswa sehingga tiap produk
memiliki kenikan tersendiri. Keunikan
produk dapat dilihat dari bentuk mind
mapping yang dihasilkan
Elaborasi: bisa memperluas dan Mempunyai rasa keindahan yang kuat,
mengembangkan susatu gagasan atau sehingga tidak puas dengan penampilan
produk, menambah atau merinci dtail- yang kosong atau sederhana. Siswa
detail dari suatu objek, gagasan atau melengkapi desain mind mapping yang
situasi mnjadi lebih menarik dibuat dengan menambah garis-garis,
warna-warna dan detail-detail(bagian-
bagian) terhadap gambarnya sendiri

3.Analisis Inferensial

analisis inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk

menganalisi data sampel dan hasillnya diberlakukan untuk populasi. Sebelum

dilakukan analisi inferensial, terlebih dahulu kelas dilakukan uji normlitas dan uji

homogentas. Jika data terdistribusi normal dan homogen, selanjutnya dilakukan

uji hipotesis.
a. Uji Normalitas

Untuk mengetahui bahwa data yang diambil berawal dari populasi

berdistribusi norma digunakan rumus chi kuadrat ( chi square) untuk menguji

hipotesis. Ho: data bermula dari populasi terdistribusi normal dan Ha: data tidak

bermula dari poplasi yang terdistribusi normal.

Adapun langkah-langkah pengujian normalitas dengan chi square adalah

sebagai berikut:

1) Merangkum data seluruh variabel yang akan diuji normalitasnya

2) Menentukan jumlah kelas interval

3) Menentukan panjang kelas interval, dengan cara (data terbesar-data

terkecil) dibagi dengan jumlah kelas interval

4) Menyusun kedalam tabel distribusi frekuensi

5) Menghitung frekuensi yang diharapkan (fh) dengan cara mengalikan

persentase luas tiap bidang kurva normal dengan jumlah anggota

sampel

Memasukkan harga fh, kedalam tabel kolom fh , sekaligus menghitung

(𝐟𝐨−𝐟𝐡) 𝟐 (𝐟𝐨−𝐟𝐡) 𝟐
harga-harga (fo-fh) dan dan menjumlahkannya. Harga merupakan
𝒇𝒉 𝒇𝒉

harga chi square 𝑿𝟐𝒉 hitung. Secara matematis rumus chi kuadrat dapat ditulis

dalam persamaan 3. 7 berikut:

(𝑓𝑜−𝑓ℎ)2
𝑥 2 =Σ (3.7)
𝑓ℎ

Keterangan:

X2 = chi kuadrat hitung


fo = frekuensi pengamatan sampel

fh = frekuensi teoritik

Setelah dilakukan perhitungan, kemudian membandingkan X2 hitung dengan

nilai kritis X2 tabel. Apabila harga chi kuadrat hitung lebih kecil atau sama dengan

harga chi kuadrat tabel, 𝑋ℎ2 ≤ 𝑋𝑡2 , maka data dinyatakan berdistribusi normal,

dan bila sebaliknya maka data dinyatakan tidak normal (Sugiyono, 2008)

b. Uji Homogenitas

Apabila diketahui data berdistribusi normal, maka langkah selanjutnya

adalah melakukan uji homogenitas varians. Uji ini dilakukan dengan menghitung

statistik varians melalui perbandingan varians terbesar dengan varians terkecil

antara kedua kelompok kelas sampel. Uji homogenitas dapat ditentukan dengan

menggunakan persamaan 3.8 berikut :

𝑆12
F hitung = 𝑆22 (3.8)

Keterangan :

𝑆12 = 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟

𝑆22 = 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

Sampel dikatakan homogen apabila Fhitung lebih kecil daripada Ftabel

pada taraf signifikan (ά)= 5%. Secara matematis dapat ditulis Fhitung < Ftabel

pada derajat kebebasan adalah pembilang ( varians terbesar) dan penyebut (

varians terkecil)( Sudjana, 1996).

c. Uji Hipotesis

Analisis yang digunakan dalam pengolahan data penelitian ini yaitu

statistik parametrik. Untuk menentukan efektivitas penggunaan LKPD


pembelajarn fisika terhadap kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa

digunakan uji t, syarat penggunaan nya adalah data yang akan dianalisis

berdistribusi normal dan harus homogen. Uji t untuk mengetahui ada tidaknya

perbedaan prestasi belajar antara hasil pretest dan postest . Uji t dilakukan dengan

uji t terhadap rata- rata skor pretest dan postest.

Dalam penelitian ini syarat data yang diperoleh adalah data yang

berdistribusi normal dan homogen, maka untuk pengujian hipotesis digunakan uji

t (t- test). Uji t digunakan untuk mencari uji beda suatu hipotesis. Untuk penelitian

ini hipotesis awal yang diajukan ialah “ LKPD pembelajarn fisika untuk

meningkatakan kemampuan berpikir kreatif efektif” atau “LKPD pembelajarn

fisika untuk meningkatakan kemampuan berpikir kreatif tidak efektif.” Untuk

menguji hipotesis tersebut maka dilakukan uji perbedaan antara hasil belajar

(pretest) dengan hasil belajar postest. Sehingga rumus t- test yang digunakan

adalah persamaan 3. 9:

𝑥1−𝑥2
t= 2 2
(3.9)
√𝑠1 +𝑠2
𝑛1 𝑛2

(Sugiyono, 2008)
keterangan:
t= nilai t hitung
x1= nilai rata- rata kelompok 1
x2= nilai rata- rata kelompok 2
n1= jumlah sampel kelompok 1
n2= jumlah sampel kelompok 2
𝑠12 = 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘1
𝑠22 = 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 2
Kriteria pengambilan keputusan pada ujihipotesis dengan uji t adalah

jika t hitung lebih kecil dari ttabel (thitung < ttabel ), maka Ha diterima dan Ho ditolak

dengan signifikan derajat kepercayaan (ά) yang digunakan yaitu 5% atau

0,05.Ttabel didapatkan dari tabel distribusi t dengan dk = n1+n2- 2 apabila

varians postest kedua sampel homogen, dan dk= n1-1 apabila varians postest

tidak homogen. adapun hipotesis statistik yang digunakan yaitu:

H01 : µ1=µ2

Ha1 : µ1 ≠ µ2
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. (2016). Desain Sistem Pengembangan Pembelajaran Dalam Konteks
Kurikulum 2013. Bandung: Refika Aditama.
Aqib, Z., & Murtadlo, A. (2016). Kumpulan Metode Pembelajarn Kreatif Dan
Inovatif. Bandung: Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.
Arikunto, S. (2009). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Buzan, T. (2008). The Ultimate Book Of Mind Map. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Dimyati, M. (2013). Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Haris, A., & Jihad, A. (2013). Evaluasi Pembelajaran . Yogyakarta: Multi
Presindo.
Jones, B. D., Ruff, C., Synder, J. D., Petrich, B., & Koonce, C. (2012). The Effect
Of Mind Mapping Activities On Students Motivation. International
Journal For The Scholarship Of Teaching And Learning , 2.
Karim, D., & Syaiful. (2016). Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gramedia.
Kurniawan, D. (2014). Pembelajaran Terpadu Tematik. Bandung: Alfabeta.
Majid, A. (2007). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosada.
Munandar, U. (2014). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka
Cipta.
Murfiah, U. (2017). Pembelajaran Terpadu Teori Dan Praktik Terbaik Di
Sekolah. Bandung: Refika Aditama.
Nurdin, S., & Andriantoni. (2016). Kurikulum Dalam Pembelajaan. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Prastowo, A. (2013). Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Jogjakarta: Diva Press.
Putri, D., & Miralis. (2015). Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Mind
Mapping Pada Materi Laju Reaksi Untuk Melatihkan Ketrampilan Berpkir
Kreatif Siswa Kelas Xi Sma. Unesa Journal Of Chemical Education, 341.
Rerung, N., Sinon, I. L., & Widyaningsih, S. R. (2017). Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learning(Pbl) Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Peserta Didk Pada Maateri Usaha Dan Energi. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Fisika Al-Biruni, 3.
Riyanto, Y. (2010). Paradigma Baru Pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada
Media Group.
Rohman, C. (2007). Implementasi Life Skill Ktsp. Bandung: Maghni Sejahtera.
Rusman. (2010). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme
Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sani, R. A. (2014). Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum 2013.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sudarma, M. (2013). Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Sudjana, N. (2011). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Dan Pengembangan. Bandung: Alfabeta.
Wahyuni, S. L., Albertus, D., & Anggraini, R. (2016). Pengembangan Lembar
Kerja Siswa (Lks) Berbasis Keterampilan Proses Di Sman 4 Jember.
Journal Pengembangan Fisika, 351.
Widoyoko, E. (2011). Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
Yakin, A. (2016). Pengembangan Bahan Ajar Geografi Berbasis Mind Mapping
Pada Materi Dinamika Hidrosfer Untuk Kelas X Di SMA Negeri 1
Suguhwara Bojonegoro. Jurnal Pendidikan Geografi, 239.
LAMPIRAN
Rubric Angket Validasi LKPD

NO INDIKATOR KRITERIAN PENILAIAN LKPD


Aspek materi dan penyajian
1 Mencakup materi yang ada di kurikulum yang SB Jika isi LKPD pembelajaran fisika termasuk dalam bagian standar kompetensi dan
berlaku kompetensi dasar yang ada dikurikulum dan dapat digunakan dalam pembelajaran.
B Jika isi LKPD pembelajaran fisika termasuk dalam bagian standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang ada dikurikulum dan tidak dimasukkan dalam materi.
C Jika isi LKPD pembelajaran fisika termasuk dalam bagian standar kompetensi tetapi
tidak sesuai dengan kompetensi dasar yang ada dikurikulum dan tidak dimasukkan
dalam materi pembelajaran
K Jika isi LKPD pembelajaran fisika termasuk dalam bagian standar kompetensi tetapi
tidak sesuai dengan kompetensi dasar yang ada dikurikulum dan tidak dapat
dimasukkan dalam materi pembelajaran.
SK Jika isi LKPD pembelajaran fisika tidak termasuk dalam bagian standar kompetensi
maupun kompetensi dasar
2 Terdapat kesesuaian antara tujuan SB Jika semua poin pada tujuan pembelajarn di RPP yang sesuai dengan isi LKPD
pembelajaran di RPP dan lembar kegiatan B Jika sebagain besar(2-3) poin pada tujuan pembelajarn di RPP yang sesuai dengan isi
LKPD
C Jika 2 poin pada tujuan pembelajarn di RPP yang sesuai dengan isi LKPD
K Jika hanya 1 poin pada tujuan pembelajarn di RPP yang sesuai dengan isi LKPD
SK Jika tidak ada poin pada tujuan pembelajarn di RPP yang sesuai dengan isi LKPD
3 Kesesuaian konsep dalam LKPD dengan SB Jika semua konsep yang ada didaptakan melalui pengamatan sesuai dengan kkonsep
konsep yang dikemukakan ahli yang dikemukakan oleh para ahli fisika dan disertai pengembangan konsep pada buku
referensi dan buku ajar di sekolah
B Jika semua konsep yang ada didaptakan melalui pengamatan sesuai dengan konsep
yang dikemukakan oleh para ahli fisika dan disertai pengembangan konsep
C Jika semua konsep yang ada didaptakan melalui pengamatan sesuai dengan konsep
yang dikemukakan oleh para ahli fisika
K Jika semua konsep yang ada didaptakan melalui pengamatan sesuai dengan buku
NO INDIKATOR KRITERIAN PENILAIAN LKPD
Aspek materi dan penyajian
referensi dan buku ajar di sekolah
SK Jika semua konsep yang ada didaptakan melalui pengamatan tidak sesuai dengan
kkonsep yang dikemukakan oleh para ahli fisika dan disertai pengembangan konsep
pada buku referensi dan buku ajar di sekolah
4 Aplikasi konstektual dalam kehidupan nyata SB Konsep yang diperoleh dari LKPD dapat diaplikasikan atau diterapka dalam kehidupan
nyata
B Konsep yang diperoleh dari LKPD mendorog siswa untuk menerapkannya dalam
kehidupan nyata
C Konsep yang diperoleh dari LKPD hanya mamapu mendorong siswa untuk
menerapkannya dalam kehidupan nyata
K Konsep yang diperoleh dari LKPD hanya sebagian kecil saja yang dapat diaplikasikan
kehidupan nyata
SK Semua konsep yang diperoleh dari LKPD tidak ada yang bisa diaplikasikan atau
diterapka dalam kehidupan nyata
5 Penyajian gambar dapat diamati dengan jelas, SB Penyajian gambar pada LKPD sangat jelas, berwarna dan menarik
berwara dan menarik B Jika sebagian besar penyajian gambar pada LKPD jelas, berwarna dan tidak menarik
C Jika setengah penyajian gambar pada LKPD kurang jelas, berwarna dan menarik
K Jika hanya sebagian kecil penyajian gambar pada LKPD kurang jelas, tidak berwarna
dan menarik
SK Penyajian gambar pada LKPD tidak jelas,tidak berwarna dan tidak menarik
6 Kebermanfaatn untuk meambah wawasan SB Isi kegiatan,, iformasi dan pertanyaan yang ada pada LKPD bermanfaat menambah
pengetahuan pengetahuan pesert didik
B Isi kegiatan,, iformasi yang ada pada LKPD bermanfaat menambah pengetahuan
pesert didik
C Isi kegiatan dan pertanyaan yang ada pada LKPD bermanfaat menambah pengetahuan
pesert didik
K Isi kegiatan,, iformasi dan pertanyaan yang ada pada LKPD kurang bermanfaat
menambah pengetahuan pesert didik
NO INDIKATOR KRITERIAN PENILAIAN LKPD
Aspek materi dan penyajian
SK Isi kegiatan,, iformasi dan pertanyaan yang ada pada LKPD tidak bermanfaat
menambah pengetahuan pesert didik
7 Pertanyaa, pertanyaan analisis dan kesimpulan SB Pertanyaan, pertanyaan analisis dan kesimpulan pada LKPD dapat mengarahkan
dapat megarahkan peserta didk menemukan peserta didik menemukan konsep
konsep B Pertanyaan pada LKPD dapat mengarahkan peserta didik menemukan konsep
C pertanyaan analisis dan kesimpulan pada LKPD dapat mengarahkan peserta didik
menemukan konsep
K kesimpulan pada LKPD dapat mengarahkan peserta didik menemukan konsep
SK Pertanyaan, pertanyaan analisis dan kesimpulan pada LKPD tidak dapat mengarahkan
peserta didik menemukan konsep
8 Notasi, symbol dan penomoran yang terdapat SB Jika semua penggunaan notasi, symbol dan penomoran yang terdapat dalam isi LKPD
dalam isi LKPD sesuai dengan acuan system sudah sesuai dengan acuan SI
internasional B Jika semua penggunaan notasi dan symbol yang terdapat dalam isi LKPD sudah sesuai
dengan acuan SI
C Jika semua penggunaan notasi dan penomoran yang terdapat dalam isi LKPD sudah
sesuai dengan acuan SI
K Jika semua penggunaan symbol dan penomoran yang terdapat dalam isi LKPD sudah
sesuai dengan acuan SI
SK Jika semua penggunaan notasi, symbol dan penomoran yang terdapat dalam isi LKPD
tidak sesuai dengan acuan SI
Aspek kebahasaan SB Semua kalimat digunakan dengan baik dan benar (sesuai EYD)
1 Menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang B Sebagian kalimat digunakan dengan baik
baik dan benar(EYD) C Semua kalimat digunakan dengan benar
K Semua kalimat digunakan dengan baik namun tidak benar
SK Semua kalimat digunakan dengan baik dan benar (sesuai EYD)
INSTRUMENT PENILAIAN LKPD PEMBELAJARAN FISA SUBKONSEP MATA DAN KACAMATA

NAMA :
NIP :
ASAL INSTANSI :
TANGGAL :

PETUNJUK PENGISIAN
1. Lembar angket ini dimaksudkan untuk mengetahui pendapat bapak/ibu sebagai ahli
2. Pendapat, kritik,saran dan komentar yang diberikan bapak/ibu sangat bermanfaat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas LKPD ini.
Sehubungan dengan hal tersebut dimohon memberikan pendapatnya pada setiap kriteria dengan memberikan tanda check (√) pada kolom
kategori sesuai dengan pilihan anda terhadap LKPD dengan berpedoman pada kriteria berikut:
SB: Sangat Baik
B: Baik
C: Cukup
K: Kurang
SK: Sangat Kurang
3. Apabila kurang paham dengan pernyataan yang diajkan, penjabaran indicator aspek dapat dilihat pada rubric penilaian yang disertakan pada
angket
Contoh pengisian
No Aspek Indicator Kriteria
SB B C K SK
1 Kelengkapan materi 1. mencakup materi yang ada di kurikulum yang √
berlaku (sesuai SK dan KD)
4. Apabila ada ketidakjelasan mengenai kategori SB, B, C, K dan SK dibagaian belakang angket disertakann rubric
5. Komentar atau saran dari bapak/ibu mohon dituliskan pada lembar yang telah disediakan
6. Mohon dilingkari kesimpulan umum dari hasil penilaian terhadap LKPD pembelajara fisika pada subkonsep mata dan kacamata
7. Atas ketersediaannya untuk mengisi lembar angket ini, diucapkan Terima Kasih

No Subaspek Indikator Kriteria


Aspek materi SB B C K SK
1 Kelengkapan materi 1. Mencakup materi yang ada di kurikulum yang berlaku
(sesuai SK dan KD)
2 Keseuaian dengan RPP 2. Terdapat kesesuaian anatara tujuan pembelajaran, RPP dan
tujuan di LKPD
3 Kebenaran konsep 3. Kesesuaian konsep dalam LKPD dengan konsep yang
dikemukakan para ahli
4. Aplikasi konstektual dalam kehidupan nyata
4 Kegiatan yang mendukung materi 5. Soal analisis pertanyaan dilengkapi kunci soal penyelesaian
dan pembahasan
6.kebermanfaatan untuk menambah wawasan pengetahuan
5 Isi LKPD dapat meningkatkan hasil 7. Pertanyaan analisis dan kesimpulan dapat mengarahkan
belajar siswa dan kemampuan siswa menemukan konsep, serta mind mapping dapat
berpikir kretaif siswa meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa

6 Penggunaan notasi simbol dan satuan 8. Notasi, symbol dan satuan yang terdapat dalam isi LKPD
sesuai dengan acuan sistem internasional (SI)

Aspek kebahasaan
1 Bahasa yang Indonesia yang baik dan 1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
benar 2.Bahasa yang digunakan sederhana, lugas dan mudah
No Subaspek Indikator Kriteria
Aspek materi SB B C K SK
dipahami siswa
2 Kejelasan bahasa 3. Bahasa yang digunakan komunikatif

Komentar, kritik dan saran perbaikan

Bengkulu,…………………………….2018
Validator
INSTRUMENT PENILAIAN LKPD PEMBELAJARAN FISIKA PADA SUBKONSEP
MATA DAN KACAMATA

NAMA :
KELAS :

PETUNJUK PENGISIAN
Berilah tanda cek (√) pada kolom 1-5 dalam skor
Atas kesedian anda, saya ucapkan terimakasih
No Indikator Kriteria
1 2 3 4 5
1 Saya merasa tujuan penelitian dalam LKPD
sudah cukup baik
2 Saya merasa tertarik menemukan tujuan
penelitian dalam LKPD
3 Saya mampu mengerti dengan baik maksud
pertanyaan dalam tes tersebut
4 Saya merasa instruksi dan pertanyaan dapat
membimbing saya mengembangkan diri
5 Saya dapat memaknai pentingya belajar dengan
menggunakan LKPD ini
6 Saya merasa, instruksi dalam LKPD mendorong
srasa ingin tahu
7 Bagi saya prosedur kerja yang disajikan sudah
cukup jelas
Total
RUBRIK ANGKET RESPON SISWA

ASPEK Indikator Pertanyaan No item


Tujuan Kemampuan siswa Saya merasa tujuan 1
pembelajaran memahami tujuan penelitian dalam LKPD
pembelajaran dalm sudah cukup baik
LKPD
Kemampuan LKPD Saya merasa tertarik 2
untuk membantu siswa menemukan tujuan penelitian
mencapai tujuan dalam LKPD
pembelajara
Tes Tes yang diberikan Saya mampu mengerti 3
sesuai dengan apa yang dengan baik maksud
telah dilakukan didalam pertanyaan dalam tes
LKPD tersebut
Pengembangan LKPD membantu siswa Saya merasa instruksi dan 4
LKPD untuk melakuan pertanyaan dapat
pengembangan membimbing saya
knmampuan diri mengembangkan diri
LKPD mampu membuat Saya dapat memaknai 5
siswa memaknai poses pentingya belajar dengan
belajar menggunakan LKPD ini
LKPD mendorong rasa Saya merasa, instruksi dalam 6
ingin tahu siswa LKPD mendorong srasa
ingin tahu
Keterbacaan Prosedur kerja yang Bagi saya, prosedur kerja 7
disajiakan dalam LKPD yang disajiakn sudah cukup
dianggap jelas jelas
RENCANA PELAKSANA PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Sintt Carolus kota Bengkulu


Mata Pelajaran : Fisika
Kelas / Semester : X / Dua
Materi Pokok : Alat Optik
Sub Materi Pokok : Mata
Alokasi Waktu : 2 JP ( 2 X 45 menit)

A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian


Kompetensi Dasar
3.1 Menganalisis cara kerja alat optik menggunakan sifat pemantulan dan
pembiasaan cahaya oleh cermin dan lensa
4.1 Membuat karya yang menerapkan prinsip pemantulan dan /pembiasaan pada
cermin dan lensa
Indikator
1. Menjelaskan bagian mata dan fungsinya
2. Menjelasskan prinsip kerja optika mata
3. Menggunakan persamaa tentang optika geometris untuk menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan optika mata
4. Mengidentifikasi pengaruh cacat mata pada manusia
B. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses,kaji pustaka, eksprimen, diskusi kelompok, dan tanya jawab
peserta didik dapat:
1. Menjelaskan bagian mata dan fungsinya
2. Menganalisis prinsip kerja optika mata
3. Menggunakan persamaan tentang optika geometris untuk menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan optika mata
4. Mengidentifikasi pengaruh cacat mata pada manusia
G. Penilaian
a. Pengetahuan: Tes tertulis
Bentuk Instrumen Penilaian Pengetahuan
a. Tes Tertulis (esai)

Bwngkulu, 2018
Pelaksana

( Fitri Mukti)