Anda di halaman 1dari 22

BAB II

A. Fishbone Diagram
1. Pengertian
Fishbone diagram merupakan suatu alat visual untuk mengidentifikasi,

mengeksplorasi dan secara garfik menggambarkan secara detail semua

penyebab yang berhubungan dengan suatu permasalahan. Fishbone Diagram

(diagram tulang ikan ) sering juga disebut cause and effect diagram (Andiani,

2016, hlm. 203).

Fishbone diagram akan mengidentifikasi berbagai sebab potensial dari satu

efek atau masalah, dan menganalisis masalah tersebut melalui sesi

brainstorming. Masalah akan dipecah menjadi sejumlah kategori yang

berkaitan, misalnya berdasarkan teori H. L. Bloom meliputi perilaku,

lingkungan, layanan kesehatan, dan genetik. Setiap kategori mempunyai

sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi brainstorming.

2. Fishbone diagram dapat digunakan antara lain untuk:


a. Membuat pengelompokan penyebab masalah
Fishbone diagram dapat digunakan untuk membantu membuat

pengelompokan berbagai kemungkinan penyebab masalah atau untuk

menemukan akar penyebab masalah dari suatu masalah dengan cara yang

sistematis dan logis.

b. Mengembangkan kreativitas berpikir


Penggunaan fishbone diagram dalam menentukan penyebab masalah dapat

mengembangkan kreativitas berpikir secara sistematis kepada kelompok

pemecah masalah dalam menemukan atau mencari penyebab atau akar

penyebab masalah sehingga memudahkan pencarian solusi pemecahan

masalahnya.
c. Petunjuk pengumpulan data
Fishbone diagram dapat pula digunakan sebagai petunjuk atau dasar dalam

pengumpulan data untuk pembuktian hubungan antara penyebab masalah

atau akar penyebab masalah dengan masalah. (Pohan, 2006).

3. Langkah-langkah membuat Fishbone diagram


a. Menyepakati pernyataan masalah
Sepakati sebuah pernyataan masalah. Pernyataan masalah ini

diinterpretasikan sebagai “effect” atau secara visual dalam fishbone seperti

“kepala ikan”.
Contoh : Masalah mengenai tingginya HIV/AIDS.
b. Mengidentifikasi kategori-kategori
1) Dari garis horisontal utama, buat garis diagonal yang menjadi

“cabang”. Setiap cabang mewakili “sebab utama” dari masalah yang

ditulis. Sebab ini diinterpretasikan sebagai “cause” atau secara visual

dalam fishbone seperti “tulang ikan”


2) Kategori sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian rupa

sehingga masuk akal dengan situasi. Jumlah kategori biasanya sekitar

4 sampai dengan 6 kategori, misalnya menggunakan teori H. L. Bloom

yaitu dibagi menjadi kategori perilaku, lingkungan, pelayanan

kesehatan, dan genetik.


c. Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara brainstorming
1) Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui

sesi brainstorming.
2) Saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan bersama-sama dimana sebab

tersebut harus ditempatkan dalam fishbone diagram, yaitu tentukan di

bawah kategori yang mana gagasan tersebut harus ditempatkan.


3) Sebab-sebab ditulis dengan garis horisontal sehingga banyak “tulang”

kecil keluar dari garis diagonal.


4) Pertanyakan kembali “Mengapa sebab itu muncul?” sehingga “tulang”

lebih kecil (sub-sebab) keluar dari garis horisontal tadi.


5) Satu sebab bisa ditulis di beberapa tempat jika sebab tersebut

berhubungan dengan beberapa kategori.


Sebagai contoh kasus masalah mengenai tingginya HIV/AIDS. :
a) Pada penyebab utama faktor lingkungan dapat disebabkan oleh

ekonomi yang rendah, dan masalah sosial. Pada ekonomi rendah

dapat pula disebabkan oleh pendapatan keluarga yang rendah.

Sedangkan untuk masalah sosial dapat disebabkan oleh pengaruh

teman dekat yang dapat menyebabkan pergaulan bebas dan dapat

menyebabkan terkena HIV, serta jenis pekerjaan yang dimana

masih banyak masyarakat yang berprofesi sebagai PSK.


b) Pada penyebab utama faktor perilaku dapat disebabkan oleh

pengetahuan yang rendah, sikap yang kurang baik dan praktik

secara langsung yang dapat menyebabkan risiko terhadap

HIV/AIDS. Pengetahuan yang rendah dikarenakan oleh pendidikan

yang rendah sehingga masih banyak masyarakat yang belum

mengetahui mengenai penyakit HIV/AIDS mulai dari cara

penularannya, gejala-gejalanya,pencegahan dan juga cara

pengobatannya. Dengan adanya sikap tidak peduli terhadap bahaya

HIV karena penderita itu sendiri pun tidak mengetahui gejala-

gejala dari HIV/AIDS dan juga sikap tidak setia terhadap pasangan

dapat menyebabkan timbulnya sikap bergonta ganti pasangan

sehingga menimbulkan risiko terhadap HIV/AIDS.


c) Pada penyebab utama pelayanan kesehatan disebabkan oleh

kurrangnya klinik VCT, tempat layanan kesehatan yang tidak

terjangkau dan tenaga kesehatan yang tidak profesional. Tenaga

kesehatan yang tidak profeional ini disebabkan dari proses

transfusi darah yang tidak sesuai prosedur dan kurangnya

sosialisasi dari tenaga kesehatan.


d) Pada penyebab utama genetik disebabkan oleh penularan

kongingetal, yaitu dari ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS


melahirkan seorang anak sehingga anak yang dilahirkan tersebut

akan berisiko terkena HIV/AIDS pula.

Diagram tulang ikan dapat dipakai secara tersendiri dalam mencari

pemecahan masalah, akan tetapi biasanya diagram ini digunakan

bersama-sama dengan alat statistik lainnya. Sebaiknya saat

menentukan pilihan faktor-faktor penyebab apa yang kemungkinan

besar merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap masalah

sedapat mungkin dilakukan pengujian melalui alat-alat statistik lain

(Kuswadi, 2004).

4. Kelebihan dan Kekurangan Fishbone Diagram


Kelebihan dari fishbone diagram adalah dapat menjabarkan setiap masalah

yang terjadi dan setiap orang yang terlibat di dalamnya dapat

menyumbangkan saran yang mungkin menjadi penyebab masalah tersebut.

Sedang kekurangan fishbone diagram adalah:


a. Diagram dibuat terlalu rumit atau terlalu sederhana sehingga sering sulit

mengidentifikasi masalah.
b. Untuk diagram dengan tipe klasifikasi proses produksi sering sebab yang

sejenis tampak berulang-ulang dan variasi dari kemungkinan sebab sulit

digambarkan.
c. Biasanya voting digunakan untuk memilih penyebab yang paling mungkin

yang terdaftar pada diagram tersebut.

B. Problem Tree
1. Pengertian
Pohon masalah (problem tree) merupakan sebuah pendekatan/ metode yang

digunakan untuk identifikasi penyebab suatu masalah. Analisis pohon masalah

dilakukan dengan membentuk pola pikir yang lebih terstruktur mengenai

komponen sebab akibat yang berkaitan dengan masalah yang telah

diprioritaskan. Metode ini dapat diterapkan apabila sudah dilakukan

identifikasi dan penentuan prioritas masalah.


Pohon masalah memiliki tiga bagian, yakni batang, akar, dan cabang. Batang

pohon menggambarkan masalah utama, akar merupakan penyebab masalah

inti, sedangkan cabang pohon mewakili dampak. Penggunaan pohon masalah

ini berkaitan dengan perencanaan proyek. Hal ini terjadi karena komponen

sebab akibat dalam pohon masalah akan mempengaruhi desain intervensi yang

mungkin dilakukan.

Terdapat beberapa teori lain mengenai definisi pohon masalah, antara lain:
a. Silverman (1994) menggunakan istilah Tree Diagram dan menyatakan

diagram sistematik atau diagram pohon dirancang untuk mengurutkan

hubungan sebab-akibat.
b. Modul Pola Kerja Terpadu (2008) menggunakan istilah pohon masalah

yang merupakan bagian dari analisis pohon. Analisis pohon adalah suatu

langkah pemecahan masalah dengan mencari sebab dari suatu akibat.


2. Tujuan Pembuatan Pohon Masalah
Pembuatan pohon masalah memiliki tujuan yakni:
a. Membantu melakukan analisis secara rinci dalam mengeksplorasi penyebab

munculnya permasalahan utama yang telah ditetapkan sebelumnya.

Eksplorasi penyebab masalah dapat dilakukan dengan menggunakan

metode five whys yakni metode menggali penyebab persoalan dengan cara

bertanya “mengapa” sampai lima level atau tingkat.


b. Membantu tim kerja organisasi menganalisis pengaruh persoalan utama

terhadap kinerja/hasil/dampak bagi organisasi atau stakeholder lainnya.


c. Membantu kelompok/tim kerja organisasi mengilustrasikan hubungan

antara masalah utama, penyebab masalah, dan dampak dari masalah utama

dalam suatu gambar atau grafik.


d. Membantu kelompok/tim kerja organisasi mencari solusi atas persoalan

utama dengan melihat komponen sebab akibat dari suatu permasalahan.

3. Langkah-langkah pembuatan diagram problem tree


Terdapat dua model dalam membuat pohon masalah. Model pertama, pohon

masalah dibuat dengan cara menempatkan masalah utama pada sebelah kiri

dari gambar. Selanjutnya, penyebab munculnya persoalan tersebut

ditempatkan pada sebelah kanannya (arah alur proses dari kiri ke kanan).

Format penyusunan pohon masalah model pertama ini dapat digambarkan

sebagai berikut ini:


Model kedua, pohon masalah dibuat dengan cara menempatkan masalah

utama pada titik sentral atau di tengah gambar. Selanjutnya, penyebab

munculnya persoalan tersebut ditempatkan di bagian bawahnya (alur ke

bawah) dan akibat dari masalah utama ditempatkan di bagian atasnya (alur

ke atas). Format penyusunan pohon masalah model kedua ini dapat

digambarkan sebagai berikut ini:


Langkah-langkah dalam penyusunan pohon masalah model kedua dapat

dijelaskan sebagai berikut:

1. Langkah pertama dalam menyusun pohon masalah adalah

mengidentifikasi dan merumuskan masalah utama berdasarkan hasil

analisis atas informasi yang tersedia. Banyak cara yang dapat dilakukan

untuk merumuskan masalah utama, misalnya dengan cara diskusi, curah

pendapat, dan lain-lain. Masalah utama ini kita tempatkan pada bagian

tengah dari gambar.

Masalah
Utama

2. Langkah kedua adalah menganalisis akibat atau pengaruh adanya

masalah utama yang telah dirumuskan pada poin 1 di atas. Hubungan

antara masalah dengan akibat ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Akibat atau Pengaruh Akibat atau Pengaruh


Masalah Utama Masalah Utama

Masalah Utama
3. Langkah ketiga adalah menganalisis penyebab munculnya masalah

utama. Penyebab pada tahap ini kita namakan penyebab level pertama.

Hubungan antara masalah utama dengan penyebab level pertama dapat

digambarkan sebagai berikut:

Masalah Utama

Penyebab Level Pertama Penyebab Level Pertama Penyebab Level


Pertama

4. Langkah keempat adalah menganalisis lebih lanjut penyebab dari

penyebab level pertama. Penyebab dari munculnya penyebab level

pertama ini kita namakan penyebab level kedua. Hubungan antara

penyebab level pertama dengan penyebab level kedua dapat kita

gambarkan sebagai berikut:

Penyebab Level
Pertama

Penyebab Level Kedua Penyebab Level Kedua

Penyebab Level Pertama

Penyebab Level Kedua


5. Langkah kelima adalah menganalisis lebih lanjut penyebab dari

munculnya penyebab level kedua. Demikian seterusnya, analisis dapat

dilakukan sampai dengan level kelima. Contoh dalam tulisan ini, penulis

batasi hanya sampai dengan penyebab level kedua.

6. Langkah keenam adalah menyusun pohon masalah secara keseluruhan.

Berdasarkan langkah pertama sampai dengan kelima, pohon masalah

secara keseluruhan dapat digambarkan pada Gambar berikut:

Akibat atau Pengaruh Akibat atau Pengaruh


Masalah Utama Masalah Utama

Masalah
Utama

Penyebab Level Penyebab Level Penyebab Level


Pertama Pertama Pertama

Penyebab Level Kedua Penyebab Level Kedua Penyebab Level Kedua

Penyebab Level Kedua Penyebab Level Kedua


4. Kelebihan dan Kekurangan Pohon Masalah
a. Kelebihan Pohon Masalah
Pohon masalah membantu proses analisis dan penentuan penyebab

masalah semakin jelas dan komprehensif. Berikut merupakan rincian

mengenai kelebihan pohon masalah:


1) Membantu kelompok atau tim untuk merumuskan persoalan utama

atau masalah prioritas organisasi.


2) Membantu kelompok/tim kerja menganalisis secara rinci dalam

mengeksplorasi penyebab munculnya persoalan dengan

menggunakan metode five whys. Metode five whys adalah suatu

metode menggali penyebab persoalan dengan cara bertanya

“mengapa” sampai lima level atau tingkat.

3) Membantu kelompok/tim kerja menganalisis pengaruh persoalan

utama terhadap kinerja/hasil/dampak bagi lingkunga, masyarakat,

atau stakeholder lainnya.

4) Membantu kelompok/tim kerja mengilustrasikan hubungan antara

masalah utama, penyebab masalah, dan dampak dari masalah utama

dalam suatu gambar atau grafik.

5) Membantu kelompok/tim kerja mencari solusi atas persoalan utama

yang ada.

b. Kekurangan Pohon Masalah

Telah diketahui bahwa pohon masalah sangat membantu dalam proses


pengambilan keputusan, tetapi ada beberapa kekurangan bila

menggunakan pohon masalah, antara lain:

1) Membutuhkan waktu yang lama. Jika masalah yang terjadi semakin

kompleks akan lebih sulit dan lama dalam menentukan penyebab

utama masalah.

2) Dapat terjadi overlap terutama ketika kriteria yang digunakan

jumlahnya sangat banyak. Hal tersebut juga dapat menyebabkan

waktu pengambilan keputusan menjadi lebih lama.

3) Hasil kualitas keputusan yang didapatkan dari metode pohon

masalah sangat bergantung pada bagaimana pohon tersebut

didesain. Sehingga jika pohon masalah yang dibuat kurang optimal,

maka akan berpengaruh pada kualitas dari keputusan yang didapat.

4) Setiap kriteria pengambilan keputusan dapat menghasilkan hasil

keputusan yang berbeda. Sehingga perlu kecermatan

untuk menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan dalam

menentukan penyebab utama masalah.

5) Pengakumulasian jumlah eror dari setiap tingkat dalam sebuah

pohon keputusan yang besar.

5. Contoh Pembuatan Problem Tree pada Kasus HIV


Berdasarkan hasil pengkajian data komunitas, diperoleh prioritas masalah

yaitu tingginya angka kejadian HIV/AIDS. Kemudian dianalisis menggunakan


pohon masalah. Adapun langkah-langkah penyusunan problem tree dari

tingginya angka kejadian HIV/AIDS sebagai berikut :

1. Langkah pertama adalah mengidentifikasi dan merumuskan masalah

utama berdasarkan hasil pengkajian data komunitas. Masalah utama

ditempatkan pada bagian tengah dari gambar.

Akibat

Tingginya angka kejadian HIV/AIDS Sebab

Gambar 5.1 Identifikasi masalah utama

2. Langkah kedua adalah menganalisis akibat atau dampak adanya masalah

utama yang telah dirumuskan pada poin 1.

Penularan HIV/AIDS

Akibat
Tingginya Angka HIV/AIDS

Gambar 5.2 Analisis akibat masalah


3. Langkah ketiga adalah menganalisis akibat tidak langsung dari masalah utama.
Masalah ekonomi Masalah politik
Peningkatan angka
Masalah sosial kematian penduduk

Akibat
tidak
langsung

Akibat
penularan HIV/AIDS langsung

Gambar 5.3 Analisis akibat tidak langsung


4. Langkah keempat adalah menganalisis penyebab langsung dari masalah utama

Gambar 5.4 Analisis penyebab langsung


Tingginya Angka HIV/AIDS

Seks bebas Penggunaan Narkoba PSK tidak memakai Pemberian Tranfusi Pemasangan tindik/
Suntik bergantian pengaman saat yang tidak aman tato secara bergantian
berhubungan seks
5. Langkah kelima adalah mengidentifikasi penyebab tidak langsung dari masalah utama

PSK tidak memakai pengaman


saat berhubungan seks

Tidak tahu kalau menderita


HIV/AIDS

Menjadi PSK

Masalah ekonomi /sosial

Gambar 5.5 Identifikasi penyebab tidak langsung

6. Langkah keenam adalah menyusun pohon masalah secara keseluruhan. Berdasarkan

langkah pertama sampai dengan kelima, pohon masalah secara keseluruhan dapat

digambarkan pada gambar berikut:


Penjelasan Problem Tree HIV
Analisis pohon masalah pada prioritas masalah Tingginya Angka HIV/AIDS

seperti digambarkan pada bagan pohon masalah di atas. Masalah utama

diletakkan pada bagian tengah yang digambarkan sebagai batang pohon.

Kemudian menganalisis cabang dari batang pohon atau dampak yang

ditimbulkan dari masalah utama. Dampak yang timbul dari Tingginya Angka

HIV/AIDS adalah tingginya penularan HIV/AIDS, dampak ini disebut dengan

dampak langsung. Tingginya penularan HIV/AIDS dapat menyebabkan

peningkatan angka kesakitan dan kematian penduduk, permasalahn ekonomi

dan sosial dan politik. Dampak tersebut disebut dengan dampak tidak

langsung.
Selanjutnya, dari batang pohon dianalisis akar pohon yaitu penyebab

timbulnya masalah utama. Penyebab langsung dari Tingginya Angka

HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas, penggunaan narkoba suntik, tindik dan

tato secara bergantian, tidak memakai pengaman saat berhubungan

intim,pemebrian tranfusi darah yang tidak amana, ODHA yang melahirkan

normal dan menyusui bayinya. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah

penderita tidak tahu kalo sakit HIV/AIDS atau dengan sengaja menularkan,

banyaknya PSK karena masalah ekonomi, sosial dan spiritual.

DAFTAR PUSTAKA

Afebra. 2009. Analisis Penyebab Masalah. Available at


<https://www.scribd.com/doc/23912334/ANALISIS-Penybab> accessed on [Oct 7, 2014]\

Asmoko, Hindri. 2014. Memahami Analisis Pohon Masalah.


Available at<http://www.bppk.depkeu.go.id/> accessed on [Oct 7, 2014]
Dillon, Leonellha Barreto. 2014. Problem Tree Analysis.
Available at <http://www.sswm.info/> accessed on [Oct 8, 2014]

Delbecq A. L. and VandeVen A. H, (1971). A Group Process Model for Problem


Identification and Program Planning. Journal Of Applied Behavioral Science VII
(July/August, 1971), 466 -91

Dinas Kesehatan Kota Semarang. 2014. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun
2014.

Falani, Zakki. nd. Decision Tree (Pohon Keputusan). Available at


<http://mfile.narotama.ac.id/files/Zakki%20Falani/Konsep%20Data%20Mining/Algoritma
%20C4.pdf> accessed on [Oct 7, 2014]

Hasby, Muhammad. 2010. Penggunaan Pohon Keputusan dalam Teori Keputusan.


Available at <http://informatika.stei.itb.ac.id/~rinaldi.munir/Matdis/2010-
2011/Makalah2010/MakalahStrukdis2010-032.pdf> accessed on [Oct 7, 2014]

Jayanti, Evi. 2008. Deskripsi Dan Faktor Yang Bepengaruh Terhadap Status HIV
Pada Pengguna Klinik-klinik Layanan Tes HIV di DKI Jakarta dan Bali. Skripsi. Jakarta:
FKM UI.

Kementerian Kesehatan RI. 2010. Laporan Triwulan Situasi Perkembangan


HIV/AIDS di Indonesia sd 30 Juni 2010.

Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak Balita,
Orang Dewasa, Usia Lanjut. Jakarta: Pustaka Obor Populer

Nursalam. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta:


Salemba Medika Jakarta.

Depkes RI. 2008. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB-Gizi Buruk. Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat: Direktorat Bina Gizi Masyarakat.

Kuswadi, dan Erna Mutiara. 2004. Delapan Langkah dan Tujuh Alat Statistik untuk
Peningkatan Mutu Berbasis Komputer. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Poerwanto,Hendra.2012.DiagramFishbone.[online].
(https://sites.google.com/site/kelolakualitas/Diagram-Fishbone)

Pohan, Imbalo S. 2006. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan: Dasar-Dasar Pengertian


dan Penerapan. Jakarta: EGC

Sarjana Universitas Diponegoro Semarang. (Online)


(http://core.ac.uk/download/pdf/11715367.pdf) Diunduh pada 15 September 2015

Silverman, Steven N. and Nori L. Silverman. 1994. Using Total Quality Tools for
Marketing Research: A Qualitative Approach for Collecting Organizing, and Analyzing
Verbal Response Data. Available at <http://www.epiheirimatikotika.gr> accessed on
[Oct 8, 2014]
. 2008. Modul Pola Kerja Terpadu. Lembaga Administrasi Negara.

Sinthamurniwaty. 2006. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Akut pada Balita


(Studi Kasus di Kabupaten Semarang).Magister Epidemiologi Program Pasca

Supriyanto dan Damayanti, 2006. Perencanaan dan Evaluasi. Surabaya: Airlangga


University Press

Tague, Nancy R. 2004. The Quality Toolbox, Second Edition. ASQ Quality Press