Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MODIFIKASI PERILAKU

BAB 8 Membangun Persistensi Perilaku melalui Jadwal-jadwal Penguatan &

BAB 9 Respons di Waktu dan Tempat yang Tepat: Pemilahan Stimulus dan Generalisasi Stimulus

yang Tepat: Pemilahan Stimulus dan Generalisasi Stimulus Disusun oleh : 1. Anuggrah Raih S. 2. Azalea

Disusun oleh

: 1. Anuggrah Raih S.

2. Azalea Aggriyani

3. Esra Yanti Sihaloho

4. Ricky Phan

Kelas

: 4PA22

UNIVERSITAS GUNADARMA

KARAWACI

2018

BAB 8 Membangun Persistensi Perilaku melalui Jadwal-jadwal Penguatan

Jadwal penguatan adalah suatu aturan yang menspesifikasikan kemunculan perilaku tertentu, apa pun itu, untuk diperkuat. Terdiri atas jadwal penguatan sesekali (intermittent reinforcement) dan jadwal penguatan berkesinambungan (continuous reinforcement).

Jadwal penguatan sesekali adalah sebuah penataan dimana sebuah perilaku diperkuat secara positif hanya kadang-kadang saja (yaitu sesekali) dan bukannya setiap perilaku tersebut muncul. Contoh: kasus Jan.

Jadwal penguatan berkesinambungan adalah suatu perilaku dimana setiap perilaku dari suatu respons tertentu diperkuat. Contoh: saat menggerakkan pompa air, perilaku diperkuat dengan munculnya air.

Kasus Jan: Meningkatkan Nilai Jan di Pelajaran Matematika Jan adalah murid kelas tujuh berusia 13 tahun dengan kecerdasan rata-rata. Selama mengikuti pelajaran matematika, ia menampilkan perilaku acuh dan sering kali membuat kekeliruan saat mengerjakan tugas. Dengan dukungan gurunya, dan dua pemodifikasi perilaku memperkenalkan sebuah strategi untuk meningkatkan tingkat belajar Jan. Salah satunya mendampingi Jan setiap hari saat pelajaran matematika, berlangsung, memberinya lembaran-lembaran kerja yang berisi soal- soal matematika. Selama 2 hari pertama, ketika Jan berhasil menjawab dua soal dengan benar, pemodifikasi perilaku merespons dengan ucapan “kerja bagus”, “oke”, atau reaksi-reaksi positif serupa. Selama 2 hari berikutnya, jumlah soal yang berhasil dijawab benar sebelum pujian diberikan dinaikkan jadi empat. Selama 2 hari terakhir, tidak ada pujian diberikan sampai Jan menyelesaikan 16 soal. Jadwal pujian memiliki efek positif bagi tingkat kerja Jan. Sejak awal hingga akhir program, tingkat soal yang berhasil dijawab dengan benar oleh Jan naik tiga kali lipat, dimana tingkat kerja tertinggi yang muncul ketika Jan dipuji adalah 16

soal. Sebagai tambahan, akhir tahun ajaran itu, tingkat partisipasi Jan untuk mengerjakan tugas meraih 100% dari waktu yang tersedia.

Masing-masing jadwal menghasilkan pola perilaku khasnya sendiri, jadwal- jadwal yang berbeda cocok untuk jenis-jenis pengaplikasian yang berbeda. Jadwal- jadwal tertentu juga lebih praktis daripada yang lain (yaitu beberapa jadwal membutuhkan lebih banyak waktu atau upaya untuk diaplikasikan ketimbang yang lain).

Ketika sebuah perilaku dikondisikan atau dipelajari, ia disebut berada di fase pengakuisisian (sedang berusaha diperoleh atau dikuasai). Sesudah itu, perilaku tersebut menjadi terpelajari cukup baik, membuatnya berada di fase pemertahanan (perilaku yang sudah berhasil dikuasai/diusahakan untuk dipertahankan). Jadwal-jadwal penguatan sesekali memiliki beberapa keuntungan ketimbang jadwal-jadwal penguatan berkesinambungan dalam kaitannya dengan mempertahankan sebuah perilaku yang sudah diperoleh, antara lain:

Penguat tetap efektif untuk jangka panjang karena pengenyangan (satiation) berjalan lebih lambat

Perilaku yang sudah diperkuat sesekali cenderung lebih lama untuk dipunahkan

Individu bekerja lebih konsisten lewat jadwal sesekali

Perilaku yang sudah diperkuat sesekali jauh lebih bisa bertahan setelah ditransfer ke penguat-penguat di lingkungan alamiah.

Terdapat empat tipe jadwal penguatan sesekali untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku:

1. Jadwal Berbasis Perbandingan/Rasio

a. Jadwal Perbandingan Tetap (fixed ratio/FR) Sebuah penguat muncul setiap kali sejumlah tipe respons jenis tertentu muncul. Contoh: kasus Jan, FR2 - FR4 FR16 . Pada kasus Jan,

penguatan yang diberikan meningkat secara bertahap. Jika respons Jan langsung ditaruh pada FR16 (yaitu tanpa penahapan FR dari yang kecil terlebih dahulu), maka perilakunya akan segera merosot karena sedang menapaki jalan pemunahan. Kemunduran ini disebabkan karena terlalu cepatnya, atau terlalu besarnya nilai, jadwal diaplikasikan, yang secara teknis disebut ‘pemaksaan rasio/perbandingan’ (ratio strain). Pada saat mempertimbangkan efek-efek jadwal penguatan bagi tingkat respons, kita perlu memilah antara apa yang disebut ‘prosedur operan- bebas’ dan ‘prosedur upaya-bersyarat’. 1) Prosedur operan-bebas (free-operant procedure) adalah prosedur dimana individu bebas untuk merespons di berbagai tingkatan dalam artian tidak ada pembatasan bagi respons-respons yang berturut-turut. Contohnya, jika Jan diberikan lembar kerja berisi 12 soal matematika, ia boleh saja mengerjakan tiap soal itu dengan tingkat 1 menitan, atau 3 soal dalam semenit, atau tingkat respons lainnya. 2) Prosedur upaya-bersyarat (discrete-trial procedure), individu yang tidak bebas merespons di tingkat respons apa pun yang dipilihnya karena lingkungan sudah menempatkan batas-batas bagi ketersediaan kesempatan merespons. Contohnya, orangtua yang berkata kepada anaknya, “kamu boleh menggunakan mobil keluarga jika sudah membantu mencuci semua piring sehabis makan malam selama 3 hari berturut-turut.”

Jadwal FR menghasilkan tingkat respons yang stabil hingga penguatan diterima, lalu diikuti sebuah jeda pasca-penguatan (postreinforcement pause). Panjang jeda ini bergantung pada nilai FR- nya. Semakin tinggi nilainya, semakin panjang jedanya.

b. Jadwal Variabel Rasio (variable ratio/VR) Sebuah penguat diberikan setelah jumlah respons tertentu muncul, dan jumlah respons untuk setiap penguat diubah-ubah tanpa terprediksi dari satu penguat ke penguat lainnya. Jumlah respons yang dibutuhkan untuk setiap penguatan di jadwal VR bervariasi di sekitar beberapa nilai tengah, dan nilai ini dispesifikkan sesuai rancangan jadwal VR tersebut. Contohnya, selama satu periode berlangsung beberapa bulan, seorang sales dari pintu ke pintu rata-rata dapat menjual satu barang untuk 10 rumah yang dikunjungi. Pernyataan ini tidak berarti selalu rumah ke-10 yang selalu membeli produknya, karena terkadang produknya sudah terjual di rumah ke-5, dan kadang baru di rumah ke-13 atau ke-19 produknya terjual. Namun, setelah semua penjualan dihitung dari beberapa bulan mengunjungi ratusan rumah, diperoleh rata-rata rumah ke-10 tersebut, sehingga jumlah ini bisa disebut sebagai penguatnya, ditulis

VR10.

Berbeda dari jadwal FR, jadwal VR tidak menghasilkan jeda pasca-penguatan. Si sales tidak pernah bisa memprediksi dengan tepat kapan produknya akan terjual sehingga ia akan terus datang ke rumah berikutnya bahkan setelah produknya baru saja terjual di rumah sebelumnya. 3 perbedaan antara efek-efek jadwal FR dan VR, yaitu: jadwal VR dapat meningkatkan respons untuk tanpa batas karena tidak ada kondisi keterpaksaan (seperti ratio strain pada FR), nilai-nilai VR yang dapat mempertahankan respons terbukti lebih tinggi daripada FR, dan VR menghasilkan resistensi lebih tinggi terhadap pemunahan ketimbang jadwal FR di titik nilai yang sama.

c. Jadwal Rasio Progresif (PR) Jadwal PR sama seperti jadwal FR, namun persyaratan rasio/perbandingannya ditingkatkan oleh jumlah spesifik respons setelah setiap penguatan. Di awal tiap sesi, persyaratan rasio dimulai kembali ke nilai awalnya. Setelah sejumlah sesi, persyaratan rasio meraih sebuah tingkat disebut break point atau breaking point, dimana individu berhenti merespons sepenuhnya. Efek khas jadwal PR adalah semakin lamanya jeda setelah setiap penguatan berturut-turut, dan sebuah jeda panjang yang tidak pasti setelah break point. Aplikasi utama PR adalah menentukan seberapa mampu, kuat, atau efektifnya sebuah penguat tertentu bagi individu tertentu.

2. Jadwal Berbasis Interval yang Sederhana

a. Jadwal Interval Tetap (fixed internal/FI) Sebuah penguat diberikan mengikuti kemunculan pertama respons spesifik sesudah periode waktu tertentu yang tetap. Satu-satunya persyaratan bagi penguat untuk muncul adalah individu terlibat di dalam perilaku sesudah penguatan tersedia karena berlalunya waktu. Ukuran FI adalah jumlah waktu yang harus dilewati lebih dulu sebelum penguatan diberikan. Contohnya, anggaplah program TV favorit Anda tayang jam 7 malam setiap Kamis, dan perekam video otomatis sudah Anda disiapkan untuk merekamnya setiap kali ia tayang. Karena 1 minggu harus berlalu sebelum Anda bisa diperkuat untuk menontonnya, maka Anda bisa menyebut jadwal ini sebagai jadwal FI 1-mingguan.

b. Jadwal Interval Variabel (variable interval/VI) Sebuah penguat diberikan mengikuti kemunculan pertama respons spesifik setelah sebuah interval waktu tertentu, dan panjangnya interval berubah tanpa bisa diprediksi dari satu penguat ke penguat selanjutnya. Pada jadwal VI, sebuah respons diperkuat setelah interval waktu yang

tidak bisa diprediksi panjang-pendeknya. Contohnya, masuknya pesan ke mesin penjawab telepon atau masuknya email ke komputer tidak bisa diprediksi waktunya. Jadwal-jadwal interval sederhana ini tidak banyak digunakan di program-program modifikasi perilaku karena 3 alasan berikut:

1)

FI menghasilkan jeda pasca-penguatan yang panjang

2) Meskipun VI tidak menghasilkan jeda pasca-penguatan yang panjang, ia menghasilkan tingkat respons lebih rendah ketimbang jadwal berbasis rasio/perbandingan 3) Jadwal interval sederhana mensyaratkan pemonitoran berkesinambungan terhadap perilaku setelah akhir setiap interval hingga sebuah respons muncul

3. Jadwal-jadwal dengan Pembatasan Jadwal dengan pembatasan atau limited hold (LH) adalah sebuah batas waktu (deadline) untuk memenuhi persyaratan respons sebuah jadwal

penguatan.

a. Jadwal Rasio Tetap dengan Pembatasan (FR/LH) Misalkan, seorang instruktur fitnes berkata kepada seseorang yang dilatihnya, “jika kamu melakukan 30 kali sit-up, barulah kamu boleh minum.” Pernyataan ini disebut jadwal FR 30. Namun jika instruktur itu berkata, “Setelah melakukan 30 kali sit-up dalam waktu 2 menit, kamu boleh minum,” maka pernyataan ini disebut jadwal FR 30 dengan batasan 2 menit.

b. Jadwal Interval Tetap dengan Pembatasan (FI/LH) Contoh jadwal FI/LH adalah menunggu bus kota. Bus kota biasanya berjalan dengan jadwal yang teratur (contohnya, setiap 20 menit sekali). Seseorang mungkin tiba di halte bus kota lebih awal, tepat sebelum busnya datang, atau saat busnya datang semua ini tidak ada bedanya karena orang itu masih harus memastikan dapat menaikinya. Bus

kota akan menunggu hanya dengan pembatasan waktu tertentu mungkin 1 menit. Jika seseorang tersebut tidak berada di halte bus kota dengan batasan waktu tersebut, maka busnya sudah berangkat dan orang itu harus menunggu lagi untuk bus berikutnya.

c. Jadwal Interval Variabel dengan Pembatasan (VI/LH) Sebuah perjalanan keluarga berkendara dengan mobil, ibu dan ayah berada di kursi depan dan anak-anak mereka di kursi belakang. Keributan dua putra kecilnya itu menguasai seharian ketengangan perjalanan (seperti “kamu mengambil tempatku”, “berikan aku cokelat itu”, “jangan sentuh aku”, dan lain-lain). Setelah beberapa hari mengalami perjalanan mobil yang tidak menyenangkan begitu, ayah dan ibu memutuskan untuk mencoba variasi The Timer Game. Pertama-tama mereka membeli sebuah timer yang dapat disetel nilainya menjadi 30 menit dan menghasilkan bunyi ‘ding’ ketika waktu yang sudah disetel habis. Kedua, di awal perjalanan kali itu, mereka mengumumkan aturan baru untuk para putra mereka: “Sekarang begini aturannya. Setiap kali timer ini berbunyi ‘ding’, jika kalian bisa bermain dengan tenang, kalian mendapat tambahan waktu 5 menit menonton televise sesampainya kita di hotel nanti. Namun jika kalian ribut maka tambahan waktu 5 menit itu hilang. Kita akan memainkan ini hingga sampai di hotel petang nanti.” Kemudian orangtua menyetel timer dengan interval 1 sampai 30 menit selama perjalanan. Rata-rata timer disetel untuk 15 menitan, maka ini termasuk jadwal VI 15 menit. Karena anak-anak tersebut harus bersikap kooperatif langsung hingga bunyi ‘ding’ muncul, maka batasan waktunya adalah nol detik, membuat jadwal ini ditulis VI 15 menit / LH 0 detik. Hasilnya sangat ajaib. Dari pertengkaran tanpa henti, dua anak laki- laki itu berubah menjadi bermain secara kooperatif. Meskipun bermain secara kooperatif ini hanyalah syarat yang dibutuhkan untuk mendapatkan

penguat, namun mereka tidak pernah tahu kapan bunyi ‘ding’ akan muncul. Hasilnya: sebuah kerja sama yang berkesinambungan.

4. Jadwal-jadwal Berbasis Durasi

a. Jadwal Durasi Tetap (fixed duration/FD) Sebuah penguat diberikan hanya jika sebuah perilaku muncul berkesinambungan untuk periode waktu tertentu yang tetap. Nilai dari jadwal FD adalah jumlah waktu dimana perilaku harus terlibat secara berkesinambungan atau terus menerus sebelum penguatan muncul. Jika durasinya 1 menit, maka kita menyebutnya jadwal penguatan FD 1 menit. Contohnya, seorang pekerja yang dibayarkan per jam, menyolder timah di peranti elektronik, dll.

b. Jadwal Durasi Variabel (variable duration/VD) Sebuah penguat diberikan hanya jika sebuah perilaku muncul berkesinambungan untuk periode waktu tertentu, namun interval waktu dari penguat ke penguat diubah tanpa bisa diprediksi. Contoh jadwal VD di kondisi alamiah adalah menggesekkan dua batang kayu kering untuk memunculkan api, karena jumlah waktu yang dibutuhkan beragam seiring berbagai faktor seperti ukuran, bentuk, dan keringnya kayu. Contoh lain yaitu menunggu arus kendaraan mereda untuk bisa menyebrang jalan.

Efek-efek Khas dan Pengaplikasian 6 Jadwal Penguatan Sesekali yang Umum Digunakan untuk Meningkatkan dan Mempertahankan Perilaku

1. Jadwal Rasio/Perbandingan

a. Rasio Tetap/Fixed Ratio (FR): tingkat respons tinggi, jeda paska penguatan pendek, resistensi terhadap pemunahan tinggi

b. Rasio Variabel/Variable Ratio (VR): tingkat respons tinggi, tidak ada jeda

paska penguatan, resistensi terhadap pemunahan sangat tinggi

Aplikasi: meningkatkan dan mempertahankan tingkat respons spesifik yang dengan mudah. Contoh: cara benar menjawab soal matematika (penambahan atau pembagian) atau mengoreksi repetisi ketrampilan olahraga.

2. Jadwal Interval dengan Pembatasan

a. Interval Tetap dengan Pembatasan (FI/LH): tingkat respons tinggi, jeda paska- penguatan pendek, resistensi terhadap pemunahan moderat

b. Interval Variabel dengan Pembatasan (VI/LH): tingkat respons tinggi, tidak ada jeda paska-penguatan, resistensi terhadap pemunahan tinggi

Aplikasi: meningkatkan dan mempertahankan durasi atau kestabilan perilaku. Contoh, perilaku murid agar ‘langsung mengerjakan tugas’ di kelas, perilaku kooperatif anak di perjalanan keluarga dengan berkendara mobil , atau melakukan teknik berbalik di kelas renang

3. Jadwal Durasi

a. Interval Durasi Tetap/Fixed Duration (FD): perilaku terus-menerus muncul (berkesinambungan), resistensi terhadap pemunahan moderat

b. Interval Durasi Variabel/Variable Duration (VD): perilaku terus-menerus muncul (berkesinambungan), resistensi terhadap pemunahan moderat’

Aplikasi: meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang dapat dimonitor secara berkesinambungan dimana perilaku tersebut harus ditampilkan terus- menerus di periode waktu tertentu, contoh berlatih piano.

Jurang-jurang Penguatan Sesekali: Jurang Kekeliruan Pengaplikasian yang Tidak Disadari Jurang ini melibatkan apa yang biasa disebut penggunaan tidak konsisten pemunahan. Contohnya, orangtua mungkin awalnya berusaha mengabaikan tantrum anak. Namun si anak terus berkeras melawan, dan dengan rasa putus asa, orangtua akhirnya memberikan apa yang diminta anak. Di titik ini, anak mendapat penguatan

di jadwal VR atau VD, dan ini mengarah ke bertahannya tantrum lebih jauh di masa depan. Berkali-kali orangtua dan staf berkata bahwa mereka mau tak mau mesti menyerah ke tuntutan anak karena “pemunahan tidak bekerja dengan baik.” Walau demikian, penguatan sesekali menghasilkan perilaku yang muncul dengan taraf lebih tinggi dan lebih resisten untuk punah ketimbang perilaku yang diperkuat secara berkesinambungan.

Panduan-panduan bagi Pengaplikasian Efektif Penguatan Sesekali

1. Pilihlah penguatan yang tepat bagi perilaku yang ingin dikuatkan dan pertahankan

2. Pilihlah sebuah jadwal yang cukup mudah untuk dioperasikan

3. Gunakan instrumen dan materi yang tepat untuk menentukan secara akurat dan mudah bagi perilaku yang mestinya diperkuat

4. Frekuensi penguatan mestinya cukup tinggi awalnya untuk mempertahankan perilaku yang diinginkan, dan mestinya diturunkan secara bertahap hingga jumlah akhir perilaku yang diinginkan untuk tiap tahap penguatan sudah bisa bertahan

BAB 9 Respon di Waktu dan Tempat yang Tepat : Pemilihan Stimulus dan Generalisasi Stimulus Seperti yang sudah kita pelajari di bab sebelumnya, banyak perilaku sangat kuat dipengaruhi oleh konsekuensi-konsekuensinya, perilaku yang dikuatkan akan meningkat dan perilaku yang tidak dikuatkan akan menurun. Namun, perilaku apapun akan bernilai jika muncul di waktu dan situasi yang tepat. Contohnya Bersalto dua

kali di udara dengan sempurna adalah perilaku yang diinginkan di lapangan senam karena bernilai tinggi di mata juri, namun jelas tidak mungkin menghasilkan efek yang sama saat di lakukan di ruang waancara kerja. Kita harus mengerti bahwa selalu ada orang lain, tempat atau hal-hal lain yang berada di sekitar perilaku yang akan dikuatkan atau dipunahkan. Contohnya, ketika Jhony bermain dengan teman-temannya, tawa dan perhatian tampaknya telah menguatkan perilaku Jhony untuk mengeluarkan sumpah-serapah. Namun respon berbeda ketika Jhony bersama kakek dan neneknya ketika duduk di meja makan, perilaku sumpah serapahnya tidak dikuatkan bahkan dihukum. Setelah beberapa kali menjumpai pengalaman demikian, individu dan hal-hal disekitar penguatan dan pemunahan mulai petunjuk bagi perilaku tersebut. Situasi apapun, di mana perilaku muncul dapat dianalisis berdasarkan tiga perangkat kejadian :

a. Stimuli yang eksis tepat sebelum kemunculan perilaku, disebut stimuli anteseden ( seperti kehadiran teman-teman atau meja makan di rumah kakek dan nenek tepat sebelum Jhony bersumpah serapah)

b. Perilaku itu sendiri ( Sumpah serapah Jhony)

c. Konsekuensi perilaku ( persetujuan dari teman-teman Jhony atau ketidak setujuan kakek dan nenek terhadap sumpah serapah jhony). Stimuli yaitu manusia, objek dan kejadian yang muncul saat itu juga di sekitar seseorang yang mempengaruhi reseptor indranya dan yang bisa mempengaruh perilakunya. Objek-objek visual seperti, buku, pakaian, manusia semuanya merupakan stimulus potensial seperti juga semua jenis bau, cita rasa dan

kontak tubuh. Stimulus apapun dapat menjadi anteseden maupun konsekuensi sebuah perilaku yang kadang di singkat asesmen ABC(ABC : Antecedent, behaviour, concsequences).

Contoh Kasus : Belajar Untuk Mengikuti Instruksi Guru Guru wali kelas 3 SD di sebuah sekolah di pinggiran kota Aucland memiliki 9 murid yang bermasalah. Anak-anak ini seringkali bertengkar, berteriak-teriak, memukul atau menendang murid lain, membuat suasana ribut dan pergi meninggalkan kelas tanpa izin. Sesekali mereka memang mau mendengar instruksi dengan penuh perhatian dan mengerjakan tugas dengan tenang di bangku masing masing, namun seringkali tidak. Ini jelas sebuah situasi di mana perilaku yang diinginkan (mendengar dengan penuh perhatian atau mengerjakan tugs dengan tenang ) diharapkan bisa muncul, banyak usaha yang di kerahkan guru dan pihak sekolah namun tidak membuahkan hasil, akhirnya pihak sekolah meminta bantuan para pemodifikasi perilaku dari klinik psikologi di universitas setempat. Selama beberapa pagi, para pemodifikasi perilaku mencatat perilaku mengerjakan tugas 9 murid yang bermasalah tersebut. Murid - murid ini memang sulit sekali untuk bisa tenang.Para pemodifikasi perilaku mulai merekomendasikan prosedur untuk menangani kasus ini. Guru diminta untuk membuat instruksi lisan dan tulisan sekaligus untuk mendapatkan perilaku yang diinginkan dari sembilan murid bermasalah itu. Uji coba pertama dilakukan setalah jam istirahat pertama. Ia menuliskan di dua sisi karton besar masing-masing tiga kalimat besar yang ditulis dengan spidol merah, hijau, biru dan hitam sebagai variasi di setiap barisnya. Yang bertuliskan PERHATIKAN GURUMU, TETAPLAH DI BANGKUMU, TENANGLAH. Setelah guru menuliskan instruksi tugas bagi jam pelajaran itu di papan tulis, ia membalikkan kertas kartonnya yang tertulis KERJAKAN TUGAS DI BANGKUMU SENDIRI, MENULISLAH DI BUKUMU SENDIRI, BACALAH PERINTAH DI PAPAN TULIS. Dua jenis tulisan di kertas karton ini di tampilakan bergantian beberapa kali di beberapa waktu selama jam pelajaran berlangsung.

Lalu, setiap murid diberikan selembar kertas berisi tabel satu baris dengan enam kolom. Setiap kolom berisi nama mata pelajaran yang di ampu sang wali kelas, satu kolom untuk setiap hari selama satu minggu. Di tiap kolom berisi keterangan aktivitas-aktivitas yang sudah dirancang guruakan dikerjakan selama jam pelajaran tersebut. Para murid diberitahu bahwa bunyii alarm biipakan muncul dalam dua menit sekali, dan ketika alarm berbunyi, murid yang sudah menyelesaikan aktivitas yang tertulis di kolom diminta memberinya tanda centang (V). Mendekati akhir pelajaran, murid yang sudah mencentang semua daftar tugas di kolom boleh maju ke maja guru untuk mengumpulakn buu pekerjaannya dan bermain di ruang bermain yang berisi banyak buku dan mainan. Program ini diberikan ke semua murid meski fokus utamanya adalah sembilan anak bermasalah. Dalam waktu singkat semua cara ini (kertas karton berisi beberapa kalimat, selembar kertas berisi berisi kolom tugas yang dicentang, bunyi alarm biipdan bermain di ruang bermain) mempengaruhi mereka untuk menampilkan perilaku yang diinginkan dan sukses mengontrol dengan kuat perilaku sembilan anak tersebut.

Ketika sebuah perilaku diperkuat dengan hadirnya stimulus tertentu dan bukan stimulus lain, stimulus anteseden mulai mengontrol munculnya perilaku tersebut, seperti diakhir program di SD Auckland, ketika murid-murid melihat karton bertuliskan PERHATIKAN GURUMUdengan warna merah mereka menjadi mendengarkan dengan cermat apa yang akan dikatakan guru karena bertindak demikian sudah diperkuat oleh hadirnya stimulus anteseden (stimulus yang eksis sebelum kemunculan perilaku) berupa tulisan tersebut. Kami menggunakan istilah kontrol stimulus untuk menyebut derajat korelasi antara kemunculan stimulus anteseden tertentu dan kemunculan respon sesudahnya. Istilah-istilah tambahan baik, kuat atau kontrol stimulus efektif merujuk pada korelasi kuat antara kemunculan stimulus tertentu dan respon tertentu, artinya ketika stimulus tertentu muncul, maka respon tertentu akan berpotensi besar muncul mengikutinya. Contohnya di akhir program SD di Auckland tanda berupa tulisan PERHATIKAN GURUMUdisebut

sebagai pengontrol stimulus yang baik karena mampu membuat murid-murid berperilaku memberi perhatian penuh kepada guru. Beberapa stimuli dapat menjadi prediktor yang konsisten bahwa perilaku tertentu akan diperkuat, namun stimuli yang lain juga dapat menjadi prediktor yang konsisten bahwa perilaku yang sama tidak akan pernah diperkuat. Contohnya tanda berupa tulisan mesin rusakadalah stimulus pengontrol yang memastika bahwa memasukkan sebanyak apapun uang ke dalamnya tidak akan membuat minuman apapun bisa keluar. Lewat pengalaman kita belajar untuk menahan tidak melakukan perilaku tertentu dengan hadirnya stimulus tertentu yang sudah kita tahu tidak akan memberi penguat apapun. Kalau begitu ada dua jenis pengontrol.

Jenis-jenis stimulus pengontrol : SDS dan SΔS Stimulus pemilah (discriminative stimulus) adalah stimulus di mana kehadirannya sebuah respon akan diperkuat. Dengan kata lain, SD adalah sebuah petunjuk bahwa respon tertentu akan muncul. Sebaliknya, S delta adalah stimulus di mana kehadirnnya sebuah respon tidak akan diperkuat. Dengan kata lain S delata adalah petujuk bahwa respon tertetu tidak akan muncul. SD dapat disebut stimulus bagi ketersediaan penguatan untk merespon, sedangkan sS delata dapat disebut stimulus pemilah bagi ketidaktersediaan penguatan untuk merespon (yaitu sebuah pemunahan). Dalam kasus Jhony SD yaitu respon teman-teman Jhony yang mendukung dan S delta yaitu respon kakek dan nenek Jhony. Sebuah stimulus dapat serentak SD untuk sebuah respon, dan SΔ untuk respon yang lain.

Pemilahan stimulus Pelatihan memilah stimulus atau latihan pemilah stimulus (stimulus discriminative training) merujuk pada prosedur-prosedur penguatan respon di dalam kehadiran SD dan prosedur-prosedur pemunahan respon di dalam kehadiran SΔ. Setelah latihan pemilihan stimulus cukup diberikan, efek- efeknya dapat dideskripsikan sebagai

1. Kontrol stimulus yang baik (good stimulus control) -Jika korelasi kuat terjadi antara kemunculan stimulus tertentu dengan keberadaan respon tertentu.

2. Pemilahan stimulus (stimulus discrimination), jika sebuah respons muncul bagi SD bukannya SΔ

Generalisasi stimulus Generalisasi stimulus merujuk pada prosedur penguatan sebuah respon di dalam kehadiran stimulus atau situasi, dan efek reson semakin memungkinkan dengan hadirnya stimulus atau situasi lain. Dengan kata lain bukan memilih diantara dua stimulus dan merespon secara berbeda terhadap keduanya, respon individu sama caranya terhadap dua stimuli yang berbeda tersebut. Generlisasi stimulus merupakan kebalikan dari pemilihan stimulus. Ada tiga alasan bagi munculnya generalisasi stimulus ini

1. Generalisasi Stimulus yang Tak Terpelajari Berkaitan dengan Kuatnya Kemiripan Fisik Manusia dan hewan lebih berkemungkinan menampilkan sebuah perilaku si situasi baru jika situasi tersebut sangat mirip dengan situasi di mana mereka belajar perilaku tersebut. Seperti kasus seorang balita berkata gugukterhadap seekor hewan yang berkaki empat, berbulu panjang, bertubuh besar dan menggong-gong ramah dengan suara besar. Kemudian balita melihat anjing jenis lain namun mirip dan memanggilnya guguk. Untungnya kita sudah sedemikin berkembang sehingga menghadapi dua atau lebih stimulus yang mirip secara fisik, maka generalisasi stimulus akan lebih berpotensi muncul di antara keduanya.

2. Generalisasi Stimulus yang Terpelajari Melibatkan Kemiripan Fisik yang Terbatas Misalkan, seorang anak belajar berkata anjingkepada seekor anjing German sheperd yang besar. Kemungkinan besar anak tersebut tidak mengatakan anjingkepada anjing cihuahua uyang mungil. Karena terlalu

banyak perbedaan di antara keduanya. Generalisasi stimulus tidak berpotensi muncul hingga anak belajar konsep (kelas stimulus) anjing. Kelas stimulus berelemen sama (common-element stimulus class) adalah seperangkat stimuli yang memilki satu atau lebih ciri fisik yang sama. Contoh mobil biasanya memiliki roda empat, jendela, setir dll. Ketika seorang anak belajar mengatakan mobil(jenis sedan kuno) dan maka ia dapat memperlihatkan generalisasi stimulus tak terpelajari saat melihat mobil jenis lain (sedan modern) tetapi untuk konsep lain anggotanya memiliki. Namun untuk konsep lain anggota-anggotanya memilki kemiripan fisik yang terbatas sehingga sejumlah pelajaran dibutuhkan untuk generalisasi stimulus muncul, misalnya untuk memperkenalkan konsep merah anda harus meperkenalkan benda- benda yang berwarna merah ini sebagai penguat respon, dan memusnahkan respon untuk benda yang bukan berwarna merah. Perilaku verbal tidak serta merta terlibat di dalam perilaku kontekstual ini. Burung merpati meskipun non-verbal secara mengejutkan dapat mempelajari sebuah konsep.

3. Generalisasi Stimulus yang Terpelajari Meski tanpa disertai Kemiripan Fisik

Ketika anda dihadapkan kepada kacang, pensil, dan segelas susu, dan wortelanda pasti dengan mudah mengidentifikasi mana barang yang termasuk dalam kategori makanan. Andamemperlihatkan perilaku konseptual terkait konsep makanna meski wortel, kacang dan susu sama sekali tidak memiliki kemiripan fisik. Kelas ekuivalensi stimulus adalah seperangkat stimuli yang tidak mirip (tidak punya unsur stimulus yang sama sedikit pun) yang sudah dipelajari individu untuk dikelopokkan atau dicocokkan bersama atau direspon dengan cara yang sama. Jika sebuah respon yang sudah dipelajari diperkuat bagi sebuah stimulus ternyata dapat muncul untuk stimulus yang berbeda (terkait generalisasi tak terpeljari, pembelajaran kelas stimulus berunsur sama atau

pembelajaran ekuivalensi stimulus), kita dapat mengatakan bahwa generalisasi stimulus sudah terjadi. Namun tidak semua generalisasi stimulus berhasil contohnya seorang anak yang belajar menyebut anjingke hewan berbulu yang memang dari kelompok berbulu anjing dan menyebut konsep yang sama untuk hewan berbulu dari kelompok kucing, masih banyak kasus lainnya.

Faktor-Faktor yang Menentukan Efektivitas Latihan Pemilihan Stimulus Ada 4 faktor yg sangat menentukan apakah latihan memilih stimulus akan berjalan efektif atau tidak :

1. Menyeleksi sinyal-sinyal yang berbeda Jika memang penting untuk bisa mengembangkan kontrol stimulus terhadap perilaku tertentu. Contohnya guru SD di Auckland menggunakan huruf besar berwarna merah untuk tanda mendorong para murid mendengarkan dan memprhatikan sedangkan warna hijau untuk tanda yang mendorong murid mengerjakan tugas dengan tenang dibangku masing- masing.

2. Meminimkan kemungkinan kekeliruan Selama pelatihan memilih , merespons Sã atau kegagalan merespon disebut "kekeliruan" (error). Misalkan, seorang anak yang belajar mengangkat telefon yang sedang berdering. Kontrol stimulus dapat dikembangkan paling efektif ketika pemodifikasi perilaku meminimkan kemungkinan bagi munculnya kekeliruan.

3. Memaksimalkan jumlah percobaan Jumlah percobaan diperkuat sangat diperlukan untuk mengembangkan perilaku yang konsisten terhadap individu-individu dengan sabilitas perkembangan dan individu-individu lain defisit perilaku tertentu.

4. Memanfaatkan aturan : mendeskripsikan kontigensi Kontigensi secara umum adalah sebuah tipe aransemen "jika-maka". Contoh jika menekan tombol pompa air akan keluar air dari pipanya. Munculnya air ini disebut ‘kontigen’ terhadap respons menekan tombol. Perilaku yang dikendalikan-aturan adalah sebuah perliku yang dikontrol oleh pernyataan-pernyataan sebuah aturan. Ketika ingin mengembangkan kontrol stimulus yang baik, maka kita harus selalu menyediakan sebuah aturan yang menyatakan perilaku apa di situasi dan akan mengarah ke konsekuensi apa yang telah kita ambil.

Jurang "Kekeliruan Pengaplikasian yang Tidak Disadari" Jika kita merasa harus memberitahu seseorang berulang ulang sebelum ia mau merespon, atau mengerjakan sesuatu. Kiya harus terlebih dahulu mendeketakan interaksi dengan baik kepada orang tersebut.

Panduan-panduan bagi pelatihan efektif memilah stimulus Berikut ini 4 panduan umum bagi pengaplikasian efektif pemilahan stimulus yaitu

1. Menyeleksi sinyal-sinyal yang khas dan Unik. Dengan kata lain, spesifikkan kondisi-kondisi dimana perilaku mestinya muncul dan yang tidak seharusnya muncul.

2. Menyeleksi sebuah penguat yang tepat

3. Mengembangkan pemilahan

4. Meluluskan individu dari program