Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Sympathetic ophthalmia (SO) adalah suatu kondisi peradangan yang mempengaruhi


kedua mata. Penyakit ini ditemukan oleh Hippocrates 2000 tahun yang lalu. Istilah symphatetic
ophthalmia mulai digunakan pada tahun 1840 oleh William MacKenzie dimana dia menemukan
6 kasus trauma tembus pada salah satu mata yang berkembang menjadi peradangan pada mata
yang lain dalam waktu 3 minggu. penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, walaupun reaksi
autoimun antigen okular terkena implikasi, menyebabkan uveitis granulomatosa bilateral yang
melibatkan mata yang terpapar trauma atau pembedahan. Pada tahun 1905 Ernest Fuchs
menjelaskan tentang gambaran mikroskopis yang ditemukan pada symphatetic ophthalmia. yang
menjelaskan infiltrasi saluran uvea, terutama koroid, dan formasi dari agregasi nodular di bawah
epitel pigmen retina (RPE) pada beberapa spesimen disebut nodul Dalen-Fuchs, Sejak saat itu
penyakit ini mulai dikenal di bidang ophthalmology.Sympathetic ophthalmia (SO) terjadi setelah
terjadinya suatu trauma pada salah satu mata.

Sympathetic opthalmia Ini adalah penyakit yang jarang terjadi dengan perkiraan kejadian
0,03 / 100.000 dalam populasi penelitian selama 15 bulan . Sebuah penelitian menyebutkan
insiden terjadinya SO sekitar 2% pada orang yang mengalami trauma pada salah satu mata. Pada
tahun 1980 dilaporkan SO terjadi pada 1 sampai 2 orang dari 1000 orang yang mengalami
trauma pada salah satu mata. Penelitian yang dilakukan di United Kingdom pada tahun 2000
disebutkan angka kejadian SO tiga dari sepuluh juta kasus trauma mata baik yang disebabkan
oleh trauma tembus ataupun pembedahan. penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa
prevalensi oftalmia simpatik setelah trauma okular, dari 0,1% sampai 0,3%, lebih tinggi dari
prevalensi 0,02% setelah operasi ocular, . Liddy dan Stuart melaporkan 0,19% disebabkan oleh
trauma tembus dan 0,007% karena pembedahan intraokuler pentingnya pengetahuan tentang
oftalmia simpatik adalah bahwa penyakit ini adalah penyakit yang dapat mengancam jiwa
dengan sepertiga pasien yang diakhiri dengan ketajaman penglihatan akhir 20/200 atau yang
terburuk, dan membutuhkan dorongan cepat, agresif terapi inflamasi untuk mencoba
memperbaiki hasil penglihatan.

1
Diagnosis oftalmia simpatik secara klinis adalah pasien yang mengalami riwayat trauma
atau operasi okular sebelumnya dan uveitis granulomatosa bilateral, yang terkait dengan
peradangan anterior dan temuan posterior seperti vitritis, choroiditis, pembengkakan saraf optik
dan retina serous dalam beberapa kasus, Pasien biasanya datang dengan keluhan rasa sakit,
fotofobia, paresis akomodasi, metamorphopsia dan kerugian visual ringan sampai signifikan.
Uveitis anterior granulomatosa disertai dengan temuan segmen posterior termasuk vitritis sedang
sampai berat, koroiditis, papilitis, perivaskulitis, dan lesi kuning putih pada epitel pigmen retina
(nodul Dalen-Fuchs). Peradangan dapat menyebabkan ablasi retina dan edema makula yang
serius. Gejala ekstraokular termasuk sakit kepala, meningitis atau pleocytosis cairan
serebrospinal, gangguan pendengaran, poliosis dan vitiligo. Komplikasi dari ophthalmia simpatik
termasuk katarak sekunder, glaukoma, dan maculopathy kronis

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI UVEA

Uvea terdiri dari tiga bagian, iris, badan siliaris, dan koroid. Bagian ini adalah
lapisanvaskular tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera, bagian ini mensuplai darah
keretina. Uvea dibagi menjadi 3 bagian : Iris dibagian anterior , badan silier di tengah dan
koroiddiposterior 1-3

.Perdarahan uvea dibedakan antara bagian anterior yang doperdarahi oleh 2 buah arteri siliar
posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal dekat tempat masuk saraf
optikdan 7 buah arteri siliar anterior,yang terdapat 2 pada setiap otot superior,medial inferior,satu
pada otot rektus lateral. Arteri siliar anterior dan posterior ini bergabung menjadi satumembentuk
arteri sirkularis mayor pada badan siliar. Uvea posterior mendapat perdarahan dari15-20 buah
1,2,6
arteri siliar posterior brevis yang menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik .
Persarafan uvea didapatkan dari ganglion siliar yang terletak antara bola mata dengan ototrektus
lateral,1 cm di depan foramen optik yang meneriam 3 akar saraf yaitu: saraf sensoris, saraf
simpatis, dan akar saraf motor. Di dalam badan siliar terdapat 3 otot akomodasi
yaitulongitudinal,radiar,dan sirkular.3,4

3
Gambar 1.Anatomi Uvea

1. Iris
Iris merupakan suatu membran datar sebagai lanjutan dari badan siliar ke depan
(anterior), dan merupakan suatu diafragma yang membagi mata menjadi 2 segmen, yakni
segmen anterior dan posterior. Iris membagi bilik mata ke dalam 2 bagian, yaitu bilik mata
depan (camera oculi anterior = COA) dan bilik mata belakang (camera oculi posterior =
COP). Di bagian tengah iris terdapat lubang yang disebut pupil yang berfungsi untuk
mengatur besarnya sinar yang masuk mata.
Secara histologis, iris terdiri dari stroma yang jarang dan di antaranya terdapat lekukan-
lekukan di permukaam anterior yang berjalan radier yang disebut kripta. Di dalam stroma
terdapat sel-sel pigmen yang bercabang, banyak pembuluuh darah dan serat saraf. Di
permukaan anterior ditutup oleh endotel kecuali pada kripta. Bagian posterior iris dilapisi
oleh 2 lapisan epitel, yang merupakan lanjutan dari epitel pigmen retina. Warna dari iris
bervariasi, tergantung dari sel-sel pigmen yang bercabang yang terdapat di dalam stroma.

4
Pada iris terdapat 2 macam otot yang mengatur besarnya pupil, yaitu : m. dilator pupil
yang berfungsi untuk melebarkan pupil dan m. sfingter pupil yang berfungsi untuk
mengecilkan pupil. Kedua otot tersebut memelihara ketegangan iris sehingga tetap tergelar
datar. Dalam keadaan normal, pupil kanan dan kiri kira-kira sama besarnya, keadaan ini
disebut isokoria. Apabila ukuran pupil kanan dan kiri tidak sama besar, keadaan ini disebut
anisokoria. Iris menipis di dekat perlekatannya dengan badan siliar dan menebal di dekat
pupil. 1,3
Perdarahan pada iris diberikan oleh a. siliaris posterior longus, yang membentuk suatu
jaringan pembuluh darah. Di sekeliling pupil, jaringan pembuluh darahnya disebut sirkulus
minor dan yang berada dekat badan siliar disebut sirkulus mayor. Di antara keduanya
terdapat anastomosis yang berupa pembuluh darah berbentuk spiral. Pembuluh darah
baliknya mengikuti arteri dan selanjutnya masuk ke v. vortikosa. Iris dipersarafi oleh nervus
nasoiliar cabang dari saraf kranial III yang bersifat simpatik untuk midriasis dan
parasimpatik untuk miosis.

2. Badan siliar (Corpus ciliaris)


Badan siliar merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem ekskresi
dibelakang limbus. Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid, terdiri
dari pars plikata (anterior, bergerigi, panjang sekitar 2 mm) dan pars plana (posterior, tidak
bergerigi, panjang sekitar 4 mm).
Pars plikata diliputi 2 lapisan epitel sebagai kelanjutan dari epitel iris. Bagian yang
menonjol disebut prosesus siliaris, berwarna putih karena tidak mengandung pigmen,
sedangkan di lekukannya mengandung epitel dan berwarna hitam. Dari prosesus siliaris
keluar serat-serat zonula Zinnii yang merupakan penggantung lensa mata. Pars plana terdiri
dari satu lapisan tipis jaringan otot dengan pembuluh darah dan diliputi epitel.
Badan siliar menghasilkan humor akuos. Humor akuos ini sangat menentukan tekanan
bola mata (tekanan intraokular = TIO). Humor akuos mengalir melalui kamera okuli
posterior ke kamera okuli anterior melalui pupil, kemudian ke angulus iridokornealis,
kemudian melewait trabekulum meshwork menuju canalis Schlemm, selanjutnya menuju
kanalis kolektor masuk ke dalam vena episklera untuk kembali ke jantung.1,5

5
Badan siliar banyak mengandung pembuluh darah, dan pembuluh darah baliknya
mengalirkan darahnya ke v. vortikosa. Badan siliar merupakan daerah terlemah dari mata.
Trauma, peradangan dan neoplasma di daerah ini adalah suatu keadaan yang gawat.

3. Koroid
Koroid merupakan bagian uvea yang paling luar, terletak antara retina (di sebelah
dalam) dan sklera (di sebelah luar). Koroid berbentuk mangkuk yang tepi depannya berada
di cincin badan siliar. Koroid adalah jaringan vascular yang terdiri atas anyaman pembuluh
darah. Pembuluh darah besar kebanyakan terdiri dari pembuluh darah balik, yang kemudian

6
bergabung menjadi v. vortikosa, menembus sklera menjadi v. oftalmika dan langsung masuk
ke dalam sinus kavernosus. Pembuluh darah arteri berasal dari a. siliaris brevis.
Koroid terdiri dari lapisan epitel pigmen, membrana Bruch (lamina vitrea), koriokapiler,
pembuluh darah dan suprakoroid 1,2,4

2.2. DEFINISI

Simpatik Oftalmia adalah suatu kondisi pada mata yang jarang terjadi, dimana pada mata
yang semula sehat ( sympathetic eye), terjadi suatu peradangan pada jaringan uvea setelah cedera
penetrasi pada salah satu mata (exciting eye) oleh karena trauma atau pembedahan. Gejala-gejala
dari peradangan pada mata yang tidak mengalami trauma akan terlihat biasanya dalam waktu 2
minggu setelah cedera, tetapi dapat juga berkembang dari hari sampai beberapa tahun
kemudian.4,5.

Peradangan pada mata muncul dalam bentuk pan uveitis granulomatosa yang bilateral.
Biasanya exciting eye ini tidak pernah sembuh total dan tetap meradang pasca trauma, baik
trauma tembus akibat kecelakaan ataupun trauma karena pembedahan mata. Peradangan yang
berlanjut pada exciting eye tampak berkurang dengan penggunan steroid tetapi pada prinsipnya
proses peradangan jaringan uvea masih tetap jalan terus. Tanda awal dari mata yang bersimpati
adalah hilangnya daya akomodasi serta terdapatnya sel radang di belakang lensa. Gejala ini akan
diikuti oleh iridosiklitis subakut, serbukan sel radang dalam vitreous dan eksudat putih
kekuningan pada jaringan di bawah retina. 3,4-6

2.3. EPIDEMIOLOGI

Kebanyakan kasus oftalmia simpatika diikuti oleh trauma bola mata pada bagian uvea,
terutama badan silier. Trauma karena kecelakaan diperkirakan mencapai 65% kasus, dan 25%
karena luka operasi. Liddy dan Stuart melaporkan 0,19% disebabkan oleh trauma tembus dan
0,007% karena pembedahan intraokuler. Oftalmia simpatika lebih banyak terjadi karena trauma.
Pada pasien tua juga memiliki risiko yang tinggi terkena karena pembedahan intraokuler lebih
banyak dilakukan pada pasien tua. Ras dan jenis kelamin tidak berpengaruh pada penyakit ini.

7
2.4 ETIOLOGI

Belum diketahui secara pasti penyebab dari simpatik oftalmia, namun sering dihubungankan
dengan beberapa factor predisposisi, yaitu :2,4,5

a. Selalu mengikuti suatu trauma tembus


b. Cenderung terjadi oleh luka yang mengenai daerah siliaris bola mata (d angerous zone).
c. Luka dengan inkarserata pada iris, silia, badan silia dan kapsul lensa, lebih rentanterjadi
simpatik oftalmia
d. Lebih sering pada anak-anak dibandingkan orang dewasa.
e. Pada mata yang mengalami trauma, jika pada luka terbentuk pus, maka tidak akan
berkembang menjadi simpatik oftalmia.

2.5 PATHOGENESIS

Berbagai macam teori telah dicetuskan, namun yang paling diterima adalah teori alergi,yang
menyebutkan bahwa pigmen yang berasal dari uvea mata yang mengalami trauma bertindak
sebagai allergen yang memicu terjadinya uveitis pada mata yang sebelahnya.5,6

Setelah luka penetrasi pada mata atau prosedur operasi, antigen okular akan berpindah ke
dalam mata di dekat bagian belakang blood retinal barrier sehingga menjadi terdeteksi terhadap
imunitas sistemik. Mata tidak mempunyai sistem limfatik yang menghalangi antigen okular
untuk mencetuskan respon imun lokal. Sebaliknya, antigen precenting cells (APC) perifer,
seperti makrofag dan sel dendritik, akan memfagositosis antigen okular yang terpapar di daerah
luka. Komponen protein diproses menjadi peptida antigenik untuk presentasi HLA class II
kepada CD4+ helper T cells di nodus limfa perifer atau spleen.

Mata yang mengalami luka penetrasi akan menggangu blood retinal barrier yang
mengakibatkan antigen okular masuk ke dalam lingkungan sistemik. APC perifer seperti
makrofag dan sel dendritik, yang dirangsang oleh kerusakan jaringan dibawa ke daerah yang
rusak dimana mereka akan memfagositosis antigen ocular.

8
APC perifer tadi akan memproses protein yang difagositosis menjadi antigen peptida
yang akan dipaparkan reseptor HLA class II dimana nantinya akan dideteksi oleh antigen-
specific CD4+ helper T cells. Secara normal tidak ada CD4+ helper T cells yang mengenali
peptida protein okular melihat autareactive T cell akan dihapuskan di thymus. Namun, dalam hal
tertentu, autareactive T cell dapat terlepas dari thymus atau peptida tadi dapat menyerupai
peptida yang sama yang dijumpai sebelumnya melalui infeksi dengan patogen (molecular
mimicry). , Autareactive T cell yang respon terhadap peptida antigenik ocular, akan berkembang
secara klonal dan bermigrasi ke bagian yang mengalami inflamasi. HLA class II seperti
DRB1*0404, DRB1*0405 dan DQA1*03 mempunyai hubungan dengan simpatetik oftalmia
yang menandakan mekanisme autoimun CD4+ helper T cells.

Sel-sel imun yang teraktivasi akan mengupregulasi reseptor permukaan sel yang
memperbolehkan mereka untuk melakukan ekstravasasi dari sirkulasi darah masuk ke dalam
jaringan yang mengalami inflamasi. Sel endotelial vaskular juga mengupregulasi ligand untuk
reseptor tersebut agar mempermudah proses ini bila dirangsang oleh sitokin-sitokin inflamasi
seperti IL-1 dan TNF-alfa. CD4 helper T cells yang autoreaktif mempenetrasi blood-retinal
barrier pada mata yang rusak dimana ia mendeteksi antigen okular imunogenik dan mencetuskan
respon imun pro-inflamatorik. Pelepasan sitokin akan membawa lagi sel imun dan akan
meningkatkan respon imun pada mata dan menyebabkan kerusakan yang immune-mediated.
Kemudian, infiltrasi CD4 helper T cells yang autoreaktif dapat merangsang inflamasi pada mata
yang tidak rusak (sympathising eye), kemungkinan kerusakan disebabkan oleh reseptor membran
pada sel endotelial vaskular lokal yang diakibatkan oleh ransangan sitokin sistemik.

CD4 helper T cells yang autoreaktif akan memfiltrasi sel yang tidak rusak (sympathising
eye) dan mencetuskan respon imun terhadap antigen okular imunogenik yang sebelumnya
dideteksi oleh mata yang cedera. Hal ini mungkin disebabkan oleh sitokin (IL-1 dan TNF-alfa)
yang dipicu oleh upregulasi reseptor permukaan sel endotelial vaskular pada mata yang tidak
cedera “sympathising eye” yang meransang ekstravasasi sel imun perifer. Sel T yang teraktivasi
juga akan mensekresikan sitokin yang akan membawa sel-sel imun tambahan seperti APC yang
akan menerima antigen okular dan meransang T sel autoreaktif yang baru. Kerusakan akibat
imun ini tidak hanya dapat menyebabkan kebutaan pada symphathetic eye sehingga terapi harus
dimulai secepatnya.

9
Pada Oftalmia Simpatika, terjadi agregasi nodul limfosit, sel plasma, sel epitel, dan sel
raksasa di sekitar sistem uvea. Proliferasi dari pigmen epitelium (iris, badan siliar, dan koroid)
yang diikuti dengan invasi dari limfosit dan sel epiteloid membentuk suatu nodul yang disebut
dengan Dalen-fuchs’) yang dapat dilihat pada lapisan koroid. Oleh karena reaksi yang terjadi
pada simpatik oftalmia, maka akan terbentuk suatu deposit di lapisan kornea yang disebut
dengan mutton-fat keratic precipitates. Retina menunjukkan suatu infiltrasi seluler perivaskular
(simpatetik perivaskulitis).

Dalen-fuchs’ nodules mutton-fat keratic precipitates

2.6 Gambaran Klinis

Gambaran klinis simpatik oftalmia dibagi menjadi dua, yaitu pada mata yang mengalami
trauma (exciting eye), dan mata yang lain yang semula sehat (symphatizing eye).

1. Exciting Eye (mata yang mengalami trauma) Terlihat tanda-tanda uveitis, yang meliputi
kongesti siliar, lakrimasi, dan nyeri tekan, serta pada pemeriksaan kornea akan terlihat
suatu gambaran keratic precipitat dibagian posterior kornea.3,5
2. Sympathizing Eye (mata yang semula sehat) Gejala biasanya muncul dalam jangka
waktu 4 sampai 8 minggu setelah trauma pada mata yang lain. Pernah dilaporkan

10
terjadinya simpatik oftalmia dalam waktu 9 hari setelah terjadinya trauma. Mata yang
mengalami simpatik oftalmia akan bermanifestasi dalam bentuk iridocyclitis akut,
namun kadang dapat berkembang menjadi neuroretinitis dan koroiditis. Gambaran klinis
dari iridosiklitis pada sympathizing eye dibagi menjadi 2 tahap, yaitu : 5,6
a) Stadium Prodormal Pada stadium ini akan didapatkan keluhan antara lain :
sensitive terhadap cahaya (photofobia), gangguan sementara dalam melihat objek
yang dekat karena melemahnya kemampuan mata untuk berakomodasi. Pada
pemeriksaan mata ditemukan kongesti siliar yang sedang, nyeri tekan pada bola
mata, Keratic precipitat pada kornea dengan jumlah yang sedikit, serta pada
funduscopy tampak kekeruhan pada badan kaca dan edema diskus.2,5,6
b) Stadium Lanjut Pada stadium ini, gejala yang muncul menyerupai gejala yang
terdapat pada iridocyclitis akut. 4-6
2.7.DIAGNOSA
Tidak ada tes yang khusus untuk mengidentifikasi Oftalmia Simpatika. Namun riwayat
trauma pada mata dan operasi dikombinasi dengan penemuan inflamasi pada kedua mata
menjadikan diagnosis simpatik oftalmia adalah mungkin. Riwayat lengkap berserta
pemeriksaan oftalmologi yang teliti seperti pemeriksaan visus, tekanan mata, pemeriksaan
inflamasi di mata. Tes khusus seperti fluorescein angiography, ERG, EOG, indocyanine
green angiography, atau ultrasonografi mungkin dilakukan. Pemeriksaan darah rutin, foto
toraks mungkin dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain yang akan menimbulkan
manifestasi yang serupa seperti Oftalmia Simpatika seperti Vogt-Koyanagi-Harada disease,
sarcoidosis, intraocular lymphoma, and the white dot syndromes.5,9

Tanda awal yang ditemukan pada pemeriksaan fisik antara lain :


 derajat rendah, uveitis presisten yang berhubungan dengan granulomatosa (mutton fat,
merupakan nodul kecil berpigmen pada lapisan epitel pigmen retina, dan uvea menipis)
 presipitat keratik putih
 pada iris terdapat nodul infiltrasi, sinekia anterior perifer, neovaskularisasi iris, oklusi
pupil, katarak, ablasi retina eksudatif, dan papilitis
 penipisan iris difus atau iris noduler, lesi korioretinal putih kekuningan (Dalen-Fuchs
nodul)

11
 penipisan dan infiltrasi koroid
Adanya Dalen-Fuchs nodul merupakan tanda klasik oftalmia simpatika, nodul tersebut
akan muncul di bagian mana saja dari fundus okuli tetapi yang paling sering pada bagian
pertengahan perifer. Merupakan lesi putih kekuningan, diameter 60 – 70 mikron, ditemukan
pada ruangan subretinal pada satu dari tiga kasus.

2.8. DIAGNOSIS BANDING

1. Vogt-Koyanagi Harada Syndrome


Salah satu bentuk uveitis granulomatosa yang jarang terjadi. Dengan gambaran klinis:
uveitis yang mengenai semua jaringan uvea,kelainan pada kulit, dan terdapat gejala saraf
pusat.

2. Sarcoidosis
Penyakit yang mengenai jaringan lymphoid dimana memiliki gejala nyeri pada bola mata,
fotophobia, mata merah, uveitis granulomatosa atau dapat terjadi non garanulomatosa,
terbentuk mutton fat keratic precipitate, terdapat Busacca nodules pada stroma iris dan
Koeppe nodules pada pinggir pupil.

3. Penyakit Bechet
Merupakan kelainan multisistem idiopatik yang memiliki gambaran klinis sistemik dan
uveitis. Sering diasosiasikan dengan adanya hipersensitivitas dan ekspresi dari HLA.
Gambaran klinis yang paling sering adalah ulkus oral, ulkus genital, lesi pada kulit, lesi
pada mata, tes pathergy positif. Sedangkan pada mata sendiri, dapat terjadi panuveitis
nongranulomatosa bilateral yang berat.

12
2.9 PENATALAKSANAAN

Sympathetic opthalmia adalah suatu keadaan yang serius walaupun jarang terjadi yang dapat
menimbulkan kerusakan penglihatan jika tidak diobati. Pengobatan yang cepat dan tepat dan
dapat memberikan hasil yang optimal dalam mengontrol reaksi inflamasi yang terjadi. 1,3,6

 Enukleasi
Metode klasik pencegahan oftalmia simpatika adalah melakukan enukleasi pada mata
yang terluka sebelum penyakit tersebut berkembang ke mata yang satunya. Enukleasi yang
dilakukan pada mata yang terluka dalam 2 minggu setelah trauma, merupakan pencegahan
perkembangan oftalmia simpatika, tetapi hal tersebut bukan merupakan pencegahan absolute
oftalmia simpatika. Oftalmia simpatika kadang berkembang setelah dilakukan pembedahan.
Pengambilan isi bola mata (evisceration) bukanlah alternatif enukleasi. Oftalmia
simpatika dapat terjadi setelah dilakukan pengambilan isi bola mata, kemungkinan merupakan
akibat adanya sisa jaringan uveal pada saluran sclera. Biasanya tidak dianjurkan untuk
dialakukan kecuali pada pasien endoftalmitis atau pada pasien yang memiliki keadaan umum
yang buruk, yang tidak memungkinkan melakukan enukleasi.
Apabila gejala pasti telah ditemukan pada mata yang sehat, dilakukan enukleasi pada
mata yang cidera, kecuali apabila didapatkan kebutaan dan nyeri, maka enukleasi hanya memberi
sedikit atau tidak berpengaruh sama sekali, bahkan tidak disarankan. Beberapa peneliti
menyarankan, enukleasi dilakukan dalam 2 minggu setelah gejala oftalmia simpatika muncul
akan membarikan prognosis visual yang lebih baik. Apabila dilakukan enukleasi lebih dini akan
memberikan tajam penglihatan yang lebih baik dari 20/50 dan lebih sedikit terjadi kekambuhan
daripada yang dilakukan enukleasi terlambat. Enukleasi disarankan dilakukan pada mata yang
sudah tidak memiliki persepsi terhadap cahaya. 2,5,6

 Kortikosteroid
Apabila oftalmia simpatika telah berkembang, lini pertama terapi sistemik adalah
kortikosteroid. Sebelum digunakannya kortikosteroid sebagai pilihan terapi, prognosis visual
sangatlah buruk, dan insidensi kebutaan mencapai 70%.
Dosis awal sebaiknya diberikan kortikosteroid dosis tinggi dan dilanjutnya sampai 6
bulan setelah adanya perbaikan inflamasi. Pada dewasa, pada minggu pertama diberikan dosis

13
oral 100 – 200 mg prednisone. Dosis awal dapat diturunkan kira-kira 5 mg/minggu, sampai
respon inflamasi dapat dikendalikan, sebagai dosis rumatan dapat diberikan 5-10 mg/hari. Pasien
yang diterapi dengan kortikosteroid harus diawasi tekanan darah dan level glukosa darah.
Apabila didapatkan infeksi harus ditangani terlebih dahulu sebelum pemberian kortikosteroid.
Walaupun terapi kortikosteroid sangat efektif, tetapi kortikosteroid tidak dapat mencegah
perkembangan oftalmia simpatika. Dari beberapa penelitian, dilaporkan bahwa oftalmia
simpatika tetap berkembang walaupun telah diberikan terapi kortikosteroid sistemik. 9,10

 Agen imunosupresan
Pada beberapa pasien, pemberian kortikosteroid sebagai terapi tunggal tidak efektif
(pada kasus oftalmia simpatika yang tidak biasa), atau pemberian kortikosteroid dosis sangat
tinggi dibutuhkan untuk mengontrol (pada kasus yang tidak biasa). Selain itu, penggunaan
kortikosteroid jangka panjang sebaiknya dihindari pada pasien yang memiliki masalah kesehatan
dan komplikasi oftalmologi atau sistemik, seperti pada diabetes mellitus, glaucoma tak
terkontrol, atau masalah psikologis. Pada pasien seperti ini, terapi alternative dengan agen
imunosupresan efektif dalam menekan inflamasi, sehingga dapat dilakukan penurunan dosis
kortikosteroid.
Preparat yang direkomendasikan antara lain cyclosporine A ( 5 mg/kg/hari ) pada
pasien usia muda sampai 40 tahun atau azathioprine ( 2 mg/kg/hari yang dibagi dalam 3 dosis )
pada pasien usia tua. Karena mata dengan oftalmia simpatika biasanya diinfiltrasi banyak sel T
teraktivasi, cyclosporine, merupakan inhibitor poten terhadap fungsi sel T, dapat menjadi agen
terapi yang sangat efektif. Dosis yang disarankan untuk kombinasi cyclosporine dan
kortikosteroid adalah : cyclosporine A ( 3-5 mg/kg/hari) dan prednisone ( 15-20 mg/hari).
Tes fungsi ginjal ( urea nitrogen darah, kreatinin ) harus selalu dimonitor pada pasien
yang diterapi cyclosporine. Beberapa peneliti menyarankan penggunaan dosis tinggi, kerja cepat
chlorambucil, karena cholarambucil dapat diabsorbsi traktus gastrointestinal secara baik,
memberi keuntungan apabila diberikan secara oral. Dengan penggunaan chlorambucil,
penggunaan kortikosteroid dapat sepenuhnya dihentikan, sedangkan apabila menggunakan
cyclosporine tidak, kecuali jika dosis cyclosporine harus diturunkan karena ginjal keracunan.
Methotrexate merupakan salah satu imunosupresan yang potensial dan emmberikan keuntungan
apabila digunakan sebagai dosis mingguan. 9,10

14
2.10. Komplikasi

Oftalmia Simpatika memiliki gambaran klinis yang kronis dan dapat mengakibatkan
komplikasi uveitis yang berat seperti glaukoma sekunder, katarak sekunder, retinal detachment,
penyusutan bola mata, dan yang paling parah dapat menyebabkan kebutaan.4

2.11 Progonosis

Penyakit ini mempunyai prognosis yang buruk jika tidak segera dilakukan pengobatan
dimana dapat terjadi penurunan penglihatan yang tajam hingga terjadinya kebutaan. Tetapi
ketika dilakukan pengoabatan yang tepat serta diagnosis yang tepat maka pasien dapat
mempunyai kesempatan untuk sembuh dan tidak terjadi penurunan visus 9,11

15
BAB 3

KESIMPULAN

Oftalmia Simpatika merupakan kondisi yang jarang terjadi tetapi akan menyebabkan
respon terhadap uvea di kedua mata. Hal ini terjadi karena meskipun trauma hanya merusak pada
satu mata, respon inflamasi yang terjadi pada simpatik oftalmia dapat mengakibatkan mata yang
lain ikut terlibat dalam proses. Oftalmia Simpatika dapat terjadi setelah adanya trauma atau
riwayat pembedahan pada mata yang berlawanan, hal ini diperberat apabila pada trauma terjadi
perforasi yang mengakibatkan timbulnya perlengketan terhadap jaringan disekitarnya.

Mata yang cedera atau “exciting eye” akan tetap mengalami inflamasi berat sampai
beberapa minggu atau tahun, sedangkan mata yang tidak cedera atau “sympathising eye” akan
ikut terkena. Inflamasi pada sympathising eye biasanya diawali di bagian korpus siliaris dan
menyebar ke anterior dan posterior, yang kemudian akan membentuk granulamatosa.

Anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi yang cepat dan tepat meningkatkan prognosa
baik pada kasus ini. Pengobatan yang cepat berupa eviserasi pada mata yang kehilangan fungsi
penglihatan perlu dilakukan untuk mengeliminasi antigen, sehingga mata yang lainnya tidak
mengalami penurunan fungsi.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas Sidarta H. 2007. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.

2. Vaugan D, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva. 2000. General ophtalmology.


Jakarta:Widya Medika.

3. Galloway P.H, Galloway N.R, & Browning A.C. Common Eye Disease and Their
Management. 3rd ed. Springer-Verlag. 2006.p132-133, 143-144.

4. Seal, G N.1987. Text Book of Ophtalmology. India: Current Books International.

5. Lang G.K. Ophtalmology: A Short Textbook. Georg Thieme Verlag. 2000 Stuttgart,
Germany. p214-215.

6. Branley,M. 2001. Sympathetic Ophtalmia.Available at:http://northeye.com.


Accessed:June,16 2010

7. Chan,C.2003. Sympathetic Ophtalmia.Available at:http://americanuveitis.com.


Accessed:June,16 2010

8. Langston D.P. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy. 6th ed. Chichago : Lippincott
Williams & Wilkins. 2008. p242-243.

9. Tien Y.W, Li W.V. Topic 8 : Sympathetic Ophthalmia. In : Tien Y.W, Li W.V. The
Ophthalmology Examinations Review. Singapore : World Scientific. 2001. p350-353

17
10. Pablo J.G, Juan CS,: The open ophthalmology journal , Mexico, 2016,10, P 154-159

11. Chan C. Sympatetic ophthalmia , journal of ophthalmic inflammation and infection :


2013, 3 : 49

18