Anda di halaman 1dari 15

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gelombang Seismik

Gelombang seismik merupakan gelombang mekanik yang merambat di dalam

bumi, sehingga pada penjalarannya, gelombang seismik memerlukan medium

untuk merambat (Young dan Freedman, 2003). Gelombang seismik terjadi karena

adanya proses deformasi struktur di bawah bumi akibat tekanan atau tarikan

karena sifat keelastisan kerak bumi. Proses tersebut berupa aktivitas vulkanik,

ledakan buatan maupun gempa bumi. Gelombang seismik disebut juga gelombang

elastik yang membawa energi kemudian menjalar ke segala arah di seluruh bagian

bumi. Disebut gelombang elastik karena osilasi partikel-partikel medium terjadi

akibat dari interaksi antara gradien stress melawan gaya-gaya elastik. Gelombang

seismik pada keadaan tidak teredam dapat dinyatakan dengan persamaan (1):

1 ∂2 ψ
2
∇ ψ= 2 2 ( 1)
v ∂t

dengan

∂ ^ ∂ ^ ∂
∇=i^ +j + k (2)
∂x ∂ y ∂z
5

� adalah suatu fungsi gelombang yang direalisasikan sebagai usikan yang menjalar, �

adalah kecepatan (m/s), t adalah waktu (s) (Aster, 2011). Jika ditinjau sebuah elemen

kecil volume dengan tegangannya berada pada dua permukaan yang tegak lurus

terhadap sumbu x, maka komponen-komponen tegangannya ditunjukkan pada

Gambar 1.

Gambar 1. Komponen Tegangan dan Analisa Tekanan Dua Dimensi (Telford, 2004)

Komponen perpindahan titik P (�, � dan �) dapat dituliskan dengan P (�, � dan �),

sehingga regangan normal ditunjukkan oleh persamaan (3), regangan geser oleh

persamaan (4), sedangkan komponen regangan pada benda yang mengalami

perpindahan secara rotasional ditunjukkan oleh persamaan (5).

∂u ∂v ∂w
ε xx = ; ε yy = ; ε zz = (3)
∂x ∂y ∂z

∂ v ∂u ∂w ∂v ∂u ∂w
ε xy = + ; ε yz= + ; ε zx = + (4)
∂x ∂y ∂ y ∂z ∂ z ∂x

θ x =12 ( ∂∂wy − ∂∂ vz ) ; θ =12( ∂u∂z − ∂∂wx ) ;θ =12( ∂∂uy − ∂∂ vx )(5)


y z

Perubahan dimensi yang disebabkan oleh strain normal akan mengakibatkan

perubahan volume (Telford et al., 2004).

∂u ∂ v ∂ w
θ=ε xx + ε yy + ε zz = + + ( 6)
∂x ∂ y ∂z
6

Hubungan antara tegangan dan regangan yang menimbulkan pergeseran sederhana

disebut modulus rigiditas dan dinyatakan dalam persamaan (7). Hubungan antara

konstanta elastik pada medium homogen isotropik membentuk persamaan (8).

Tegangan geser
μ= (7)
regangan

λ
σ= ( 8)
2( λ+ μ)

dengan � adalah konstanta Lame, � adalah tegangan, � adalah regangan dan �

menyatakan hambatan regangan geser. Persamaan rambat gelombang primer dan

sekunder dapat diturunkan dari hukum Hooke yang menyatakan hubungan tegangan

(gaya per satuan luas) dan regangan (perubahan dimensi), yaitu:

σ ii =λθ+ 2 μ ε ii ; i=x , y , z(9)

σ ij =μ ε ij ; j= x , y , z dan i≠ j(10)

Komponen-komponen tegangan di atas disebut gaya tiap satuan volume benda pada

bidang x yang memiliki arah pada sumbu x, y, dan z. Total gaya pada sumbu x yang

terjadi pada benda (medium) berbentuk kubus adalah:

∂ σ XX ∂ σ XX ∂ σ XX
F= ( ∂x
+
∂x
+
∂x )
dxdydz (11)

dengan 𝑑�𝑑�𝑑� adalah satuan volume kubus. Menurut Hukum II Newton, gaya

adalah perkalian antara massa (m) dan percepatannya (a). Apabila dikaitkan dengan

persamaan densitas benda �=�/�, maka

∂2 u
F=ma=ρVa= ρ ( dxdydz ) ( ) ∂ t2
(12)
7

Gelombang seismik merambat pada suatu medium ke segala arah. Secara tiga dimensi

arah perambatan gelombang dinyatakan dengan sumbu x, y, dan z dengan menggunakan

definisi gaya F, sehingga persamaan (12) menjadi bentuk diferensial seperti pada

persamaan (13).

∂ ∂ σ xx ∂ σ yy ∂ σ zz ∂ σ xx ∂ σ yy ∂ σ zz
2 2 2 2
ρ 2
∂t ∂ x (
+
∂y
+
∂z
( '
)
= λ +μ ) (
∂ θ ∂θ ∂θ
2
+ 2 + 2 + μ ∇2
∂x ∂ y ∂z ) (
∂x
+
∂y
+
∂z )
2
∂ θ ( '
ρ 2
= λ + 2 μ ) ∇2 θ
∂t

ρ ∂2θ 2
' 2
=∇ θ(13)
(λ +2 μ) ∂ t

Gelombang seismik dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gelombang badan (body

wave) dan gelombang permukaan (surface wave). Seperti ditunjukkan pada Gambar

2, gelombang badan menjalar di dalam bumi sedangkan gelombang permukaan

menjalar di permukaan bumi.

Gambar 2. Gelombang Badan dan Gelombang Permukaan (Ammon, 2005)

1. Gelombang Badan

Gelombang badan adalah gelombang yang menjalar dalam media elastik dan arah

perambatannya ke seluruh bagian di dalam bumi. Berdasarkan gerak partikel pada


8

media dan arah penjalarannya, gelombang ini dapat dibedakan menjadi gelombang

primer dan gelombang sekunder (Ammon, 2005).

a. Gelombang Primer (P)


Gelombang P seperti ditunjukkan pada Gambar 3 merupakan gelombang longitudinal,

karena simpangannya sejajar dengan arah penjalarannya. Gelombang P dapat

melewati semua medium dengan arah getarnya ke depan dan ke belakang sehingga

materi yang dilaluinya mengalami tekanan dan peregangan. Gelombang P dapat

menjalar pada semua medium baik padat, cair, maupun gas.

Gambar 3. Gelombang Primer (Elnashai dan Sarno, 2008)


Kecepatan penjalaran gelombang P dapat dikemukakan dengan persamaan:


4
k+ μ
3
V p= (14)
ρ

dengan �� adalah kecepatan gelombang P (m/s), � adalah rigiditas atau modulus

geser (N/m2), k adalah modulus Bulk (Pa), dan � adalah densitas (kg/m3) (Elnashai

dan Sarno, 2008).

b. Gelombang Sekunder (S)

Gelombang S atau gelombang transversal (shear wave) adalah salah satu gelombang

badan (body wave) yang memiliki simpangan tegak lurus terhadap arah rambatnya
9

seperti ditunjukkan pada Gambar 4. Gelombang ini waktu tibanya setelah gelombang

P, sehingga gelombang tercatat setelah gelombang P pada seismograph. Gelombang

ini hanya merambat pada medium padat dan tidak dapat merambat pada fluida

sehingga pada inti bumi bagian luar tidak dapat terdeteksi sedangkan pada inti bagian

dalam mampu dilewati. Nilai kecepatan gelombang S (Vs) adalah dari 3 km/s hingga

4 km/s di kerak bumi, lebih dari 4,5 km/s di dalam mantel bumi, dan 2,5 hingga 3,0

km/s di dalam inti bumi.

Gambar 4. Gelombang Sekunder (Elnashai dan Sarno, 2008)

Kecepatan gelombang S dapat diperlihatkan dengan persamaan:

V s=
√ μ
ρ
(15)

dengan � adalah rigiditas atau modulus geser (N/m2) dan � adalah densitas (kg/m3)

(Dentith, 2014).

2. Gelombang Permukaan (Surface Wave)

Gelombang permukaan merambat di permukaan bumi. Amplitudo gelombang ini

akan semakin melemah jika semakin menjalar masuk ke dalam inti bumi. Gelombang
10

permukaan merupakan salah satu gelombang seismik selain gelombang badan.

Berdasarkan pada sifat gerakan partikel media elastik, gelombang permukaan

merupakan gelombang yang kompleks dengan frekuensi rendah dan amplitudo besar,

yang menjalar akibat adanya efek free surface dimana terdapat perbedaan sifat elastik

(Susilawati, 2008). Jenis dari gelombang permukaan ada dua yaitu gelombang

Rayleigh dan gelombang Love.

a. Gelombang Rayleigh

Gelombang Rayleigh diperkenalkan oleh Lord Rayleigh pada tahun 1885. Gelombang

Rayleigh merambat pada permukaan bebas medium berlapis maupun homogen.

Gelombang Rayleigh seperti ditunjukkan pada Gambar 5 merupakan gelombang

permukaan yang gerakan partikel medianya merupakan kombinasi gerakan partikel

yang disebabkan oleh gelombang P dan gelombang S. Orbit gerakan partikelnya

merupakan gerakan elliptic dengan sumbu mayor ellips tegak lurus dengan

permukaan dan arah penjalarannya (Telford et al., 2004) yang memiliki kecepatan

(VR) dari 2,0 km/s hingga 4,2 km/s. Gelombang Rayleigh adalah gelombang yang

dispersif dengan periode yang lebih panjang sehingga lebih cepat mencapai material

yang lebih dalam dibandingkan dengan gelombang yang memiliki periode pendek.

Hal ini menjadikan gelombang Rayleigh sebagai alat yang sesuai untuk menentukan

struktur bawah tanah di suatu area.


11

Gambar 5. Gelombang Rayleigh (Hidayati, 2010).

b. Gelombang Love

Gelombang Love diperkenalkan oleh A.E.H Love, seorang ahli matematika dari

Inggris pada tahun 1911. Gelombang Love merambat pada permukaan bebas medium

berlapis yang penjalarannya paralel dengan permukaannya (Gadallah dan Fisher,

2009). Gelombang Love adalah gelombang permukaan yang menyebabkan tanah

mengalami pergeseran pada arah horizontal. Gelombang Love merupakan gelombang

transversal dengan kecepatan gelombang ini di permukaan bumi (VL) adalah 2,0 km/s

hingga 4,4 km/s (Hidayati, 2010).

Gelombang Love mirip dengan gelombang S yang tidak memiliki perpindahan

vertikal dan hanya terpolarisasi secara horizontal seperti yang ditunjukkan pada

Gambar 6. Gelombang ini terbentuk akibat interferensi konstruktif dari pantulan-

pantulan gelombang seismik pada permukaan bebas dan tidak dapat merambat di

medium cair. Gelombang ini bergerak lebih cepat daripada Rayleigh.


12

Gambar 6. Gelombang Love (Hidayati, 2010).

2.2 Sinyal Seismik


Sinyal seismik adalah sinyal yang dipancarkan dari sumber seismik seperti

gempabumi, longsor, badai, ledakan, aktifitas manusia, dan lain-lain yang dapat

diamati dengan seismogram sebagai bentuk rekaman getaran tanah. Sinyal seismik

berasal dari sumber yang terkonvolusi oleh efek propagasinya dan efek seismometer

yang merekamnya. Menurut teorema fourier, sinyal seismik sebagai domain waktu

dapat diubah menjadi domain frekuensi dan sebaliknya dengan menggunakan

transformasi fourier (Afnimar, 2009).

2.3 Seismic Noise

Menurut McNamara dan Buland (2004) sumber seismic noise atau bising seismik

dapat dikelompokan dalam 3 karakter. Pertama, sumber bising kultural (cultural

noise). Ini merupakan sumber bising seismik yang paling umum. Sumber bising

seismik ini berasal dari aktivitas manusia di dekat atau pada permukaan bumi. Bising

seismik ini misalnya arus lalu lintas, aktivitas industri dan pertambangan. Bising

cultural menyebar sebagai gelombang permukaan frekuensi tinggi (1-10 Hz) yang

meluruh terhadap jarak. Untuk alasan ini bising kultural umumnya akan berkurang

secara signifikan pada lubang bor yang dalam, gua-gua yang dalam, dan terowongan
13

yang panjang. Bising cultural menunjukan variasi harian yang sangat kuat dan

memiliki karakteristik frekuensi yang bergantung pada sumber gangguan. Misalnya,

lalu lintas mobil di sepanjang tanah 20 m dari stasiun menciptakan peningkatan daya

30-35 dB pada rentang frekuensi 5-10 Hz.

Kedua, sumber bising seismik angin, air, dan geologi. Contoh sumber bising angin

adalah benda yang bergerak karena pengaruh angin dan gerakan ini diteruskan ke

dalam tanah. Secara umum, turbulensi angin pada berbagai ketinggian dan gerak

pohon ke tanah melalui akarnya akan menghasilkan bising angin frekuensi tinggi.

Sedangkan pengaruh angin pada benda-benda besar seperti menara dan tiang-tiang

telepon dapat menyebabkan ayunan tanah yang muncul sebagai bising angin periode

panjang. Contoh sumber bising air dan geologi misalnya aliran air, ombak sungai,

aktivitas gunung berapi, atau osilasi periode panjang karena ketidakstabilan aliran

panas dari akibat desain stasiun yang buruk.

Ketiga, sumber bising mikroseismik. Sumber bising seismik ini didefinisikan sebagai

getaran lemah di bumi dalam skala mikro yang disebabkan oleh fenomena alam.

Dalam bising mikroseismik ada dua puncak dominan. Kedua puncak ini dapat

diidentifikasi pada spectral bising seismik di semua stasiun seismik broadband di

seluruh dunia. Puncak yang pertama dengan ciri amplitude yang rendah dan periode

panjang (T=10-15 detik) puncak ini dikenal sebagai “puncak frekuensi tunggal”.

Bising seismik pada puncak ini dihasilkan di perairan pantai yang dangkal dimana

energy gelombang laut diubah secara langsung menjadi energy seismik, baik melalui

variasi tekanan vertical ataupun melalui terjangan ombak di pantai. Puncak yang
14

kedua dengan ciri amplitude yang tinggi dan periode yang pendek (T=4-8 detik).

Puncak ini dikenal sebagai “Puncak Frekuensi Ganda” yang dihasilkan oleh

superposisi gelombang laut dengan periode yang sama tetapi menjalar pada arah yang

berlawanan sehingga menghasilkan gelombang gravitasi berdiri dengan periode

setengah dari periode gelombang air standar.

Menurut Mujihardi, dkk (2012) mikroseismik diakibatkan oleh pergerakan di bawah

permukaan bumi dengan magnitude yang rendah dan tidak dirasakan. Contoh

pergerakan yang dapat dikategorikan sebagai mikroseismik yaitu: ombak laut,

aktivitas atmosfer bumi, pergerakan rekahan, proses injeksi fluida, aktivitas

pemboran, migrasi fluida, dan lain-lain. Menurut Errington (2006) gempabumi

dengan magnitude kecil (<3 SR) juga merupakan mikroseismik.

2.4 Power Spectral Density (PSD)

Metode standar untuk mengukur noise seismik latar yang digunakan dalam penelitian

ini adalah dengan menghitung PSD mengacu algoritma yang dikembangkan oleh

McNamara dan Buland (McNamara dan Buland, 2004). Untuk mengetahui PSD dari

sinyal seismik digunakan metode transformasi Fourier langsung atau metode Cooley-

Tukey (Cooley dan Tukey, 1965). Metode ini menghitung PSD dengan algoritma

Transformasi Fourier Cepat (Fast Fourier Transform atau FFT) untuk efisiensi

perhitungan. FFT untuk deret waktu periodik dalam rentang terbatas y(t) dinotasikan

sebagai:
Tr
Y ( f , T r )=∫ y ( t ) e−i 2 ft dt( 16)
0
15

dimana Tr adalah panjang segmen deret waktu = 2n x laju sampling dan f adalah

frekuensi, Hz.

Untuk nilai-nilai frekuensi diskrit fk, komponen fourier didefinisikan sebagai:

Y ( f k ,Tr )
yk= (17)
∆t

dengan :

f k =k /N ∆ t dengan k =1,2,… , N−1

∆t adalah interval sampel

N adalah jumlah sampel dalam domain waktu N=Tr /∆ t

Komponen-komponen Fourier di atas dapat digunakan untuk merumuskan estimasi

Power Spectral Density total, yaitu:

2∆t 2
Pk =
N
| y k| (18)

Pada persamaan (18), total daya Pk adalah kuadrat dari amplitudo spektrum dengan

faktor normalisasi 2 ∆ t /N . Faktor normalisasi ini diterapkan ketika

membandingkan perkiraan PSD dengan batasan yang diperoleh dari Peterson Model

(McNamara dan Buland, 2004).

2.5 Seismograph dan Seismometer


16

Seismograph merupakan instrumen yang dapat mendeteksi dan mencatat pergerakan

tanah atau getaran tanah akibat gempabumi beserta informasi waktu yang tepat.

Seismograph terdiri dari seismometer, penunjuk waktu yang akurat, dan digitizer

untuk merekam sinyal yang diperoleh dari seismometer. Hasil rekaman pergerakan

tanah dari seismograph disebut seismogram. Pada praktik kerja lapangan ini, digitizer

yang digunakan adalah digital portable seismograph tipe TDL-303S. Gambar 7

menunjukan bentuk fisik digital portable seismograph tipe TDL-303S.

Gambar 7. Digital Portable Seismograph TDL-303S (Addawiyah, 2017).

Seismometer merupakan sensor yang dapat merespon getaran tanah dan menangkap

sinyal yang dapat direkam oleh seismograph. Seismometer memiliki tiga detektor

yang dapat mendeteksi getaran tanah. Tiga detektor ini digunakan untuk mendeteksi

getaran dari dalam tanah dan getaran lain di sekitar lokasi yang menyentuh tanah.

Pada penelitian ini seismometer yang digunakan adalah seismometer dengan tipe

TDV-23S. Seismometer tipe TDV-23S mendeteksi variabel kecepatan dari getaran

tanah (TAIDE, 2010). Seismometer tipe TDV-23S ditunjukan pada Gambar 8.


17

Gambar 8. (a) Tampilan fisik seismometer tipe TDV-23S;


(b) Konstruksi seismometer tipe TDV-23S;
(c) Dimensi seismometer tipe TDV-23S;
(d) Struktur bagian dalam seismometer tipe TDV-23S (TAIDE, 2010).
18