Anda di halaman 1dari 5

PROSIDING HIMPUNAN AHLI GEOFISIKA INDONESIA

Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-26, Jakarta 1 - 3 Oktober 2001

INVERSI DATA MAGNETIK 3-D

(inversion of 3-D magnetic data)

Tedi Yudistira, Hendra Grandis


Program Studi Geofisika, Jurusan Geofisika dan Meteorologi FIKTM - ITB
e-mail : tedi@geoph.itb.ac.id, grandis@geoph.itb.ac.id

Abstrak
Ambiguitas dalam pemodelan data medan potensial menyebabkan data gravitasi atau magnetik tidak memiliki
resolusi vertikal yang baik. Oleh karena itu diperlukan informasi tambahan yang dapat memberikan kendala
bagi model yang dicari. Makalah ini membahas pemodelan inversi data magnetik 3-D dengan menggunakan
data pada beberapa level ketinggian yang berbeda untuk meningkatkan resolusi vertikal pada model 3-D hasil
inversi. Konsep sumber ekivalen digunakan untuk memperoleh data pada beberapa level ketinggian melalui
proses kontinuasi ke atas. Inversi data sintetik menghasilkan model dengan resolusi vertikal yang relatif lebih
baik, yaitu distribusi kemaganetan pada kedalaman yang sesuai dengan model sintetik.

Abstract
Ambiguity in the modelling of potential field data results in poor vertical resolution of gravity or magnetic data.
Therefore, additional information is needed to constrain the inverse model. The paper describes the inversion of
3-D magnetic data using data from several altitude levels in order to increase the vertical resolution of the
inverted 3-D model. The equivalent source technique is used to obtain data at several altitude levels by upward
continuation of surface data. The inversion of synthetic data results in a model with relatively better vertical
resoltion, i.e. magnetization distribution that agrees well with synthetic model.

Pendahuluan
Permasalahan utama dalam inversi data gravitasi dan magnetik adalah ambiguitas atau ketidak-unikan
solusi sehingga terdapat banyak model yang dapat menjelaskan data observasi. Oleh karena itu diperlukan
informasi tambahan baik berupa informasi a priori maupun kendala (constraint) untuk menentukan model yang
paling layak secara geologis. Inversi tanpa kendala tambahan menghasilkan sumber anomali yang cenderung
terkonsentrasi di dekat permukaan sehingga data gravitasi atau magnetik dikatakan tidak dapat menghasilkan
model dengan resolusi vertikal yang baik. Pada inversi data gravitasi 2-D umumnya kendala diterapkan dengan
meminimumkan fungsi tertentu, diantaranya minimisasi volume sumber anomali (Last & Kubik, 1983) atau
minimisasi momen inersia terhadap satu atau beberapa sumbu (Guillen & Menichetti, 1984; Barbosa & Silva,
1994). Pada inversi data gravitasi dan magnetik 3-D, Li & Oldenburg (1996, 1998) menggunakan pembobotan
model terhadap kedalaman (depth weighting) di samping meminimumkan variasi spasial parameter fisis model
sehingga dihasilkan model yang "smooth" dengan resolusi vertikal yang lebih baik.
Dengan asumsi bahwa data medan potensial pada level ketinggian yang berbeda mengandung informasi
mengenai variasi parameter fisis (densitas atau magnetisasi) terhadap kedalaman, Fedi & Rapolla (1999) berhasil
memperoleh model inversi dengan kedalaman yang tepat. Makalah ini membahas implementasi metoda tersebut
pada data magnetik (data sintetik dan data lapangan) di mana data pada beberapa level ketinggian diperoleh
melalui proses kontinuasi ke atas menggunakan teknik sumber ekivalen 3-D (Grandis & Yudistira, 2001).

Resolusi vertikal data magnetik


Jika ditinjau suatu model 3-D yang dibangun oleh himpunan prisma tegak dengan intensitas magnetisasi
tiap prisma homogen maka vektor data magnetik d (di, i = 1, 2, …, N) adalah hasil transformasi linier vektor
intensitas magnetisasi tiap prisma m (mi, i = 1, 2, …, M) dengan matriks kernel G (N × M) sebagai berikut :
d=Gm (1)

Setiap elemen matriks kernel adalah respons satu prisma dengan intensitas magnetisasi satu satuan sehingga
merupakan fungsi geometri yang merepresentasikan posisi relatif prisma terhadap titik observasi dalam ruang
3-D. Uraian persamaan (1) menghasilkan :
M
di = ∑ Gi j m j (2)
j =1

yang secara lebih eksplisit menunjukkan bahwa data adalah penjumlahan parameter fisis yang diberi bobot
matriks kernel. Mengingat matriks kernel merupakan fungsi yang berbanding terbalik dengan jarak maka harga
fungsi pembobot tersebut berkurang terhadap kedalaman yang merupakan jarak dalam arah vertikal antara
sumber anomali dengan titik observasi di permukaan bumi (Balkely, 1995). Untuk mengkompensasi hal tersebut
Li & Oldenburg (1996, 1998) menggunakan pembobotan model terhadap kedalaman sebagai salah satu cara
untuk memperoleh model inversi dengan resolusi kedalaman yang lebih baik. Namun penentuan beberapa
parameter pembobot masih bersifat subyektif sehingga perlu dilakukan secara coba-coba atau trial and error.
Analisis terhadap spektrum nilai singulir matriks kernel yang dilakukan Fedi & Rapolla (1999)
menunjukkan bahwa data magnetik pada beberapa level ketinggian yang berbeda mengandung informasi lebih
lengkap mengenai variasi intensitas magnetisasi terhadap kedalaman. Oleh karena itu inversi yang dilakukan
terhadap data dalam ruang 3-D sebagai fungsi (x, y, z) dapat menghasilkan model dengan resolusi vertikal yang
lebih baik. Dengan asumsi bahwa data pada level ketinggian yang berbeda tidak perlu diukur secara independen,
maka data yang terdistribusi dalam ruang 3-D dapat diperoleh melalui proses kontinuasi ke atas. Fedi & Rapolla
(1999) juga menunjukkan bahwa asumsi tersebut berlaku jika proses kontinuasi dilakukan terhadap data dengan
cakupan jauh lebih luas dibanding daerah penelitian. Hal ini merupakan karakteristik kontinuasi menggunakan
teknik FFT. Pada makalah ini proses kontinuasi dilakukan dengan menggunakan teknik sumber ekivalen 3-D.

Inversi data magnetik 3-D


Dalam pembahasan berikut, grid pengukuran bersesuaian dengan titik tengah prisma yang terletak di
permukaan. Jika data hanya terdapat di permukaan (z = 0) maka jumlah data adalah N = nx × ny × 1 dan jumlah
parameter model adalah M = nx × ny × nz, di mana nx, ny dan nz masing-masing adalah jumlah grid dalam
arah x, y dan z. Dengan menggunakan data di permukaan maka inversi linier purely under-determined (N < M)
yang meminimumkan "norm" model menghasilkan model kemagnetan prisma me yang dapat berfungsi sebagai
sumber ekivalen 3-D. Data pada level ketinggian tertentu (z < 0) diperoleh sebagai hasil kali sumber ekivalen
u
3-D tersebut dengan matriks kernel untuk kontinuasi ke atas G sebagai berikut :

d u = G u me (3)

Alternatif lain untuk proses kontinuasi adalah melalui filtering menggunakan fast fourier transform (FFT),
meskipun untuk itu diperlukan cakupan data yang cukup luas.
Kontinuasi ke atas dilakukan pada sejumlah level ketinggian yang lebih besar dari pada jumlah prisma
dalam arah vertikal. Dengan demikian, gabungan data di permukaan dan hasil kontinuasi ke atas menghasilkan
data dengan jumlah yang lebih besar dari pada jumlah parameter model (N > M). Permasalahan inversinya
bersifat over-determined (Menke, 1984) sehingga solusi inversi dinyatakan oleh :

ˆ = [ G T G ] −1 G T d
m (4)

di mana matriks kernel G pada persamaan di atas sudah melibatkan keseluruhan data atau data dalam ruang
3-D. Untuk menghindari ketidakstabilan inversi matriks yang mendekati singulir maka dilakukan pula
minimisasi "norm" model melalui penggunaan faktor redaman 0 < λ < 1 sehingga persamaan (4) menjadi :

ˆ = D [ D G T G D + λ I ] −1 D G T d
m (5)
−1/2
 N 
di mana matriks D adalah matriks diagonal (M × M) dengan elemen-elemen Dii =  ∑ 
G 2ji  .

 j =1 
Di samping itu penyelesaian persamaan (5) dilakukan dengan menerapkan teknik Singular Value Decomposition
atau SVD (Press dkk., 1987) dan nilai singulir lebih kecil dari 10-6 kali nilai singulir maksimum diabaikan dan
solusi dikontrol sepenuhnya oleh faktor redaman (λ).
Hasil dan Pembahasan
Model bawah-permukaan tersusun oleh prisma 3-D berukuran 100 × 100 × 50 meter berjumlah 10 × 10
× 7 masing-masing dalam arah x, y dan z. Data sintetik adalah respons model berupa prisma 400 × 400 × 100
meter pada interval kedalaman 150-200 meter dengan intensitas magnetisasi 1.0 A/m, inklinasi = –20O dan
deklinasi = 0O. Pada data sintetik tersebut ditambahkan bising yang terdistribusi normal dengan rata-rata nol dan
standar deviasi 2 nT. Hasil inversi data yang hanya terdapat di permukaan (data 2-D) menghasilkan model
intensitas magnetisasi yang terkonsentrasi di dekat permukaan (gambar 1a) sehingga tidak menggambarkan
model yang sebenarnya (model sintetik). Meskipun demikian, model 3-D tersebut dapat digunakan sebagai
sumber ekivalen dalam proses kontinuasi ke atas untuk menghitung data pada 9 level ketinggian sehingga
diperoleh data yang terdistribusi dalam ruang 3-D.
Hasil inversi data pada 10 level ketinggian (termasuk data di permukaan) menggunakan λ = 5 × 10-4
diperlihatkan pada gambar 1b. Pemilihan harga λ didasarkan atas harga misfit yang cukup kecil yaitu 6.9 × 10-3
nT. Tampak bahwa sumber anomali lebih terkonsentrasi pada interval kedalaman 150-200 meter sehingga lebih
menggambarkan model yang sebenarnya atau model sintetik. Adanya intensitas magnetisasi tidak nol di luar
interval kedalaman 150-200 meter disebabkan adanya bising yang ditimbulkan oleh proses kontinuasi
menggunakan sumber ekivalen 3-D. Di samping itu, hal tersebut dapat pula disebabkan tidak adanya kendala
lain selain minimisasi "norm" model. Oleh karena itu penggunaan faktor pembobot model (model weight) yang
meminimumkan variasi spasial parameter model atau model roughness (Li & Oldenburg, 1996; 1998)
diharapkan dapat menghasilkan model inversi yang lebih baik.
Sebagai perbandingan dilakukan inversi terhadap data yang terdistribusi dalam ruang 3-D hasil
perhitungan forward modelling (teoritis) dan hasilnya ditampilkan pada gambar 1c. Dalam hal ini digunakan λ
= 3 × 10-4 dan misfit yang dihasilkan adalah 5.8 × 10-3 nT. Perbedaan hasil inversi disebabkan karena adanya
perbedaan antara data 3-D teoritis dan data 3-D hasil kontinuasi menggunakan sumber ekivalen (gambar 2).
Penerapan metoda inversi data magnetik 3-D pada data lapangan akan dibahas pada presentasi makalah.

Kesimpulan
Pemodelan inversi data magnetik 3-D menggunakan data pada beberapa level ketinggian menghasilkan
model dengan resolusi vertikal yang lebih baik sehingga kedalaman sumber anomali juga dapat diperkirakan
secara lebih baik. Data yang terdistribusi dalam ruang 3-D dapat diperoleh melalui proses kontinuasi ke atas
menggunakan teknik sumber ekivalen atau teknik FFT. Meskipun contoh yang dikemukakan pada makalah ini
hanya menyangkut data magnetik, teknik yang sama dapat diterapkan pula pada data gravitasi.

Daftar Pustaka
Barbosa, V.C.F., Silva, J.B.C., 1994, Generalized compact gravity inversion, Geophysics, 59, 57-68.
Blakely, R.J., 1995, Potential Theory in Gravity and Magnetic Applications, Cambridge University Press.
Fedi, M., Rapolla, A., 1999, 3-D inversion of gravity and magnetic data with depth resolution, Geophysics, 64,
452-460.
Guillen, A., Menichetti, V., 1984, Gravity and magnetic inversion with minimization of a specific functional,
Geophysics, 49, 1354-1360.
Grandis, H., Yudistira, T., 2001, Transformasi data magnetik menggunakan sumber ekivalen 3-D, Prosiding PIT
HAGI ke-26, Jakarta.
Last, B.J., dan Kubik, K., 1983, Compact gravity inversion, Geophysics, 48, 713-721.
Menke, W., 1984, Geophysical data analysis: Discrete inverse theory, Academic Press.
Press, W.H., Flannery, B.P., Teukolsky, S.A., Vetterling, W.T., 1987, Numerical recipes: The art of scientific
computing, Cambridge University Press.
Li, Y., Oldenburg, D.W., 1996, 3-D inversion of magnetic data, Geophysics, 61, 394 - 408.
Li, Y., Oldenburg, D.W., 1998, 3-D inversion of gravity data, Geophysics, 63, 109 - 119.
(a) (b)

(c)

INTENSITAS
MAGNETISASI (A/m)
1.0
0.8
0.6
0.4
0.3
0.2
0.1
0.0

Gambar 1.
Model yang diperoleh dari inversi :
(a) data di permukaan,
(b) data 3-D hasil kontinuasi,
(c) data 3-D teoritis.
-50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50
(nano Tesla)
(a) (b)

Gambar 2. (a) Data sintetik 3-D hasil perhitungan (teoritis).


(b) Data sintetik 3-D hasil kontinuasi ke atas.