Anda di halaman 1dari 6

JURNAL PRAKTIKUM GELOMBANG-POLARIMETER 1

POLARIMETER
Nina Ningsih, Biaunik Niski Kumila, Muhammad Taufiqi
Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: ayu11@mhs.physics.its.ac.id
Abstrak—Telah dilakukan percobaan polarimeter dengan magnet pembentuknya berosilasi dengan frekuensi sama
tujuan untuk mempelajari polarimeter, mengukur sudut putar namun dalam arah getar yang yang saling tegak lurus.
jenis larutan gula sebagai fungsi konsentrasi serta untuk Berikut adalah gambarnya.
menentukan konsentrasi larutan gula dengan polarimeter.
Prinsip pada percobaan ini adalah sifat dari cahaya yang dapat
terpolarisasi. Zat optic aktif yang digunakan adalah larutan gula.
Dilakukan dua macam percobaan dengan dua kali pengulangan
untuk masing-masing percobaan dan akan dibuat perhitungan.
Variasi yang digunakan adalah berupa konsentrasi gula. Data
yang didapatkan berupa sudut putar dan suhu. Berdasarkan
percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa
kesimpulan bahwa polarimeter dapat disimpulkan bahwa
prinsip kerja polarimeter adalah meneruskan sinar yang
mempunyai arah getar yang sama dengan arah polarisator,
sudut putar akibat polarisasi bergantung pada konsentrasi dan
jenis larutannya. Dan didapatkan sudut putar jenis larutan gula
dengan konsentrasi 0,2 gr/ml adalah 10,3375˚ dan sudut putar
larutan gula dengan konsentrasi 0,4 gr/ml adalah 1,075˚ serta Gambar 1 gelombang elektromagnetik
konsentrasi dari larutan kedua adalah 0,0254 gr/ml. Cahaya termasuk dalam gelombang transversal, yaitu
gelombang yang arah rambatnya tegak lurus arah getaran,
Kata Kunci— konsentrasi, polarisator, zat optic aktif
sehingga cahaya dapat terpolarisasi. Polarisasi adalah
terserapnya sebagian arah getar cahaya. Cahaya yang sebagian
I. PENDAHULUAN arah getarnya terserap disebut cahaya terpolarisasi. Dan jika
cahaya hanya mempunyai satu arah getar, maka disebut

C
ahaya adalah gelombang elektromagnetik yang kasat
mata (dapat ditangkap oleh mata) mempunyai sebagai cahaya terpolarisasi linear.
panjang gelombang 400 nm sampai dengan 700 nm. Cahaya dapat terpolarisasi melalui suatu polarisator
Cepat rambat cahaya adalah sama untuk semua tertentu. Polarisai ini mempunyai manfaat dalam kehidupan
frekuensi atau panjang gelombang[1]. Cahaya adalah sebuah sehari-hari seperti halnya untuk pembuatan kaca mata 3
gelombang elektromegnetik yang mempunyai sifat dapat dimensi, pelindung sinar ultra violet, dan sebagainya. Sekitar
dipantulkan, dibiaskan, difokuskan dengan lensa, polarisasi. tahun 1665, bukti mengenai sifat-sifat gelombang dari cahaya
Cahaya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu cahaya ditemukan. Percobaan Hertz memperlihatkan secara pasti
polikromatik dan cahaya monokromatik. Cahaya polikromatik bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang
adalah cahaya yang terdiri atas banyak warna dan panjang bergerak dengan kelajuan cahaya. Beberapa efek yang
gelombang. Contohnya adalah cahaya putih. Cahaya diasosiasikan dengan pemancaran dan penyerapan cahaya
monokromatis adalah cahaya yang terdiri dari satu warna dan mengungkapkan adanya aspek partikel, dalam pengertiannya
satu panjang gelombang. Contohnya adalah cahaya merah dan
bahwa energi yang diangkut oleh gelombang cahaya itu
biru[2].
dibungkus dalam paket-paket diskrit yang dinamakan foton
Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang
atau kuanta. Jadi dapat disimpulkan jika cahaya dapat bersifat
terdiri dari dari getaran medan listrik dan getaran medan
gelombang dan dapat bersifat sebagai partikel[4].
magnet yang saling tegak lurus. Dimana bidang getar kedua
Polarisasi adalah peristiwa terserapnya sebagian arah
medan tersebut tegak lurus terhadap arah rambatnya[3].
getar cahaya yang datang karena melewati medium polaroid
Kemudian James Clerk Maxwell pada tahun 1873
yang memiliki gugus asimetri sehingga amplitudo gelombang
menunjukkan bahwa osilasi medan listrik meradiasi
tersebut akan berkurang sebanding dengan I = I0 cos 2θ[3].
gelombang elektromagnetik. Kecepatan perambatan
Polarisasi merupakan suatu peristiwa membeloknya
gelombang yang dihitung dengan pengukuran medan listrik
gelombang cahaya karena zat optis aktif. Gelombang yang
dan medan magnet diperoleh nilai yang sama dengan cepat
melewati Polaroid hanya yang sejajar sedangkan uang tegak
rambat cahaya dalam ruang hampa yakni 3x10 8 m/s.[4] Pada
lurus akan terserap sebagian arah getarnya. Dalam hal ini
saat itu Maxwell menyatakan bahwa cahaya merupakan
cahaya yang terpolarisasi pada medan listriknya (E) yang
gelombang elektromagnetik yang medan listrik dan medan
berakibat besarnya Intensitas (I) setelah melewati medium
JURNAL PRAKTIKUM GELOMBANG-POLARIMETER 2

Polaroid menjadi berkurang. amplitudonya berbeda, dan dengan beda fase relatif selain
Terdapat tiga macam polarisasi yaitu polarisasi bidang atau kelipatan π/2 radian[4].
linier, polarisasi lingkaran dan polarisasi elips. Pada cahaya
terpolarisasi bidang, arah getar medan listrik sembarang yang
berada pada bidang xy dapat diuraikan menjadi dua
komponen, yaitu ke arah sumbu x dan y, seperti yang ada pada
gambar 2 Polarisasi bidang ini terbentuk hanya bila frekuensi
dan fase awal dari kedua gelombang sama. Sedangkan bila
frekuensi dan fasenya tidak sama, maka akan diperoleh cahaya
terpolarisasi bentuk lain. Amplitudo kedua gelombang yang Gambar 4 Polarisasi ellips
saling tegak lurus ini menentukan sudut dari arah getar medan
listrik dari cahaya resultannya. Berikut adalah gambar dari Sifat keaktifan optic senyawa bergantung pada sudut putar
polarisasi linier. jenis cahaya yang melaluinya. Makin besar sudut putar
jenisnya maka senyawa makin bersifat optis aktif dan
sebaliknya.Sudut putar jenis adalah besarnya perputaran oleh
jumlah gram zat dalam ml larutan yang berada dalam tabung
polarimeter. Suatu larutan merupakan optis aktif apabila
larutan tersebut dapat memutar arah (bidang) getar sinar
terpolarisasi linier. Salah satu zat yang merupakan zat optis
aktif adalah sukrosa (C11H22O11 ). Sifat optis aktif pada
sukrosa karena atom C yang asimetris. Dimana atom C
berikatan dengan 4 atom yang berbeda[5].
Gambar 2 Polarisasi bidang/linier Skema kerja polarimeter adalah cahaya dinyalakan dan
Untuk selanjutnya adalah cahaya terpolarisasi lingkaran. tabung sampel kosong, prisma analisis diputar sehingga berkas
Cahaya terpolarisasi lingkaran bila beda fase antara kedua cahaya yang terpolarisasi oleh prisma pemolarisasi benar-
gelombang sebesar (π/2+2mπ), dimana m= 0, 1, 2,.. dan benar terhalangi dan bidang polarisasi menjadi gelap. Pada
amplitudo kedua komponennya sama, sehingga didapatkan saat ini sumbu prisma dari prisma pemolarisasi dan prisma
persamaan b analisis tegak lurus dengan lainnya. Kemudian sampel
𝐸𝑅 = 𝐸𝑂 { 𝑠𝑖𝑛 (𝜔𝑡 − 𝑘𝑧 + ɸ0 ) î + cos(𝜔𝑡 − 𝑘𝑧 + ɸ0 ) ĵ}.....(1) diletakkan pada tabung sampel. Jika zat ini bersifat inaktif
Atau (tidak aktif) optis (opticaally inactive), tidak ada perubahan
𝐸𝑅 = 𝐸𝑂 { 𝑠𝑖𝑛 (𝜔𝑡 − 𝑘𝑧 + ɸ0 ) î − cos(𝜔𝑡 − 𝑘𝑧 + ɸ0 ) ĵ}….(2) yang terjadi. Bidang pandan tetap gelap. Akan tetapi, jika zat
bersifat aktif optis (optical active) diletakkan pada tabung, zat
Persamaan 1 menunjukkan gelombang yang merambat memutar bidang polarisasi, dan sebagian cahaya akan
sepanjang sumbu z, dengan vektor medan listrik yang melewati penganalisis ke arah pengamat. Dengan memutar
besarnya konstan, tetapi arahnya berubah terhadap waktu. Bila prisma penganalisis searah jarum jam atau berlawana arah
vektor medan listrik ini diproyeksikan terhadap bidang yang jarum jam, pengamat akan sekali lagi menghalangi cahaya dan
tegak lurus sumbu xy, akan didapatkan lintasan berupa mengembalikan medan yang gelap[6].
lingkaran memutar ke kanan, cahaya yang demikian disebut Aktivitas optic bias terjadi karena ketidaksimetrian molekul
cahaya terpolarisasi lingkaran putar kanan. Sedangkan zat atau karena sifat kristal secara keseluruhan. Setiap
persamaan 2 merupakan persamaan cahaya terpolarisasi senyawa kristal memiliki sudut putar yang merupakan sifat
lingkaran putar kiri. Pernyataan lingkaran didapatkan dari fisik suatu senyawa tersebut. Rotasi merupakan sifat yang
proyeksi arah getar medan listrik pada bidang tegak lurus arah karakteristik untuk masing-masing α. Rotasi teramati
perambatan gelombang. Berikut adalah gambar dari polarisasi tergantung pada konsentrasi sampel (c), dan panjang sel (l).
𝐷 𝛼
melingkar 𝛼20 = 𝑜𝑏𝑠
𝑐𝑙
𝐷
𝛼𝑜𝑏𝑠 = 𝛼20 cl
𝐷
Dimana 𝛼20 adalah rotasi spesifik yang diukur pada suhu 200C
dengan sumber cahaya D-natrium (589 nm), 𝛼𝑜𝑏𝑠 adalah rotasi
yang teramati, l adalah panjang sel dalam satuan dm, c adalah
konsentrasi larutan dalam satuan gram/ml. Besarnya
perputaran bidang polarisasi tergantung pada struktur molekul,
Gambar 3 Polarisasi lingkaran panjang gelombang, temperatur, konsentrasi, panjang pipa
polarimeter, banyaknya molekul pada jalannya cahaya, dan
Namun bentuk polarisasi yang paling umum adalah berupa pelarut yang ada pada pipa polarimeter[7].
polarisasi elips. Polarisasi elips adalah bentuk polarisasi Terdapat dua macam fenomena pemutaran zat aktif optik,
cahaya dengan proyeksi arah medan listrik pada bidang tegak yaitu efek yang memutar bidang polarisasi ke kanan
lurus arah perambatan setelah merambat minimal satu panjang (dextrorotatory) dengan simbol d dan terkadang dituliskan
gelombang berupa elip. Bentuk ini terjadi dari superposisi dua simbol + (searah jarum jam) dan yang memutar bidang
gelombang saling tegak lurus dengan frekuensi sama tetapi polarisasi kekiri (levorotatory) dengan simbol l dan terkadang
ditiliskan d engan simbol – (berlawanan arah dengan jarum
JURNAL PRAKTIKUM GELOMBANG-POLARIMETER 3

jam). Jika α- D-glukosa dikristalkan dari air maka dihasilkan pertama. Cairan gula dimasukkan ke dalam tabung. Kemudian
α-D-glukosa yang rotasi spesifiknya adalah [α ] = +112,2 0. diamati sudut putar dan suhunya sebanyak dua kali. Percobaan
Jika D-glukosa dikristalkan dari piridin maka dihasilkan β-D- ketiga adalah dengan menggunakan larutan 20 gram gula pasir
glukosa dengan [α] = +18,70. Jika α-D-glukosa dilarutkan dalam 50 ml air. Hal ini dimaksudkan untuk memvariasi
dalam air maka rotasi spesifiknya secara perlahan-lahan berupa konsentrasi larutan gula. Setelah larutan gula selesai
berubah sesuai dengan waktu dan mencapai nilai stabil pada dibuat, maka larutan dimasukkan dalam tabung dan diamati
52,70[7]. sudut putar dan suhunya. Dilakukan sebanyak dua kali
Seperti yang telah dijelaskan diatas, maka dilakukan pengulangan untuk masing-masing keadaan. Percobaan ke
percobaan polarimeter ini. Dengan tujuan untuk mengetahui empat, yaitu dengan menggunakan air gula yang diberika oleh
prinsip polarimeter, mengukur sudut polar jenis larutan gula asisten. Gula yang digunakan tanpa ditimbang terlebih dahulu
sebagai fungsi konsentrasi dan menetukan konsentrasi larutan karena memang tujuannya adalah untuk mendapatkan
gula dengan menggunakan polarimeter. konsentrasi dari larutan gula tersebut. Kemudian dicatat pula
sudut putar dan suhunya. Dicatat pula suhu ruangan dan
II. METODE panjang tabung yang mana panjangnya adalah 20 cm. Dan
Pada percobaan polarimeter ini, output yang didapat adalah digunakan (𝛼)𝐷 𝑟 yang didapatkan dari percobaan A untuk
kualitatif dan kuantitatif. Untuk output kualitatif dapat menghitung konsentrasi larutan gula. Berikut adalah gambar
dilakukan dengan cara mempelajari polarimeter. Sedangakan skema alat dan hasil pemutaran pada alat putar.
output kuantitatif didapat dengan cara mengukur sudut putar
jenis larutan gula sebagai fungsi konsentrasi serta menentukan
konsentrasi larutan gula dengan polarimeter.
Terdapat dua macam percobaan, yaitu mencari nilai (𝛼)𝐷 𝑟
dan menentukan konsentrasi larutan gula. Pada percobaan ini
dilakukan pengukuran besar sudut polaritas air, larutan gula,
dan larutan gula dengan konsentrasi gula yang tidak diketahui.
Pada percobaan ini digunakan variasi massa gula yaitu 10gram
dan 20 gram.
Adapun peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam
percobaan polarimeter ini antara lain meliputi polarimeter,
sumber cahaya natrium, gula pasir , tabung, gelas ukur 10 ml,
beaker glass 100 ml, pipet dan batang pengaduk, timbangan
tiga lengan. Satu set peralatan percobaan polarimeter
merupakan alat yang akan digunakan dalam percobaan ini.
Gambar 1. Skema prinsip operasi polarimeter dan penampakan
dimana didalamnya terdapat tabung, lampu beserta
dari ketiga posisi pada analisator : P polarisator,
thermometer. Sumber cahaya natrium digunakan sebagai P’ polarisator setengah gelap, A analisator, S
sumber cahaya monokromatis dimana sumber cahaya ini sampel.
terletak pada set peralatan percobaan polarimeter. Apabila bidang polarisasi tersebut berputar ke arah kiri
Untuk percobaan yang pertama, langkah awal yang harus (levo) dilihat dari pihak pengamat, peristiwa ini kita sebut
dilakukan adalah peralatan disusun seperti pada gambar 2.1. polarisasi putar kiri. Demikian juga untuk peristiwa sebaliknya
Kemudian, tabung larutan diisi dengan air kran sehingga terisi (dextro). Besar sudut pemutaran bidang polarisasi (Φ) dapat
penuh. Hal yang harus diperhatikan adalah saat pengisian dinyatakan sebagai :
tabung tidak boleh ada gelembung udara didalamnya. Φ = (𝛼)𝐷 𝑟 ∙ 𝐿 ∙ 𝐶…………………………………………….(3)
Sehingga tabung terisi penuh. Bila peminimalisiran dengan C adalah konsentrasi larutan, L panjang kolom larutan,
gelembung ini terasa susah untuk dilakukan, maka sebaiknya (𝛼)𝐷𝑟 sudut putar jenis larutan optic aktif untuk sinar D
gelembung-gelembung tersebut diarahkan menuju ke titik Natrium pada temperature T. Untuk larutan gula, sudut putar
analisator. Sehingga gelembung ini tak menghalangi jenis pada temperature 20oC adalah (𝛼)𝐷 2
𝑟 = 66,52°𝑐𝑚 ℃/𝑔𝑟
polarisator pada awalnya. Setelah itu tabung dimasukkan ke Sedangkan hubungan sudut putar jenis pada temperature t
dalam polarimeter. Kemudian titik nol ditentukan dengan dengan (𝛼)𝐷 𝑟 dapat dinyatakan sebagai:
memperhatikan teropong sambil mengatur alat putar dan juga (𝛼)𝐷 𝐷
𝑟 = (𝛼)20 {1 − 0,000184(𝑇 − 20)} …………………..(4)
memencet tombol zero set sehingga akan tampak angka nol Metode pengolahan data untuk percobaan pertama dapat
pada display. Setelah itu dilakukan pemutaran dengan selalu digunakan persamaan 3 dan 4 untuk mendapatkan besar sudut
mengawasi teropong sehingga akan muncul gambar pola gelap alfa secara eksperimen dan secara teori.
dan terang seperti yang ada pada gambar gambar 4.1 setelah Untuk percobaan yang kedua yaitu untuk mengetahui
itu dilakukan pengulangan sebanyak dua kali untuk masing- besarnya konsentrasi larutan gula X maka dilakukan
masing keadaan pada titik nol, keadaan gelap terang dan
perhitungan besarnya (𝛼)𝐷 20 yang diperoleh dari
keadaan terang-terang. Data yang didapatkan adalah sudut
putar dan suhu. (𝛼)𝐷𝑟 dari tiap tiap konsentrasi larutan dari percobaan
Kemudian dilanjutkan percobaan kedua. Diawali dengan pertama. Setelah didapatkan nilai konsentrasi larutan gula X
melarutkan 10 gram gula pasir dalam 50 ml larutan. Langkah- maka dapat diketahui massa gula yang terlarut dalam 50 ml air
langkah yang dilakukan adalah sama seperti percobaan menggunakan persamaan
JURNAL PRAKTIKUM GELOMBANG-POLARIMETER 4

𝑛 III. HASIL DAN PEMBAHASAN


𝐶=
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 Pada percobaan polarimeter ini, dilakukan 2 macam
Dan percobaan. kemudian didapat data sebagai berikut.
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
𝑛= Table 1 data percobaan 1
𝑀𝑟
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 = 𝑛. 𝑀𝑟 gelap-terang terang-terang
. No Bahan sudut sudut
Flowchart percobaan (Ө˚) T (˚C) (Ө˚) T (˚C)
5,35 30,5 50,65 30,5
Start 1 Air 5,15 30,5 51,5 30,5
86,45 32,5 81,4 32
Gula
2 10 gr 84,55 32,5 80,65 32
Persiapan alat 139,25 32,5 101,05 32,5
Gula
3 20 gr 138,75 32,5 102,5 32,5
Perangkaian alat seperti pada gambar
Table 2 data percobaan kedua
gelap-terang terang-terang
Tabung diisi dengan air No Bahan sudut sudut
kran (Ө˚) T (˚C) ( Ө˚) T (˚C)
41,65 32 83,6 32
Dimasukkan ke polarimeter 1 Gula X gr 43,2 32 82,4 32

Setelah didapatkan data diatas, maka kemudian dilakukan


perhitungan untuk mencari sudut putar larutan gula sebagai
Dilakukan pengamatan sebanyak dua kali
fungsi konsentrasi dan fungsi temperatur, dan mengukur
konsentrasi larutan gula untuk percobaan yang pertama.
Dimana panjang tabungnya adalah 20 cm.
Air diganti dengan larutan gula
Table 3 perhitungan consentrsasi

Dicatat temperature ruangan Φ larutan-


No Bahan Φ larutan air
Gula 10
1
gr 4,475 41,35 10,337
Dihitung nilai alpha
Gula 20
2
gr 37,225 8,6 1,075

Pada table diatas, perhitungan yang dilakukan adalah


Asisten memberikan larutan gula dengan menggunakan persamaan 3 yang mana sudut putar
larutan gula dapat diketahui dari konsentrasinya. Sedangkan
bila dihitung dengan menggunakan persamaan 4 yang mana
hubungannya antara sudut putar alpha larutan berdasar fungsi
Dihitung konsentrasi gula
temperature maka hasilnya relative jauh berbeda. Berikut
adalah hasil perhitungannya.
Ya
pengulangan
Table 4 perhitungan temperatur
Tidak
No Bahan Φ larutan Φ larutan -
Hasil air
Gula 10
1 4,475 41,35 66,37
gr
Finish Gula 20
2 37,225 8,6 66,367
gr

Dapat terlihat pada kedua table diatas bahwa nilai sudut


JURNAL PRAKTIKUM GELOMBANG-POLARIMETER 5

sebagai fungsi konsentrasi dan temperature yang dihasilkan rah kiri. dan pemutaran ini tidak boleh dilakukan dengan arah
adalah jauh berbeda sehingga akan dibuat error untuk yang berbeda untuk setiap percobaan. Namun, pada awalnya
percobaan ini. Berikut adalah perhitungannya. terjadi kesalahan pada praktikum ini. Pihak praktikan memutar
tombol ke segala arah untuk mendapatkan hasil percobaan
Tabel 5 perhitungan error sudut putar. Karena masih terdapat waktu yang tersisa, maka
Error dilakukan pengambilan data ulang untuk beberapa percobaan
No Bahan C T (%) untuk sudut putar pada saat terang-terang. Namun hal ini tidak
Gula 10 diulangi untuk seluruh data yang diambil. Sehingga
1 gr 10,3375 66,37 84,42 perhitungan sudut alpha yang telah dilakukan belum dapat
Gula 20 dijamin kevalidannya. Hal ini dapat dilihat pada hasil
2 gr 1,075 66,367 98,38 perhitungan sudut alpha sebagai fungsi konsentrasi dan sudut
alpha larutan sebagai fungsi temperature yang sangat berbeda
Sedangkan untuk percobaan kedua digunakan nilai alpha jauh. Padahal dilakukan percobaan polarimeter ini salah satu
untuk gula 20gr. Yang mana nilai alpha yang digunakan tujuannya adalah agar dapat menghitung sudut alpha larutan
adalah menggunakan patikan bulan ini. Berikut adalah hasil (dalam hal ini sudut alpha fungsi konsentrasi) yang mana
perhitungannya. dengan perhitungan ini nantinya digunakan untuk menghitung
Tabel 6 perhitungan konsentrasi larutan larutan yang massa dan konsentrasi penyusunnya belum
diketahui.
No C (gr/ml) M (gr) Secara teori, besar sudut putar bidang polarisasi (ɸ) di
Bahan
pengaruhi oleh konsentrasi zat. Semakin kental suatu zat,
1 Gula X 10,3375 0,0254 1,27
maka semakin banyak molekul gula yang berikatan dengan
air, sehingga konsentrasi larutannya juga semakin besar.
Pada percobaan polarimeter ini, sumber cahaya yang Konsentrasi larutan berbanding lurus dengan sudut putar,
digunakan adalah cahaya natrium yang mana merupakan sehingga semakin besar konsentrasi larutan, maka semakin
cahaya monokromatis. Cahaya monokromatis adalah cahaya besar pula sudut putarnya. Namun karena terdapat beberapa
yang sudah merupakan warna dasar sehingga tak bisa diurai kesalahan yang telah dilakukan oleh pihak praktikan, maka hal
lagi. Dan cahaya ini mempunyai 1 panjang gelombang. Lampu ini tidak dapat dibuktikan.
natrium ini memiliki panjang gelombang 589,3 nm. Pada percobaan ini, data yang didapat dirasa kurang valid.
Adapun cara kerja dari polarimeter adalah cahaya Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor. Yang pertama
monokromatis dari lampu natrium langsung menuju adalah dalam proses pengadukan larutan gula. Pada dasarnya,
polarisator dan menghasilkan sinar yang terpolarisasi. larutan gula yang diharapkan adalah sudah terlarut semua
Kemudian sinarnya dilanjutkan menuju tabung yang berisi dalam air. Jika hal ini tidak dilaksanakan dengan baik, maka
larutan yang akan di uji. Selanjutnya, sinar menuju analisator larutan yang belum teraduk secara sempurna yang dimasukan
yang berguna untuk menganalisa sudut polarisasi dari larutan kedalam tabung percobaan, dapat mengganggu jalannya
dalam tabung, sehingga, penganalisa dapat melihat hasil cahaya yang melewati tabung seperti halnya udara pada
polarisasi yang terjadi. tabung. Karena molekul gula dalam bentuk padatan memiliki
Dalam percobaan ini digunakan prinsip polarisasi cahaya, ikatan antar molekul yang lebih besar di bandingkan gula yang
yakni perubahan arah getar cahaya dimana pada awalnya suatu telah larut.
cahaya yang memiliki arah rambat yang menuju ke segala arah Selain itu kesalahan juga dapat dipengaruhi dari proses
berubah menjadi satu arah saja. Pada percobaan yang telah pengamatan gelap-terang yang terjadi. Pihak praktikan belum
dilakukan polarisasi yang terjadi adalah polarisasi linier. seberapa paham terkait tingkat kegelapan dan tingkat terang
Pada percobaan yang pertama, air yang digunakan berasal dari hasil polarisasi larutan. Sehingga penetapan sudut gelap-
dari air kran laboratorium sehingga tingkat kemurniannya terang maupun terang-terang adalah relative tergantung dari
tidak bisa disetarakan dengan air aquades. Sehingga belum pihak praktikan. Selain itu pengamatan juga dilakukan oleh
diketahui secara pasti kandungan-kandungan yang berada banyak orang sehingga dapat dimungkinkan tingkat gelap
pada air kran tersebut dan juga belum diketahui apakah terang yang ditentukan dari masing-masing individu adalah
kandungan dari air tersebut bisa memutar bidang polarisasi berbeda-beda. Namun ini bukanlah mutlak kesalahan dari
atau tidak. Padahal air inilah yang digunakan sebagai acuan pihak praktikan, karena memang penentuan tingkat gelap
untuk mennentukan nilai sudut alpha dan konsentrasi dari terang cahaya sangat sulit untuk ditetapkan saat pengamatan.
larutan gula. Sedangkan sudah diketahui bahwa larutan gula Dari pembahasan diatas maka diketahui prinsip kerja
adalah larutas optic aktif yang mana dapat memutar bidang polarimeter adalah meneruskan sinar yang mempunyai arah
polarisasi dikarenakan didalam unsurnya terdapat karbon. getar yang sama dengan arah polarisator. Selain itu sudut putar
Untuk mendapatkan sudut putar, praktikan dapat memutar akibat polarisasi bergantung pada konsentrasi dan jenis
tombol untuk menentukan fase gelap terang dan terang-terang. larutannya.
Pemutaran ini harus dilakukan searah, yang mana pemutaran
ini seharusnya dilakukan dengan menekan tombol yang ke IV. KESIMPULAN
atas karena pada prinsipnya gula merupakan polarisator kea Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat
JURNAL PRAKTIKUM GELOMBANG-POLARIMETER 6

disimpulkan bahwa prinsip kerja polarimeter adalah prinsip


kerja polarimeter adalah meneruskan sinar yang memiliki arah
getar yang sama dengan polarisator. Faktor-faktor yang
mempengaruhi sudut putar adalah konsentrasi larutan dan
jenis larutan. Sehingga sudut putar jenis larutan gula dengan
konsentrasi 0,2 gr/ml adalah 10,3375 dan sudut putar larutan
gula dengan konsentrasi 0,4 gr/ml adalah 1,075 dan
konsentrasi dari larutan kedua adalah 0,0254 gr/ml.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih kepada asisten
laboratorium fisika madya untuk percobaan polarimeter yang
telah membimbing jalannya praktikum serta menyalurkan
ilmunya yang sangat dibutuhkan oleh penulis. Selain itu,
kerjasama yang kompak dari tim praktikum juga sangat
mendukung dalam pelaksanaan praktikum serta dalam
penyelesaian tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Giancoly, Douglas.2002. Fisika.. Jakarta : Erlangga.
[2] Zemansky, Sears. 2002. Fisika UniversitasJjilid 1. Jakarta: Erlangga.
[3] Tipler, Paul A. 2001. FISIKA untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.
[4] Foster, Bob. 1999. “FISIKA” Jakarta: Erlangga.
[5] Ulfin, dkk. 2009. “Kimia Dasar”. Surabaya: ITS Press
[6] Hart, H &. Craine. 2003. Kimia Organik edisi 11. Jakarta : Erlangga.
[7] http://chemicalliberty.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 11 April
2013 pukul 14.27 WIB