Anda di halaman 1dari 15

A. Tinjauan Pustaka

1.

Sirsak

Sirsak

(Annona

BAB II

LANDASAN TEORI

muricata

L),

termasuk

dalam

famili

Annonaceae,

merupakan tanaman buah yang banyak ditemukan di wilayah tropis dan

substropis

seperti

di

Amerika

Selatan

dan

Afrika.

Buah

sirsak

banyak

dikonsumsi secara langsung maupun dalam bentuk olahan makanan seperti

jus, sirup, es krim dan lain-lain. Tidak hanya dimanfaatkan buahnya untuk

dikonsumsi, berbagai macam bagian dari tanaman sirsak seperti daun, biji,

akar

dan

buah

sudah

lama

digunakan

dalam

pengobatan

tradisional

(Moghadamtousi et al., 2015; Kedari dan Khan, 2014).

Penelitian terkait kandungan fitokimia tanaman sirsak sudah mulai

banyak dilakukan (Raybaudi-Massilia et al., 2015; Vijayameena et al., 2013;

Ukwubile, 2012; Gajalakshmi et al., 2012). Salah satu bagian yang menarik

perhatian adalah biji sirsak. Ekstrak biji sirsak mengandung zat-zat kimia

yang dapat berfungsi sebagai anti-proliferasi dari sel tumor, anti-bakterial dan

antioksidan (Vijayameena et al., 2013; Agbai et al., 2015).

5

6

B
B

Gambar 2.1.

a.

Taksonomi

Annona muricata L.; Pohon sirsak (A), daun dan biji (B), bunga (C) dan buah (D) (Moghadamtousi et al., 2015).

Taksonomi dari Annona muricata L adalah :

Kingdom

:

Plantae

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledonae

Ordo

:

Ranales

Famili

:

Annonaceae

Genus

:

Annona

Species

:

Annona muricata L (Sunarjono, 2005).

7

b. Asal dan Habitat Tanaman Sirsak

Annona muricata L atau tanaman sirsak sebelum menyebar ke

Filipina dan Indonesia, berasal dari Amerika tropis seperti Peru, Meksiko

dan

Argentina.

Nama

tanaman

sirsak

di

Indonesia

beraneka

ragam

bergantung pada daerah seperti nangka belanda, nangka seberang dan

buah nona (Sunarjono, 2005).

Habitat tanaman sirsak tumbuh di daerah beriklim lembab dan

berada di dataran rendah hingga dataran tinggi mencapai 1.000 m dpl.

Pada dataran beriklim kering dan selama terdapat air tanah dangkal

(kurang dari 150 cm), tanaman

ini masih mampu tumbuh dan berbuah.

Curah hujan yang sesuai antara 1.500 2.000 mm per tahun dengan

musim kemarau selama 4 6 bulan (Sunarjono, 2005).

c. Fitokimia Biji Sirsak

Biji sirsak memiliki banyak kandungan fitokimia seperti protein,

vitamin C dan vitamin E, antioksidan enzimatik seperti superoksida

dismutase (SOD) dan katalase, alkaloid, flavonoid, saponin, terpenoid,

annonaceous

acetogenin,

anthraquinone,

tannin

dan

glikosida

(Vijayameena et al., 2013; Ukwubile, 2012).

Senyawa bioaktif yang ditemui pada biji sirsak memiliki banyak

manfaat.

Senyawa

fenolik

seperti

flavonoid,

senyawa

alkaloid,

superoksida dismutase (SOD), katalase, vitamin C dan vitamin E dapat

berperan sebagai antioksidan. Annonaceous acetogenin, senyawa yang

8

hanya ditemukan pada tanaman kelas Annonaceae, memiliki peran penting

dalam

kerusakan

sel

kanker

sehingga

banyak

digunakan

dalam

pengobatan dan pencegahan kanker. Senyawa bioaktif biji sirsak juga

memiliki sifat antimikroba dan antiparasitik. Ekstrak methanol biji sirsak

menunjukkan aktivitas antimikrobial terhadap mikroorganisme patogen

2.

seperti

Staphylococcus

Streptococcus

pyogenes,

aureus,

Escherichia

Bacillus

subtilis,

coli,

Proteus

vulgaris,

Salmonella

typhimurium,

Klebsiella pneumonia, dan Enterobacter aerogens.

2012; Raybaudi-Massilia et al., 2014).

(Gajalakshmi et al.,

Rokok

Rokok adalah silinder dari kertas yang digulung dan berisi daun-daun

tembakau yang telah dicacah. Ukuran panjang dan diameter rokok bervariasi

pada masing-masing negara. Rokok dikonsumsi dengan cara menghisap asap

dari salah satu ujungnya sementara ujung lainnya dibakar (Mansour et al.,

2013).

Berbagai

penelitian

telah

membuktikan

bahwa

asap

rokok

dapat

membahayakan tubuh dan menimbulkan berbagai macam penyakit seperti

penyakit kardiovaskuler, PPOK dan berbagai macam kanker terutama kanker

paru (Talhout et al., 2011; Mansour et al., 2013). Di Amerika, riwayat

merokok ditemukan pada 3 dari 4 orang penderita PPOK dan pada 8 dari 10

kasus kematian yang berhubungan dengan PPOK (U.S. Department of Health

9

and Human Services, 2015). Selain itu, berbagai penelitian juga menunjukkan

bahwa asap rokok memiliki pengaruh yang signifikan terhadap gangguan

fertilitas baik pada pria maupun wanita (Mostafa, 2010; Ramlau-Hansen et al.,

2008). Jumlah perokok di dunia dan di Indonesia terus meningkat setiap

tahunnya meskipun merokok membahayakan tubuh dan dapat menimbulkan

berbagai penyakit (WHO, 2015; Depkes, 2015).

Rokok terdiri dari campuran zat kimia kompleks yang terikat pada

partikel aerosol atau berada bebas dalam bentuk gas. Asap dari rokok yang

dibakar merupakan aerosol yang terkonsentrasi dalam udara atmosfer (U.S.

Department of Health and Human Services, 2010). Asap rokok dibagi menjadi

2 jenis, yaitu mainstream (asap yang dihirup perokok) dan sidestream (asap

yang keluar dari ujung rokok yang dibakar). Asap rokok mainstream dibagi

menjadi partikel solid (tar) dan partikel gas (gas toksik, senyawa yang mudah

menguap,

radikal

bebas

dll)

diantaranya mengandung :

a.

Nikotin

(Valavanidis

et

al.,

2009).

Asap

rokok

Nikotin pada manusia bersifat adiktif karena terdapat struktur dari

nikotin yang menyerupai asetilkolin, neurotransmitter yang penting dalam

otak manusia. Nikotin dapat meracuni saraf tubuh, meningkatkan tekanan

darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi dan menyebabkan

ketagihan serta ketergantungan pada pemakainya. Kadar nikotin yang

dihisap oleh orang dewasa setiap hari sebanyak 4 6 mg sudah dapat

10

membuat seseorang ketagihan untuk merokok (U.S. Department of Health

and Human Services, 2010; Valavanidis et al., 2009).

b. N-Nitrosamine

N-Nitrosamine adalah kelompok zat kimia yang memiliki gugus

nitroso yang berikatan dengan amin

nitrogen dan berbahaya bagi tubuh

karena bersifat karsinogenik. Kandungan N-Nitrosamine dalam rokok jauh

lebih tinggi dibandingkan kandungan N-Nitrosamine dalam produk lain

seperti daging babi yang sudah dimasak atau bir (U.S. Department of

Health and Human Services, 2010; Straif et al., 2000).

c. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons

Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) adalah senyawa kimia

yang terdiri dari atom karbon dan hidrogen yang membentuk banyak

cincin

aromatik.

PAH

berbahaya

bagi

tubuh

karena

memiliki

sifat

karsinogenik, mutagenik dan teratogenik meskipun sifat ini bergantung

pada masing-masing struktur PAH. PAH ditemukan dalam semua jenis

pembakaran tembakau. (U.S. Department of Health and Human Services,

2010).

d. Logam Berat

Logam berat merupakan salah satu senyawa yang banyak terdapat

dalam tembakau. Suhu dari ujung rokok yang dibakar mampu mencapai

900C dan membuat kandungan logam berat dalam rokok menguap di

udara, terkondensasi dan dihirup oleh perokok aktif maupun pasif. Logam

11

berat

yang

dapat

ditemukan

dalam

tembakau

diantaranya

kadmium,

arsenik dan timbal (U.S. Department of Health and Human Services,

 

2010).

e.

Amin Aromatik

Senyawa amin aromatik dan turunannya merupakan senyawa yang

banyak digunakan dalam pewarnaan, pembuatan pestisida dan plastik.

Senyawa amin aromatik sering ditemukan sebagai kontaminan dalam zat

warna makanan, pewarna tekstil, cat warna, dan hasil pembakaran bahan

bakar dan minyak. (U.S. Department of Health and Human Services,

3.

2010).

Testis

a. Anatomi Testis

Fungsi

reproduksi

pria

terbagi

menjadi

spermatogenesis

atau

pembentukan sperma, kinerja kegiatan seksual dan pengaruh hormon

dalam pengaturan fungsi reproduksi pria. Salah satu organ yang termasuk

dalam sistem reproduksi pria adalah testis, yang merupakan organ tempat

pembentukan sperma dan hormon testosteron (Guyton dan Hall, 2007).

Testis

terdiri

dari

lilitan

tubulus

seminiferus,

yang

merupakan

terjadinya proses spermatogenesis. Sperma yang telah dibentuk di tubulus

seminiferus

kemudian

akan

dialirkan

ke

duktus

epididimis,

dimana

sperma akan mengalami penyimpanan dan pematangan. Pada saat proses

12

ejakulasi, sperma kemudian akan keluar dari duktus epididimis melalui

vas deferens dan keluar dari sistem reproduksi melalui uretra pada penis

(Eroschenko, 2007 ; Guyton dan Hall, 2007).

b. Struktur Histologi Testis

2007 ; Guyton dan Hall, 2007). b. Struktur Histologi Testis Gambar 2.2 Struktur Histologi Testis (Eroschenko,2007)

Gambar 2.2 Struktur Histologi Testis (Eroschenko,2007)

Testis

dikelilingi

oleh

jaringan

ikat

yang

membentuk

kapsul

bernama tunika albuginea. Di bagian posterior, tunika albuginea menebal

dan meneruskan ke dalam membentuk mediastinum dan membagi masing-

masing

testis

menjadi

beberapa

kompartemen

yang

disebut

lobulus

testikularis. Masing-masing lobulus testikularis mengandung 1-4 tubulus

seminiferus yang dikelilingi oleh jaringan ikat longgar yang kaya akan

pembuluh darah, pembuluh limfatik, saraf dan sel endokrin interstisial (sel

Leydig) (Eroschenko, 2007; Mescher, 2010).

13

1)

Tubulus Seminiferus

Tubulus

seminiferus

dibatasi

oleh

sel

germinal

atau

sel

epitel

seminiferus. Bagian membran dasar dari tubulus ini tersusun dari jaringan

ikat fibrosa dengan lapisan paling dalam mengandung sel myoid yang

dapat membuat tubulus melakukan kontraksi lemah. Sel intrestisial dapat

pada jaringan ikat diantara masing-masing tubulus. Sel epitel seminiferus

terdiri dari 2 jenis sel yaitu sel penyokong yang tidak aktif membelah atau

dikenal dengan nama sel sertoli dan lapisan sel yang aktif membelah atau

lapisan spermatogenik. Lapisan spermatogenik tersusun dari 4-8 lapisan

yang berfungsi menghasilkan sel yang akan menjadi sperma (Mescher,

2010).

2)

Sel Sertoli

Sel sertoli merupakan sel kolumner atau sel piramid yang banyak

ditemukan

pada

lapisan

spermatogenik

dan

berfungsi

sebagai

sel

penyokong. Bagian dasar sel sertoli menempel pada lamina basalis dan

bagian apikalnya masuk ke lumen tubulus. Sel sertoli berperan dalam

proteksi dan memberikan nutrisi pada sel spermatogenik yang sedang

berkembang,

sekresi

endokrin

fagositosis (Mescher, 2010).

3)

Jaringan Interstisial

Jaringan

interstisial

yang

dan

eksokrin

serta

berperan

dalam

terletak

diantara

tubulus

seminiferus

merupakan jaringan ikat yang kaya akan sel mast, makrofag, saraf,

14

pembuluh

limfatik

dan

pembuluh

darah.

Pada

jaringan

interstisial

ditemukan sel Leydig yang berperan dalam produksi hormon testosteron.

Hormon testosteron berperan dalam perkembangan karakteristik seks

sekunder (Mescher, 2010).

4)

Duktus Intratestikuler

Duktus intratestikuler terdiri dari tubulus rekti, rete testis dan duktus

eferen. Duktus ini berperan dalam mengalirkan sperma keluar dari tubulus

seminiferus menuju ke epididimis (Mescher, 2010).

c. Fisiologi Pembentukan Sperma

1)

Spermatogenesis

Sel germinal primordial bermigrasi dan menjadi sel germinal imatur

yang disebut sebagai spermatogonia selama masa embrio. Saat mencapai

pubertas, proses spermatogenesis akan dimulai dengan meiosis dari sel

spermatogonia. Hormon gonadotropik hipofisis anterior akan merangsang

proses

spermatogenesis.

Spermatogenesis

diawali

dengan

sel

spermatogonia yang bermigrasi diantara sel sertoli menuju lumen sentral

tubulus

seminiferus

dan

berangsur-angsur

membesar

membentuk

spermatosit primer. Sel spermatosit primer kemudian mengalami mitosis

menjadi spermatosit sekunder dan dilanjutkan dengan meiosis menjadi

spermatid (Guyton dan Hall, 2007).

15

2)

Spermiogenesis

Spermiogenesis merupakan proses diferensiasi terakhir dimana sel

spermatid berubah menjadi spermatozoa yang memiliki kepala dan ekor.

Pada proses ini tidak terjadi pembelahan sel baik secara mitosis maupun

meiosis (Guyton dan Hall, 2007 ; Mescher, 2010)

4. Mekanisme Asap Rokok dalam Memicu Kerusakan Testis

Asap rokok merupakan campuran yang kompleks dari banyak senyawa

kimia. Sekitar lebih dari 200 senyawa kimia diantaranya memiliki efek yang

berbahaya bagi tubuh dan dapat berperan sebagai radikal bebas, seperti nitrit

oksida, superoksida, peroksinitrit, logam berat seperti kadmium dan arsenik,

senyawa Policyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH). Senyawa radikal bebas

tersebut bersifat sangat reaktif dan dapat menimbulkan reaksi oksidasi yang

merusak

sel.

Akumulasi

dari

radikal

bebas

tersebut

mengganggu

keseimbangan oksidan-antioksidan di dalam tubuh dan memicu terjadinya

stres oksidatif

(Birben et al., 2012; U.S. Department of Health and Human

Services, 2010; Mansour et al., 2013).

Senyawa radikal bebas adalah senyawa atom atau molekul dengan

elektron bebas atau tidak berpasangan di lapisan luarnya sehingga sangat

mudah bereaksi untuk mengikat elektron dari molekul lain yang stabil. Salah

satu

jenis

radikal

bebas

adalah

ROS.

Reactive

Oxygen

Species

(ROS)

merupakan senyawa organik yang memiliki gugus fungsional dengan atom

oksigen

yang

bermuatan

elektron

berlebih

dan

bersifat

sangat

16

reaktif.

Makhluk hidup aerob memproduksi antioksidan alami sebagai perlindungan

diri

dari

efek

berbahaya

ROS

yang

dikenal

sebagai

antioksidan.

Ketidakseimbangan antara jumlah oksidan (radikal bebas) dengan jumlah

antioksidan disebut sebagai “Stres Oksidatif” (U.S. Department of Health and

Human Services, 2010).

Anion

Superoksida

(O 2 - ),

Radikal

Hidroksil

(OH - )

dan

Hidrogen

Peroksida (H 2 O 2 ) merupakan 3 ROS utama yang sangat berpengaruh pada

fisiologis

tubuh

manusia.

Superoksida

dapat

bereaksi

dengan

hidrogen

peroksida membentuk radikal hidroksil. Diantara ketiganya, radikal hidroksil

adalah ROS yang paling reaktif dan berbahaya karena dapat merusak protein,

lemak,

karbohidrat

dan

Services, 2010).

DNA

(U.S.

Department

of

Health

and

Human

Radikal hidroksil dapat menyebabkan reaksi berantai peroksidasi lipid

dengan cara mengambil elektron dari asam lemak tak jenuh. Reaksi berantai

ini terjadi ketika radikal bebas mengambil atom hidrogen dari rantai metil

karbon sehingga terbentuk radikal lipid. Radikal lipid kemudian bereaksi

dengan oksigen membentuk radikal peroksil yang dapat menginisiasi reaksi

berantai dan mengubah asam lemak tak jenuh menjadi hidroperoksida lipid.

Senyawa ini sangat tidak stabil dan mudah berubah bentuk menjadi produk

sekunder

yaitu

aldehida

(4-hydroxy-2,3-nonenal)

dan

malondialdehida

(MDA). Peroksidasi lipid mengganggu integritas membran sel dan dapat

17

menyebabkan terjadinya perubahan struktur membran sel, gangguan pada

transduksi sinyal, kerusakan DNA dan kerusakan protein (U.S. Department of

Health and Human Services, 2010; Birben et al., 2012).

Senyawa kimia asap rokok yang mengalir dalam darah dapat berdifusi

ke jaringan testis. Sel germinal testis sangat rentan terhadap kerusakan akibat

stres oksidatif dikarenakan aktivitas metabolisme dan replikasi sel yang

tinggi.

Senyawa

kimia

dari

asap

rokok

juga

dapat

mengurangi

jumlah

antioksidan alami dalam testis sehingga memicu terjadinya kerusakan sel

Leydig yang memiliki peran dalam produksi testosteron. Gangguan pada

produksi testosteron dapat berujung pada gangguan proses spermatogenesis

(Turner dan Lysiak, 2008 ; Aitken dan Roman, 2008).

5.

Mekanisme Biji Sirsak sebagai Antioksidan dalam Mengurangi Kerusakan

Testis

Antioksidan

merupakan

senyawa

yang

mampu

menghambat

atau

mencegah

proses

oksidasi

dan

mengurangi

kerusakan

sel

karena

stres

oksidatif (MedlinePlus, 2015). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa biji

sirsak mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid, vitamin C, vitamin

E,

annonaceous

katalase,

saponin,

acetogenin,

terpenin

senyawa

alkaloid,

superoksida

dan

glikosida

(Vijayameena

et

dismutase,

al.,

2013;

Gajalakshmi et al., 2012; Moghadamtousi et al., 2015; Ukwubile, 2012;

Raybaudi-Massilia et al., 2014 ; Bhatia et al., 2008).

Flavonoid

berperan

sebagai

antioksidan

dengan

cara

18

menekan

pembentukan radikal bebas baik melalui penghambatan enzim pembentuk

radikal bebas maupun menetralisir radikal bebas yang sudah ada dalam tubuh.

Flavonoid dapat memberikan atom hidrogen atau elektron sehingga dapat

menetralisir radikal hidroksil, peroksil dan peroksinitrit. Flavonoid juga dapat

meningkatkan regulasi dan efek proteksi dari antioksidan seperti vitamin C

dan vitamin E. Vitamin C dan Vitamin E merupakan salah satu jenis

antioksidan kuat yang dapat menetralisir radikal bebas (Vijayameena et al.,

2013; Kumar dan Pandey, 2013).

Ekstrak biji sirsak juga memiliki kandungan Superoksida Dismutase

(SOD) dan katalase, yaitu antioksidan yang bersifat enzim. Kandungan SOD

pada biji sirsak berada konsentrasi yang paling tinggi diantara bagian tanaman

yang lain. Antioksidan bersifat enzim ini termasuk jenis antioksidan primer

yang mengubah ROS menjadi senyawa

yang stabil

sehingga mencegah

timbulnya stres oksidatif (Moghadamtousi et al., 2013; Vijayameena et al.,

2013; Raybaudi-Massilia et al., 2014). Kandungan annonaceous acetogenin,

senyawa yang khas ditemukan pada famili Annonaceae, mampu mencegah

terjadinya peroksidasi lipid dan menurunkan kadar malondialdehida (MDA)

(Bathia et al., 2008).

B. Kerangka Pemikiran

19

B. Kerangka Pemikiran 19 Gambar 2.3. Skema Kerangka Pemikiran C. Hipotesis Ekstrak biji sirsak ( Annona

Gambar 2.3. Skema Kerangka Pemikiran

C. Hipotesis

Ekstrak biji sirsak (Annona muricata L.) mampu mengurangi kerusakan

testis mencit (Mus musculus) akibat paparan asap rokok dinilai dari tebal epitel

dan diameter tubulus seminiferus.