Anda di halaman 1dari 12

A.

Definisi
Kecemasan adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena
ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respons (penyebab tidak spesifik
atau tidak diketahui oleh individu). Perasaan takut dan tidak menentu sebagai sinyal
yang menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya akan datang dan memperkuat
individu mengambil tindakan menghadapi ancaman.
Kejadian dalam hidup seperti menghadapi tuntutan, persaingan, serta bencana
dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis. Salah satu contoh
dampak psikologis adalah timbulnya kecemasan atau ansietas.

B. Penyebab
Memnurut (Zakiah Daradjat dan Kholi Lur Romchman, 2010: 167) mengemukakan
beberapa penyebab dari kecemasan yaitu:
1. Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancam dirinya.
Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas
didaam pikiran.

2. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang
berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani.

3. c. Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk.


Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan
apapun yang terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi
kesehatan kepribadian penderitanya.
C. Rentang Respons Tingkat Kecemasan
1. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan
menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Ansietas menumbuhkan motivasi belajar serta menghasilkan pertumbuhan dan
kreativitas.
2. Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada hal
yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami
perhatian yang selektif tetapi dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
3. Ansietas berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Adanya
kecenderungan untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak
dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada suatu area lain.
4. Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan ketakutan dan merasa diteror,
serta tidak mampu melakukan apapun walaupun dengan pengarahan. Panik
meningkatkan aktivitas motorik, menurunkan kemampuan berhubungan dengan
orang lain, persepsi menyimpang, serta kehilangan pemikiran rasiona

D. JENIS-JENIS KECEMASAN
Kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan didalam dirinya
sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya rangsanagan dari luar. Membagi
kecemasan menjadi tiga jenis kecemasan yaitu:
1. Kecemasan rasional merupakan suatu ketakuatan akiabat adanya objek yang
memang mengancam, misalnya ketika menunggu hasil ujian. Ketakuatan ini
dianggap sebagai suatu unsure poko normal dari mekanisme pertahanan dasar kiat.

2. Kecemasan irrasional yang bebrati bahawa mereka mengalami emeosi ini dibawah
kedalam keadaan spesifik yang biasanya tidak dipandang mengancam.

3. Kecemasan fundamentalmmerupakan suatu pertanyaan tentang siapa dirinya,


untuk apa hidupnya, dan akan kemanakah kelak hidupnya berlanjut. Kecemasan
ini di sebut sebagi kecemasan eksistensial yang mempunyai peran funda mental
bagi kehidupan manusia (Mustamir Pedak, 2009:30).
E. Rentang respon
Rentang respon individu terhadap cemas berflutuasi antara respon adaptif dan
maladaptif. Rentang respon yang paling adaptif adalah antisispasi dimana individu
siap siaga untuk beradaptasi dengan cemas yang mungkin muncul. Sedangkan
rentang yang paling maladaptive adalah panic dimana individu sudah tidak mampu
lagi berespon terhadap cemas yang dihadapi sehingga mengalami gangguan fisisk,
perilaku maupun kognitif.
1. Respons adaptif
Antisipasi- Ringan- Sedang- Berat- Panik Proses terjadinya masalah

a. Faktor predisposisi
Strepredisposisi adalahsemua ketegangan dalam kehidupan yang dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan. Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat
berupa:

1) Peristiwa trumatik yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan


krisis yang di alami individu baik krisis perkembangan atau situasiona.

2) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik,
id dan super ego atau antar

3) Konsep diri tergangggu akan menimbulkanketidakmampuanindividu berpikir


secara realitas sehinga akan menimbulkan kecemasan.

4) Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untukmengambil keputusan


yang berdampak terhadap ego.

5) Gangguan fisik akan menimbulkankecemasan karenamerupakan ancaman


terhadap integritas fisik yang dapatmempengaruhi konsep diri individu.

6) Pola mekanisme keluarga atau pola keluarga menangani stress akan


mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflikyang di alami karena
polamekanisme koping individubbanyak di pelajaridalam keluarga.
7) Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons
individu dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya (Eko
prabowo, 2014: 123-124).

b. Faktor prespitasi
Faktor prespitasi adalah semua ketgangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan
timbulnya kecemasan. Stressor prespitasi kecemasan di kelompokkan menjadi du
abagian, yaitu:
1. Ancaman terhadap integritas kulitketegangan yang mengancam integritas fisik
yang meliputi:

a) Sumber internal meliputi kegagalan mekanisme fisisologis sistem


imun, regulasi suhu tubuh, perubhan biologis normal

b) Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri,


polusi lingkunag, kecelakaan, kekuranagan nutrisi, tidakadekuatnya
tempat tinggal

2. Anacaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal

a) Sumber internal kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah tempat


kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas
fisisk juga dapat mengancam harga diri.

b) Sumber eksternalorang yang dicinta berperan, perubahan status pekerjaan


tekanan kelompok social (Eko prabowo, 2014: 124).
E. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala kecemasan yang di tunjukkan atau di temukan oleh seseorang
bervariasi tergantung dari beratnya atatu tingkatan yang dirasakan oleh individu
tersebut (Hawari, 2004). Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat
mengalami kecemasan secara umum (Hawari, 2004), antara lain adaalh sebagai
berikut:
1. Cemas, kawatir, firasat buruk, takut akan pikirannyasendiri, mudah
tersinggung,
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takutsendiriaan, takut pada keramaian, dan banyak orang.
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Gangguan kosentrasi daya ingat
6. Gejala somatikrasa sakit pada oto dan tulang, berdebar-debar, sesak nafas,
gangguan pencernaan, sakit kepala, gangguan perkemihan, tangan terasa
dngin dan lembab, dan lain sebagainya (Eko prabowo, 2014: 124-125).
F. Akibat

Dapat berasal dari sumber internal dan eksternal dapat diklasifikasikan dalam dua
jenis.
1. Ancaman terhadap integitas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis
yang akan terjadi atau menurunkan kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup
sehari-hari. Pada ancaman ini stressor yang berasal dari sumber eksternal
adalah faktor-faktor-faktor yang dapat menyebabakan gangguan fisik (misal:
infeksi virus dan polusi udara). Sedangkan yang enjadi sumber internalanya
adalah kegagalan mekanisme fisisologi tubuh (misalnya: sitem jantung ,
sistem imun pengaturan suhu dan perubahan fisologis selama kehamilan)
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan indetitas, harga
diri dan fungsi social yang teringretisasi seseorang. Ancaman yang berasal
dari sumber internal berupa gangguan hubungan interpersonal di rumah
tempat kerja atau menerima pesan baru (Eko prabowo, 2014: 125).

G. Mekanisme koping
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping yaitu
sebagai berikut.
1. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi
pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi stres, misalnya
perilaku menyerang untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemnuhan kebutuhan.
Menarik diri untuk memindahkan darisumber stres. Kompromi untuk mengganti
tujuan atau mengorbankan kebutuhan personal.

2. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi
berlangsung tidak sadar, melibatkan penipuan diri, distorsi, dan bersifat meladaptif.
(AH.yusuf,2015:87-88)

H. Penatalaksanaan

Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahan dan terapi
memrlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencakup fisik
(somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkapnya
seperti pada uraian berikut.
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengancara:

a) Makan makan yang bergizi dan seimbang

b) Tidur yang cukup

c) Cukup olahraga

d) Tidak merokok

e) Tidak meminum minuman keras

2. Terapi psikolofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memaki obat obtan
yang berhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghanatr
saraf). Disusunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka yang serig di
pakai adalah obat anticemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, klobazam,
bromazepam, lorazepam, buspirone HCL, meprobramate dan alprazolam.

3. Terapi somatic.
Gejala atau keluhan fisik (somatic) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat
dari kecemasan yang berkepanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-keluhan
somatic (fisik) itu dapat diberikan obat-oabatn yang ditujukan pada organ pada tubuh
yang bersangkutan.
4. Psikoterapi

Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antar lain:


a. Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan
dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan
diberika keyakinan serta percaya diri.

b. Psikoterapi reedukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi diri


bila diulang bahwa ketdak mampuan mengatasi kecemasan.

c. Psikoterapi rekontruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali


(rekontruksi) kepribadian yang teah menglami goncangan akibat
stresor.

d. Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu


kemampuan untuk berfikir secara rasonal, konsentrasi dan daya ingkat.

e. Psikoterapi psikodinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses


dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak
mampu menghadapi stresor psikososial sehingga mengalami
kecemasan.

f. Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan,


agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor
krluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.

5. Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubunganya dengan kekebalan
dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan
stresor psikososial.

H. Pohon masalah

I. Diagnose keperawatan
1. Keruskan interaksi sosial berhubungan dengan cemas

2. Gangguan alam perasaan: cemas berhubungan dengan koping individu


inefektif
J. PENGKAJIAN

1. Faktor Predisposisi

Menurut Stuart dan Laraia (1998) terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan
ansietas, di antaranya sebagai berikut.
a. Faktor biologis.
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor ini membantu
mengatur ansietas. Penghambat GABA juga berperan utama dalam mekanisme
biologis berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya dengan endorfin.
Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan
kapasitas seseorang untuk mengatasi stresor.
b. Faktor psikologis
1) Pandangan psikoanalitik. Ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara antara dua elemen kepribadian—id dan
superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif,
sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan
dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau aku
berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan
dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Pandangan interpersonal. Ansietas timbul dari perasaan takut
terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.
Ansietas berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti
perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan
spesifik. Orang yang mengalami harga diri rendah terutama
mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
3) Pandangan perilaku. Ansietas merupakan produk frustasi yaitu
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap
sebagai dorongan belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk
menghindari kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan
dini dihadapkan pada ketakutan berlebihan lebih sering
menunjukkan ansietas dalam kehidupan selanjutnya.
c. Sosial budaya
Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Ada tumpang tindih
dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi. Faktor
ekonomi dan latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap terjadinya ansietas.
2. Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi dibedakan menjadi berikut.


a. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
b. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan
identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
K. RENCANA INTERVENSI

1. Tindakan Keperawatan untuk Pasien

a. Tujuan

1) Pasien mampu mengenal ansietas.


2) Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi.
3) Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik relaksasi untuk
mengatasi ansietas.
b. Tindakan keperawatan
1) Bina hubungan saling percaya.
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien
merasa aman dan nyaman saat berinteraksi. Tindakan yang harus dilakukan
dalam membina hubungan saling percaya adalah sebagai berikut.
a) Mengucapkan salam terapeutik.
b) Berjabat tangan.
c) Menjelaskan tujuan interaksi.
d) Membuat kontrak topik, waktu, dan tempat
setiap kali bertemu pasien.
2) Bantu pasien mengenal ansietas.
a) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan
menguraikan perasaannya.
b) Bantu pasien menjelaskan situasi yang
menimbulkan ansietas.
c) Bantu pasien mengenal penyebab ansietas.
d) Bantu pasien menyadari perilaku akibat
ansietas.
3) Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa percaya
diri.
a) Pengalihan situasi.
b) Latihan relaksasi dengan tarik napas dalam,
mengerutkan, dan mengendurkan otot-otot.
c) Hipnotis diri sendiri (latihan lima jari).
4) Motivasi pasien melakukan teknik relaksasi setiap kali ansietas muncul.

2. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga


a. Tujuan:
1) Keluarga mampu mengenal masalah ansietas pada anggota keluarganya.
2) Keluarga mampu memahami proses terjadinya masalah ansietas.
3) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami ansietas.
4) Keluarga mampu mempraktikkan cara merawat pasien dengan ansietas.
5) Keluarga mampu merujuk anggota keluarga yang mengalami ansietas.
b. Tindakan keperawatan
1) Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
2) Diskusikan tentang proses terjadinya ansietas serta tanda dan gejala.
3) Diskusikan tentang penyebab dan akibat dari ansietas.
4) Diskusikan cara merawat pasien dengan ansietas dengan cara
mengajarkan teknik relaksasi.
a. Mengalihkan situasi.
b. Latihan relaksasi dengan napas dalam, mengerutkan, dan
mengendurkan otot.
c. Menghipnotis diri sendiri (latihan lima jari).
L. EVALUASI
a. Menyebutkan penyebab ansietas.
b. Menyebutkan situasi yang menyertai ansietas.
c. Menyebutkan perilaku terkait ansietas.
d. Melakukan teknik pengalihan situasi, yaitu tarik napas dalam, relaksasi otot,
dan teknik lima jari.
e. Keluarga menyebutkan pengertian ansietas.
f. Keluarga menyebutkan tanda dan gejala ansietas.