Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

“HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM”

Oleh :
1. Nawal A1D017002
2. Nur Annisa Priyati A1D017110
3. Widiyanto (A1D017127)
4. M. Reza Aprilian (A1D017222)

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “HAM dan Demokrasi
Dalam Islam”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan
dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu,
kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah
ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Purwokerto, April 2018

Tim Penulis

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………I

DAFTAR ISI………………………………………………………………………..II

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang………………………………………………………………1

B. Rumusan Masalah……………………………………………………………2

C. Tujuan………………………………………………………………………..2

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep HAM Secara Umum dan dalam Islam……………………………3-9

B. Konsep demokrasi Secara Umum dan dalam Islam………………………9-13

C. HAM dan Demokrasi serta hubungannya dengan hukum Islam………..13-16

D. Implementasikannya HAM dan Demokrasi dalam kehidupan beragama,

berbangsa, dan bernegara……………………………………………….16-17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………………18

B. Saran………………………………………………………………………..18

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….19

II
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakekatnya manusia sudah memiiki hak-hak pokok dari lahir sampai

meninggal. Hak-hak pokok tersebut adalah hak asasi manuasia yang dikenal dengan

HAM. Hak asasi manusia bersifat universal. Hak asasi manusia ( HAM ) dalam Islam

berbeda dengan hak asasi menurut pengertian yang umum dikenal. Sebab seluruh hak

merupakan kewajiban bagi negara maupun individu yang tidak boleh diabaikan.

Rasulullah saw pernah bersabda: "Sesungguhnya darahmu, hartamu dan

kehormatanmu haram atas kamu”. Maka negara bukan saja menahan diri dari

menyentuh hak-hak asasi ini, melainkan mempunyai kewajiban memberikan dan

menjamin hak-hak ini.

Sebagai contoh, negara berkewajiban menjamin perlindungan sosial bagi setiap

individu tanpa ada perbedaan jenis kelamin, status sosialnya, dan juga perbedaan

agamanya. Islam tidak hanya menjadikan itu sebagai kewajiban negara, melainkan

negara diperintahkan untuk berperang demi melindungi hak-hak ini.

Disisi lain umat Islam sering kebingungan dengan istilah demokrasi. Di saat yang

sama, demokrasi bagi sebagian umat Islam sampai dengan hari ini masih belum bisa

diterima secara utuh. Sebagian kalangan memang bisa menerima tanpa timbal balik,

sementara yang lain, justru bersikap ekstrim. Menolak bahkan mengharamkannya

sama sekali. Sebenarnya banyak yang tidak bersikap seperti keduanya. Artinya,

banyak yang tidak mau bersikap apapun. Kondisi ini dipicu dari kalangan umat Islam

sendiri yang kurang memahami bagaimana Islam memandang demokrasi. Kami akan

membahas mengenai bagaimana sebenarnya HAM dan Demokrasi menurut ajaran

dan pandangannya islam dalam makalah ini.

1
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang dapat diuraikan adalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana hak-hak asasi manusia secara umum dan menurut pandangan

dalam Islam?

2. Bagaimana demokrasi secara umum dan menurut pandangan dalam Islam?

3. Bagaimana pelaksanaan HAM dan demokrasi dalam Islam ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Memahami hak-hak asasi manusia secara umum dan menurut pandangan

dalam Islam.

2. Mengetahui ruang lingkup demokrasi dalam islam

3. Mengetahui pelaksanaan demokrasi dalam Islam

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. HAK ASASI MANUSIA DALAM ISLAM

2.1.1. Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

Hak Asasi Manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang melekat pada diri

manusia semenjak ia berada dalam kandungan sampai meninggal dunia yang harus

mendapat perlindungan. Istilah HAM menurut Tolchach Mansoer mulai populer sejak

lahirnya Declaration of Human Rights pada tanggal 10 Desember 1948. Walaupun ide

HAM sudah timbul pada abad ke 17 dan ke 18 sebagai reaksi terhadap keabsolutan

raja-raja dan kaum feodal di zaman itu. Hak asasi manusia menurut pemikiran Barat

semata-mata bersifat antroposentris1. Dengan demikian manusia sangat dipentingkan.

Hak-hak asasi manusia yang dianggap sebagai hak yang dibawa sejak seseorang

lahir ke dunia adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Pencipta (hak yang bersifat

kodratif). Oleh karena itu, tidak ada satu kekuasaan pun di dunia yang dapat

mencabutnya. Jadi, hak asasi mengandung kebebasan secara mutlak tanpa

mengindahkan hak-hak dan kepentingan orang lain. Karena itu HAM atas dasar yang

paling fundamental yaitu hak kebebasan dan hak persamaan. Dari kedua dasar ini pula

lahir HAM yang lainnya.

Hak Asasi Manusia dalam islam bersifat teosentris 2 . Dengan demikian Tuhan

sangat dipentingkan. Dalam hubungan ini A.K Brohi menyatakan: “Berbeda dengan

pendekatan Barat”, strategi Islam sangat mementingkan penghargaan kepada hak-hak

1 segala sesuatu berpusat kepada manusia


2 segala sesuatu berpusat pada Tuhan

3
asasi dan kemerdekaan dasar manusia sebagai sebuah aspek kualitas dari kesadaran

keagamaan yang terpatri di dalam hati, pikiran dan jiwa penganut-penganutnya.

Perspektif Islam sungguh-sungguh bersifat teosentris. Pemikiran barat menempatkan

manusia pada posisi bahwa manusialah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu, maka

di dalam Islam melalui firman-Nya, Allah lah yang menjadi tolok ukur sesuatu,

sedangkan manusia adalah ciptaan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.

Oleh karena itu dalam Islam hak-hak asasi manusia tidak hanya menekankan

kepada hak-hak manusia saja, tetapi hak-hak itu dilandasi oleh kewajiban asasi untuk

mengabdi hanya kepada Allah sebagai penciptanya. Aspek khas dalam konsep HAM

Islami adalah tidak adanya orang lain yang dapat memaafkan pelanggaran hak-hak jika

pelanggaran itu terjadi atas seseorang yang harus dipenuhi haknya. Bahkan suatu

negara Islam pun tidak dapat memaafkan pelanggaran hak-hak yang dimiliki

seseorang. Negara harus terikat memberikan hukuman kepada pelanggar HAM dan

memberikan bantuan kepada pihak yang dilanggar HAM nya, kecuali pihak yang

dilanggar HAM nya telah mema’afkan pelanggar HAM tersebut.

2.1.2. Hak Asasi Manusia dan Sejarahnya

Kedatangan Islam di muka bumi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW

bertujuan untuk membawa rahmat bagi makhluk seisi bumi termasuk didalamnya

manusia. Menurut ajaran Islam, manusia tidak hanya menjadi objek tapi sekaligus

menjadi subjek bagi terciptanya keselamatan dan kedamaian itu. Oleh karena itu, setiap

muslim dituntut pertanggungjawaban atas keselamatan diri dan lingkungannya.

Seorang muslim harus dapat memberikan rasa aman bagi orang lain baik dari ucapan

maupun tindak-tanduknya.

Berdasarkan ini, maka penghargaan tertinggi kepada manusia dan kemanusiaan

menjadi perhatian yang paling utama dan prinsipil di dalam Islam. Penghargaan yang

4
tidak dibatasi oleh kesukuan, ras, warna kulit, kebangsaan dan agama. Misalnya nilai

persamaan, persaudaraan, dan kemerdekaan merupakan nilai-nilai universal Islam yang

berlaku pula untuk seluruh umat manusia di jagad raya ini. Hal ini tercermin dari

penegasan Allah didalam kitab suci al-qur’an :

“Sesungguhnya kami telah memuliakan Bani Adam (manusia) dan Kami angkat

mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan

Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk

yang telah Kami ciptakan” (Q.S. Al-Isra’/17:70).

Hal itu sesungguhnya manusialah yang diberikan kebebasan memilih antara

hal-hal yang baik dan yang buruk, benar dan salah, bermanfaat dan mendatangkan

mudarat dan sebagainya. Kunci dari itu semua adalah manusia dikaruniai akal pikiran

dan hati nurani (qalb). Untuk dapat menjalankan tugas dan fungsi kekhalifahan itu

setiap manusia harus mengerti terlebih dahulu hak-hak dasar yang melekat pada dirinya

seperti kebebasan, persamaan, perlindungan dan sebagainya. Hak-hak tersebut bukan

merupakan pemberian seseorang, organisasi, atau Negara tapi adalah anugerah dari

Allah yang sudah dibawanya sejak lahir ke alam dunia. Hak-hak itulah yang kemudian

disebut dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

2.1.3. Latar Belakang Pemikiran tentang HAM

Manusia pada dasarnya berasal dari satu ayah dan satu ibu, yang kemudian

menyebar ke berbagai penjuru dunia, membentuk aneka ragam suku dan bangsa serta

bahasa dan warna kulit yang berbeda-beda. Karena itu manusia menurut pandangan

Islam adalah umat yang satu “ummatun wahidatun”.

Karena manusia itu bersaudara yang saling mengasihi dan sama derajatnya,

manusia tidak boleh diperbudak oleh manusia lain. Manusia bebas dalam kemauan dan

perbuatan, bebas dari tekanan dan paksaan orang lain. Manusia, menurut islam, hanya

5
milik Allah dan hamba Allah (‘Abd Allah) dan tidak boleh menjadi hamba dari

makhluk-Nya, termasuk hamba dari manusia.

Dari ajaran dasar persaudaraan, persamaan dan kebebasan ini pula timbul manusia

yang lainnya. Seperti kebebasan dari kekurangan, rasa takut, meyalurkan pendapat,

bergerak, kebebasan dari penganiayaan dan penyiksaan. Hal ini mencakup semua sisi

dari apa yang disebut hak-hak asasi manusia seperti hak hidup, hak memiliki harta, hak

berfikir, hak berbicara dan mengeluarkan pendapat, mendapat pekerjaan, hak

memperoleh pendidikan, hak memperoleh keadilan, hak berkeluarga dan hak

diperlakukan sebagai manusia yang terhormat (mulia) dan sebagainya.

2.1.4. Perspektif Islam tentang Hak Asasi Manusia

A. HAM sebagai tuntutan fitrah manusia

Manusia adalah puncak ciptaan tuhan. Ia dikirim kebumi untuk menjadi khalifah

atau wakil-Nya. Oleh karena itu setiap perbuatan yang membawa perbaikan manusia

oleh sesama manusia sendiri mempunyai nilai kebaikan dan keluhuran kosmis,

menjangkau batas-batas jagad raya, menyimpan kebenaran dan kebaikan universal,

suatu nilai yang berdimensi kesemestaan seluruh alam.

Berdasarkan pandangan ini, maka manusia memikul beban serta tanggung jawab

sebagai individu dihadapan Tuhan-Nya kelak, tanpa kemungkinan untuk

mendelegasikannya kepada pribadi lain. Punya pertanggung jawaban yang dituntut dari

seseorang haruslah didahului oleh kebebasan memilih. Tanpa adanya kebebasan itu

lantas dituntut dari padanya pertanggung jawaban, adalah suatu kezaliman dan

ketidakadilan, yang jelas hal itu bertentangan sekali dengan sifat Allah yang maha adil.

Berkaitan dengan penggunaan hak-hak individu itu, yang mempunyai hak

dianggap menyalahgunakan haknya apabila:

1. Dengan perbuatannya dapat merugikan orang lain.

6
2. Perbuatan itu tidak menghasilkan manfaat bagi dirinya, sebaliknya

menimbulkan kerugian baginya.

3. Perbuatan itu menimbulkan bencana umum bagi masyarakat.

B. Perimbangan antara hak-hak individu dan masyarakat

Untuk menjaga keseimbangan antara hak-hak individu masyarakat,didalam islam

tidak dikenal adanya kepemilikan mutlak pada manusia. Oleh karena itu,didalam

syariat islam apabila disebut hak Allah,maka yang dimaksud adalah hak masyarakat

atau hak umum. Allah adalah pemilik yang sesungguhnya terhadap alam

semesta,termasuk apa yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Hal ini ditegaskan oleh

firman-nya antara lain:

1. “Ketahuilah bahwa milik Allahlah apa-apa yang ada dilangit dan dibumi”

(Q.S Yunus/10:55)

2. “Dan Dialah yang menciptakan bagimu semua yang terdapat dibumi” (Q.S

Al-Baqarah/2:29)

3. “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah

dikaruniakan-Nya kepadamu” (Q.S An-Nuur/24:33)

4. “……..di dalam harta mereka tersedia bagian tertentu bagi orang miskin yang

meminta dan tak punya” (Q.S Al-Ma’arij/70:24:25)

2.1.5. Dasar-dasar Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Al-Qur’an

A. Hak berekspresi dan mengeluarkan pendapat

Al-Qur’an menegaskan:

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada

kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Dan merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali-Imran/3:104)

7
“Hendaklah kamu saling berpesan kepada kebenaran dan saling berpesan dengan

penuh kesabaran” (Q.S Al-Ashr/103:3)

“Berilah berita gembira kepada hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu

mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang

telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”

(Q.S Az-Zumar/39:17:18)

Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa setiap orang berhak menyampaikan

pendapatnya kepada orang lain, mengingatkan kepada kebenaran, kebajikan serta

mencegah kemungkaran. Bahkan hal itu disampaikan bukan saja karena ada hak tapi

sekaligus merupakan suatu kewajiban sebagai orang beriman.

B. Hak kebebasan memilih agama

Sehubungan dengan kebebasan memilih agama dan kepercayaan, Al-Qur’an

menyebutkan antara lain:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam), sesungguhnya telah jelas

jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang

Ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah

berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah

Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S Al-Baqarah/2:256)

“Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa

yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir)

biarlah ia kafir…” (Q.S Al-kahfi/18:29)

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang dimuka

bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka

menjadi orang-orang yang beriman semuanya?“ (Q.S. Yunus/10:99)

8
Berdasarkan ayat-ayat diatas, jelaslah bahwa masalah menganut suatu agama atau

kepercayaan sepenuhnya diserahkan kepada manusia itu sendiri untuk memilihnya.

Didalam islam, kita hanya diperintah untuk berdakwah yang bertujuan menyeru,

mengajak dan membimbing seseorang kepada kebenaran itu. Dakwah bertujuan juga

untuk menegakkan “Al-Amru bil ma’ruf wa al-nahyu ‘an al-munkar” (menyeru kepada

kebajikan serta mencegah dari kemjungkaran ).

C. Hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan sosial

Sehubungan dengan hak untuk memperoleh kesempatan yang sama ini Al-Qur’an

menyebutkan sebagai berikut :

“Dialah orang yang menjadikan segala yang ada dibumi ini untuk kamu…..” (Q.S

Al-Baqarah/2:29)

Ayat ini menjadi dasar setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya dari apa-apa yang sudah disiapkan Allah dipermukaan

bumi ini. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mendapatkan Rezki yang halal dan

baik hal ini di tegaskan dalam firman-Nya :

“Hai sekalian Manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat

dibumi…..” (Q.S Al-Baqarah/2:168)

2.2. DEMOKRASI DALAM ISLAM

2.2.1. Pengertian Demokrasi

Dalam teori, demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dengan kekuasaan

tertinggi berada di tangan rakyat dan dijalankan langsung oleh mereka atau wakil-wakil

yang mereka pilih di bawah sistem pemilihan bebas. Lincoln (1863) menyatakan

“Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Dalam

sistem demokrasi, rakyatlah yang dianggap berdaulat, rakyat yang membuat hukum

dan orang yang dipilih rakyat harus melaksanakan apa yang telah ditetapkan rakyat

9
tersebut. Selain itu, demokrasi juga menyerukan kebebasan manusia secara

menyeluruh dalam hal :

A. Kebebasan beragama

B. Kebebasan berpendapat

C. Kebebasan kepemilikan

D. Kebebasan bertingkah laku

Inilah fakta demokrasi yang saat ini dianut dan digunakan oleh hampir semua

negara yang ada di dunia. Tentu saja dalam implementasinya akan mengalami

variasi-variasi tertentu yang dilatar belakangi oleh kebiasaan, adat istiadat serta agama

yang dominan di suatu negara. Namun, variasi yang ada hanyalah terjadi pada bagian

cabang bukan pada prinsip tersebut.

2.2.2. Asal Usul Demokrasi

Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani demokratia “kekuasaan rakyat”, yang

dibentuk dari kata demos “rakyat” dan kratos “kekuasaan”, merujuk pada sistem politik

yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di kota Yunani Kuno,

khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.

Sebelum istilah demokrasi ditemukan oleh penduduk Yunani, bentuk sederhana

dari demokrasi telah ditemukan sejak 4000 SM di Mesopotamia. Ketika itu, bangsa

Sumeria memiliki beberapa kota yang independen. Di setiap kota tersebut para rakyat

seringkali berkumpul untuk mendiskusikan suatu permasalahan dan keputusan pun

diambil berdasarkan konsensus atau mufakat.

Barulah pada 508 SM, penduduk Athena di Yunani membentuk sistem

pemerintahan yang merupakan cikal bakal dari demokrasi modern. Yunani kala itu

terdiri dari 1.500 kota (poleis) yang kecil dan independen. Kota tersebut memiliki

sistem pemerintahan yang berbeda-beda, ada yang oligarki, monarki, tirani dan juga

10
demokrasi. Salah satunya Athena, kota yang mencoba sebuah model pemerintahan baru

yaitu demokrasi langsung. Penggagas dari demokrasi tersebut pertama kali adalah

Solon, seorang penyair dan negarawan. Paket pembaruan konstitusi yang ditulisnya

pada 594 SM menjadi dasar bagi demokrasi di Athena namun Solon tidak berhasil

membuat perubahan. Demokrasi baru dapat tercapai seratus tahun kemudian oleh

Kleisthenes, seorang bangsawan Athena. Dalam demokrasi tersebut, tidak ada

perwakilan dalam pemerintahan sebaliknya setiap orang mewakili dirinya sendiri

dengan mengeluarkan pendapat dan memilih kebijakan. Namun dari sekitar 150.000

penduduk Athena, hanya seperlimanya yang dapat menjadi rakyat dan menyuarakan

pendapat mereka.

Menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum, dalam kitabnya Demokrasi Sistem Kufur,

demokrasi mempunyai latar belakang sosio-historis yang tipikal Barat selepas Abad

Pertengahan, yakni situasi yang dipenuhi semangat untuk mengeliminir pengaruh dan

peran agama dalam kehidupan manusia. Demokrasi lahir sebagai anti-tesis terhadap

dominasi agama dan gereja terhadap masyarakat Barat. Karena itu, demokrasi adalah

ide yang anti agama, dalam arti idenya tidak bersumber dari agama dan tidak

menjadikan agama sebagai kaidah-kaidah berdemokrasi. Orang beragama tertentu bisa

saja berdemokrasi, tetapi agamanya mustahil menjadi aturan main dalam

berdemokrasi. Secara implisit, beliau mencoba mengingatkan mereka yang menerima

demokrasi secara buta, tanpa menilik latar belakang dan situasi sejarah yang

melingkupi kelahirannya.

2.2.3. Demokrasi dan Islam

Penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka konseptual Islam, banyak

memberikan perhatian pada beberapa aspek khusus dari ranah social dan politik.

11
Demokrasi Islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep Islami

yang sudah lama berurat berakar yaitu:

1. Musyawarah (syura)

Perlunya musyawarah merupakan konsekuensi politik kekhalifahan manusia. Oleh

karena itu perwakilan rakyat dalam sebuah negara Islam tercermin terutama dalam

doktrin musyawarah. Hal ini disebabkan menurut ajaran Islam, setiap muslim yang

dewasa dan berakal sehat, baik pria mauoun wanita adalah khalifah Allah di bumi.

Dalam bidang politik, umat Islam mendelegasikan kekuasaan mereka kepada penguasa

dan pendapat mereka harus diperhatikan dalam menangani masalah negara. Kemestian

bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah-masalah ijtihadiyyah, dalam surat

Al-syura ayat 3 :

“Dan orang-orang yang menerima seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang

urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka

menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.(QS Asy-Syura :

38).

2. Persetujuan (ijma)

Ijma atau konsensus telah lama diterima sebagai konsep pengesahan resmi dalam

hukum Islam. Konsensus memainkan peranan yang menentukan dalam perkembangan

hukum Islam dan memberikan sumbangan pemikiran sangat besar pada korpus hukum

atau tafsir hukum.

Konsensus dan musyawarah sering dipandang sebagai landasan yang efektif bagi

demokrasi Islam modern. Konsep konsensus memberikan dasar bagi penerimaan

sistem yang mengakui suara mayoritas. Atas dasar inilah konsensus dapat menjadi

legitimasi sekaligus prosedur dalam suatu demokrasi Islam.

12
3. Penilaian interpretative yang mandiri (itjihad)

Upaya ini merupakan langkah kunci menuju penerapan perintah Tuhan di suatu

tempat atau waktu. Tuhan hanya mewahyukan prinsip-prinsip utama dan memberi

manusia kebebasan untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dengan arah yang sesuai

dengan semangat dan keadaan zamannya. Itjihad dapat berbentuk seruan untuk

melakukan pembaharuan, karena prinsip-prinsip Islam itu bersifat dinamis, pendekatan

kitalah yang telah menjadi statis. Oleh karena itu sudah selayaknya dilakukan

pemikiran ulang yang mendasar untuk membuka jalan bagi munculnya eksplorasi,

inovasi dan kreativitas.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa musyawarah, konsensus dan itjihad

merupakan konsep-konsep yang sangat penting bagi artikulasi demokrasi Islam dalam

kerangka Keesaan Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia sebagai khalifah-Nya.

Sehingga antara hukum, Hak Asasi Manusia dan demokrasi merupakan tiga konsep

yang tidak dapat dipisahkan.

Hal ini disebabkan karena salah satu syarat utama terwujudnya demokrasi adalah

adanya penegakan hukum dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Demokrasi

akan selalu rapuh apabila HAM setiap warga masyarakat tidak terpenuhi. Sedangkan

pemeunuhan dan perlindungan HAM akan terwujud apabila hukum ditegakkan, karena

Al-Qur’an sebagai sumber ajaran utama dan pertama agama Islam mengandung ajaran

tentang nilai-nilai dasar yang harus diaplikasikan dalam pengembangan sistem politik

Islam.

2.3. HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI SERTA HUBUNGANNYA

DALAM DALAM ISLAM

Hubungan antara demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan Syari’ah memang

selalu diperdebatkan oleh umat Islam dalam sepanjang sejarah mereka. Persoalan

13
utamanya adalah apakah demokrasi dan HAM kompatibel dengan ajaran Islam ataukah

tidak. Munculnya perdebatan tersebut karena melihat latar belakang bahwa demokrasi

dan HAM muncul dari Barat, sedangkan agama berasal dari wahyu. Dengan demikian,

apakah Islam dapat mendukung dan menyokong HAM merupakan tantangan paling

penting yang dihadapi umat Islam saat ini. Sementara, tantangan lainnya adalah

banyaknya muslim dan non-muslim di berbagai pelosok dunia saat ini meyakini bahwa

HAM bertentangan dengan keyakinan Islam.

Membaca hubungan antara agama dan demokrasi, dilihat dari basis empiriknya,

keduanya memang berbeda. Agama berasal dari wahyu, sementara demokrasi berasal

dari pergumulan pemikiran manusia, sehingga agama dan demokrasi memiliki

dialektikanya sendiri. Meski demikian, tidak ada halangan agama berdampingan

dengan demokrasi. Perbedaan basis empirik itu tidak akan menghalangi bertemunya

dua konsep dalam satu titik. Sebab, meskipun agama berdasarkan wahyu, ia diterima

berdasarkan penalaran manusia. Lebihlebih karena wahyu mengandung nilai-nilai yang

mendorong demokrasi, seperti nilai persamaan hak manusia dan adanya prinsip syura

(musyawarah), meski tidak ada penjelasan definitif tentang bentuk demokrasi yang

harus diterapkan. Bentuk demokrasi yang tepat tergantung pada penalaran, bersifat

situasional, dan dipengaruhi oleh faktor kebudayaan. Oleh karenanya, sampai kini tidak

ada kesamaan bentuk demokrasi di dunia ini. Namun, dari perbedaan bentuk demokrasi

itu dapat ditarik kesimpulan mengenai asas-asas demokrasi, yang terpenting di

antaranya adalah bahwa demokrasi harus berdasar pada asas kedaulatan rakyat dan

penghormatan hak-hak asasi manusia.

Sementara, hak asasi manusia itu sendiri tidak lain adalah hak-hak dasar yang

dimiliki manusia sejak diciptakan, yang harus dihormati dan dilindungi, tanpa

diskriminasi atas dasar suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, maupun

14
agama. Munculnya Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia (DUHAM),

yang didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan semata, telah menjadikan problem

kemanusiaan yang selama bertahun-tahun berada di bawah kungkungan dogma agama

harus dilepaskan dari nilai-nilai agama. DUHAM menuntut manusia seluruh dunia

untuk meletakkan nilai kemanusiaan (hak-hak asasi manusia) di atas nilai-nilai agama

dan tidak dapat dibenarkan menginjak-injak nilai kemanusiaan demi membela agama

apa pun. Bagi sebagian umat Islam, yang menganggap hak asasi manusia sebenarnya

sudah lama diatur dalam Islam, maka yang harus dilakukan saat ini adalah bagaimana

menemukan rujukan teologis bagi persoalan tersebut. Namun tidak urung, sebagian

umat Islam yang lain melakukan penolakan terhadap DUHAM, karena melihat adanya

perbedaan kebudayaan yang melahirkan hak asasi manusia tersebut. Pendekatan hak

asasi manusia dalam Islam memiliki nilai yang khas berupa nilai yang datang dari

wahyu, dan ini berbeda dengan universalitas HAM yang notabene datang dari Barat.

Terlepas dari perbedaan pandangan di atas, hak asasi manusia adalah permasalahan

baru dalam dunia modern, dan tidak pernah diulas secara eksplisit oleh ahli hukum

tradisional. Oleh karena itu, yang terpenting dilakukan adalah bagaimana merumuskan

hubungan yang viable antara Islam dengan hak asasi manusia, tanpa harus merugikan

dan mengorbankan salah satunya.

Dengan demikian, apakah Islam dapat mendukung demokrasi dan HAM

merupakan tantangan paling penting yang dihadapi umat Islam saat ini. Sementara,

tantangan lainnya adalah banyaknya muslim dan non-muslim di berbagai pelosok dunia

saat ini meyakini bahwa demokrasi dan HAM bertentangan dengan keyakinan Islam.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut perlu dilakukan kajian yang

sungguh-sungguh dan terus-menerus di kalangan umat Islam tentang hubungan

demokrasi, HAM, dan Syari’ah. Salah satu model pendekatan dalam kajian tersebut

15
adalah dengan menggunakan hermeneutika hukum Islam. Dengan pendekatan ini

diharapkan pemahaman umat Islam tentang dialektika antara demokrasi, HAM, dan

Syari’ah akan menjadi lebih komprehensif dan akan muncul titik terang tentang

kesamaan antara pandangan yang muncul dari Barat dan pandangan yang bersumber

dari agama mengenai demokrasi dan hak asasi manusia.

2.4. IMPLEMENTASI HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI DALAM

KEHIDUPAN BERAGAMA, BERBANGSA, DAN BERNEGARA

Implementasi HAM dan Demokrasi dalam kehidupan pribadi agar tidak

bertentangan/melanggar hak orang lain perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Kebebasan orang lain agar tidak terjadi pelanggaran terhadap kebebasan

antar pribadi

b. Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat

dan kebudayaan bangsa karena akan mengingkari kodratnya sebagai makhluk

sosial yang berbudaya

c. Tidak bertentangan dengan peraturan hukum dan undang-undang yang

berlaku sebab akan mengganggu ketertiban umum dan keadilan

d. Tidak bertentangan dengan negara karena akan menimbulkan perpecahan

bangsa dan negara

e. Tidak bertentangan dengan agama yang dianut dan semangat keagamaan

masyarakat

f. Penerapan hak asasi harus meningkatkan harkat dan martabat manusia dan

bukan merendahkan derajatnya

Contoh implementasi HAM dalam kehidupan sehari-hari:

a. Menahan diri apabila terjadi pertengkaran diantara sesama rekan mahsiswa

atau dosen dan karyawan di kampus. menyelesaikan pertengkaran tersebut

16
dengan baik dan terhormat, serta tidak main hakim sendiri, jika melakukan

main hakim sendiri akan berakaitan dengan hukum.

b. Melakukan kegiatan kemahasiswaan tidak mengganggu ketenangan dan

ketertiban teman-teman di lingkungan kampus dan warrga yang berada di

sekitar lingkungan kampus.

c. Mentaati tata tertib lingkungan hidup sehari-hari di lingkungan mahasiswa

masing-masing.

d. Menghindari pertengkaran/adu fisik karena masing-masing merasa dirinya

benar.

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut :

1. Hak Asasi Manusia menurut pemikiran barat semata-mata bersifat antroposentris,

artinya segala sesuatu berpusat kepada manusia, sehingga manusia sangat

dipentingkan. Sedangkan ditilik dari sudut pandang Islam bersifat teosentris,

artinya, segala sesuatu berpusat kepada Tuhan, sehingga Tuhan sangat

dipentingkan.

2. Hak Asasi Manusia dan demokrasi merupakan tiga konsep yang tidak dapat

dipisahkan. Hal ini disebabkan karena salah satu syarat utama terwujudnya

demokrasi adalah adanya penegakan hukum dan perlindundgan Hak Asasi

Manusia (HAM). Demokrasi akan selalu rapuh apabila HAM setiap warga

masyarakat tidak terpenuhi. Sedangkan pemenuhan dan perlindungan HAM akan

terwujud apabila hukum ditegakkan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai

berikut :

1. Setiap manusia hendaknya menjungjung tinggi Hak Asasi Manusia, karena hak ini

sebagai dasar yang melekat pada diri tiap manusia.

2. Dalam mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, baik dibidang hukum, hak

dan kewajiban asasi manusia, serta kehidupan berdemokrasi hendaknya

berdasarkan prinsip-prinsip yang diajarkan Islam.

18
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Ghani Abdullah. 1994. Pengantar Komopilasi Hukum Islam dalam Tata

Hukum Indonesia. Gema Insani Press: Jakarta

Dahlan, Idhamy. 1987. Karakteristik Hukum Islam. Media Sarana Press: Jakarta

Departemen Agama RI. 2001. Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi

Umum. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam: Jakarta.

Hamdan, Mansoer. 2004. Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam. Direktorat

Perguruan Tinggi Agama Islam: Jakarta

Hasby Asy-Shidiqiy. 1975. Falsafah Hukum Islam Bulan Bintang: Yogyakarta

Husain, syekh syaukat. 1991. Hak asasi – manusia dalam islam. Gema Insani pers:

Jakarta.

Lopa, Baharuddin. 1999. Al Qur’an dan Hak Azasi Manusia PT. Dana Bakti Prima

Yasa: Yogyakarta

Ilyas, Muhtarom. 2009. Pendidikan Agama Islam. PT. Gramedia Widiasarana

Indonesia: Jakarta

Mushlihin, I.A.2012. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif


Hermeneutika Hukum Islam. Jurnal Kajian Hukum Islam.Vol.VI No.1

19