Anda di halaman 1dari 3

KENALI STUNTING DAN DAMPAKNYA TERHADAP TUMBUH KEMBANG ANAK

Kebanyakan dari anda mungkin belum terlalu familiar dengan kata “stunting”. Perawakan
pendek karena kekurangan gizi disebut stunting, sedangkan yang disebabkan factor genetic atau
familial disebut short stature. Data di Indonesia belum sampai memisahkan antara kedua penyebab
perawakan pendek ini. Tingginya prevalensi perawakan pendek (stunting) pada balita menunjukkan
bahwa populasi tersebut mengalami kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Hal ini merupakan
indikasi penyebab yang kompleks dimana sosial ekonomi mempengaruhi nilai gizi asupan makanan
dan juga berpengaruh terhadap prevalensi morbiditas.
Secara definisi kerdil (Stunting) sendiri merupakan salah satu gangguan pertumbuhan pada
balita (dibawah 5 tahun) yang terjadi akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.
Kekurangan gizi terjadi sejak dalam kandungan hingga bayi lahir. Namun stunting baru akan terlihat
pada saat usia diatas 2 tahun. gizi yang kurang pada saat dalam kandungan terjadi karena asupan
nutrisi ibu yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin. Hal
ini dapat berlanjut setelah lahir, dimana kebiasaan makan yang buruk serta infeksi berulang dapat
memperberat kondisi kurang gizi pada anak. Dampak malnutrisi terutama memberat dan permanen
bila terjadi pada bayi dan batita. Sebesar 45% kematian balita terkait dengan malnutrisi.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013 sekitar 37% anak balita di indonesia
mengalami stunting, dan Indonesia merupakan negara dengan prevalensi ke 5 terbesar dunia.
Orang tua merupakan pihak yang berperan penting dalam menentukan baik buruknya nutrisi anak,
untuk itu penting bagi orang tua untuk mengetahui ciri-ciri stunting :
1. Pertumbuhan terhambat : tinggi badannya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.
2. Performa yang buruk pada tes perhatian dan memori belajar
3. Wajah tampak lebih muda dari usianya
4. Tanda pubertas terlambat
5. Pertumbuhan gigi terlambat
6. Usia 8-10 tahun cenderung lebih pendiam dan tidak melakukan kontak mata
Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau
tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar. Balita stunting hasilnya akan berada dibawah
normal, yang secara fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya.
Perawakan pendek disebabkan oleh faktor lingkungan dan genetik. Lingkungan merupakan
aspek penting yang masih dapat di intervensi sehingga perwakan pendek dapat diatasi. Faktor
lingkungan yang berperan dalam menyebabkan perawakan pendek dapat diatasi antara lain status gizi
ibu, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi pada
anak. Selain disebabkan oleh lingkungan, perawakan pendek juga dapat disebabkan oleh faktor
genetik dan hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi.
Stunting memiliki banyak dampak buruk terhadap salah satunya pada tingkat kecerdasan
anak. Malnutrisi yang tejadi berkepanjangan pada anak, berdampak pada gangguan perkembangan
otak, rendahnya IQ yang terlihat pada prestasi sekolah anak menurun, perkembangan intelektual dan
sosial terganggu, lemahnya sistem imun tubuh serta beresiko lebih besar untuk menderita penyakit
serius seperti diabetes, cancer dikemudian hari. Dampak yang lebih buruknya adalah stunting dapat
terus berlanjut dari generasi ke generasi, karena pada umumnya anak yang dilahirkan dari ibu yang
kurang gizi, selanjutnya juga akan melahirkan bayi yang kurang gizi pula.
Upaya yang dapat dilakukan orang tua, untuk mengantisipasi stunting adalah :
1. Sejak masa kehamilan, ibu hamil sebaiknya melakukan pemeriksaan kehamilan tertatur,
menghindari asap rokok, dan memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan antara lain
dengan menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat, yodium yang cukup.
2. Melakukan kunjungan tertaur ke dokter atau posyandu untuk memantau pertumbuhan dan
perkembangan anak, yaitu :
- Setiap bulan ketika anak anda berusia 0-12 bulan
- Setiap 3 bulan ketika anak anda berusia 2-6 tahun
- Setiap 6 bulan ketika anak berusia 6-18 tahun
3. Mengikuti ASI eksklusif sampai anak anda berusia 6 bulan dan pemberian MPASI yang cukup
jumlah dan kualitasnya. Pemberian ASI eksklusif bagi bayi sejak baru lahir hingga usia 6 bulan
juga menjadi faktor yang mempengaruhi nutrisi pada balita. ASI eksklusif disini didefinisikan
sebagai pemberian ASI tanpa suplementasi makanan maupun minumam lain, baik berupa air
putih, jus, ataupun susu selain ASI. IDAI merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama
enam bulan pertama untuk mencapai tumbuh kembang optimal. Setelah enam bulan, bayi
mendapat makanan pendamping yang adekuat sedangkan ASI dilanjutkan sampai usia 24
bulan.
4. Mengikuti program imunisasi terutama imunisasi dasar
5. Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan
lingkungan.
Intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting. Factor sanitasi dan kebersihan
lingkungan berpengaruh pula untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena anak usia
dibawah dua tahun rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit. Paparan terus menerus terhadap
kotoran manusia dan binatang dapat menyebabkan infeksi bakteri kronis. Infeksi tersebut, disebabkan
oleh praktik sanitasi dan kebersihan yang kurang baik, membuat gizi sulit diserap tubuh.
Daftar Pustaka

1. Sjarif D R, Yuliarti K, Lestari E D, dkk. Rekomendasi praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti
pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. IDAI. 2015.
2. Trihono, Atmarita, Tjandrarini D H, dkk. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan
Solusinya. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2015
3. Krebs NF: Food choices to meet nutritional needs of breast fed infants and toddlers on
mixed diets, J Nutr 137(2):511S-517S, 2007.
4. Mencegah Anak Berperawakan Pendek: IDAI. 2016. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-
kesehatan-anak/mencegah-anak-berperawakan-pendek
5. Stunting: https://thousanddays.org/the-issue/stunting/