Anda di halaman 1dari 4

TUGAS MATA KULIAH PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN

“AGENT PENYAKIT JAPANESE ENCEPHALITIS”

Dosen Pembimbing :

A.T Diana Nerawati S.KM., M.Kes

Disusun oleh :

Nur Fadlila Rachmawati (P27833116029)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

PRODI D-III KESEHATAN LINGKUNGAN SURABAYA

SEMESTER IV

2017/2018
1. Agent

Japanese Encephalitis biasa disebut ”Brain Fever”. Penyebab JE adalah virus RNA
dari famili Flaviviridae, genus Flavivirus. Virus JE mempunyai kedekatan antigenik
dengan virus West Nile, Murray Valley dan St. Louis ensefalitis. Masing-masing
menyebabkan penyakit pada manusia, tapi hanya JE yang menyebabkan penyakit yang
signifikan pada hewan. Virus dapat tumbuh dalam telur ayam berembrio melalui
inokulasi ke dalam kantong kuning telur. Disamping itu berbagai biakan sel seperti sel
fibroblast embrio ayam, sel ginjal kera, babi, dan hamster dapat pula digunakan untuk
isolasi virus (Soeharsono, 2002).

Flavivirus terdiri dari sekitar 70 virus berdiameter 45-60 nm yang mempunyai genom
RNA positif untai tunggal, berukuran 10,7 kb. Amplop virus mengandung dua
glikoprotein, memiliki tiga atau empat polipeptida struktural, dua terglikosilasi. Flavivirus
memasuki sel dengan cara endositosis, bereplikasi dalam sitoplasma secara lambat dan
matang melalui perantaraan membran intrasitoplasma (terutama retikulum endoplasma).
Replikasi menyebabkan proliferasi yang khas pada membran intraseluler. Secara parsial,
virus ini menutup sintesis protein dan RNA dari sel hospes mamalia tapi tidak pada
nyamuk. Pada hospes vertebrata yang sesuai, perkembangbiakan primer virus terjadi baik
di sel-sel myeliod maupun limfoid atau di endotel pembuluh darah. Perkembangbiakan di
dalam susunan saraf pusat tergantung kemampuan virus untuk menembus barier darah
otak dan untuk menginfeksi sel saraf. Penderita penyakit JE pertama kali ditemukan di
Jepang pada tahun 1871, namun isolasi penyebab penyakit ini baru berhasil pada tahun
1933 dengan nama Japanese "B" encephalitis. Virus JE telah ditemukan hampir di semua
negara Asia, termasuk Indonesia (Sendow, 2005).

2. Host

Manusia bisa tertular virus japanese encephalitis bila tergigit oleh nyamuk Culex
tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Biasanya nyamuk ini lebih aktif pada malam hari.
Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi.
3. Reservoir dan vector

Penyebaran penyakit JE tidak dapat ditularkan melalui kontak langsung, tetapi harus
melalui vektor, yaitu melalui gigitan nyamuk yang telah mengandung virus JE. Masa
inkubasi pada nyamuk penular antara 9-12 hari, dan nyamuk yang terinfeksi virus JE
selama hidupnya akan menjadi infektif yang dapat menularkan ke hewan dan manusia.
Di daerah tropis, virus JE senantiasa beredar di antara nyamuk, burung dan babi.
Berbagai jenis burung air merupakan resevoir utama atau inang pemelihara (maintenance
host) di alam bagi virus JE. Adapun babi merupakan inang amplifier (amplifier host) yang
dapat menunjukan gejala klinis terutama pada babi-babi bunting. Infeksi pada manusia
dan kuda dapat menyebabkan gejala encephalitis yang hebat dan fatal, meskipun
sebenarnya manusia dan kuda hanya sebagai inang insidental (incidental host). Infeksi
yang tidak menampakkan gejala klinis juga terjadi pada sapi, domba, dan kambing, serta
hewan lain seperti anjing, kucing, rodensia, kelelawar, ular dan katak.
Penyebaran penyakit JE tidak dapat ditularkan langsung dari virus kepada penderita,
tetapi harus melalui vektor. Hingga saat ini, vektor JE yang banyak terdapat di sekitar kita
adalah nyamuk. Hal ini dapat diketahui dari isolasi virus pada spesies nyamuk tersebut.
Hingga saat ini virus JE telah berhasil diisolasi dari nyamuk Culex, Aedes, dan Anopheles.

4. Cara Penularan (Mode Of Transmition)


Mekanisme penularan virus JE pada manusia terjadi karena nyamuk Cx.
tritaeniorhynchus yang seharusnya bersifat zoofilik populasinya menjadi banyak sekali
atau terjadi kenaikan yang mendadak dari populasi nyamuk sehingga dengan terpaksa
nyamuk ini pun menggigit manusia yang ada di sekitarnya. Selain itu, dapat juga terjadi
karena jumlah babi yang menderita viraemia (mengandung virus JE) menjadi banyak
sehingga cadangan virus di alam meningkat dan mudah ditularkan pada manusia. Umur
vektor JE, nyamuk Culex, berkisar antara 14-21 hari dan jarak terbang Culex dapat
mencapai lebih dari 3 km. Culex umumnya berkembang biak pada genangan air yang
banyak ditumbuhi tanaman seperti sawah dan saluran irigasinya, selokan yang dangkal
atau kolam yang sudah tidak terpakai.
Pada babi, viraemia terjadi selama 2-4 hari dan diikuti dengan pembentukan antibodi
dalam waktu 1-4 minggu. Virus JE dapat menembus plasenta tergantung pada umur
kebuntingan dan galur virus JE. Kematian janin dan mumifikasi dapat terjadi apabila
infeksi JE berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA

Sendow I, Bahri S. 2005. Perkembangan Japanese Encephalitis di Indonesia. Wartazoa


15(3): 111-118.
Soeharsono. 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.