Anda di halaman 1dari 9

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Lalat Buah (Drosophila melanogaster)
Drosophila melanogaster meupakan jenis lalat buah, dimasukkan dalam
filum Artropoda kelas Insekta bangsa Diptera, anak bangsa Cyclophorph
(Corebima,2013).

Klasifikasi

Kingdom Animalia

Phylum Arthropoda

Class Insekta

Ordo Diptera

Family Dhrosopilidae

Genus Dhrosophila

Spesies Dhrosophila melanogaster

Drosophila melanogasster adalah satu organisme model yang sering


digunakan dalam mempelajari berbagai konsep biologi. Organisme ini telah
digunakan sebagai organisme model selama berabad-abad untuk mempelajari
berbagai aspek dalam proses biologi, termasuk genetika dan pewarisan sifat,
perkembangan embrio, perilaku, dan penuaan (Jennings, 2011).

Kromosom (sebagai pembawa bahan keturunan) pada D. melanogaster,


berjumlah delapan, yaitu enam autosom (kromosom somatik) dan dua gonosom
(kromosom seks). Pada kromosom ini terdapat AND (asam deoksiribonukleat)
berpilin ganda atau “doublehelix” (tergolong asam nukleat selain ARN), yang
susunan kimianya terdiri atas gula pentosa (deoksiribosa), asam fosfat dan
basa nitrogen. Basa nitrogen dapat dibedakan atas 2 tipe dasar, yaitu: pirimidin
(yang terbagi atas sitosin/S dan timin/T) dan purin (yang terbagi atas adenin/A dan
guanin/G). Komposisi basa nitrogen pada D. melanogaster, adalah adenin =
30,7%; guanin = 19,6%; sitosin = 20,2% dan timin = 29,4% (Suryo, 2008).
2.2 Perbedaan lalat jantan dan betina
Menurut (Corebima, 2013) lalat buah jantan dan betina dapat dibedakan
melalui beberapa ciri-ciri umum
Tabel 2.1 ciri-ciri umum Drosophila melanogaster jantan dan betina
Ciri-ciri pembeda Jantan Betina

Ukuran tubuh Ukuran tubuh lebih kecil Ukuran tubuh lebih


dibanding betina besar dibanding jantan

Warna tubuh Bagian belakang (ujung Bagian belakang lebih


abdomen) lebih gelap terang dibanding jantan
dibanding betina

Panjang sayap Sayapnya lebih pendek Sayapnya lebih panjang


dibandingkan betina dibandingkan jantan

Sisir kelamin Ada sisir kelamin Tidak ada sisir kelamin

Bentuk ujung Tumpul lancip


abdomen

Lalat jantan mempunyai sex comb (sisir kelamin) pada kaki depannya,
sehingga dapat digunakan sebagai alat identifikasi, sedangkan lalat betina
tidak memiliki sisir kelamin. Lalat jantan mempunyai tanda berwarna gelap
atau hitam pada abdomen bagian dorsal sedangkan pada lalat betina tidak
ada, seperti yang terlihat pada Gambar 2.2

Gambar 2.2 D. melanogaster jantan dan betina (Sumber:Herskowitz,1977).


2.1 Drosophila melanogaster strain N

Karakteristik Drosophilla melanogaster tipe normal dicirikan dengan mata merah, mata
majemuk berbentuk bulat agak ellips dan mata tunggal (oceli) pada bagian atas kepalanya dengan
ukuran relatif lebih kecil dibanding mata majemuk ,warna tubuh kuning kecokelatan dengan cincin
berwarna hitam di tubuh bagian belakang (Hotimah, 2005),

D. melanogaster normal memiliki antena yang berbentuk tidak runcing dan


bercabang-cabang dan kepala berbentuk elips. Thorax berwarna krem, ditumbuhi banyak
bulu, dengan warna dasar putih. Abdomen bersegmen lima, segmen terlihat dari garis-
garis hitam yang terletak pada abdomen. Sayap D.melanogaster normal memiliki ukuran
yang panjang dan lurus, bermula dari thorax hingga melebihi abdomen lalat dengan warna
transparan (Dimit, 2006).

Gambar 2.3. D. melanogaster strain N (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018).

2.1 Drosophila melanogaster strain bcl


Mutasi pada Drosophila melanogaster dapat menyebabkan perbedaan fenotipe
pada organisme tersebut atau disebut juga sebagai mutan. Beberapa jenis mutasi pada
Drosophila melanogaster yang dapat terlihat dari fenotipenya adalah mutasi warna mata,
bentuk mata, bentuk sayap dan warna tubuh (Corebima, 2013).

Ciri D. melanogaster strain bcl yaitu tubuh, kaki, dan vena pada sayap berwarna
hitam. Warna matanya adalah cokelat akibat mutasi pada kromosom nomor dua pada lokus
16,5. (Campbell et al, 2002)
Gambar 2.4. D. melanogaster strain bcl (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2018).

2.2 Daur hidup Drosophila melanogaster


Beberapa laporan penelitian, semisal Fauzi dan Corebima (2015) juga
memilih D. melanogaster sebagai organisme model dalam penelitiannya karena
beberapa keuntungan teknis, semisal tidak membutuhkan biaya yang cukup besar
dalam membudidayakannya serta memiliki siklus hidup yang sangat pendek.

Perkembangan dimulai segera setelah fertilisasi, yang terdiri dari dua


periode. Periode pertama adalah periode embrionik di dalam telur pada saat
fertilisasi hingga penetasan telur menjadi larva muda (proses ini berlangsung
sekitar 24 jam). Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur atau
periode postembrionik. Periode ini dibagi dalam tiga tahap yaitu larva, pupa, dan
imago (Campbell et al, 2002)

Gambar 2.4 daur hidup Drosophila melanogaster (sumber: Gilbert


,2010)
2.3 Pembelahan meiosis
Mitosis merupakan periode pembelahan sel yang berlangsung pada jaringan titik
tumbuh (meristem), Proses mitosis terjadi dalam empat fase, yaitu profase, metafase,
anafase, dan telofase (Campbell et al, 2002)
Tahap yang pertama yaitu profase.Pada awal profase, sentrosom dengan
sentriolnya mengalami replikasi dan dihasilkan dua sentrosom. Masing-masing sentrosom
hasil pembelahan bermigrasi ke sisi berlawanan dari inti. Pada saat bersamaan,
mikrotubul muncul diantara dua sentrosom dan membentuk benang-benang spindle,
yang membentuk seperti bola sepak ( Campbell et al, 2002)
Tahap yang kedua yaitu Metafase. Masing-masing sentromer mempunyai dua
kinetokor dan masing-masing kinetokor dihubungkan ke satu sentrosom oleh serabut
kinetokor. Sementara itu, kromatid bersaudara begerak ke bagian tengah inti membentuk
keping metafase ( Campbell et al, 2002)
Tahap yang ketiga yaitu Anafase. Masing-masing kromatid memisahkan diri dari
sentromer dan masing-masing kromosom membentuk sentromer. Masing-masing
kromosom ditarik oleh benang kinetokor ke kutubnya masing-masing( Campbell et al,
2002)
Tahap yang terakahir yaitu Telofase. Ketika kromosom saudara sampai ke
kutubnya masing-masing, mulainya telofase. Kromosom saudara tampak tidak beraturan
dan jika diwarnai, terpulas kuat dengan pewarna histologi . Tahap berikutnya terlihat
benang-benang spindle hilang dan kromosom tidak terlihat (membentuk kromatin;
difuse). Keadaan seperti ini merupakan karakteristik dari interfase. Pada akhirnya
membran inti tidak terlihat diantara dua anak inti.Selama fase akhir pembelahan mitosis,
muncul lekukan membran sel dan lekukan makin dalam yang akhirnya membagi sel tetua
menjadi dua sel anak proses ini disebut dengan sitokenesis. Sitokinesis terjadi karena
dibantu oleh protein aktin dan myosin ( Campbell et al, 2002)

2.4 Crossing Over


a. Crossing Over
Pindah silang (crossing over) merupakan fenomena dimana terjadi pemutusan dan
penyambungan kembali yang diikuti oleh pertukaran resiprok antara kedua kromatid di
dalam bentukan bivalen (Corebima, 2013). Pindah silang ini pertama kali dikemukakan
oleh T. H Morgan untuk menjelaskan terjadinya kombinasi rekombinan dari faktor-faktor
yang disimpulkan saling terpaut berdasarkan data genetik ( Corebima, 2013).
Peristiwa pindah silang terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Pindah silang tunggal, ialah pindah silang yang terjadi pada satu tempat.
Dengan terjadinya pindah silang itu akan terbentuk 4 macam gamet. Dua
macam gamet memiliki gen-gen yang sama dengan gen-gen yang dimiliki induk
(parental), maka dinamakan gamet-gamet tipe parental. Dua gamet
lainnya merupakan gamet-gamet baru, yang terjadi akibat adanya pindah
silang. Gamet-gamet ini dinamakan gamet-gamet rekombinasi. Gamet-
gamet tipe parental dibentuk jauh lebih banyak dibandingkan dengan
gamet-gamet tipe rekombinasi (Suryo, 2010).
2. Pindah silang ganda, ialah pindah silang yang terjadi pada dua tempat. Jika
pindah silang ganda (dalam bahasa Inggris :´double crossingover´)
berlangsung di antara dua buah gen yang terangkai, maka terjadinya
pindah silang ganda itu tidak akan tampak dalam fenotip, sebab gamet-
gamet yang dibentuk hanya dari tipe parental saja atau dari tipe
rekombinansi saja atau tipe parental dan tipe rekombinasi akibat pindah
silang tunggal. Akan tetapi, misalkan di antara gen A dan B masih ada gen
ke tiga, misalnya gen C, maka terjadinya pindah silang ganda antara gen A
dan B akan nampak (Suryo, 2010).

b. Uji test cruss

Uji Silang (Test Cross) adalah persilangan antara individu F1 dengan individu yang
resesif.uji silang ini bertujuan untuk menguji ketidakmurnian individu dengan mengetahui
perbandingan fenotip keturunannya. Dengan demikian, dapat diketahui individu yang diuji
adalah heterozigot atau homozigot (galur murni).

c. Rumus frekuensi pindah silang

Prosentase terbentuknya kombinasi baru saat terjadinya pindah silang disebut Nilai
Pindah Silang (NPS) yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

NPS = KB/KB+KP X 100%

Keteranagan :

KB =Kombinasi Baru atau rekombinan yang merupakan hasil peristiwa pindah silang
KP =Kombinasi Parental yang merupakan hasil peristiwa pautan

2.5 Kompleks sinaptonemal

Peristiwa pindah silang terjadi pada tahap profase 1 tepatnya pada zygoten
dan pahcyten pada pembelahan meiosis. Saat profase I, kromosom homolog
membentuk pasangan yang disebut sinapsis dengan bantuan protein pada kompleks
sinaptonemal. Kompleks ini berukuran sekitar 100 nm. Kompleks akan memegang
kedua kromosom yang bereplikasi agar tetap berada pada posisi yang tepat.
Menjaga setiap gen agar bertukar secara langsung dari pasangannya pada
kromosom homolog. Pada kompleks sinaptonemal DNA duplex membuka pada
sisi tertentu sedangkan single strand dari DNA membentuk pasangan basa dengan
strain komplementer pada kromosom homolog yang lain. Kompleks sinaptonemal
meyediakan kerangka struktural yang memungkinkan terjadinya Crossing Over
diantara kromosom homolog (Raven, dkk., 2016).

Proses pindah silang ini menghasilkan kromosom individual yang


menggabungkan gen-gen yang diwarisi dari kedua orangtua atau parental
(Corebima, 2013).
Gambar 2.7Proses pembelahan meiosis yang menunjukkan terjadinya
Crossing Over
sumber