Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Di dalam tubuh manusia, ada alat transportasi yang berguna sebagai
pengedar oksigen dan zat makanan ke seluruh sel-sel tubuh serta mengangkut
karbon dioksida dan zat sisa ke organ pengeluaran. Alat transportasi pada manusia
terkoordinasi dalam suatu sistem yang disebut sistem peredaran darah. Sistem
peredaran darah manusia terdiri atas darah, jantung, dan pembuluh darah.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali
tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi untuk mengirimkan zat-zat dan oksigen
yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil
metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo atau hemato
yang berasal dari kata Yunani yang berarti haima yang berarti darah.
Darah manusia berwarna merah, namun dalam hal ini warna darah ada dua
jenis warna merah pada darah manusia. Warna merah terang menandakan bahwa
darah tersebut mengandung banyak oksigen, sedangkan warna merah tua
menandakan bahwa darah tersebut mengandung sedikit oksigen atau dalam arti
lain mengandung banyak karbondioksida. Warna merah pada darah disebabkan
oleh adanya hemoglobin. Hemoglobin adalah protein pernafasan (respiratory
protein) yang mengandung besi (Fe) dalam bentuk heme yang merupakan tempat
terikatnya molekul-molekul oksigen.
Darah juga mengangkut bahan-bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan
bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air
seni. Manusia dan hewan mempunyai system untuk mempertahankan diri
terhadap penyakit yang dikenal dengan system imunitas. Ada dua jenis imunitas ,
yaitu imunitas bawaan dan imunitas adaptif. Kedau imunitas tersebut merupakan
garis pertahanan pertama terhadap semua pengganggu. Bagian utama tubuh yang
berfungsi sebagai imunitas bawaan adalah kulit,air mata dan air liur.
System kekebalan tubuh sangat mendasar perannya bagi kesehatan ,
tentunya harus disertai dengan pola makan yang sehat, makan cukup berolahraga,

1
dan terhindar dari masuknya senyawa yang beracun kedalam tubuh. Sekali
senyawa beracun hadir dalam tubuh, maka harus segera dikeluarkan.tem
kekebalan tubuh.
Kondisi system kekebalan tubuh menentukan kualitas hidup. Dalam tubuh
yang sehat terdapat system kekebalan tubuh yang kuat sehingga daya tahan tubuh
terhadap penyakit juga prima. Pada bayi yang baru lahir, pembentukan system
kekebalan tubuhnya belum sempurna dan memerlukan ASI yang membawa
system kekebalan tubuh sang ibu untuk membantu daya tahan tubuh sang bayi .
semakin dewasa, sis tem kekebalan tubuh terbentuk sempurna. Namun pada
orang lanjut usia, system kekebalan tubuhnya secara alami menurun. Itulah
sebabnya timbul penyakit degenerative atau penuaan.
Pada pola hidup modern menuntut segala sesuatu dilakukan secara cepat
dan instan. Hal ini berdampak juga pada pola makan. Sarapan didalam kendaraan,
makan siang serba tergesa, dan malam karena kelelahan tidak nafsu makan.
Belum lagi kualitas makanan yang dikonsumsi, polusi udara, kurang berolahraga,
dan steres. Apabila terus berlanjut, daya tahan tubuh akan menurun, lesu, cepat
lelah, dan mudah terserang penyakit. Karena itu, banyak orang yang masih muda
mengidap penyakit degenerative. Kondisi stress dan pola hidup modern sarat
polusi, diet tidak seimbang, dan kelelahan menurunkan daya tahan tubuh sehingga
memerlukan kecukupan antibody. Gejala menurunnya daya tahan tubuh sering
kali terabaikan, sehingga timbulberbagai penyakit infeksi, penuaan dini pada usia
produktif.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana anatomi fisiologi dari sistem hematologi ?
2. Bagaimana anatomi fisiologi dari sistem imun ?
3. Bagaimana kimia, fisika dan biokimia dari sistem imun dan hematologi ?

1.3

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI FISIOLOGI SISTEM HEMATOLOGI

2.1.1 Definisi Hematologi


Hematologi adalah cairan yang ada pada manusia sebagai alat transportasi
berfungsi untuk mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan
tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai
pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. (Pearce, 2011 : 159)

2.1.2 Anatomi Hematologi


Sistem hematologi tersusun atas hematologi dan tempat hematologi di
produksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpa. Hematologi adalah organ
khusus yang berada dengan organ lain karena berbentuk cairan. Hematologi
merupakan medium transport ubuh, volume hematologi manusia sekitar 7% - 10%
berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter. Hematologi terdiri dari dua
komponen utama, yaitu: (Pearce, 2011 : 160)
1. Plasma hematologi, bagian cair hematologi yang sebagian besar terdiri dari
atas air, elektrolit, dan protein hematologi.
2. Butir butir hematologi (blood corpuscles), yang terdiri atas komponen
komponen berikut ini:

3
a. Eritrosit (sel hematologi merah)

1) Struktur Eritrosit
Sel hematologi merah merupakan cairan bikonkaf dengan diameter
sekitar 7 mikron. Bikon kavitas memungkinkan gerakan oksigen masuk
dan keluar sel secara cepat dengan jarak yang pendek antara membrane
dan inti sel. Warnanya kuning kemerah merahan, karena didalamnya
mengandung suatu zat yang di sebut hemoglobin.
Sel hematologi merah tidak memiliki inti sel , mitokondria, dan
ribosom, serta tidak dapat bergerak. Sel ini tidak dapat melakukan
mitosis, fosforilasi sel, atau pembentukan protein.
Komponen eritrosit adalah sebagai berikut:
a) Membrane eritrosit.
b) System enzim: enzim G6PD (glucose 6 phospatedehydrogenase).
c) Globin : bagian protein yang terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta.
(eritosit normal dengan pembesaran mikroskop electron 3000 kali).
(Pearce, 2011 : 161)
2) Produksi Sel Hematologi Merah
Dalam keadaan normal, eritropoesisi pada orang deawsa terutama
terjadi dalam sumsum tulang, dimana system eritrosit menempati 20%-
30% bagian jaringan sumsum tulang yang aktif membentuk sel
hematologi. Sel eritrosit berinti berasal dari sel induk multipotensial
menjadi sel hematologi system eritrosit, myeloid, dan mengakariosibila
yang di ransang oleh eritropoetin. Sel induk multipotensial akan
berdeferensiasi menjadi sel induk unipotensial.
Sel induk unipotensial tidak mampu berdiferensiasi lebih lanjut,
sehingga sel induk unipotensial seri eritrosit hanya akan berdeferesiasi
menjadi sel pronormoblas. Sel pronomorblas akan membentuk DNA

4
yang diperlukan untuk tiga sampai empat kali fase mitosis. Melalu empat
kali mitosis dari setiap kali pronormoblas akan terbentuk 16 eritrosit .
eritrosit matang kemudian dilepaskan dalam sirkulasi. Pada produksi
eritosit normal sumsum tulang memerlukan besi, Vitamin B12, asam
folat, piridoksin (vit B6), kobal, asam amino, dan tembaga.
Secara garis besar dapat di simpulkan bahwa perubahan morpologi sel
yang terjadi selama proses deferesiensi sel pronormoblas sampai eritrosit
matang dapat di kelompokan kedalam tiga kelompok:
a) Ukuran sel semakin kecil akibat mengecilnya inti sel.
b) Inti sel manjadi makin padat dan akhirnya dikeluarkan pada tingkatan
eritroblas asidosis.
c) Dalam sitoplasma di bentuk hemoglobin yang diikuti dengan
hilangnya RNA dalam sitoplsma sel.
3) Lama Hidup
Eritrosit hidup selama 74-154 hari. Pada usia ini system enzim
mereka gagal, membrane sel berhenti berfungsi dengan adekuat, dan sel
ini di hancurkan oleh sel system retikulo endothelial.
4) Jumlah Eritrosit
Jumlah normal pada orang dewasa kira kira 11,5-15 gram dalam
100 cc hematologi. Normal HB wanita 11,5 mg% dan HB laki-laki 13,0
mg%.
5) Sifat-sifat Sel Hematologi Merah
Sel hematologi merah biasanya digambarkan berdasarkan ukuran
dan jumlah hemoglobin yang terdapat didalam sel seperti berikut:
a) Normositik : sel yang ukurannya normal
b) Normokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
c) Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil
d) Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar
e) Hipokromik : sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu sedikit
f) Hiperkromik : sel yang hemoglobinnya terlalu banyak

5
6) Antigen Sel Hematologi Merah
Sel hematologi merah memiliki bermacam macam antigen spesifik
yang terdapat di membrane selnya dan tidak ditemukan di sel lain.
Antigen-antigen itu adalah A,B,O, dan Rh. (Pearce, 2011 : 162)
b. Sel Hematologi Putih

1) Struktur Leokosit
Bentuknya dapat berubah-rubah dan dapat bergerak dengan
perantaraan kaki palsu (pseudopodia), mempunya bermacam-macam inti
sel, sehingga ia dapat di bedakan menurut inti selnya serta warnanya
bening (tidak berwarna). Sel hematologi putih dibentuk disumsum tulang
dari sel-sel bakal. Jenis –jenis dari golongan sel ini adalah golongan yang
tidak bergranula, yaitu limposit T dan B, monosit dan makrofag, serta
golongan yang bergranula yaiu : eosinofil, basofil, dan neutrofil. (Pearce,
2011 : 163)
2) Fungsi Sel Hematologi Putih
a) Sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit/
bakteri yang masuk kedalam tubuh jaringan RES (system retikulo
endotel).
b) Sebagai pengangkut, yaitu mengangkut/membawa zat lemak dari
dinding usus melalu limpa terus kepembuluh hematologi.
3) Jenis-jenis Sel Drah Putih
a) Agranulosit, yang terdiri dari neutrofil, Eosinofil, dan Basofil.

6
b) Granulosit , tang terdiri dari limposit (limposit T dan Limposit B) dan
monosit.
4) Jumlah Sel Hematologi Putih
Pada orang dewasa jumlah sel hematologi putih total 4,0-11,0 x
109/l yang terbagi sebagai berikut:
a) Granulosit
(1) Neutopil 2,5-7,5 x 109
(2) Eosinfil 0.04-0,44 x 109
(3) Basofil 0-0,10 x 109
b) Limposit 1,5-3,5 x 109
c) Bsofil 0,2-0,8 x 109 (Pearce, 2011 : 164)

c. Keping Hematologi ( Trombosit )

1) Struktur Trombosit
Trombosit adalah bagian dari beberapa sel besar dlam sumsum
tulang yang berbentuk cakram bulat, oval,bikonveks, tidak berinti, dan
hidup sekitar 10 hari. (Pearce, 2011 : 164)
2) Jumlah Trombosit
Jumlah trombosit antara 150 dan 400 x 109/liter (150.000-
400.000/milliliter), sekitar 30-40% terkosentrasi didalam limpa dan
sisanya bersirkulasi dalam hematologi.

7
3) Fungsi Trombosit
Trombosit berperan penting dalam pembentukan bekuan
hematologi. Trombosit dalam keadaan normal bersirkulasi ke seluruh
tubuh melalui aliran hematologi.
4) Plasma Hematologi
Plasma adalah bagian hematologi yang encer tanpa sel-sel
hematologi, warnanya bening kekuning-kuningan. Hamper 90% dari
plasma hematologi terdiri atas air. Zat-zat yang terdapat dalam plasma
hematologi adala sebagai berikut:
a) Fibrinogen yang beguna dalam peristiwa pembekuan hematologi.
b) Garam-garam mineral, yang berguna dalam metabolism dan juga
mengadakan osmotic.
c) Protein hematologi (albumin, globulin) meningkatan viskositas
hematologi juga menimbulkan tekanan osmotik untuk memelihara
keseimbangan cairan dalam tubuh.
d) Zat makanan (asam amino, gukosa, lemak, mineral, dan vitamin).
e) Hormone, yaitu suatu zat yang dihasilkan dari kelenjar tubuh.
f) Antibody. (Pearce, 2011 : 165)

d. Limpa

1) Struktur Limpa
Merupakan organ ungu lunak kurang lebih berukuran satu kepalan
tangan. Limpa terletak pada sebelah kiri atas abdomen dibawah kostae.
Limpa memiliki permukaan luar konveks yang berhadapan dengan

8
diafragma dan permukaan medial yang konkaf serta berhadapan dengan
lambung, fleksura linealis kolon, dan ginjal kiri.
Limpa terdiri atas kapsula jaringan fibroelastin, folikel limpa (masa
jaringan limpa), dan pulpa merah (jaringan ikat, sel eritrosit, sel leokosit).
2) Fungsi Limpa
a) Pembentukan sel eritrosit (hanya pada janin).
b) Destruksi sel eritrosit tua.
c) Penyimpanan zat besi dari sel-sel yang di hancurkan.
d) Produksi bilirubin dari eritrosit
e) Pembentukan limposit dalam folikel limpa.
f) Pembentukan imunoglobin.
g) Pembuangan partikel asing dari hematologi. (Handayani, 2008 : 23)

3. Hematopoiesis
Hematopoiesis merupakan proses pembentukan hematologi. Tempat
hematopoiesis pada manusia berpindah-pindah, sesuai dengan usianya.
a. Yolk sac : usia 0-3 bulan intrauteri
b. Hati dan lien : usia 3-6 bulan intrauteri
c. Sumsum tulang : usia 4 bulan intrauterine sampai dewasa (Handayani, 2008
: 31)

4. Hemostasis
Adapun prinsif dari hemostasis adalah Mengurangi aliran hematologi
yang menuju daerah trauma. Cara mengurangi hematologi menuju daerah
trauma yaitu:
a. Vasokontriksi
b. Penekanan oleh edema
c. Mengadakan sumbatan/menutup lubang perhematologian. (Handayani, 2008
: 33)

5. Pembekuan Hematologi
Pembekuan hematologi adalah proses dimana komponen cairan
hematologi ditransformasi menjadi material semisolid yang dinamakan bekuan

9
hematologi. Menurut howell proses pembekuan hematologi dibagi menjadi tiga
stadium yaitu:
a. Stadium I : pembentukan tromboplastin.
b. Stadium II : perubahan dari protrombin menjadi thrombin.
c. Stadium III : perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin. (Handayani, 2008 :
35)

2.1.3 Fisiologi Hematologi


Dalam keadaan fisiologis, hematologi selalu berada dalam pembuluh
hematologi, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai berikut.
1. Sebagai alat pengangkut.
2. Mengatur keseimbangan cairan tubuh.
3. Mengatur panas tubuh.
4. Berperan penting dalam mengatur pH cairan tubuh
5. Mempertahankan tubuh dari serangan penyakit infeksi
6. Mencegah perhematologian. (Handayani, 2008 : 39)

2.2 ANATOMI FISIOLOGI SISTEM IMUN


2.2.1 Definisi Sistem Imun
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh
luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika
sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh
terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing
lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi
tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang
menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan
juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini
juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. (Sloane,
2004 : 110)

2.2.2 Anatomi Fisiologi Sistem Imun


A. Anatomi Sistem Imun
a) Sumsum Tulang

10
Semua sel sistem kekebalan tubuh berasal dari sel-sel induk dalam sumsum
tulang. Sumsum tulang adalah tempat asal sel darah merah, sel darah putih,
(termasuk limfosit dan makrofag) dan platelet. Sel-sel dari sistem kekebalan tubuh
juga terdapat di tempat lain. (Sloane, 2004 : 113)
b) Thymus

Glandula thymus memproduksi dan mematurasi/mematangkan T limfosit


yang kemudian bergerak ke jaringan limfatik yang lain,dimana T limfosit dapat
berespon terhadap benda asing. Thymus mensekresi 2 hormon thymopoetin dan
thymosin yang menstimulasi perkembangan dan aktivitas T limfosit.
1) Limfosit T sitotoksik
limfosit yang berperan dan imunitas yang diperantarai sel. Sel T
sitotoksik memonitor sel di dalam tubuh dan menjadi aktif bila menjumpai
sel dengan antigen permukaan yang abnormal. Bila telah aktif sel T
sitotoksik menghancurkan sel abnormal.
2) Limfosit T helper
Limfosit yang dapat meningkatkan respon sistem imun normal. Ketika
distimulasi oleh antigen presenting sel sepeti makrofag, T helper melepas
faktor yang yang menstimulasi proliferasi sel B limfosit.

11
3) Limfosit B
Tipe sel darah putih ,atau leukosit penting untuk imunitas yang
diperantarai antibodi/humoral. Ketika di stimulasi oleh antigen spesifik
limfosit B akan berubah menjadi sel memori dan sel plasma yang
memproduksi antibodi.
4) Sel plasma
Klon limfosit dari sel B yang terstimulasi. Plasma sel berbeda dari limfosit
lain ,memiliki retikulum endoplamik kasar dalam jumlah yang banyak ,aktif
memproduksi antibody. (Sloane, 2004 : 117)
c) Getah Bening

Kelenjar getah bening berbentuk kacang kecil terbaring di sepanjang


perjalanan limfatik. Terkumpul dalam situs tertentu seperti leher, axillae,
selangkangan, dan para- aorta daerah. (Sloane, 2004 : 119)
d) Nodus limfatikus

12
Nodus limfatikus (limfonodi) terletak sepanjang sistem limfatik. Nodus
limfatikus mengandung limfosit dalam jumlah banyak dan makrofag yang
berperan melawan mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Limfe bergerak
melalui sinus,sel fagosit menghilangkan benda asing. Pusat germinal merupakan
produksi limfosit. (Sloane, 2004 : 120)
e) Tonsil

Tonsil adalah sekumpulan besar limfonodi terletak pada rongga mulut dan
nasofaring. Tiga kelompok tonsil adalah tonsil palatine, tonsil lingual dan tonsil
pharyngeal. (Sloane, 2004 : 122)
f) Limpa

Limpa mendeteksi dan merespon terhadap benda asing dalam darah,


merusak eritrosit tua dan sebagai penyimpan darah. Parenkim limpa terdiri dari 2
tipe jaringan: pulpa merah dan pulpa putih
1) Pulpa merah terdiri dari sinus dan di dalamnya terisi eritrosit
2) Pulpa putih terdiri limfosit dan makrofag
Benda asing di dalam darah yang melalui pulpa putih dapat menstimulasi
limfosit . (Sloane, 2004 : 124)

13
B. Fungsi Sistem Imun
Fungsi sistem imun dalam kehidupan yaitu :
1) Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk perbaikan jaringan.
2) Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal
3) Kemampuannya untuk mengenali benda-benda asing seperti bakteri, virus,
parasit, jamur, sel kanker, dll. Fungsi ini sangat penting, karena harus bisa
membedakan mana kawan (bakteri yang menguntungkan dan sel tubuh yang
baik) mana lawan (virus, bakteri jahat, jamur, parasit, radikal bebas dan sel-sel
yang bermutasi yang bisa menjadi tumor/kanker) dan mana yang orang biasa
(alergen, pemicu alergi) yang harus dibiarkan lewat.
4) Bisa bertindak secara khusus untuk menghadapi serangan benda asing itu
5) Sistem Imun mengingat penyerang-penyerang asing itu (rupa & rumus kimiawi
antibody yang digunakan untuk mengalahkan mereka yang disimpan didalam
Transfer Factor tubuh) sehingga bisa dengan cepat menolak serangan ulang di
masa depan.
6) Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit dengan menghancurkan dan
menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur,
dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh.
7) Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk perbaikan jaringan.
Sasaran utama yaitu bakteri patogen dan virus. Leukosit merupakan sel
imun utama (disamping sel plasma, makrofag, dan sel mast). (Sloane, 2004 : 127)

2.3 KIMIA, FISIKA DAN BIOKIMIA SISTEM IMUN DAN HEMATO


2.3.1 MEKANISME PERTAHANAN
a. Mekanisme Pertahanan Non Spesifik
Dilihat dari caranya diperoleh, mekanisme pertahanan non spesifik disebut
juga respons imun alamiah. Terdiri dari kulit dan kelenjarnya, lapisan mukosa dan
enzimnya, serta kelenjar lain beserta enzimnya, contoh kelenjar air mata. Kulit
dan silia merupakan system pertahan tubuh terluar.
Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan
komplemen merupakan komponen mekanisme pertahahan.

14
b. Mekanisme Pertahanan Spesifik
Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme,
maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah
mekanisme pertahanan yg diperankan oleh limfosit, dengan atau tanpa bantuan
komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen. Dilihat dari
cara diperolehnya, mekanisme pertahanan spesifik disebut juga sebagai respons
imun didapat.
1) Imunitas humoral adalah imunitas yg diperankan oleh limfosit B dengan atau
tanpa bantuan dari imunokompeten lainnya. Tugas sel B akan dilaksanakan
oleh imunoglobulin yg disekresi oleh plasma. Terdapat 5 kelas imunoglobulin
yg kita kenal, yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE.
Pembagian Antibody (Imunoglobulin)
Antibodi (antibody, gamma globulin) adalah glikoprotein dengan struktur
tertentu yang disekresi dari pencerap limfosit-B yang telah teraktivasi menjadi
sel plasma, sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen
tersebut. Pembagian Immunglobulin.
a) Antibodi A (Immunoglobulin A, IgA) adalah antibodi yang memainkan
peran penting dalam imunitas mukosis.
b) Antibodi D (Immunoglobulin D, IgD) adalah sebuah monomer dengan
fragmen yang dapat mengikat 2 epitop.
c) Antibodi E (antibody E, immunoglobulin E, IgE) adalah jenis antibodi yang
hanya dapat ditemukan pada mamalia.
d) Antibodi G (Immunoglobulin G, IgG) adalah antibodi monomeris yang
terbentuk dari dua rantai berat dan rantai ringan, yang saling mengikat
dengan ikatan disulfida, dan mempunyai dua fragmen antigen-binding.
e) Antibodi M (Immunoglobulin M, IgM, macroglobulin) adalah antibodi
dasar yang berada pada plasma B.
2) Imunitas seluler didefinisikan sbg suatu respon imun terhadap suatu antigen yg
diperankan oleh limfosit T dg atau tanpa bantuan komponen sistem imun
lainnya.

15
2.3.2 Mekanisme Dalam Pembekuan Darah
A. Hemostatis dan Pembekuan Darah
Hemostasis merupakan pristiwa penghentian perdarahan akibat putusnya
atau robeknya pembuluh darah, sedangkan thrombosis terjadi ketika endothelium
yang melapisi pembuluh darah rusak atau hilang. Proses ini mencakup pembekuan
darah (koagulasi ) dan melibatkan pembuluh darah, agregasi trombosit serta
protein plasma baik yang menyebabkan pembekuan maupun yang melarutkan
bekuan.
Pada hemostasis terjadi vasokonstriksi inisial pada pembuluh darah yang
cedera sehingga aliran darah di sebelah distal cedera terganggu. Kemudian
hemostasis dan thrombosis memiliki 3 fase yang sama:
1. Pembekuan agregat trombosit yang longgar dan sementara pada tempat luka.
Trombosit akan mengikat kolagen pada tempat luka pembuluh darah dan
diaktifkan oleh thrombin yang terbentuk dalam kaskade pristiwa koagulasi
pada tempat yang sama, atau oleh ADP yang dilepaskan trombosit aktif
lainnya. Pada pengaktifan, trombosit akan berubah bentuk dan dengan adanya
fibrinogen, trombosit kemudian mengadakan agregasi terbentuk sumbat
hemostatik ataupun trombos.
2. Pembentukan jarring fibrin yang terikat dengan agregat trombosit sehingga
terbentuk sumbat hemostatik atau trombos yang lebih stabil.
3. Pelarutan parsial atau total agregat hemostatik atau trombos oleh plasmin.
(Smeltzer, 2002 : 45)

B. Mekanisme Homeostatis Dan Pembekuan Darah Melibatkan Suatu


Rangkaian Proses Yang Tepat.
1. Vasokontriksi. Jika pembuluh darah terpotong, trombosit pada sisi yang rusak
melepas serotonin dan tromboksan A2 (prostaglandin) yang menyebabkan otot
polos dinding pembuluh darah berkintriksi hal ini pada awalnya akan
mengurangi darah yang hilang.
2. Plug trombosit
a) Trombosit membengkak menjadi lengket, dan menempel pada serabut
kolagen dinding pembuluh darah yang rusak, membentuk plug trombosit.

16
b) Trombosit melepas ADP untuk mengaktivasi lain sehingga melibatkan
agregasi trombosit untuk memperkuat plug.
(1) Jika kerusakan pembuluh darah sedikit, maka plug trombosit mampu
menghentikan pendarahan.
(2) Jika kerusakannya besar, maka plug trombosit dapat mengurangi
pendarahan, sampai proses pembekuan terbentuk.
3. Pembentukkan pembekuan darah
a) Mekanisme ekstrinsik. Pembekuan darah dimulai dari factor eksternal
pembuluh darah itu sendiri.
(1) Tromboplastin (membrane lipopprotein) yang di lepas oleh sel-sel
jaringan yang rusak mengaktivasi protrombin dengan bantuan ion
kalsium untuk membentuk thrombin.
(2) Thrombin mengubah pribrinogen yang dapat larut, menjadi pibrin yang
tidak dapat larut. Benang-benang pibrin membentuk bekuan, atau
jarinagan-jaringan pibrin, yang menangkap sel darah yang memlalui
pembuluh yang rusak.
b) Mekanisme intrinsic untuk pembentukan darah berlangsung dalam cara
yang lebih sederhana daripada cara yang dijelaskan diatas. Mekanisme ini
melibatkan 13 faktor pembekuan yang hanya ditemukan dalam plasma
darah. Setiap factor protein berada dalam kondisi tidak aktif : jika salah
satunya di aktivasi, maka aktifitas enzimatiknya akan mengaktivasi factor
selanjutnya dalam rangkaian, dengan demikian akan terjadi suatu rangkaian
reaksi untuk membuntuk bekuan. (Smeltzer, 2002 : 53)

17
BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
Hematologi adalah cairan yang ada pada manusia sebagai alat transportasi
berfungsi untuk mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan
tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai
pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Sistem hematologi tersusun atas hematologi dan tempat hematologi di
produksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpa. Dalam keadaan fisiologis,
hematologi selalu berada dalam pembuluh hematologi, sehingga dapat
menjalankan fungsinya seperti alat pengangkut, pengatur suhu tubuh, hingga
penyembuhan luka.
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh
luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika
sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh
terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing
lain dalam tubuh. Dalam sistem kekebalan tubuh memiliki dua jenis pertahanan
yaitu pertahanan non-spesifik dan pertahanan spesifik.

3.2 SARAN

18
DAFTAR PUSTAKA

Handayani, Wiwik. Andi Sulistyo Haribowo. 2008. Buku ajar Asuhan


Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem hematologi. Jakarta :
Salemba Mendika

Pearce, Evelyn. 2011. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. PT Gramedia


Jakarta

Sloane, Ethel., 2004 Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula,Buku Kedokteran,


Jakarta

Smeltzer, Suzzane C. Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.


Jakarta : EGC

19