Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Gangguan jiwa atau penyakit jiwa merupakan penyakit dengan multi kausal,
suatu penyakit dengan berbagai penyebab yang sangat bervariasi. Kausa
gangguan jiwa selama ini dikenali meliputi kausa pada area organobiologis,
area psikoedukatif, dan area sosiokultural.
Dalam konsep stress-adaptasi penyebab perilaku maladaptive dikonstruksikan
sebagai tahapan mulai adanya factor predisposisi, factor presipitasi dalam
bentuk stressor pencetus, kemampuan penilaian terhadap stressor, sumber
koping yang dimiliki, dan bagaimana mekanisme koping yang dipilih oleh
seorang individu. Dari sini kemudian baru menentukan apakah perilaku
individu tersebut adaptif atau maladaptive.
Banyak ahli dalam kesehatan jiwa memiliki persepsi yang berbeda-beda
terhadap apa yang dimaksud gangguan jiwa dan bagaimana gangguan perilaku
terjadi. Perbedaan pandangan tersebut tertuang dalam bentuk model
konseptual kesehatan jiwa. Pandangan model psikoanalisa berbeda dengan
pandangan model social, model perilaku, model eksistensial, model medical,
berbeda pula dengan model stress – adaptasi. Masing-masing model memiliki
pendekatan unik dalam terapi gangguan jiwa.
Berbagai pendekatan penanganan klien gangguan jiwa inilah yang dimaksud
dengan terapi modalitas. Suatu pendekatan penanganan klien gangguan yang
bervariasi yang bertujuan mengubah perilaku klien gangguan jiwa dengan
perilaku maladaptifnya menjadi perilaku yang adaptif.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah definisi dari terapi Modalitas?
1.2.2 Bagaimanakah Terapi Somatic dan psikofarma?
1.2.3 Bagaimanakah Terapi Aktivitas kelompok?
1.2.4 Bagaimanakah Terapi Keluarga?
1.2.5 Bagaimanakah Terapi Ocupasi dan Rehabilitasi?
1.2.6 Bagaimanakah Terapi Lingkungan?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui definisi dari terapi Modalitas.
1.3.2 Mendeskripsikan tentang Terapi Somatic dan psikofarma.
1.3.3 Mendeskripsikan Terapi Aktivitas kelompok.
1.3.4 Mendeskripsikan Terapi Keluarga.
1.3.5 Mendeskripsikan Terapi Ocupasi dan Rehabilitasi.
1.3.6 Mendeskripsikan Terapi Lingkungan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Terapi Modalitas


Terapi modalitas merupakan terapi utama dalam keperawatan jiwa. Sebagai
seorang terapis, perawat harus mampu mengubah perilaku maladaptif pasien
menjadi perilaku yang adaptif serta meningkatkan potensi yang dimiliki
pasien. Ada bermacam-macam terapi modalitas dalam keperawatan jiwa
seperti terapi individu, terapi keluarga, terapi bermain, terapi lingkungan dan
terapi aktifitas kelompok. Terapi modalitas dapat dilakukan secara individu
maupun kelompok atau dengan memodifikasi lingkungan dengan cara
mengubah seluruh lingkungan menjadi lingkungan yang terapeutik untuk
klien, sehingga memberikan kesempatan klien untuk belajar dan mengubah
perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan
interaksi
2.2 Terapi Somatic dan Psikofarmaka
Terapi somatik adalah terapi yang diberikan untuk mengubah perilaku
maladaptif menjadi perilaku yang adaptif dengan tindakan yang ditujukan
pada fisik klien walaupun yang diberikan perlakuan fisik tetapi target terapi
adalah perilaku klien.
1) Pengikatan
Terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau manual untuk
membatasi mobilitas fisik klien. Tujuannya melindungi klien dan orang
lain dari cidera fisik, khususnya bila terapi lain seperti perubahan
lingkungan. dan strategi perilaku sudah tidak mempan.
Indikasi :
Klien yang tidak mampu mengendalikan perilakunya dan :
a. Beresiko mencederai diri dan orang lain
b. Mengalami toleransi dan tidak responsif lagi
c. Klien bingung yang beresiko cidera atau jatuh
d. Klien membutuhkan penurunan stimulus dan istirahat
e. Klien membutuhkan bantuan mendapat rasa aman & pengendalian
dirinya

Pengikatan membatasi mobilitas fisik tetapi bukan untuk menghukum


klien. Harus disadari klien pengikatan membantu klien mengendalikan
perilaku yang tidak dapat dikendalikan sendiri.
Tindakan keperawatan :
1. Hargai hak azasi klien, lakukan :
a. Identifikasi kejadian pencetus
b. Observasi
c. Buat rencana tindakan sesuai standar dan document
2. Lindungi klien dari cidera fisik akibat pengikatan
3. Sediakan lingkungan yang aman
4. Jaga integritas biologis klien, dengan :
a. Cek tanda vital secara rutin
b. Mandikan & jaga kulit ttp bersih & kering
c. Penuhi kebutuhan toileting
d. Atur suhu ruangan tetap nyaman
e. Beri posisi anatomis
f. Periksa daerah ikatan
g. Ganti posisi klien minimal tiap 2 jam
5. Jaga harga diri klien, dengan :
a. Pertahankan privacy klien
b. Jangan memberi penjelasan yang bersifat merendahkan
c. Tetap mempertahankan komunikasi verbal
d. Staf yang merawat harus konsisten
e. Staf yang menangani berjenis kelamin sama
f. Lepaskan ikatan sesuai indikasi.
Protokol pelapasan ikatan :
1. Saat masih berbaring monitor tanda-tanda vital. Pastikan klien
sudah dapat mengendalikan perilakunya
2. Pastikan jumlah perawat cukup
3. Lepaskan ikatan mulai dari ekstremitas yang tdk dominan
4. Anjurkan klien untuk mobilisasi aktif
5. Anjurkan klien bergerak secara bertahap
6. Observasi perilaku klien
7. Dokumentasikan kondisi klien
1. Isolasi
 Bentuk terapi dgn menempatkan klien sendiri di ruang tersendiri
 Di indikasikan pada klien yang tidak mampu mengendalikan
perilakunya dan tidak bisa dikendalikan dengan cara lain
 Tidak dianjurkan klien yang beresiko bunuh diri, klien yang agitasi
disertai gangguan pengaturan suhu tubuh akibat obat serta klien
dengan perilaku sosial menyimpang.
a. Prosedur Isolasi :
1. Tunjuk seorang pemimpin
2. Perlihatkan kepada klien kekuatan yang ada
3. Buat rancangan yang tepat, siapkan lingkungan ruangan
4. Komunikasikan antar perawat
5. Tangkap klien tanpa menyakiti
6. Kendalikan perilaku agresif klien
7. Pindahkan klien ke ruang isolasi
8. Ganti pakaian dengan yang aman dan nyaman
9. Pindahkan benda-benda yang membahayakan klien
10. Buat rencana askep lanjutan
11. Tetap pertahankan kontak dgn klien
b. Setelah di ruang isolasi :
1. Bantu pemenuhan KDM klien
2. Observasi sesering mungkin
3. Pertahankan komunikasi verbal
4. Catat dan dokumentasikan hasil observasi
5. Berikan umpan balik tentang perilaku klien
6. Tetap berikan terapi yang lain
7. Segera melepaskan klien dr ruang isolasi jika perilakunya mulai
terkendali
2. ECT ( Elektro Confulsive Therapy )
Bentuk terapi dengan menimbulkan kejang grand mall, dimana
mengalirkan arus listrik mll elektroda yg ditempelkan pd pelipis klien.
Awalnya ditujkan untuk klien skizopreni, tetapi lebih cocok untuk
gangguan afektif. Kontra indikasi :
1. Tumor intra cranial
2. Kehamilan
3. Osteoporosis
4. Infarc miokard
5. Asthma bronchiale
Peran perawat
1. Persiapan :
a. Tangani kecemasan klien
b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium
c. Mempersiapkan inform concent
d. Puasakan klien minima 6 jam
e. Hentikan pemberian obat sblm ECT
f. Lepaskan gigi palsu, kontak lens, dll
g. Memakaikan pakaian yg longgar
h. Membantu mengosongkan blass
2. Pelaksanaan :
a. Baringkan klien
b. Siapkan alat
c. Pasang bantalan gigi
d. Sementara ECT dilakukan, tahan persendian dgn supel
e. Setelah selesai, berikan bantuan nafas

3. Setelah ECT :
a. Observasi TTV sampai stabil
b. Jaga keamanan klien
c. Bila sudah sadar, orientasikan klien
4. Fototerapi
Foto terapi atau terapi cahaya merupak terapi pemaparan cahaya
terapeutik buatan kepada pasien yang kekuatannya 5-20 kali lebih
terang dari pencahayaan dalam ruangan.
Terapi ini berlangsung cepat dan dapat efektif. Pasien merasakan
sembuh setelah 3-5 hari terapi dan kambuh bila terapi dihentikan.
5. Terapi deprivasi tidur
Sebanyak 60% pasien depresi membaik segera setelah dilakukan satu
malam deprivasi tidur total namun pasien dapat depresi kembali ketika
mereka hanya tidur selama kurang dari 2 jam pada malam hari.
6. Stimulasi magnetik transkranial
Stimulasi magnetik transkranial (SMT) adalah prosedur noninvasif
memasukkan bidang magnetik yang berubah ke dalam otak untuk
mempengaruhi aktifitas otak.
7. Stimulasi saraf vagus
Stimulasi saraf vagus (SSV) mencakup penanaman suatu generator
kecil (seukuran jarum jam) ke dada pasien melalui pembedahan. SSV
hanya boleh digunakan secara klinis pada terapi epilepsi. Penggunaan
SSV yang paling meyakinkan dalam psikiatri adalah pada terapi
gangguan afektif terutama depresi.

TERAPI PSIKOFARMAKA

Psikofarmaka adalah obat- obatan yang digunakan untuk klien dengan gangguan
mental. Psikofarmaka termasuk obat-obatan psikotropik yang bersifat Neuroleptik
(bekerja pada sistim saraf ). Pengobatan pada gangguan mental bersifat
komprehensif, yang meliputi :

1. Teori biologis (somatik), mencakup pemberian obat psikotik dan Elektro


Convulsi Therapi (ECT).
2. Psikoterapeutik.
3. Terapi Modalitas.
Psikofarmakologi adalah komponen kedua dari management psikoterapi.
Perawat perlu mamahami konsep umum psikofarmaka. Beberapa hal yang
termasuk Neurotransmiter adalah Dopamin,Neuroeprineprin, Serotonin dan
GABA (Gama Amino Buteric Acid),dll. Meningkatnya dan menurunnya kadar
/ konsentrasi neurotransmiter akan menimbulkan kekacauan atau gangguan
mental. Obat – obatan psikofarmaka efektif untuk mengatur keseimbangan
Neurotransmiter.

Perawat harus mempunyai cukup pengetahuan tentang strategi


psikofarmakologis yang tersedia, tetapi informasi ini harus digunakan sebagai
satu bagian dari pendekatan holistik pada asuhan pasien. Peran perawat
meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Pengkajian Pasien
Pengkajian pasien memberikan landasan pandangan tentang maing-
masing pasien.
2. Koordinasi Modalitas Terapi
Koordinasi ini mengintegrasikan berbagai terapi pengobatan dan sering kali
membingungkan bagi klien.
3. Pemberian Agens Psikofarmakologis
Program pemberian obat dirancang secara profesional dan bersifat
individual.
4. Pemantauan Efek Obat
Termasuk efek yang diinginkan maupun efek samping yang dapat dialami
pasie.
5. Penyuluhan Pasien
Memungkinkan pasien untuk meminum obat dengan aman dan efektif.
6. Program Rumatan Obat
Dirancang untuk mendukung pasien suatu tatanan perawatan tindak lanjut
dalam jangka panjang.
7. Partisipasi Dalam Penelitian Klinis Antardisiplin Tentang Uji Coba Obat
Perawat merupakan anggota tim yang penting dalam penelitian obat yang
digunakan untuk mengobati pasien gangguan jiwa.
8. Kewenangan Untuk Memberikan Resep
Beberapa perawat jiwa yang memenuhi persyaratan pendidikan dan
pengalaman sesuai dengan undang-undang praktik negaranya boleh
meresepkan agens farmakologis untuk mengobati gejala dan memperbaiki
status fungsional pasien yang mengalami gangguan jiwa.
PENGKAJIAN
Sebelum melakukan pengobatan psikofarmakologi, evaluasi psikiatri yang
lengkap harus dilakukan, mencakup hal-hal berikut:
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan laboratorium
 Evaluasi status mental
 Riwayat medis dan psikiatri
 Riwayat medikasi
 Riwayat keluarga

Kewaspadaan Perawat:
Pengguanan obat secara bersamaan atau polifarmasi dapat meningkatkan
aksi terapeutik spesifik, dapat diperlukan untuk mengobati penyakit yang
bersamaan dan dapat melawan efek obat pertama yang tidak diinginkan. Beberapa
masalah berkaitan dengan penggunaan obat bersamaan termasuk kebingungan
saat tercapai keefektifan terapeutik dan efek samping serta perkembangan
interaksi obat.
 Antiansietas dan Hipnotik-Sedatif
 Benzodiazepin
Memberikan efek antiansietasnya melalui potensiasi yang kuat pada
neurotransmiter inhibisi asam ɣ-aminobutirat (GABA)
Benzodiazepin merupakan obat pilihan yang sering digunakan dalam
penatalaksaan ansietas, insomnia dan kondisi yang berhubungan dengan
stres. Indikasi utama dalam penggunaan benzodiazepin :
- Gangguan ansietas umum
- Ansietas yang berhubungan dengan depresi
- Gangguan tidur
- Ansietas yang berhubungan dengan gangguan fobia
- Ganggaun stres pascatrauma
- Putus obat dan alkohol
- Ansietas yang berhubungan dengan penyakit medis
- Relaksasi muskuloskeletal
- Gangguan kejang
- Ansietas praoperasi
Reaksi yang merugikan dan pertimbangan keperawatan
Benzodiazepin mempunyai indeks terapeutik yang sangat tinggi,
sehingga overdosis obatini saj hampir tidak pernah menyebabkan fatalitas.
Efek samping merupakan hal yang umum, berhubungan dengan dosis dan
hampir selalu tidak membahayakan.
Kewaspadaan Perawat
Benzodiazepin pada umumnya tidak terjadi adiktif kuat jika
penghentian pemberiannya dilakukan secara bertahap, jika obat ini
digunakan untuk tuuan tepat dan jika penggunaanya tidak disertai dengan
penggunaan zat lain, seperti penggunan kronis barbiturat atau alkohol.
Awasi terutama terhadap: seasi, ataksia, iritabilitas dan masalah memori.
 Nonbenzodiazepin
Kewaspadaan Perawat:
Penggunaan barbiturat dapat menyebabkan banyak kerugian seperti
berikut:
 Terjadi toleransi tehadap efek antiansietas dari barbiturate
 Obat ini lebih adiktif
 Obat ini menyebabkan reaksi serius dan bahkan reaksi putus obat yang
letal
 Obat ini berbahaya jika terjadi overdosis dan menyebabkan depresi SSP
 Obat ini mempunyai berbagai interaksi obat yang berbahaya
 Antidepresan
Indikasi klinis utama untuk penggunaan antidepresan adalah penyakit depresif
mayor. Obat ini juga berguna dalam pengobatan gangguan panik, gangguan
ansietas lain dan enuresis pada anak-anak, untuk megatasi gangguan defisit
erhatian pada anak-anak dan bulimia serta narkolepsi.
Antidepresan trisiklik (ATS)
Untuk mengatur penggunaan neurotransmiter norepinefrin dan serotonin pada
otak. ATS aman dan efektif dalam pengobatan penyakit depresif akut dan
jangka panjang.
 Reaksi yang Merugikan dan Pertimbangan Keperawatan
Perawat harus mengetahui efek samping umm dari antidepresan dan
mewaspadai efak toksik serta pengobatannya. Obat ini menyebabkan sedasi
dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering, pandangan kabur,
konstipasi, retensi urine, hipotensi ortostatik, kebingungan sementara,
takikardi dan fototsensifitas. Kebanyak kondisi ini adalah efek samping
jangka endek dan biasa terjadi serta dapat diminimalkan dengan
menurunkan dosis obat. Efak samping toksik termasuk kebingungan
konsentrasi buruk halusinasi, delirium, kejang, depresi pernapasan,
takikardi, bradikardi dan koma.
 Kewaspadaan Perawat
 Antidepresan trisiklik dapat menjadi letal dalam dosis yang berlebihan
 Obat ini mempunyai kelambatan waktu 3 sampi 4 minggu sebelum
terjadi respon terpeutik
 Tidak diketahui adanya efek yang merugikan jangka panjang
 Tidak terjadi toleransi terhadap efek terapeutik
 Efek samping menetap sering kali dapat diminimalkan dengan sedikit
menurunkan dosis
 ATS tidak dapat menyebabkan adiksi fisik atau ketergantungan
psikologi
 Obat ini tidak menyebabkan euforia, sehingga tidak memiliki
potensial penyalahgunaan
 Obat ini dapat diberikan satu kali dalam sehari.
 Inhibitor monoamin oksidase (MAOI)
MAOI menghambat monoamin oksidase didalam otak dan di seluruh tubuh.
Dengan menghambat MAO didalam otak, makin sedikit norepenefrin yang
dimetabolisme sehingga meningkatkan ketersediaannya di sinaps.
MAOI adalah antidepresan yang sangat efektif dan obat antipanik yang
digunakan serta sangat ditakuti penggunaannya. Karena dapat menyebabkan
krisis hipertensi jika mengkonsumsi makanan yang mengandung tiramin
dan obat-obatan tertentu bersamaan obat ini, penyuluhan kesehatan sangat
penting dilakukan.
Reaksi yang Merugikan dan Pertimnagan Keperawatan
Efeksamping MAOI mencakup pusing , konstipasi, disfungsi
seksual, kekuatan otot, mengantuk, mulut kering, retensi cairan, insomnia,
kesulitan memulai berkemih dan peningkatan berat badan.
Kewaspadaan Perawat
 MAOI dapat menjadi letal dalam dosis yang berlebihan
 Pembatasan diet harus dimulai beberapa hari sebelumpemberian obat,
dipertahankan selama minum obat dan dilanjutkan selama 2 minggu
setelah penghentian terapi
 Obat ini tidak menyebabkan adiksi
 Tidak terjadi toleransi terhadap efek terapeutik
 MAOI menurunkan kemampuan tubuh untuk menggukan Vit B6
sehingga mungkin diperlukan pemberian suplemen
 Inhibitor reutake serotonin selektif
Mekanisme SSRI menghambat reuptake serotonin pada membran
prasinaptik, dapat meningkatkan neurotransmisi serotonin dalam otak.
Antidepresan terbaru yaitu venlafaksin meningkatkan kadar serotonin dan
norepinefrin, venlafaksin mempunyai spektrum aktifitas yang luas. SSRI
memiliki profil efek samping yang lebih aman daripada ATS dan MAOI.
Reaksi yang merugikan dan pertimbangan keperawatan
SSRI mempunyai efek antidepresan yang sebanding dengan kelas
antidepresan lainnya tetapi tanpa efek samping antikolinergi,
kardiovaskular, mual, diare, insomnia, mulut kering, gelisah, sakit kepala,
disfungsi seksual, mengantuk, pusing dan berkeringat. Kondisi ini
merupakan efek samping jangka pendek dan dapat diminimalkan dengan
tindakan suportif, mentitrasi dosis atau mengubah jadwal pengobatan.
 Obat Penstabil Mood
 Litinum
Reaksi yang merugikan dan pertimbangan keperawatan
Efek samping litinum mencakup tremor halus pada tangan,
keletihan, sakit kepala, ketumpulan mental, letargi, poliuria, polidipsi, iritasi
lambung, mual ringan, muntah, diare, akne perubahn EKG dan peningkatan
berat badan.
 Antikonvulsan
Beberapa anti konvulsan digunakan untuk penyakit bipolar.
Karbamazepin efeknya pada otak membantu menstabilkan mood. Efek
samping meliputi mengantuk, pusing, ataksia, pandangan kabur, mual,
muntah dan ruam kulit. Valproat (depakote) ditoleransi dengan baik dan
efek sampingnya meliputi anoreksia, mual, muntah, diare, tremor, sedasi,
ataksia, peningkatan berat badan, pankreatitis dan disfungsi hati.
Kewaspadaan Keperawatan
 Toksisitas litium adalah kedaruratan yang mengancam jiwa
 Kadar darah harus sering dipantau
 Pengobatan mungkin saja gagal
 Litium juga dapat dikombinasikan dengan anti depresan lain
 Pasien membutuhkan penyuluhan yang cermat tentang rumatan kadar
litium
 Litium digunakan untuk meningkatkan keefektifan antidepresan lain.
 Antipsikotik
Reaksi yang merugikan dan pertimbangan keperawatan
Efek samping menyebabkan rasa tidak nyaman bagi pasien dan kebanyakkan
mudah ditangani namun ada yang mengancam jiwa. Perawat harus memberi
perhatian khusus pada gejala atau sindrom ekstrapiramidal baik jangka pendek
maupun jangka panjang.
Kewaspadaan Keperawatan, pedoman perawat untuk pemberian antipsikotik:
 Kebutuhan dosis antipsikotik individu sangat bervariasi
 Setelah pembagian dosis pertama pasien dapat menerima dosis sekali
setiap hari
 Perbaika gejala biasanya terjadi dalam 3 sampai 2 minggu. Effek
optimal dapat berlangsung beberapa bulan
 Beberapa pasien membutuhkan terapi medikasi antipsikotik sepanjang
hidupnya
 Pengawasan terhadap diskinesia tardif (EPS jangka panjang) harus
dilakukan sedikitnya setiap bulan dalam terapi jangka panjang dengan
antipsikotik kovensional
 Perawatan klinis yang baik untuk pasien yang mendapatkan klozapin
termasuk hitung darah lengkap setiap minggu untk memantau
penurunan jumlah sel darah putih dan peresepan klozapin yang
diberikan untuk 1 minggu sekali.
2.3 TAK (Terapi Aktifitas Kelompok)
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang diberikan kepada
sekelompok pasien dilakukan dengan cara berdiskusi antar sesama pasien dan
dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa
yang telah terlatih.
a. Manfaat TAK
Secara umum terapi aktivitas kelompok mempunyai manfaat:
1) Meningkatkan kemampuan menilai dan menguji kenyataan (reality
testing) melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang
lain.
2) Meningkatkan kemampuan sosialisasi pasien
3) Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya hubungan antara reaksi
emosional diri sendiri dengan perilaku defensive (bertahan terhadap
stress) dan adaptasi.
4) Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis
seperti kognitif dan afektif.
Secara khusus tujuan terapi aktifitas kelompok adalah
1) Meningkatkan identitas diri pasien .
2) Menyalurkan emosipasien secara konstruktif.
3) Meningkatkan keterampilan hubungan sosial yang akan membantu
pasien didalam kehidupan sehari-hari.
4) Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri,
keterampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan
meningkatkan kemampuan tentang masalah-masalah kehidupan dan
pemecahannya.
b. Jenis Terapi Aktifitas Kelompok
1) TAK: Stimulasi Persepsi
a. Definisi:
Terapi aktivitas kelompok (TAK): Stimulasi persepsi adalah terapi
yang menggunakan akivitas sebagai stimulus yang terkait dengan
pengalaman dan atau kehidupan untuk didiskusikan dalam
kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan
persepsi atau alternatif penyelesaian masalah. Fokus terapi
aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah membantu pasien
yang mengalami kemunduran orientasi. Terapi ini sangat efektif
untuk pasein yang mengalami gangguan persepsi; halusinasi,
menarik diri , gangguan orientasi realitas, kurang inisiatif atau
ide. Pasien yang mengikuti kegiatan terapi ini merupakan pasien
yang kooperatif, sehat fisik, dan dapat berkomunikasi verbal.
b. Tujuan TAK stimulasi persepsi
Tujuan umum : pasien memiliki kemampuan dalam
menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus
yang diterimanya
Tujuan khususnya:
(1) Pasien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan
kepadanya dengan tepat.
(2) Klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus
yang dialami.
c. Aktivitas dalam TAK terbagi dalam empat bagian
(1) Mempersepsikan stimulus nyata sehari-hari yaitu:
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi yang
dilakukan adalah: menonton televisi. membaca
majalah/koran/artikel dan melihat gambar.
(2) Stimulus nyata dan respons yang dialami dalam kehidupan
Untuk TAK ini pasien yang mengikuti adalah pasien dengan
halusinasi, dan pasien menarik diri yang telah mengikuti
TAKS, dan pasien dengan perilaku kekerasan. Aktivitas ini
dibagi dalam beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu :
 Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi :
mengenal kekerasan yang bisa dilakukan materi terapi
ini meliputi penyebab, tanda dan gejala, perilaku
kekerasan; akibat perilaku kekerasan.
 Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi :
mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik
 Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi :
mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi sosial
asertif;
 Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi :
mencegah perilaku kekerasan melalui kepatuhan minum
obat;
 Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi :
mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan ibadah.
(3) Stimulus yang tidak nyata dan respons yang dialami dalam
kehidupan
Aktivitas dibagi dalam beberapa sesi yang tidak dapat
dipisahkan, yaitu: Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi
Persepsi : mengenal halusinasi
2) Terapi Aktifitas Kelompok Sosialisasi
Tujuan umum dari terapi aktifitas kelompok sosialisasi adalah
meningkatkan kemampuan sosialisasi pada pasien dengan isolasi
sosial. Sedangkan tujuan khususnya adalah:
a) Meningkatkan kemampuan komunikasi verbal pasien
b) Pasien dapat meningkatkan kemampuan komunikasi non verbal
c) Pasien dapat berlatih mematuhi peraturan
d) Pasien dapat meningkatkan interaksi dengan klien lain
e) Pasien dapat meningkatkan partisipasi dalam kelompok
f) Pasien dapat mengungkapkan pengalamannya yang menyenangkan
g) Pasien dapat menyatakan perasaan tentang terapi aktifitas
kelompok sosialisasi

Kriteria pasien yang dapat mengikuti terapi aktifitas kelompok


sosialisasi adalah a) Pasien menarik diri yang cukup kooperatif b)
Klien yang sulit mengungkapkan perasaannya melalui komunikasi
verbal c) Klien dengan gangguan menarik diri yang telah dapat
berinteraksi dengan orang lain d) Klien dengan kondisi fisik yang
dalam keadaan sehat (tidak sedang mengidap penyakit fisik tertentu
seperti diare, thypoid dan lain-lain) e) Klien halusinasi yang sudah
dapat mengontrol halusinasinya f) Klien dengan riwayat marah/amuk
yang sudah tenang
c. Tahapan terapi aktifitas kelompok (TAK)
Terapi aktifitas kelompok terdiri dari 4 fase yaitu:
1) Fase Prakelompok: Fase ini dimulai dengan membuat tujuan terapi,
menentukan leader, jumlah anggota, kriteria anggota, tempat dan
waktu kegiatan serta media yang digunakan. Jumlah anggota pada
terapi kelompok biasanya 7-8 orang. Sedangkan jumlah minimum 4
dan maksimum 10. Kriteria anggota yang da mengikuti terapi aktifitas
kelompok adalah: sudah terdiagnosa baik medis maupun keperawatan,
tidak terlalu gelisah, tidak agresif, serta tidak terdiagnosa dengan
waham.
2) Fase Awal Kelompok Fase ini ditAndai dengan timbulnya ansietas
karena masuknya anggota kelompok, dan peran baru. fase ini terbagi
atas tiga fase, yaitu orientasi, konflik, dan kohesif.
a. Tahap orientasi
Pada fase ini anggota mulai mencoba mengembangkan sistem sosial
masingmasing, leader menunjukkan rencana terapi dan menyepakati
kontrak dengan anggota.
b. Tahap konflik
Merupakan masa sulit dalam proses kelompok. Pemimpin perlu
memfasilitasi ungkapan perasaan, baik positif maupun negatif dan
membantu kelompok mengenali penyebab konflik. Serta mencegah
perilaku perilaku yang tidak produktif
c. Tahap kohesif
Anggota kelompok merasa bebas membuka diri tentang informasi dan
lebih intim satu sama lain
3) Fase Kerja Kelompok
Pada fase ini, kelompok sudah menjadi tim. Kelompok menjadi stabil
dan realistis. Pada akhir fase ini, anggota kelompok menyadari
produktivitas dan kemampuan yang bertambah disertai percaya diri
dan kemandirian.
4) Fase Terminasi Fase ini ditAndai oleh perasaan puas dan pengalaman
kelompok akan digunakan secara individual pada kehidupan sehari-
hari. Terminasi dapat bersifat sementara (temporal) atau akhir.

Sesi 1A

TAK SP : KEBERSIHAN DIRI : MANDI

Tujuan
1. Klien memahami pentinya mandi
2. Klien memahami cara mandi yang baik
3. Klien mampu mandi dengan baik

Setting

1. Diskusi: Klien duduk melingkar


2. Praktik : Dikamar mandi
(catatan : sebaikanya terapis berjenis kelamin sama dengan klien sehingga
saat praktik tidak sungkan

Alat

1. ember
2. gayung mandi
3. handuk bersih
4. sabun mandi
5. air besih

Metode

1. diskusi
2. demonstrasi

Langkah kegiatan

1. Persiapan tempat : pastikan ruang diskusi tenang dan nyaman. Tempat


praktik mandi bersih dan aman
2. Persiapan alat : siapkan alat selengkap mungkin
3. Persiapan klien :
a. Pilih klien sesuai dengan indikasi terapi
b. Buat kontrak kegiatan,waktu,dan tempat.
c. Jelaskan mamnaaf TAK
d. Jelaskan peraturan yang harus dipatuhi oleh klien :
 Ikut kegiatan sampai tuntas
 Bila ingin keluar dari ruangan angkat tangan
 Bekerja sama dengan kelompok
4. Pelaksanaan
a. Orientasi :
 Ucapkan salam
 Tanyakan perasan klien hari ini
 Jelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, waktu yang di butuhkan
untuk melaksanakan kegiatan, dan tempat kegiatan.
b. Kerja :
 Tanyakan pentingnya mandi pada klien.
 Beri kesempatan semua peserta menjawab. Jika ada klien yang
pasif, tanya langsung kepada klien tersebut.
 Buat rangkuman pendapat klien yang benar tentang manfaat mandi
yang benar. Tambahkan informasi jika rangkuman pendapat klien
masih ada yang kurang.

Manfaat mandi :

1. Membersihkan kotoran untuk mencegah infeksi kulit dan


gatal-gatal.
2. Menghilangkan bau badan
3. Meningkatkan penampilan diri

 Diskusikan alat-alat untuk mandi.beri kesempatan kepada setiap


klien untuk menjelaskan alat-alat yang sering digunakan untuk
mandi.
 Buat rangkuman alat-alat mandi, tunjukkan alat-alat tersebut.

Alat/bahan mandi

1. Sabun
2. Handuk
3. Air bersih
4. Gayung mandi
5. Ember

 Diskusikan tahapan mandi yang benar. Beri kesempatan klien


menjelaskan cara mandi. Beri pujian pendapat klien yang benar.
Bila ada pendapat klien yang salah, lakukan koreksi dengan
meminta pendapat klien yang lain.
 Buat rangkuman cara mandi yang benar dari pendapat klien dan
tambahkan informasi jika kurang.
 Lakukan demonstrasi mandi yang benar. Bila tidak memungkinkan
lakukan simulasi saja denagn menggunakan alat dan bahanyang
sudah di sediakan.

Cara Mandi :

1. Basahi seluruh permukan tubuh dengan air yang tersedia


2. Ambil sabun gosokan kepermukan tubuh mulai dari
permukaaan yang di anggap paling bersih kepermukaan
paling kotor; badan dan anggota badan,wajah,baru
kemudian daerah perineal dan area seputar kelamin
3. Bilas dengan air hingga sisa sabun hilang diseluruh
permukaan tubuh dan permukaan kulit terasa kesat.
4. Keringkaan dengan mneggunakan handuk yang bersih.

 Berikan pujian untuk peragaan yang telah dilakukan, koreksi jika


ada tahan yang kurang tepat
c. Terminasi :
 Evaluuasi subjektif: tanyakan perasaan klien setelah peragaan atau
praktik mandi
 Evaluaji objektif : minta klien bergantian menyebutkan kembali
tentang : manfaat mandi, alat dan bahan mandi, dan cara mandi.
 Tindak lanjut : anjurkan klien mandi dengan cara yang telah di latih
sebanyak 2 X/hari (pagi dan sore hari)
 Buat kontrak berikut : belajar keramas. Waktu pelaksanaan dan
tempat pelaksanaan kegiatan.

SESI IB:

TAK SP: KEBERSIHAN DIRI: KERAMAS

Tujuan
1. Klien memahami manfaat keramas
2. Klien memahami alat dan bahan untuk keramas
3. Klien mampu melakukan keramas

Setting

1. Diskusi: Perawat dan klien duduk melingkar (boleh dengan kursi atau
tikar, bergantung fasilitas yang ada)
2. Demonstrasi/simulasi: di kamar mandi

Alat

1. Shampo
2. Ember
3. Gayung mandi
4. Air bersih
5. Handuk bersih

Metode

1. Diskusi
2. Peragaan: demonstrasi

Langkah kegiatan

1. Persiapan alat dan bahan: siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Persiapan klien:
a. Pilih klien sesuai dengan indikasi
b. Buat kontrak kegiatan, manfaat kegiatan, tempat, dan waktu
c. Persiapan tempat dan setting tempat:
 Tempat diskusi: siapkan kursi melingkar
 Tempat peragaan: kamar mandi yang bersih dan alat yang
digunakan tersedia
3. Pelaksanaan:
a. Orientasi:
 Ucapkan salam, perkenalan jika perlu
 Evaluasi/validasi: tanyakan perasaan klien hari ini
 Kontrak: jelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan adalah
latihan keramas yang benar, waktunya 1 jam, bertempat di
ruang diskusi dan kamar mandi untuk praktik.
b. Kerja:
 Diskusikan manfaat keramas, Tanya ke masing – masing
klien. Bila ada klien yang tidak bisa menjawab, beri
stimulasi hingga pasien bisa menjawab.
 Buat rangkuman jawaban klien tentang manfaat keramas,
tambahan informasi jika jawaban klien belum lengkap.

Manfaat keramas:

1. Mencegah gatal
2. Mencegah infeksi/kutu kulit kepala
3. Menghilangkan bau rambut
4. Meningkatkan penampilan diri

 Diskusikan tentang alat dan bahan yang di perlukan untuk


keramas. Upayakan semua klien menyampaikan
pendapatnya.
 Rangkum jawaban, bila ada yang kurang ditambahkan oleh
perawat.
 Diskusikan cara keramas, tahapan keramas.

Alat dan bahan untuk keramas:

1. Shampoo
2. Ember
3. Air bersih
4. Gayung mandi
5. Handuk bersih

Tanya tiap-tiap klien sesuai dengan pengalamannya

 Rangkum jawaban klien tentang cara keramas. Tambahkan


jawaban klien jika jawaban klien kurang.
Cara keramas:

1. Siapkan alat
2. Basahi rambut sampai merata
3. Ambil shampoo secukupnya, gosokkan secara
merata di seluruh permukaan kepala.
4. Bilas dengan air sampai tidak ada sisa shampoo
5. Keringkan rambut

 Ajak klien ke kamar mandi. Peragakan cara keramas tahap


demi tahap. Minta salah satu klien menjadi pemeraga.
Sementara klien lain mengamati.
 Minta semua klien lain melakukan keramas bersama-sama
 Beri pujian untuk kemajuan klien.
c. Terminasi :
 Evaluasi subjektif: tanyakan ke tiap – tiap klien
perasaannya setelah melakukan keramas.
 Evaluasi objektif: minta tiap – tiap klien menjelaskan
manfaat keramas, alat dan bahan keramas dan cara
keramas.
 Tindak lanjut: minta klien melakukan keramas 2x
seminggu.
 Kontrak yang akan datang: buat kesepakatan dengan klien
kegiatan berikutnya yaitu, TAKSP: DPD: makan dan
minum. Kapan akan dilaksanakan, dan bertempat dimana.
Evaluasi dan dokumentasi

Lakukan evaluasi kemampuan masing – masing klien dengan mengisi format


berikut ini. Klien dikategorikan mampu jika semua kemampuan dapat dilakukan
oleh klien. Jika ada satu atau lebih kemampuan tidak bisa dicapai harus di
stimulasi hingga mampu. Jika belum mampu juga pasien di rujuk ke perawat
penanggungjawabnya untuk dilatih secara individual.

No Kemampuan Nama pasien

1. Menjelaskan manfaat keramas

2. Menyebutkan alat dan bahan


keramas

3. Menjelaskan tahapan keramas

4. Memperagakan keramas secara


benar

5 Komitmen melakukan keramas


2x/minggu

Catatan:

1. Beri tanda check (v) untuk kemampuan yang dapat dilakukan.


2. Bila klien tidak mampu, stimulasi/latih sampai klien mampu.
3. Klien dianggap mampu jika semua unsure kemampuan tercapai.
Sesi 1 C

TAK SP: kebersihan diri: menyikat gigi

Tujuan:

1. Klien memahami manfaat menyikat gigi


2. Klien memahami alat dan bahan untu menyikat gigi
3. Klien mampu melakukan menyikat gigisecar benar
Setting:

1. Diskusi: hidup melingkar


2. Demonstrasi: berdiri di wastafel
Alat:

1. Sikat gigi
2. Pasta gigi
3. Gelas plastic besar/gayung
4. Air bersih satu gelas
5. Handuk kecil
Metode:

1. Diskusi
2. Demonstrasi
Langkah kegiatan:

1. Persiapan alat dan bahan: sesuai dengan kebutuhan


2. Persiapan klien: pilih klien dengan indikasi. Jumlah 5-10 klien
3. Persiapan tempat: siapkan tempat diskusi dan tempat peragaan
(diwastafel atau kamar mandi)
4. Pelaksanaan :
a. Orientasi

 Ucapkan salam, perkenalkan diri jika perlu


 Values/validasi: tanyakan perasaan klien pada hari ini
 Kontrak: jelaskan kegiatanyang akan dilaksanakan yaitu belajar
menyikat gigi, waktunya 1 jam tempatnya diruang diskusi, dan
dekat wastafel/kamar mandi

b. Kerja:

 Diskusikan manfaat menyikat gigi. Tanyakan kepada semua klien


secara bergantian tentang manfaat menyikat gigi. Jika ada klien
tidak mau atau tidak mampu menjawab, beri stimulasi hingga
mampu menjawab
 Rangkum jawaban klien tentang manfaat menyikat gigi. Bila ada
jawaban yang kurang, tambahkan informasi yang diperlukan

Manfaat menyikat gigi:

1. Mencegah kerusakan gigi dan infeksi gusi


2. Menghilangkan bau mulut
3. Meningkatkan penampilan diri

 Diskusikan alat dan bahan menyikat gigi. Tanyakan kepada klien


sesuai kebiasaan klien selama ini
 Rangkum jawaban klien. Lengkapi jawaban yang belum lengkap

Alat dan bahan menyikat gigi:

1. Sikat gigi yang kelembutannya medium


2. Pasta gigi
3. Gelas plastic/gayung
4. Air bersih
5. Handuk kecil/ tissue

 Diskusikan cara menyikat gigi yang benar



 Rangkum jawaban klien tentang cara menyikat gigi yang benar

Cara menyikat gigi:

1. Siapkan alat
2. Kumur-kumur
3. Ambil sikat gigi, oleskan pasta gigi sebesar biji jagung
4. Gosok gigi minimal 8 kali gosokkan dimasing-masing
sisi gigi
 Peragakan cara menyikat gigi yang benar. Minta salah Satu klien
mendemonstrasikan cara menyikat gigi
 Berikan pujian kepada klien
c. Terminasi:

 Evaluasi subjektif: tanyakan perasaan klien setelah belajar menyikat


gigi dan setelah mencoba menyikat gigi
 Evaluasi objektif: minta klien menjelaskan manfaat menyikat gigi,
alat dan bahan untuk menyikat gigi, dan cara menyikat gigi yang
benar
Tindak lanjut: anjurkan klien untuk menyikat gigi minimal 2 kali
sehari, setelah makan pagi dan sebelum tidur malam Evaluasi dan
dokumntasi

Nama Pasien
No. Kemampuan
1. Menjelaskan manfaat
gosok gigi

2. Menyebutkan alat dan


bahan gosok gigi
3. Menjelaskan tahapan
gosok gigi
4. Memperagakan gosok
gigi secara benar
5. Komitmen melakukan
gosok gigi 2 kali
sehari

Catatan:

1. Beri tanda check (v) untuk kemampuan yang dapat dilakukan


2. Bila klien tidak mampu, stimulasi/latih sampai kllien mampu
3. Klien dianggap mampu jika semua unsure kemampuan tercapai

Sesi ID
TAK SP: KEBERSIHAN DIRI : PERAWATAN KUKU

Tujuan

1. Klien memahami manfaat perawatan kuku


2. Klien memahami cara perawatan kuku
Setting
Diskusi praktik demonstrasi : ruang diskusi,duduk melingkar

Alat

1. Gunting kuku
2. Tisu
3. Piala ginjal/bengkok (boleh diganti bekas wadah sabun colek)
4. Air bersih,lebih bagus apabila ada air hangat
5. Sabun cuci tangan (sabun mandi)
Metode

1. Disukusi
2. Demonstrasi

Langkah kegiatan

1. Persiapan alat dan bahan : sesuai dengan kebutuhan


2. Persiapan klien : pilih klien sesuai dengan indikasi. Jumlah 5-10 klien
3. Persiapan tempat : siapkan tempat diskusi dan tempat peragaan
4. Pelaksanaan :
a) Orientasi :
 Ucapkan salam,perkenalkan diri jika perlu
 Evaluasi / validasi : tanyakan perasaan klien hari ini
 Kontrak : jelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu
perawatan kuku,waktunya 1 jam,dan tempatnya diruang
diskusi
b) Kerja :
 Diskusikan manfaat perawatan kuku,tanyakan kepada
semua klien secara bergantian tentang manfaan perawatan
kuku.jika ada klien yang tidak mau atau tidak mampu
menjawab beri stimulasi hingga mampu menjawab
 Rangkum jawaban klien tentang manfaat perawatan kuku
bila ada jawaban yang kurang,tambahkan informasi yang
diperlukan.
Manfaat perawatan kuku :
1. Mencegah infeksi
2. Menjaga penampilan diri
 Diskusikan alat dan bahan perawatan kuku,tanyakan
kepada klien kebiasaan klien selama ini
 Rangkum jawaban klien lengkapi yang belum lengkap
Alat dan bahan perawatan kuku :
1. Gunting kuku yang tajam
2. Tisu
3. Piala ginjal /bengkok atau wadah sabun colek
bekas
4. Air bersih hangat
5. Sabun mandi
 Diskusikan cara perawatan kuku yang benar
 Rangkum jawaban klien tentang cara perawatan kuku
yang benar
Cara perawatan kuku yang benar :
1. Rendam kuku di air hangat kurang lebih 10
menit,keringkan menggunakan tisu
2. Potong kuku sampai bersih.
3. Cuci tangan menggunakan sabun di wastapel atau
di air mengalir
4. Keringkan tangan menggunakan tisu
 Peragakan cara perawatan kuku yang benar, minta salah
satu klien mendemonstrasikan cara perawatan kuku
 Berikan pujian pada klien
c) Terminasi
 Evaluasi subjektif : tanyakan perasaan klien setelah belajar
perawatan kuku dan setelah mencoba perawatan kuku
 Evaluasi objektif : minta klien menjelaskan manfaat
perawatan kuku, alat dan bahan untuk perawatan kuku, dan
cara perawatan kuku yang benar.
 Tindak lanjut : anjurkan klien untuk perawatan kuku
minimal 1x seminggu.
Evaluasi dan Dokumentasi
No. Kemampuan Nama Pasien
1. Menjelaskan
manfaat
perawatan
kuku
2. Menyebutkan
alat dan
bahan
perawatan
kuku
3. Menjelaskan
tahapan
perawatan
kuku
4. Memperagak
an perawatan
kuku secara
benar
5. Komitmen
melakukan
perawatan
kuku 1x
seminggu.

Catatan:

1. Beri tanda check (v) untuk kemampuan yang dapat dilakukan


2. Bila klien tidak mampu, stimulasi/latih sampai klien mampu
3. Klien dianggap mampu jika semua unsur kemampuan tercapai.

NASKAH ROLEPLAY

Pemeran Role Play

Leader: Lastri Kasim

Co – leader: Basilica Clara Baharu

Fasilitator 1: Frangky Hilala

Fasilitator 2: Novelina Daud

Fasilitator 3: Siti Hardiyanti P. Maku

Pasien 1: Novilda Liputo

Pasien 2:Nursafitra Jamal

Pasien 3: Fariyani Rivai

Pasien 4: Indri Husain


Prolog

Suatu hari di RSJ Gorontalo tepatnya di ruang Melati tampak terlihat tim perawat
akan melaksanakan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) kepada kelompok pasien
dengan Defisit Perawatan Diri dengan berbagai macam sebab. Adapun latar
belakang pasien – pasien itu diantaranya pasien pertama Ny. P berumur 25 tahun
dengan latar belakang korban ditinggal suami, pasien kedua yaitu Nn. S berumur
21 tahun dengan masalah ditinggal nikah oleh calon suam, pasien ketiga Ny. F
berumur 33 tahun dengan latar belakang korban perselingkuhan, dan pasien
keempat Ny. I berumur 17 tahun latar belakang korban nikah paksa. Perawat
sudah memilah dan memilih klien yang sesuai dengan indikasi dan membuat
kontrak dengan klien. Tim perawat sudah mempersiapkan materi yang akan
disampaikan serta alat dan bahan yang akan dibutuhkan saat terapi berlangsung.
Kemudian tim perawat memasuki ruangan yang ditetapkan dan memulai aktifitas
kelompok pasien dengan “Defisit Perawatan Diri”.

Dialog: Percakapan

Leader: “Assalamualaikum wr.wb..”

Pasien: “Waalaikumsalam ses…” (menjawab serentak)

Leader: “Ibu – ibu, bagaimana perasaannya hari ini?”

Pasien: (hening)

Leader: “Ibu – ibu bagaimana perasaannya hari ini?”

Pasien: “baik…” (menjawab serentak)

Leader: “Ibu – ibu semua sudah mandi?”

Pasien: “sudah…” (menjawab serentak)

Leader: “Syukur alhamdulillah, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya


dan teman-teman saya ya ibu-ibu. Dimana pada kesempatan pagi ini, kami dapat
berkumpul dengan ibu-ibu semuanya. Nah sebelum itu, saya memiliki beberapa
kertas yang bisa dibuat papan nama, kertas ini nanti akan saya bagikan kepada
teman teman saya serta ibu – ibu semuanya, nanti kertas ini akan ditulis nama
panggilan masing – masing setelah memperkenalkan diri dengan menyebutkan
nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi. Nanti dimulai dari saya lalu teman
teman saya dan selanjutnya ibu semuanya” (sambil membagikan kertas dan
polpen kepada tim perawat lainnya)

Leader: “pertama perkenalkan nama saya Lastri Kasim, saya suka dipanggil Asti,
hobi saya membaca buku dan saya berasal dari telaga biru” (lalu menulis nama di
kertas papan nama dan menempelkan didada sebelah kanan. Untuk yang
selanjutnya)

co-leader : “nama saya Basilica Clara Baharu saya suka dipanggil Lara, saya
berasal dari Sumalata, hobi saya mengaji” (lalu menulis nama di kertas papan
nama dan menempelkan didada sebelah kanan)

fasilitator 1 : “nama saya Frangky Hilala saya suka dipanggil Angky, saya berasal
dari lupoyo, hobi saya menonton anime.” (lalu menulis nama di kertas papan
nama dan menempelkan didada sebelah kanan)

fasilitator 2 : “nama saya Novelina Daud, bisa di panggil Feny, asal saya dari
Tapa, hobi saya menyanyi” ( lalu menulis nama di kertas papan nama dan
menempelkan didada sebelah kanan)

fasilitator 3 : nama Siti Hardiyanti Maku, bisa di panggil Dian, asal saya dari
Luwoo, hobi saya menggambar (lalu menulis nama di kertas papan nama dan
menempelkan didada sebelah kanan)

leader : “nah sudah kenal dengan kita semua ibu semuanya?”

Pasien : “sudah suster..”

Leader : “nah untuk yang selanjutnya ibu – ibu yang memperkenalkan diri tapi
sebelumnya saya akan membagikan kertas papan nama ini ya bu dan harus ditulis
seperti saya dan teman teman saya tadi, agar kita mudah mengingat nama satu
dengan yang lainnya. Nah dimulai dari ibu yang duduknya paling ujung” (lalu
membagikan kertas kepada pasien)

Fasilitator 1: (menyalakan musik serta mengeluarkan bola tennis dari tas)

Pasien 1 : “nama saya Novilda Liputo, suka dipanggil Panda, hobi saya tidur, asal
saya dari perumahan Griya Indah” (lalu menulis nama di kertas papan nama dan
menempelkan didada sebelah kanan dan mengopor bola ke pasien selanjutnya)
Pasien 2 : “nama saya Nursafitra Jamal, panggil saja Fitra, hobi saya tidak ada,
asal saya dari jalan Bali” (lalu menulis nama di kertas papan nama dan
menempelkan didada sebelah kanan dan mengopor bola ke pasien selanjutnya)

Pasien 3: “nama saya Fariyani Rivai, cukup panggil Yani, hobi saya berdiam diri,
saya berasal dari belakang indomart” (lalu menulis nama di kertas papan nama
dan menempelkan didada sebelah kanan dan mengopor bola ke pasien
selanjutnya)

Pasien 4: ”nama saya Indri, cukup di panggil Indri, hobi saya diam juga sus, saya
berasal dari belakang perumahan Kasuari” (lalu menulis nama di kertas papan
nama dan menempelkan didada sebelah kanan)

Leader : “Wah ibu – Ibu hebat sekali dapat memperkenalkan diri, nah bagimana
perasaan ibu setelah memperkenalkan diri, apa senang ?”

Pasien : “iya sus..”

Co - Leader : “baiklah ibu – ibu, karena semuanya sudah memperkenalkan diri


dengan baik, jadi Terapi Aktivitas Kelompok ini cukup sampai disini. Untuk
pertemuan selanjutnya kita akan mengelilingi RS ini ya ibu – ibu, agar ibu – ibu
semua bisa mengetahui ruangan – ruangan yang ada di dalam RS ini. Untuk
waktunya kita akan mulai besok ya ibu pada pukul 08.00 WITA. Kalau begitu
kami pamit undur diri ya ibu – ibu. Assalamualaikum”

Pasien: “Walaikumsalam…”

2.4 Terapi Keluarga


Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang,
memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Terapi
keluarga dapat dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan
orang lain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat
menyesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda
Tujuan konseling keluarga terutama adalah untuk mengerti keluarga penderita
gangguan skizofrenia, konseling keluarga dianggap cara baru untuk mengerti
dan menangani penderita gangguan mental. Kemudian konseling keluarga
tidak hanya berguna untuk menangani individu dalam konteks keluarga, tetapi
juga keluarga yang tidak berfungsi baik. Model-model pendekatan-pendekatan
baru yang dikembangkan dalam konseling keluarga yaitu:
1. Multiple Family Therapy Keluarga-keluarga yang terpilih menemui
konselor tiap minggu, dan pada waktu itu mereka menceritakan problem
mereka masing-masing dan membantu sesama dalam pemecahan
persoalan.
2. Multiple impact Therapy Mencakup seluruh keluarga dalam sederetan
interaksi yang berkelanjutan dengan konselor- konselor komunitas yang
multidisipliner mungkin selama dua hari. Terapi ini mencakup
pemberian konseling secara penuh selama dua hari atau lebih kepada
satu keluarga.
3. Terapi jaringan (Network Therapy) Berusaha memobilisasi sejumlah orang
untuk berkumpul dalam suatu krisis untuk membentuk suatu kekuatan
terapeutik. Tujuan ini adalah untuk memperkuat kekuatan dari jaringan
yang dikumpulkan untuk memberi kesempatan untuk berubah di dalam
sistem keluarga tersebut.
Model terapi dalam keluarga
1. Experiential/Humanistic
Tujuan dari terapi ini adalah insight, kematangan psikoseksual,
penguatan fungsi ego,pengurangan gejala patologis, dan memuaskan
lebih banyak relasi obyek. Kerangka umumnya adalah sejadian saat ini
yaitu data terkini dan dari pengalamanyang diobservasi secara
langsung. Aturan dari proses ketidaksadaran adalah pilihan bebas dan
kesadaran akan kemampuan diri lebih penting daripada motivasi yang
tidak disadari. Fungsi utama dari terapis adalah sebagai fasilitaor aktif
pada potensi-potensi untuk pertumbuhan dan menyediakan keluarga
pada pengalaman baru. Jenis-tenis terapi yang digunakan dalam
pendekatan experiential/ humanistic adalah sebagai berikut:
a. Terapi pengalaman (Experiential or symbolic family therapy)
Menggunakan pendekatan non-teoritis dalam terapi tetapi lebih
menekankan pada proses, yaitu sesuatu yang terjadi selama
tahapan terapi keluarga dan bagaimana setiap orang mengalami
perasaan-perasaan dan perubahan pada perilakunya.
b. Gestalt family therapy
Menekankan pada pengorganisasian diri secara menyeluruh. Focus
utamanya adalah membantu individu melalui transisinya dari
keadaan yang selalu dibantu oleh lingkungan ke keadaan mandiri
(self support).
c. Humanistik
Terapis berperan dalam memperkaya pengalaman keluarga dan
memperbesar kemungkinan setiap anggota keluarga untuk
menyadari keunikan dan potensi mereka yang luar biasa.
d. Pendekatan proses/komunikasi Terapis dan keluarga bekerjasama
untuk menstimulasi proses healting-promoting. Pendekatan yang
digu akan adalah mengklarifikasi adanya ketidaksesuaian dalam
proses kemunikasi diantara anggota keluarga.
2. Bowenian
Tujuan terapi adalah memaksimalkan diferensiasi diri pada masing-
masing anggota keluarga. Kerangka umumnya dari Bowen adalah
mengutamakan masa kini dan tetap memperhatikan latar belakang
keluarga. Aturan dari ketidak sadaran adalah konsep terkini yang
menyatakan konflik yang tidak disadari meskipun saat ini tampak pada
masa interaktif. Fungsi utama dari terapis adalah langsung tapi tidak
konfrontasi dan dilihat melalui penyatuan keluarga. Bowen mencoba
menjembatani antara pendekatan yang berorientasi pada
psikodinamika yang menekankan pada perkembangan diri, isu-isu
antar generasi dan peran-peran masa laludengan pendekatan yang
membatasi perhatian pada unit keluarga dan pengaruhnya dimasa kini.
Bowen menggunakan 8 konsep dalam dalam sistem hubungan
emosional dalam keluarga yang digunakan Bowen untuk menganalisis
kasus adalah sebagai berikut:
a. Pebedaan individu
b. Triangulasi
c. Sistem emosional keluarga
d. Proses proyeksi keluarg
e. Pemutusan emosional
f. Proses penularan multigenerasi
g. Posisi saudara kandung
h. Regenerasi masyarakat
3. Psikodinamika
Tujuan dari terapi psikodinamika ini adalah pertumbuhan, pemenuhan
lebih banyak pada pola interaksi yang lebih. Psikodinamikan
memandang keluarga sebagai system dari interaksi kepribadian,
duimana setiap individu mempunyai usb-sistem yang penting dalam
keluarga, sebagaimana keluarga sebagai sebuah sub-sistem dalam
sebuah komunitas. Terapis menjadi fasilitator yang menolong keluarga
untuk menentukan tujuannya sendiri dan bergerak kearah mereka
sebagaimana sebuah kelompok. Kerangka umum adalah masa lalu,
sejarah dari pengalaman terdekat yang perlu diungkap. Aturan dari
ketidaksadaran adalah konflik dari masa lalu yang tidak terselesaikan
akan Nampak pada perilaku sadar seseorang secara kontineu untuk
mrnghadapi situasi dan obyek yang ada sekarang. Fungsi utama dari
terapis bersikap netral artinya membuat intepretasi tehadap pola
perilaku individu dan keluarga.
4. Behavioral
Tujuan dari terapi behavioral adalah merubah konsekuaensi perilaku
anatar pribadi yang mengarah pada penghilangan perilaku maladaptif
atau problemnya. Kerangka umum dari pendekatan behavioral adalah
masa kini yang lebih memfokuskan pada lingkungan interpersonal
yang terpelihara dan muncul terus dalam pola perilaku terkini. Fungsi
utama dari terapis adalah direktif, mengarahkan, membimbing atau
model dari perilaku yang diinginkan dan negosiasi kontrak Jenis terapi
keluarga yang biasa digunakan dalam pendekatan behavioral guna
menyusun kembali sebuah keutuhan keluarga adalah:
a. Behavioral marital therapy
b. Behavioral parent training
5. Struktural
Tujuan dari model pendekatan struktural adalah perubahan pada
konteks hubungan dalam rangka rekonstruksi organisasi keluarga dan
merubah pola disfungsi transaksional. Kerangka umum pendekatan
struktural adalah masa kini dan masa lalu yaitu struktur keluarga
dipandang dari pola transaksioanal permulaan, dengan kata lain
struktur keluatga masa kini dipengaruhi oleh pola-pola transaksional
sebelumnya. Fungsi dari terapis adalah direktur panggung, yaitu
memanipulasi struktur keluarga dalam rangka mengubah setting
disfungsional. Pendekatan yang biasa digunakan dalam terapi
struktural untuk memanipulasi struktur keluarga adalah:
a. Menyusun ulang kesatuan disfungsional
b. Teknik intervensi struktural
6. Komunikasi
Tujuan pendekatan komunikasi adalah mengubah perilaku
disfungsional dan rangkaian perilaku yang tidak diinginkan antara
anggota keluarga serta memperbanyak sekuensi perilaku diantara
anggota keluarga untuk mengurangi timbulnya masalah-masalah dan
simptom- simptom kerangka umum dari pendekatan komunikasi
adalah masa kini yaitu problem terkini atau perilaku yang sedang
terjadi berulang secara konsisten atar individu. Fungsi dari terapis
adalah aktif, manipulative, problem fokus, paradoksial dan
memberikan petunjuk.
2.5 Terapi Okupasi dan rehabilitasi
Terapi kerja atau terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan
partisipasi seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu yang telah
ditetapkan. Terapi ini berfokus pada pengenalan kemampuan yang masih ada
pada seseorang, pemeliharaan dan peningkatan bertujuan untuk membentuk
seseorang agar mandiri,tidak tergantung pada pertolongan orang lain (Riyadi
dan Purwanto, 2009).
Terapi Okupasi/terapikerja adalah salah satu jenis terapi kesehatan yang
merupakan proses penyembuhan melalui aktivitas. Aktivitas yang dikerjakan
tidak hanya sekedar membuat sibuk pasien,melainkan aktivitas fungsional
yang mengandung efek terapetik dan bermanfaat bagi pasien.Artinya aktivitas
yang langsung diaplikasikan dalam kehidupan.Penekanan terapi ini adalah
pada sensomotorik dan proses neurologi dengan cara memanipulasi,
memfasilitasi dan menginhibisi lingkungan,sehingga tercapai
peningkatan,perbaikan dan pemeliharaan kemampuan dan pekerjaan atau
kegiatan digunakan sebagai terapi serta mempunyai tujuan yang jelas.
Pekerjaan atau okupasi sejak dulukala telah dikenal sebagai sesuatu untuk
mempertahankan hidup atau survival,dan juga diketahui sebagai sumber
kesenangan.Dengan bekerja, seseorang akan menggunakan otot-otot dan
pikirannya,misalnya dengan melakukan permainan (game),latihan gerak
badan,kerajinan tangan dan lain-lain,dimana hal ini akan mempengaruhi
kesehatannya juga.
Pada tahun 2600SM orang-orang diCina berpendapat bahwa penyakit timbul
karena ketidakaktifan organ tubuh. Socrates dan plato(400SM) mempercayai
dan hubungan yang eratantara tubuh dengan jiwa.Hypoocrates selalu
menganjurkan pasiennya untuk melakukan latihan gerak badan sebagai salah
satu cara pengobatan pasiennya.Di Mesir dan Yunani (2000 SM) dijelaskan
bahwa rekreasi dan permainan adalah salah suatu media terapi yang ampuh,
misalnya menari, bermain musik, bermain boneka untuk anak-anak, dan
bermainbola. Pekerjaan diketahui sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa
maupun fisik manusia. Socrates berkata bahwa seseorang harus membiasakan
diri dengan selalu bekerja secara sadar dan jangan bermalas-malasan.
Pekerjaan dapat juga digunakan sebagai pengalihan perhatian atau pikiran
sehingga menjadi segar kembali untuk memikirkan hal-hal yang lain. Dengan
okupasi/pekerjaan,pasien jiwa akan dikembalikan kearah hidup yang normal
dan dapat meningkatkan minatnya sekaligus memelihara dan mempraktikan
keahlian yang dimilikinya sebelums akit sehingga dia akan tetap sebagai
seseorang yang produktif.
Terapi okupasi berasal dari kata Occupational Therapy. Occupational berate
suatu pekerjaan, therapy berarti pengobatan. Jadi,Terapi Okupasi adalah
perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan untuk mengarahkan penderita
kepada aktivitas selektif,agar kesehatan dapat ditingkatkan dan
dipertahankan,serta mencegah kecacatan melalui kegiatan dan kesibukan kerja
untuk penderita cacat mental maupun fisik. (AmericanOccupationaltherapist
Association).Terapis okupasi membantu individu yang mengalami gangguan
dalam fungsi motorik, sensorik, kognitif juga fungsi social yang menyebabkan
individu tersebut mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas perawatan
diri, aktivitas produktivitas, dan dalam aktivitas untuk mengisi waktu luang.
Tujuan dari pelatihan
Terapi Okupasi itu sendiri adalah untuk mengembalikan fungsi penderita
semaksimal mungkin, dari kondisi abnormal ke normal yang dikerahkan pada
kecacatan fisik maupun mental,dengan memberikan aktivitas yang terencana
dengan memperhatikan kondisi penderita sehingga penderita diharapkan
dapat mandiri di dalam keluarga maupun masyarakat.Intervensi yang
diberikan menggunakan modalitas aktivitas yang telah dianalisis dan adaptasi
yang kemudian diprogramkan untuk anak sesuai dengan kebutuhan
khususnya.Secara garis besar intervensi difokuskan padahal-hal berikut :
1. Kemampuan (abilities)
a. Keseimbangan dan reaksi postur (balanceand postural reactions).
b. Peregangan ototdan kekuatan otot (muscletone and muscle strength)
c. Kesadaran anggota tubuh (bodyawareness)
d. Kemampuan keterampilan motorik halus (fine motor skill) seperti
memegang/melepas, ketrampilan manipulasi gerak jari, misal
penggunaan pensil, gunting, keterampilan, dan lain-lain.
e. Kemampuan ketrampilan motorik kasar (gross motor skill) seperti
lari,lompat, naik turun tangga, jongkok, jalan, dan lain-lain.
f. Mengenal bentuk, mengingat bentuk (visual perception)
g. Merespon stimuli, membedakan inputsensori (sensoryintegration)
h. Perilakutermsuk level kesadaran,atensi, problemsolvingskill, dan lain-
lain
i. Ketrampilan (skill)
 Aktivitas sehari-hari (activity daily living) seperti
makan,minum,berpakaian, mandi, dan lain-lain
 Pre-academic skill
j. Ketrampilan social
k. Ketrampilan bermain
 Faktor lingkungan
 Lingkungan fisik
a. Situasi keluarga
b. Dukungan dari komunitas
2. Okupasi Terapis sebagai konsultan
Okupasi terapis sebagai konsultan pada area berikut ini :

a. Program intervensi awal


b. Pengaturan rumah, sekolah, dan area bermain
c. Lingkungan dan adaptasi mainan atau media belajar
d. Alat bantu
e. Strategi perilaku

Anak-anak sekolah yang mengalami hal-hal berikut ini perlu penanganan terapi
okupasi :

a. Keterlambatan motorik kasar seperti lari, lompat, jongkok, main bola, dan
lain-lain
b. Ketrampilan motorik halus seperti ketrampilan memegang pensil,hasil
tulisan tidak rata tebal tipisnya, dan lain-lain
c. Hiperaktif atau hipoaktif
d. Tidak mampu menjaga proses berbahasa
e. Tidak mampu menjagadan mengatur posisi saat belajar
f. Gangguan persepsi visual seperti tidak lengkap dalam
menyalin tulisan
g. Gangguan atensi dan konsentrasi
h. Menarik diri
i. Kesulitan berinteraksi dengan
teman sebaya
j. Keterlambatan dalam bermain
k. Tidakdisiplin
Untuk mencapai tujuan tersebut didalam terapi okupasi memiliki dua prinsip
kerja,yaitu sebagai berikut :

a. Supportive Occupational Therapy,yaitu menolong penderita untuk


menghilangkan dari perasaan cemas, takut,dan memotivasi penderita
untuk lebih giat didalam melakukan latihan
b. Fungsional Occupational Therapy,antara lain untuk pengaturan posisi(bagi
anak Cerebral Palsy), meningkatkan kekuatan otot dan daya tahan
kerja,meningkatkan motorik kasar (grossmotor) maupun motorik
halus,(fine motor) serta meningkatkan konsentrasi dan koordinasi gerak
maupun sikap.
Terapi Okupasi dilakukan
Sebaiknya terapi okupasi dilakukan sedini mungkin,sejak penderita dirujuk oleh
dokter. Sebelum penderita mulai latihan, perlu diberikan evaluasi awal dengan
dilakukan observasi dan tes sederhana. Dalam evaluasi awal ini, hal yang harus
diperhatikan adalah catatan medik dari dokter,macam kecacatan (Cerebral Palsy
atau Retradasi Mental),berat ringannya kecacatan, kecerdasan, kebutuhan dari
penderita itu sendiri dan hal-hal yang harus dijauhi/dihindarkan untuk segi
keamanan penderita.
Evaluasi awal ini sangat berguna untuk menentukan aktivitas yang akan
diberikan,agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penderita itu sendiri.Aktivitas
yang diberikan dibagian terapi okupasi adalah sebagai berikut:
1. Aktivitas kehidupan sehari-hari/ADL. Aktivitas ini diberikan agar
penderita dapat mandiri tanpa tergantung orang lain.
2. Aktivitas bermain. Bermain ini diharapkan untuk dapat memperbaiki
konsentrasi, koordinasi, motorik serta menumbuhkan bakat, hobi, minat,
serta kesenangan.
3. Seni dan hasta karya. Untuk memberikan kesempatan pada penderita
dalam mencapai suatu hasil yang maksimal,yang mengandung unsur-unsur
kedewasaan dan kerumah tangga yang disesuaikan dengan kapasitas
penderita.
Terapis didalam memberikan suatu latihan harusbersikap sabar, ramah,dan
dituntut untuk kreatif,selain itu tidak kalah pentingnya juga peran serta
orangtua dalam proses latihan. Pada hal ini diharapkan terapis dapat
memberikan masukan-masukan kepada orangtua penderita untuk berlatih
dirumah.
Perbedaan Terapi Okupasi dengan Rehabilitasi Medis
Terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi seseorang
untuk melaksanakan suatu tugas tertentu yang telah ditentukan dengan maksud
untuk memperbaiki, memperkuat, dan meningkatkan kemampuan, serta
mempermudah belajar keahlian atau fungsi yang dibutuhkan dalam proses
penyesuaian diri dengan lingkungan.Selain itu,juga untuk meningkatakan
produktiviats, mengurangi dan atau memperbaiki ketidaknormalan
(kecacatan),serta memelihara atau meningkatkan derajat kesehatan.Terapi
okupasi lebih dititik berat kan pada pengenalan kemampuan yang masih ada
pada seseorang,kemudian memelihara atau meningkatkannya sehingga dia
mampu mengatasi masalah-masalah yang diharapkannya.
Terapi okupasi menggunakan okupasi(pekerjaan atau kegiatan)sebagai media.
Tugas pekerjaan atau kegiatan yang dipilihkan adalah berdasarkan pemilihan
terapis disesuaikan dengan tujuan terapis itu sendiri.Jadi, bukan hanya sekedar
kegiatan untuk membuat seseorang sibuk.Tujuan utama terapi okupasi adalah
membentuk seseorang agar mampu berdiri sendiri tanpa menggantungkan diri
pada pertolongan orang lain.Rehabilitasi adalah suatu usaha yang
terkoordinasi yang terdiri atas usaha medis,sosial,edukasional,dan
vokasional,untuk melatih kembali seseorang untuk mencapai kemampuan
fungsional pada taraf setinggi mungkin.Sementara itu,rehabilitasi medis
adalah usaha-usaha yang dilakukan secara medis khususnya untuk mengurangi
invaliditas atau mencegah memburuknya invaliditas yang ada.
Fungsi dan tujuan terapi Okupasi
Terapi okupasi adalah terapan medis yang terarah bagi pasien fisik maupun
mental dengan menggunakan aktifitas sebagai media terapi dalam rangka
memulihkan kembali fungsi seseorang sehingga dia dapat mandiri
semaksimal mungkin. Aktifitas tersebut adalah berbagai macam kegiatan yang
direncanakan dan disesuaikan dengan tujuan terapi.Pasien yang dikirimkan
oleh dokter,untuk mendapatkan terapi okupasi adalah dengan maksud sebagai
berikut.
1. Terapi khusus untuk pasien mental /jiwa
 Menciptakan suatu kondisi tertentu sehingga pasien dapat
menggembangkan kemampuannya untuk dapat berhubungan
dengan orang lain dan masyarakat sekitar
 Membantu dalam melampiaskan gerakan–gerakan emosisecara
wajar dan produktif.
 Membantu menemukan kemampuan kerja yang sesuai
dengan bakat dan keadaannya.
 Membantu dlampengumpulan data guna penegakan diagnosis dan
penetapan terapi lainnya.
2. Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi fisik,meningkatkan
ruanggerak sendi, kekuatan otot, dan koordinasi gerakan.
3. Mengejarkan aktifitas kehidupan sehari– hari seperti makan, berpakaian,
belajar menggunakan fasilitas umum (telephon,televisi,dll), baik dengan
maupun tanpa alat bantu, mandi yang bersih, dll)
4. Membantu pasien untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin
dirumahnya,dan member syarat penyederhanaan (siplifikasi) ruangan
maupun letak alat–alat kebutuhan sehari hari.
5. Meningkatkan toleransi kerja, memelihara, dan meningkatkan
kemampuan yang masih ada.
6. Menyediakan berbagai macam kegiatan untuk dijajaki oleh pasien
sebagai langkah dalam pre – cocationaltraining.Berdasarkan aktifitas ini
akan dapat diketahui kemampuan mental dan
fisik,sosialisasi,minat,potensi dan lainnya dari sipasien dalam
mengarahkannya pada pekerjaan yang tepat dalam latihan kerja.
7. Membantu penderita untuk menerima kenyataan dan menggunakan
waktu selama masa rawat dengan berguna.
8. Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan setelah kembali
kekeluarga.
Program terapi okupasi adalah bagian dari pelayanan medis untuk tujuan
rehabilitasi total seseorang pasien melalui kerjasama dengan petugas lain
dirumahsakit.Dalam pelaksanaan terapi okupasi kelihatannya akan banyak
overlapping dengan terapi lainnya sehingga dibutuhkan adanya kerjasama yang
terkoordinir dan terpadu.

Rehabilitasi

Rehabilitasi adalah seperangkat tindakan sosial, edukasi, prilaku dan kognitif


untuk meningkatkanfungsi kehidupan pasien gangguan jiwa dan berguna untuk
proses penyembuhan (Barton,1999dikutipdari Stuart&Laraia,2005).Berbagai
tindakan berupa terapi yang dikemas berguna untuk meningkatkan fungsi hidup
pasien gangguan jiwa secara optimal sehingga mereka dapat hidup, belajar dan
bekerja di masyarakat.

Prinsip terapi rehabilitasi

Agar pasien gangguan jiwa dapat hidup,belajar,dan bekerja dan berpartisipasi


penuh di masyarakat,maka diharapkan dapat dipenuhi empat aspek yang penting:

a. Faktorinternalpasien
Semua faktor yang terkait dengan pasien yaitu kesadaran pasien akan
masalahnya,keinginan untuk berubah,dan kemampuan memutuskan
tindakan yang diperlukan untuk proses penyembuhan.
b. Kemampuanmerawatdiri
Kemampuan pasien merawat dirinya sendiri dan menghadapi masalah
kehidupan yang mungkin terjadi
c. Faktor eksternal pasien
Semua dukungan sosialyangdisediakanolehkeluarga,teman,tenaga
kesehatan yang ada disekeliling mereka yang dapat membantu untuk
menyelesaikan masalah dan proses penyembuhan.
d. Pemberdayaan pasien
Pemberdayaan pasien dilakukan dengan menggunakan dukungan
social yang ada terhadap kemampuan yang dimiliki oleh pasien untuk
dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari, belajar, dan bekerja.
Prinsip pertama,kedua dan ketiga telah dilakukan melalui asuhan
keperawatan pasien gangguan jiwa dengan memberdayakan pasiendan
keluarga,dan telah dilaksanakan pada BC-CMHN.Pada modul ini akan
dikembangkan pemberdayaan masyarakat untuk membantu
peningkatan fungsi pasien dalam bentuk kegiatan rehabilitasi yang
disediakan di masyarakat.

Bentuk terapi rehabilitasi


Terapi rehabilitasi bertujuan memampukan pasien gangguan jiwa melakukan
aktivitas hidup sehari-sehari secara mandiri. Terapi rehabilitasi terdiri dari
keterampilan hidup (living skills), keterampilan belajar (learningskills), dan
keterampilan bekerja (workingskills)(Anthony, 1999 dikutip dari Stuart&
Laraia,2005).
a. Keterampilan hidup
Yang termasuk keterampilan hidup adalah melakukan kebersihan diri
(berdandan, mandi, buang air besar/BAB, dan buang air
kecil/BAK), makan, minum, membersihkan rumah(menyapu rumah dan
halaman rumah,mengepel lantai,dan membersihkan kaca), mempersiapkan
makandan membesihkan alat-alat makan, memasak, mengatur uang
belanja,menyusun rencana kegiatan sehari-hari, melakukan percakapan
dengan anggota keluarga,dan melakukan olahraga mandiri.Keterampilan
hidup yang akan diuraikan pada modul ini adalah keterampilan memasak
(untuk pasien wanita), dan keterampilan membersihkan rumah (untuk
pasien laki-laki).
b. Keterampilan belajar
Yang termasuk keterampilan belajar adalah membaca,menulis, dan
berhitung. Karena keterampilan-keterampilan tersebut umumnya dilatih
pada pasien anak,maka pad amodul ini keterampilan belajar tidak
diuraikan lebih rinci.
c. Keterampilanbekerja
Keterampilan bekerja adalah kemampuan individu melakukan pekerjaan
yang dapat menghasilkan uang, seperti bertani,berkebun, bertambak,dan
melakukan kerajinan tangan(menyulam atau menganyam).Keterampilan
bekerja merupakan ujung tombak terapi rehabilitasi pasien gangguan
jiwa,karena dengan menguasai keterampilan bekerja inilah umumnya
pasien merasa telah diberdayakan secara optimal.
2.6 Terapi Lingkungan
2.6.1 Definisi Terapi lingkungan
Terapi lingkungan adalah lingkungan fisik dan sosial yang ditata agar dapat
membantu penyembuhan dan atau pemulihan pasien. Milleu berasal dari Bahasa
Prancis, yang dalam Bahasa Inggris diartikan surronding atau environment,
sedangkan dalam Bahasa Indonesia berarti suasana. Jadi, terapi lingkungan
adalah sama dengan terapi suasana lingkungan yang dirancang untuk tujuan
terapeutik. Konsep lingkungan yang terapeutik berkembang karena adanya efek
negatif perawatan di rumah sakit berupa penurunan kemampuan berpikir, adopsi
nilai-nilai dan kondisi rumah sakit yang tidak baik atau kurang sesuai, serta
pasien akan kehilangan kontak dengan dunia luar.
2.6.2 Tujuan Terapi lingkungan
Mengembangkan keterampilan emosional dan sosial yang akan
menguntungkan kehidupan setiap hari, dengan cara memanipulasi
lingkungan atau suasana lingkungan sebagai tempat pasien untuk
mendapatkan perawatan seperti di rumah sakit.
2.6.3 Karakteristik umum Terapi lingkungan
1. Distibusi Kekuatan
Proses penyembuhan pasien sangat bergantung pada kemampuan pasien
dalam membuat keputusan bagi dirinya sendiri (otonomi). Oleh karena itu,
perawat, tenaga kesehatan, dan pasien yang terlibat di dalamnya diharapkan
dapat bekerja sama dalam melengkapi data yang dibutuhkan untuk
menentukan masalah pasien, berbagi tanggung jawab, dan bekerja sama
untuk mengarahkan pasien dalam membuat keputusan bagi proses
penyembuhannya.
2. Komunikasi Terbuka
Komunikasi terbuka merupakan komunikasi dua arah yang kedua belah pihak
saling mengerti pesan yang dimaksudkan tanpa adanya hal yang
disembunyikan. Komunikasi terbuka yang dilandasi saling percaya dan
kejujuran di antara perawat dengan tenaga kesehatan lain merupakan hal
yang sangat penting dalam pelayanan keperawatan. Setiap data yang
diperoleh mengenai pasien dan keluarganya harus segera dikomunikasikan
bersama sehingga dapat memberi arahan dalam pembuatan keputusan yang
hanya ditujukan untuk kesembuhan pasien.
3. Struktur Interaksi
Interaksi terapeutik bukan hanya sekadar berinteraksi biasa, melainkan
membutuhkan strategi tersendiri seperti halnya struktur yang tepat sehingga
apa yang diinginkan dalam interaksi tersebut tercapai. Perawat sebagai ujung
tombak utama yang berhadapan langsung dengan pasien selama 24 jam
diharapkan mampu memfasilitasi interaksi terapeutik dengan memperlihatkan
sikap bersahabat, bertutur kata lembut, jelas tapi tegas, tidak defensif, penuh
perhatian, peka terhadap kebutuhan pasien, mampu memotivasi pasien untuk
berinteraksi dengan pasien lain, serta saling berbagi rasa dan pengalaman.
Hal tersebut akan sangat membantu pasien untuk dapat menerima perawatan
dan pengobatan yang diberikan.
4. Aktivitas Kerja
Pasien yang dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu tidak sebentar
sering mempunyai perasaan kesepian, tidak berarti, ditolak/dikucilkan,
tidak mandiri/bergantung, dan keterbatasan hubungan dengan dunia
luar. Oleh karenanya, perawat diharapkan mampu mengisi waktu luang
pasien dengan memotivasi pasien ikut serta dalam aktivitas lingkungan
yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan tingkat perkembangannya.
Sebelum menentukan kegiatan apa yang akan dilakukan pasien,
perawat bersama pasien mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan yang
dapat dilakukan pasien sebagai pengisi waktu luang. Misalnya
membaca majalah, buku pelajaran bagi siswa/pelajar/mahasiswa, jalan-
jalan pagi, menyulam, melakukan kegiatan sehari-hari, serta berbagi
pikiran dan perasaan dengan sesama pasien yang dilakukan bersama
perawat.
2.6.4 Peran Serta Keluarga dan Masyarakat dalam Proses Terapi
Keluarga merupakan orang-orang terdekat yang sangat memengaruhi
kehidupan pasien. Oleh karena itu, peran serta keluarga dalam
penyembuhan pasien juga menjadi hal yang utama karena setelah selesai
menjalani perawatan di rumah sakit pasien akan kembali ke keluarga dan
berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Kesiapan keluarga dan
masyarakat dalam menerima kembali kehadiran pasien merupakan hal
yang harus ditata sedini mungkin. Pelibatan keluarga dalam penyusunan
perencanaan perawatan, pengobatan, dan persiapan pulang pasien
merupakan solusi yang harus dilakukan oleh perawat dan tenaga kesehatan
secara komprehensif. Penyiapan lingkungan masyarakat dapat dilakukan
dengan penyuluhan dan penyebaran selebaran tentang kesehatan jiwa,
penyakit jiwa, dan solusinya. Hal ini membutuhkan kerja sama yang solid
antarpihak, yaitu tenaga kesehatan dan kebijakan pemerintah setempat.
2.6.5 Strategi dalam Terapi lingkungan
1. Aspek Fisik

1) Menciptakan lingkungan fisik yang aman dan nyaman seperti gedung


yang permanen, mudah dijangkau atau diakses, serta dilengkapi dengan
kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, dan WC. Cat
ruangan sesuai dengan pengaruh dalam menstimulasi suasana hati
pasien menjadi lebih baik, seperti warna muda atau pastel untuk pasien
amuk, serta warna cerah untuk pasien menarik diri dan anak-anak.
Semua ruangan hendaknya disiapkan dengan memperhatikan keamanan
dan kenyamanan, serta usahakan suasana ruangan bagai di rumah
sendiri (home sweet home). Hal-hal yang bersifat pribadi dari pasien
harus tetap dijaga. Kamar mandi dan WC harus tetap dilengkapi dengan
pintu sebagaimana layaknya rumah tinggal. Kantor keperawatan
hendaknya dilengkapi dengan kamar-kamar pertemuan yang dapat
digunakan untuk berbagai terapi, misalnya untuk pelaksanaan terapi
kelompok, terapi keluarga, dan rekreasi.
2) Struktur dan tatanan dalam gedung sebaiknya dirancang sesuai dengan
kondisi dan jenis penyakit, serta tingkat perkembangan pasien.
Misalnya ruang anak dirancang berbeda dengan dewasa ataupun usia
lanjut. Demikian pula ruangan untuk kondisi akut berbeda dengan
ruang perawatan intensif.
2. Aspek Intelektual
Tingkat intelektual pasien dapat ditentukan melalui kejelasan stimulus dari
lingkungan dan sikap perawat. Oleh karena itu, perawat harus dapat
memberikan stimulus ekstrenal yang positif dalam arti perawat harus
berkemampuan merangsang daya pikir pasien sehingga pasien dapat
memperluas kesadaran dirinya sehingga pasien dapat menerima keadaan
dan peran sakitnya.

3. Aspek Sosial

Perawat harus mampu mengembangkan pola interaksi yang positif, baik


perawat dengan perawat, perawat dengan pasien, maupun perawat dengan
keluarga pasien. Untuk dapat membangun interaksi yang positif tersebut
perawat harus menguasai kemampuan berkomunikasi dengan baik.
Penggunaan teknik komunikasi yang tepat akan sangat berperan dalam
menciptakan hubungan terapeutik antara perawat dengan pasien. Oleh
karenanya, diharapkan pasien dapat mengembangkan hubungan
komunikasi yang baik terhadap pasien lain maupun perawatnya, karena
hubungan interpersonal yang menyenangkan dapat mengurangi konflik
intrapsikis yang akan menguatkan fungsi ego pasien dan mendukung
kesembuhan pasien.

4. Aspek Emosional

Iklim emosional yang positif mutlak harus diciptakan oleh seluruh perawat
dan tenaga kesehatan yang terlibat dalam proses penyembuhan pasien.
Sikap dasar yang hendaknya dibangun adalah memperlihatkan sikap yang
tulus, jujur/dapat dipercaya, hangat, tidak defensif, empati, peka terhadap
perasaan dan kebutuhan pasien, serta bersikap spontan dalam memenuhi
kebutuhan pasien.

5. Aspek Spiritual
Spiritual merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat dielakkan
pemenuhannya. Meningkatkan aspek spiritual dari lingkungan dalam
proses penyembuhan ditujukan untuk memaksimalkan manfaat dari
pengalaman, pengobatan, dan perasaan damai bagi pasien. Cara
pemenuhan yang paling mudah adalah dengan penyediaan sarana ibadah
seperti tempat ibadah, kitab suci, dan ahli agama. Pemberian penguatan
terhadap perilaku positif yang telah dilakukan pasien dalam hal spritual
akan memotivasi pasien melakukannya lebih baik sebagai dampak dari
peningkatan harga diri pasien.

PERAN PERAWAT DALAM TERAPI LINGKUNGAN

1. Pengasuh (Mothering Care)


Seorang perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien akan memberikan
asuhan keperawatan atas dasar identifikasi masalah baik kebutuhan fisik
maupun emosional. Selain itu, perawat juga harus memfasilitasi pasien agar
mengembangkan kemampuan barunya untuk dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan. Dengan demikian, pasien dapat memahami dan menerima situasi
yang sedang dialaminya serta termotivasi untuk mengubah perilaku yang
destruktif manjadi konstruktif. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah
perawat juga harus membantu pasien mengenal batasan-batasan dan
menerima risiko akibat perilakunya. Contohnya, pasien menolak minum obat
atau menjalani pemeriksaan tertentu, maka perawat disini bertugas
menjelaskan manfaat pengobatan ataupun pemeriksaan tersebut dan
konsekuensi dari penolakannya.
2. Manajer
Pasien sama dengan setiap manusia yang lain yaitu individu yang unik. Oleh
karenanya, dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus
memperhatikan tingkat perkembangan pasien. Sebagai perencana, perawat
melakukan pengkajian untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang
kondisi dan kebutuhan pasien sebelum melakukan asuhan keperawatan.
Sebagai manajer, perawat harus dapat mengatur dan mengorganisasi semua
kegiatan untuk pasien dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, sampai
dengan evaluasi. Selain itu, perawat harus mampu memberikan arahan
singkat dan jelas kepada pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan lain agar
asuhan keperawatan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan secara
komprehensif.
3. Pencipta lingkungan yang aman dan nyaman
a. Perawat menciptakan dan mempertahankan iklim/suasana yang akrab,
menyenangkan, saling menghargai di antara sesame perawat, petugas
kesehatan, dan pasien.
b. Perawat yang menciptakan suasana yang aman dari benda-benda atau
keadaan-keadaan yang menimbulkan terjadinya kecelakaan/luka terhadap
pasien atau perawat.
c. Menciptakan suasana yang nyaman
d. Pasien diminta berpartisipasi melakukan kegiatan bagi dirinya sendiri dan
orang lain seperti yang biasa dilakukan di rumahnya. Misalnya
membereskan kamar.

4. Penyelenggaraan proses sosialisasi:

a. Membantu pasien belajar berinteraksi dengan orang lain, mempercayai


orang lain, sehingga meningkatkan harga diri dan berguna bagi orang lain

b. Mendorong pasien untuk berkomunikasi tentang ide-ide, perasaan dan


perilakunya secara terbuka sesuai dengan aturan di dalam kegiatan-
kegiatan tertentu.

c. Melalui sosialisasi pasien belajar tentang kegiatan-kegiatan atau


kemampuan yang baru, dan dapat dilakukannya sesuai dengan
kemampuan dan minatnya pada waktu yang luang.

MODEL TERAPI LINGKUNGAN

1. Model Terapi Sosial


Model ini menggunakan konsep dari program terapi komunitas,dimana
adiksi terhadap obat-obatan dianggap sebagai fenomena penyimpangan
sosial.
2. Model Terapi Psikologis
Model ini menyebutkan bahwa perilaku adiksi obat adalahemosi yang
tidak berfungsi selayaknya karenya adanya konflik menyebabkan
pecandumemakai obat pilihannya untuk meringankan beban psikologis.
3. Model Terapi Budaya
Model ini menyatakan perilaku adiksi obat merupakan hasilsosialisasi
seumur hidup dalam lingkungan sosial tertentu.

JENIS –JENIS KEGIATAN TERAPI LINGKUNGAN


Jenis-jenis kegiatan terapi lingkungan adalah :

1. Terapi rekreasi
Terapi rekreasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pada waktu luang,
bertujuanagar pasien dapat melakukan kegiatan secara konstruktif dan me
nyenangkan juga mengembangkan hubungan sosial.
D i d a l a m r u a n g p e l a k s a n a a n ya n g bertugas sebagai pemimpin
terapi adalah perawat, dimana perawat harus menyesuaikankegiatan
dengan tingkat umur pasien.
Contohnya, kegiatan yang banyak mengeluarkan tenaga seperti bulu
tangkis, berenang, basket, dan lain -lain diberikan kepada pasien
dengan tingkatan umur remaja, sedangkan untuk kegiatan yang
tidak banyak mengeluarkan tenaga seperti bermain
catur, karambol, kartu, dan sebagainya dapat diberikan
kepada pasien dengan tingkatan umur dewasa (orangtua).
2. Terapi kreasi seni
Dalam terapi ini perawat berperan sebagai leader dan bekerja
sama dengan orang lain yang ahli dalam bidangnya karena harus
disesuaikan dengan bakat dan minat, beberapa diantaranya adalah :
a. Dance therapy/ menari;
T e r a p i ya n g m e n g g u n a k a n b e n t u k e k s p r e s i n o n v e r
bal dengan gerakan tubuh dengan tujuan
mengkomunikasikan tentang perasaan dan kebutuhan pasien.
b. Terapi music
S u a t u t e r a p i ya n g d i l a k u k a n m e l a l u i m u s i c d e n g a n
tujuan untuk memberikankesempatan kepada para p
a s i e n d a l a m m e n g e k s p r e s i k a n p e r a s a a n n ya s e p e r t i k
esepian, sedih, dan bahagia.
c. T e r a p i m e n g g a m b a r / m e l u k i s
Terapi menggambar/melukis dapat memberikan
kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan tentang apa
yang sedang terjadi pada dirinya. Selain itu terapi
ini juga dapat membantu menurunkan keteganggan dan pasien dap
at memusatkan pikiran pada kegiatan.
d. L i t e r a t u r / biblio therapy
Terapi ini bertujuan untuk mengembangk an wawasan diri
pasien dan
merupakanc a r a u n t u k m e n g e k s p r a s i k a n p e r a s a a n / p i k
i r a n s e s u a i d e n g a n n o r m a ya n g a d a . K e g i a t a n d a l a
m terapi ini dapat berupa membaca seperti no
v e l , b u k u - b u k u , majalah, dan kemudian bahan bacaan
didiskusikan bersama oleh para pasien.
3. P e t therapy
Pet therapy bertujuan menstimulasi respon pasien yang tidak mampu mela
kukanh u b u n g a n i n t e r a k s i d e n g a n o r a n g l a i n d a n b i a s a n ya
m e r e k a m e r a s a k e s e p i a n , d a n m e n ye n d i r i . T e r a p i m e n g g u n
a k a n s a r a n a b i n a t a n g ya n g d a p a t m e m b e r i k a n r e s p o n m e n y
enangkan kepada pasien dan sering kali digunakan pada p
a s i e n a n a k d e n g a n autistic.
4. P l a n t t h e r a p y
Terapi ini mengajarkan pasien untuk memelihara mahluk hidup dan
membantu pasienmembina hubungan yang baik antar pribadi yang
satu dengan yang lain. Objek yangdigunakan dalam terapi ini adalah
tanaman/tumbuhan
Indikasi

Terapi lingkungan biasanya dilakukan pada pasien-pasien dengan :


1. Pasien rendah diri( low self esteem), depresi (depression), dan bunuh diri (
suicide).
2. Pasien dengan amuk

Prosedur terapi

1. Pasien rendah diri( low self esteem), depresi (depression), dan bunuh diri (
suicide).
a. Syarat lingkungan secara psikologis harus memenuhi hal-hal
sebagai berikut :
 Ruangan aman dan nyaman
 Terhindar dari alat-alat yang dapat digunakan untuk mencederai
diri sendiri atauorang lain.
 Alat-alat medis, juga obat-obatan serta jenis cairan medis di
lemari pastikandalam keadaan terkunci
 Ruangan yang dipakai harus dilantai 1 dan ruangan tersebut
mudah di pantauoleh petugas kesehatan
 Ruangan harus ditata agar menarik dengan cara menenmpelkan
gambar-gambar yang cerah dan gambar-gambar yang
meningkatkan gairah hidup pasien
 Warna dinding harus cerah
 Harus adanya bacaan ringan, lucu dan memotivasi hidup.
 Memutar music yang ceria, televise dan film komedi
 Menyiapkan lemari khusus untuk menyimpan barang-barang
pribadi pasien
b. Syarat lingkungan social adaalah sebagai berikut
 Komunikasi terapeutik dengan cara semua petugas atau
perawat menyapa pasien sesering mungkin.
 Petugas memberikan penjelasan setiap akan dilakukannya
kgiatan keperawatanatau tindakan medis lainnya
 Menerima pasien apa adannya dan tidak boleh mengejek atau
merendahkan pasien.
 Meningkatkan harga diri pasien
 Membantu melakukan penilaian dan berusaha meningkatkan
hubungan socialsecara bertahap
 Membantu pasien dalam melakukan interaksi dengan
keluargannya.
 Mengikut sertakan keluarga dalam rencana asuhan
keperawatan dan tidak boleh membiarkan pasien sendiri
terlalu lama di ruangan.
2. Pasien dengan amuk
a. Syarat lingkungan fisik sebagai berikut :
 Ruangan yang aman, nyaman dan cukup mendapatkan
pencahayaan
 Tempatkan satu pasien dalam satu kamar, bila sekamar lebih dari
satu orang jangan di gabung antara yang lemah dan kuat.
 Terdapatnya jendela yang beruji dengan pintu dari besi terkunci
 Adanya kebijakan dan prosedur tertulis tentang protocol pengikatan
dan pengasingan secara aman, serta protocol cara pelepasan
pengikatan. b.Syarat lingkungan psikososial adalah sebagai berikut
:
 Komunikasi terapeutik, sikap yang bersahabat disertai perasaan
empati
 Observasi pasien paling sedikit tiap 15 menit
 Jelaskan tujuan dilakukannya pengikatan atau pengekangan secara
berulang-ulang
 Penuhi kebutuhan fisik dari pasien
 Libatkan peran keluarga
 Pasien merasa aman dan pasien tidak merasa takut
 Dilakukan di lingkungan rumah sakit atau bangsal yang bersih
 Tingkah laku harus dikomunikasikan dengan jelas dengan tujuan
untuk mempertahankan atau mengubah tingkah laku pasien
 Tata ruangan agar menarik dan gambar yang cerah kan
meningkatkan gairahterhadap pasien
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terapi modalitas merupakan terapi utama dalam keperawatan jiwa.
Sebagai seorang terapis, perawat harus mampu mengubah perilaku
maladaptif pasien menjadi perilaku yang adaptif serta meningkatkan
potensi yang dimiliki pasien. Ada bermacam-macam terapi modalitas
dalam keperawatan jiwa seperti terapi individu, terapi keluarga, terapi
bermain, terapi lingkungan dan terapi aktifitas kelompok. Terapi modalitas
dapat dilakukan secara individu maupun kelompok atau dengan
memodifikasi lingkungan dengan cara mengubah seluruh lingkungan
menjadi lingkungan yang terapeutik untuk klien, sehingga memberikan
kesempatan klien untuk belajar dan mengubah perilaku dengan
memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi.
Terapi Modalitas terdiri atas terapi somatic dan psikofarmaka,TAK,Terapi
Keluarga,Terapi Okupasi dan Rehabilitasi dan terapi lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.ners.unair.ac.id/materikuliah/buku%20ajar%20keperawatan%20keseh
atan%20jiwa.pdf
https://www.scribd.com/doc/174654581/Terapi-Lingkungan-DOC