Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DEMOKRASI POLITIK

DEMOKRASI INDONESIA VS FREEPORT

SUDAHKAH DEMOKRASI KITA BERHASIL?

DISUSUN OLEH :

Nicolaus Elka Yudhatama

(17/413748/TK/46188)

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Hj. Sri Widayanti, M. S.

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
limpahan berkatnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah pendidikan
kewarganegaraan demokrasi Indonesia vs. Freeport ini.

Terimakasih juga saya ucapkan kepada berbagai pihak yang telah membantu
saya dalam menyelesaikan makalah ini. Dan harapan saya semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya
dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik
lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 10 Maret 2017

Nicolaus Elka Yudhatama

2
DAFTAR ISI

JUDUL ............................................................................................................. 1

KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2

DAFTAR ISI .................................................................................................... 3

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................... 4

A. LATAR BELAKANG ............................................................................. 4


B. RUMUSAN MASALAH......................................................................... 5
C. TUJUAN .................................................................................................. 5
D. MANFAAT.............................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 6

A. PELAKSANAAN DEMOKRASI INDONESIA .................................... 6


B. KEBERPIHAKAN PEMERINTAH DALAM KASUS FREEPORT .... 8
C. KEPUTUSAN DAN SIKAP PEMERINTAH ......................................... 9
D. DEMOKRASI RAKYAT PAPUA &INDONESIA VS FREEPORT ..... 10

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 12

A. KESIMPULAN ..................................................................................... 12
B. SARAN ................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 13

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

“Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”, merupakan sebuah slogan
terkenal yang diucapkan oleh Abraham Lincoln mengenai apa sebenarnya arti
demokrasi. Pengambilan kebijakan yang akan dirasakan oleh masyarakat umum
hendaknya didasarkan pada kepentingan masyarakat dan bukan hanya untuk
kepentingan golongan tertentu saja. Perwakilan rakyat seperti presiden dan
anggota DPR mengemban tanggung jawab untuk menghasilkan sebuah kebijakan
hasil suara masyrakat Indonesia. Oleh karena itu demokrasi di Indonesia
dilaksanakan melalui perwakilan masyarakat tersebut.

Perwakilan masyarakat dipilih oleh rakyat melalui pemilu yang dilaksanakan


selama beberapa periode sekali. Calon - calon melalui partainya berlomba – lomba
melakukan kampanye mengenai janji-janjinya dengan harapan memperoleh suara
masyarakat. Calon yang terpilih akan mengemban suara masyarakat dalam
mengambil kebijakan dengan harapan bahwa suara masyarakat dapat terwakili
oleh calon tersebut. Tetapi apakah pada kenyataannya demokrasi yang berjalan
sekarang sudah baik?

Ironisnya di Indonesia pelaksanaan demokrasi oleh perwakilan rakyat tidak


dijalankan dengan baik bahkan kewenangan yang dimiliki disalahgunakan demi
keuntungan pribadi dan golongan. Salah satu kasus yang sedang hangat di
Indonesia sekarang adalah kasus PT. Freeport dengan pemerintah Indonesia dan
masyarakat lokal di Papua. Pergolakan politik yang terjadi ramai menjadi
perbincangan di media sosial dan menuai kritik dan pertanyaan dari para netizen
mengenai bagaimanakah pelaksanaan demokasi di Indonesia zaman ini. Namun,
yang paling merasakan efek hasil penentuan keputusan antara pemerintah dengan
PT. Freeport adalah masyarakat lokal disekitar tambang.

Di Papua sendiri, menurut Adinegoro (2017) terbentuk kubu yang saling


berlawanan. Di salah satu sisi terdapat organinasi FRI-West Papua dengan Aliansi
Mahasiswa Papua yang meminta agar tambang PT. Freeport ditutup karena
eksploitasi besar-besaran sumber daya alam dan manusia yang dilakukan sehingga
papua dapat merdeka. Sedangkan di sisi lain terdapat Pemerintah Mimika dan
Gerakan Solidaritas Peduli Freeport yang mendukung agar ekspor PT. Freeport
mendapat kembali ijinnya oleh Pemerintah Pusat.

Peran pemerintah sebagai pelaksana demokrasi masyarakat di uji dalam kasus


Freeport ini. Apakah pemerintah dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan

4
keinginan masyarakat Mimika Papua? Bebaskah masyarakat Papua dari Freeport
ataukah bebaskah Freeport dari tuntutan masyarakat Papua? Dalam makalah ini
akan dibahas mengenai demokrasi kasus Freeport di Papua.

B. RUMUSAN MASALAH

Pada makalah ini akan dibahas beberapa masalah berkaitan dengan


pelaksanaan demokrasi politik di Indonesia terutama pada kasus Freeport ini,
yaitu :

 Apakah Demokrasi di Indonesia sudah terlaksana dengan baik?


 Bagaimana peran Pemerintah selaku perwakilan masyarakat dalam
mewujudkan keinginan masyarakat?
 Bagaimana sikap Pemerintah Pusat dan Papua dalam mengambil keputusan
dalam kasus Freeport ini?
 Bagaimana peran masyarakat Indonesia terutama Papua dalam kasus Freeport
ini?

C. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menganalisis bagaimana
demokrasi di berlangsung melalui studi kasus PT. Freeport sekaligus memenuhi
tugas pengganti Ujian Tengah Semester (UTS) pendidikan kewarganegaraan
Fakultas Teknik UGM.

D. MANFAAT
Manfaat dibuatnya makalah adalah setelah membaca makalah ini, pembaca
dapat mendapatkan informasi sekaligus membuka wawasan mengenai
pelaksanaan demokrasi di Indonesia sekarang

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. PELAKSANAAN DEMOKRASI INDONESIA

Kebebasan Pers dan media sosial, kebebasan mengemukakan pendapat dalam


bermusyawarah, kebebasan untuk memilih calon yang diinginkan menjadi contoh
demokrasi yang berjalan di Indonesia. masyarakat tidak memiliki tekanan dalam
mengekspresikan pendapat dan pikirannya baik di media sosial maupun dalam
sebuah forum. Kebebasan berdemokrasi itu sudah dilaksanakan semenjak Negara
kita berdiri. Tetapi jika menurut sejarah yang ada, pelaksanaan demokrasi di
Indonesia sendiri tidak sebagus yang diharapkan.

Pada zaman orde baru kekuasaan Soeharto, demokrasi di Indonesia dibungkam.


Hak media massa untuk memberikan informasi dibatasi oleh pemerintah agar
kebobrokan pemerintah tidak tersebar di masyrakat luas. Selain itu, para penguasa
pemerintahan dipilih bukan secara “demokrasi” tetapi mereka yang menjadi
loyalis Soeharto lah yang memegang jabatan penting. Contoh inilah yang
menjadikan demokrasi sebuah ironi dimana demokrasi seharusnya menjadi sebuah
metode untuk masyarakat menentukan pemimpin yang bijak dan berwibawa
menjadi sebuah alat untuk memilih sebuah perwakilan rakyat yang membentuk
monarki kekuasaan.

Masyarakat terutama mahasiswa tentu saja tidak dapat menerima sikap diktator
sang presiden pada zaman itu. Pada tahun 1998 mahasiswa Indonesia menghimpun
massa dan bergerak untuk menuntut turunnya Soeharto sebagai presiden republik
Indonesia. Pada peristiwa inilah arti sebuah demokrasi mulai memiliki makna.
Suara masyarakat yang menginginkan agar pemimpinnya berhenti tercapai
walaupun harus jatuh korban jiwa akibat supresi oleh penegak hukum pada saat
itu. Tetapi seharusnya pelaksanaan demokrasi tidak perlu menyebabkan tindakan
anarkis bahkan sampai jatuh korban jiwa.

Setelah orde baru digantikan dengan masa reformasi yang kita pegang
sekarang, muncul banyak kata demokrasi dalam kampanye partai politik. Segala
bentuk kegiatan perpolitikan, musyawarah, dan penentuan keputusan harus
didasarkan pada asas demokrasi. Kegiatan berdemo oleh mahasiswa untuk
mengkritisi kebijakan pemerintah juga banyak terjadi karena melihat bahwa para
pemimpin maupun kebijakannya dapat ataupun sudah merugikan masyarakat.
Tidak hanya mahasiswa yang terkenal sebagai agen perubahan, masyarakat yang
merasa haknya tertindas pun juga melakukan demo untuk menuntut pemenuhan
melawan para pemegang kepentingan.

6
Tetapi kita juga harus menelaah mengenai demokrasi yang berlangsung pada
era kita sekarang. Apakah demokrasi yang dilakukan benar-benar untuk mencapai
sebuah kesepakatan yang dapat disepakati semua pihak? Apakah demokrasi yang
berlangsung hanyalah drama belaka untuk menarik simpati dari masyarakat?
Apakah demokrasi Negara kita sudah mencerminkan arti demokrasi yang
sebenarnya?

Netizen yang membagikan posting yang dia miliki ke media sosial merupakan
salah satu bentuk demokrasi yang sering kita jumpai di keseharian kita. Kebebasan
netizen untuk mengkritisi, memberikan saran dan masukan, serta meyuarakan
pendapatnya ke orang lain, suatu instansi, maupun pemerintah bisa dilakukan
walaupun terlampau jarak yang jauh. Tetapi perlu kita amati demokrasi seperti apa
yang berlangsung di media massa online. Seringkali kebebasan mengemukakan
pendapat digunakan untuk menghujat dan menebar kebencian di masyarakat.
Posting sara yang menyerang suatu ras maupun agama juga sering dijumpai dan
menyebabkan konflik antara beberapa pihak. Demokrasi dalam berpendapat
seharusnya tidak seperti itu. Demokrasi seharusnya membangun dan tidak
menyebabkan perpecahan.

Disisi lain, pemilihan umum yang berlangsung di Negara kita juga merupakan
salah satu bentuk demokrasi. Hasil dari demokrasi dalam pemilihan umum adalah
lahirnya para pemimpin pemerintahan. Dalam suatu organisasi maupun
perusahaan pun juga menerapkan demokrasi dalam memilih petinggi-petingginya.
Para pemimpin DPR menjadi wakil kita untuk menentukan kebijakan, salah
satunya kerjasama dengan pengusaha dari PT. Freeport. Tetapi, banyak sekali para
wakil rakyat kita yang menjadi tersangka korupsi yang merugikan rakyatnya
sendiri. Apakah inikah hasil demokrasi yang malah menghancurkan bangsa
Indonesia.

Demokrasi di era sekarang serasa dapat dibeli dengan uang. Kampanye yang
dilakukan oleh calon – calon partai politik tidak lagi bersih dan jujur tetapi
menggunakan suap dan kekuasaan. Suara masyarakat dapat dibeli dengan uang
dan barang, bukan karena kepercayaan. Inilah yang membuat para pemimpin kita
merupakan hasil dari pelaksanaan demokrasi kita yang buruk.

Menggunakan kebebasan dalam berdemokrasi hendaknya harus disertai dengan


tanggung jawab yang besar. Suara dari satu orang pun dapat mempengaruhi
pemikiran orang lain. Kita harus pandai dalam memilah tindakan “berdemokrasi”
yang membangun dan tidak memecah belah. Pemilihan umum hendaknya harus
menjadi saran bagi kita menyampaikan suara kita dengan baik sehingga terpilihlah
wakil rakyat yang memang berpihak kepada rakyat

7
B. KEBERPIHAKAN PEMERINTAH DALAM KASUS FREEPORT

Seperti yang telah dibahas pada subbab sebelumnya, para pemimpin


pemerintahan merupakan salah satu hasil demokrasi dari masyarakat. Segala izin
pelaksanaan kegiatan oleh tambang Freeport diberikan oleh pemerintah kita,
dengan harapan bahwa dengan diperbolehkannya tambang Freeport beroperasi
dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat Timika Papua. Keuntungan yang
dapat diberi berupa bantuan kesehatan, infrastruktur, lahan pekerjaan, dll. Namun
apakah fakta yang berada di lapangan sesuai dengan harapan tersebut?

Berikut ini adalah artikel dari salah satu penulis yaitu Tamsil Linrung selaku
wakil ketua komisi VII DPR Fraksi PKS di media massa online Republika :

“Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta


dolar dolar AS (atau saat itu sekitar Rp 184 miliar) per tahun kepada militer dan
polisi di Papua dari 1998 hingga Mei 2004. Ada juga tambahan 10 juta dolar AS
(sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka
waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar. Itulah gaya Freeport dalam
mengooptasi berbagai elemen (sipil atau masyarakat, aparat keamanan) yang
menggiring mereka melakukan apa pun, termasuk menangkapi siapa pun yang
mengganggu operasi Freeport, bahkan rela menembak rakyatnya sendiri. Sebuah
potret ketundukan rezim kita di bawah kemauan Freeport.”

Selain itu, ada pernyataan menarik yang ditulis oleh Tamsil, yaitu :

“Sejalan dengan era demokrasi yang kini telah bertumbuh di Tanah Air,
Freeport dan/atau AS tidak bisa lagi menerapkan sistem pengamanan secara
mobokratif. Mereka, atas nama keamanan investasi, tidak bisa mendesak
Pemerintah Indonesia untuk mengamankan kegiatan Freeport dengan
mengedepankan laras.”

Pada pernyataan pernyataan pertama diatas memberikan suatu pandangan yang


menunjukkan bahwa PT. Freeport menggunakan aset yang dimiliki perusahaan
untuk memegang kendali elemen penegak hukum Papua agar masyarakat patuh
dan tidak melawan segala kebijakan yang dibuat oleh PT. Freeport. Masyarakat
Timika Papua dikekang dan ditutup suaranya, bahkan hak asasi mereka direnggut
dengan tindakan represif pemerintah dan penegak hukum yang korup, yang tidak
memperdulikan rakyatnya.

Masyarakat Timika Papua dirugikan dengan operasi penambangan dan


eksploitasi sumber daya alam oleh Freeport. Tanah suku Amungme, diambil dan
dihancurkan pada saat Freeport beroperasi. Terjadinya perubahan struktur sungai

8
Ajkwa yang menyebabkan banjir ketika musim hujan ke daerah penduduk. Zat-zat
kimia hasil penambangan menyebabkan sungai Ajkwa tercemar. Lalu dimanakah
pemerintah berpihak dalam kasus ini? Jika pemerintah berpihak kepada
masyarakat yang telah memilihnya mengapa masyarakat Timika masih dirugikan?

Disisi lain, Tamsil pada pernyataan kedua ingin menunjukkan bahwa dengan
bertumbuhnya demokrasi di Tanah Air, PT. Freeport sudah tidak bisa
menggunakan tindakan represif untuk melancarkan kegiatan perusahaannya.
Beliau mengatakan bahwa sekarang masyarakat tidak akan tinggal diam dan
melawan dalam bentuk suatu kekuatan masyarakat apabila merasa tertindas.
Pemerintah pun juga melakukan kewajibannya sebagai pembela rakyat dengan
dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 yang arahnya jelas:
mengubah sistem kerja sama eksplorasi yang tidak lagi atas dasar kontrak karya,
tapi izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

Dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah tersebut, menunjukkan bahwa


pemerintah berpihak kepada rakyat untuk mengatasi tindakan sewenang-wenang
Freeport, dan menunjukkan bahwa hasil demokrasi masyarakat telah berhasil
menghasilkan suatu pemimpin yang berpihak kepada rakyat.

C. KEPUTUSAN DAN SIKAP PEMERINTAH

Kebijakan yang dibuat pemerintah untuk Freeport menyebabkan perseteruan


antara kedua belah pihak. Dengan digantinya Kontrak Karya menjadi Ijin Usaha
Pertambangan Khusus (IUPK), PT. Freeport jadi tidak bisa mengekspor mineral
dalam bentuk konsentrat karena harus mengubah kontrak karyanya menjadi Ijin
Usaha Pertambangan Khusus. Perusahaan asal Amerika Serikat itu mengancam
akan menggugat pemerintah Indonesia melalui arbitrase internasional jika tetap
mewajibkan mengubah status menjadi IUPK.

Marinus Yaung, salah satu dosen di Universitas Cendrawasih Papua, dalam


media BBC mengatakan, "Presiden harus bisa meyakinkan rakyat Papua bahwa
ketika Freeport berada di bawah IUPK ini dan ini keuntungan yang didapat rakyat
Papua. Sebab persoalan utama antara Papua dan Jakarta itu adalah
ketidakpercayaan. Apakah IUPK itu bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat
Papua? Karena selama ini di bawah Kontrak Karya saja, Papua dan Papua Barat
itu adalah daerah termiskin di Indonesia.”. Hal ini menimbulkan pertanyaan
sebenarnya kebijakan yang dihasilkan oleh Pemerintah menguntungkan atau
merugikan rakyat?

Kata – kata Marinus membuat wakil rakyat di daerah pusat agar merefleksi
hasil kebijakan yang telah dibuatnya. Jika mereka mengambil kebijakan sudah

9
mengajak dan mendengar keinginan rakyat, serta melihat sendiri dan merasakan
kondisi rakyat di Papua. Memang demokrasi memang susah dilakukan untuk
massa yang berjumlah banyak, oleh karena itu dipilihlah para wakil rakyat yang
nantinya mewakili banyak suara tersebut dalam menentukan keputusan. Tetapi,
apabila suara wakil rakyat tersebut tidak mencerminkan suara rakyat apa gunanya
dipilih seorang atau sekelompok perwakilan?

Freeport disisi lain juga tidak bisa dirugikan, karena memang tidak bisa
dipungkiri bahwa sebagian profit hasil tambang Freeport digunakan untuk
pemasukan Negara. Pemasukan Negara ini juga nantinya akan digunakan untuk
membangun infrastruktur masyarakat, memberikan jaminan kesehatan dan
pendidikan termasuk untuk masyarakat daerah Timika Papua. Pemerintah tidak
dapat melihat sebelah mata kebijakan yang dibuat hanya untuk memuaskan
keinginan rakyat tetapi merugikan Freeport selaku investor Negara asing.

Kerugian Freeport sebagai investor disinyalir dapat menyebabkan investor lain


enggan untuk menanamkan modalnya di Indonesia. kerjasama Freeport dengan
Indonesia telah berlangsung hamper setengah abad dan telah memberikan kesan
bahwa Freeport identik dengan Papua. Masyarakat disana dipekerjakan dan dibina
agar mendapat kehidupan yang lebih layak. Namun, harus dilihat juga manakah
dampak yang lebih besar dari adanya Freeport di Indonesia.

"Jadi, dari awal sudah salah. Kami, rakyat Papua, akan menuntut supaya
mengakui keberadaan kami dan terlibat sebagai pihak pemilik tanah ulayat. Harus
ada negosiasi antara Jakarta, Papua, dan Freeport McMoran, mesti duduk biacara
bersama. Mereka datang dan pergi, tapi kami tetap akan ada di sini," ujar Markus
selaku Pegiat HAM Papua yang menganggap bahwa pemerintah dan Freeport
sebagai “Pendatang yang tidak tahu diri di tanah Papua”. Keinginan yang saling
bertolak belakang tentu saja menyebabkan suatu kebimbangan bagi pemerintah
bagaimana harus bersikap netral dan tidak terlalu memihak sebelah pihak saja.
Tetapi, karena pemerintah sendiri merupakan manifestasi dari suara rakyat, maka
mau tidak mau suara rakyatlah yang harus diutamakan dalam mengambil
keputusan.

D. DEMOKRASI PAPUA & INDONESIA VS FREEPORT

Seluruh masyarakat Indonesia tentu saja telah mendengar bagaimana tindakan


Freeport yang sewenang-wenang dan terkesan tidak patuh terhadap konstitusi
Negara kita. Hukum-hukum yang berlaku seakan dianggap tidak memberikan efek
patuh kepada Freeport. tindakan semena-mena inilah yang membuat masyarakat
Indonesia geram dan menuntut agar izin tambang Freeport segera dicabut.

10
Aliansi Mahasiswa Papua menggunakan hak kebebasan mengemukakan
pendapat di muka umum dengan melakukan demo kepada Freeport pada tanggal 7
April 2017 didepan kantor PT Freeport Indonesia sebagai bentuk demokrasi atas
kerugian masyarakat sekitar. Kekayaan hasil alam dikatakan oleh mereka dibawa
semua ke Jakarta dan masyarakat Papua semakin miskin. Tidak hanya di Papua,
bahkan di Palembang sebanyak 200 aktivis LSM melakukan aksi demo di
bundaran air mancur Palembang pada tanggal 23 maret 2006 yang
mengindikasikan bahwa keinginan Freeport untuk ditutup sudah muncul sejak
lama.

Pegawai Freeport, yang termasuk warga daerah Papua membela PT Freeport


karena dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah tentang izin usaha
penambangan khusus (IUPK), operasi penambangan di Freeport tidak dapat
dilakukan. Pegawai Freeport terpaksa dirumahkan padahal mereka masih punya
keluarga yang harus dinafkahi. Gerakan Solidaritas Peduli Freeport (GSPF)
melakukan demo di halaman kantor sentra pemerintahan kabupaten timika pada
tanggal 23 maret 2017. Mikhael Adii selaku juru bicara GSPF mengatakan
kekecewaannya kepada Bupati Mimika Martinus Olmeng yang pergi sendiri ke
Jakarta untuk meminta saham.

Aksi demo dari kedua belah pihak yang berseteru memang sah dan legal
karena setiap pihak merupakan Warga Negara Indonesia yang memiliki hak untuk
mengemukakan pendapatnya. Tidak ada tekanan dari pihak lain agar pihaknya
membungkam suaranya. Demokrasi seperti ini semoga nantinya dapat
menghasilkan suatu keputusan yang mufakat dari kedua belah pihak agar
keputusan yang diambil dapat disetujui bersama.

11
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan argumentasi hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Negara


kita adalah Negara yang memiliki asas demokrasi yang kental didalam
kesehariannya. Mulai dari aktivitas kecil seperti membagi laman online, membagi
pendapat di media sosial, memberikan kritik dan saran kepada pemerintah melalui
internet sampai demo besar-besaran seperti pada kasus Freeport. unsur demokrasi
juga yang membentuk pemerintah kita saat ini dimana pemerintah kita merupakan
hasil dari suara rakyat yang diharapkan nantinya akan menyuarakan suara rakyat.

Pemerintah yang telah dipilih oleh rakyat harus berpihak kepada rakyat dan
bukan kepada golongan maupun suatu instansi tertentu. Pengambilan kebijakan
hendaknya mempertimbangkan rakyatnya dan memerlukan musyawarah agar
tercipta suatu komunikasi sehingga keinginan rakyat dapat terbentuk kepada
keputusan pemerintah. Masyarakat Indonesia sendiri selain melalui wakilnya,
membantu pemerintah dalam menentukan keputusan dengan cara berdemo agar
pemerintah senantiasa merefleksikan dan mengoreksi hasil kerja serta kebijakan
yang telah dibuat. Demokrasi yang mengutamakan rakyat lah yang memberikan
makna sebenarnya dari demokrasi itu.

B. SARAN

Saran yang ingin diberikan penulis kepada pemerintah adalah agara pemerintah
melakukan suatu musyawarah besar antara masyarakat Papua dan pihak Freeport
agar memperoleh suatu keputusan bersama yang telah disepakati dan ditanda
tangani secepatnya, agar kasus ini segera terselesaikan dan masyarakat Papua
dapat menentukan langkah selanjutnya jika Freeport benar ditutup atau tidak.

12
DAFTAR PUSTAKA

Djumena, E., 2017, Ratusan Karyawan Freeport Geruduk Kantor Pemkab Mimika,
Kompas, Diakses 6 oktober 2017, <
http://regional.kompas.com/read/2017/03/23/10554431/ratusan.karyawan.freep
ort.geruduk.kantor.pemkab.mimika>

Indraningrum, S, 2015, Sudahkah Demokrasi di Indonesia Berjalan Sempurna?,


Kompasiana, Diakses 6 oktober 2017, <
https://www.kompasiana.com/susanaindraningrum/sudahkah-demokrasi-di-
indonesia-sempurna_555465fe6523bd98144aef6a>

Linrung, T., 2015, Freeport, Mobokrasi, dan Demokrasi, Republika, Diakses 6


oktober 2017, < http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-
koran/15/12/09/nz2wsk9-freeport-mobokrasi-dan-demokrasi>

Sutari, T., 2017, Merugikan Masyarakat, Mahasiswa Papua Demo Kantor Freeport,
CNN Indonesia, Diakses 6 oktober 2017, <
http://regional.kompas.com/read/2017/03/23/10554431/ratusan.karyawan.freep
ort.geruduk.kantor.pemkab.mimika>

Wirawan, J, 2017, Freeport dan pemerintah RI berseteru, bagaimana rakyat Papua?,


BBC Indonesia, Diakses 6 oktober 2017, <
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39055464>

13