Anda di halaman 1dari 3

Calvin Vadero Siboro

165120601111052

Critical Review Film Death Poets Society

Tulisan ini berbentuk kritikal review dari film Death Poets Society yang disutradarai oleh Peter
Weir yang dirilis 1989.Film yang berjudul Death Poets Society ini mengambil latar belakang sekolah
khusus laki laki bernama Welton academy di New England pada tahun 50-an. Dimana pada sekolah yang
dikenal eksklusif dengan reputasi hebatnya tersebut setiap murid harus mengikrarkan empat pilar dari
akademi tersebut yaitu tradisi, kehormatan, disiplin, dan excellence. Di akademi tersebut Todd Andeson
(Ethan Hawke) yang pemalu dan kaku bertemu Neil Perry (Robert Sean Leonard) seorang murid ambisius
yang menjadi teman sekamarnya asramanya. Keduanya adalah anak yang mendapatkan tekanan untuk
menjadi apa orang tua mereka inginkan, Todd menjadi pengacara dan Neil menjadi dokter. Namun tanpa
mereka berani menyatakan apa yang mereka inginkan.

Film ini diawali dengan mulai masuknya kembali siswa-siswa di sekolah itu setelah liburan
musim panas. Ada seorang siswa bernama Neil Perry mendapatkan seorang teman sekamar baru yang
bernama Todd Anderson. Todd sendiri sebelumnya tidak bersekolah di Welton Academy. Tetapi, karena
kakaknya (Jeffrey Anderson) yang pernah menjadi siswa teladan dan bersekolah di situ maka dia pun
dipindahkan oleh orang tuanya. Neil dan beberapa orang temannya sering berkumpul untuk belajar
ataupun sekedar merokok yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Seperti kebanyakan siswa di sekolah ini, alasan Neil untuk masuk adalah lebih karena untuk
melaksanakan perintah dari orang tuanya. Oleh karena itu, ketika ayahnya menyuruh untuk
mengundurkan diri dari posisinya sebagai asisten penyunting buku tahunan karena dianggap akan
mengganggu prestasi belajarnya, Neil tidak mampu menolak. Padahal sebenarnya, Neil sangat menikmati
dan menginginkan posisi itu. Kenyataan yang dihadapi oleh Neil itu juga dialami oleh siswa-siswa
lainnya. Pada akhirnya, mereka terbiasa dengan sikap mengalah dan menurut kepada orang tuanya.
Mereka memilih untuk melaksanakan pilihan maupun perintah dari orang tuanya dan melupakan
keinginan mereka sendiri.
Dalam rangka untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang dianut Welton Academy, guru yang
mengajar disana sangat keras dan disiplin terhadap para siswanya. Selain demi prinsip, hal tersebut juga
dilakukan untuk memastikan para siswanya dapat masuk ke universitas unggulan sesuai dengan keinginan
para orang tua siswa. Tidak jarang upaya tersebut menyebabkan proses belajar di kelas menjadi monoton
dan membosankan, seperti menghafal apa yang diajarkan oleh guru maupun yang tertulis di buku. Tetapi
hal itu, seakan-akan tidak menjadi suatu masalah bagi para siswa karena mereka memang telah terbiasa
dengan kondisi seperti itu.
Kondisi yang berbeda dialami oleh para siswa ketika John Keating, guru baru bahasa Inggris
masuk ke kelas. Perbedaan itu terlihat jelas dari metode mengajarnya yang sangat berbeda. Ketika
Keating masuk ke kelas untuk pertama kalinya, para siswa sangat terkejut dan menganggap guru itu aneh.
Tetapi lambat laun, para siswa mulai memahami dan akhirnya mengagumi guru baru tersebut.
Sosok dan cara mengajar Keating yang unik banyak mempengaruhi murid-muridnya, terutama
Neil dan teman-temannya. Mereka menemukan fakta bahwa semasa mudanya dulu, Keating dan teman-
temannya sering berkumpul di sebuah gua untuk membaca puisi dan membentuk komunitas the Dead
Poet’s Society. Klub yang anggotanya gemar membaca puisi dan selalu punya pemikiran berbeda dari
yang lainnya menjadi inspirasi Neil dan kawan-kawan untuk membentuk sebuah klub yang sama. Lambat
laun pemikiran Neil dan teman-temannya terbuka lebar berkat pengajaran yang dilakukan oleh Keating,
terlebih lagi mereka mendapatkan istilah baru yaitu Carpe Diem yang dalam bahasa inggris berarti Seize
The Day yang berarti raihlah kesempatan menjadi motto baru dalam hidup mereka. Terutama Todd,
remaja paling pemalu diantara teman-temannya yang lain yang lambat laun menjadi seorang yang berani
mengutarakan isi hatinya berkat pola pikir Keating yang selalu menginspirasi dan mendukungnya. Knox
berani untuk menyatakan cinta pada Chris. Charlie lebih bebas mengekspresikan dirinya. Pittsie dan
Meeks berhasil merakit radio buatan mereka. Neil untuk pertama kalinya menjadi tahu apa yang dia
inginkan dan ingin melakukan apa di masa depannya.
Film ini merupakan sebuah cerita yang bisa dibilan banyak mempunyai pesan moral sekaligus
menyindir pemikiran-pemikiran Orthodox atau pemikiran kaum kolot pada masanya. Freethinkers adalah
jargon yang selalu diucapkan oleh John Keating. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, seize the day!
Semua perkataan yang meluncur dari mulut Keating seolah-olah merasuk kedalam diri Neill, Todd, Knox
dan Dalton. Neill yang notabene seorang murid yang paling pandai tahu bahwa berakting adalah
kegemarannya dan impiannya disamping mendapat nilai bagus terus-menerus di sekolah, kemudian Knox
mempraktekan betul apa itu yang disebut seize the day dengan cara menemui gadis pujaan hatinya walau
dia tahu bahwa gadis yang disukainya sudah dimiliki orang lain, dan Todd, remaja pemalu yang akhirnya
bisa mengungkapkan isi hatinya dengan lantang ke seluruh orang. Betul, mereka adalah para pemuda
yang tahu dan paham betul makna pelajaran yang diberikan oleh Keating di setiap kelasnya, tahu betul
bahwa menjadi seorang yang bisa menikmati kehidupan, cinta, dan keberadaan diri adalah modal penting
untuk menjalanai hidup ini selain menjadi bankir, pengacara maupun seorang dokter yang sukses.
Akan tetapi apa yang diajarkan oleh John Keating dianggap tidak baik oleh pihak sekolah karena
melenceng dari prinsip akademi Welton. Hal ini memunculkan berbagai permasalahan, terlebih lagi
adanya permasalahan antara Neil dengan orangtuanya yang tidak sependapat. Neil ingin mengembangkan
bakat beraktingnya tetapi orangtuanya ingin dia menjadi dokter. Sehingga hal ini membuat Neil tertekan.
Ia semakin tertekan dan akhirnya melakukan bunuh diri sebagai protesnya kepada orangtuanya dan
sebelum bunuh diri ia memberikan pesan “Ia merencanakan hidupku tapi tak pernah menanyakan apa
yang aku inginkan”. Pesan ini menjadi sebuah senjata bagi orangtuanya untuk mencari penyebab Neil
bunuh diri. Orangtua Neil bekerjasama dengan pihak sekolah untuk mengusut tuntas permasalahan ini dan
yang mereka curigai adalah guru sastra inggris yang tidak lain adalah John Keating. Alhasil John Keating
pun dikeluarkan dari sekolah. Akan tetapi saat akan berpamitan para siswa yang dulu diajarnya
merasakan keberatan sehingga mereka melakukan suatu seperti yang dulu pernah diajarkan oleh Keating.

Film ini adalah film yang sangat menginspirasi sekali bagi kehidupan, terutama dengan obyeknya
yaitu para remaja yang masih berumuran 17 tahun dimana anak-anak tersebut menjadi harapan orang tua
di masa yang akan datang untuk merah kesuksesan. Namun jika kita melihat konflik yan terjadi di film
tersebut kebanyakan orang tua tidak memperhatikan minat serta bakat dari anaknya sendiri, seharusnya
sebagai orang tua harus mendukung apa yang disenangi dan digemari anaknya bukan malah menekan
anaknya. Serta sekolah juga selalu berpegang pada prinsipnya dan tidak mau mengembangkan proses
belajarnya yang mampu menarik siswa dalam mencerna dan memahami mata pelajaran yang diperoleh.
Kebanyakan kebijakan yang diterapkan kurang berpihak kepada siswa dan cenderung menjadikan siswa
menjadi apatis dan individualis. Seharusnya antara guru, orangtua dan sekolah melakukan segala
kebijakan yang tidak merugikan siswa. Siswa harus lebih diajak aktif dalam berbagai pembelajaran yang
dilakukan supaya mereka tidak hanya manghafal dan memahami tetapi juga melaksanakannya dalam
kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran yang mereka peroleh benar-benar memiliki kegunaan dalam
kehidupannya di masa mendatang.
Dalam film ini Sutradara menegaskan bahwa kebebasan itu menentukan masa depan itu adalah
hak anak itu sendiri tanpa terpengaruh dari orangtua. Di dalam film ini dijelaskan bahwa sulitnya anak
anak itu dalam menentukan masa depan nya sendiri karena adanya paksaan dari sekolah dan orangtua
mereka sendiri. Orangtua mereka memaksakan kehendaknya dan membuat si anak merasa bahwa hidup
mereka itu adalah milik orangtua mereka.

Dalam film ini Sutradara sudah memaparkan hal-hal gila yang dilakukan sekelompok anak untuk
mendapatkan kebebasan mereka yang tidak dapat mereka rasakan selama ini melalui seorang guru yang
sangat mengagumi dan memegang teguh arti sebuah kebebasan. Tetapi pada ending film ini tidak
dijelaskan bagaimana kelanjutan hidup sekelompok anak anak itu setelah temannya meninggal dunia.
Selain itu Guru kontroversial mereka yaitu Guru Keating tidak dijelaskan apa yang selanjutnya dilakukan
guru tersebut setelah dipecat dari sekolah.

Dalam film ini juga tidak dijelaskan apakah orangtua sekelompok anak itu akan menuruti
kemauan anak anaknya setelah kejadian bunuh diri tersebut atau malah mengekang anak anaknya.
Sebaiknya sutradara memberikan ending film yang lebih jelas dengan adanya penyelesaian dari kasus
bnuh diri tersebut dan memberikan ending dimana orangtua mereka menjadi terbuka akan kemauan dan
kemampuan anak anak mereka.

Secara keseluruhan, dapat diambil beberapa kesimpulan dari film ini. Kesimpulan yang pertama
adalah, film ini sangat bagus dan sangat menginspirasi bagi orangtua agar tidak memaksakan kehendak
mereka terhadap masa depan si anak. Orangtua harus melihat kemauan dan kemampuan si anak agar si
anak dapat menetukan pilihan hidupnya dengan benar. Kesimpulan kedua, film ini tidak memiliki ending
yang bagus karena tidak memiliki penjelasan dari kematian Neil dan bagaimana nasib teman teman neil
akibat kematiannya.