Anda di halaman 1dari 18

BAB III

LEGALITAS TRANSAKSI E-COMMERCE DI TINJAU DARI HUKUM

PERIKATAN

A. Tinjaun Umum Transaksi E-Commerce

Transaksi yang dilakukan secara Elektronis pada dasarnya adalah perikatan

ataupun hubungan hukum yang dilakukan secara Elektronis dengan memadukan

jaringan sistem Elektronis oleh keberadaan jaringan komputer gobal atau internet.

Hubungan hukum merupakan hubungan antara dua pihak atau lebih (subjek

hukum) yang mempunyai akibat hukum (menimbulkan hak dan kewajiban) dan diatur

oleh hukum. Dalam hal ini hak merupakan kewenangan atau peranan yang ada pada

seseorang (pemengangnya) untuk berbuat atas sesuatu yang menjadi obyek dari

haknya itu terhadap orang lain. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus

dipenuhi atau dilaksanakan oleh sesorang untuk memperoleh haknya atau karena

telah mendapatkan haknya dalam suatu hubungan hukum. Obyek hukum adalah

sesuatu yang berguna, bernilai, berharga bagi subyek hukum dan dapat digunakan

sebagai pokok hubungan hukum. Sedangkan subyek hukum adalah segala sesuatu

yang dapat menjadi pendukung hak dan kewajibannya atau memiliki kewenangan

hukum.

Dalam lingkup privat, hubungan hukum tersebut akan mencakup hubungan

atar individu, sedangkan lingkup publik, hubungan hukum tersebut akan mencakup

hubungan antar warga negara dengan pemerintah maupun hubungan antar sesama

32
33

anggota masyarakat yang tidak dimaksudkan untuk tujuan perniagaan, yang antara

lain berupa pelayanan publik dan transaksi informasi antar organisasi pemerintah

sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundangan-undangan, seperti Inpres


Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan Strategi Nasional Pengembangan e-

goverment.

Dalam kegiatan perniagaan, transaksi memilki peranan yang sangat penting.

Pada umumnya makna transaksi seringkali direduksi sebagai perjanjian jual beli

antara pihak yang bersepakat untuk itu, padahal dalam perspektif yuridis,
terminologi

transaksi tersebut pada dasarnya ialah keberadaan suatu perikatan maupun hubungan

hukum yang terjadi antara para pihak. Makna yuridis transaksi pada dasarnya lebih

ditekankan pada aspek materiil dari hukumnya secara formil. Oleh karena itu

keberadaan ketentuan hukum mengenai perikatan tetap mengikat walaupun terjadi

perubahan media maupun perubahan tata cara bertransaksi. Hal ini tentu saja
terdapat

pengecualian dalam konteks hubungan hukum yang menyangkut benda tidak

bergerak, sebab dalam konteks tersebut perbuatannya sudah ditentukan oleh hukum,

yaitu harus dilakukan secara �terang� dan �tunai�.

Dalam lingkup keperdataan khususnya aspek perikatan, transaksi tersebut

akan merujuk keperdataan khususnya aspek perikatan, makna transaksi hukum secara

Elektronik itu sendiri akan mencakup jual beli, lisensi, asuransi, lelang dan
perikatan-

perikatan lain yang lahir sesuai dengan perkembangan mekanisme perdagangan di

masyarakat. Dalam lingkup publik, maka hubungan hukum tersebut akan mencakup
34

hubungan antara warga negara dengan pemerintah maupun hubungan antara sesama

anggota masyarakat yang tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan perniagaan.

Hubungan hukum kontrak Elekrtonik timbul sebagai perwujudan dari

kebebasan berkontrak, yang dikenal dalam KUHPerdata. Asas ini disebut pula

dengan freedom of contract atau laissez faire. Dalam Pasal 1338 KUHPerdata

dinyakatan �semua perjanjian yang dibuat secara sah, berlaku halnya undang-undang

bagi mereka yang membuatnya�. Asas kebebasan berkontrak disebut dengan �sistem

terbuka�, karena siapa saja dapat melakukan perjanjian dan apa saja dapat dibuat
dalam perjanjian itu.

Dengan sederhana perjanjian mempunyai kekuatan mengikat sama dengan

undang-undang, bagi mereka yang membuat perjanjian. Pengertian berlaku bagi

pihak yang melakukan perjanjian, mempunyai konsekuensi bahwa hanya kepada

pihak yang ikut melakukan perjanjian itulah yang berlaku perjanjian tersebut.
Dengan

demikian pihak ketiga atau pihak luar tidak dapat menuntut suatu hak berdasarkan

perjanjian yang dilakukan pihak-pihak yang melakukan perjanjian tersebut.

B. Pengertian E-Commerce

Electronik Commerce atau disingkat E-Commerce adalah kegiatan bisnis yang

menyangkut konsumen (consumers), manufaktur (manufacturers), service provider,

dan perdagangan perantara (intermediaries) dengan menggunakan jaringan-jaringan

komputer (computer networks), yaitu E-Commerce sudah meliputi seluruh spektrum

kegiatan komersial. Onno w. Purbo dan Aang Arif Wahyudi mencoba


35

menggambarkan E-Commerce sebagai suatu cakupan yang luas mengenai teknologi,

proses dan praktik yang dapat melakukan transaksi bisnis tanpa menggunakan kertas

sebagai sarana mekanisme transaksi . Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara

seperti melalui e-mail atau bisa melalui World Wibe Web1.

Sementara itu, Kamlesh K. Bajaj dan Debjani Nag pengarang buku E-

commerce The Cutting Edge of Business (1999:12) menyatakan bahwa E-commerce

adalah pertukaran informasi bisnis tanpa menggunakan kertas (the paperless

exchange of business information), melaikan melalui EDI (Electronic Data

Exchange) E-mail, EBB (Elektronik Bulletin Board) Electronic Fund Transfer dan

teknologi-teknologi lainnya yang menggunakan jasa jaringan (net).

Di samping definisi di atas, Bajaj dan Debjani mempertegas pendapatnya

dengan merujuk kepada definsi yang dibuat oleh UNCITRAL yang menyatakan,
bahwa secara singkat E-commerce didefinisikan sebagai �setiap
aktivitas

perdagangan yang dilaksanakan dengan cara melakukan pertukaran informasi yang

diberikan, dan diterima atau disimpan melalui jasa elektronik, optik atau alat
serupa

lainnya termasuk, tetapi tidak terbatas pada EDI, e-mail, telegram, telex atau

telekopi� (Pasal 1 dan 2 UNICITRAL, Modal Law).

Menurut WTO E-Commerce adalah suatu proses meliputi produksi, ditribusi,

pemasaran, penjualan dan pengiriman barang serta jasa melalui Elektronis.

1 Onno w.Purbo dan Aang Arif Wahyudi, Mengenal e-Commerce (Jakarta: Elex Media
Komputindo, 2001), h.1-2.
36

Sedangkan menurut para akademisi yang mendefinisikan E-Commerce seperti

menurut Ding E-Commerce adalah transaksi komersial antara penjual dan pembeli

atau pihak-pihak lainnya dalam hubungan kontrak yang menggunakan media

elektronik atau digital yang dalam prosesnya tidak diperlukan temu muka dan

transaksi dilakukan secara lintas batas. Menurut Kalakita


dan Whinston

mendefinisikan E-Commerce dalam beberapa definsi di antara adalah sebagai berikut:

a. E-Commerce adalah aktivitas pengiriman komunikasu dan informasi,


produk-produk atau jasa, atau pembayaran yang dilakukan melalui
telepon, jaringan-jaringan komputer atau sarana-sarana Elektronis lainya.
b. Proses bisnis dengan mengaplikasikan teknologi untuk melakukan
transaksi-transaksi bisnis atau alur kerja.
c. Sarana yang memungkinkan perusahaan-perusahaan, konsumen-
konsumen dan menajamen perusahaan untuk menurunkan biaya-biaya
pelayanan.
d. Sarana yang memungkinkan dilakukannya penjual dan pembelian produk
dan infomasi melalui internet dan layanan-layanan online lainya.

E-commerce merupakan bidang yang multidisipliner (multidiciplinary) yang

mencankup bidang-bidang teknik seperti jaringan data telekomunikasi, pengamanan,

penyimpanan, dan pengambilan data (retrieval) dari multi media, bidang-bidang

bisnis seperti pemasaran (marketing), pembelian dan penjualan ( Procurement and


purchasing), penagihan dan pembayaran (billing and payment), manajemen jaringan

ditribusi (supply chain management), dan aspek-aspek hukum seperti information

privacy, hak milik intelektual (intelectual property), perpajakan (taxation),

pembuatan perjanjian, dan penyelesaian hukum lainnya. Jadi secara singkat dapat

dideskripsikan, bahwa E-commerce adalah suatu bentuk bisnis modern melalui sarana

internet, karenanya E-commerce dapat dikatakan sebagai perdagangan di internet.


37

For Electronic Commerce secara sederhana mendefinisikan E-Commerce

sebagai mekanisme bisnis secara elektronis. CommerceNet, sebuah konsorsium

industri memberikan definisi lengkap yaitu penggunaan jaringan komputer sebagai

sarana penciptaan relasi bisnis. Tidak puas dengan definisi tersebut Commerce Net

menambahkan bahwa di dalam E-Commerce terjadi proses pembelian dan penjualan

jasa atau produk antara dua belah pihak melalui internet atau pertukaran dan

distribusi informasi antar dua pihak dalam satu perusahaan dengan menggunakan

internet. Sementara itu Amir Hatman dalam bukunya Net Ready : Strategies for

Success in the E-Conomy secara lebih terperinci lagi mendefinisikan E-Commerce

sebagai suatu mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada

transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai medium

pertukaran barang atau jasa baik antara dua institusi (Business to business) maupun

antar institusi dan konsumen langsung (Business to Consumer2). Jadi kesimpulanya

E-Commerce adalah suatu transaksi komersial memelalui jaringan komunikasi yang

dapat berupa fax, e-mail� telegram� EDI (Electronic Data Interchange), dan sarana

Elektronis lainnya meliputi kegiatan tukar menukar infomasi, iklan, pemasaran,

kontrak dan kegiatan perbankan melalui internet.

C. E-Commerce Dalam Perspektif Hukum Kontrak


2 Richardus Eko Indrajit, E-Commerce: Kiat dan Strategi Bisnis Di Dunia Maya,
(Jakarta:
PT.Elex Media Komputindo, 2001), h.3.

38

Sekalipun kontrak Elektronik merupakan suatu fenomena baru, tetapi semua

negara menerapkan pengaturan hukum kontrak yang telah ada dengan menerapkan

asas-asas universal tentang pembuatan suatu perjanjian seperti asas konsensual,


asas

kebebasan berkontrak, asas itikad baik dan syarat sahnya perjanjian. Kontrak

Elektronis termasuk dalam kategori kontrak tidak bernama yaitu perjanjian-


perjanjian

yang tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tetapi terdapat dalam

masyarakat akan tetapi lahirnya perjanjian tersebut tetap berdasarkan pada

kesepakatan atau party otonomi dan berlaku Pasal 1338 Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata tentang sahnya suatu perjanjian. Demikian juga tentang syarat sahnya

perjanjian ElektroniK tetap berlaku Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata mencerminkan asas konsensualisme.

Di dalam kontrak Elektronis kesepakatan merupakan suatu hal yang sangat

penting, hal ini disebabkan karena para pihak tidak bertemu secara langsung
sehingga

diperlukan suatu pengaturan tentang kapan kesepakatan tersebut terjadi. Di


Indonesia,

untuk menentukan adanya kesepakatan maka dapat digunakan beberapa teori yaitu:

a. Teori kehendak yang mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak
pihak penerima dinyatakan

b. Teori pengiriman yang menyatakan kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang
dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima tawaran

c. Teori pengetahuan yang menyatakan bahwa pihak yang menawarkan seharusnya


sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima

d. Teori kepercayaan mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat pernyataan


kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarakan.
39

Perjanjian atau kontrak melalui Elektronis juga diatur di dalam Undang-

Undang No.11 , tahun 2008 tentang informasi dan transaksi Elektronis antara lain di

dalam bab penjelasan yang memberi definisi kontrak Elektronis yaitu perjanjian para

pihak yang dibuat melalui sistem Elektronis. Selanjutnya Pasal 18 menyatakan bahwa

transaksi Elektronis yang dituangkan ke dalam kontrak Elektronis mengikat para

pihak. Dengan berlakunya Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik tersebut

maka kedudukan kontrak Elektronis menjadi semakin jelas yaitu sama dengan

kontrak biasa.

D. Legalitas Transaksi E-Commerce Di Tinjau Dari Hukum Perikatan

Perjanjian yang dinyatakan sah adalah suatu perjanjian yang memenuhi empat

syarat yang terdapat dalam pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu:

1. Sepakat Mereka Yang Mengikatkan Dirinya

Suatu kesepakatan selalui diawali dengan adanya suatu penawaran oleh suatu

pihak dan dilanjutkan dengan adanya tanggapan berupa penerimaan oleh pihak lain.

Jika penawaran tersebut tidak ditanggapai ayai direspon oleh pihak lain maka dengan

demikian tidak aka nada kesepakatan. Karena itu diperlukan dua pihak intuk

melahirkan suatu kesepakatan.

Pada perjanjian jual beli secara langsung, kesepakatam depat dengan mudah

diketahui. Sebab kesepakatan dapat langsung diberikan secara lisan maupun tulisan.

Tetapi dalam perjanjian tersbut tidak diberikan secara langsung melainkan melalui
40

media elektronik dalam hal ini adalah internet. Dalam transaski E-Commerce, pihak

yang memberikan penwaran adalah pihak penjual yang dalam hal ini menawrkan

barang-barang daganganya melalui website yabg dirancang agar menarik untuk


disinggahi. Semua pihak pengguna internet (netter) dapat dengan bebas masuk untuk

melihat took virtual tersebut atau untuk membeli barang yang mereka butuhkan atau

minati.

Jika memang pembali tertarik untuk membeli suatu barang maka ia hanya

perlu mengklik baramg yang sesuai dengan keinginanya. Biasanya setelah pesanan

tersebut sampai di tempat penjual maka penjual akan mengirim e-mail atau melalui

telepon untuk mengkonfirmasi pesanan tersebut kepada konsumen.

2. Kecapakan Untuk Membuat Suatu Perikatan

Pada dasarnya semua orang adalah cakap untuk membuat sepekatan, kecuali

jika ia oleh undang-undang dinyatakan tidak cakap. Yang tak cakap menurut undang-

undang adalah mereka yang belum dewasa (genap berusia 21 tahun atau mereka yang

belum berusia 21 tahun tetapi telah menikah) dan mereka yang dibawah pengampuan

(gila, dungu, mata gelap, lemah akal dan pemboros). Dalam transaski E-Commrce

sangat sulit menentukan sesorang yang melakukan transaski telah dewasa atau tidak

berada di bawah pengampuab, karean ptoses penwaran dan peneriamaan tidak secara

langsung dilakukan tetapi hanya melalui media virtual yang rawan penipuan. Jika
41

ternyata yang melakukan transaksi adalah orang yang tidak cakap maka pihak yang

dirugikan dapat menuntut agar perjanjian dibatalkan.

3. Sesuatu hal tertentu

Hal tertentu menurut undang-undang adalah prestasi yang menjadi pokok

perjanjian yang bersangkutan. Barang yang dimaksudkan dalam perjanjian paling

sedikit harus ditentukan jenisnya, undang-undang tidak mengharuskan barang

tersebut sudah ada atau belum di tangan debitur pada saat perjanian dibuat dan

jumlahnya juga tidak perlu disebutkan asal saja kemudian dapat dihitung atau
ditetapkan.

Ada barang tertentu yang tidak boleh diperjualbelikan dalam transaksi E-

Commerce , seperti misalnya memperjualbelikan hewan. Kemudain ada kendala juga

dalam melakukan jual beli melalui E-Commerce. Ada barang-brang yang tidak dapat

dijual beli melalui kesepakatan on-line , seperti jual beli tanah yang mensyaratkan

jual beli tanah harus dituangkan dalam akta yaitu akta Pejabat Pembuat Akta Tanah.

4. Sesuatu Sebab yang Halal

Sebab yang halal adalah isi dari perjanjian dan bukan sebab para pihak

mengadakan perjanjian. Isi perjanjian tersebut haruslah sesaui dengan undang-undang

dan tidak berlawanan dengan kesusilaan baik dan ketertiban umum.

5. Saat Terjadinya Perjanjian Jual Beli


42

Jual beli dianggap sudah terjadi antara kedua belah pihak seketika setelah

mereka mencapai sepakat tentang barang dan harga, meskipun barang itu belum

diserahkan maupun harganya belum dibayar. Dalam transaksi E-Commerce, tidak ada

proses tawar menawar seperti pada transaksi jual beli di pasar secara langsung.

Barang dan harga yang ditawarkan terbatas dan telah ditentukan oleh penjual. Jika

pembeli tidak setuju atau tidak sepakat maka pembeli bebas untuk tidak meneruskan

teransaksi. Selanjutnya, pembeli dapat mencari website atau took lainnya yang lebih

sesuai dengan keinginannya. Kesepakatan dihasilkan dalam transaksi E-Commerce

jika pembeli menyepakati barang dan harga yang ditawarkan oleh penjual

(merchant)3

Dalam hal tidak dipenuhinya unsur pertama dan unsur kedua maka kontrak

tersebut dapat dibatalkan. Adapun apabila tidak terpenuhinya unsur ketiga dan unsur

keempat, maka kontrak tersebut batal demi hukum. Mengenai barang-barang yang

dapat dijakina objek dari suatu persetujuan, maka Pasal 1332 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata menyatakan keharusan, bahwa barang tersebut harus diperdagangkan

dan Pasal 1333 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa

barang tersebut dapat ditentukan jenisnya ataupun dihitung.

6. Isi suatu perjanjian

3 Endom Makarim, Komliasi Hukum Telematika , (Jakarta: PT. Raja Grafindo Perdasa),
h.
234-237.
43

Suatu persetujuan tidak hanya mengingat apa yang dengan tegas ditentukan di

dalamnya, melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifatnya persetujuan dituntut

berdasarkan keadilan, kebiasaan atau Undang-Undang (Pasal 1339 Kitab Undang-

Undang Hukum Perdata). Syarat-syarat yang selalu diperjanjikan menurut kebiasaan,

harus dianggap telah termasuk dalam suatu persetjuan, walaupun tidak dengan tegas

dimaksudkan di dalamnya (Pasal 1347 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

7. Ingkar janji dan ganti rugi

Seorang debitur harus dihukum untuk mengganti biaya kerugian dan bunga,

apabila ia tidak dapat membutikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau

tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan tersebut disebabkan oleh suatu

yang tidak terduga, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya walaupun

tidak ada iktikad buruk kepadanya (Pasal 1244 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata). Penggantian biaya kerugian dan bunga, karena tidak dipenuhinya perikatan

mulai diwajibakan, apabila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai

dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui

waktu yang telah ditentukan (Pasal 1234 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

Tidak ada penggantian biaya kerugian dan bukan, apabila karena keadaan memaksa
atau kerena hal yang terjadi secara kebetulan, debitur terhalang untuk memberikan

atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau melakukan sesuatu perbuatan terlang

baginya (Pasal 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


44

E. Pembuktian Hukum Terhadap Data Elektronik

Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik adalah hal yang berkaitan

dengan masalah kekuatan dalam sistem pembuktian dari Informasi, Dokumen, dan

Tanda Tangan Elektronik. Pengaturan Informasi, Dokumen, dan Tanda Tangan

Elektronik, dituangkan dalam Pasal 5 ayat 1 dan 2 yang menyebutkan bahwa

�Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya

merupakan alat bukti hukum yang sah� (Pasal 5 ayat 1), �Informasi Elektronik

dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara

yang berlaku di Indonesia�( Pasal 5 ayat 2)

Pasal 12 ayat 1 Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik yang

menyebutkan bahwa �Setiap Orang yang terlibat dalam Tanda Tangan Elektronik

berkewajiban memberikan pengamanan atas Tanda Tangan Elektronik yang

digunakannya�. Secara umum dikatakan bahwa bahwa Informasi Elektronik dan/atau

Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah,

yang merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang

berlaku di Indonesia. Demikian halnya dengan Tanda Tangan Elektronik, memiliki

kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah. Namun pembuatan tanda tangan

elektronik tersebut harus memenuhi persyaratan-persyaratan seperti yang telah

ditentukan.
45

Pasal 5 ayat 1 samapi dengan ayat 3, secara tegas menyebutkan: Informasi


Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat

bukti hukum yang sah dan merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai

dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur

dalam Undang-Undang ini. Namun dalam ayat (4) ada pengecualian yang

menyebutkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tidak berlaku

untuk: (a). surat yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk tertulis;

dan (b). surat beserta dokumennya yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam

bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.

Pasal 11 menyebutkan, Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum

dan akibat hukum yang sah selama memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a). data

pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada Penanda Tangan; (b). data

pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses penandatanganan elektronik

hanya berada dalam kuasa Penanda Tangan; (c). segala perubahan terhadap Tanda

Tangan Elektronik yang terjadi setelah waktu penandatanganan dapat diketahui; (d).

segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait dengan Tanda Tangan

Elektronik tersebut setelah waktu penandatanganan dapat diketahui; (e). terdapat


cara

tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa Penandatangannya; dan (f).

terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa Penanda Tangan telah memberikan

persetujuan terhadap Informasi Elektronik yang terkait.


46

Sebagaimana telah dikemukakan berkembangnya penggunaan sarana

elektronik dalam berbagai transaksi, di samping memberikan manfaat yang positif

yakni adanya kemudahan bertaransaksi, juga memberikan manfaat yang sangat besar

bagi penyimpanan dokumen sebagai hasil kegiatan usaha yang dilakukan. Namun,

memang diakui bahwa disamping keuntungan tersebut dalam penggunaan sarana

elektronik terdapat pula kekurangan atau kelemahannya apabila dihadapkan pada

masalah alat bukti di pengadilan.


F. Jenis-jenis Transaksi Electronic Commerce (E-Commerce)

Pada dasarnya, perdagangan/transaksi E-Commerce dapat di kelompokkan

menjadi 2 (dua) bagian besar yaitu : transaksi Busines to Business (B to B), dan

Business to Consumer (B to C)4. Dua kelompok inilah yang menyelimuti hampir

semua transaksi E-Commerce yang ada. Business to Business merupakan sistem

komunikasi bisnis on-line antar pelaku bisnis. Para pengamat E-Commerce

mengakui akibat terpenting adanya sistem komersial yang berbasis web tampak pada

transaksi Business to Business.

a. Bisnis ke Bisnis (Business to Business)

4 Lebih lanjut dalam Esther Dwi Magfirah, dijelaskan bahwa Business to consumer e-
commerce berhubungan dengan consumer life cycle dari awareness sebuah produk pada
prospek
costumer sampai dengan order dan pembayaran atau juga sampai dengan pelayanan dan
dukungan
kepada customer. Alat yang digunakan dalam cycle ini adalah business to customer
web site.
Sedangkan Business to business e-commerce melibatkan cycle dari awaereness, riset
produk,
pembandingan, pemilihan supplier sourching, transaksi fulfilment, post sales
support. Alat yang
berperan adalam EDI, dan business to business web site, sebagaimana dikutip dari
Komputer No. 175
edisi juli 2000, hlm.4.
47

Bisnis ke bisnis merupakan sistem komunikasi bisnis antar pelaku bisnis atau

dengan kata lain transaksi secara elektronik antar perusahaan (dalam hal ini pelaku

bisnis) yang dilakukan secara rutin dan dalam kapasitas atau volume produk yang

besar. Aktivitas E-Commerce dalam ruang lingkup ini ditujukan untuk menunjang

kegiatan para pelaku bisnis itu sendiri. Pebisnis yang mengadakan perjanjian tentu

saja adalah para pihak yang bergerak dalam bidang bisnis yang dalam hal ini

mengikatkan dirinya dalam suatu perjanjian untuk melakukan usaha dengan pihak

pebisnis lainnya. Pihak-pihak yang mengadakan perjanjian dalam hal ini adalah
Internet Service Provider (ISP) dengan website atau keybase (ruang elektronik), ISP

itu sendiri adalah pengusaha yang menawarkan akses kepada internet.

Sedangkan internet merupakan suatu jalan bagi komputer- komputer untuk

mengadakan komunikasi bukan merupakan tempat akan tetapi merupakan jalan yang

dilalui. Dilihat dari karakteristiknya, transaksi E-Commerce B to B, mempunyai

karakteristik sebagai berikut:

1. Tranding partners yang sudah saling mengetahui dan antara mereka


sudah saling terjalin hubungan yang berlangsung cukup lama. Pertukaran
informasi hanya berlangsung di antara mereka dan karena sudah sangat
mengenal, maka pertukaran informasi tersebut dilakukan atas dasar
kebutuhan dan kepercayaan;
2. Pertukaran data dilakukan secara berulang-ulang dan berskala dengan
format data yang telah disepakti. Jadi, service yang digunakan antara
kedua sistem tersebut sama dan menggunakan standar yang sama;
3. Salah satu pelaku tidak harus menunggu patner mereka lainnya untuk
mengirim data; dan
4. Model yang umum digunakan adalah pear to pear, di mana processing
intelegance dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.
48

b . Bisnis ke Konsumen (Business To Consumer)

Business to consumer dalam E-Commerce merupakan suatu transaksi bisnis

secara elektronik yang dilakukan pelaku usaha dan pihak konsumen untuk memenuhi

suatu kebutuhan tertentu dan pada saat tertentu5. Dalam transaksi bisnis ini produk

yang diperjualbelikan mulai produk barang dan jasa baik dalam bentuk berwujud

maupun dalam bentuk elektronik atau digital yang telah siap untuk dikonsumsi.

Business to Consumer (B to C) merupakan transaksi jual beli melalui internet

antara penjual barang dengan konsumen (end user). Business to Consumer dalam E-

Commerce relatif banyak ditemui dibandingkan dengan Business to Business. Dalam

transaksi E-Commerce jenis B to C, hampir semua orang dapat melakukan transaksi

baik dengan nilai transaksi kecil maupun besar dan tidak dibutuhkan persyaratan
yang

rumit. Konsumen dapat memasuki internet dan melakukan pencarian (search)


terhadap apa saja yang akan dibeli, menemukan web site, dan melakukan transaksi.

Dalam transaksi ini, konsumen memiliki bargaining position yang lebih baik

dibanding dengan perdagangan konvensional karena konsumen memperoleh

informasi yang beragam dan mendetail. Kondisi tersebut memberi banyak manfaat

bagi konsumen karena kebutuhan akan barang dan jasa yang diinginkan dapat

terpenuhi. Selain itu juga terbuka kesempatan untuk memilih aneka jenis dan
kualitas

barang dan jasa sesuai dengan keinginan dan kemampuan finansial konsumen dalam

Jay MS ,�Peran E-Commerce dalam Sektor Ekonomi dan Industry� pada seminar sehari
ed.,

aplikasi internet di era millenium ketiga, ( Jakarta 2001), h.7.

49

waktu yang relatif efisien. Karakteristik transaksi E-Commerce Business to Consumer

adalah sebagai berikut :

1. Terbuka untuk umum, di mana informasi disebarkan secara umum pula;


2. Service yang dilakukan juga bersifat umum sehingga mekanismenya dapat
digunakan oleh banyak orang. Contohnya, karena sistem web sudah umum
dikalangan masyarakat, maka sistem yang digunakan adalah sistem web
pula;
3. Service yang diberikan berdasrkan permintaan konsumen berinisiatif
sedangkan produsen harus siap memberikan respon terhadap inisiatif
konsumen; dan
4. Sering dilakukan pendekatan client-server, yang mana konsumen di pihak
klien menggunakan sistem yang minimal (berbasis web) dan pihak
penyedia barang atau jasa (business procedure) berada pada pihak server.
G. Pihak-pihak Dalam Transaksi Electronic Commerce (E-Commerce)

Transaksi E-Commerce melibatkan berbagai pihak, baik yang terlibat secara

langsung maupun tidak langsung, tergantung kompleksitas transaksi yang dilakukan.

Artinya apakah semua proses transaksi dilakukan secara on-line atau hanya beberapa

tahap saja yang dilakukan secara on-line. Apabila seluruh transaksi E-Commerce
dilakukan secara on-line, mulai dari proses terjadinya transaki sampai dengan

pembayaran, Budhiyanto mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat terdiri atas:

a. Penjual (merchant), yaitu perusahaan/produsen yang menawarkan produknya


melalui internet. Untuk menjadi merchant, maka seseorang harus
mendaftarkan diri sebagai merchant acoount pada sebuah bank, tentunya ini
dimaksudkan agar merchant dapat menerima pembayaran dari customer
dalam bentuk credit card.
b. Konsumen/card holder, yaitu orang-orang yang ingin memperoleh produk
(barang atau jasa) melalui pembelian secara on-line, konsumen yang akan
berbelanja di internet dapat berstatus perorangan atau perusahaan. Apabila
konsumen merupakan perorangan, maka yang perlu diperhatikan dalam
transaksi E-Commerce adalah bagaimana sistem pembayaran yang
dipergunakan, apakah pembayaran dilakukan dengan mempergunakan credit
50

card (kartu kredit) atau dimungkinkan pembayaran dilakukan secara


manual/cash. Hal ini penting untuk diketahui, mengingat tidak semua
konsumen yang akan berbelanja di internet adalah pemegang kartu kredit/card
holder. Pemegang kartu kredit (card holder) adalah seseorang yang namanya
tercetak pada kartu kredit yang dikeluarkan oleh penerbit berdasarkan
perjanjian yang telah dibuat.
c. Acquirer, yaitu pihak perantara penagihan (antara penjual dan penerbit) dan
perantara pembayaran (antara pemegang dan penerbit). Perantara penagihan
adalah pihak yang meneruskan tagihan kepda penerbit berdasrkan tagihan
yang masuk kepadanya yang diterbitkan oleh penjual barang/jasa. pihak
perantara penagihan inilah yang melakukan pemabayaran kepada penjual.
Pihak perantara pembayaran (antar pemegang dan penerbit) adalah bank
dimana pemabayaran kredit dilakukan oleh pemilik kartu kredit /card holder,
selanjutnya bank yang menerima pembayaran ini akan mengirimkan uang
pembayaran tersebut kepada penerbit kartu kredit (issuer).
d. Issuer; perusahaan credit card yang menerbitkan kartu. Di Indonesia ada
beberapa lembaga yang diijinkan untuk menerbitkan kartu kredit, yaitu:
a) Bank dan lemabaga keuangan bukan bank. Tidak setiap bank dapat
menerbitkan credit card, hanya bank yang telah memperoleh ijin dari Card
International, dapat menerbitkan credir card, seperti Master dan Visa
Card;
b) Perusahaan non bank dalam hal ini PT. Dinner Jaya Indonesia
Internasioanl yang membuat perjanjian dengan perusahaan yang ada di
luar negeri;
c) Perusahaan yang membuka cabang dari perusahaan induk yang ada di laur
negeri, yaitu American Express.
e. Certification Authorities. Pihak ketiga yang netral yang memegang hak untuk
mengeluarkan sertifikasi kepada merchant, kepada isuuer dan dalam beberapa
hal diberikan pula kepada card holder.

Certification Authorities dapat merupakan satu lembaga pemerintah atau

lembaga swasta. Di Italia, dengan alasan kebijakan publik, menempatkan

pemertintahannya sebagai pemilik kewenangan untuk menyelenggarakan pusat


Certification Authorities. Sebaliknya, di Jerman, jasa sertifikasi terbuka untuk

dikelola oleh sektor swasta untuk menciptakan iklim kompetisi yang bermanfaat bagi

peninggkatan kualitas pelayanan jasa tersebut.


51

Apabila transaksi E-Commerce tidak sepenuhnya dilakukan secara on-line

dengan kata lain hanya proses transaksinya saja yang on-line, sementara pembayaran

tetap dilakukan secra manual/cash, maka pihak acquirer, issuer, dan certification

authority tidak terlibat di dalamnya. Di samping pihak-pihak tersebut di atas,


pihak

lain yang keterlibatannya tidak secara langusung dalam transaksi electronic

commerce yaitu jasa pengiriman (ekspedisi)6. Proses Jual Beli melalui media

elektronik (media elektronik yang digunakan dalam E-Commerce)

Sebagaimana disebutkan pada definisi di atas, ada beberapa peralatan media

atau fasilitas elektronik, yang digunakan dalam proses terjadinya suatu transaksi
E-

Commerce, yaitu EDI (electronic data interchange), telex, fax, EFT (electronic fund

transfer) dan internet. Internet ini pada akhirnya dipecah menjadi Intranet,

Ekstranet,E-mail dan lain-lain. Untuk menjelaskan alat dan media tersebut, berikut
ini

disampaikan beberapa definisinya:

a) Teleks
Teleks adalah suatu bentuk komunikasi antara dua terminal telephone di mana
setiap terminalnya kelihatan seperti dan berfungsi seperti mesin ketik elektrik.
Keduanya digunakan untuk menge-print sebuah data (record) yang
dikomunikasikan7.
b) Fax
Teknologi fax, yang juga sering disebut dengan telekopi, adalah salah satu
bentuk transmisi elektronik yang sesuai dengan standar faksimili yang dibuat
oleh International Telegraph and Telephone Consultative Committee.

6 Didik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom , Cyber Law Aspek Hukum Teknologi
Informasi (Bandung : PT Refika Aditama, 2005), h. 48-59.

7 Benjamin W dan Jane K W, The Law of Electronic Commerce ( T.tp.,New york Aspen
and
Business1999), h. 8.
52
c) EDI (electronic data interchange)
Sebagaimana namanya, EDI adalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk
pertukaran sebuah data. EDI, dapat digunakan untuk mentransmisikan
dokumendokumen secara elektronik seperti dokumen pemesanan pembelian,
invoice, catatan pengangkutan barang, penerimaan advice dan koresponden
bisnis standar lainnya di antara para mitra dagang.
d) Internet
Internet, yang merupakan akronim popular dari Interconnected Network
(jaringan yang saling berhubungan) merupakan generasi pelanjut EDI yang
memiliki fasilitas, jangkauan jaringan dan manfaat lebih dari system
komunikasi yang pernah ada sebelumnya8. Dalam hubungannya dengan dunia
perdagangan, situs atau website biasanya digunakan sebagai ajang atau tempat
dipostingkannnya iklan atau penawaran, atau undangan untuk melakukan
transaksi jual beli. Bahkan dalam perkembangannya selanjutnya situs ini bisa
dijadikan sebagai sarana untuk melakukan sebuah transaksi. Persetujuan atau
penolakan terhadap sebuah item tertentu yang ditawarkan, atau pemesanan
barang-barang tertentu sebagaimana yang diiklankan sangat mungkin untuk
dilakukan melalui situs atau website ini. Bahkan, lebih jauh lagi, pembayaran
menggunakan kartu kredit juga bisa dilakukan melalui situs yang telah
dilengkapi dengan instrumen e-commerce tertentu dan pengamanannya yang
memungkinkan hal tersebut dilakukan. Banyak fungsi yang ditawarkan oleh
situs seperti tersebut diatas itulah yang telah menjadikan internet sebagai
media alternatif dalam dunia perdagangan.

8 Kamlesh K B dan Nebjani Nag, Electronic Commerce the Cutting of Business (New
Delhi:
Tata Mc Graw Hill Publising Company Limited, 2000), h.13-14.