Anda di halaman 1dari 11

PENGAUDITAN I

KERTAS KERJA AUDIT

TUGAS RMK KE - 8

OLEH

KELOMPOK 7

Ni Kadek Yani Andriyani (1607532146)


Ketut Krisna Savitri (1607532151)
Anak Agung Istri Mas Prabha Iswara (1607532152)

PROGAM NON REGULER

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
1. JENIS-JENIS KERTAS KERJA

Dalam rangka mendukung laporan hasil audit, kertas kerja dikelompokkan


dalam daftar utama (lead/top schedule) dan daftar pendukung (supporting schedule):
a) Daftar Utama merupakan rangkuman dari Daftar Pendukung, disusun sesuai
dengan kelompok informasi yang disajikan dalam laporan hasil audit. Memuat
informasi dan kesimpulan hasil audit yang diperlukan untuk penyusunan laporan
hasil audit.
b) Daftar Pendukung memuat tujuan audit, informasi/kegiatan yang diuji, bukti-
bukti/dokumen pendukung yang dikumpulkan, metode penelitian dan analisis
yang dilakukan dalam rangka memenuhi tujuan audit, dan kesimpulan yang
diperoleh, serta dilengkapi dengan data auditor yang menyusun dan tanggal dan
paraf penyusunannya.
Daftar Utama dan Daftar Pendukung merupakan dokumentasi yang terpisah satu
sama lain. Untuk menghubungkan keduanya, kertas kerja harus diberi indeks
(semacam tanda/nomor/kode yang dibuat untuk mempermudah menghubungkan satu
kertas kerja dengan kertas kerja yang lain).

2. MANFAAT KERTAS KERJA

Empat manfaat penting pembuatan kertas kerja adalah untuk:


1) Mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan auditan.
Kertas kerja dapat digunakan oleh auditor untuk mendukung pendapatnya, dan
merupakan bukti bahwa auditor telah melaksanakan audit yang memadai.
2) Menguatkan simpulan-simpulan auditor dan kompetensi auditnya.
Auditor dapat kembali memeriksa kertas kerja yang telah dibuat dalam auditnya,
jika di kemudian hari ada pihak-pihak yang memerlukan penjelasan mengenai
simpulan atau pertimbangan yang telah dibuat oleh auditor dalam auditnya.
3) Mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap audit.
Audit yang dilaksanakan oleh auditor terdiri dari berbagai tahap audit yang
dilaksanakan dalam berbagai waktu, tempat, dan pelaksana. Setiap audit tersebut
menghasilkan berbagai macam bukti yang membentuk kertas kerja.
Pengkordinasian dan pengorganisasian berbagai tahap audit tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan kertas kerja.

1
4) Memberikan pedoman dalam audit berikutnya.
Dari kertas kerja dapat diperoleh informasi yang sangat bermanfaat untuk audit
berikutnya jika dilakukan audit yang berulang terhadap klien yang sama dalam
periode akuntansi yang berlainan, auditor memerlukan informasi mengenai sifat
usaha klien, catatan dan anke akuntansi klien, pengendaian intern klien, dan
rekomendasi perbaikan yang diajukan kepada klien dalam audit yang lalu,
jurnal-jurnal adjustment yang disarankan untuk menyajikan secara wajar laporn
keuangan yang lalu.

3. TANGGUNG JAWAB AUDITOR ATAS KERTAS KERJA

Audit atas laporan keuangan harus didasarkan atas standar auditing yang
ditetapkan IAI. Standar pekerjaan lapangan mengharuskan auditor melakukan
perencanaan dan penyupervisian terhadap audit yang dilaksanakan, memperoleh
pemahaman atas pengendalian intern, dan mengumpulkan bukti kompeten yang
cukup melalui berbagai prosedur audit. Kertas kerja merupakan sarana yang
dilakukan oleh auditor untuk membuktikan bahwa standar pekerjaan lapangan
tersebut dipatuhi.
Dalam melakukan auditnya, auditor harus memperoleh kebebasan dari klien
dalam mendapatkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan auditnya.
Pembatasan terhadap kebebasan auditor dalam menentukan tipe bukti yang
diperlukan dan prosedur audit yang dilaksanakan oleh auditor akan berdampak
terhadap kompetensi dan kecukupan bukti yang diperlukan auditor sebagai dasar
bagi auditor untuk merumuskan pendapatnya atas laporan keuangan klien. Sebagai
akibatnya, kompetensi dan kecukupan bukti audit yang diperoleh auditor akan
mempengaruhi pendapat auditor atas laporan keuangan auditan.
Kertas kerja adalah milik kantor akuntan publik, bukan milik klien atau milik
pribadi auditor. Namun, hak kepemilikan kertas kerja oleh kantor akuntan publik
masih tunduk pada pembatasan-pembatasan yang diatur dalam Aturan Etika
Kompartemen Akuntan Publik yang berlaku, untuk menghindari penggunaan hal-hal
yang bersifat rahasia oleh auditor untuk tujuan yang tidak semestinya. Hampir semua
informasi yang diperoleh audit dicatat dalam kertas kerja, maka bagi auditor, kertas
kerja merupakan hal yang bersifat rahasia.

2
SA Seksi paragraf 08 mengatur bahwa auditor harus menerapkan prosedur
memadai untuk menjaga keamanan kertas kerja dan harus menyimpannya sekurang-
kurangnya 10 tahun, sehingga dapat memenuhi kebutuhan praktiknya dan ketentuan-
ketentuan yang berlaku mengenai penyimpanan dokumen. Karena sifat kerahasiaan
yang melekat pada kertas kerja, auditor harus menjaga kertas kerja dengan cara
mencegah terungkapnya informasi yang tercantum dalam kertas kerja kepada pihak-
pihak yang tidak diinginkan. Misalnya, klien memberitahukan kepada auditor untuk
merahasiakan informasi mengenai gaji direksi, manajer, dan aspek lain usaha
perusahaan, maka auditor tidak boleh melanggar pesan klien tersebut dengan
mengungkapkan informasi tersebut kepada karyawan klien yang tidak berhak untuk
mengetahuinya.
Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik memuat aturan yang berkaitan
dengan kerahasiaan kertas kerja. Aturan Etika 301 berbunyi sebagai berikut:
Anggota Kompartemen Akuntan Publik tidak diperkenankan mengungkapkan
informasi klien yang rahasia, tanpa persetujuan dari klien.
Seorang auditor tidak dapat memberikan informasi kepada pihak bukan klien
kecuali jika klien mengizinkannya. Meskipun kertas kerja dibuat dan dikumpulkan
auditor dalam daerah wewenang klien, dari catatan-catatan klien, serta atas biaya
klien, hak pemilikan atas kertas kerja tersebut sepenuhnya berada di tangan akuntan
publik, bukan milik klien atau milik pribadi auditor. Karena kertas kerja tidak hanya
berisi informasi yang diperoleh auditor dari catatan klien saja, tetapi berisi pula
program audit yang akan dilakukan oleh auditor, maka tidak semua informasi yang
tercantum dalam kertas kerja dapat diketahui oleh klien.
Auditor biasanya menyelenggarakan dua macam arsip kertas kerja untuk setiap
kliennya, yaitu:
1) Arsip kini (current file), yaitu arsip audit tahunan untuk setiap audit yang telah
selesai dilakukan.
2) Arsip permanen (permanent file), yaitu untuk data yang secara relatif tidak
mengalami perubahan.

4. CARA MEMBUAT KERTAS KERJA YANG BAIK

3
Dalarn pembuatan kertas kerja, terdapat sejumlah tehnik dan mekanisme yang
lazim digunakan oleh para auditor berikut ini adalah beberapa tehnik penting yang
harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja:
- Judul. Setiap kertas kerja harus berisi nama klien, judul yang jelas menunjukkan
isi kertas kerja yang bersangkutan, misalnya Rekonsiliasi Bank-Bank BNI, dan
tanggal neraca atau periode yang dicakup oleh audit.
- Nomor Index. Setiap kertas kerja harus diberi index atau nomor referensi,
misalnya A-I, B-2, dan sebagainya, untuk keperluan pemberi identifikasi dan
pengarsipan
- Referensi-silang. Data dalam suatu kertas kerja yang diambil dari kertas kerja
lain atau dipindahkan atau dibawa ke kertas kerja lain, harus diberi referensi
silang dengan nomor index dari kertas-kertas kerja tersebut seperti terlihat dalam
Gambar 4-8.
- Tanda Pengerjaan (tick marks). Tanda pengerjaan atau tick mark adalah
simbol, seperti tanda silang, centang, atau simbol lainnya, yang digunakan pada
kertas kerjaa untuk menunjukan bahwa auditor telah melakukan prosedur audit
tertentu pada bagian yang diberi tanda pengerjaan, atau bahwa tambahan
informai tentang satu hal terdapat pada kertas kerja lain yang ditunukan oleh
tanda pengerjaan yang bersangkutan
- Tanda tangan dan Tanggal. Segera setelah menyelesaikan tugasnya, baik
pembuat maupun orang yang mereview kertas kerja harus menandatangani dan
mencantumkan pada kertas kerja yang bersangkutan. Hal ini diperlukan agar
jelas siapa penanggungjawab dalam permbuatan kertas kerja maupun mereview
kertas kerja.

Terdapat beberapa teknik dalam pembuatan kertas kerja, meliputi:


1) Tentukan tujuan setiap pembuatan kertas kerja.
2) Hindari pekerjaan menyalin
3) Hindari penulisan ulang
4) Berilah pendukung atau penjelasan pada semua akun.
5) Tulislah langkah prosedur audit apa saja yang telah dilakukan.
6) Kertas kerja pemeriksaan harus diindeks

4
7) Pada kertas kerja pemeriksaan harus dicantumkan tentang sifat dari perkiraan
yang diperiksa, prosedur pemeriksaan yang dilakukan dan kesimpulan mengenai
kewajaran perkiraan yang diperiksa.
8) Tuangkan dalam bentuk tulisan
9) Buktikan penjelasan lisan yang diperoleh.
10) Jawablah pertanyaan yang muncul.
11) Kertas kerja harus diparaf oleh orang yang membuat dan mereview working
papers sehingga dapat diketahui siapa yang bertanggung jawab.

Di bagian muka file kertas kerja pemeriksaan harus dimasukkan daftar isi dan
indeks kertas kerja pemeriksaan dan paraf seluruh tim pemeriksa yang terlibat dalam
penugasan audit tersebut

Kecakapan teknis dan keahlian profesional seorang auditor independen agar


tercermin pada kertas kerja yang dibuatnya. Untuk membuktikan bahwa seseorang
merupakan auditor yang kompeten, ia harus dapat menghasilkan kertas kerja yang
benar-benar bermanfaat.

a. Faktor-Faktor yang Harus Diperhatikan Oleh Auditor dalam Pembuatan Kertas


Kerja yang Baik
Kecakapan teknis dan keahlian professional seorang auditor independen akan
tercermin pada kertas kerja yang dibuatnya. Auditor yang kompeten adalah auditor
yang mampu menghasilkan kertas kerja yang benar-benar bermanfaat. Ada lima hal
yang harus diperhatikan untuk memenuhi tujuan ini:
1) Lengkap. Kertas kerja harus lengkap dalam arti:
- Berisi semua informasi yang pokok.
- Tidak memerlukan tambahan penjelasan secara lisan.
2) Teliti. Memperhatikan ketelitian penulisan dan perhitungan sehingga kertas
kerjanya bebas dari kesalahan tulis dan perhitungan.
3) Ringkas. Kertas kerta dibatasi pada informasi yang pokok saja dan yang relevan
dengan tujuan audit yang dilakukan serta disajikan secara ringkas. Harus
menghindari rincian yang tidak perlu, serta merupakan ringkasan dan penafsiran
data dan bukan hanya merupakan penyalinan catatan klien ke dalam kertas kerja.

5
4) Jelas. Penggunaan istilah yang menimbulkan arti ganda perlu dihindari.
Penyajian informasi secara sistematik perlu dilakukan.
5) Rapi. Kerapian dalam membuat kertas kerja berguna membantu auditor senior
dalam me-review hasil pekerjaan stafnya, serta memudahkan auditor dalam
memperoleh informasi dari kertas kerja tersebut

Working trial balance ini mempunyai fungsi yang sama dengan lembar kerja
(work sheet) yang digunakan oleh klien dalam proses penyusunan laporan keuangan.
Dalam penyusunan laporan keuangan, klien menempuh beberapa tahap sebagai
berikut:
a) Pengumpulan bukti transaksi
b) Pencatatan dan Penggolongan transaksi dalam jurnal dan buku pembantu
c) Pembukuan (posting) jurnal ke dalam buku besar
d) Pembuatan lembar kerja
e) Penyajian laporan keuangan

Dalam proses auditnya, auditor bertujuan untuk menghasilkan laporan keuangan


auditan. Adapun tahap-tahap penyusunan laporan keuangan auditan tersebut adalah
sebagai berikut:
a) Pengumpulan bukti audit dengan cara pembuatan atau pengumpulan skedul
pendukung (supporting schedules).
b) Peringkasan informasi yang terdapat dalam skedul pendukung ke dalam skedul
utama ( lead schedules atau top schedules) dan ringkasan jurnal adjustment.
c) Peringkasan informasi yang tercantum dalam skedul utama dan ringkasan
jurnal adjustment ke dalam working trial balance.
d) Penyusunan laporan keuangan auditan.

b. Skedul Utama
Skedul utama adalah kertas kerja yang digunakan untuk meringkas informasi
yang dicatat dalam skedul pendukung untuk akun-akun yang berhubungan. Skedul
utama ini digunakan untuk menggabungkan akun-akun buku besar yang sejenis, yang
jumlah saldonya akan dicantumkan dalam laporan keuangan dalam satu jumlah.

6
Skedul utama memiliki kolom yang sama dengan kolom-kolom yang terdapat
dalam working trial balance. Jumlah total tiap-tiap kolom dalam skedul utama
dipindahkan ke dalam kolom yang berkaitan dengan working trial balance.

c. Skedul Pendukung
Pada waktu auditor melakukan verifikasi terhadap unsur-unsur yang tercantum
dalam laporan keuangan klien, ia membuat berbagai macam kertas kerja pendukung
yang menguatkan informasi keuangan dan operasional yang dikumpulkannya. Dalam
setiap skedul pendukung harus dicantumkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh
auditor dalam memverifikasi dan menganalisis unsur-unsur yang dicantumkan dalam
daftar tersebut, metode verifikasi yang digunakan, pertanyaan yang timbul dalam
audit, serta jawaban atas pertanyaan tersebut. Skedul pendukung harus memuat juga
berbagai simpulan yang dibuat oleh auditor.

d. Pemberian Indeks Pada Kertas Kerja


Pemberian indeks terhadap kertas kerja akan memudahkan pencarian informasi
dalam bebagai daftar yang terdapat diberbagai tipe kertas kerja. Faktor-faktor yang
harus diperhatikan dalam pemberian indeks kertas kerja adalah sebagai berikut:
1) Setiap kertas kerja harus diberi indeks, dapat disudut atas atu di sudut bawah.
2) Pencantuman indeks silang (cross index) harus dilakukan sebagai berikut :
a) Indeks silang dari skedul utama.
b) Indeks silang dari skedul akun pendapatan dan biaya.
c) Indeks silang antarskedul pendukung.
d) Indeks silang dari skedul pendukung ke ringkasan jurnal adjusment.
e) Indeks silang dari skedul utama ke working trial balance.
f) Indeks silang dapat digunakan pula untuk menghubungkan program audit
dengan kertas kerja.
3) Jawaban konfirmasi, pita mesin hitung, print-out komputer, dan sebagainya tidak
diberi indeks kecuali jika dilampirkan di belakang kertas kerja yang berindeks.

e. Metode Pemberian Indeks Kertas Kerja


Ada tiga metode pemberian indeks terhadap kertas kerja :

7
a) Indeks angka. Kertas kerja utama dan skedul utama diberi indeks dengan angka,
sedangkan skedul pendukung diberi subindeks dengan mencantumkan nomor
kode skedul utama yang berkaitan.
b) Indeks kombinasi angka dan huruf. Kertas kerja utama dan skedul utama diberi
kode huruf, sedangkan skedul pendukungnya diberi kode kombinasi huruf dan
angka.
c) Indeks angka berurutan. Kertas kerja diberi angka yang berurutan.

f. Susunan Kertas Kerja


Auditor biasanya menyelenggarakan dua macam arsip kertas kerja untuk setiap
kliennya:
a) Arsip audit tahunan untuk setiap audit yang telah selesai dilakukan, yang
disebut arsip kini (current file)
b) Arsip permanen (permanent file) untuk data yang secara relatif tidak mengalami
perubahan.
Arsip kini berisi kertas kerja yang informasinya hanya mempunyai manfaat
untuk tahun yang diaudit saja. Arsip permanen berisi informasi sebagai berikut:
1) Copy anggaran dasar dan anggaran rumah tangga klien
2) Bagan organisasi dan luas wewenang serta tanggung jawab para manajer
3) Pedoman akun, pedoman prosedur, dan data lain yang behubungan dengan
pengendalian
4) Copy surat perjanjian penting yang mempunyai masa laku jangka panjang.
5) Tata letak pabrik, proses produksi, dan produk pokok perusahaan
6) Copy notulen rapat direksi, pemegang saham, dan komite-komite yang dibentuk
klien. Pembentukan arsip permanen ini mempunyai tiga tujuan yaitu:
a) Untuk menyegarkan ingatan auditor mengenai informasi yang akan
digunakan dalam audit tahun-tahun mendatang.
b) Untuk memberikan ringkasan mengenai kebijakan dan organisasi klien bagi
staf yang baru pertama kali menangani audit laporan keuangan klien
tersebut.
c) Untuk menghindari pembuatan kertas kerja yang sama dari tahun ke tahun.
Analisis terhadap akun-akun tertentu yang relatif tidak pernah mengalami
perubahan harus juga dimasukkan ke dalam arsip permanin. Akun-akun seperti

8
tanah, gedung, akimulasi, depresiasi, investasi, utang jangka panjang, modal saham
dan akun lain yang termasuk dalam kelompok modal sendiri adalah jarang
mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pemeriksaan pertama terhadap akun
tersebut akan menghasilkan informasi yang akan berlaku beberapa tahun, sehingga
dalam audit berikutnya auditor hanya akan memeriksa transaksi-transaksi tahun yang
diaudit yang berkaitan dengan akun-akun tersebut. Dalam hal ini arsip permanen
benar-benar menghemat waktu auditor karena perubahan-perubahan dalam tahun
yang diaudit tinggal ditambahkan dalam arsip permanen, tanpa harus memunculkan
kembali informasi-informasi tahun-tahun sebelumnya dalam kertas kerja tersendiri.

9
Daftar Pustaka

Agoes, Sukrisno. 2006. Auditing. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, Salemba


Empat.
Halim, Abdul 2001. Auditing 1: Dasar-dasar Audit Laporan Keuangan. Edisi
2. Yogyakarta: UPP-AMP YKPN

Jusup, Haryono. 2001. Auditing Buku I BP. Yogyakarta: STIE YKPN

Mulyadi. 2002. Auditing Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat

10