Anda di halaman 1dari 24

A.

Judul Percobaan : Titrasi Penetralan dan Aplikasinya (Asidi-Alkali)


B. Tanggal percobaan :Selasa, 8 November 2016
C. Tujuan Percobaan :1. Menentukan standarisasi larutan basa
2. Menetukan kadar CH3COOH dalam cuka pasar
D. Dasar teori :
Berdasarkan teori Asam Basa Arrhenius , asam didefinisikan sebagai senyawa
yang mengandung ion H+ atau menghasilkan ion H+ ketika bereaksi dengan air. Basa
adalah senyawa yang mengandung ion OH- atau menghasilkan OH- ketika bereaksi
dengan air. Dimana H+ dan OH- saling menetralkan sesuai dengan reaksi
H+ (aq) + OH- (aq) H2O
Teori Bronsted-Lowry memperluas definisi asam dan basa dengan menjelaskan
lebih banyak mengenai suatu larutan kimia. Dalam teori ini, asam didefinisikan
sebagai suatu zat yang dapat memberikan proton kepada zat yang lain. Basa adalah
zat yang menerima proton dari zat lain. Reaksi asam dan basa ini menghasilkan asam
dan basa yang lain (asam-basa konjugat). Sedangkan Menurut lewis, asam adalah
suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas (akseptor pasangan
elektron) dalam suatu reaksi kimia. Basa adalah suatu spesies yang dapat memberikan
pasangan elektron bebas (donor pasangan elektron).
Titrasi adalah suaatu metode yang digunakan untuk menentukan kadar suatu
zat (titer) melalui zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya (titran). Titrasi asam-
basa disebut titrasi aside-alkalimetri. Dasar reaksi pada titrasi penetralan ini adalah
reaksi antara ion hydrogen (H+) yang bersifat asam dan ion hidroksida (OH-) yang
bersifat basa dan membentuk air yang bersifat netral, reaksi ini termasuk reaksi
netralisasi.
Ada dua macam reaksi penetralan, yaitu :
a. Asidimetri
Titrasi penetralan yang melibatkan larutan basa dengan asam yang diketahui
konsentrasinya. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif
terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan larutan
baku asam.
b. Alkalimetri
Titrasi penetralan yang melibatkan larutan asam dengan basa yang diketahui
konsentrasinya. Alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang
bersifat asam dengan menggunakan larutan baku basa. Titrasi asidimetri dan
alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam dan basa diantaranya:
 Titrasi yang melibatkan asam kuat dan basa kuat,
 Titrasi yang melibatkan asam lemah dan basa kuat, dan
 Titrasi yang melibatkan asam kuat dan basa lemah.

Proses analisis untuk menentukan jumlah yang tidak dapat diketahui dari
suatu zat, dengan mengukur volume larutan pereaksi yang diperlukan untuk reaksi
sempurna disebut analisis volumetric. Analisis ini juga menyangkut pengikuran
volume gas.

Dalam analisis volumetric larutan yang akan digunakan disebut larutan


standard, yakni Larutan yang diketahui konsentrasinya. Proses penentuan konsentrasi
larutan standard disebut “menstandartkan” atau “membakukan”. Cara dalam
menstandarisasikan larutan, antara lain:

1. Pembuatan langsung dengan melarutkan suatu zat murni (kemurnian yang tinggi)
dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume
terntentu secara tepat.
Larutan ini disebut dengan larutan standard primer, sedangkat zat yang digunakan
disebut standard primer. Larutan standard primer haruslah diketahui komposisi
dan konsentrasinya. Apabila titran tidak cukup murni, maka perlu distandarisasi
dengan standard primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak diketahui (larutan standard sekunder)harus
distandarisasi dengan larutan standard primer. Konsentrasi larutan sekunder
diperoleh dengan cara menitrasi dengan larutan satndard primer. NaOH tidak
dapat dipakai untuk standard primer disebabkan NaOH bersifat higroskopis oleh
sebab itu maka NaOH harus dititrasi terlebih dahulu dengan asam oksalat agar
dapat dipakai sebagai standard primer.
Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan membuat larutan standar
primer harus memenuhi tiga persyaratan berikut:
a. Benar-benar ada dalam keadaan murni dengan kadar pengotor.
b. Stabil secara kimiawi, mudah dikeringkan dan tidak bersifat higroskopis.
c. Memiliki berat ekivalen besar, sehingga meminimalkan kesalahan akibat
penimbangan.
d. Mudah larut dalam pelarut yang dipilih.
e. Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat stoikiometrik dan
langsung.
Larutan yang dapat digunakan sebagai larutan standar sekunder memiliki
syarat sebagai berikut:
a. Larutan sukar dibuat secara kuantitatif
b. Tidak memiliki kemurnian yang tinggi
c. Larutannya tidak stabil
Titrasi asam basa dilakukan dengan cara meneteskan larutan basa yang telah
diketahui konsentrasinya ke dalam sejumlah larutan asam yang belum diketahui
konsentrasinya atau sebaliknya. Penetesan dilakukan hingga asam dan basa tepat
habis bereaksi atau mencapai titik ekuivalen. Titik ekuivalen merupakan titik dimana
secara perhitungan stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi. Sedangkan titik
akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indikator. Pada saat titik
inilah maka proses titrasi dihentikan, kemudian dicatat volume titran yang diperlukan
untuk mencapai keadaan tersebut.
Dalam titrasi asam basa perubahan pH sangat kecil hingga ganoir tercapai titik
ekivalen. Pada saat tercapai titik ekivalen penambahan sedikit asam atau basa akan
menyebabkan pH yang sangat besar. Perubahan pH yang sangat besar ini seringkali
dideteksi dengan zat dikenal sebagai indikator, yaitu suatu asam atau basa organik
lemah yang menunjukkan warna yang sangat berbeda antara bentuk tidak terionisasi
dan bentuk terionisasinya.
Indikator ditambahkan pada titer sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator
akan berubah warna ketika titik akhir tercapai. Suatu indikator dapat bekerja karena
terjadi excess atau kelebihan titran, kelebihan titran ini yang akan bekerja pada
indikator dan menyebabkan indikator berubah warna. Hal ini lah yang membedakan
antara titik ekuivalen dan titik akhir titrasi. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam
basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Untuk
memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin
dengan titik ekuivalen, hal ini dapat dilakuan dengan memilih indikator dengan trayek
pH yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Dengan demikian
memilih indikator yang tepat untuk titrasi, kita dapat menggunakan titik akhir untuk
menentukan titik ekuivalen.
Tabel indikator yang biasa digunakan dalam titrasi Asidi-Alkalimetri
NAMA Trayek pH WARNA SIFAT
Biru timol 1,2-2,8 merah – kuning Asam
Jingga metil 3,1 – 4,4 merah – jingga Basa
Merah metil 4,2-6,3 merah – kuning Basa
Biru bromtimol 6,2-7,6 kuning – biru Asam
Fenolftalein 8-9,6 Tidak berwarna – Asam
merah
Timolftalein 9,3-10,5 Tidak berwarna – Asam
biru
Memilih indikator yang tepat sangat diperlukan dalam melakukan titrasi.
Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi,
maka:

1. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen
dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi
2. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-
raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan.

Contoh perubahan warna indikator asam basa

Rumus Umum Titrasi


Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam sama dengan mol-ekuivalent
basa. Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume :
NxV asam = NxV basa
Dimana N = M n
N: jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa
Larutan Cuka
Larutan cuka merupakan larutan yang memiliki kandungan asam asetat 3%
sampai 8% yang diencerkan bersama air, dan yang merupakan larutan asam yang
dibuat dari reaksi oksidasi etanol: CH3CH2OH. Larutan cuka umumnya dipakai untuk
keperluan rumah tangga seperti pelengkap masakan dan lain – lain. Komponen kimia
utama cuka adalah asam asetat atau disebut juga asam etanoat (CH3COOH).
Asam asetat atau asam etanoat adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Rumus ini seringkali
ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat juga
merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format.
Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya
terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COOH.
Dalam bentuk murni, asam asetat dikenal sebagai asam asetat glasial karena
mengkristal dalam suhu dingin. Bentuk asam ini sangat korosif dan bisa berbahaya
jika mengenai kulit.

Aplikasi titrasi pada CH3COOH


Prinsip Dasar Volumetri:
1. Pencapaian reaksi titik akhir ekivalen harus berlangsung secara
stoikiometri.Apabila konsentrasi salah satu larutan diketahui, maka konsentrasi
larutan lainnya dapat ditentukan dari volume larutan yang digunakan. Misalnya,
dalam percobaan ini kadar asam asetat ditentukan melalui reaksi dengan larutan
NaOH yang telah diketahui konsentrasinya:
CH3COOH (aq) + NaOH (aq) → H2O (l) + CH3CO2Na (aq)

Untuk menentukan konsentrasi CH3COOH, ke dalam sejumlah tertentu larutan


CH3COOH, ditambahkan sedikit demi sedikit larutan NaOH, sampai seluruh
CH3COOH habis bereaksi. Titik ini disebut titik ekuivalen, yaitu titik dimana
jumlah mol CH3COOH yang ditambahkan sama dengan jumlah mol NaOH yang
ada dalam larutan semula.

2. Titik ekivalen adalah titik pada saat senyawa yang ditambahkan (indikator) telah
tepat mencukupi untuk bereaksi dengan analit. Pada titrasi asam basa, perubahan
warna dari indikator pH umumnya digunakan untuk mendekati letak titik
ekuivalen. Pada saat indikator pH mulai berubah warna, proses titrasi dihentikan.
Titik ini dinamakan titik akhir reaksi. Indikator yang tepat untuk suatu sistem
titrasi adalah indikator yang dapat memberikan titik akhir titrasi sedekat mungkin
dengan titik ekuivalen. Indikator pH pada umumnya adalah asam lemah yang
memiliki warna yang kuat, sehingga mereka akan memberikan perubahan warna
yang dramatis ketika bereaksi dengan basa. Karena indikator adalah asam, tentu
mereka akan bereaksi dengan basa, dengan kata lain mereka akan berkompetisi
dengan asam yang hendak kita tentukan kadarnya (CH3COOH). Hal ini memang
benar, namun demikian oleh karena warna indikator sangatlah kuat, kita hanya
membutuhkannya dalam konsentrasi yang sangat kecil. Dengan demikian,
gangguan yang ditimbulkannya dalam perhitungan konsentrasi CH3COOH dapat
diabaikan.
Dalam percobaan ini, indikator yang digunakan yakni fenolftalein, yang
akan mengalami perubahan warna dari tak berwarna pada larutan asam menjadi
merah muda pada larutan basa. Titik tengah perubahan warna indikator ini terjadi
pada pH = 9.5 (sedikit basa). Ini merupakan indikator yang sangat baik sekali
untuk sistem titrasi asam asetat dengan NaOH, sebab titik ekuivalen titrasi ini
terjadi pada pH yang sedikit basa (bukan pada pH = 7).
Penentuan kadar asam asetat :

𝑚𝑔 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻
% CH3COOH = 𝑥 100%
𝑚𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑘𝑜𝑒𝑓 𝑎𝑛𝑎𝑙𝑖𝑡 𝑚𝑚𝑜𝑙 𝑚𝑔


𝑥 𝑉𝑜𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝐿)𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 ( ) 𝑥 𝐵𝑀 𝑎𝑛𝑎𝑙𝑖𝑡 ( )
𝑘𝑜𝑒𝑓 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑚𝐿 𝑚𝑚0𝑙
% CH3COOH= 𝑥 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 (𝑚𝑔)

Dalam percobaan ini terdapat beberapa kegagalan perubahan warna yang


terjadi ketika titrasi antara asam oksalat dan NaOH serta titrasi antara asam Cuka
dan NaOH menghasilkan perubahan warna yang terlalu tua (shocking pink).
Selain itu juga perhitungan kadar CH3COOH berbeda dengan kadar yang tertera
pada kemasan cuka poasar.Beberapa faktor kesalahan tersebut disebabkan karena:

1. Kesalahan dalam menentukan titik ekuivalennya. Volume NaOH yang


ditambahkan cukup besar sehingga titik ekuivalennya tidak bisa didapatkan
dengan akurat dan perubahan warnanya terlalu tua.
2. Kesalahan dalam pembacaan mL NaOH dalam buret. Ketidaktepatan dalam
pembacaan mL NaOH bisa disebabkan oleh posisi mata peneliti yang tidak
tepat lurus dengan buret.
3. Kurang terampil dalam pengadukan analit saat titrasi sedang berlangsung
sehingga larutan tidak tercampur dengan baik
4. Alat yang digunakan tidak benar-benar bersih, sehingga zat pada larutan
tercampur partikel-partikel zat lain yang menempel pada alat praktikum
5. Kesalahan pada saat penimbangan asam oksalat dan massa sampel cuka
6. Kebocoran aliran kran buret pada saat mencapai titik ekivalen sehingga
tetesan titran berlebih

E. Alat dang Bahan :


 Alat :
1. Pipet 2 buah
2. Labu ukur 250 ml 1 buah
3. Buret 1 buah
4. Statif dan klem 1 pasang
5. Erlenmeyer 250 ml 3 buah
6. Neraca Analitis 1 buah
7. Piknometer 25 mL 1 buah
8. Corong 1 buah
9. Spatula 1 buah
10. Pipet seukuran 10 mL 1 buah
11. Gelas ukur 10 mL 1 buah
12. Gelas kimia 100 mL 1 buah
13. Rollfilm 1 buah

 Bahan
1. Cuka pasar 25 mL
2. Air suling 530 mL
3. Indikator PP 18 tetes
4. Larutan NaOH 90 mL
5. Padatan Asam Oksalat 1,6008 gram
F. Alur Kerja
1. Standarisasi larutan basa

Asam Oksalat NaOH


(Putih) (Tidak Berwarna)

- Ditimbang ± 1,6 gram - Dimasukkan dengan corong


- Dimasukkan ke dalam labu pada buret hingga diatas
ukur 250 mL skala nol
- Diencerkan sampai tanda - Dibuka kran buret hingga
batas NaOH tepat pada skala nol
- Ditutup kran
Larutan Asam Oksalat
(Tidak Berwarna) Titran NaOH

Larutan Asam Oksalat


(Tidak Berwarna)

- Dipipet 10 mL
- Dimasukkan ke dalan erlenmeyer 250 mL
- Ditambahkan air suling 10 mL
- Ditambah 3 tetes indikator PP

Tidak terjadi
perubahan warna

- Dititrasi dengan NaOH


- Dihentikan sampai terjadi perubahan
warna

Merah Muda

- Dilihat volume NaOH


- Diulangi sebanyak 3 kali
- Dihitung konsentrasi rata-rata NaOH

Konsentrasi rata-rata NaOH


2. Aplikasi ( Penentuan kadar CH3COOH dalam cuka pasar )

Cuka Pasar(Tidak Berwarna)

- Diukur berat jenis cuka pasar


- Di pipet 25 mL cuka
- Dimasukkan ke dalan labu ukur 250 mL
- Diencerkan sampai tanda batas
Larutan Cuka encer

- Diambil 10 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer


- Ditambahkan 3 tetes indikator PP
Tidak Berwarna
- Dititrasi dengan larutan NaOH standar
- Dihentikan sampai terjadi perubahan warna
Merah Muda

- Dilihat Volume NaOH


- Diulangi sebanyak 3 kali
- Dihitung Volume NaOH rata-rata

Volume NaOH rata-rata

- Dihitung kadar CH3COOH

Kadar CH3COOH
G. Data Pengamatan

Perc. Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan


1. Sebelum : Berdasarkan
Asam Oksalat (Putih)
 Asam oksalat : kristal Reaksi pelarutan data hasil
berwarna putih asam oksalat percobaan,
- Ditimbang ± 1,6 gram
- Dimasukkan ke dalam labu ukur  Aquades : tidak berwarna adalah sebagai diperoleh
250 mL  NaOH : tidak berwarna berikut : Normalitas
- Diencerkan sampai tanda batas
 Indikator PP : tidak NaOH rata-

berwarna H2C2O4 (s) + ratasebesar =


Larutan Asam Oksalat 2H2O (l)→ 0,11858144 N
Sesudah :
(Tidak Berwarna)  Asam oksalat + aquades  H2C2O4.2H2O(aq)

lar.asam oksalat tidak Reaksi yang


NaOH (Tidak Berwarna) berwana terjadi pada proses
 NaOH + Aquades  titrasi adalah
- Dimasukkan dengan corong
lar.NaOH tidak berwarna
pada buret hingga diatas H2C2O4.2H2O (aq)
skala nol + 2NaOH (aq) →
- Dibuka kran buret hingga Sebelum :
Na2C2O4 (aq) + 3
NaOH tepat pada skala nol
 Larutan asam oksalat : tidak
- Ditutup kran H2O(l)
berwarna
Titran NaOH  Aquades : tidak berwarna
 Indikator PP : tidak
berwarna
 NaOH : tidak berwarna
Larutan Asam Oksalat
Sesudah :
(Tidak Berwarna)
 Larutan asam oksalat +
- Dipipet 10 mL aquades  larutan asam
- Dimasukkan ke dalan erlenmeyer 250 mL
oksalat encer tidak
- Ditambahkan air suling 10 mL
- Ditambah 3 tetes indikator PP berwarna
 Larutan asam oksalat encer
Tidak terjadi + indikator PP : tidak
perubahan warna
berwarna

- Dititrasi dengan NaOH  Larutan asam oksalat encer


- Dihentikan sampai terjadi perubahan + PP Dititrasi dengan
warna
NaOH  larutan berwarna
Merah Muda merah muda

- Dilihat volume NaOH


 Konsentrasi NaOH dihitung
- Diulangi sebanyak 3 kali dengan rumus :
- Dihitung konsentrasi rata-rata NaOH Mol ek NaOH = mol ek oksalat
Konsentrasi rata-rata NaOH n1M1V1 = n2M2V2
Data volume NaOH yang
diperlukan untuk mencapai
titik akhir titrasi :
 Titrasi I
Vol.awal = 12 mL
Vol.akhir = 20,6 mL
∆ V = 8,6 mL

 Titrasi II
Vol.awal : 20,6 mL
Vol.akhir : 29,1 mL
∆V = 8,5 mL

 Titrasi III
Vol.awal : 29,2 mL
Vol.akhir : 37,8 mL
∆V = 8,6 mL
2. Sebelum : Kadar
 Cuka pasar : tidak berwarna Reaksi CH3COOH
Cuka Pasar(Tidak Berwarna)  Aquades : tidak berwarna pengenceran asam rata-rata

- Diukur berat jenis cuka pasar  NaOH : tidak berwarna cuka adalah dalam cuka
- Di pipet 25 mL cuka Sesudah : sebagai berikut: pasar=
- Dimasukkan ke dalan labu ukur 250 mL
 Cuka pasar + aquades  CH3COOH(aq) +
0,60549212%
- Diencerkan sampai tanda batas
larutan cuka pasar encer H2O (l) →
Larutan Cuka encer (tidak berwarna) CH3COO- (aq) +
- Diambil 10 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer  Larutan cuka pasar encer + H3O+ (l)
- Ditambahkan 3 tetes indikator PP PP  tidak berwarna
Tidak Berwarna  Larutan cuka pasar encer + Reaksi yang terjadi
- Dititrasi dengan larutan NaOH standar PP Dititrasi dengan NaOH pada proses titrasi
- Dihentikan sampai terjadi perubahan warna
 merah muda adalah sebagai
Merah Muda
berikut :
- Dilihat Volume NaOH Data volume NaOH yang CH3COOH(aq) +
- Diulangi sebanyak 3 kali diperlukan untuk mencapai NaOH(aq) →
- Dihitung Volume NaOH rata-rata
titik akhir titrasi : CH3COONa(aq) +
Volume NaOH rata-rata  Titrasi I H2O(l)
- Dihitung kadar CH3COOH Vol.awal = 0 mL

Kadar CH3COOH Vol.akhir = 21,2 mL


∆ V = 21,2 mL
Berdasarkan label
 Titrasi II padakemasan cuka
Vol.awal = 0 mL merk “Naga Kura”,
Vol.akhir = 21,4 mL kadar CH3COOH
∆ V = 21,4 mL sebesar 25%,

 Titrasi III
Vol.awal = 21,4 mL
Vol.akhir = 42,5 mL
∆ V = 21,1 mL

Data penimbangan yang


diperoleh menggunakan neraca
analitis :
 V piknometer = 25 mL
 Massa piknometer =
23,4259 gram
 Massa pikno + sampel =
48,3971 g
 Massa pikno + aquades =
47,7973 gram
H. Diskusi dan Pembahasan

1. Standarisasi Larutan Basa NaOH ± 0,1 N

Titrasi asam basa merupakan metode yang digunakan untuk menetukan secara
tepat konsentrasi suatu larutan, dimana dalam percobaan ini akan ditentukan
(standardisasi) konsentrasi dari larutan basa yaitu NaOH dengan asam oksalat
(H2C2O4.2H2O) sebagai baku.Dalampercobaan ini merupakan jenis titrasi asidimetri
karena menggunakan asam oksalat sebagai larutan baku yang sudah diketahui
konsetrasinya.

Langkah pertama untuk proses standardisasi larutan NaOH dengan asam


oksalat (H2C2O4.2H2O(s)) sebagai baku adalah menimbang asam oksalat berupa
kristal putih sebanyak 1.6008 gram dalam botol timbang. Kemudian asam oksalat
yang telah ditimbang dimasukkan kedalam labu ukur 250 mL menggunakan corong
dan botol timbang dibilas dengan aquades agar tidak ada sisa asam oksalat yang
menempel pada botol timbang sehingga massa oksalat dalam labu ukur sama dengan
masa sebelum dimasukkan.Pelarutan ini bertujuan untuk merubah wujud asam
oksalat dari zat padat menjadi zat cair agar dapat dititrasi karena titrasi dapat
berlangsung jika analit dan titran dalam bentuk larutan. Reaksi pelarutan asam
oksalat adalah sebagai berikut :

H2C2O4 (s) + 2H2O (l)→ H2C2O4.2H2O(aq)


Setelah itu dikocok sampai semua asam oksalat (H2C2O4.2H2O) tercampur dengan
sempurna dan tidak tampak lagi adanya kristal putih asam oksalat.

Lalu asam oksalat diencerkan dengan aquades sampai tanda batas meniskus
dan labu ukur dikocok lagi agar larutan tercampur secara merata. Pengenceran ini
bertujuan untuk mempermudah proses titrasi, jika analit dalam kondisi pekat maka
volume titran yang diperlukan sangat banyaksehingga terjadi pemborosan bahan.Hal
ini didasarkan pada perhitungan mol ekivalen asam = mol ekivalen basa. Setelah
pengenceran maka diperoleh larutan asam oksalat (H2C2O4.2H2O) yang tidak
berwarna. Sedangkan berdasarkan perhitungan rumus Normalitas
𝑔𝑟𝑎𝑚 1000
N= 𝑛
𝑀𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛

diperoleh konsentrasi larutan asam oksalat setelah diencerkan yakni 0.10158168 N.


Sementara itu, buret dibilas dengan larutan NaOH yang bertujuan untuk
membersihkan buret dari sisa-sisa larutan dari praktikum terdahulu dan agar titran
tidak terkontaminasi dengan zat-zat lain. Kemudian buret diisi dengan larutan NaOH
hingga diatas skala nol. Lalu kran buret dibuka hingga volume larutan NaOH tepat
pada skala nol. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan pembacaan skala saat
proses titrasi. Selanjutnya kran buret dikunci kembali sebelum proses titrasi dimulai.

Langkah selanjutnya, larutan asam oksalat yang telah diencerkan diambil 10


mL menggunakan pipet seukuran. Penggunaan pipet seukuran ini bertujuan agar
pengambilan volume larutan lebih akurat. Kemudian larutan asam oksalat
dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL dan ditambahkan air suling yang
bertujuan untuk menambah volume larutan asam oksalat yang akan dititrasi. Lalu
ditambahkan 3 tetes indikator PP. Indikator PP bekerja pada pH 8.6-9.0 dimana pada
larutan asam tidak berwarna dan pada larutan basa berwarna merah. Sehingga ketika
larutan asam oksalat ditambah 3 tetes indikator PP larutan tidak mengalami
perubahan warna (tidak berwarna), karena berada pada pH asam, namun setelah
ditirasi dengan NaOH larutan berada pada pH sedikit basa yang menyebabkan
larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Pemberian indikator PP
bertujuan untuk mempermudah praktikan dalam mengamati titik akhir titrasi.
Indikator PP akan bekerja saat terjadi kelebihan atau excess dari NaOH sehingga
menghasilkan perubahan warna dari larutan yaitu dari tidak berwarna menjadi merah
muda. Dalam titrasi ini praktikan menggunakan indikator PP (phenolptalein) karena
trayek pH dari PP adalah 8.6-9.0. Sedangkan dalam titrasi penetralan (asam oksalat
dengan NaOH) titik ekivalennya berada pada pH yang sedikit basa karena asam
oksalat merupakan asam lemah. Sehingga trayek pH pada PP dapat memenuhi titik
ekivalen tersebut. Ditambah lagi indikator tersebut tergolong asam yang sangat
lemah dalam keadaan tidak terionisasi tetapi jika dalam lingkungan basa PP akan
terionisasi lebih banyak dan dia akan memberikan warna yang terang dan perubahan
warnanya lebih mudah untuk diamati. Setelah itu, asam oksalat dititrasi dengan
larutan NaOH sampai terjadi perubahan warna yang mengindikasikan tercapainya
titik akhir titrasi. Maka proses titrasi harus dihentikan. Hal ini artinya titik ekivalen
juga telah tercapai yaitu molH2C2O4.2H2O = molNaOHTitrasi dilakukan sebanyak 3 kali.
Pengulangan ini bertujuan untuk menambah keakuratan data yang diperoleh.
Kemudian dihitung konsentrasi NaOH dan dirata-rata.Reaksi yang terjadi pada
proses titrasi adalah

H2C2O4.2H2O (aq) + 2NaOH (aq) → Na2C2O4 (aq) + 3 H2O(l)

Dari percobaan yang kami lakukan volume dan konsentrasi NaOH yang
diperoleh berturut-turut sesuai dengan tabel dibawah ini :

Titrasi ke- Volume Volume ΔV N NaOH ̅


𝑁
Awal Akhir
1. 12 mL 20,6 mL 8,6 mL 0,11811823 N 0,11858144 N
2. 20,6 mL 29,1 mL 8,5 mL 0,11950786 N
3. 29,2 mL 37,8 mL 8,6 mL 0,11811823 N

Sehingga berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus dibawah ini:


Mol ek NaOH = Mol ek H2C2O4.2H2O
N1 V1 = N2 V2
didapatkan rata-rata Normalitas NaOH sebesar 0,11858144 N. Dengan diperolehnya
konsentrasi NaOH tersebut maka dapat disimpulkan bahwa larutan NaOH memang
mempunyai konsentrasi 0.1 N.
Namun dalam percobaan ini terjadi kesalahan praktikan dalam menentukan
titik akhir titrasi pada titrasi ke-1 dan ke-3, dimana NaOH yang menetes berlebih ( 1
tetes ) sehingga menyebabkan perbedaan warna pada ke dua larutan menjadi sedikit
lebih tua dibanding larutan pada titrasi ke-2.

2. Aplikasi ( Penentuan kadar CH3COOH dalam cuka pasar )

Salah satu aplikasi dari titrasi asam basa ini adalah menentukan kadar
CH3COOH dalam cuka pasar. Dimana cuka pasar yang digunakan bermerk “Naga
Kura”. Dalam percobaan ini merupakan jenis titrasi alkalimetri karena menggunakan
larutan baku NaOH yang telah diketahui konsentrasinya pada percobaan sebelumnya
(standarisasi larutan basa). Langkah yang dilakukan untuk menentukan kadar
CH3COOH dalam cuka adalah mengukur berat jenis cuka menggunakan piknometer
dan neraca analitis, sehingga diperoleh data sesuai tabel dibawah ini :
Massa Piknometer Kosong 23,4259 gram

Massa Piknometer + Sampel 48,3971 gram

Massa Piknometer + Air 47,7973 gram

Volume Piknometer 25 mL

Melalui Perhitungan menggunakan rumus :

( 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑃𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 + 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 )− 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑃𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


 sampel = 𝑉𝑜𝑙. 𝑃𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

Maka diperoleh Berat Jenis cuka pasar sebesar 0,998848 gram/mL, sedangkan
dalam teori berat Jenis cuka pasar adalah 1,05 gram/mL. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa berat Jenis cuka pasar tidak berbeda jauh dengan teori.

Kedalam gelas ukur dituangkan 25 mL cuka, kemudian cuka dipindahkan


kedalam labu ukur 250 mL dan dilakukan pengenceran menggunakan aquades
sampai tanda batas meniskus.Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah proses
titrasi, jika analit dalam kondisi pekat maka volume titran yang diperlukan sangat
banyak sehingga terjadi pemborosan bahan.Reaksi pengenceran asam cuka adalah
sebagai berikut:

CH3COOH(aq) + H2O (l) → CH3COO- (aq) + H3O+ (l)


Kemudian larutan cuka encer diambil 10 mL menggunakan pipet seukuran
dengan tujuan agar pengambilan volume larutan lebih akurat. Lalu larutan cuka
encer tersebut dimasukkan kedalam erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indikator
PP. Ketika larutan cuka ditambah 3 tetes indikator PP larutan tidak mengalami
perubahan warna (tidak berwarna) karena berada pada pH asam, namun setelah
ditirasi dengan NaOH larutan berada pada pH sedikit basa yang menyebabkan
larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Pemberian indikator PP
bertujuan untuk mempermudah praktikan dalam mengamati titik akhir titrasi.
Indikator PP akan bekerja saat terjadi kelebihan atau excess dari NaOH sehingga
menghasilkan perubahan warna dari larutan yaitu dari tidak berwarna menjadi merah
muda. Dalam titrasi ini kita menggunakan indikator PP (phenolptalein) karena
trayek pH dari PP adalah 8,0-9,6. Sedangkan dalam titrasi penetralan (asam oksalat
dengan NaOH) titik ekivalennya berada pada pH yang sedikit basa karena asam
oksalat merupakan asam lemah. Sehingga trayek pH pada PP dapat memenuhi titik
ekivalen tersebut. Ditambah lagi indikator tersebut tergolong asam yang sangat
lemah dalam keadaan tidak terionisasi tetapi jika dalam lingkungan basa PP akan
terionisasi lebih banyak dan dia akan memberikan warna yang terang dan perubahan
warnanya lebih mudah untuk diamati.

Setelah itu, larutan cuka dititrasi dengan larutan NaOH sampai terjadi
perubahan warna yang mengindikasikan titik akhir titrasi, maka proses titrasi harus
dihentikan. Hal ini karena titik ekivalen telah tercapai yaitu molCH3COOH = mol NaOH.
Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali. Pengulangan ini bertujuan untuk menambah
keakuratan data yang diperoleh. Kemudian dihitung konsentrasi larutan cuka dan
dirata-rata, kemudian dihitung pula kadarnya.Reaksi yang terjadi pada proses titrasi
adalah sebagai berikut :
CH3COOH(aq) + NaOH(aq) → CH3COONa(aq) + H2O(l)
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan volume dankonsentrasi cuka yang
diperoleh berturut-turut sesuai dengan tabel dibawah ini :
Titrasi ke- Volume Volume ΔV M CH3COOH ̅
𝑀
Awal Akhir
1. 0 mL 21,2 mL 21,2 mL 0,25139265 M
2. 0 mL 21,4 mL 21,4 mL 0,25376428 M 0,25178792 M
3. 21,4 mL 42,5 mL 21,1 mL 0,25020684 M

Sehingga berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus


Mol ek NaOH = Mol ek H2C2O4.2H2O
N1 V1 =N2 V2
M1 V1 n =M2 V2 n
didapatkan rata-rata Molaritas CH3COOH sebesar 0,25178792 M.
Sedangkan pada perhitungan kadar CH3COOH menggunakan rumus

𝑘𝑜𝑒𝑓. 𝑎𝑛𝑎𝑙𝑖𝑡
𝑥 𝑉𝑜𝑙. 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝐵𝑀 𝑎𝑛𝑎𝑙𝑖𝑡
% CH3COOH = 𝑘𝑜𝑒𝑓. 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

( % ) CH3COOHdalam larutan cukamerk “Naga Kura” sebesar :


Titrasi ke- Kadar ( % ) Rata-Rata Kadar ( % )
1. 0,60454158
2. 0,61024481 0,60549212
3. 0,60168997

Berdasarkan teori kadar cuka merk “Naga Kura” adalah 25%, sedangkan
berdasarkan perhitungan didapatkan kadar cuka sebesar 0,60549212 %. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa kadar cuka tidak sesuai dengan yang tertera dalam
kemasan. Hal ini disebabkan karena pada percobaan ini cuka diencerkan sebanyak
250 mL sedangkan berdasarkan farmakope Indonesia, kadar asam asetat sesuai jika
kadarnya tidak kurang atau lebih dari 1% dengan kadar yang tertera pada botol
kemasan. Berdasarkan Standart Nasional Indonesia (SNI), kadar cuka untuk
dikonsumsi dalam pembuatan bahan makanan mempunyai batasan 0,5%-2,7%
I. Kesimpulan

Dari percobaan titrasi penetralan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Satandarisasi larutan NaOH ± 0.1 N dengan asam oksalat 1.66008 gram sebagai
baku diperoleh Normalitas rata-rata NaOH sebesar 0.11858144 N.
2. Kadar CH3COOH dalam cuka pasar merk “Naga Kura” sebesar 0.60549212 %.

J. Jawaban Pertanyaan

Titrasi Penetralan
1. Mengapa pada pembuatan larutan NaOH harus memakai air yang sudah
dididihkan?
Jawab :
Karena untuk menghindari ledakan, sebab reaksi logam alkali (Na) bersifat
eksoterm. Dan juga logam alkali (Na) sangat reaktif jika bereaksi dengan air.
2. Apa beda antara :
a. Larutan baku dan larutan standar?
b. Asidimetri dan alkalimetri?
Jawab :
a. Larutan baku : larutan yang konsentrasinya diketahui dari hasil penimbangan
dan pengenceran, konsentrasi ditentukan dari hasil perhitungan dan dapat
digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan lain.
Larutan standard : larutan yangkonsentrasinya sudah ditetapkan dengan akurat.

b. Asidimetri : penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang


bersifat basa dengan menggunakan baku asam;
Alkalimetri : penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa
yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.
3. Berikan alasan penggunaan indikator pada titrasi di atas!
Jawab :
Dalam titrasi ini kita menggunakan indikator PP (phenolptalein) karena trayek pH
dari PP adalah 8,3-10,0. Sedangkan dalam titrasi penetralan (asam oksalat dengan
NaOH) titik ekivalennya berada pada pH yang sedikit basa karena asam oksalat
merupakan asam lemah. Sehingga trayek pH pada PP dapat memenuhi titik
ekivalen tersebut. Ditambah lagi indikator tersebut tergolong asam yang sangat
lemah dalam keadaan tidak terionisasi tetapi jika dalam lingkungan basa PP akan
terionisasi lebih banyak dan dia akan memberikan warna yang terang dan
perubahan warnanya lebih mudah untuk diamati.diamati.

Aplikasi Titrasi Penetralan

1. 1,2 gram sampel NaOH dan Na2CO3 dilarutkan dan dititrasi dengan 0,5N HCl
dengan indikator pp. setelah penambahan 30 mL HCl larutan menjadi tidak
berwarna. Kemudian indikator metil jingga ditambahkan dan dititrasi lagi dengan
HCl. Setelah penambahan 5mL HCl larutan menjadi berwarna. Berapa prosentase
Na2CO3 dan NaOH dalam sampel?
Jawab :
Diketahui:
Massa NaOH dan Na2CO3 = 1,2 gram
NHCl = 0,5 N
V1 HCL = 30 mL
V2 HCl = 5 mL
Ditanya : prosentase Na2CO3 dan NaOH dalam sampel ?
Jawab :
Sampel mengandung Na2CO3 dan NaOH
V= V1-V2
= 30-5
= 25 mL
Reaksi I : Na2CO3 (gr) + 2HCl(aq) → 2NaCl(aq) + H2CO3(aq)
 N HCl =Mxa
𝑁 𝐻𝐶𝑙
= 𝑎
0.5
= 1

= 0.5 M
 Mol HCl = M x Vol
= 0.5 x 25 mL
= 12.5 mmol
𝑘𝑜𝑒𝑓 Na2CO3
 Mol Na2CO3 = x mol HCl
𝑘𝑜𝑒𝑓 𝐻𝐶𝑙
1
= x 12.5 mmol
2
= 6.25 mmol
 Gram Na2CO3 = mol x Mr
= 6.25mmol x 106
= 662.5 mg
𝑚𝑔 Na2 CO3
 % Na2CO3 = 𝑥 100%
𝑚𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
662.5 𝑚𝑔
= x100%
1200 𝑚𝑔

= 55.21 % Na2CO3

Reaksi II : NaOH (gr) + HCl(aq) → NaCl(aq) + H2O(aq)

 mol HCl = M x Vol


= 0.5 x 25 mL
= 12.5 mmol
𝑘𝑜𝑒𝑓 NaOH
 Mol NaOH= x mol HCl
𝑘𝑜𝑒𝑓 𝐻𝐶𝑙
1
= x 12.5 mmol
1

= 12.5 mmol
 Gram NaOH = mol x Mr
= 12.5mmol x 40
= 500 mg
𝑚𝑔 NaOH
 % NaOH = 𝑥 100%
𝑚𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
500 𝑚𝑔
= 1200 𝑚𝑔x100%

= 41.67 % NaOH

2. Pada pH berapa terjadi perubahan warna indikator PP?


Jawab :Pada rentang pH 8,0-9,6
Daftar Pustaka

Darsa,Siti. Titrasi Asam Basa. Web publikasi:


http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._KIMIA/19560323198
1012-SITI_DARSATI/titrasi_asam-basa.pdf (online). Diakses pada 02
Nopember 2016 pukul 13.00 WIB.
Day,R.A., Underwood, A. L. 1986. Quantitative Analysis (6th edition). New
York: Prentice Hall. (terjemahan oleh Aloysius Hadyana P. (2002)
Analisis Kimia Kuantitatif (Edisi 6). Jakarta: Erlangga)
Hasannudin. 2015. Indikator Asam Basa. Web publikasi:
http://kimiadasar.com/indikator-asam-basa/ (online). Diakses pada 02
Nopember 2016 pukul 17.00 WIB.
ITB. 2008. Titrasi Netralisasi: Titrasi Asam Basa. Web publikasi:
http://download.fa.itb.ac.id/filenya/Handout%20Kuliah/Inorganic%20Pha
rmaceutical%20Analysis%202008/Versi%20Bhs.%20Indonesia/02.%20A
plikasi%20Titrasi%20Asam%20Basa.pdf (online). Diakses pada 02
Nopember 2016 20.00 WIB.
Lanovia,Cindy. 2015. Penentuan kadar asam cuka - Laporan 3 Lab.TL. Web
publikasi:
https://www.academia.edu/12605448/Penentuan_kadar_asam_cuka_-
_Laporan_3_Lab.TL (online). Diakses pada 02 Nopember 2016 pukul
14.30 WIB.
Tim Penyusun DDKA. 2007. Panduan Praktikum Dasar Dasar Kimia Analitik.
Surabaya: UNESA press.