Anda di halaman 1dari 29

A.

Judul Percobaan : Titrasi Pengendapan dan Aplikasinya (Argentometri)


B. Tanggal percobaan : Selasa, 15 November 2016 pukul 13:00 – 15:30
C. Tujuan Percobaan : 1. Membuat dan menentukan (standarisasi) larutan AgNO3
2. Menetukan kadar Cl- dalam air laut
D. Dasar teori :

Salah satu cara untuk menentukan kadar asam-basa dalam suatu larutan adalah
dengan volumetri (titrasi). Volumetri (titrasi) merupakan cara penentuan kadar suatu zat
dalam larutannya didasarkan pada pengukuran volumenya. Salah satu jenis volumetri
yaitu Argentometri , Volumetri jenis ini berdasar atas reaksi kresipilasi (pengendapan
dari ion Ag+).
Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak.
Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu
larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+ .
Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur
dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur volume larutan
standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam
dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan.

Ada tiga tipe titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan AgNO 3 yaitu
indikator,amperometri,dan indikator kimia. Untuk titik akhir yang dihasilkan indikator
kimia, biasanya terdiri dari perubahan warna/muncul tidaknya kekeruhan dalam larutan
yang dititrasi. Syarat indikator untuk titrasi pengendapan analog dengan indikator titrasi
netralisasi, yaitu : 1. Perubahan warna harus terjadi terbatas dalam range pada p-function
dari reagen /analit. 2. Perubahan Warna harus terjadi dalam bagian dari kurva titrasi
untuk analit.

Berdasarkan pada indikator yang digunakan, argentometri dapat dibedakan atas :

1. Metode Mohr (pembentukan endapan berwarna)


Metode Mohr dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida
dalam suasana netral dengan larutan standar AgNO3 dan penambahan K2CHO4
sebagai indikator. Titrasi dengan cara ini harus dilakukan dalam suasana netral atau
dengan sedikit alkalis, pH 6,5 – 9,0. Dalam suasana asam, perak kromat larut karena
terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan terbentuk endapan perak hidroksida.
Reaksi yang terjadi adalah :
Asam : 2CrO42- + 2H+ ↔ CrO7 2- + H2O
Basa : 2 Ag+ + 2 OH- ↔ 2 AgOH
2AgOH ↔ Ag2O + H2O
Pada titik ekivalen, Ekivalen Ag+ = ekivalen Cl-
2. Model Valhard (Penentu zat warna yang mudah larut).
Metode ini digunakan dalam penentuan ion Cl+ , Br -
, dan I- dengan
penambahan larutan standar AgNO3. Indikator yang dipakai adalah Fe3+ dengan titran
NH4CNS, untuk menentralkan kadar garam perak dengan titrasi kembali setelah
ditambah larutan standar berlebih. Kelebihan AgNO3 dititrasi dengan larutan standar
KCNS, sedangkan indikator yang digunakan adalah ion Fe3+ dimana kelebihan larutan
KCNS akan diikat oleh ion Fe3+ membentuk warna merah darah dari FeSCN.
Pada titik ekivalen :
Jumlah ekivalen Ag+ sisa = jumlah ekivalen SCN- atau
Jumlah ekivalen Ag+ total = jumlah ekivalen (Cl- + SCN-).
3. Motode Fajans (Indikator Absorbsi)
Titrasi argenometri dengan cara fajans adalah sama seperti pada cara Mohr,
hanya terdapat perbedaan pada jenis indikator yang digunakan. Indikator yang
digunakan dalam cara ini adalah indikator absorbsi seperti cosine atau fluonescein
menurut macam anion yang diendapkan oleh Ag+ . Titrannya adalah AgNO3 hingga
suspensi violet menjadi merah. pH tergantung pada macam anion dan indikator yang
dipakai. Indikator absorbsi adalah zat yang dapat diserap oleh permukaan endapan
dan menyebabkan timbulnya warna. Pengendapan ini dapat diatur agar terjadi pada
titik ekuivalen antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH.
Sebelum titik ekuivalen tercapai, ion Cl- berada dalam lapisan primer dan setelah
tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit AgNO3 menyebabkan ion Cl- akan diganti
oleh Ag+ sehingga ion Cl- akan berada pada lapisan sekunder.

Dasar titrasi argentometri


adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan
analit. Dasar teori :
Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+
dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah
larut AgCl.
Ag(NO3)(aq) + NaCl(aq) -> AgCl(s) + NaNO3(aq)

Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan
bereaksi dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO42-
dimana dengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat
kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Indikator lain yang bisa dipakai
adalah tiosianida dan indicator adsorpsi. Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi
yang dipakai maka titrasi argentometri.
Prinsip umum dari titrasi argentometri adalah kelarutan dan tetapan kelarutan dari
reagen-reagen yang bereaksi. Kurva titrasi pengendapan analog dengan kurva titrasi
asam basa. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan :
1. Suhu
Pada kebanyakan garam anorganik, kelarutan meningkat jika suhu naik. Sebaiknya
proses pengendapan, penyaringan dan pencucian endapan dilakukan dalam keadaan
larutan panas.
2. Sifat Pelarut
Kebanyakan garam anorganik larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik.
Air memiliki momen dipol yang besar dan tertarik oleh kation dan anion membentuk
ion hidrat. Sebagaimana ion hidrogen yang membentuk H3O+, energi yang
dibebaskan pada saat interaksi ion dengan pelarut akan membantu meningkatkan
gaya tarik ion terhadap kerangka padat endapan. Ion-ion dalam kristal tidak
memiliki gaya.
3. Ion Sejenis
Endapan lebih mudah larut dalam air daripada dalam larutan yang mengandung ion
sejenis. Teknik penambahan ion sejenis dilakukan oleh analis untuk tujuan : 1)
menyempurnakan pengendapan 2) pencucian endapan dengan larutan yang
mengandung ion sejenis dengan endapan
4. Aktivitas Ion
Banyak endapan yang kelarutannya naik di dalam larutan yang mengandung ion-ion
yang tidak bereaksi dengan ionion pembentuk endapan. Fenomena ini disebut efek
aktivitas ion atau efek ion berlainan (diverse ion effect) atau efek garam netral.
5. pH
Kelarutan garam dari asam lemah tergantung kepada pH larutan. Contoh : oksalat,
sulfida, hidroksida, karbonat, fosfat. Proton bereaksi dengan anion membentuk asam
lemah sehingga mempertinggi kelarutan garam.
6. Hidrolisis
Jika garam dari asam lemah dilarutkan di dalam air terjadi perubahan pH larutan.
MA M+ + A-
A- + H2O HA + OH
Jika HA sangat lemah, MA tidak larut, maka Ka dan Ksp kecil. Jika [A-] kecil, maka
reaksi hidrolisis lebih sempurna. Dapat terjadi 2 ekstrim yang tergantung besarnya
harga Ksp :a) Kelarutan sangat kecil di mana pH air tidak berubah karena terjadi
hidrolisis. b) Kelarutan cukup besar di mana ion OH- yang bersumber dari air dapat
diabaikan.
7. Efek hidroksida logam
Jika hidroksida logam dilarutkan di dalam air, terjadi seperti pada efek hidrolisis
tetapi pH tidak berubah.
8. Pembentukan Senyawa Kompleks
Kelarutan ‘garam sukar larut’ dipengaruhi oleh zat-zat yang dapat membentuk
senyawa kompleks dengan kationnya. Ion pengkompleks dapat berupa anion atau
molekul netral, baik sejenis maupun tidak sejenis dengan endapan.

Pembuatan Larutan Standar AgNO3 0,1 N


AgNO3 (Mr = 169,89 ) dapat diperoleh dalam keadaan murni (99,9%) disebut
sebagai standar primer. Biasanya larutannya tidak perlu standarisasi, kecuali terpaksa.
Standarisasi dilakukan dg kristal NaCl yang kemurniannya sangat tinggi 99,9 – 100 % (
standar primer yg exellent)
Titrasi ini dikenalkan oleh Mohr (1856) dan dikenal sebagai titrasi argentometri
secara Mohr. Sejumlah volume larutan halogen ( misalnya Cl- ),dilakukan titrasi
menggunakan larutan standar AgNO3 0,1 N. Indikator yang ditambahkan adalah K2CrO4.
Titik ekivalen ditandai dg terbentukknya endapan yang berwarna merah bata
Ag+ tidak dapat ditritrasi langsung oleh Cl- menggunakan indikator CrO42- ,
karena Ag2CrO akan terbentuk lebih awal dan melarut lambat menjelang TE. Untuk hal
tersebut dapat digunakan teknik titrasi balik : Ag+ ditambah Cl- baku (berlebih),
kemudian Cl- sisa dititrasi dengan larutan Ag+ baku menggunakan indikator CrO42-.
Jika larutan Ag+ ditambahkan kedalam larutan Cl- yang mengandung sedikit
CrO42-. maka AgCl akan mengendap terlebih dahulu, sementara itu Ag2CrO4 belum
terbentuk, dan penambahan (Ag+) sampai melewati Ksp Ag2CrO4 (2,0x10-12) akan
membentuk endapan merah Ag2CrO4.

Ag+ + Cl- AgCl(s)


Ag+ + CrO42- Ag2CrO4 (endapan merah)
Kelarutan Ag2CrO4 (8,4x10-5 M) > AgCl (1,35x10-5 M)

Dalam percobaan ini, kesalahan titrasi yang mungkin terjadi disebabkan oleh
konsentrasi CrO4. Konsentrasi CrO4 yang digunakan sebaiknya pada kisaran 0,005 M
sampai 0,01 M, supaya kesalahan titrasi diperkecil. Bila konsentrasi terlalu besar maka
warna kuning CrO42- akan mengganggu pengamatan terbentuknya endapan Ag2CrO4.
Sementara bila konsentrasi lebih kecil dari 0,005 M akan memerlukan penambahan
(Ag+) yang berlebih agar terbentuk endapan Ag2CrO4 sehingga memperbesar kesalahan
titrasi.

Penentuan Kadar Cl-dalam Air Laut

Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam


gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas
di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen
yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902
sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen
digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk
menentukan kandungan kloridaAnion Cldengan larutan perak nitrat AgNO3 membentuk
endapan perak klorida , AgCl, yang seperti dadih dan putih. Ia tak larut dalam air dan
dalam asam nitrat encer tetapi larut dalam larutan amonia encer dan dalam larutan-
larutan kalium sianida dan tiosulfat.
Untuk menentukan kandungan klorida sebagai NaCl dalam air laut digunakan
titrasi argentometri metode Mohr, karena metode Mohr biasanya dipergunakan untuk
mengendapkan ion-ion perak, tiosianat, dan ion-ion halogen yang salah satunya adalah
ion klorida. Prinsipnya dalah reaksi kesetimbangan pada saat penambahan titran. Metode
argentometri merupakan metode yang jarang digunakan karena sulitnya mendapatkan
indikator yang sesuai. Selain itu komposisi endapan tidak selalu diketahui, yang dapat
diketahui ialah hasil akhirnya.Titrasi argentometri metode Mohr menggunakan larutan
kalium kromat (K2CrO4) sebagai indikator. Untuk dapat dijadikan indicator, konsentrasi
kalium kromat harus ditentukan dengan cermat agar tidak terjadi reaksi antara ion kromat
dengan titran sebelum ion klorida habis bereaksi dengan titran. Berikut ini reaksi yang
terjadi pada titrasi argentometri metode Mohr:
1. Cl- (aq) + Ag+(aq) ↔ AgCl(s) Ksp = 1,2 x 10-10
2. CrO42-(aq) + 2Ag+(aq) ↔ Ag2CrO4(s) Ksp = 1,7 x 10-12

Dari persamaan reaksi tersebut terlihat bahwa terjadi pengendapan bertingkat. Mula-
mula akan terbentuk endapan AgCl karena adanya reaksi ion klorida pada titrat dengan
ion perak pada titran. Setelah ion klorida habis bereaksi maka akan terjadi reaksi antara
ion perak dengan ion kromat dari indikator. Reaksi antara ion kromat dengan titran ini
akan mengakibatkan perubahan warna pada endapan menjadi merah kecoklatan. Pada
kondisi ini tercapai titik akhir titrasi.
Titrasi dengan cara Mohr harus dilakukan dalam suasana netral atau dengan
sedikit alkalis, pH 6,5– 9,0. Dalam suasana asam, ion kromat sebagian berubah menjadi
Cr2O7-2 dan dalam suasana basa, menyebabkan terbentuknya endapan AgOH yang lebih
lanjut akan terurai menjadi Ag2O sehingga titran yang diperlukan akan menjadi lebih
banyak. Reaksi yang terjadi pada suasana asam dan basa dapat dituliskan sebagai
berikut:
Asam: 2H+(aq) + 2CrO4-2(aq) ↔ Cr2O72-(aq) + H2O(l)
Basa : 2Ag+(aq) + 2OH-(aq) ↔2AgOH(s) ↔Ag2O(s) + H2O(l)
Selama titrasi Mohr, larutan diaduk dengan baik untuk menghindari terjadinya kelebihan
titran secara lokal. Hal ini dapat menyebabkan indikator mengendap sebelum titik
ekivalen tercapai dan oklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk kemudian. Akibat
selanjutnya adalah titik akhir menjadi tidak tajam. Metode Mohr cukup akurat dan dapat
digunakan pada konsentrasi yang rendah.
Mula-mula Ag+ akan mengikat Cl- membentuk AgCl ( terbentuk endapan merah)
dengan persamaan reaksi sebagai berikut:

Ag+ + Cl-  AgCl


Penambahan AgNO3 secara terus menerus akan membuat ion Cl- habis diikat oleh
ion Ag+ dari AgNO3. Apabila Cl- sudah habis bereaksi maka kelebihan Ag+ selanjutnya
bereaksi dengan CrO42- yang berasal dari indikator K2CrO4 yang ditambahkan dan
membentuk endapan Ag2CrO4 yang berwarna merah bata, berarti titik akhir titrasi sudah
tercapai sehingga selanjutnya Ag+ akan berikatan dengan CrO 24  dari K2CrO4
membentuk Ag2CrO4. Persamaan reaksinya adalah

2Ag+ (aq) + CrO 24  (aq) Ag2CrO4 (s)

Dari percobaan ini, dapat dibuktikan bahwa air dari garam laut mengandung Cl-. Hal ini
terlihat dari terbentuknya endapan baru yang berwarna yang menunjukkan jika ion Ag+
telah bereaksi terlebih dahulu dengan Cl- membentuk AgCl, sampai jenuh dan terbentuk
endapan tersebut
Gangguan pada titrasi ini antara lain disebabkan oleh:

1. Ion yang akan mengendap lebih dulu dari AgCl, misalnya: F, Br, CNSˉ
2. Ion yang membentuk kompleks dengan Ag⁺, misalnya: CNˉ, NH₃ diatas Ph 7
3. Ion yang membentuk kompleks dengan Clˉ, misalnya: Hg²⁺
4. Kation yang mengendapkan kromat, misalnya: Ba²⁺

Hal yang harus dihindari : cahaya matahari langsung atau sinar neon karena larutan perak
nitrat peka terhadap cahaya (reduksi fotokimia).

E. Alat dan Bahan :


 ALAT
 Neraca Analitik 1 buah  Erlenmeyer 250
1 setmL 3 buah
 Kaca arloji 1 buah  Pipet tetes 5 buah
 Labu ukur 100 mL 1 buah  Piknometer 1 buah
 Buret 1 buah  Statif dan Klem 1 set
 Pipet gondok 1 buah  Pump 1 buah
 Gelas ukur 10 mL 1 buah
 Gelas Kimia 100 mL 1 buah
 BAHAN
 Padatan NaCI ± 0,1 N 0,0625 gram
 Air suling 575 mL
 Larutan AgNO3 X mL
 Indikator K2CrO4 6 mL
 Air laut (daerah Kenjeran Surabaya) 10 mL

F. Alur Kerja :

1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 ± 0,01 N dengan NaCI p.a sebagai baku
 Pembuatan larutan baku NaCI ± 0,01 N

0,0625 gram NaCI

ditimbang dalam botol timbang


dipindahkan dalam labu ukur 100 mL
dilarutkan dengan air suling
diencerkan sampai tanda batas
dikocok hingga tercampur sempurna

Larutan NaCI

 Titrasi larutan AgNO3

Larutan NaCI

10 mL di pipet dengan pipet gondok


dimasukkan kedalam erlenmeyer 100 mL
ditambahkan 1 mL indikator K2CrO4
dititrasi dengan larutan AgNO3
dihentikan titrasi saat terjadi endapan merah bata
dicatat angka pada buret saat awal dan akhir titrasi
dicatat volume AgNO3 yang digunakan dalam titrasi
di ulangi 3 kali

Konsentrasi
rata-rata AgNO3
2. Aplikasi (Penentuan Kadar Cl- dalam air laut)

Air Laut (Tidak Berwarna)


- Diukur berat jenis air laut menggunakan piknometer
- Dicatat tempat pengambilan sampel
- Dipipet 10 mL air laut
- Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL
- Diencerkan sampai tanda batas
- Dipipet 10 mL dan diencerkan kembali dalam labu
ukur 100 mL
- laut pengenceran
Air
-
- Diambil 10 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer
- Ditambahkan 1 mL indikator K2CrO4 5%
Tidak Berwarna
- Dititrasi dengan AgNO3
- Dihentikan sampai terdapat endapan
Endapan Merah Bata

- Dilihat Volume AgNO3


- Diulangi sebanyak 3 kali
- Dihitung Volume AgNO3 rata-rata
Volume AgNO3 rata

- Dihitung kadar Cl-

Kadar Cl-

 Reaksi

NaCl(aq) + AgNO3(aq)  NaNO3(aq) + AgCl(s) endapan putih


2AgNO3(aq) + K2CrO4(aq)  2KNO3(aq) + Ag2CrO4(s) endapan merah bata
G. Hasil Pengamatan

No.
Perc
Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan / Reaksi Kesimpulan

NaCl (s) + H2O (l)


 Pembuatan Larutan Baku NaCI ± 0,1 N NaCl (aq) + H2O
1.  Sebelum Berdasarkan
(l)
0,0592 gram NaCI  NaCI (s) : kristal putih hasil percobaan
 Aquades (l) : tidak berwarna diperoleh
 Gram NaCI : 0,0625 gram konsentrasi
ditimbang dalam botol timbang
AgNO3 rata-
dipindahkan dalam labu ukur 100 mL rata sebesar
 Sesudah
dilarutkan dengan air suling  NaCI + Aquades = tidak 0,01086811883
berwarna N
diencerkan sampai tanda batas
dikocok hingga tercampur sempurna

Larutan NaCI
 Sebelum
 NaCI (aq) : tidak berwarna
 Titrasi Larutan AgNO3  Aquades : tidak berwarna
 K2CrO4 : larutan kuning
 NaCI (aq) +
Larutan NaCI  AgNO3 (aq) : tidak berwarna
AgNO3 (aq) →
NaNO3 (aq) +
10 mL di pipet dengan pipet gondok  Sesudah AgCI (s)
dimasukkan kedalam erlenmeyer 100 mL ( Endapan Putih )
 NaCI (aq) + K2CrO4 (aq) =
ditambahkan 1 mL indikator K2CrO4 larutan kuning
 + AgNO3 (aq) = Endapan Putih
dihentikan titrasi saat terjadi endapan merah bata AgCI
 + AgNO3 (aq) berlebih =
dicatat angka pada buret saat awal dan akhir titrasi
Endapan Merah Bata  2AgNO3 (aq) +
dicatat volume AgNO3 yang digunakan dalam titrasi
 Titrasi I K2CrO4 (aq) →
di ulangi 3 kali V1 = 0 mL 2KNO3 (aq) +
Ag2CrO4 (s)
Konsentrasi V2 = 10 mL ( Endapan Merah
rata-rata AgNO3
∆V = 10 mL Bata )

 Titrasi II
V1 = 10 mL
V2 = 19,9 mL
∆V = 9,9 mL

 Titrasi III
V1 = 19,9 mL
V2 = 29,5 mL
∆V = 9,6 mL
2.  Aplikasi ( Penentuan Kadar CI- dalam air laut )  Sebelum
 Air laut ( Kenjeran Surabaya ) :
Air Laut (Tidak Berwarna)
Keruh  NaCI (aq) + Berdasarkan
 Aquades : tidak berwarna AgNO3 (aq) hasil percobaan
- Diukur berat jenis air laut menggunakan piknometer  K2CrO4 : larutan kuning NaNO3 (aq) + diperoleh
- Dicatat tempat pengambilan sampel  AgNO3 (aq) : tidak berwarna AgCI (s) kadar CI- rata-
- Dipipet 25 mL air laut  Sesudah ( Endapan Putih )
rata dalam air
- Dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL  Air laut + K2CrO4 (aq) = larutan
laut sebesar
- Diencerkan sampai tanda batas kuning
0,05458821%
 + AgNO3 (aq) = Endapan Putih
Air laut pengenceran AgCI
 + AgNO3 (aq) berlebih =  2AgNO3 (aq) +
- Diambil 25 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer Endapan Merah Bata K2CrO4 (aq)
- Ditambahkan 5 tetes indikator K2CrO4 5%  Titrasi I 2KNO3 (aq) +
V1 = 5,5 mL Ag2CrO4 (s)
Tidak Berwarna V2 = 10,1 mL ( Endapan Merah
- Dititrasi dengan AgNO3 ∆V = 4,6 mL Bata )
- Dihentikan sampai terdapat endapan  Titrasi II
V1 = 2,7 mL
Endapan Merah Bata V2 = 7,9mL
∆V = 5,2 mL
- Dilihat Volume AgNO3  Titrasi III
- Diulangi sebanyak 3 kali V1 = 0 mL
- Dihitung Volume AgNO3 rata-rata V2 = 5,5 mL
∆V = 5,5 mL
Volume AgNO3 rata  Massa pikno = 22,2855 gram
 Massa pikno + Sampel = 73,3362
- Dihitung kadar Cl- gram
 Vol. Pikno = 50mL
Kadar Cl-
H. Diskusi dan pembahasan

1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 ± 0,01 N dengan NaCl p.a sebagai baku
Titrasi Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan
kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan
pembentukan endapan dengan ion Ag+. Percobaan ini yaitu penentuan
(standarisasi) larutan AgNO3 ± 0,01 N dengan NaCI p.a sebagai baku.
Titrasi Argentometri memiliki 3 metode yaitu Metode Mohr, Vallhard,
dan Fajans. Dalam percobaan ini digunakan Metode Mohr yang didasarkan pada
pembentukan endapan berwarna yang dalam percobaan ini terbentuk endapan
merah bata. Pada metode ini pH larutan harus bersifat netral atau sedikit basa dan
lebih tepatnya terjadi pada pH 8. Hal ini dikarenakan jika pH terlalu asam maka
ion kromat akan berubah menjadi dikromat yang mudah larut dan jika pH terlalu
basa maka akan terbentuk endapan AgOH dan bukannya endapan perak kromat.
Hal tersebut sesuai dengan reaksi :

Asam: 2H+(aq) + 2CrO4-2(aq) ↔ Cr2O72-(aq) + H2O(l)


Basa : 2Ag+(aq) + 2OH-(aq) ↔2AgOH(s) ↔Ag2O(s) + H2O(l)
Langkah pertama yang dilakukan yaitu pembuatan larutan baku NaCl ±
0,01 N. NaCl p.a berupa kristal putih dimasukkan ke dalam botol timbang, lalu
ditimbang sebanyak 0,0625 gram dengan menggunakan neraca analitik. Sebelum
ditimbang, neraca analitik harus dinolkan terlebih dahulu kemudian botol
ditimbang lalu neraca dinolkan kembali dan mulai menimbang NaCl sebanyak
0,0625 gram. NaCl yang telah ditimbang dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml
dengan menggunakan corong, dan botol timbang dibilas dengan aquades agar
tidak ada sisa NaCl yang menempel pada botol timbang sehingga massa NaCl
dalam labu ukur sama dengan massa sebelum dimasukkan. Kemudian ditambah
aquades sampai ¼ bagian labu ukur. Setelah itu labu ukur digoyang secara
perlahan agar semua NaCl tercampur secara sempurna dan tidak tampak lagi
adanya kristal putih NaCl. Pelarutan ini bertujuan untuk merubah wujud NaCl
dari zat padat menjadi zat cair agar dapat dititrasi karena titrasi dapat berlangsung
jika analit dan titran dalam bentuk larutan. Reaksi pelarutan NaCl adalah sebagai
berikut :
NaCl (s) + H2O (l)→ NaCl(aq) + H2O (l)
Lalu NaCl diencerkan dengan aquades sampai tanda batas meniskus
dan labu ukur dikocok dengan membolak-balikkan labu ukur secara perlahan agar
larutan tercampur secara merata. Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah
proses titrasi, jika analit dalam kondisi pekat maka volume titran yang diperlukan
sangat banyak sehingga terjadi pemborosan bahan. Hal ini didasarkan pada
perhitungan mol ekivalen NaCl = mol ekivalen AgNO3. Setelah pengenceran
maka diperoleh larutan NaCl yang tidak berwarna. Sedangkan berdasarkan
perhitungan rumus Normalitas

N=

diperoleh konsentrasi larutan NaCl setelah diencerkan yakni 0,010683761 N.

Langkah selanjutnya, larutan NaCl yang telah diencerkan diambil 10


mL menggunakan pipet seukuran. Penggunaan pipet seukuran ini bertujuan agar
pengambilan volume larutan lebih akurat. Kemudian larutan NaCl dimasukkan
ke dalam erlenmeyer 250 mL.

Sementara itu, buret dibilas dengan larutan AgNO3 yang bertujuan


untuk membersihkan buret dari sisa-sisa larutan dari praktikum terdahulu dan
agar titran tidak terkontaminasi dengan zat-zat lain. Kemudian buret diisi
dengan larutan AgNO3 hingga diatas skala nol. Lalu kran buret dibuka hingga
volume larutan AgNO3 tepat pada skala nol. Hal tersebut bertujuan untuk
memudahkan pembacaan skala saat proses titrasi. Selanjutnya kran buret
dikunci kembali sebelum proses titrasi dimulai. Lalu larutan NaCl yang telah
dimasukkan dalam erlenmeyer ditambahkan 20 tetes (1 mL) indikator K2CrO4.
Setelah penambahan indikator ini maka larutan menjadi berwarna kuning muda.
Digunakan indikator K2CrO4 untuk membentuk endapan berwarna merah bata
sesuai dengan konsep dasar pada Metode Mohr, di mana kelebihan ion Ag+ akan
bereaksi dengan CrO42- membentuk perak kromat yang berwarna merah bata.

Dalam proses titrasi, pertama-tama akan terbentuk endapan putih AgCl


dan setelah itu terbentuk endapan merah bata Ag2CrO4. Hal ini dapat terjadi
karena dalam larutan terdapat ion Cl- dalam konsentrasi besar dan ion kromat
dalam konsentrasi kecil. Sehingga untuk membentuk perak kromat maka
diperlukan ion Ag+ yang lebih banyak untuk melebihi Ksp dari perak kromat
dan membentuk endapan. Berdasarkan teori Ksp AgCl = 1,8 x 10-10 dan Ksp
Ag2CrO4 = 2 x 10-12. Setelah itu, NaCl dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai
terjadi pembentukan endapan berwarna merah bata yang mengindikasikan
tercapainya titik akhir titrasi. Maka proses titrasi harus dihentikan. Hal ini
menujukkan bahwa titik ekivalen telah tercapai yaitu mol NaCl = mol AgNO3.

Selain itu pembentukan endapan merah bata tersebut disebabkan


karena setelah semua ion Cl- dari NaCl habis bereaksi dengan
AgNO3 membentuk endapan AgCl yang berwarna putih, sementara kelebihan
AgNO3 menyebabkan ion Ag+ dari AgNO3 akan bereaksi dengan ion CrO42- dari
indikator K2CrO4, sehingga akan terbentuk endapan perak kromat berwarna
merah bata.

Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali. Pengulangan ini bertujuan untuk


menambah keakuratan data yang diperoleh. Kemudian dihitung konsentrasi
AgNO3 dan dirata-rata. Reaksi yang terjadi pada proses titrasi adalah

NaCl(aq) + AgNO3(aq)  NaNO3(aq) + AgCl(s) endapan putih


2AgNO3(aq) + K2CrO4(aq)  2KNO3(aq) + Ag2CrO4(s) endapan merah bata

Dari percobaan yang telah dilakukan volume dan konsentrasi AgNO3


yang diperoleh berturut-turut sesuai dengan tabel dibawah ini :

Titrasi ke- Volume Awal Volume Akhir ΔV N AgNO3


1. 0 mL 10 mL 10 mL 0,01068376 0,010868118
1N 83 N
2. 10 mL 19,9 mL 9,9 0,01079167
mL 778 N
3. 19,9 mL 29,5 mL 9,6 0,01112891
mL 771 N

Sehingga berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus dibawah ini:


Mol ek AgNO3 = Mol ek NaCl
N1 V1 = N2 V2
didapatkan rata-rata Normalitas AgNO3 sebesar 0,01086811883 N. Dengan
diperolehnya konsentrasi AgNO3 tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
larutan AgNO3 memang mempunyai konsentrasi 0,01086811883 N dan sesuai
dengan teori yang ada.

2. Aplikasi ( Penentuan kadar Cl- dalam air laut )

Salah satu aplikasi dari titrasi pengendapan adalah menentukan kadar


Cl- dalam air laut. Dimana air laut yang digunakan berasal dari pantai Kenjeran
Surabaya. Metode yang digunakan dalam percobaan ini sama dengan metode
sebelumnya yaitu metode Mohr yang didasarkan pada pembentukan endapan
berwarna. Langkah yang dilakukan untuk menentukan kadar Cl- dalam air laut
adalah mengukur berat jenis air laut menggunakan piknometer dan neraca
analitis, sehingga diperoleh data sesuai tabel dibawah ini :

Massa Piknometer Kosong 22,2855 gram

Massa Piknometer + Sampel 73,3362 gram

Volume Piknometer 50 mL

Melalui Perhitungan menggunakan rumus :

 sampel =

Maka diperoleh Berat Jenis air laut sebesar 1,021014 gram/mL,


sedangkan dalam teori berat Jenis air laut adalah 1,025 gram/mL. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa berat Jenis air laut tidak berbeda jauh dengan teori.

Kedalam gelas ukur dituangkan 25 mL air laut, kemudian air laut


dipindahkan kedalam labu ukur 100 mL dan dilakukan pengenceran pertama
sebanyak 2 kali menggunakan aquades sampai tanda batas meniskus.
Pengenceran dilakukan sebanyak dua kali dikarenakan labu ukur yang
digunakan hanya berukuran 100 ml. Pengenceran ini bertujuan untuk
mempermudah proses titrasi, jika analit dalam kondisi pekat maka volume titran
yang diperlukan sangat banyak sehingga terjadi pemborosan bahan. Reaksi
pengenceran air laut adalah sebagai berikut:

NaCl(aq) + H2O (l) → NaCl (aq) + H2O (l)


Kemudian larutan air laut encer diambil 10 mL menggunakan pipet
seukuran dengan tujuan agar pengambilan volume larutan lebih akurat. Lalu
larutan air laut encer tersebut dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml dan
diencerkan sampai tanda batas miniskus. Hal tersebut diatas merupakan
pengenceran kedua. Dilakukan pengenceran sebanyak 2 kali dimaksudkan agar
konsentrasi Cl- dalam air laut menjadi lebih encer dan konsentrasinya semakin
kecil sehingga titran (AgNO3) yang digunakan tidak terlalu banyak dan tidak
melebihi batas skala buret.
Lalu larutan air laut yang telah dimasukkan dalam erlenmeyer
ditambahkan 20 tetes (1 mL) indikator K2CrO4. Setelah penambahan indikator
ini maka larutan menjadi berwarna kuning muda. Digunakan indikator K2CrO4
untuk membentuk endapan berwarna merah bata sesuai dengan konsep dasar
pada Metode Mohr, di mana kelebihan ion Ag+ akan bereaksi dengan CrO42-
membentuk perak kromat yang berwarna merah bata.
Dalam proses titrasi, pertama-tama akan terbentuk endapan putih
AgCl dan setelah itu terbentuk endapan merah bata Ag2CrO4. Hal ini dapat
terjadi karena dalam larutan terdapat ion Cl- dalam konsentrasi besar dan ion
kromat dalam konsentrasi kecil. Sehingga untuk membentuk perak kromat maka
diperlukan ion Ag+ yang lebih banyak untuk melebihi Ksp dari perak kromat
dan membentuk endapan. Berdasarkan teori Ksp AgCl = 1,8 x 10-10 dan Ksp
Ag2CrO4 = 2 x 10-12. Setelah itu, air laut dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai
terjadi pembentukan endapan berwarna merah bata yang mengindikasikan
tercapainya titik akhir titrasi. Maka proses titrasi harus dihentikan. Hal ini
artinya titik ekivalen juga telah tercapai yaitu mol air laut = mol AgNO3.
Selain itu pembentukan endapan merah bata tersebut disebabkan
karena setelah semua ion Cl- dari air laut (NaCl) habis bereaksi dengan
AgNO3 membentuk endapan AgCl yang berwarna putih, sementara kelebihan
AgNO3 menyebabkan ion Ag+ dari AgNO3 akan bereaksi dengan ion CrO42- dari
indikator K2CrO4, sehingga akan terbentuk endapan perak kromat berwarna
merah bata.

Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali. Pengulangan ini bertujuan untuk


menambah keakuratan data yang diperoleh. Kemudian dihitung konsentrasi
AgNO3 dan dirata-rata. Reaksi yang terjadi pada proses titrasi adalah
NaCl(aq) + AgNO3(aq)  NaNO3(aq) + AgCl(s) endapan putih
2AgNO3(aq) + K2CrO4(aq)  2KNO3(aq) + Ag2CrO4(s) endapan merah bata
Dari percobaan yang telah dilakukan volume dan konsentrasi
AgNO3 yang diperoleh berturut-turut sesuai dengan tabel dibawah ini :

Titrasi ke- Volume Awal Volume Akhir ΔV N CH3COOH


1. 5,5 mL 10,1 mL 4,6 mL 0,004999335N 0,0055
2. 2,7 mL 7,9 mL 5,2 mL 0,005651422N 4274
3. 0 mL 5,5 mL 5,5 mL 0,005977465N N

Sehingga berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus


Mol ek AgNO3 = Mol ek Cl-
N1 V1 =N2 V2
M1 V1 n =M2 V2 n
didapatkan rata-rata Molaritas Cl- sebesar 0,00554274 N. Sedangkan untuk
perhitungan kadar Cl- , dihitung massa Cl- terlebih dahulu menggunakan rumus

N =M.n
=

Untuk memperoleh kadar Cl- menggunakan rumus :


%Cl- =

( % ) Cl- dalam air laut sebesar :


Titrasi ke- Kadar ( % ) Rata-Rata Kadar ( % )

1. 0,0001738237

2. 0,0001964963 0,0001927175

S3. 0,0002078326

e
hingga didapatkan kadar Cl- dalam air laut pantai Kenjeran sebesar 0,0001927175
%. Kadar yang didapatkan terlalu kecil dikarenakan air laut mengalami pengenceran
hingga seratus kali.
I. Kesimpulan

Dari percobaan titrasi argentometri yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Satandarisasi larutan AgNO3 ± 0.01 N dengan NaCl 0.0625 gram sebagai baku
diperoleh Normalitas rata-rata AgNO3 sebesar 0.01086811883 N.

2. Kadar Cl- dalam air laut dari pantai Kenjeran, Surabaya sebesar 0.05458821 %.
Daftar Pustaka

Day,R.A., Underwood, A. L. 1986. Quantitative Analysis (6th edition). New York:


Prentice Hall. (terjemahan oleh Aloysius Hadyana P. (2002) Analisis Kimia
Kuantitatif (Edisi 6). Jakarta: Erlangga)
Djadjat,tisnadja.2013. Titrasi Pengendapan. Online :
https://tisnadjaja.files.wordpress.com/2013/03/titrasi-pengendapan-4.pdf
(diakses tanggal 9 November 2016 pukul 13.00 WIB)

Gusdinar,tutur. 2014. Presipitatometri (Titrasi pengendapan). Online :


http://download.fa.itb.ac.id/filenya/Handout%20Kuliah/Inorganic%20Pharmac
eutical%20Analysis%202008/Versi%20Bhs.%20Indonesia/03.%20Aplikasi%
20Titrasi%20Pengendapan.pdf (diakses tanggal 9 November 2016 pukul 13.00
WIB)

Kusumaningrum, Widya. 2014. Penentuan Kadar Ion Klorida dengan Metode


Argentometri. Online :
https://kusumaningrumwidya.files.wordpress.com/2014/04/penentuan-kadar-
klorida-dengan-metoe-mohr.pdf. (diakses pada tanggal 9 November 2016
pukul 16.00 WIB).

Ozhora, Mutriono. 2013. Titrasi Argentometri. Online :


https://www.scribd.com/document/130303039/argentometri-doc. (Diakses
pada tanggal 9 November 2016 pukul 16.10 WIB).

Samodra,imam. 2008. Argentometri.Online :


https://imamsamodra.files.wordpress.com/2008/02/microsoft-word-
argentometri.pdf (diakses tanggal 9 November 2016 pukul 15.00)

Setiartini, Yeni. 2014. Penentuan Kadar Klorida dengan Metode Argentometri.


Online :
http://www.academia.edu/6799644/LAPORAN_PRAKTIKUM_KIMIA_ANA
LITIK_penentuan_kadar_klorida_dengan_argentometri_metode_mohr.
(Diakses pada tanggal 9 November 2016 pukul 15.15 WIB).

Sonytya. 2012. Titrasi Argentometri cara Mohr. Web Publikasi :


https://www.scribd.com/doc/82919456/Laporan-Air-Laut. (Diakses pada
tanggal 9 November 2016 pukul 15.30 WIB).

Sunarto.2013.TitrasiPengendapan.Online
:http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Sunarto,Drs.,%20M.Si./Mo
dul%20Kimia%20Analisis%20I%20titrasi%20pengendapan.pdf (diakses
tanggal 9 November pukul 15.35 WIB).

Tim Penyusun DDKA. 2007. Panduan Praktikum Dasar Dasar Kimia Analitik.
Surabaya: UNESA press
J. Jawaban Pertanyaan

a) Standarisasi larutan AgNO3

1. Buatlah kurva titrasi antara volume AgNO3 dan pCl untuk titrasi antara 50
mL 0,1 M larutan NaCl dengan larutan AgNO3 0,1 M.
Jawab:
a. Awal titrasi
[Cl-] = 0,1 mmol/mL
pCl = -log [Cl-]
=1
b. Setelah penambahan AgNO3 10 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
10 mL  0,1 mmol/mL = 1 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 1 mmol 5 mmol -
Perubahan : 1 mmol 1 mmol -
Kesetimbangan : - 4 mmol -

Cl   460mmol
-

mL
 0,067M

pCl   log Cl -  
 log 0,067
 1,17
c. Setelah penambahan AgNO3 20 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
20 mL  0,1 mmol/mL = 2 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 2 mmol 5 mmol -
Perubahan : 2 mmol 2 mmol -
Kesetimbangan : - 3 mmol

Cl   370mmol
-

mL
 0,043M

pCl   log Cl -  
  log 0,067
 1,37
d. Setelah penambahan AgNO3 30 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
30 mL  0,1 mmol/mL = 3 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 3 mmol 5 mmol -
Perubahan : 3 mmol 3 mmol -
Kesetimbangan : - 2 mmol -

Cl   280mmol
-

mL
 0,025M

pCl   log Cl -  
 log 0,025
 1,60
e. Setelah penambahan AgNO3 40 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
40 mL  0,1 mmol/mL = 4 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 4 mmol 5 mmol -
Perubahan : 4 mmol 4 mmol -
Kesetimbangan : - 1 mmol -

Cl   190mmol
-

mL
 0,011M

pCl   log Cl -  
 log 0,011
 1,96
f. Setelah penambahan AgNO3 49 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
49 mL  0,1 mmol/mL = 4,9 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 4,9 mmol 5 mmol -
Perubahan : 4,9 mmol 4,9 mmol -
Kesetimbangan : - 0,1 mmol -

Cl   099
- ,1mmol
mL
 1,01  10 3
M

 
pCl   log Cl -

 log 1,0110 3
 2,99
g. Setelah penambahan AgNO3 49,9 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
49,9 mL  0,1 mmol/mL = 4,99 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 4,99 mmol 5 mmol -
Perubahan : 4,99 mmol 4,99 mmol -
Kesetimbangan : - 0,01 mmol -

Cl   099,9
- ,01mmol
mL
 10 4
M

 
pCl   log Cl -

 log 10 4
4
h. Setelah penambahan AgNO3 50 mL (titik ekivalen)
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 5 mmol 5 mmol -
Perubahan : 5 mmol 5 mmol -
Kesetimbangan : - - -

AgCl (s)  Ag+ + Cl-


[Ag+] [Cl-] = Ksp
[Ag+] = [Cl-]
[Cl-]2 = 1,0  10-10
[Cl-] = 1,0  10-5
 
pCl   log Cl -

 log 10 5
5
i. Setelah penambahan AgNO3 50,1 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
50,1 mL  0,1 mmol/mL = 5,01 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 5,01 mmol 5 mmol -
Perubahan : 5 mmol 5 mmol -
Kesetimbangan : 0,01 mmol - -

Ag   0100,1
- ,01mmol
mL
 9,99  10 5
M


pAg   log Ag  
 log 9,99  10 5
4
pAg + pCl = 10
4 + pCl = 10
pCl = 6
j. Setelah penambahan AgNO3 51 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
51 mL  0,1 mmol/mL = 5,1 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 5,1 mmol 5 mmol -
Perubahan : 5 mmol 5 mmol -
Kesetimbangan : 0,1 mmol - -

Ag   0101
- ,1mmol
mL
 9,90  10 4
M


pAg   log Ag  
 log 9,90  10 4
3
pAg + pCl = 10
3 + pCl = 10
pCl = 7
k. Setelah penambahan AgNO3 60 mL
50 mL  0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl-
60 mL  0,1 mmol/mL = 6 mmol Ag+
mmol : Ag+ + Cl-  AgCl (s)
Awal : 6 mmol 5 mmol -
Perubahan : 5 mmol 5 mmol -
Kesetimbangan : 1 mmol - -

Ag   110
- 1mmol
mL
 9,09  10 3
M

pAg   log Ag  
 log 9,09  10 3
 2,04
pAg + pCl = 10
2,04 + pCl = 10
pCl = 7,96

Tabel titrasi 50 mL NaCl 0,1 M dengan AgNO3 0,1 M


mL AgNO3 pCl
0 1
10 1,17
20 1,37
30 1,60
40 1,96
49 2,99
49,9 4
50 5
50,1 6
51 7
60 7,96
2. Berapa konsentrasi garam NaCl dalam suatu larutan, apabila 25 mL larutan
tersebut jika direaksikan dengan 25 mL 0,2 M larutan AgNO3, dan
kelebihan larutan AgNO3 tepat bereaksi habis dengan larutan KSCN 28 mL
0,1 M.
Jawab:

mmol NaCl = 25x mmol mmol KSCN = 2,8 mmol


mmol AgNO3 = 5 mmol

NaCl + AgNO3 AgCl + Na NO3


M 25x 5
B 25x 25x 25x 25x
S - 5 – 25x 25x 25x
AgNO3 + KSCN AgSCN + KNO3
M 5 – 25x 2,8
B 2,8 2,8 2,8 2,8
S (5 – 25x) - 2,8 - 2,8 2,8
Konsentrasi garam NaCl :
5 – 25x = 2,8
25x = 5 – 2,8
25x = 2,2
x = 2,2
25
= 0,088 M
Jadi Konsentrasi garam NaCl adalah 0,088 M
b) Aplikasi
3. Bagaimana cara memilih indikator pada titrasi argentometri?
Jawab:
Pada titrasi pengendapan yang melibatkan garam-garam perak ada tiga
indikator yang telah dikembangkan. Metode Mohr menggunakan ion kromat,
CrO42-, untuk mengendapkan Ag2CrO4 yang berwarna coklat. Metode
Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk kompleks yang berwarna
dengan ion tiosianat, SCN-. Metode Fajans menggunakan indikator-indikator
adsorpsi

4. Terangkan bagaimana suatu indikator adsorpsi bekerja. Apa fungsi dekstrin?


Mengapa pH harus dikendalikan?
Jawab:
Cara kerja indikator adsorpsi: indikator ini ialah asam lemah atau basa
lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya
fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan,
fluoresein akan mengion HFI H+ + FI-. Ion FI- inilah yang diserap oleh
endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah muda. Karena
penyerapan terjadi pada permukaan, dalam titrasi ini diusahakan agar
permukaan endapan itu seluas mungkin supaya perubahan warna juga
tampak sejelas mungkin, maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan
terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan perkataan
lain setelah sedikit kelebihan titrant (ion Ag+).
Dekstrin berfungsi untuk menjaga agar endapan tersebar luas
Pengaturan pH perlu, karena jika pH yang digunakan terlalu tinggi, maka
dapat membentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O
sehingga titrant terlalu banyak terpakai.

Anda mungkin juga menyukai