Anda di halaman 1dari 29

A. Judul Percobaan

B. Tanggal percobaan

C. Tujuan Percobaan

D. Dasar teori

: Titrasi Pengendapan dan Aplikasinya (Argentometri)

: Selasa, 15 November 2016 pukul 13:00 15:30

: 1. Membuat dan menentukan (standarisasi) larutan AgNO 3 2. Menetukan kadar Cl - dalam air laut

:

Salah satu cara untuk menentukan kadar asam-basa dalam suatu larutan adalah dengan volumetri (titrasi). Volumetri (titrasi) merupakan cara penentuan kadar suatu zat dalam larutannya didasarkan pada pengukuran volumenya. Salah satu jenis volumetri yaitu Argentometri , Volumetri jenis ini berdasar atas reaksi kresipilasi (pengendapan dari ion Ag + ). Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag + . Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO 3 ). Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag + dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan.

Ada tiga tipe titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan AgNO 3 yaitu indikator,amperometri,dan indikator kimia. Untuk titik akhir yang dihasilkan indikator kimia, biasanya terdiri dari perubahan warna/muncul tidaknya kekeruhan dalam larutan yang dititrasi. Syarat indikator untuk titrasi pengendapan analog dengan indikator titrasi netralisasi, yaitu : 1. Perubahan warna harus terjadi terbatas dalam range pada p-function dari reagen /analit. 2. Perubahan Warna harus terjadi dalam bagian dari kurva titrasi untuk analit.

Berdasarkan pada indikator yang digunakan, argentometri dapat dibedakan atas :

1. Metode Mohr (pembentukan endapan berwarna) Metode Mohr dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan standar AgNO 3 dan penambahan K 2 CHO 4 sebagai indikator. Titrasi dengan cara ini harus dilakukan dalam suasana netral atau dengan sedikit alkalis, pH 6,5 9,0. Dalam suasana asam, perak kromat larut karena terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan terbentuk endapan perak hidroksida. Reaksi yang terjadi adalah :

Asam

: 2CrO 4 2- + 2H + ↔ CrO 7 2- + H 2 O

Basa

: 2 Ag + + 2 OH - ↔ 2 AgOH

2AgOH

↔ Ag 2 O + H 2 O

Pada titik ekivalen, Ekivalen Ag + = ekivalen Cl -

2. Model Valhard (Penentu zat warna yang mudah larut). Metode ini digunakan dalam penentuan ion Cl + , Br - , dan I - dengan penambahan larutan standar AgNO 3 . Indikator yang dipakai adalah Fe 3+ dengan titran NH 4 CNS, untuk menentralkan kadar garam perak dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan standar berlebih. Kelebihan AgNO 3 dititrasi dengan larutan standar KCNS, sedangkan indikator yang digunakan adalah ion Fe 3+ dimana kelebihan larutan

KCNS akan diikat oleh ion Fe 3+ membentuk warna merah darah dari FeSCN. Pada titik ekivalen :

Jumlah ekivalen Ag + sisa = jumlah ekivalen SCN - atau Jumlah ekivalen Ag + total = jumlah ekivalen (Cl - + SCN - ).

3. Motode Fajans (Indikator Absorbsi) Titrasi argenometri dengan cara fajans adalah sama seperti pada cara Mohr, hanya terdapat perbedaan pada jenis indikator yang digunakan. Indikator yang digunakan dalam cara ini adalah indikator absorbsi seperti cosine atau fluonescein menurut macam anion yang diendapkan oleh Ag + . Titrannya adalah AgNO 3 hingga suspensi violet menjadi merah. pH tergantung pada macam anion dan indikator yang dipakai. Indikator absorbsi adalah zat yang dapat diserap oleh permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Pengendapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekuivalen antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH. Sebelum titik ekuivalen tercapai, ion Cl - berada dalam lapisan primer dan setelah tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit AgNO 3 menyebabkan ion Cl - akan diganti oleh Ag + sehingga ion Cl - akan berada pada lapisan sekunder.

Dasar titrasi argentometri

adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Dasar teori :

Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Dasar teori

Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag + dari titran akan bereaksi dengan ion Cl - dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.

Ag(NO3)(aq) + NaCl(aq) -> AgCl(s) + NaNO3(aq)

Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO 4 2- dimana dengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Indikator lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indicator adsorpsi. Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi yang dipakai maka titrasi argentometri. Prinsip umum dari titrasi argentometri adalah kelarutan dan tetapan kelarutan dari reagen-reagen yang bereaksi. Kurva titrasi pengendapan analog dengan kurva titrasi asam basa. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan :

1. Suhu Pada kebanyakan garam anorganik, kelarutan meningkat jika suhu naik. Sebaiknya proses pengendapan, penyaringan dan pencucian endapan dilakukan dalam keadaan larutan panas.

2. Sifat Pelarut Kebanyakan garam anorganik larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik. Air memiliki momen dipol yang besar dan tertarik oleh kation dan anion membentuk ion hidrat. Sebagaimana ion hidrogen yang membentuk H 3 O + , energi yang dibebaskan pada saat interaksi ion dengan pelarut akan membantu meningkatkan gaya tarik ion terhadap kerangka padat endapan. Ion-ion dalam kristal tidak memiliki gaya.

3. Ion Sejenis

Endapan lebih mudah larut dalam air daripada dalam larutan yang mengandung ion sejenis. Teknik penambahan ion sejenis dilakukan oleh analis untuk tujuan : 1) menyempurnakan pengendapan 2) pencucian endapan dengan larutan yang mengandung ion sejenis dengan endapan 4. Aktivitas Ion Banyak endapan yang kelarutannya naik di dalam larutan yang mengandung ion-ion yang tidak bereaksi dengan ionion pembentuk endapan. Fenomena ini disebut efek aktivitas ion atau efek ion berlainan (diverse ion effect) atau efek garam netral.

5. pH Kelarutan garam dari asam lemah tergantung kepada pH larutan. Contoh : oksalat, sulfida, hidroksida, karbonat, fosfat. Proton bereaksi dengan anion membentuk asam lemah sehingga mempertinggi kelarutan garam.

6. Hidrolisis Jika garam dari asam lemah dilarutkan di dalam air terjadi perubahan pH larutan.

MA

M + + A - + + A -

A-

+ H 2 O

HA + OHA- + H 2 O

Jika HA sangat lemah, MA tidak larut, maka Ka dan Ksp kecil. Jika [A-] kecil, maka reaksi hidrolisis lebih sempurna. Dapat terjadi 2 ekstrim yang tergantung besarnya harga Ksp :a) Kelarutan sangat kecil di mana pH air tidak berubah karena terjadi hidrolisis. b) Kelarutan cukup besar di mana ion OH- yang bersumber dari air dapat diabaikan.

7. Efek hidroksida logam Jika hidroksida logam dilarutkan di dalam air, terjadi seperti pada efek hidrolisis tetapi pH tidak berubah.

8. Pembentukan Senyawa Kompleks Kelarutan ‘garam sukar larut’ dipengaruhi oleh zat-zat yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan kationnya. Ion pengkompleks dapat berupa anion atau molekul netral, baik sejenis maupun tidak sejenis dengan endapan.

Pembuatan Larutan Standar AgNO 3 0,1 N

AgNO3 (Mr = 169,89 ) dapat diperoleh dalam keadaan murni (99,9%) disebut

sebagai standar primer. Biasanya larutannya tidak perlu standarisasi, kecuali terpaksa.

Standarisasi dilakukan dg kristal NaCl yang kemurniannya sangat tinggi 99,9 100 % ( standar primer yg exellent)

Titrasi ini dikenalkan oleh Mohr (1856) dan dikenal sebagai titrasi argentometri secara Mohr. Sejumlah volume larutan halogen ( misalnya Cl - ),dilakukan titrasi menggunakan larutan standar AgNO 3 0,1 N. Indikator yang ditambahkan adalah K 2 CrO 4 . Titik ekivalen ditandai dg terbentukknya endapan yang berwarna merah bata Ag + tidak dapat ditritrasi langsung oleh Cl - menggunakan indikator CrO 4 2- , karena Ag 2 CrO akan terbentuk lebih awal dan melarut lambat menjelang TE. Untuk hal

tersebut dapat digunakan teknik titrasi balik : Ag + ditambah Cl - baku (berlebih), kemudian Cl - sisa dititrasi dengan larutan Ag + baku menggunakan indikator CrO 4 2- . Jika larutan Ag + ditambahkan kedalam larutan Cl - yang mengandung sedikit CrO 4 2- . maka AgCl akan mengendap terlebih dahulu, sementara itu Ag 2 CrO 4 belum terbentuk, dan penambahan (Ag + ) sampai melewati Ksp Ag 2 CrO 4 (2,0x10 -12 ) akan membentuk endapan merah Ag 2 CrO 4 .

Ag + + Ag + + CrO 4 2- Cl -
Ag + +
Ag + + CrO 4 2-
Cl -

AgCl(s) Ag 2 CrO 4 (endapan merah)

+ CrO 4 2- Cl - AgCl(s) Ag 2 CrO 4 (endapan merah) Kelarutan Ag 2

Kelarutan Ag 2 CrO 4 (8,4x10 -5 M) > AgCl (1,35x10 -5 M)

Dalam percobaan ini, kesalahan titrasi yang mungkin terjadi disebabkan oleh konsentrasi CrO 4. Konsentrasi CrO 4 yang digunakan sebaiknya pada kisaran 0,005 M sampai 0,01 M, supaya kesalahan titrasi diperkecil. Bila konsentrasi terlalu besar maka warna kuning CrO 4 2- akan mengganggu pengamatan terbentuknya endapan Ag 2 CrO 4 . Sementara bila konsentrasi lebih kecil dari 0,005 M akan memerlukan penambahan (Ag + ) yang berlebih agar terbentuk endapan Ag 2 CrO 4 sehingga memperbesar kesalahan titrasi.

Penentuan Kadar Cl - dalam Air Laut

Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan kloridaAnion Cldengan larutan perak nitrat AgNO3 membentuk endapan perak klorida , AgCl, yang seperti dadih dan putih. Ia tak larut dalam air dan dalam asam nitrat encer tetapi larut dalam larutan amonia encer dan dalam larutan- larutan kalium sianida dan tiosulfat. Untuk menentukan kandungan klorida sebagai NaCl dalam air laut digunakan titrasi argentometri metode Mohr, karena metode Mohr biasanya dipergunakan untuk mengendapkan ion-ion perak, tiosianat, dan ion-ion halogen yang salah satunya adalah

ion klorida. Prinsipnya dalah reaksi kesetimbangan pada saat penambahan titran. Metode argentometri merupakan metode yang jarang digunakan karena sulitnya mendapatkan indikator yang sesuai. Selain itu komposisi endapan tidak selalu diketahui, yang dapat diketahui ialah hasil akhirnya.Titrasi argentometri metode Mohr menggunakan larutan

kalium kromat (K 2 CrO 4 ) sebagai indikator. Untuk dapat dijadikan indicator, konsentrasi kalium kromat harus ditentukan dengan cermat agar tidak terjadi reaksi antara ion kromat dengan titran sebelum ion klorida habis bereaksi dengan titran. Berikut ini reaksi yang terjadi pada titrasi argentometri metode Mohr:

1.

2. CrO42-(aq) + 2Ag+(aq) ↔

Cl- (aq) +

Ag+(aq)

AgCl(s)

Ag2CrO4(s)

Ksp = 1,2 x 10-10 Ksp = 1,7 x 10-12

Dari persamaan reaksi tersebut terlihat bahwa terjadi pengendapan bertingkat. Mula- mula akan terbentuk endapan AgCl karena adanya reaksi ion klorida pada titrat dengan ion perak pada titran. Setelah ion klorida habis bereaksi maka akan terjadi reaksi antara ion perak dengan ion kromat dari indikator. Reaksi antara ion kromat dengan titran ini akan mengakibatkan perubahan warna pada endapan menjadi merah kecoklatan. Pada kondisi ini tercapai titik akhir titrasi. Titrasi dengan cara Mohr harus dilakukan dalam suasana netral atau dengan sedikit alkalis, pH 6,59,0. Dalam suasana asam, ion kromat sebagian berubah menjadi Cr 2 O 7 -2 dan dalam suasana basa, menyebabkan terbentuknya endapan AgOH yang lebih lanjut akan terurai menjadi Ag 2 O sehingga titran yang diperlukan akan menjadi lebih banyak. Reaksi yang terjadi pada suasana asam dan basa dapat dituliskan sebagai berikut:

Asam: 2H + (aq) + 2CrO 4 -2 (aq)

Cr 2 O 7 2- (aq)

+

H 2 O (l)

Basa : 2Ag + (aq) + 2OH - (aq) ↔2AgOH (s) ↔Ag 2 O (s) + H 2 O (l) Selama titrasi Mohr, larutan diaduk dengan baik untuk menghindari terjadinya kelebihan titran secara lokal. Hal ini dapat menyebabkan indikator mengendap sebelum titik

ekivalen tercapai dan oklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk kemudian. Akibat selanjutnya adalah titik akhir menjadi tidak tajam. Metode Mohr cukup akurat dan dapat digunakan pada konsentrasi yang rendah. Mula-mula Ag + akan mengikat Cl - membentuk AgCl ( terbentuk endapan merah) dengan persamaan reaksi sebagai berikut:

Ag +

+

Cl -

AgCl

Penambahan AgNO 3 secara terus menerus akan membuat ion Cl - habis diikat oleh

ion Ag + dari AgNO 3. Apabila Cl- sudah habis bereaksi maka kelebihan Ag + selanjutnya

bereaksi dengan CrO 4 2- yang berasal dari indikator K 2 CrO 4 yang ditambahkan dan

membentuk endapan Ag 2 CrO 4 yang berwarna merah bata, berarti titik akhir titrasi sudah

dari K 2 CrO 4

membentuk Ag 2 CrO 4 . Persamaan reaksinya adalah

tercapai sehingga selanjutnya Ag + akan berikatan dengan CrO

2

4

2Ag+ (aq) +

CrO

2

4

(aq)

Ag 2 CrO 4
Ag 2 CrO 4

(s)

Dari percobaan ini, dapat dibuktikan bahwa air dari garam laut mengandung Cl - . Hal ini

terlihat dari terbentuknya endapan baru yang berwarna yang menunjukkan jika ion Ag +

telah bereaksi terlebih dahulu dengan Cl - membentuk AgCl, sampai jenuh dan terbentuk

endapan tersebut

Gangguan pada titrasi ini antara lain disebabkan oleh:

1. Ion yang akan mengendap lebih dulu dari AgCl, misalnya: F, Br, CNSˉ

2. Ion yang membentuk kompleks dengan Ag, misalnya: CNˉ, NHdiatas Ph 7

3. Ion yang membentuk kompleks dengan Clˉ, misalnya: Hg²

4. Kation yang mengendapkan kromat, misalnya: Ba²

Hal yang harus dihindari : cahaya matahari langsung atau sinar neon karena larutan perak

nitrat peka terhadap cahaya (reduksi fotokimia).

E. Alat dan Bahan

ALAT

:

Neraca Analitik

1 buah

Erlenmeyer 250 mL

1 set

3 buah

Kaca arloji

1 buah

Pipet tetes

5 buah

Labu ukur 100 mL

1 buah

Piknometer

1 buah

Buret

1 buah

Statif dan Klem

1 set

Pipet gondok

1 buah

Pump

1 buah

Gelas ukur 10 mL

1 buah

Gelas Kimia 100 mL 1 buah

BAHAN

Padatan NaCI ± 0,1 N

0,0625 gram

Air suling

575 mL

Larutan AgNO 3

X mL

Indikator K 2 CrO 4

6 mL

Air laut (daerah Kenjeran Surabaya) 10 mL

F. Alur Kerja

:

1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO 3 ± 0,01 N dengan NaCI p.a sebagai baku

Pembuatan larutan baku NaCI ± 0,01 N

0,0625 gram NaCI Larutan NaCI
0,0625 gram NaCI
Larutan NaCI

ditimbang dalam botol timbang dipindahkan dalam labu ukur 100 mL dilarutkan dengan air suling diencerkan sampai tanda batas dikocok hingga tercampur sempurna

Titrasi larutan AgNO3

Larutan NaCI Konsentrasi rata-rata AgNO 3
Larutan NaCI
Konsentrasi
rata-rata AgNO 3

10 mL di pipet dengan pipet gondok dimasukkan kedalam erlenmeyer 100 mL ditambahkan 1 mL indikator K 2 CrO 4 dititrasi dengan larutan AgNO 3 dihentikan titrasi saat terjadi endapan merah bata dicatat angka pada buret saat awal dan akhir titrasi dicatat volume AgNO 3 yang digunakan dalam titrasi di ulangi 3 kali

2. Aplikasi (Penentuan Kadar Cl - dalam air laut)

Air Laut (Tidak Berwarna)

Air laut pengenceran

-

-

Tidak Berwarna

Endapan Merah Bata

-

-

-

-

-

-

Diukur berat jenis air laut menggunakan piknometer Dicatat tempat pengambilan sampel Dipipet 10 mL air laut Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL Diencerkan sampai tanda batas Dipipet 10 mL dan diencerkan kembali dalam labu ukur 100 mL

Diambil 10 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer Ditambahkan 1 mL indikator K 2 CrO 4 5%

-

-

-

-

-

Dititrasi dengan AgNO 3 Dihentikan sampai terdapat endapan

Dilihat Volume AgNO 3 Diulangi sebanyak 3 kali Dihitung Volume AgNO 3 rata-rata

Volume AgNO 3 rata

-

Dihitung kadar Cl -

Kadar Cl -

Reaksi

NaCl(aq) + AgNO 3 (aq) NaNO 3 (aq) + AgCl(s) endapan putih

2AgNO 3 (aq) + K 2 CrO 4 (aq) 2KNO 3 (aq) + Ag 2 CrO 4 (s) endapan merah bata

G. Hasil Pengamatan

No.

Perc

1.

Prosedur Percobaan

Pembuatan Larutan Baku NaCI ± 0,1 N

0,0592 gram NaCI Larutan NaCI
0,0592 gram NaCI
Larutan NaCI

ditimbang dalam botol timbang

dipindahkan dalam labu ukur 100 mL

dilarutkan dengan air suling

diencerkan sampai tanda batas

dikocok hingga tercampur sempurna

Hasil Pengamatan

Sebelum

NaCI (s) : kristal putih

Aquades (l) : tidak berwarna

Gram NaCI : 0,0625 gram

Sesudah

NaCI + Aquades = tidak berwarna

Dugaan / Reaksi

NaCl (s) + H 2 O (l) NaCl (aq) + H 2 O

(l)

Kesimpulan

Berdasarkan

hasil percobaan

diperoleh

konsentrasi

AgNO 3 rata- rata sebesar

0,01086811883

N

Titrasi Larutan AgNO3

Larutan NaCI Konsentrasi rata-rata AgNO 3
Larutan NaCI
Konsentrasi
rata-rata AgNO 3

10 mL di pipet dengan pipet gondok dimasukkan kedalam erlenmeyer 100 mL ditambahkan 1 mL indikator K 2 CrO 4

dihentikan titrasi saat terjadi endapan merah bata dicatat angka pada buret saat awal dan akhir titrasi dicatat volume AgNO 3 yang digunakan dalam titrasi di ulangi 3 kali

NaCI (aq) : tidak berwarna Aquades : tidak berwarna K 2 CrO 4 : larutan kuning AgNO 3 (aq) : tidak berwarna

Sebelum

Sesudah

NaCI (aq) + K 2 CrO 4 (aq) = larutan kuning

+

AgNO 3 (aq) = Endapan Putih

AgCI

+

AgNO 3 (aq) berlebih =

Endapan Merah Bata

Titrasi I

V

1 = 0 mL

V

2 = 10 mL

V = 10 mL

Titrasi II

V

1 = 10 mL

V

2 = 19,9 mL

V = 9,9 mL

Titrasi III

V

1 = 19,9 mL

V

2 = 29,5 mL

V = 9,6 mL

NaCI (aq) + AgNO 3 (aq) NaNO 3 (aq) + AgCI (s) ( Endapan Putih )

2AgNO 3 (aq) + K 2 CrO 4 (aq) 2KNO 3 (aq) + Ag 2 CrO 4 (s) ( Endapan Merah Bata )

2.

Aplikasi ( Penentuan Kadar CI - dalam air laut )

Sebelum

   

Air Laut (Tidak Berwarna)

   

Air laut ( Kenjeran Surabaya ) :

Keruh

NaCI (aq) + AgNO 3 (aq) NaNO 3 (aq) + AgCI (s) ( Endapan Putih )

NaCI (aq) + AgNO 3 (aq) NaNO 3 (aq) + AgCI (s) ( Endapan Putih )

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh kadar CI - rata- rata dalam air laut sebesar

0,05458821%

   

Aquades : tidak berwarna

- Diukur berat jenis air laut menggunakan piknometer

K 2 CrO 4 : larutan kuning

- Dicatat tempat pengambilan sampel

AgNO 3 (aq) : tidak berwarna

- Dipipet 25 mL air laut

 

Sesudah

- Dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL

Air laut + K 2 CrO 4 (aq) = larutan

 

- Diencerkan sampai tanda batas

 

kuning

 

+

AgNO 3 (aq) = Endapan Putih

 

Air laut pengenceran

 

AgCI

 

+

AgNO 3 (aq) berlebih =

   

2AgNO 3 (aq) + K 2 CrO 4 (aq) 2KNO 3 (aq) + Ag 2 CrO 4 (s) ( Endapan Merah Bata )

2AgNO 3 (aq) + K 2 CrO 4 (aq) 2KNO 3 (aq) + Ag 2 CrO

- Diambil 25 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer

Endapan Merah Bata

- Ditambahkan 5 tetes indikator K 2 CrO 4 5%

Titrasi I

V

1 = 5,5 mL

 

Tidak Berwarna

 

V

2 = 10,1 mL

 

- Dititrasi dengan AgNO 3

 

V = 4,6 mL

- Dihentikan sampai terdapat endapan

Titrasi II

 

V

1 = 2,7 mL

   
 

Endapan Merah Bata

V

2 = 7,9mL

 

V = 5,2 mL

 

- Dilihat Volume AgNO 3

 

Titrasi III

- Diulangi sebanyak 3 kali

V

1 = 0 mL

- Dihitung Volume AgNO 3 rata-rata

V

2 = 5,5 mL

V = 5,5 mL

 

Volume AgNO 3 rata

   

Massa pikno = 22,2855 gram

   

Massa pikno + Sampel = 73,3362

-

Dihitung kadar Cl -

   

gram

   

Vol. Pikno = 50mL

 

Kadar Cl -

 

H. Diskusi dan pembahasan

1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO 3 ± 0,01 N dengan NaCl p.a sebagai baku Titrasi Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan pembentukan endapan dengan ion Ag + . Percobaan ini yaitu penentuan (standarisasi) larutan AgNO 3 ± 0,01 N dengan NaCI p.a sebagai baku. Titrasi Argentometri memiliki 3 metode yaitu Metode Mohr, Vallhard, dan Fajans. Dalam percobaan ini digunakan Metode Mohr yang didasarkan pada pembentukan endapan berwarna yang dalam percobaan ini terbentuk endapan merah bata. Pada metode ini pH larutan harus bersifat netral atau sedikit basa dan lebih tepatnya terjadi pada pH 8. Hal ini dikarenakan jika pH terlalu asam maka ion kromat akan berubah menjadi dikromat yang mudah larut dan jika pH terlalu basa maka akan terbentuk endapan AgOH dan bukannya endapan perak kromat. Hal tersebut sesuai dengan reaksi :

Asam: 2H + (aq) + 2CrO 4 -2 (aq)

Cr 2 O 7 2- (aq)

+

H 2 O (l)

Basa : 2Ag + (aq) + 2OH - (aq) ↔2AgOH (s) ↔Ag 2 O (s) + H 2 O (l) Langkah pertama yang dilakukan yaitu pembuatan larutan baku NaCl ± 0,01 N. NaCl p.a berupa kristal putih dimasukkan ke dalam botol timbang, lalu ditimbang sebanyak 0,0625 gram dengan menggunakan neraca analitik. Sebelum ditimbang, neraca analitik harus dinolkan terlebih dahulu kemudian botol ditimbang lalu neraca dinolkan kembali dan mulai menimbang NaCl sebanyak 0,0625 gram. NaCl yang telah ditimbang dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dengan menggunakan corong, dan botol timbang dibilas dengan aquades agar tidak ada sisa NaCl yang menempel pada botol timbang sehingga massa NaCl dalam labu ukur sama dengan massa sebelum dimasukkan. Kemudian ditambah aquades sampai ¼ bagian labu ukur. Setelah itu labu ukur digoyang secara perlahan agar semua NaCl tercampur secara sempurna dan tidak tampak lagi adanya kristal putih NaCl. Pelarutan ini bertujuan untuk merubah wujud NaCl dari zat padat menjadi zat cair agar dapat dititrasi karena titrasi dapat berlangsung jika analit dan titran dalam bentuk larutan. Reaksi pelarutan NaCl adalah sebagai berikut :

NaCl (s) + H 2 O (l)→ NaCl(aq) + H 2 O (l)

Lalu NaCl diencerkan dengan aquades sampai tanda batas meniskus dan labu ukur dikocok dengan membolak-balikkan labu ukur secara perlahan agar larutan tercampur secara merata. Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah proses titrasi, jika analit dalam kondisi pekat maka volume titran yang diperlukan sangat banyak sehingga terjadi pemborosan bahan. Hal ini didasarkan pada perhitungan mol ekivalen NaCl = mol ekivalen AgNO 3 . Setelah pengenceran maka diperoleh larutan NaCl yang tidak berwarna. Sedangkan berdasarkan perhitungan rumus Normalitas

N =

Sedangkan berdasarkan perhitungan rumus Normalitas N = diperoleh konsentrasi larutan NaCl setelah diencerkan yakni

diperoleh konsentrasi larutan NaCl setelah diencerkan yakni 0,010683761 N.

Langkah selanjutnya, larutan NaCl yang telah diencerkan diambil 10 mL menggunakan pipet seukuran. Penggunaan pipet seukuran ini bertujuan agar pengambilan volume larutan lebih akurat. Kemudian larutan NaCl dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL.

Sementara itu, buret dibilas dengan larutan AgNO 3 yang bertujuan untuk membersihkan buret dari sisa-sisa larutan dari praktikum terdahulu dan agar titran tidak terkontaminasi dengan zat-zat lain. Kemudian buret diisi dengan larutan AgNO 3 hingga diatas skala nol. Lalu kran buret dibuka hingga volume larutan AgNO 3 tepat pada skala nol. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan pembacaan skala saat proses titrasi. Selanjutnya kran buret dikunci kembali sebelum proses titrasi dimulai. Lalu larutan NaCl yang telah dimasukkan dalam erlenmeyer ditambahkan 20 tetes (1 mL) indikator K 2 CrO 4 . Setelah penambahan indikator ini maka larutan menjadi berwarna kuning muda. Digunakan indikator K 2 CrO 4 untuk membentuk endapan berwarna merah bata sesuai dengan konsep dasar pada Metode Mohr, di mana kelebihan ion Ag + akan bereaksi dengan CrO 4 2- membentuk perak kromat yang berwarna merah bata.

Dalam proses titrasi, pertama-tama akan terbentuk endapan putih AgCl dan setelah itu terbentuk endapan merah bata Ag 2 CrO 4 . Hal ini dapat terjadi karena dalam larutan terdapat ion Cl - dalam konsentrasi besar dan ion kromat dalam konsentrasi kecil. Sehingga untuk membentuk perak kromat maka diperlukan ion Ag + yang lebih banyak untuk melebihi Ksp dari perak kromat dan membentuk endapan. Berdasarkan teori Ksp AgCl = 1,8 x 10 -10 dan Ksp

Ag 2 CrO 4 = 2 x 10 -12 . Setelah itu, NaCl dititrasi dengan larutan AgNO 3 sampai terjadi pembentukan endapan berwarna merah bata yang mengindikasikan tercapainya titik akhir titrasi. Maka proses titrasi harus dihentikan. Hal ini menujukkan bahwa titik ekivalen telah tercapai yaitu mol NaCl = mol AgNO 3.

Selain itu pembentukan endapan merah bata tersebut disebabkan karena setelah semua ion Cl - dari NaCl habis bereaksi dengan AgNO 3 membentuk endapan AgCl yang berwarna putih, sementara kelebihan AgNO 3 menyebabkan ion Ag + dari AgNO 3 akan bereaksi dengan ion CrO 4 2- dari indikator K 2 CrO 4, sehingga akan terbentuk endapan perak kromat berwarna merah bata.

Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali. Pengulangan ini bertujuan untuk menambah keakuratan data yang diperoleh. Kemudian dihitung konsentrasi AgNO 3 dan dirata-rata. Reaksi yang terjadi pada proses titrasi adalah

NaCl(aq) + AgNO 3 (aq) NaNO 3 (aq) + AgCl(s) endapan putih 2AgNO 3 (aq) + K 2 CrO 4 (aq) 2KNO 3 (aq) + Ag 2 CrO 4 (s) endapan merah bata

Dari percobaan yang telah dilakukan volume

dan konsentrasi AgNO 3

yang diperoleh berturut-turut sesuai dengan tabel dibawah ini :

Titrasi ke-

Volume Awal

Volume Akhir

ΔV

N AgNO 3

Titrasi ke- Volume Awal Volume Akhir ΔV N AgNO 3
 

1. 0 mL

10 mL

10 mL

0,01068376

0,010868118

1N

83 N

 

2. 10 mL

19,9 mL

9,9

0,01079167

mL

778

N

 

3. 19,9 mL

29,5 mL

9,6

0,01112891

mL

771

N

Sehingga berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus dibawah ini:

Mol ek AgNO 3 = Mol ek NaCl

N 1 V 1

=

N 2 V 2

didapatkan rata-rata Normalitas AgNO 3 sebesar 0,01086811883 N. Dengan

diperolehnya

bahwa

tersebut

konsentrasi

AgNO 3

maka

dapat

disimpulkan

larutan AgNO 3 memang mempunyai konsentrasi 0,01086811883 N dan sesuai dengan teori yang ada.

2. Aplikasi ( Penentuan kadar Cl - dalam air laut )

Salah satu aplikasi dari titrasi pengendapan adalah menentukan kadar Cl - dalam air laut. Dimana air laut yang digunakan berasal dari pantai Kenjeran Surabaya. Metode yang digunakan dalam percobaan ini sama dengan metode sebelumnya yaitu metode Mohr yang didasarkan pada pembentukan endapan berwarna. Langkah yang dilakukan untuk menentukan kadar Cl - dalam air laut adalah mengukur berat jenis air laut menggunakan piknometer dan neraca analitis, sehingga diperoleh data sesuai tabel dibawah ini :

Massa Piknometer Kosong

22,2855 gram

Massa Piknometer + Sampel

73,3362 gram

Volume Piknometer

50 mL

Melalui Perhitungan menggunakan rumus :

sampel =

 sampel =

Maka diperoleh Berat Jenis air laut sebesar 1,021014 gram/mL, sedangkan dalam teori berat Jenis air laut adalah 1,025 gram/mL. Sehingga dapat disimpulkan bahwa berat Jenis air laut tidak berbeda jauh dengan teori.

Kedalam gelas ukur dituangkan 25 mL air laut, kemudian air laut dipindahkan kedalam labu ukur 100 mL dan dilakukan pengenceran pertama sebanyak 2 kali menggunakan aquades sampai tanda batas meniskus. Pengenceran dilakukan sebanyak dua kali dikarenakan labu ukur yang digunakan hanya berukuran 100 ml. Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah proses titrasi, jika analit dalam kondisi pekat maka volume titran yang diperlukan sangat banyak sehingga terjadi pemborosan bahan. Reaksi pengenceran air laut adalah sebagai berikut:

NaCl(aq) + H 2 O (l) → NaCl (aq) + H 2 O (l)

Kemudian larutan air laut encer diambil 10 mL menggunakan pipet seukuran dengan tujuan agar pengambilan volume larutan lebih akurat. Lalu larutan air laut encer tersebut dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml dan diencerkan sampai tanda batas miniskus. Hal tersebut diatas merupakan pengenceran kedua. Dilakukan pengenceran sebanyak 2 kali dimaksudkan agar konsentrasi Cl- dalam air laut menjadi lebih encer dan konsentrasinya semakin kecil sehingga titran (AgNO 3 ) yang digunakan tidak terlalu banyak dan tidak melebihi batas skala buret. Lalu larutan air laut yang telah dimasukkan dalam erlenmeyer ditambahkan 20 tetes (1 mL) indikator K 2 CrO 4 . Setelah penambahan indikator ini maka larutan menjadi berwarna kuning muda. Digunakan indikator K 2 CrO 4 untuk membentuk endapan berwarna merah bata sesuai dengan konsep dasar pada Metode Mohr, di mana kelebihan ion Ag + akan bereaksi dengan CrO 4 2- membentuk perak kromat yang berwarna merah bata. Dalam proses titrasi, pertama-tama akan terbentuk endapan putih AgCl dan setelah itu terbentuk endapan merah bata Ag 2 CrO 4 . Hal ini dapat terjadi karena dalam larutan terdapat ion Cl - dalam konsentrasi besar dan ion kromat dalam konsentrasi kecil. Sehingga untuk membentuk perak kromat maka diperlukan ion Ag + yang lebih banyak untuk melebihi Ksp dari perak kromat dan membentuk endapan. Berdasarkan teori Ksp AgCl = 1,8 x 10 -10 dan Ksp Ag 2 CrO 4 = 2 x 10 -12 . Setelah itu, air laut dititrasi dengan larutan AgNO 3 sampai terjadi pembentukan endapan berwarna merah bata yang mengindikasikan tercapainya titik akhir titrasi. Maka proses titrasi harus dihentikan. Hal ini artinya titik ekivalen juga telah tercapai yaitu mol air laut = mol AgNO 3. Selain itu pembentukan endapan merah bata tersebut disebabkan karena setelah semua ion Cl - dari air laut (NaCl) habis bereaksi dengan AgNO 3 membentuk endapan AgCl yang berwarna putih, sementara kelebihan AgNO 3 menyebabkan ion Ag + dari AgNO 3 akan bereaksi dengan ion CrO 4 2- dari indikator K 2 CrO 4, sehingga akan terbentuk endapan perak kromat berwarna merah bata.

Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali. Pengulangan ini bertujuan untuk menambah keakuratan data yang diperoleh. Kemudian dihitung konsentrasi AgNO 3 dan dirata-rata. Reaksi yang terjadi pada proses titrasi adalah

NaCl(aq) + AgNO 3 (aq) NaNO 3 (aq) + AgCl(s) endapan putih

2AgNO 3 (aq) + K 2 CrO 4 (aq) 2KNO 3 (aq) + Ag 2 CrO 4 (s) endapan merah bata

Dari percobaan yang telah dilakukan volume

dan konsentrasi

AgNO 3 yang diperoleh berturut-turut sesuai dengan tabel dibawah ini :

Titrasi ke-

Volume Awal

Volume Akhir

ΔV

N CH 3 COOH

Titrasi ke- Volume Awal Volume Akhir ΔV N CH 3 COOH
 

1. 5,5 mL

10,1 mL

4,6 mL

0,004999335N

0,0055

 

2. 2,7 mL

7,9 mL

5,2 mL

0,005651422N

4274

 

3. 0 mL

5,5 mL

5,5 mL

0,005977465N

N

Sehingga berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus

Mol ek AgNO 3 = Mol ek Cl-

N 1 V 1

=N 2 V 2

M 1 V 1 n

=M 2 V 2 n

didapatkan rata-rata Molaritas Cl - sebesar 0,00554274 N. Sedangkan untuk

perhitungan kadar Cl - , dihitung massa Cl- terlebih dahulu menggunakan rumus

N = M . n

=

massa Cl- terlebih dahulu menggunakan rumus N = M . n = Untuk memperoleh kadar Cl

Untuk memperoleh kadar Cl - menggunakan rumus :

%Cl -

=

Untuk memperoleh kadar Cl - menggunakan rumus : %Cl - = ( % ) Cl -

( % ) Cl - dalam air laut sebesar :

Titrasi ke-

Kadar ( % )

Rata-Rata Kadar ( % )

 

1.

0,0001738237

 
 

2.

0,0001964963

0,0001927175

S

3.

0,0002078326

e

hingga didapatkan kadar Cl- dalam air laut pantai Kenjeran sebesar 0,0001927175

%. Kadar yang didapatkan terlalu kecil dikarenakan air laut mengalami pengenceran

hingga seratus kali.

I.

Kesimpulan

Dari percobaan titrasi argentometri yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Satandarisasi larutan AgNO3 ± 0.01 N dengan NaCl 0.0625 gram sebagai baku diperoleh Normalitas rata-rata AgNO3 sebesar 0.01086811883 N.

2. Kadar Cl- dalam air laut dari pantai Kenjeran, Surabaya sebesar 0.05458821 %.

Daftar Pustaka

Day,R.A., Underwood, A. L. 1986. Quantitative Analysis (6 th edition). New York:

Prentice Hall. (terjemahan oleh Aloysius Hadyana P. (2002) Analisis Kimia

Kuantitatif (Edisi 6). Jakarta: Erlangga)

Djadjat,tisnadja.2013. Titrasi Pengendapan. Online :

https://tisnadjaja.files.wordpress.com/2013/03/titrasi-pengendapan-4.pdf

(diakses tanggal 9 November 2016 pukul 13.00 WIB)

Gusdinar,tutur. 2014. Presipitatometri (Titrasi pengendapan). Online :

http://download.fa.itb.ac.id/filenya/Handout%20Kuliah/Inorganic%20Pharmac

eutical%20Analysis%202008/Versi%20Bhs.%20Indonesia/03.%20Aplikasi%

20Titrasi%20Pengendapan.pdf (diakses tanggal 9 November 2016 pukul 13.00 WIB)

Kusumaningrum, Widya. 2014. Penentuan Kadar Ion Klorida dengan Metode Argentometri. Online :

https://kusumaningrumwidya.files.wordpress.com/2014/04/penentuan-kadar-

klorida-dengan-metoe-mohr.pdf. (diakses pada tanggal 9 November 2016 pukul 16.00 WIB).

Ozhora, Mutriono. 2013. Titrasi Argentometri. Online :

https://www.scribd.com/document/130303039/argentometri-doc. (Diakses pada tanggal 9 November 2016 pukul 16.10 WIB).

Samodra,imam. 2008. Argentometri.Online :

https://imamsamodra.files.wordpress.com/2008/02/microsoft-word-

argentometri.pdf (diakses tanggal 9 November 2016 pukul 15.00)

Setiartini, Yeni. 2014. Penentuan Kadar Klorida dengan Metode Argentometri. Online :

http://www.academia.edu/6799644/LAPORAN_PRAKTIKUM_KIMIA_ANA

LITIK_penentuan_kadar_klorida_dengan_argentometri_metode_mohr. (Diakses pada tanggal 9 November 2016 pukul 15.15 WIB).

Sonytya. 2012. Titrasi Argentometri cara Mohr. Web Publikasi :

https://www.scribd.com/doc/82919456/Laporan-Air-Laut. (Diakses pada tanggal 9 November 2016 pukul 15.30 WIB).

Sunarto.2013.TitrasiPengendapan.Online

:http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Sunarto,Drs.,%20M.Si./Mo

dul%20Kimia%20Analisis%20I%20titrasi%20pengendapan.pdf (diakses tanggal 9 November pukul 15.35 WIB).

Tim Penyusun DDKA. 2007. Panduan Praktikum Dasar Dasar Kimia Analitik. Surabaya: UNESA press

J. Jawaban Pertanyaan

a) Standarisasi larutan AgNO 3

1. Buatlah kurva titrasi antara volume AgNO 3 dan pCl untuk titrasi antara 50 mL 0,1 M larutan NaCl dengan larutan AgNO 3 0,1 M.

Jawab:

a. Awal titrasi [Cl - ] = 0,1 mmol/mL pCl = -log [Cl - ] = 1

b. Setelah penambahan AgNO3 10 mL

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

10

mL 0,1 mmol/mL = 1 mmol Ag +

mmol

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

:

1 mmol

5 mmol

-

Perubahan

:

1 mmol

1 mmol

-

Kesetimbangan

:

-

4 mmol

-

Cl

-

4mmol

60 mL

pCl log Cl

0,067M

-

 log 0,067 1,17

c. Setelah penambahan AgNO3 20 mL

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

20

mL 0,1 mmol/mL = 2 mmol Ag +

mmol

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

:

2 mmol

5 mmol

-

Perubahan

:

2 mmol

2 mmol

-

Kesetimbangan

:

-

3 mmol

 

Cl

-

3mmol

70 mL

pCllog Cl

0,043M

-

 log 0,067

1,37

d. Setelah penambahan AgNO3 30 mL

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

30

mL 0,1 mmol/mL = 3 mmol Ag +

mmol

 

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

 

:

3 mmol

5 mmol

-

Perubahan

:

3 mmol

3 mmol

-

Kesetimbangan

:

-

2 mmol

-

 

2mmol

Cl

-

 

80 mL

0,025M

 

pCl log Cl

-

 log 0,025

1,60

e. Setelah penambahan AgNO3 40 mL

 

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

 

40

mL 0,1 mmol/mL = 4 mmol Ag +

 

mmol

 

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

 

:

4 mmol

5 mmol

-

Perubahan

 

:

4 mmol

4 mmol

-

Kesetimbangan

 

:

-

1 mmol

-

Cl

-

1mmol

0,011M

 

90

mL

 

pCl log Cl

-

 

 log 0,011 1,96

 

f. Setelah penambahan AgNO3 49 mL

 
 

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

 

49

mL 0,1 mmol/mL = 4,9 mmol Ag +

 

mmol

 

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

 

:

4,9 mmol

 

5 mmol

-

Perubahan

 

:

4,9 mmol

4,9 mmol

-

Kesetimbangan

 

:

-

0,1 mmol

-

Cl -

0,1mmol

1,01

10

3

M

99 mL

pCl log Cl

-



2,99

log1,01 10

3

g. Setelah penambahan AgNO3 49,9 mL

50 mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

49,9 mL 0,1 mmol/mL = 4,99 mmol Ag +

mmol

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

:

4,99 mmol

5 mmol

-

Perubahan

:

4,99 mmol

4,99 mmol

-

Kesetimbangan

:

-

0,01 mmol

-

Cl -

0,01mmol

99,9 mL

pCl log Cl

-

 log10

4

4

10

4

M

h. Setelah penambahan AgNO3 50 mL (titik ekivalen)

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Ag +

mmol

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

:

5 mmol

5 mmol

-

Perubahan

:

5 mmol

5 mmol

-

Kesetimbangan

:

-

-

-

AgCl (s) [Ag + ] [Cl - ] = K sp [Ag + ] = [Cl - ] [Cl - ] 2 = 1,0 10 -10

Ag +

+

Cl -

[Cl - ]

= 1,0 10 -5

pCl log Cl

-

 log10

5

5

i. Setelah penambahan AgNO3 50,1 mL

50 mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

50,1 mL 0,1 mmol/mL = 5,01 mmol Ag +

mmol

 

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

:

5,01 mmol

5 mmol

-

Perubahan

 

:

5 mmol

5 mmol

-

Kesetimbangan

 

:

0,01 mmol

 

-

-

Ag -

0,01mmol

100,1mL

pAg log Ag

9,99

10

5

M

 



log 9,99

10

5

4

pAg + pCl = 10 4 + pCl = 10 pCl = 6

 

50 mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

 

51 mL 0,1 mmol/mL = 5,1 mmol Ag +

 

mmol

 

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

:

5,1 mmol

5 mmol

-

Perubahan

 

:

5 mmol

5 mmol

-

Kesetimbangan

 

:

0,1 mmol

 

-

-

j. Setelah penambahan AgNO3 51 mL

Ag -

0,1mmol

101mL

pAg log Ag



3

log 9,90

9,90

10

4

10

4

M

pAg + pCl = 10 3 + pCl = 10 pCl = 7

k. Setelah penambahan AgNO3 60 mL

50

mL 0,1 mmol/mL = 5 mmol Cl -

 

60

mL 0,1 mmol/mL = 6 mmol Ag +

mmol

:

Ag +

+

Cl -

AgCl (s)

Awal

:

6 mmol

5 mmol

-

Perubahan

:

5 mmol

5 mmol

-

Kesetimbangan

:

1 mmol

-

-

Ag -

1mmol

110 mL

pAg log Ag



2,04

log 9,09

9,09

10

3

10

3

M

pAg + pCl = 10 2,04 + pCl = 10 pCl = 7,96

Tabel titrasi 50 mL NaCl 0,1 M dengan AgNO3 0,1 M

mL AgNO3

pCl

0

1

10

1,17

20

1,37

30

1,60

40

1,96

49

2,99

49,9

4

50

5

50,1

6

51

7

60

7,96

2. Berapa konsentrasi garam NaCl dalam suatu larutan, apabila 25 mL larutan tersebut jika direaksikan

2.

Berapa konsentrasi garam NaCl dalam suatu larutan, apabila 25 mL larutan

tersebut jika direaksikan dengan 25 mL 0,2 M larutan AgNO 3 , dan

kelebihan larutan AgNO 3 tepat bereaksi habis dengan larutan KSCN 28 mL 0,1 M.

Jawab:

mmol NaCl = 25x mmol mmol AgNO 3 = 5 mmol

NaCl + AgNO 3

mmol NaCl = 25x mmol mmol AgNO 3 = 5 mmol NaCl + AgNO 3 AgCl

AgCl

mmol KSCN = 2,8 mmol

+

Na NO 3

M

25x

5

B

25x

25x

25x

25x

S

-

+

5 25x KSCN

- + 5 – 25x KSCN

25x

25x

 

AgNO 3

AgSCN

+ KNO 3

M

5 25x

 

2,8

B

2,8

2,8

2,8

2,8

S

(5 25x) - 2,8

 

-

2,8

2,8

b)

Konsentrasi garam NaCl :

5 25x = 2,8 25x = 5 2,8 25x = 2,2 x = 2,2

25

= 0,088 M Jadi Konsentrasi garam NaCl adalah 0,088 M Aplikasi

3. Bagaimana cara memilih indikator pada titrasi argentometri? Jawab:

Pada titrasi pengendapan yang melibatkan garam-garam perak ada tiga indikator yang telah dikembangkan. Metode Mohr menggunakan ion kromat, CrO 4 2- , untuk mengendapkan Ag 2 CrO 4 yang berwarna coklat. Metode Volhard menggunakan ion Fe 3+ untuk membentuk kompleks yang berwarna dengan ion tiosianat, SCN - . Metode Fajans menggunakan indikator-indikator adsorpsi

4. Terangkan bagaimana suatu indikator adsorpsi bekerja. Apa fungsi dekstrin? Mengapa pH harus dikendalikan? Jawab:

Cara kerja indikator adsorpsi: indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan,

fluoresein akan mengion

endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah muda. Karena penyerapan terjadi pada permukaan, dalam titrasi ini diusahakan agar permukaan endapan itu seluas mungkin supaya perubahan warna juga tampak sejelas mungkin, maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant (ion Ag + ). Dekstrin berfungsi untuk menjaga agar endapan tersebar luas

HFI

H + + FI - . Ion FI - inilah yang diserap oleh

Pengaturan pH perlu, karena jika pH yang digunakan terlalu tinggi, maka dapat membentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag 2 O sehingga titrant terlalu banyak terpakai.