Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher
rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker
serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.90% dari kanker serviks berasal dari
sel skuamosa yang melapisi serviks dan10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir
pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.
Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat
penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila
program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun
dijumpai sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di
negara berkembang.Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan
perilaku sel epitel serviks. Pada saat ini sedang dilakukan penelitian vaksinasi sebagai upaya
pencegahan dan terapi utama penyakit ini di masa mendatang.Risiko terinfeksi virus HPV
dan beberapa kondisi lain seperti perilaku seksual, kontrasepsi,atau merokok akan
mempromosi terjadinya kanker serviks. Mekanisme timbulnya kanker serviks ini merupakan
suatu proses yang kompleks dan sangat variasi hingga sulit untuk dipahami.Insiden dan
mortalitas kanker serviks di dunia menempati urutan kedua setelah kanker payudara.
sementara itu, di negara berkembang masih menempati urutan pertama sebagai penyebab
kematian akibat kanker pada usia reproduktif. Hampir 80% kasus berada di negara
berkembang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka kami membuat rumusan masalah sebagai
berikut:
a. Apa defenisi dari Ca Servik?
b. Apa saja etiologi dari Ca Servik?
c. Bagaimana manifestasi klinis dari Ca Servik?
d. Bagaimana patofisiologi dan WOC dari Ca Servik?
e. Sebutkan klasifikasi dari Ca Servik?
f. Apa saja komplikasi dari Ca Servik?
g. Bagaimana penatalaksanaan dari Ca Servik?
h. Apa saja pemeriksaan penunjang Ca Servik?
i. Bagaimana dan apa rencana asuhan keperawatan teoritis pada Ca Servik?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum
Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan yang tepat pada pasien Ca Servik.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi konsep dari Ca Servik meliputi definisi, etiologi,
manifestasi klinis, patofisiologi, klasifikasi, komplikasi pemeriksaan
penunjang dan penatalaksanaan yang tepat dari Kanker Serviks,
b. Mengidentifikasi asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, analisa data,
diagnosa, dan rencana asuhan keperawatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep dasar Ca Serviks
2.1.1 Definisi
Carsinoma servik adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel-sel epithelial
yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis.
(Dorland,1998).
Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau serviks
yang terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. (
Diananda,Rama, 2009 )
Kanker serviks merupakan gangguan pertumbuhan seluler dan merupakan kelompok
penyakit yang dimanifestasikan dengan gagalnya untuk mengontrol proliferasi dan maturasi
sel pada jaringan serviks. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35 - 55 tahun,
90% dari kanker serviks berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang
menuju kedalam rahim.(Sarjadi, 2001)
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Kanker serviks
atau yang lebih dikenal dengan istilah kanker leher rahim adalah tumbuhnya sel-sel tidak
normal pada leher rahim, perubahan untuk menjadi sel kanker memakan waktu lama, sekitar
10 sampai 15 tahun. Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang berusia kisaran 30 sampai
dengan 50 tahun, yaitu puncak usia reproduktif perempuan sehingga akan meyebabkan
gangguan kualitas hidup secara fisik, kejiawaan dan kesehatan seksual.

2.1.2 Etiologi
Penyebab primer kanker leher rahim adalah infeksi kronik leher rahim oleh satu atau
lebih virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe onkogenik yang beresiko tinggi menyebabkan
kanker leher rahim yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually transmitted disease).
Perempuan biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai tiga puluhan,
walaupun kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya. Infeksi virus HPV
yang berisiko tinggi menjadi kanker adalah tipe 16, 18, 45, 56 dimana HPV tipe 16 dan 18
ditemukan pada sekitar 70% kasus. Infeksi HPV tipe ini dapat mengakibatkan perubahan sel-
sel leher rahim menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (high-grade intraepithelial lesion/
LISDT) yang merupakan lesi. (FKUI.2008)
Factor lain yang berhubungan dengan kanker serviks adalah aktivitas seksual terlalu
muda (<16 tahun), jumalah pasangan seksual yang tinggi (> 4 orang), adanya riwayat infeksi
berpapil (warts). Karena hubungannya erat dengan infeksi HPV, wanita yang mendapat atau
menggunakan penekan kekebalan (immunosuppressive) dan penderita HIV beresiko
menderita kanker serviks. Bahan karsinogenik spesifik dari temabakau dijumpai dalam
lender serviks wanita perokok.Bahan ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan
bersama dengan infeksi HPV mencetuskan transformasi maligna. (M.Farid.2006)
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks,
antara lain adalah :
1. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda
Faktor ini merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan
hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan
penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17
tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20
tahun.
2. Berganti-ganti pasangan seksual
Perilaku seksual berupa gonta - ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan
penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan, salah satunya adalah infeksi Human
Papilloma Virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks,
penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang
mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe
2 dapat menjadi faktor pendamping.
3. Faktor genetik
Terjadinya mutasi sel pada sel epitel skuamosa serviks yang menyebabkan terjadinya
kanker serviks pada wanita dapat diturunkan melalui kombinasi genetik dari orang tua ke
anaknya.
4. Kebiasaan merokok
Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan
dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita
perokok mengandung nikotin yang dapat menurunkan daya tahan serviks di samping
merupakan ko-karsinogen infeksi virus. Selain itu, rokok mengandung zat benza @ piren
yang dapat memicu terbentuknya radikal bebas dalam tubuh yang dapat menjadi mediator
terbentuknya displasia sel epitel pada serviks.
5. Defisiensi zat gizi (vitamin A dan C)
Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi vitamin C dapat
meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga
meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta
karoten dan retinol (vitamin A).
6. Multiparitas
Trauma mekanis yang terjadi pada waktu paritas dapat mempengaruhi timbulnya infeksi,
perubahan struktur sel, dan iritasi menahun
7. Gangguan sistem kekebalan
Bisa disebabkan oleh nikotin yang dikandung dalam rokok, dan penyakit yang sifatnya
immunosupresan, contohnya : HIV / AIDS
8. Status sosial ekonomi lemah
Umumnya, golongan wanita dengan latar belakang ekonomi lemah tidak mempunyai
biaya untuk melakukan pemeriksaan sitologi Pap Smear secara rutin, sehingga upaya
deteksi dini tidak dapat dilakukan.
9. Pemakaian DES ( Diethilstilbestrol ) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran.
10. Pemakaian Pil KB.
Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari lima tahun dapat
meningkatkan resiko relatif 1,53 kali. WHO melaporkan resiko relative pada pemakaian
kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.
11. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamedia menahun.
(sumber : Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2
dan Ilmu Kandungan, Hanifa Wiknjosastro)
2.1.3 Manifestasi Klinis
1. Keputihan
Keputihan merupakan gejala yang Bering ditemukan. Gejala yang keluar dari vagina ini
makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal
demikian pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.
2. Siklus menstruasi tidak teratur
Siklus menstruasi yang tidak teratur, dimana siklus lebih pendek dan perdarahan
menstruasi yang timbul hanya bercak darah.
3. Pengeluaran dari vagina yang tidak normal
Pengeluaran dari vagina yang tidak sempurna dapat berupa keputihan yang berbau
busuk, perdarahan diluar siklus menstruasi. Rasa rabas akan dialami pada vagina. Pada
Ca serviks lanjut meningkat secara bertahap dan menjadi encer, akhirnya berwarna
lebih gelap dan sangat berbau akibat nekrosis dan infeksi tumor.
4. Perdarahan pada post senggama
Perdarahan pada post senggama biasanya terjadi akibat terbukanya pembuluh darah,
makin lama akan sering terjadi.
5. Nyeri
Rasa nyeri berawal dari lumbal, kemudian menjalar ke panggul bagian depan dan
belakang paha, lutut sampai pergelangan kaki. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di
perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke
bawah, kemungkinan terjadi infiltrasi kanker pada serabut saraf lumbosakral.
6. Perdarahan saat BAK dan BAB
Adanya perdarahan spontan pervagina saat defekasi dicurigai kemungkinan adanya Ca
serviks. (Hamilton, 1995)
7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki,
timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rektum),
terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat
metastasis jauh.
2.1.4 Patofisiologi
Kanker insitu pada serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terjadi pada
seluruh lapisan epitel disebut displasia .displasia merupakan neoplasia serviks intraepithelial
(CNI ).CNI terbagi menjadi tiga tingkat yaitu tingkat I ringan, tingkat II esdang, tingkat III
berat.tidak ada gejala spesifik untuk kanker serviks perdarahan merupakan satu-satunya
gejala yang nyata.tetapi gejala ini hanya ditemukan pada tahap lanjut. Sedang untuk tahap
awal tidak. CNI biasanya terjadi disambungan epitel skuamosa dengan epitel kolumnar dan
mukosa endoserviks.keadaan ini tidak dapat diketahui dengan cara panggulrutin, pap smear
dilaksanakan untuk mendeteksi perubahan. Neoplastik hasil apusan abnormal dilanjutkan
dengan biopsy untuk memperoleh jaringan guna memperoleh jaringan guna pemeriksaan
sitologik. Sedang alat biopsy yang digunakan dalam biopsy kolposkop fungsinya
mengarahkan tindakan biopsy dengan mengambil sample, biopsy kerucut juga harus
dilakukan. Stadium dini CNI dapat diangkat seluruhnya dengan biopsy kerucut atau
dibersihkan dengan laser kanker atau bedah beku. Atau biasa juga dengan histerektomi bila
klien merencanakan untuk tidak punya anak. Kanker invasive dapat meluas sampai ke
jaringan ikat, pembuluh limfe dan vena. Vagina ligamentum kardinale. Endometrium
penanganan yang dapat dilaksanakan yaitu radioterapi atau histerektum radiakl dengan
mengangkat uterus atu ovarium jika terkena kelenjar limfe aorta diperlukan kemoterapi.
(Price, Sylvia A, 2006 )
3.1.4 Klasifikasi
Tingkat keganasan klinik menurut FIGO, 1958 dikutip oleh Winkjosastro, 2008
1. Stadium 0
- Karsinoma In Situ (KIS) adalah karsinoma intraepitel, membrane basalis masih utuh.
2. Stadium I
- Proses terbatasnya pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri
3. Stadium Ia
- Karsinoma mikroinvasif, bila membrane basalis sudah rusak dan sel tumor sudah
memasuki stroma tidak lebih di 1mm, dan sel tumor tidak terdapat dalam pembuluh
limfe atau pembuluh darah
4. Stadium Ib occ
- Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma tapi pada pemeriksaan
histopatologi sel tumor invasi stroma melebihi Ia
5. Stadium Ib
- Secara kllinis sudah disuga adanya tumor yang histology menunjukan invasi ke
dalam stroma serviks uteri
6. Stadium II
- Proses keganasa sudah keluar dari servik dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan
parametrum tetap tidak sampai dinding panggul
7. Stadium IIa
- Penyebaran hanya ke vagina, parametrum masih bebas dari infiltrate tumor
8. Stadium IIb
- Penyebaran ke parametrum uni/bilateral tapi belum sampai dinding panggul
9. Stadium III
- Penyebaran sampai ke 1/3 bagian distal vagina sedang ke parametrum tidak sampai
dinding panggul
10. Stadium IIIa
- Penyebaran sampai ke 1/3 bagian distal vagina sedang ke parametrum tidak di
persoalkan asal tidak sampai dinding panggul
11. Stadium IIIb
- Penyebaran sudah sampai dinding panggul, proses pada tingkat klinis I dan II tetapi
sudah ada gangguan faal ginjal
12. Stadium IV
Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa dan kandung
kemih telah terjadi metastase keluar panggul ke tempat yang jauh
13. Stadium IVa
- Sudah menginfiltrasi mukosa rectum dan kandung kemih
14. Stadium IVb
- Telah terjadi penyebaran

2.1.7 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Radiasi
I. Dapat dipakai untuk semua semua stadium
II. Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risko
III. Tidak menyebabkan kematian seperti operasi
b. Operasi
I. Operasi limfadektomi untuk stadium I dan II
II. Operasi histerektomi vagina yang radikal
III. Kombinasi (radiasi dan pembedahan)
Radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan
operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula,
dapat menambah penyebaran ke system limfe dan peredaran darah.
Cytostatika : bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5%
dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, dianggap resisten bila 8-
10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.

2. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Promotif
a. Penyuluhan kesehatan masyarakat dan tingkat gizi yang baik.
b. Pemeliharaan kesehatan perseorangan dan lingkungan
c. Olahraga secara teratur
d. Pendidikan seksual yang baik dan benar (penjelasan tentang alat kontrasepsi dan
perilaku seksual yang sehat)
2. Preventif
a. Perubahan pola diet atau suplemen dengan makan banyak sayur dan buah
mengandung bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya
alpukat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat.
b. Vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks. Vaksin ini dibuat dengan teknologi
rekombinan, sehingga mempunyai ketahanan yang kuat. Vaksinasi merupakan
pencegahan yang paling utama. Vaksinasi diberikan untuk wanita yang belum
terinfeksi atau tidak terinfeksi HPV resiko tinggi (16 dan 18)
c. Pemeriksaan kesehatan reproduksi ke rumah sakit melalui tes pap smear
3. Kuratif
a. Imunoterapi merupakan teknik pengobatan baru untuk kanker yang mengerahkan dan
lebih mendayagunakan system kekebalan tubuh untuk memerangi kanker. Karena
hamper selalu menggunakan bahan-bahan alami dari makhluk hidup, terutama
manusia, maka imunoterapi sering disebut bioterapi atau terapi biologis.
b. Interferon merupakan sitoksin yang berupa glikoprotein. Interferon, khususnya
interferon alfa adalah obat imunoterapi pertama yang digunakan untuk mengobati
kanker. Antibody monoclonal merupakan antibody yang dihasilkan oleh satu klon
sel. Digunakan dalam identifikasi sel, typing darah dan penekanan diagnosa.
c. Vaksin penggunaan vaksin kanker baru saja dimulai. Sebagaian besar masih dalam
tahap penelitian dan uji klinis, sehingga belum bisa digunakan secara umum.
d. Colony stimulating factor (CSFs) disebut hematopoietic growth factors. Obat
imunoterapi merangsang sumsum tulang belakang untuk membelah dan membentuk
sel darah putih, sel darah merah maupun keping darah semuanya penting dalam
system kekebalan tubuh.
e. Terapi gen yang masih bersifat eksperimental member harapan besar dengan
memasukkan material genetic tertentu ke dalam sel tubuh penderita kanker, perilaku
sel tubuh dapat dikendalikan sesuai kebutuhan
4. Rehabilitative
a. Latihan fisik bagi yang mengalami gangguan fisik
b. Bagi stadium akhir, sebagai perawat melakukan paliatif care.

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Tes Pap Smear
Wanita bisa mengurangi risiko terserangnya kanker serviks dengan melakukan Pap
Smear secara teratur. Tes Pap adalah suatu tes yang digunakan untuk mengamati sel-
sel leher rahim. Tes Pap dapat menemukan adanya kanker leher rahim atau sel
abnormal (pra-kanker) yang dapat menyebabkan kanker serviks (Bryant, 2012). Hal
yang paling sering terjadi adalah, sel-sel abnormal yang ditemukan oleh tes Pap
bukanlah sel kanker. Sampel sel-sel yang sama dapat dipakai untuk pengujian infeksi
HPV (Puteh, 2008).
2. Kolposkopi
Pemeriksaan dengan pembesaran (seperti mikroskop) yang digunakan untuk mengamati
secara langsung permukaan serviks dan bagian serviks yang abnormal. Dengan
kolposkopi akan tampak jelas lesi-lesi pada permukaaan serviks, kemudian dilakukan
biopsi pada lesi-lesi tersebut.
3. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA merupakan tes alternatif skrining untuk kanker serviks. Tes sangat mudah dan
praktis dilaksanakan, sehingga tenaga kesehatan non dokter ginekologi, bidan praktek
dan lain-lain. Prosedur pemeriksaannya sangat sederhana, permukaan serviks/leher
rahim diolesi dengan asam asetat, akan tampak bercak-bercak putih pada permukaan
serviks yang tidak normal.
4. Serviksografi
Servikografi terdiri dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa ekstensi 50
mm. Fotografi diambil oleh tenaga kesehatan danslide (servikogram) dibaca oleh yang
mahir dengan kolposkop. Disebut negatif atau curiga jika tampak kelainan abnormal,
tidak memuaskan jika SSK tidak tampak seluruhnya dan disebut defek secara teknik
jika servikogram tidak dapat dibaca (faktor kamera atau flash).
5. Gineskopi
Gineskopi menggunakan teleskop monokuler, ringan dengan pembesaran 2,5 x dapat
digunakan untuk meningkatkan skrining dengan sitologi. Biopsi atau pemeriksaan
kolposkopi dapat segera disarankan bila tampak daerah berwarna putih dengan pulasan
asam asetat. Sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 84% dan 87% dan negatif
palsu sebanyak 12,6% dan positif palsu 16%. Samsuddin dkk pada tahun 1994
membandingkan pemeriksaan gineskopi dengan pemeriksaan sitologi pada sejumlah
920 pasien dengan hasil sebagai berikut: Sensitivitas 95,8%; spesifisitas
99,7%; predictive positive value88,5%; negative value 99,9%; positif palsu 11,5%;
negatif palsu 4,7% dan akurasi 96,5%. Hasil tersebut memberi peluang digunakannya
gineskopi oleh tenaga paramedis / bidan untuk mendeteksi lesi prakanker bila fasilitas
pemeriksaan sitologi tidak ada.
6. Pemeriksaan Penanda Tumor (PT)
Penanda tumor adalah suatu suatu substansi yang dapat diukur secara kuantitatif dalam
kondisi prakanker maupun kanker. Salah satu PT yang dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya perkembangan kanker serviks adalah CEA (Carcino Embryonic
Antigen) dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin). Kadar CEA abnormal adalah > 5
µL/ml, sedangkan kadar HCG abnormal adalah > 5ηg/ml. HCG dalam keadaan normal
disekresikan oleh jaringan plasenta dan mencapai kadar tertinggi pada usia kehamilan
60 hari. Kedua PT ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan darah dan urine.
7. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi tingkat komplikasi pendarahan yang
terjadi pada penderita kanker serviks dengan mengukur kadar hemoglobin, hematokrit,
trombosit dan kecepatan pembekuan darah yang berlangsung dalam sel-sel tubuh.
8. Biopsi: Dengan bius lokal, jaringan yang dimiliki wanita diambil di tempat praktek
dokter. Lalu seorang ahli patologi memeriksa jaringan di bawah mikroskop untuk
memeriksa adanya sel-sel abnormal.
9. Punch Biopsi: Dokter menggunakan alat yang tajam untuk menjumput sampel kecil
jaringan serviks.
10. LEEP : Dokter menggunakan loop kawat listrik untuk mengiris sepotong, bulat tipis
dari jaringan serviks.
11. Endoservikal kuret: Dokter menggunakan kuret (alat, kecil berbentuk sendok) untuk
mengikis contoh kecil jaringan dari leher rahim. Beberapa dokter mungkin
menggunakan kuas tipis lembut, bukan kuret.
12. Conization: Dokter mengambil sebuah sampel jaringan berbentuk kerucut. Sebuah
conization, atau biopsi kerucut, memungkinkan ahli patologi melihat apakah ada sel-sel
abnormal dalam jaringan di bawah permukaan leher rahim. Para dokter mungkin
melakukan tes ini di rumah sakit dengan anestesi / bius total.

2.1.9 Komplikasi
Dampak lanjut dari Ca.Servik bila tidak di tangani dengan baik dan benar akan dapat
menyebabkan masalah baru, diantaranya adalah :
a. Pendarahan
b. Kematian janin
c. Hidronefrosis
d. Gagal ginjal
e. Pembetukan fistula
f. Anemia
g. Infeksi sistemik

2.2 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


2.2.1 PENGKAJIAN
a. Identitas pasien
b. Keluhan Utama
c. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat penyakit keluarga
d. Pola fungsi kesehatan
1. Pemeliharaan dan persepsi kesehatan.
Kanker serviks dapat diakibatkan oleh higiene yang kurang baik pada daerah
kewanitaan. Kebiasaan menggunakan bahan pembersih vagina yang mengandung zat
– zat kimia juga dapat mempengaruhi terjadinya kanker serviks.
2. Pola istirahat dan tidur.
Pola istirahat dan tidur pasien dapat terganggu akibat dari nyeri akibat progresivitas
dari kanker serviks ataupun karena gangguan pada saat kehamilan.gangguan pola
tidur juga dapat terjadi akibat dari depresi yang dialami oleh ibu.
3. Pola eliminasi
Dapat terjadi inkontinensia urine akibat dari uterus yang menekan kandung kemih.
Dapat pula terjadi disuria serta hematuria. Selain itu biisa juga terjadi inkontinensia
alvi akibat dari peningkatan tekanan otot abdominal
4. Pola nutrisi dan metabolik
Asupan nutrisi pada Ibu hamil dengan kanker serviks harus lebih banyak jika
dibandingkan dengan sebelum kehamilan. Dapat terjadi mual dan muntah pada awal
kehamilan. Kaji jenis makanan yang biasa dimakan oleh Ibu serta pantau berat badan
Ibu sesuai dengan umur kehamilan karena Ibu dengan kanker serviks juga biasanya
mengalami penurunan nafsu makan. Kanker serviks pada Ibu yang sedang hamil juga
dapat mengganggu dari perkembangan janin.
5. Pola kognitif – perseptual
Pada Ibu hamil dengan kanker serviks biasanya tidak terjadi gangguan pada pada
panca indra meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, pengecap.
6. Pola persepsi dan konsep diri
Pasien kadang merasa malu terhadap orang sekitar karena mempunyai penyakit
kanker serviks, akibat dari persepsi yang salah dari masyarakat. Dimana salah satu
etiologi dari kanker serviks adalah akibat dari sering berganti – ganti pasangan
seksual.
7. Pola aktivitas dan latihan.
Kaji apakah penyakit serta kehamilan pasien mempengaruhi pola aktivitas dan
latihan. Dengan skor kemampuan perawatan diri (0= mandiri, 1= alat bantu, 2=
dibantu orang lain, 3= dibantu orang lain dan alat, 4= tergantung total).
Ibu hamil wajar jika mengalami perasaan sedikit lemas akibat dari asupan nutrisi
yang berkurang akibat dari harus berbagi dengan janin yang dikandungnya. Namun
pada ibu hamil yang disertai dengan kanker serviks ibu akan merasa sangat lemah
terutama pada bagian ekstremitas bawah dan tidak dapat melakukan aktivitasnya
dengan baik akibat dari progresivitas kanker serviks sehingga harus beristirahat total.
8. Pola seksualitas dan reproduksi
Kaji apakah terdapat perubahan pola seksulitas dan reproduksi pasien selama pasien
menderita penyakit ini. Pada pola seksualitas pasien akan terganggu akibat dari rasa
nyeri yang selalu dirasakan pada saat melakukan hubungan seksual (dispareuni) serta
adanya perdarahan setelah berhubungan. Serta keluar cairan encer (keputihan) yang
berbau busuk dari vagina.
9. Pola manajemen koping stress
Kaji bagaimana pasien mengatasi masalah-masalahnya. Bagaimana manajemen
koping pasien. Apakah pasien dapat menerima kondisinya setelah sakit. Ibu hamil
dengan kanker serviks biasanya mengalami gangguan dalam manajemen koping stres
yang diakibatkan dari cemas yang berlebihan terhadap risiko terjadinya kematian
janin serta keselamatan dirinya sendiri.
10. Pola peran - hubungan
Bagaimana pola peran hubungan pasien dengan keluarga atau lingkungan sekitarnya.
Apakah penyakit ini dapat mempengaruhi pola peran dan hubungannya. Ibu hamil
dengan kanker serviks harus mendapatkan dukungan dari suami serta orang – orang
terdekatnya karena itu akan mempengaruhi kondisi kesehatan Ibu serta janin yang
dikandungnya. Biasanya koping keluarga akan melemah ketika dalam anggota
keluarganya ada yang menderita penyakit kanker serviks.

2.2.3 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri berhubungan dengan infiltrasi saraf akibat infiltrasi metastase
neoplasma.
2. Gangguan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
anoreksia pasca tindakan kemoterapi.
3. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan trauma mekanis,
manipulasi bedah, adanya edema jaringan lokal, hematoma, gangguan
sensori/motor ; paradisis saraf.
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman perubahan status kesehatan serta
ancaman kematian.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional


Hasil
1. Nyeri berhubungan Setelah dilakukan  Tentukan o Informasi
dengan infiltrasi saraf tindakan riwayat nyeri memberikan data
akibat infiltrasi keperawatan misalnya lokasi dasar untuk
metastase neoplasma. pasien akan nyeri, frekuensi, mengevaluasi
mampu durasi, dan kebutuhan/keefekt
mengurangi rasa intensitas (skala ifan intervensi.
nyeri dengan 0 – 10 ) dan o Mengalihkan
kriteria hasil: tindakan fokus perhatian
- Pasien penghilangan dan
merasa yang digunakan. Meningkatkan
nyaman.  Berikan rasa relaksasi untuk
- Nyeri nyaman pada mengurangi nyeri.
berkurang pasien dengan o Memungkinkan
- Mampu pengaturan pasien
mendemonstr posisi dan berpartisipasi
asikan aktivitas hiburan aktif dalam
keterampilan  Ajarkan teknik kontrol nyeri.
relaksasi manajemen nyeri o Menurunkan
(relaksasi, gerakan yang
visualisasi, dapat
distraksi). meningkatkan

 Tingkatkan nyeri

tirah baring, o Kontrol nyeri


bantulah maksimum.
kebutuhan
perawatan diri
yang penting
 Kolaborasi
pemberian
analgetik.
2. Gangguan perubahan Setelah dilakukan - Pantau intake dan - Identifikasi
nutrisi kurang dari tindakan output makanan defisiensi nutrisi.
kebutuhan b.d keperawatan tiap hari. - Dapat mengurangi
anoreksia pasca diharapkan - Anjurkan klien kebosanan dan
tindakan kemoterapi kebutuhan nutrisi untuk makan memenuhi
dapat tercukupi dalam porsi kecil kebutuhan nutrisi
dengan kriteria tapi sering. sedikit demi
hasil: - Timbang BB tiap sedikit
- Pasien hari. - Berguna dalam
mengungkapka - Dorong pasien mengukur
n pentingnya untuk diet tinggi keefektifan
nutrisi protein. nutrisi dan
- Peningkatan - Kontrol faktor li dukungan cairan.
BB progresif. ngkungan (misal - Kebutuhan
nya : baumakana jaringan
n yang terlalu metabolik adekuat
kuat, oleh nutrisi.
kebisinganlingku - Untuk
ngan, makanan menurunkan
yang terlalu potensial
pedas,terlalu terjadinya respon
manis, dan mual dan muntah
berlemak - Kebersihan mulut
- Lakukan oral hy yang terjagadapat
giene pada pasie meningkatkan
n sensasi
- Kolaborasi : pengecapan dan
Tinjau ulang nafsu makan
pemeriksaan - Membantu dalam
laboratorium mengidentifikasi
sesuai indikasi, derajat
misalnya ketidakseimbanga
transferin n biokimia dan
serumdan malnutrisi yang
albumin terjadi akibat
pertumbuhan sel-
sel kanker, dapat
mempengaruhi
dalam penentuan
intervensi diet
selanjutnya
3. Perubahan eliminasi Setelah dilakukan - Catat keluaran - Penurunan aliran
urinarius berhubungan asuhan urine, selidiki urine tiba-tiba
dengan trauma keperawatan penurunan / dapat
mekanis, manipulasi selama 2 x 24 penghentian mengindikasikan
bedah, adanya edema jam, pola aliran urine tiba- adanya obstruksi /
jaringan lokal, eliminasi urine tiba disfungsi pada
hematoma, gangguan pasien kembali - Kaji pola traktus urinarius
sensori/motor ; normal (adekuat) berkemih - Identifikasi
paradisis saraf. Dengan KH : (frekuensi dan kerusakan fungsi
- Tidak terjadi jumlahnya). vesika urinaria
hematuri Bandingkan akibat metastase
- Tidak terjadi haluaran urine sel-sel kanker
inkontinensia dan masukan pada bagian
urine cairan serta catat tersebut
- Tidak terjadi berat jenis urine - Penyebaran
disuria - Observasi dan kanker pada
- Jumlah catat warna traktus urinarius
output urine urine. Perhatikan (salah satunya di
dalam batas ada / tidaknya vesika urinaria)
normal hematuria dapat
- Observasi menyebabkan
adanya bau yang jaringan di vesika
tidak enak pada urinaria
urine (bau mengalami
abnormal) nekrosis sehingga
- Dorong urine yang keluar
peningkatan berwarna merah
cairan dan karena bercampur
pertahankan dengan darah
pemasukan - Identifikasi tanda
akurat - tanda infeksi
- Awasi tanda pada jaringan
vital. Kaji nadi traktus urinarius
perifer, turgor - Mempertahankan
kulit, pengisian hidrasi dan aliran
kapiler, dan urine baik
membran - Indikator
mukosa keseimbangan
- Kolaborasi : cairan dan
Siapkan untuk menunjukkan
tes diagnostik, tingkat hidrasi
prosedur - Pemeriksaan
penunjang sesua diagnostik dan
i indikasi penunjang
- Kolaborasi : misalnya
Pantau nilai pemeriksaan
BUN dan retrograd dapat
kreatinin digunakan untuk
mengevaluasi
tingkat infiltrasi
kanker pada
traktus urinarius
sehingga dapat
menjadi dasar
untuk intervensi
selanjutnya
- Kadar BUN dan
kreatinin yang
abnormal dapat
menjadi indikator
kegagalan fungsi
ginjal sebagai
akibat komplikasi
metastase sel-sel
kanker pada
traktus urinarius
hingga ke organ
ginjal.
4. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan - Dorong pasien - Memberikan
dengan ancaman tindakan untuk kesempatan untuk
perubahan status keperawatan mengungkapkan mengungkapkan
kesehatan serta ketakutan/ pikiran dan ketakutannya.
ancaman kematian kecemasan perasaan. - Membantu
berkurang sampai - Berikan mengurangi
menghilang lingkungan yang kecemasan.
dengan kriteria aman dan - Meningkatkan
hasil: nyaman. kepercayaan
- Pasien - Komunikasi pasien.
mendemonstr terapeutik dan - Meningkatkan
asikan koping kontak sering kemampuan
efektif dalam dengan pasien. kontrol cemas
pengobatan. - Bantu - Membantu dalam
- Pasien mengembang- identifikasi rasa
tampak rileks kan koping takut dan
dan menghadapi rasa kesalahan konsep
melaporkan takutnya. berdasarkan pada
cemas - Tinjau ulang pengalaman pada
berkurang. pengalaman kanker.
pasien/orang - Memberikan
terdekat kesempatan untuk
sebelumnya memeriksa rasa
dengan kanker. takut realistik
Tentukan apakah serta kesalaahn
dokter telah konsep tentang
menjelaskan diagnostik.
kepada pasien - Dapat
dan apakah menurunkan
kesimpulan ansietas dan
pasien telah memungkinkan
dicapai. pasien membuat
- Dorong pasien keputusan/ pilihan
untuk berdasarkan
mengungkapkan realita
pikiran dan
perasaan.
- Berikan
informasi akurat,
konsistensi
mengenai
prognosis,
hindari
memperdebatkan
tentang persepsi
pasien terhadap
situasi.
BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Ca Serviks atau yang lebih dikenal dengan istilah kanker leher rahim adalah
tumbuhnya sel-sel tidak normal pada leher rahim, perubahan untuk menjadi sel kanker
memakan waktu lama, sekitar 10 sampai 15 tahun. Kanker ini biasanya terjadi pada
wanita yang berusia kisaran 30 sampai dengan 50 tahun, yaitu puncak usia reproduktif
perempuan sehingga akan meyebabkan gangguan kualitas hidup secara fisik, kejiawaan
dan kesehatan seksual.2. Faktor yang mempengaruhi kanker serviks adalah
berhubungan seksual usia muda, berganti pasangan seksual, sering melahirkan, Infeksi
virus dan bakteri virus herpes simpleks dan human papilloma virus (HPV), riwayat
keluarga yang memiliki riwayat kanker serviks memiliki risiko terkenan kanker 2-3x
lipat, dan merokok.
Manifestasi klinis pada kanker serviks adalah seperti keputihan, ditemukan
adanya pendarahan vagina di luar masa haid, keluhan sakit setelah bersenggama, dan
infeksi pada saluran dan kandung kemih. Pencegahannya yaitu menghindari faktor-faktor
penyebab kanker di atas, pemeriksaan pap smear, kolposkopi dan skrining,
mengkonsumsi makanan bergizi, dan vaksinasi HPV. Pengobatan kanker serviks
dilakukan sesuai dengan stadium penderita kanker serviks saat didiagnosis, antara lain
tindakan operasi, radioterapi, dan kemoterapi.

4.2 Saran
Disarankan kepada perawat khususnya agar dapat mengenali secara baik tentang penyakit
ini, mulai dari penyebab, gejala, komplikasi dan dapat melaksanakan asuhan keperawatan
secara baik dan benar dalam menangani pasien dengan Ca serviks, selain itu perawat
perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien untuk mencegah terjadinya
kekambuhan dan komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Media Aesculaplus. Jakarta.

Mochtar, Rustam.1998. Sinopsis Obstetri jilid I. EGC. Jakarta

Nurarif Huda Amin, dkk. 2015. Asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis dan nanda,
Yogyakarta : Mediaction

Price, Sylvia A, 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Wiknjosastro, Hanifa. Dkk., 2002. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga Cetakkan Keempat, Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta

Wilkinson, Judith. M. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA, Intervensi
NIC, Kriteria hasil/NOC. Edisi 9, Jakarta : EGC