Anda di halaman 1dari 93

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama
yang mengupayakan pembangunan kesehatan untuk masyarakat maupun
perseorangan. Pelayanan kesehatan pada puskesmas terdiri atas upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan. Pelayanan kesehatan ini untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. 1 Tujuan
pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas untuk
mewujudkan masyarakat yang memiliki perilaku sehat yang meliputi
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat, mampu menjangkau
pelayanan kesehatan bermutu, hidup dalam lingkungan sehat, dan memiliki
derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.1
Masyarakat di Indonesia kurang menyadari akan pentingnya menjaga
kesehatan diri, keluarga dan lingkungan dalam upaya promotif dan preventif.
Kurangnya kesadaran tersebut mengakibatkan masyarakat Indonesia sangat
mudah umtuk terjangkit penyakit. Melihat permasalahan kesehatan tersebut
perlu adanya perbaikan dibidang kesehatan yaitu dengan azas
penyelenggaraan dan ditunjang oleh manajemen Puskesmas yang baik.
Manajemen Puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara
sistematik untuk menghasilkan luaran Puskesmas yang efektif dan efisien.
Fungsi manajemen Puskesmas dilaksanakan secara berkesinambungan agar
upaya kesehatan dapat terselenggara dengan optimal dan berfungsi sesuai
dengan tugasnya. Fungsi manajemen Puskesmas ini terdiri atas Perencanaan,
Pelaksanaan dan Pengendalian, serta Pengawasan dan Pertanggungjawaban.

Praktik Belajar Lapangan (PBL) pada blok 21 ini bertempat di


Puskesmas Tambakaji Jalan Raya Walisongo, Desa Tambakaji, Kecamatan
Ngaliyan Semarang. Kegiatan belajar di lapangan merupakan kegiatan yang
tepat dalam memperkenalkan, meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam

1
pelayanan kesehatan masyarakat, dan untuk mengetahui permasalahan
kesehatan yang ada di Puskesmas serta mencari alternatif pemecahan masalah
sebagai saran untuk Puskesmas Tambakaji.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menganilisis dan menyelesaikan masalah di
pelayanan kesehatan primer.
1.2.2 Tujuan Khusus
Pada akhir kegiatan diharapkan mahasiswa dapat:
1. Mengetahui perencanaan dan pelaksanaan serta monitoring
program Puskesmas.
2. Memahami Standar Pelayanan Minimal (SPM) pelayanan
kesehatan di Puskesmas.
3. Menjelaskan mekanisme pencatatan dan pelaporan Puskesmas.
4. Melaksanakan Upaya Kesehatan Masyarakat dan Perseorangan
tingkat pertama.
5. Mampu melakukan pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan terhadap masalah di Puskesmas.
6. Mampu melakukan komunikasi lisan dan tulisan kepada teman
sejawat dan petugas kesehatan lainnya (rujukan dan konsultasi).
7. Mampu melakukan pemaparan hasil kegiatan di Puskesmas.

1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Mahasiswa
1. Memberi pengalaman dan pembelajaran kepada mahasiswa dalam
memahami manajemen Puskesmas.
2. Mahasiswa dapat membandingkan antara teori dengan praktik yang
ada dalam kegiatan di lapangan.
3. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan
pemecahan masalah yang terjadi di lapangan.
1.3.2 Bagi Institusi dan Lahan Praktik Belajar Lapangan
1. Memberikan informasi dan masukan tentang permasalahan yang
ditemukan di wilayah kerja Puskesmas.

2
2. Membina dan meningkatkan kerjasama antara Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Semarang dengan Puskesmas tempat
mahasiswa melaksanakan kegiatan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Puskesmas


2.1.1 Definisi Puskesmas
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. 1
2.1.2 Tujuan1
1. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat.
2. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu.
3. Hidup dalam lingkungan sehat
4. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat
2.1.3 Prinsip penyelenggaraan1
1. Paradigma Sehat
Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk
berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko
kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2. Pertanggungjawaban Wilayah
Puskesmas menggerakkan dan bertanggung jawab terhadap
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
3. Kemandirian Masyarakat
Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat.

4. Pemerataan
Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang dapat
diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah
kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi,
agama, budaya dan kepercayaan
5. Teknologi Tepat Guna

4
Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan
memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan
pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi
lingkungan.
6. Keterpaduan dan kesinambungan
Puskesmas mengintegrasikan dan mengkoordinasikan
penyelenggaraan lintas program dan lalu lintas sektor untuk
menjalankan fungsinya.
2.1.4 Tugas Puskesmas
Tugas Puskesmas yaitu melaksanakan kebijakan kesehatan untuk
mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam
rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. 1
2.1.5 Fungsi dan wewenang Puskesmas
Dalam menjalankan tugas, Puskesmas berfungsi
menyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama di wilayah kerjanya,
serta dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan. 1
2.1.5.1 Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
Dalam menyelenggarakan fungsi UKM, Puskesmas berwenang
untuk:
1. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah
kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan
yang diperlukan.
2. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan
kesehatan.
3. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan
pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan.
4. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat
perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor
lain terkait.
5. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan
pelayanan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat.
6. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya
manusia Puskesmas.

5
7. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan
kesehatan.
8. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap
akses, mutu, dan cakupan Pelayanan Kesehatan.
9. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan
masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem
kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit.
2.1.5.2 Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP)
Dalam menjalankan fungsi UKP, Puskesmas berwenang untuk:1
1. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara
komprehensif, berkesinambungan dan bermutu,
2. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang
mengutamakan upaya promotif dan preventif,
3. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi
pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat,
4. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang
mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien, petugas
dan pengunjung,
5. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip
koordinatif dan kerja sama inter dan antar profesi,
6. Melaksanakan rekam medis,
7. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap
mutu dan akses Pelayanan Kesehatan,
8. Melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan,
9. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi
medis dan Sistem Rujukan.

2.2 Manajemen Puskesmas


Untuk dapat mewujudkan visi, misi, dan tujuan Puskesmas, diperlukan
model manajemen yang efektif dan efisien. Beberapa model manajemen telah
diperkenalkan pada Puskesmas, yaitu berupa komponen :
2.2.1 Input
1. Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu
organisasi. Dalam suatu manajemen, faktor manusia adalah yang
paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia
pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Oleh karena

6
itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja
sama untuk mencapai tujuan.2
2. Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat
diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai.
Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang
beredar dalam Puskesmas. Oleh karena itu uang merupakan alat
(tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu
harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan
dengan berapa banyak uang yang harus disediakan untuk
membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus
dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.2
3. Materials adalah semua bahan yang terkait (tidak menggunakan
mesin atau motor penggerak) dengan pengelolaan puskesmas,
meliputi gedung, peralatan medis dan non medis, meubeler, alat
tulis kantor, dan lain sebagainya.2
4. Marketing atau pemasaran adalah kegiatan di mana organisasi
menyebarluaskan (memasarkan) pelayanan kesehatan.2
5. Methods atau metode adalah suatu tata cara kerja yang
memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode dapat
dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas
dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada
sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu,
serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode
baik, sedangkan orang yangmelaksanakannya tidak mengerti atau
tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan
memuaskan.2
2.2.2 Proses
1. Proses Manajemen Pada Perencanaan (P1)
Perencanaan yang disusun melalui pengenalan permasalahan
secara tepat berdasarkan data yang akurat, serta diperoleh dengan
cara dan dalam waktu yang tepat, maka akan dapat mengarahkan
upaya kesehatan yang dilaksanakan Puskesmas dalam mencapai
sasaran dan tujuannya. Dalam upaya mencakup seluas mungkin

7
sasaran masyarakat yang harus dilayani, serta mengingat
ketersediaan sumber daya yang terbatas, maka pelayanan kesehatan
harus dapat dilaksanakan secara terintegrasi baik lintas program
maupun lintas sektor. Kepala Puskesmas harus mampu
membangun kerjasama dan mengkoordinasikan program di internal
Puskesmas dan di eksternal dengan mitra lintas sektor. Koordinasi
dengan lintas sektor sangat diperlukan, karena faktor penyebab dan
latar belakang masalah kesehatan tertentu kemungkinan hanya
dapat diselesaikan oleh mitra lintas sektor.3
Peran pemerintah daerah sangat besar dalam menyelesaikan
permasalahan kesehatan di masyarakat, oleh karenanya Puskesmas
perlu mencari dukungan dari pemerintah daerah yang dimulai dari
tingkat desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten/kota. Proses
perencanaan Puskesmas harus terintegrasi kedalam sistem
perencanaan daerah melalui forum Musyawarah Perencanaan
Pembangunan (Musrenbang) yang disusun secara top down dan
bottom-up.4
Proses perencanaan Puskesmas akan mengikuti siklus
perencanaan pembangunan daerah, dimulai dari tingkat
desa/kelurahan, selanjutnya disusun pada tingkat kecamatan dan
kemudian diusulkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Perencanaan Puskesmas yang diperlukan terintegrasi dengan lintas
sektor kecamatan, akan diusulkan melalui kecamatan ke
pemerintah daerah kabupaten/kota.4
2. Proses Manajemen Pelaksanaan (P2)
Penggerakan dan Pelaksanaan program/kegiatan merupakan
kegiatan lanjutan dari Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK).
Penggerakan pelaksanaan program/kegiatan dapat dilakukan
melalui berbagai cara, diantaranya adalah rapat dinas, pengarahan
pada saat apel pegawai, pelaksanaan kegiatan dari setiap program
sesuai penjadwalan pada Rencana Pelaksanaan Kegiatan bulanan,
maupun dilakukan melalui forum yang dibentuk khusus untuk itu.

8
Forum yang dibentuk khusus untuk melakukan penggerakan
pelaksanaan program/kegiatan dinamakan forum Lokakarya Mini
Puskesmas.4
Dalam rangka penggerakan dan pelaksanaan program/kegiatan,
Kepala Puskesmas dapat melakukan pengorganisasian ulang
petugas di Puskesmas dalam rangka penguatan dan pemantapan
organisasi.4
Lokakarya mini bulanan bertujuan untuk menilai sampai
seberapa jauh pencapaian dan hambatan-hambatan yang dijumpai
oleh para pelaksana program/kegiatan pada bulan atau periode
yang lalu sekaligus pemantauan terhadap pelaksanaan rencana
kegiatan Puskesmas yang akan datang; sehingga dapat dibuat
perencanaan ulang yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai. Disamping itu, kita ketahui bersama bahwa
keberhasilan pelaksanaan kegiatan Puskesmas memerlukan
keterpaduan baik lintas program maupun lintas sektor. Lokakarya
mini bulanan dilaksanakan pada setiap awal bulan.4
a. Lokakarya Mini Bulanan yang pertama merupakan lokakarya

penggalangan tim, diselenggarakan dalam rangka


pengorganisasian untuk dapat terlaksananya RPK
Puskesmas.Pengorganisasian dilaksanakan dalam rangka
penentuan penanggungjawab dan pelaksana setiap kegiatan
serta untuk satuan wilayah kerja. Seluruh program kerja dan
wilayah kerja Puskesmas dilakukan pembagian habis kepada
seluruh pegawai Puskesmas, dengan mempertimbangkan
kemampuan yang dimilikinya.4
b. Lokakarya Mini Bulanan Rutin diselenggarakan sebagai tindak

lanjut dari lokakarya mini bulanan yang pertama.Lokakarya


mini bulanan rutin ini dilaksanakan untuk memantau
pelaksanaan kegiatan Puskesmas, yang dilakukan setiap bulan
secara teratur. Pada forum Lokakarya mini bulanan rutin, dapat
sekaligus dilaksanakan pertemuan tinjauan manajemen, sesuai

9
jadwal yang telah ditetapkan tim audit internal.4
Penanggungjawab penyelenggaraan lokakarya mini bulanan
rutin adalah kepala Puskesmas, yang dalam pelaksanaannya
dibantu staf Puskesmas dengan mengadakan rapat kerja seperti
biasanya. Fokus utama lokakarya mini bulanan rutin adalah
ditekankan kepada masalah pentingnya kesinambungan arah
dan kegiatan antara hal-hal yang direncanakan, integrasi antar
program dalam menyelesaikan masalah prioritas Puskesmas
yang telah ditetapkan pada tiap tahunnya, pelaksanaannya serta
hasilnya, agar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan tersebut
dapat berhasil guna dan berdaya guna.4
Masalah kesehatan (termasuk kejadian kesakitan dan
kematian) yang terjadi dimasyarakat disebabkan oleh banyak
faktor, dimana sebagai penyebab utamanya diluar faktor
kesehatan. Penyebab masalah kesehatan dapat disebabkan
antara lain oleh faktor lingkungan (termasuk sosial-ekonomi-
budaya), perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan, keadaan
demografi dan faktor keturunan. Oleh karena itu untuk
memecahkan masalah kesehatan dibutuhkan kerjasama antara
sektor kesehatan dengan sektor-sektor lain yang terkait dengan
penyebab terjadinya masalah kesehatan. Untuk menumbuhkan
semangat kerjasama antar sektor yang terkait dalam
pembangunan kesehatan diperlukan upaya pengggalangan dan
peningkatan kerjasama lintas sektoral, agar diperoleh hasil yang
optimal.4
Untuk memelihara kerjasama lintas sektor perlu
dilakukan upaya penggalangan dan pemantauan pelaksanaan
kerjasama melalui suatu forum lokakarya mini yang
diselenggarakan setiap tribulan yang disebut Lokakarya Mini
Tribulanan. Lokakarya mini tribulanan bertujuan untuk
menginformasikan dan mengidentifikasikan capaian hasil
kegiatan tribulan sebelumnya, membahas dan memecahkan

10
masalah dan hambatan yang dihadapi oleh lintas sektor pada
kegiatan tribulan sebelumnya, dan menganalisa serta
memutuskan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dengan
memasukkan aspek umpan balik dari masyarakat dan sasaran
program. Lokakarya mini bulanan tetap dilaksanakan jika pada
bulan yang bersamaan ada lokakarya mini tribulanan, dimana
lokakarya mini bulanan mempersiapkan bahan untuk
pelaksanaan lokakarya mini tribulanan.4
a. Lokakarya Mini Tribulanan yang Pertama merupakan lokakarya
penggalangan tim yang diselenggarakan dalam rangka
pengorganisasian untuk dapat terlaksananya rencana kegiatan
sektoral yang terkait dengan pembangunan kesehatan. Pada
tahapan ini, Puskesmas mendiskusikan usulan yang akan
disampaikan didalam Musrenbang kecamatan yang
memerlukan dukungan dari lintas sektor terkait, sehingga pada
saat dilaksanakan Musrenbang kecamatan semua pihak sudah
tersosialisasi dan dapat mendukung program kesehatan di
tingkat kecamatan.4
Pengorganisasian dilaksanakan untuk penentuan
penanggungjawab dan pelaksana setiap kegiatan serta untuk
satuan wilayah kerja. Seluruh program kerja dan wilayah kerja
kecamatan dilakukan pembagian habis kepada seluruh sektor
terkait, dengan mempertimbangkan kewenangan dan bidang
yang dimilikinya.4
b. Lokakarya Mini Tribulanan Rutin merupakan tindak lanjut dari
penggalangan kerjasama lintas sektoral yang telah dilakukan
dan selanjutnya dilakukan tiap tribulan secara tetap.
Penyelenggaraan lokakarya mini tribulanan rutin dilakukan
oleh camat dan Puskesmas dibantu sektor terkait dikecamatan.4

3. Proses Manajemen Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian


Kinerja (P3)

11
Manajemen perencanaan yang telah ditetapkan sebagai
Rencana Pelaksanaan Kegiatan, perlu dilakukan pengawasan dan
pengendalian agar target output dari setiap kegiatan dapat dicapai
secara optimal. Hal-hal yang menjadi faktor penghambat
pencapaian target output yang ditemukan pada proses pengawasan
dan pengendalian, dapat segera diatasi melalui penyesuaian
perencanaan selanjutnya. Selain melalui forum lokakarya mini,
pelaksanaan pengawasan dan pengendalian secara internal dapat
dilaksanakan melalui kegiatan monitoring rutin terhadap upaya
yang dilakukan, dengan berpedoman pada NSPK masing-masing
program. Hasil pengawasan dan pengendalian akan dinilai didalam
suatu proses penilaian kinerja Puskesmas, yang juga merupakan
instrument/tools untuk menilai pelaksanaan proses manajemen
Puskesmas secara keseluruhan.4
a. Pengawasan dan Pengendalian dibedakan menjadi dua, yaitu

pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan internal adalah


pengawasan yang dilakukan oleh Puskesmas sendiri, baik oleh
Kepala Puskesmas, tim audit internal maupun setiap
penanggung jawab dan pengelola/pelaksana program. Adapun
pengawasan eksternal dilakukan oleh instansi dari luar
Puskesmas antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
institusi lain selain Dinas Kesehtan Kabupaten/Kota, dan/atau
masyarakat.4
Pengawasan yang dilakukan mencakup aspek administratif,
sumber daya, pencapaian kinerja program, dan teknis
pelayanan. Apabila ditemukan adanya ketidaksesuaian baik
terhadap rencana, standar, peraturan perundangan maupun
berbagai kewajiban yang berlaku perlu dilakukan pembinaan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pengawasan dilakukan
melalui kegiatan supervisi yang dapat dilakukan secara
terjadwal atau sewaktu sebagai berikut:4
Mengetahui sejauh mana pelaksanaan pelayanan kesehatan,

12
apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah
sumber promodaya telah ada dan digunakan sesuai dengan yang
telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
1. Mengetahui adanya kendala, hambatan/tantangan dalam
melaksanakan pelayanan kesehatan, sehingga dapat
ditetapkan pemecahan masalah sedini mungkin.
2. Mengetahui adanya penyimpangan pada pelaksanaan
pelayanan kesehatan sehingga dapat segera dilakukan
klarifikasi.
3. Memberikan informasi kepada pengambil keputusan
tentang adanya penyimpangan dan penyebabnya, sehingga
dapat mengambil keputusan untuk melakukan koreksi pada
pelaksanaan kegiatan atau program terkait, baik yang
sedang berjalan maupun pengembangannya di masa
mendatang.
4. Memberikan informasi/laporan kepada pengambil
keputusan tentang adanya perubahan-perubahan lingkungan
yang harus di tindak lanjuti dengan penyesuaian kegiatan.
5. Memberikan informasi tentang akuntabilitas pelaksanaan
dan hasil kinerja program/kegiatan kepada pihak yang
berkepentingan, secara kontinyu dan dari waktu ke waktu.
b. Penilaian Kinerja Puskesmas
Penilaian Kinerja Puskesmas adalah suatu proses yang
obyektif dan sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis
dan menggunakan informasi untuk menentukan seberapa efektif
dan efisien pelayanan Puskesmas disediakan, serta sasaran yang
dicapai sebagai penilaian hasil kerja/prestasi Puskesmas.
Penilaian Kinerja Puskesmas dilaksanakan oleh Puskesmas dan
kemudian hasil penilaiannya akan diverifikasi oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota. Tujuan dilaksanakannya penilaian
kinerja adalah agar Puskesmas:4

13
1. Mendapatkan gambaran tingkat kinerja Puskesmas (hasil
cakupan kegiatan, mutu kegiatan, dan manajemen
Puskesmas) pada akhir tahun kegiatan.
2. Mendapatkan masukan untuk penyusunan rencana kegiatan
di tahun yang akan datang.
3. Dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari
penyebab dan latar belakang serta hambatan masalah
kesehatan di wilayah kerjanya berdasarkan adanya
kesenjangan pencapaian kinerja.
4. Mengetahui dan sekaligus dapat melengkapi dokumen untuk
persyaratan akreditasi Puskesmas.
5. Dapat menetapkan tingkat urgensi suatu kegiatan untuk
dilaksanakan segera pada tahun yang akan datang
berdasarkan prioritasnya.
Lingkungan tidak mungkin mampu mendukung jumlah
kehidupan yang tanpa batas dengan segala aktivitasnya. Karena
itu, apabila lingkungan sudah tidak mampu lagi mendukung
kehidupan manusia, manusia akan menuai berbagai kesulitan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berdampak
pada kualitas daya dukung lingkungan, yang pada akhirnya akan
merusak lingkungan itu sendiri. Eksploitasi sumber daya yang
berlebihan akan berdampak buruk pada manusia.3
Pengaruh lingkungan dalam menimbulkan penyakit pada
manusia telah lama disadari, seperti dikemukakan Blum dalam
Planing for health, development and applicationof social change
theory, bahwa factor lingkungan berperan sangat besar dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebaliknya kondisi
kesehatan masyarakat yang buruk, termasuk timbulnya berbagai
penyakit juga dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk.5
Interaksi manusia dengan lingkungan telah menyebabkan
kontak antara kuman dengan manusia. Sering terjadi kuman

14
yang tinggal ditubuh hostkemudian berpindah kemanusia karena
manusia tidak mampu menjaga kebersihan lingkungannya. Hal
ini tercermin dari tingginya kejadian penyakit berbasis
lingkungan yang masih merupakan masalah kesehatan terbesar
masyarakat Indonesia. Beberapa penyakit yang timbul akibat
kondisi lingkungan yang buruk seperti ISPA, diare, DBD,
Malaria dan penyakit kulit.5

2.3 Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)


Upaya Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat UKM adalah
setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran
keluarga, kelompok, dan masyarakat.1
2.3.1 Upaya Kesehatan Essensial
Upaya kesehatan esensial Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang
mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah:
1. Upaya Pelayanan Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk,
dan bersarna masyarakat, agar mereka dapat menolong diri
sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya
masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan
didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.6
Berdasarkan definisi tersebut serta sejalan dengan visi, misi
Departemen Kesehatan dan fungsi Puskesmas khususnya dalam
penggerakan dan pemberdayaan keluarga dan masyarakat dapat
dirumuskan bahwa promosi kesehatan Puskesmas adalah upaya
Puskesmas melaksanakan pemberdayaan kepada masyarakat untuk
mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan setiap individu,
keluarga serta lingkungannya secara mandiri dan mengembangkan
upaya kesehatan bersumber masyarakat.6

15
Upaya promosi kesehatan mengantisipasi perilaku
masyarakat yang belum menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS). Upaya promosi kesehatan dibagi menjadi tiga
wilayah, yaitu kawasan perkotaan, perdesaan, dan kawasan
terpencil, berupa:6
a. Penyuluhan
1) Promosi kesehatan di sekolah pendidikan dasar
2) Pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan
3) Penyuluhan kesehatan jiwa masyarakat & napza dan
lainnya.
b. Pemberdayaan masyarakat
1) Membentuk jejaring dalam pembentukan PHBS di
masyarakat
2) Penggerakan kelompok masyarakat dalam pemanfaatan
Posyandu
3) Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat untuk Peningkatan
Penggunaan Obat Rasional melalui Metode Cara Belajar
Insan Aktif (CBIA)
4) dan lainnya.
c. PHBS
1) Melatih kader kesehatan tentang perawatan diri dan
mempraktikkan PHBS
2) Melatih kader kesehatan dalam menyampaikan informasi
pada kelompok atau masyarakat tentang perawatan diri
dan mempraktikkan PHBS di desa binaan.
3) Mengadvokasi masyarakat dan lintas terkait dalam
praktik PHBS dan penanggulangan masalah kesehatan
tertentu.
Advokasi tokoh masyarakat dalam membentuk kelompok
swabantu terkait perawatan masalah gizi.
2. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak
Upaya Kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang
kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu
hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak
prasekolah.Pemberdayaan masyarakat bidang KIA merupakan
upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem

16
kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat
darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan.7
Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong, yang
dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat, dalam hal penggunaan
alat transportasi atau komunikasi (telepon genggam, telpon
rumah), pendanaan, pendonor darah, pencatatan-pemantaun dan
informasi KB.Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan
kesehatan kepada masyarakat, pemuka masyarakat serta
menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan
kesehatan di taman kanak-kanak.7
Tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya
kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan
yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat
pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu
Indonesia Sehat 2010, serta meningkatnya derajat kesehatan anak
untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan
landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.7
Tujuan khusus :
1) Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan
perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya
dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya
pembinaan kesehatan keluarga, Desa Wisma, penyelenggaraan
Posyandu dan sebagainya.
2) Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak
prasekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga, Desa
Wisma, Posyandu dan Karang Balita, serta di sekolah TK.
3) Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak
balita, ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui.
4) Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan anak balita.
5) Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat,
keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah

17
kesehatan ibu, balita, anak prasekolah, terutama melalui
peningkatan peran ibu dalam keluarganya.
3. Upaya Pelayanan Kesehatan Lingkungan
Pelayanan Kesehatan Lingkungan adalah kegiatan atau
serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan kualitas
lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi,
maupun sosial guna mencegah penyakit dan/atau gangguan
kesehatan yang diakibatkan oleh faktor risiko lingkungan.9
Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan dilakukan dalam
bentuk:
a. Konseling
Konseling adalah hubungan komunikasi antara tenaga
kesehatan lingkungan dengan pasien yang bertujuan untuk
mengenali dan memecahkan masalah kesehatan lingkungan
yang dihadapi.
Konseling terhadap pasien yang menderita penyakit
dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor
risiko lingkungan dilaksanakan secara terintegrasi dengan
pelayanan pengobatan dan/atau perawatan. Pelaksanaan
konseling dilakukan dengan fokus pada permasalahan
kesehatan yang dihadapi pasien.9
1) Inspeksi Kesehatan Lingkungan
Inspeksi kesehatan lingkungan adalah kegiatan
pemeriksaan dan pengamatan secara langsung terhadap
media lingkungan dalam rangka pengawasan berdasarkan
standar, norma, dan baku mutu yang berlaku untuk
meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat. Inspeksi
kesehatan lingkungan dilakukan dengan cara Pengamatan
fisik media lingkungan, Pengukuran media lingkungan di
tempat, Uji laboratorium dan Analisis risiko kesehatan
lingkungan. Intervensi kesehatan lingkungan adalah

18
tindakan penyehatan, pengamanan, dan pengendalian untuk
mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari
aspek fisik, kimia, biologi, maupun social yang dapat
berupa Komunikasi, informasi, dan edukasi, serta
penggerakan/pemberdayaan masyarakat, Pelaksanaan
Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dilakukan
untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan prilaku
masyarakat terhadap masalah kesehatan dan upaya yang
diperlukan sehingga dapat mencegah penyakit dan/atau
gangguan kesehatan akibat faktor risiko lingkungan. KIE
dilaksanakan secara bertahap agar masyarakat umum
mengenal lebih dulu, kemudian menjadi mengetahui,
setelah itu mau melakukan dengan pilihan/opsi yang sudah
disepakati bersama.
Pelaksanaan penggerakan/pemberdayaan masyarakat
dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas
lingkungan melalui kerja bersama (gotong royong)
melibatkan semua unsur masyarakat termasuk perangkat
pemerintahan setempat dan dilakukan secara berkala.9
2) Perbaikan dan pembangunan sarana
Perbaikan dan pembangunan sarana diperlukan apabila
pada hasil inspeksi kesehatan lingkungan menunjukkan
adanya faktor risiko lingkungan penyebab penyakit
dan/atau gangguan kesehatan pada lingkungan dan/atau
rumah Pasien. Perbaikan dan pembangunan sarana
dilakukan untuk meningkatkan akses terhadap air minum,
sanitasi, sarana perumahan, sarana pembuangan air limbah
dan sampah, serta sarana kesehatan lingkungan lainnya
yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan
lingkungan. Tenaga Kesehatan Lingkungan dapat
memberikan desain untuk perbaikan dan pembangunan

19
sarana sesuai dengan tingkat risiko, dan standar atau
persyaratan kesehatan lingkungan, dengan mengutamakan
material lokal.9
b. Pengembangan teknologi tepat guna
Pengembangan teknologi tepat guna merupakan upaya
alternatif untuk mengurangi atau menghilangkan faktor risiko
penyebab penyakit dan/atau gangguan kesehatan.
Pengembangan teknologi tepat guna dilakukan dengan
mempertimbangkan permasalahan yang ada dan ketersediaan
sumber daya setempat sesuai kearifan lokal.
Pengembangan teknologi tepat guna secara umum harus
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, memanfaatkan
sumber daya yang ada, dibuat sesuai kebutuhan, bersifat efektif
dan efisien, praktis dan mudah diterapkan/dioperasionalkan,
pemeliharaannya mudah, serta mudah dikembangkan.9
c. Rekayasa lingkungan
Rekayasa lingkungan merupakan upaya mengubah media
lingkungan atau kondisi lingkungan untuk mencegah pajanan
agen penyakit baik yang bersifat fisik, biologi, maupun kimia
serta gangguan dari vektor dan binatang pembawa penyakit.9
4. Upaya Pelayanan Gizi
Program Perbaikan Gizi Masyarakat adalah salah satu
program pokok Puskesmas yaitu program kegiatan yang meliputi
penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), Keadaan zat gizi
lebih, Peningkatan Survailans Gizi, Anemia Gizi Besi, Gangguan
Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A,
peningkatan pendidikan gizi, Keadaan zat gizi lebih, Peningkatan
Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga/Masyarakat.10

20
Upaya pelayanan gizi dilakukan di Puskesmas kawasan kota,
Puskesmas kawasan desa, dan Puskesmas kawasan desa
terpencil/sangat terpencil. Dibedakan menjadi dua kegiatan :10
a. Deteksi Dini : Melakukan deteksi dini/penemuan kasus gizi di
masyarakat dan Surveilans Gizi
b. Pelayanan : Melakukan asuhan keperawatan pada kasus gizi di
kelompok atau masyarakat
Kegiatan program gizi yang dilakukan harian adalah sebagai
berikut:10
a. Peningkatan pemberian ASI Eksklusif adalah Pemberian ASI
tanpa makanan dan minuman lain pada bayi berumur nol
sampai dengan 6 bulan
b. Pemberian MP-ASI anak umur 6-24 bulan adalah pemberian
makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan dari
keluarga miskin selama 90 hari.
c. Pemberian tablet besi (90 tablet) pada ibu hamil adalah
pemberian tablet besi (90 tablet) selama masa kehamilan.
d. Pemberian PMT pemulihan pada Keluarga Miskin adalah balita
keluarga miskin yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan
sesuai tatalaksana gizi di wilayah Puskesmas.
e. Kegiatan investigasi dan intervensi yang dilakukan setai saat
jika ditemukan masalah gizi misalnya ditemukan adanya kasus
gizi buruk.
Kegiatan Program Gizi Bulanan yang dilakukan bulanan adalah
sebagai berikut:10
a. Pemantauan Pertumbuhan Berat Badan Balita (Penimbangan
Balita), yaitu pengukuran berat badan balita untuk mengetahui
pola pertumbuhan dan perkembangan berat badan balita.
b. Kegiatan konseling gizi dalam rangka peningkatan pendidikan
gizi dan perberdayaan usaha perbaikan gizi keluarga/
masyarakat.
c. Kegiatan yang dilakukan setiap semester (6 bulan sekali)
dengan pemberian kapsul vitamin A (Dosis 200.000 SI) pada

21
balita, secara periodik diberikan setahun sekali pada bulan
Februari dan Agustus.
Kegiatan yang dilakukan setiap tahun (setahun sekali) adalah
sebagai berikut :10
a. Pemantauan status gizi balita
b. Pemantaun konsumsi gizi
c. Pemantauan penggunaan garam
5. Upaya Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit
Penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh agen
infeksi atau toksinnya, yang berasal dari sumber penularan atau
reservoir, yang ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu (host)
yang rentan.11
Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan atau
kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin
menimbulkan kehebohan/ ketakutan di kalangan masyarakat, atau
menurut pengamatan epidemiologik dianggap adanya peningkatan
yang berarti (bermakna) dari kejadian kesakitan/ kematian tersebut
kepada kelompok penduduk dalam kurun tertentu.2
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular
dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara
nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.11
a. Tujuan
Program ini bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian,
dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular.9
Penyakit menular yang diprioritaskan dalam program ini
adalah: malaria, demam berdarah dengue, tuberkulosis paru,
HIV/ AIDS, diare, polio, filaria, kusta, pneumonia, dan
penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(PD3I), termasuk penyakit karantina dan risiko masalah
kesehatan masyarakat yang memperoleh perhatian dunia
internasional (public health risk of international concern).12
Penyakit tidak menular yang diutamakan yaitu penyakit
jantung, kanker, diabetes melitus dan penyakit metabolik,

22
penyakit kronis dan degeneratif, serta gangguan akibat
kecelakaan dan cedera.12
b. Sasaran12
1) Persentase desa yang mencapai Universal Child
Immunization (UCI) sebesar 98%.
2) Angka Case Detection Rate penyakit TB sebesar 70% dan
angka keberhasilan pengobatan TB di atas 85%.
3) Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) diharapkan ≥
2/100.000 anak usia kurang dari 15 tahun.
4) Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani
sebesar 80%.
5) Penderita malaria yang diobati sebesar 100%.
6) CFR diare pada saat KLB adalah < 1,2%.
7) ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mendapat pengobatan
ART sebanyak 100%.
8) Tersedianya dan tersosialisasikannya kebijakan dan
pedoman, serta hukum kesehatan penunjang program yang
terdistribusi hingga ke desa.
9) Terselenggaranya sistem surveilans dan kewaspadaan dini
serta penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah
secara berjenjang hingga ke desa.
2.3.2 Upaya Kesehatan Pengembangan
1. Usaha Kesehatan Sekolah
Dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan Pasal 79 menyatakan bahwa “Kesehatan Sekolah
diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat
peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik
belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan setinggi-
tingginya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.13
Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah untuk
meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik
dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat
kesehatan peserta didik dan menciptakan lingkungan yang sehat,
sehingga’memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang
harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia
Indonesia seutuhnya.13

23
a. Kegiatan di dalam gedung, meliputi:13
1) Pemeriksaan kesehatan rujukan hasil penjaringan kesehatan
dan pemeriksaan kesehatan berkala pada peserta didik
tingkat dasar (SD/MI/SDLB) dan tingkat lanjutan
(SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan SLLB).
2) Penyuluhan dan konseling kesehatan.
b. Kegiatan di luar gedung, meliputi:13
1) Penjaringan kesehatan peserta didik tingkat dasar
SD/MI/SDLB) dan tingkat lanjutan (SMP/MTs,
SMA/MA/SMK dan SLLB) pada anak yang baru masuk
(murid kelas I).
2) Pemeriksaan kesehatan berkala pada peserta didik tingkat
dasar (SD/MI/SDLB) dan tingkat lanjutan (SMP/MTs,
SMA/MA/SMK dan SLLB).
3) Penyuluhan dan konseling kesehatan
2. Kesehatan Olahraga
Upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan
kebugaran jasmani masyarakat, dilaksanakan melalui aktivitas
fisik, latihan fisik dan/atau olahraga, serta mengutamakan
pendekatan preventif dan promotif, tanpa mengabaikan
pendekatan kuratif dan rehabilitatif.13
a. Kegiatan di dalam gedung13
1) Perencanaan kesehatan olahraga, mencakup identifikasi
masalah, penyusunan usulan kesehatan olahraga,
mengajukan usulan kesehatan olahraga dan penyusunan
rencana pelaksanaan kegiatan.
2) Pelaksanaan dan pengendalian mencakup pengorganisasian,
penyelenggaraan dan pemantauan.
3) Penilaian mencakup pengawasan dan pertanggungjawaban.
b. Kegiatan di luar gedung13
1) Pembentukan, bimbingan teknis dan pengawasan upaya
kesehatan olahraga pada kelompok olahraga
2) Skrining kesehatan

24
3) Pengukuran tingkat kebugaran jasmani siswa Sekolah
Dasar, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah
Pertama, Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah
Atas, Madrasah Aliyah
3. Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Keperawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) pada
dasarnya adalah pelayanan keperawatan profesional yang
merupakan perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan
konsep keperawatan yang ditujukan pada seluruh masyarakat
dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi. Dalam upaya
pencapaian derajat kesehatan yang optimal dilakukan melalui
peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit
(preventif) di semua tingkat pencegahan (levels of prevention)
dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan.14
Tujuan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat
adalah meningkatkankemandirian masyarakat dalam mengatasi
masalah keperawatan kesehatan masyarakat yang optimal.
Pelayanan keperawatan diberikan secara langsung kepada seluruh
masyarakat dalam rentang sehat–sakit dengan mempertimbangkan
seberapa jauh masalah kesehatan masyarakat mempengaruhi
individu, keluarga, dan kelompok maupun masyarakat. Sasaran
keperawatan kesehatan masyarakat adalah seluruh masyarakat
termasuk individu, keluarga, kelompok beresiko tinggi termasuk
kelompok/ masyarakat penduduk di daerah kumuh, terisolasi,
berkonflik, dan daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan
Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat dapat diberikan
secara langsung pada semua tatanan pelayanan kesehatan yaitu :14
a. Di dalam unit pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas,
dll) yang mempunyai pelayanan rawat jalan dan rawat inap.

25
b. Di rumah, perawat “home care” memberikan pelayanan secara
langsung pada keluarga di rumah yang menderita penyakit akut
maupun kronis. Peran home care dapat meningkatkan fungsi
keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mempunyai
resiko tinggi masalah kesehatan.
c. Di sekolah, perawat sekolah dapat melakukan perawatan sesaat
(day care) diberbagai institusi pendidikan (TK, SD, SMP,
SMA, dan Perguruan tinggi, guru dan karyawan). Perawat
sekolah melaksanakan program screening kesehatan,
mempertahankan kesehatan, dan pendidikan kesehatan.
d. Di tempat kerja/industri, perawat dapat melakukan kegiatan
perawatan langsung dengan kasus kesakitan/kecelakaan
minimal di tempat kerja/kantor, home industri/ industri, pabrik
dll. Melakukan pendidikan kesehatan untuk keamanan dan
keselamatan kerja, nutrisi seimbang, penurunan stress, olah
raga dan penanganan perokok serta pengawasan makanan.
e. Di barak-barak penampungan, perawat memberikan tindakan
perawatan langsung terhadap kasus akut, penyakit kronis, dan
kecacatan fisik ganda, dan mental.
f. Dalam kegiatan Puskesmas Keliling, pelayanan keperawatan
dalam Puskesmas keliling diberikan kepada individu,
kelompok masyarakat di pedesan, kelompok terlantar.
Pelayanan keperawatan yang dilakukan adalah pengobatan
sederhana, screening kesehatan, perawatan kasus penyakit akut
dan kronis, pengelolaan dan rujukan kasus penyakit.
g. Di Panti atau kelompok khusus lain, seperti panti asuhan anak,
panti wreda, dan panti sosial lainya serta rumah tahanan (rutan)
atau lembaga pemasyarakatan (Lapas).
h. Pelayanan pada kelompok kelompok resiko tinggi:
1) Pelayanan perawatan pada kelompok wanita, anak-anak,
lansia mendapat perlakukan kekerasan
2) Pelayanan keperawatan di pusat pelayanan kesehatan jiwa
3) Pelayanan keperawatan dipusat pelayanan penyalahgunaan
obat

26
4) Pelayanan keperawatan ditempat penampungan kelompok
lansia,gelandangan pemulung/pengemis, kelompok
penderita HIV (ODHA/Orang Dengan HIV-AIDS), dan
WTS.
Fokus utama kegiatan pelayanan keperawatan kesehatan
masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
keperawatan, membimbingdan mendidik individu, keluarga,
kelompok, masyarakat untuk menanamkan pengertian, kebiasaan
dan perilaku hidup sehat sehingga mampu memelihara dan
meningkatkan derajad kesehatannya.14
4. Kesehatan Kerja
Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja
agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta
pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Pemerintah
menetapkan standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dan
pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan kerja dan
menjamin lingkungan kerja yang sehat serta bertanggung jawab
atas terjadinya kecelakaan kerja. Pengelola tempat kerja wajib
bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di
lingkungan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.13
Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk
upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan,
pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja. Pekerja wajib
menciptakan dan menjaga kesehatan tempat kerja yang sehat dan
menaati peraturan yang berlaku di tempat kerja. Dalam
penyeleksian pemilihan calon pegawai pada perusahaan/instansi,
hasil pemeriksaan kesehatan secara fisik dan mental digunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.13
5. Kesehatan Gigi dan Mulut
Pelayanan kesehatan gigi pada masyarakat/penderita yang
berkunjung ke Puskesmas, dilaksanakan baik dibalai pengobatan

27
gigi maupun dibalai kesehatan ibu dan anak, juga terhadap
kelompok rentan terhadap karies (ibu hamil, menyusui dan anak
prasekolah). Pelayanan kesehatan gigi pada msyarakat/penderita
yang berkunjung ke Puskesmas adalah pelayanan yang bersifat
medik dasar kedokteran gigi berdasarkan kebutuhan meliputi
upaya pengobatan dan rujukan dengan tidak mengabaikan upaya
peningkatan/ pencegahan/ perlindungan.13
Tujuan dari pelayanan kesehatan gigi masyarakat adalah
Terpenuhinya kebutuhan pelayanan medik dasar kedokteran gigi
bagi masyarakat yang dating berobat maupun yang dirujuk serta
penigkatan pengetahuan tentang pemeilharaan gigi dan mulut pada
individu yang datang berkunjung.13
6. Pelayanan Kesehatan Jiwa
Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu
dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial
sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat
mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu
memberikan kontribusi untuk komunitasnya.15
Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk
mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap
individu, keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah,
Pemerintah Daerah, dan atau masyarakat.15
Upaya Kesehatan Jiwa bertujuan :
a) Menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang
baik, menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari
ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu
Kesehatan Jiwa.
b) Menjamin setiap orang dapat mengembangkan berbagai potensi
kecerdasan.
c) Memberikan pelindungan dan menjamin pelayanan Kesehatan
Jiwa bagi Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan

28
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berdasarkan hak asasi
manusia.
d) Memberikan pelayanan kesehatan secara terintegrasi,
komprehensif, dan berkesinambungan melalui upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif bagi ODMK dan ODGJ.
e) Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya dalam
Upaya Kesehatan Jiwa.
f) Meningkatkan mutu Upaya Kesehatan Jiwa sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
g) Memberikan kesempatan kepada ODMK dan ODGJ untuk
dapat memperoleh haknya sebagai Warga Negara Indonesia.
Upaya promotif di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan
dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi
mengenai Kesehatan Jiwa dengan sasaran kelompok pasien,
kelompok keluarga, atau masyarakat di sekitar fasilitas pelayanan
kesehatan. Untuk melaksanakan upaya kesehatan jiwa, pemerintah
membangun sistem pelayanan kesehatan jiwa yang berjenjang dan
komprehensif.15
Sistem pelayanan Kesehatan Jiwa terdiri ataspelayanan
Kesehatan Jiwa dasar dan pelayanan Kesehatan Jiwa rujukan.
Pelayanan Kesehatan Jiwa dasar merupakan pelayanan Kesehatan
Jiwa yang diselenggarakan terintegrasi dalam pelayanan kesehatan
umum di Puskesmas dan jejaring, klinik pratama, praktik dokter
dengan kompetensi pelayanan Kesehatan Jiwa, rumah perawatan,
serta fasilitas pelayanan di luar sektor kesehatan dan fasilitas
rehabilitasi berbasis masyarakat. Pelayanan Kesehatan Jiwa
rujukan terdiri atas pelayanan Kesehatan Jiwa di rumah sakit jiwa,
pelayanan Kesehatan Jiwa yang terintegrasi dalam pelayanan
kesehatan umum di rumah sakit, klinik utama, dan praktik dokter
spesialis kedokteran jiwa.15

7. Pelayanan Kesehatan Mata

29
Ruang lingkup pelayanan kesehatan mata di Puskesmas
dibatasi pada pelayanan kesehatan indera yang bisa dilaksanakan di
Puskesmas dengan merujuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani
ke Rumah Sakit. Pelayanan kesehatan indera di dalam gedung
dapat dilakukan dengan mengintegrasikan dalam upaya kesehatan
wajib Puskesmas dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam
rangka menciptakan kemandirian masyarakat.
a. Kegiatan di dalam gedung
1) Penyuluhan kesehatan indera penglihatan
2) Penjaringan kasus-kasus penyakit mata, kebutaan serta
gangguan penglihatan
3) Pemeriksaan dan tindakan medis pelayanan kesehatan indera
penglihatan,yang meliputi antara lain:
a) Melakukan pemeriksaan segmen depan mata dengan
loupe dan lampu senter.
b) Mengukur dan menentukan tajam penglihatan (visus).
c) Pemeriksaan lapang pandangan dengan metode
konfrontasi atau kampus sederhana.
d) Mengukur tekanan bola mata dengan tonometer schiotz.
e) Memeriksa dan menentukan ada tidaknya kelainan

penglihatan warna dengan tes Ishihara-Kanehara.


f) Melakukan tindakan bedah kecil (kalazion dan
hordoelum).
g) Memeriksa dan menangani penyakit mata luar
h) Melakukan pertolongan pertama pada kedaruratan mata
4) Rujukan kasus penyakit mata ke Balai Kesehatan Mata
Masyarakat (BKMM) dan ke RSUD
5) Operasi katarak oleh tim ahli (Dokter Spesialis Mata dan
perawat terlatih mata) bekerjasama dengan tim Puskesmas
yang sudah mendapat pelatihan teknis mata dapat
dikembangkan di Puskesmas rawat inap
b. Kegiatan di luar gedung:
1) Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, anak sekolah,
kelompok pekerja non formal dan usia lanjut
2) Penjaringan
8. Upaya Kesehatan Lansia

30
Upaya kesehatan usia lanjut adalah upaya kesehatan
paripurna dasar dan menyeluruh dibidang kesehatan usia lanjut
yang meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan
dan pemulihan. Tempat pelayanan kesehatan tersebut bisa
dilaksanakan di Puskesmas- Puskesmas ataupun Rumah Sakit
serta panti- panti dan institusi lainya. Tekhnologi tepat guna dalam
upaya kesehatan usia lanjut adalah tekhnologi yang mengacu pada
masa usia lanjut setempat, yang didukung oleh sumber daya yang
tersedia di masyarakat, terjangkau oleh masyarakat diterima oleh
masyarakat sesuai dengan azas manfaat.16
a. Kegiatan di dalam gedung
1) Pelayanan kesehatan usia lanjut secara holistik, meliputi
Kesehatan umum, Kesehatan jiwa, Gizi pada usia lanjut,
Kesehatan indera (mata dan telinga), Keperawatan
kesehatan dasar.
2) Penyuluhan kesehatan masyarakat berusia lanjut
b. Kegiatan diluar gedung
1) Pemeriksaan dan pembinaan kesehatan oleh Puskesmas
melalui Posyandu lansia.
2) Olah raga/kesegaran jasmani bagi lansia.
3) Keperawatan kesehatan dasar (bantuan, bimbingan,
penyuluhan dan pengawasan).
4) Penyuluhan yang berkaitan dengan masalah kesehatan usia
lanjut,misalnya penyakit jiwa, jantung, syaraf, mata, telinga
dll.
9. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Upaya kesehatan tradisional adalah cara menanggulangi
masalah/gangguan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat
dengan perawatan dan pengobatan tradisional yang
diselenggarakan secara komprehensif, mencakup upaya promotif
(pencegahan), kuratif (pengobatan penyakit) dan upaya
rehabilitatif (pemulihan).13
Pada tingkat rumah tangga pelayanan kesehatan oleh individu
dan keluarga memegang peran utama. Pengetahuan tentang obat

31
tradisional dan pemanfaatan tanaman obat merupakan unsur
penting dalam meningkatkan kemampuan individu/keluarga untuk
memperoleh hidup sehat.13
Di tingkat masyarakat peran pengobatan tradisional termasuk
peracik obat tradisional atau jamu mempunyai peranan yang cukup
penting dalam pemerataan pelayanan kesehatan untuk
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Tujuan
upaya pembinaan pengobatan tradisional yaitu melestarikan
bahan-bahan tanaman yang dapat digunakan untuk pengobatan
tradisional dan melakukan pembinaan terhadap cara-cara
pengobatan tradisional.13
Kebijakan peningkatan peran pengobatan tradisional dalam
sistem pelayanan kesehatan yaitu sebagai berikut:13
a. Pengobatan tradisional perlu dikembangkan dalam rangka
peningkatan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan
primer.
b. Pengobatan tradisional perlu dipelihara dan dikembangkan
sebagai warisan budaya bangsa, namun perlu membatasi
praktek-praktek yang membahayakan kesehatan.
c. Dalam rangka peningkatan peran pengobatan tradisional, perlu
dilakukan penelitian, pengujian dan pengembangan obat-obatan
dan cara-cara pengobatan tradisional.
d. Pengobatan tradisional sebagai upaya kesehatan nonformal
tidak memerlukan izin, namun perlu pendataan untuk
kemungkinan pembinaan dan pengawasannya. Masalah
pendaftaran masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
e. Pengobatan tradisional yang berlandaskan pada cara-cara
organobiollogik, setelah diteliti, diuji dan diseleksi dapat
diusahakan untuk menjadi bagian program pelayanan kesehatan
primer. Contoh dukun bayi, tukang gigi, dukun patah tulang.
Sedangkan cara-cara psikologik dan supernatural perlu diteliti
lebih lanjut, sebelum dapat dimanfaatkan dalam program.

32
f. Pengobatan tradisional tertentu yang mempunyai keahlian
khusus dan menjadi tokoh masyarakat dapat dilibatkan dalam
upaya kesehatan masyarakat, khususnya sebagai komunikator
antara pemerintah dan masyarakat.
10. Upaya Kesehatan Haji
Pemeriksaan kesehatan jemaah haji adalah penilaian status
kesehatan bagi jemaah haji yang telah memiliki nomor porsi
sebagai upaya penyiapan kesanggupan ber-haji melalui
mekanisme baku pada sarana pelayanan kesehatan terstandar yang
diselenggarakan secara kontinum (berkesinambungan) dan
komprehensif (menyeluruh).17
Pemeriksaan kesehatan bagi seluruh jemaah haji di
Puskesmas untuk mendapatkan data kesehatan bagi upaya-upaya
perawatan dan pemeliharaan, serta pembinaan dan perlindungan
merupakan pemeriksaan kesehatan tahap pertama. Pelaksanaannya
dilakukan oleh Tim Pemeriksa Kesehatan Haji Puskesmas yang
ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota.
Pemeriksaan Kesehatan Tahap Kedua merupakan pemeriksaan
yang dilakukan untuk memperoleh data status kesehatan terkini
bagi pemantauan dan evaluasi upaya perawatan, pemeliharaan,
pembinaan dan perlindungan, serta rekomendasi penetapan status
kelaikan pemberangkatan haji. Bagi jemaah haji Non-RISTI, data
kesehatan dapat diperoleh dari pemeriksaan dalam rangka
perawatan dan pemeliharaan kesehatan yang dilakukan oleh
dokter.17
Upaya Kesehatan Haji, bertujuan :17
a. Terindentifikasinya calon jemaah haji yang memenuhi
persyaratan kesehatan untuk ibadah haji.
b. Terbinanya kondisi kesehatan calon jemaah haji dan
kemandirian pemeliharaan kesehatan.

33
c. Tersedianya petugas kesehatan haji yang berpengetahuan,
terampil, berdedikasi dan profesional di setiap jenjang
pelayanan kesehatan haji.
d. Meningkatnya surveilans, sistem kewaspadaan dini dan respon
KLB.
e. Terwujudnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi
penanggulangan bencana dan musibah masal pada jemaah haji
Indonesia.
f. Tersedianya data/ informasi cepat, tepat, terpercaya dan
diseminasi informasi kesehatan haji.
g. Terbinanya kerjasama dan kemitraan lintas program, sektor,
bilateral dan multilateral tentang kesehatan haji.
h. Tersedianya obat dan alat kesehatan sesuai dengan kebutuhan.
i. Menurunnya angka kunjungan sakit dan angka kematian
jemaah haji di Arab Saudi.

2.4 Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)


UKP adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau
masyarakat sertaswasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
sertamencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan
perorangan. UKP mencakup upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit,
pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan
kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan. Dalam UKP juga termasuk
pengobatan tradisional dan alternative serta pelayanan kebugaran fisik dan
kosmetika.Pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan fasilitas
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pelayanan UKP
bersifat pribadi dengan tujuan menyembuhkan penyakit dan pemulihan
kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharan kesehatan dan
pencegahan penyakit. Upaya Kesehatan Perorangan yaitu Poliklinik Rawat
Jalan.1
Rawat Jalan Tingkat Pertama adalah pelayanan kesehatan perorangan
yang meliputi observasi diagnosa pengobatan rehabilitasi medic tanpa tinggal

34
di ruang rawat inap di sarana kesehatan strata pertama. 1Poliklinik Rawat Jalan
Puskesmas melayani pasien rawat jalan setiap hari kerja antara lain Senin
sampai dengan Sabtu, dengan jam pelayanan dari pukul 08.00 WIB sampai
pukul 12.00 WIB Poliklinik Rawat Jalan memiliki beberapa pelayanan antara
lain:1
a. Loket
Pasien saat datang untuk berobat, mengambil nomor antrian terlebih dulu,
kemudian dipanggil sesuai urutan antrian untuk dicatat datanya dan jenis
tanggungan jaminan kesehatan (umum, BPJS) serta diambilkan rekam
mediknya, selanjutnya diarahkan ke pelayanan tertentu sesuai keluhannya.
b. Pengobatan Umum
Tempat periksa pasien yang didukung oleh 1 orang Dokter Pegawai Tidak
Tetap (PTT) serta tenaga paramedis.
c. Pelayanan MTBS
Menangani pasien anak-anak umur 1 bulan sampai dengan umur 5 tahun
sesuai protap MTBS. Didukung oleh dokter dan paramedis.
d. Pelayanan KIA
Menangani pasien Antenatal care, pasien kebidanan dan penyakit
kandungan, neonatus (bayi 0 – 1 bulan ) dan imunisasi. Didukung oleh
tenaga bidan.
e. Pelayanan Gigi dan Mulut
Menangani penyakit gigi dan mulut dengan didukung oleh 1 orang Dokter
Gigi PTT serta perawat gigi.
f. Laboratorium
Didukung oleh analis. Laboratorium Puskesmas mampu melayani
pemeriksaan darah, Hemoglobin Sahli, Gula Darah, Malaria, Widal
Test, Urine Lengkap, Tes Kehamilan dan pemeriksaan BTA.
g. Farmasi
Pasien yang sudah mendapat resep dokter selanjutnya menyerahkan ke
bagian farmasi untuk pengambilan obat.
h. Unit gawat darurat
Puskesmas memiliki pelayanan gawat darurat level 1 yaitu tempat
pelayanan gawat darurat yang memiliki Dokter Umum on site 24 jam
dengan kualifikasi GELS dan/atau ATLS positif ACLS, serta memiliki alat

35
trasportasi dan komunikasi. Didukung oleh perawat jaga, serta perawat
jaga.

2.5 Tuberculosis
Tuberculosis atau biasa disebut TB adalah penyakit infeksius yang
seringkali disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini
termasuk 10 penyakit besar yang menyebabkan kematian di seluruh dunia,
yaitu pada 1,7 juta orang yang meninggal karena TB. Tuberculosis biasanya
menyerang paru-paru namun akan tetapi bakteri tersebut dapat mengenai
tempat lain seperti misalkan usus, saluran kemih, saluran gaster. Tuberculosis
menyebar dari orang ke orang melalui udara, ketika penderita TB batuk maka
bakteri tuberculosis akan terbawa ke udara dan jika ada orang lain yang
menghirupnya, maka orang itu terinfeksi TB. Ketika seseorang menderita TB,
gejala yang muncul tidak akan terasa begitu parah selama berbulan-bulan,
sehingga menyebabkan keterlambatan untuk pergi ke dokter dan akan
menyebabkan kemungkinan besar bakteri TB tertular ke orang lain tanpa
sepengetahuannya.18
Infeksi TB terjadi karena paparan paru terhadap bakteri TB yang
tersebar di udara. Droplet di udara ini berukuran 1-5 mikrometer pada
seseorang dengan TB, satu batuk dapat menyebarkan 300 hingga 40.000
droplet infeksius, dimana hanya dibutuhkan 10 saja untuk menginfeksi
seseorang. Saat terinhalasi, droplet tersebut akan menempati bagian pinggir
dari paru-paru. Bakteri tersebut berkembang selama 2-12 minggu hingga
bakteri tersebut berjumlah antara 1000-10.000, dimana jumlah ini cukup untuk
menimbulkan reaksi imun yang dapat dideteksi dengan tuberkulin skin test.19
Tuberculosis biasanya menyerang orang dewasa pada masa
produktifnya. Namun, seluruh rentang umur rentan terhadap penyakit ini.
Orang dengan penyakit HIV 20 hingga 30 kali lebih rentan terhadap TB. HIV
dan TB membuat kombinasi yang fatal, dan kedua penyakit tersebut
mempercepat perrtumbuhan penyakit lainnya. Pengguna rokok meningkatkan

36
risiko terkena TB, 8% dari seluruh kasus di dunia disebabkan oleh kebiasaan
merokok.18
Gejala pada TB paru yang sering muncul adalah batuk yang disertai
dahak dan terkadang bisa terdapat darah, nyeri dada, lemah lesu, kehilangan
berat badan, demam, dan keringat malam hari. Banyak negara yang masih
menggunakan smear sputum untuk mendiagnosis TB. Para laborat akan
melihat smear sputum di bawah mikroskop dan melihat ada tidaknya bakteri
TB. Penggunaan rapid test Xpert MTB/RIF sudah berkembang sejak 2010
lalu. Pemeriksaan ini mendeteksi ada tidaknya bakteri TB dan resistensi
terhadap rifampicin secara bersamaan.20
TB adalah suatu penyakit yang dapat diobati dengan menggunakan
antibiotik tertentu, namun penyembuhan total cukup sulit dikarenakan susunan
diinding sel bakteri TB yang cukup rumit dan kompleks dan menyebabkan
banyak obat tidak dapat menembus sel dindingnya. Dua obat yang sering
digunakan adalah isoniazid dan rifampicin, dan pengobatan TB biasa
berlangsung hingga berbulan-bulan. Pengobatan standar yang biasa diberikan
kepada penderita TB adalah obat kombinasi lini pertama, yaitu isoniazid,
rifampicin, pirazinamid, dan etambutol selama 2 bulan, dan lalu isoniazid dan
rifampicin saja pada 4 bulan sisanya. Namun, pada kasus XDR-TB atau
MDR-TB, dapat diberikan obat lini kedua seperti contohnya adalah
aminoglikosida, floroquinolon, cycloserine dan beberapa obat lainnya.21
Pemberian Vaksin dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian TB,
yaitu vaksin BCG (bacillus calmette-guerin). Vaksin tersebut adalah vaksin
yang paling banyak digunakan di seluruh dunia dengan lebih dari 90% anak
sudah divaksin menggunakan BCG. Vaksin tersebut mengurangi kejadian
infeksi sebesar 20% namun imunitas yang diberikan akan berkurang setelah
sekitar 10 tahun. Pencegahan yang paling baik adalah dengan menghindari
paparan bakteri TB itu sendiri, dengan menggunakan masker bagi penderita
TB maupun bagi orang yang di sekitar penderita TB.22

37
2.6 Kerangka Teori

38
BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

3.1 Jenis Penelitian


Kegiatan ini termasuk kegiatan praktik belajar lapangan (PBL) semester
tujuh (7) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang
menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan sistem yang
terdiri dari input, proses, dan output.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1 Lokasi : Puskesmas Tambakaji Semarang
3.2.2 Waktu : Kegiatan dilakukan bulan Januari 2018

3.3 Informan Penelitian


1. Kepala Puskesmas
2. Penanggungjawab UKP, Kefarmasian dan Laboratorium
a. Koordinator Rawat jalan;
b. Koordinator Farmasi;
c. Koordinator Laboratorium;
3. Penanggungjawab UKM dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
a. Koordinator Promosi Kesehatan;
b. Koordinator Kesehatan Lingkungan;
c. Koordinator KIA-KB;
d. Koordinator Gizi;
e. Koordinator Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit;
f. Koordinator Perawatan Kesehatan Masyarakat;
g. Koordinator Lansia;
4. Penanggungjawab Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Fasilitas
Kesehatan
a. Koordinator Jaringan;
b. Koordinator Jejaring;
3.4 Instrumen Penelitian
1. Studi dokumen
2. Wawancara
3. Observasi

3.5 Pengumpulan Data


3.5.1 Data Primer

39
Data yang diperoleh dari kegiatan ini berupa data yang didapatkan
secara langsung melalui wawancara kepada informan penelitian dan
observasi kegiatan puskesmas.
3.5.2 Data Sekunder
Data yang diperoleh dari kegiatan ini diperoleh dari PTP tahun
2017, RUK 2017, RPK 2017, Laporan Hasil Kinerja tahun 2017
puskesmas Tambakaji dan Profil puskesmas tahun 2017.

3.6 Validasi Data


Validasi data pada penelitian menggunakan metode triangulasi yaitu dengn
mencocokan data dokumen dengan hasil wawancara dan observasi
manajemen puskesmas.

3.7 Pengolahan Data


1. Mengumpulkan data primer dan sekunder manajemen Puskesmas;
2. Menentukan Identifikasi Masalah (diagnosa masalah) dengan melihat
kesenjangan antara target dengan kenyataan pada output;
3. Menentukan prioritas masalah dengan USG (Urgensi, Serious, Growth);
4. Melakukan analisis penyebab masalah berdasarkan pendekatan sistem
dengan komponen: input dan proses;
5. Menyusun alternatif pemecahan masalah dengan cara brainstorming antar
mahasiswa yang kemudian didiskusikan dengan cara voting dan
dikonsultasikan dengan dosen pembimbing serta dikoordinasikan dengan
pihak puskesmas;
6. Pengambilan keputusan pemecahan masalah yang terpilih dengan cara
matrix cost benefit;
7. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang terpilih dengan POA (Plan
of Action);
8. Penyusunan laporan hasil Praktik Belajar Lapangan di Puskesmas
Tambakaji.

40
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 GAMBARAN UMUM PUSKESMAS TAMBAKAJI


Puskesmas Tambakaji adalah unit organisasi fungsional yang
melaksanakan tugas teknis dari Dinas Kesehatan Kota Semarang berlokasi di
Kecamatan Ngaliyan dengan wilayah kerja Kelurahan Tambakaji dan
Kelurahan Wonosari.
4.1.1 Geografis
Puskesmas Tambakaji memiliki luas tanah 4.497 M 2 dan luas
bangunan 375M2 dengan luas wilayah keja 706.589.
4.1.2 Wilayah Kerja Puskesmas Tambakaji
Tabel 4.1 Wilayah Kerja Puskesmas Tambakaji

No. Kelurahan Luas Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah


Wilayah Rumah Penduduk KK RT RW
1. Tambakaji 383.040 4529 21.059 6.752 119 16
ha
2. Wonosari 323.549 5917 22.561 7.177 125 16
ha

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Umur


NO UMUR (TAHUN) TAMBAKAJI WONOSARI JUMLAH
1. 0–4 2082 2436 4518
2 5–9 1776 2077 3853
3 10 – 14 1770 2089 3859
4 15 – 19 1682 1975 3657
5 20 – 24 1665 1778 3443
6 25 – 29 1899 1697 3596
7 30 – 34 2075 1895 3970
8 35 – 39 1794 1898 3692
9 40 – 44 1741 1748 3489
10 45 – 49 1386 1741 3127
11 50 – 54 1206 1299 2505
12 55 – 59 859 756 1516
13 60 – 64 484 485 969
14 65 – 69 281 276 557
15 70 – lebih 359 411 770
JUMLAH 21768 22561 43620
4.1.3 Batas wilayah kerja
1. Sebelah utara : Kecamatan Tugu
2. Sebelah timur : Kelurahan Purwoyoso
3. Sebelah barat : Kabupaten Kendal

41
4.1.4 Peta Wilayah Kerja
Gambar 4.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tambakaji

4.2 GAMBARAN KHUSUS PUSKESMAS


4.2.1 Visi Puskesmas
Visi Puskesmas Tambakaji adalah “Menjadi Puskesmas dengan

Pelayanan Prima menuju Terwujudnya Masyarakat Mandiri untuk


Hidup Sehat.”
4.2.2 Misi Puskesmas
Misi Puskesmas Tambakaji adalah sebagai berikut :
a. Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
profesional, bermutu, merata dan terjangkau.
b. Memberdayakan serta mendorong kemandirian masyarakat dan
keluarga agar perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kebutuhan
masyarakat.
4.2.3 Motto Puskesmas
Moto Puskesmas Tambakaji adalah “Kepuasan Anda Adalah
Kebahagiaan Kami”.

4.3 PROSES MANAJEMEN PUSKESMAS

42
4.3.1 Input
1. Ketenagaan dan Struktur Organisasi (Man)
a) Ketenagaan Puskesmas Tambakaji
Sumber Ketenagaan Puskesmas Tambakaji. (Lampiran 1 hal.
107, Lampiran 2 hal. 110, Lampiran 3 hal. 111, dan Lampiran
12 hal. 127)

43
b) Struktur Organisasi Puskesmas Tambakaji
STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS TAMBAKAJI KOTA SEMARANG
Kepala
Kepala Puskesmas
Puskesmas Tambakaji
Tambakaji
drg. Sakinah

Ka.
Ka. Sub.
Sub. Bag.
Bag. Tata
Tata Usaha
Usaha
Slamet Sejati

Penanggung
Penanggung Jawab
Jawab UKP,
UKP, Kefarmasian,
Kefarmasian, dan
dan Laboratorium
Laboratorium
drg. Zuraida Hanum Perencanaan
Perencanaan Bend.
Bend. Pengeluaran
Pengeluaran Administrasi
Administrasi
Rika Adi K, SKM, Mkes Yani Dwi Indah, SKM Samirah
Ujiyanti Ainun
Bend.
Bend. Penerima
Penerima Sudarno
Rawat
Rawat Jalan
Jalan Farmasi
Farmasi Laboratorium
Laboratorium
Ririh Wijayanti, AmGz
R.
R. Pendaftaran
Pendaftaran Kamali Arif I Yani Dwi I, SKM
Bend.
Bend. BOK
BOK
Samirah
Dewi Sinta, SKM
R.
R. MTBS
MTBS
Bend.
Bend. JKN
JKN
Dr. Rika Mulyaningsih
Anita Sanjaya
R.
R. Pemeriksaan
Pemeriksaan Umum
Umum
Dr. Farida

R.
R. Kesgilut
Kesgilut Penanggung
Penanggung Jawab
Jawab UKM
UKM dan
dan Keperawatan
Keperawatan Kesehatan
Kesehatan Penanggung
Penanggung Jawab
Jawab Jaringan
Jaringan Pelayanan
Pelayanan Puskesmas
Puskesmas dan
dan Jejaring
Jejaring Fasilitas
Fasilitas pelayanan
pelayanan
Drg. Zuraida Hanum Masyarakat
Masyarakat kesehatan
kesehatan
Dewi Sinta, SKM dr. Farida Aminingrum
KIA,
KIA, KB
KB &
& Imunisasi
Imunisasi
Aliya F, Amd. Keb
Promkes
Promkes Kesling
Kesling KIA&KB
KIA&KB Jaringan
Jaringan Jejaring
Jejaring
IGD
IGD
Rika Adi K, SKM, Mkes Dewi Sinta, SKM Aliya F, Amd. Keb
Toto Wujardi, Amk
Gizi
Gizi P2P
P2P Perkesmas
Perkesmas Lansia
Lansia Pusling
Pusling Klinik
Klinik Apotek
Apotek Bidan
Bidan Dokter
Dokter
R.
R. Promkes
Promkes
Ririh W. AmGz Toto Wurjadi, AmK Sri R, Skep, Mkes Sri R, Skep, Mkes Totok Wurjadi,
Dr. Farida Kamali Aliya Dr.Rika
Ririh W. AmGz AmK

Gambar 4.2. Struktur Organisasi Puskesmas Tambakaji

47
2. Sumber Dana (Money)
Data sumber dana Puskesmas Tambakaji diperoleh dari hasil
wawancara dengan penanggungjawab keuangan Puskesmas.
Tabel 4.3 Sumber Dana Puskesmas Tambakaji

No Sumber Dana Jumlah Tahun Realisasi Tahun Rencana Tahun


2017 2017 2018
1 APBD 340.798.000 311.543.931 185.208.000
2 JKN 835.304.105 774.451.519 615.791.000
3 BOK 210.000.000 210.000.000 324.400.000
Jumlah 1.386.102.105 1.295.995.450 1.125.399.000

a. Dana APBD digunakan untuk honorarium PNS dan non


PNS, belanja barang dan jasa, belanja pemeliharaan kantor
dan rumah.
b. BOK digunakan untuk belanja pegawai dan barang jasa
Puskesmas Tambakaji.
c. JKN digunakan untuk sarana dan prasarana Puskesmas
Tambakaji .
3. Sarana Prasarana (Material)
Data sarana prasarana Puskesmas Tambakaji diperoleh dari
hasil wawancara dengan penanggungjawab sarana prasarana
Puskesmas.
Tabel 4.4 Sarana Prasarana Puskesmas Tambakaji
No Nama bangunan Jumlah ruangan Kondisi
1 Ruang BP umum dan UGD 1 Baik
2 Ruang BP Gigi 1 Baik
3 Ruang Kepala Puskesmas 1 Baik
4 Ruang KIA 1 Baik
5 Ruang Ka. Sub. Bag. Tata Usaha 1 Baik
6 Ruang Farmasi 1 Baik
7 Ruang Laboratorium 1 Baik
8 Ruang Aula 1 Baik
9 Ruang Loket 1 Baik
10 Ruang Lansia 1 Biak
11 Ruang Tunggu 1 Baik
12 Ruang Dapur 1 Baik
13 Ruang Gudang Obat 1 Baik
14 Ruang MTBS dan Laktasi 1 Baik
15 Ruang DOTS 1 Baik
16 Ruang Promkes/Konseling 1 Baik

48
17 Mushola 1 Baik

4. Metode Kerja (Methode)


Data metode pelaksanaan kegiatan Puskesmas Tambakaji
diperoleh dari PTP tahun 2017.
Tabel 4.5 Metode Pelaksanaan Kegiatan Puskesmas Tambakaji

NO NAMA KEGIATAN JADWAL (jam/hari/bulan/tahun)


1 Kuratif ( pengobatan)
a. Pengobatan didalam gedung a. Setiap hari kerja mulai jam
07.00 wib
2 Preventif (pencegahan)
a. Melaksanakan PE a. Setiap ada kasus
b. Melaksanakan Fogging b. Setiap ada kasus
c. Imunisasi c. Setiap hari
d. PSN d. Setiap hari Jumat
e. Kegiatan Senam Bersama Kader e. Setiap hari Jumat
Kesehatan
f. UKS/UKGS f. 7x setiap tahun
g. Pelatihan dokter kecil g. 1x setiap tahun
3 Promotif (penyuluhan)
a. Pembinaan Posyandu dan Posbindu a. Sesuai jadwal pelaksanaan
Posyandu
b. Penyakit Wabah (DB, Diare, PD3I) b. Setiap bulan 4 kali / 2 kelurahan
c. Penyuluhan IMS, HIV/AIDS c. Setiap 3 bulan sekali
d. PHBS d. Setiap 1 bulan sekali/ 2
kelurahan
e. Kawasan Bebas Jentik e. Setiap 3 bulan sekali/2
TTU dan TPM kelurahan
f. Cuci tangan pakai sabun di SD f. Setiap semester / 13 SD
g. Penyuluhan TB Paru g. Setiap semester / SMA setiap
bulan 4 kali/2 kelurahan
h. Penyuluhan dengan media DVD h. Setiap hari
i. Penyuluhan individu (PTM&Gizi, i. Setiap hari
KIA&KB, TB Paru,HIV-AIDS,
penyakit potensial wabah, rokok &
NAPZA
4 Rehabilitatif (pemulihan)
a. Perkesmas a. Setiap bulan sesuai dengan
b. Kunjungan ke rumah pasien gizi kesepakatan klien dan petugas
kurang, Drop Out pengobatan b. Setiap ada kasus
c. Sanitasi lingkungan jelek c. Setiap ada kasus
d. Prolanis d. Setiap bulan, hari selasa minggu
ke-3

49
5. Pemasaran (Marketing)
Pemasaran Puskesmas Tambakaji meliputi sosialisasi pada
masyarakat dan kader salah satunya mengenai program inovasi,
serta sosialisasi lintas sektor. Puskesmas Tambakaji menjaga mutu
melalui tata nilai yang dijunjung tinggi meliputi profesionalisme,
ikhlas dan aman.
4.3.2 Proses
1. Perencanaan (P1)
Perencanaan manajemen tahunan Puskesmas Tambakaji pada
tahun 2017 meliputi Rencana Usulan Kegiatan (RUK) dan
Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) 2017. Sumber data yang
digunakan dalam penyusunan perencanaan berasal dari data hasil
analisis Puskesmas dan data dari Dinas Kesehatan Kota.
Perencanaan Puskesmas dibahas dalam Lokakarya Mini Puskesmas
baik awal tahun, perbulan atau setiap tiga bulan, hasilnya
disampaikan pada lokakarya mini lintas sektoral.
2. Pergerakan dan Pelaksanaan (P2)
Pada Puskesmas Tambakaji dilakukan lokakarya mini bulanan
dan lokakarya mini triwulan. Lokakarya mini bulanan dilakukan
setiap satu bulan sekali. Materi yang dibahas pada lokakarya mini
bulanan meliputi laporan kegiatan bulan sebelumnya, rencana
pelaksanaan kegiatan Plan of Action (POA) bulan berikutnya,
pembahasan kritik saran yang diberikan oleh masyarakat, dan
penyampaian hal-hal baru dari masing-masing pemegang program.
Lokakarya mini triwulan dilakukan setiap tiga bulan sekali, dan
pada tahun 2017 telah terlaksana sebanyak 4 kali. Materi yang
dibahas dalam lokakarya mini triwulan meliputi, laporan kegiatan
pelaksanaan program kesehatan dan dukungan sektor terkait,
inventaris/hambatan dari masing-masing sektor, informasi
kebijakan program baru, Pemantauan Wilayah Setempat (PWS),

50
pembahasan rancangan POA bersama antar Puskesmas dengan
lintas sektor.
3. Pencatatan Pelaporan dan Penilaian (P3)
Puskesmas Tambakaji memiliki arsip laporan tahun 2017 yang
meliputi:
1. Laporan Bulanan Data Kesakitan (LB1)
2. Laporan Bulanan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LP
LPO atau LB2)
3. Laporan Bulanan Gizi, KIA, Imunisasi, P2P (LB3)
4. Laporan Bulanan Data Kegiatan Puskesmas (LB4)
5. Laporan Tahunan Data Dasar Puskesmas (LT1)
6. Laporan Tahunan Data Kepegawaian Puskesmas (LT2)
7. Laporan Tahunan Data Peralatan Puskesmas (LT3)
Puskesmas Tambakaji juga terdapat penilaian kinerja yang
dilakukan oleh kepala Puskesmas dan koordinator mutu, yaitu
dilakukan pembahasan hasil penilaian kinerja dengan staf
Puskesmas melalui Lokakarya Mini setiap 3 bulan sekali. Penilaian
mutu dilakukan oleh Puskesmas setiap 6 bulan sekali. Hasil
penilaian kinerja Puskesmas kemudian dikirim ke Dinas Kesehatan
setiap satu tahun sekali.

4.4 SISTEM MANAJEMEN UPAYA KESEHATAN PUSKESMAS


4.4.1 Upaya Kesehatan Ibu, Anak, dan Keluarga Berencana (KIA-KB)
di Puskesmas Tambakaji
1. Input
Pada Puskesmas Tambakaji, data tentang KIA-KB diperoleh
melalui dokumen laporan Puskesmas tahun 2017, PTP tahun 2017
serta wawancara dengan Ibu Aliya Fitri R, Amd Keb. Selaku
pemegang program.

a. Man
Pelaksana kegiatan pada pelayanan KIA-KB di Puskesmas
Tambakaji berjumlah 3 orang bidan.
b. Money

51
Sumber dana yang diperoleh dalam proses pelayanan KIA-
KB diperoleh dari anggaran BOK untuk kegiatan di luar
gedung, sedangkan untuk kegiatan di dalam gedung diperoleh
dari APBD dan JKN.
c. Materials
Program KIA-KB memiliki satu ruang untuk pelayanan
kesehatan kesehatan ibu dan anak, serta keluarga berencana
dilakukan di Puskesmas Tambakaji, serta terdapat satu ruang
MTBS. Didalam ruang KIA-KB terdapat satu ruang ASI yang
dibatasi sekat dan tirai.. Untuk pelayanan imunisasi dilakukan
di ruang KIA-KB, posyandu maupun di sekolah. Media yang
digunakan yaitu lembar balik paket kelas ibu hamil/balita, dan
buku KIA yang berisi control Antenatal care, ASI eksklusif
dan imunisasi. (Lampiran 14 hal. 130)
d. Marketing
Sasaran KIA-KB Puskesmas Tambakaji yakni mencakup
ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, neonatal, bayi, balita, anak
prasekolah, anak sekolah, hingga remaja.
e. Methods
Adapun SOP yang dimiliki pelayanan KIA-KB Puskesmas
Tambakaji (Lampiran 13 hal. 128)
2. Proses
Manajemen KIA-KB dijabarkan dalam tiga indikator utama
yaitu P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan), serta
P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian).

a. P1 (Perencanaan)
Puskesmas Tambakaji tahun 2017 merencanakan Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K),
kelas ibu hamil, kunjungan nifas, dan pelayanan ANC terpadu,
kunjungan ibu hamil risiko tinggi, pelayanan pemasangan alat

52
kontrasepsi, KB dengan ESO (Efek Samping Obat), dan
konsultasi KB.
b. P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan)
Puskesmas Tambakaji memiliki pedoman acuan asuhan
persalinan normal (APN), buku kesehatan ibu dan anak (KIA),
buku pedoman program perencanaan persalinan dan
pencegahan komplikasi (P4K), buku pegangan praktis
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, buku pedoman
kelas ibu, buku pedoman pemantauan wilayah setempat (PWS-
KIA), pemberian materi pencegahan dan penanganan malaria
pada ibu hamil, pemberian materi pedoman Prevention of
Mother to Child Transmition (PMTCT), dan buku pedoman
operasional pelayanan terpadu kesehatan reproduksi di
Puskesmas terintegrasi, buku panduan praktis pelayanan
kontrasepsi, buku panduan audit medik pelayanan KB, buku
panduan baku klinis program pelayanan KB, buku pedoman
pelayanan kesehatan reproduksi terpadu, pedoman pelayanan
kontrasepsi darurat, dan buku pedoman penanggulangan efek
samping/komplikasi kontrasepsi.
c. P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian)
Pencatatan dan pelaporan data pasien program pengobatan
melalui SIMPus (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas).
Monitoring dan evaluasi internal program pelayanan KIA-KB
dilakukan oleh kepala puskesmas, koordinator mutu, dan
pemegang program secara berkala setiap tiga bulan sekali
dalam Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir Penilaian
Kinerja Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program pelayanan
KIA-KB dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang
setiap satu tahun sekali pada bulan februari berupa supervisi
atau bimbingan teknik program pelayanan KIA-KB. Penilaian
mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara audit internal

53
sedangkan pencapaian program dievaluasi dan monitoring
setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini. (Lampiran 4 hal. 112)

3. Output
Semua program pelayanan KIA-KB di Puskesmas Tambakaji
seluruhnya sudah terealisasikan dan tercapai 100% sesuai target.
Data diperoleh dari dokumen Variabel Penilaian Kinerja
Puskesmas Tambakaji tahun 2017.

4.4.2 Upaya Promosi Kesehatan


Kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan pada tahun 2017
berupa penyuluhan, pemberdayaan, perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS), pelayanan promosi kesehatan UKBM (Upaya Kesehatan
Bersumber daya Masyarakat), upaya kesehatan sekolah. Jumlah
petugas yang melaksanakan promosi kesehatan berjumlah 1 orang dan
dibantu oleh tenaga kesehatan dari masing-masing program
puskesmas. Menurut data kinerja pada tahun 2017 promosi kesehatan
Puskesmas Tambak Aji didapatkan data bahwa target yang telah di
tetapkan dapat tercapai semua.
Promosi kesehatan memiliki buku pedoman pelaksanaan
pengembangan desa dan kelurahan siaga aktif yang digunakan petugas
Puskesmas sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan dengan tahun
cetakan 2010 dan telah dilakukan pencatatan secara lengkap tentang
kegiatan peran serta kegiatan masyarakat.
Program promosi kesehatan dilakukan dalam bentuk penyuluhan
kesehatan yang dilakukan 4 x dalam satu bulan. Penyuluhan kesehatan
yang dilakukan oleh Puskesmas Tambak Aji dibagi menjadi 3
kelompok yaitu perorangan, kelompok (minimal 20 orang), dan
massal (lebih dari 20 orang). Kegiatan penyuluhan kesehatan
dilakukan di dalam gedung dan diluar gedung. Kegiatan penyuluhan
yang dilakukan di dalam gedung antara lain pertemuan kader, dokter

54
kecil, dan Bidan Praktik Swasta (BPS), penyuluhan di ruang tunggu
pasien, sedangkan penyuluhan yang dilakukan di luar gedung
diantaranya penyuluhan yang di lakukan di sekolah, masyarakat (RT,
RW, kelurahan, karang taruna).
Setiap satu tahun sekali Dinas kesehatan kabupaten/kota
melakukan kunjungan ke Puskesmas untuk melakukan supervisi atau
bimbingan teknik program kesehatan, dan dari dinas kesehatan
kabupatan/kota memberikan umpan balik terhadap laporan cakupan
dari Puskesmas serta melakukan pertemuan monitoring dan evaluasi
program promosi kesehatan di Dinas Kabupaten/Kota.
1. Input
Data yang didapatkan pada Puskesmas Tambakaji, diperoleh
melalui studi dokumen laporan Puskesmas tahun 2017, PTP tahun
2017, dan wawancara dengan Ibu Rika Adi Kusumo, SKM. M.
Kes, selaku koordinator program promosi kesehatan di Puskesmas
Tambakaji pada hari Sabtu tanggal 20 Januari 2018 jam 09.00.
Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut :
a. Man
Tahun 2017 jumlah petugas pelaksana program kesehatan
di Puskesmas Tambakaji berjumlah satu petugas yang bertugas
sebagai koodinator promos kesehatan. Jumlah petugas sudah
sesuai dengan kebutuhan petugas yang melaksanakan program
promosi kesehatan. Petugas promosi kesehatan Puskesmas
Tambakaji juga dilakukan pelatihan berupa pembuatan media
film yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
b. Money
Dana operasional pelaksanaan program promosi
kesehatan di Puskesmas Tambakaji didapatkan dari dana
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
c. Material
1) Sarana dan prasarana
1) Set promosi kesehatan
2) Bahan habis pakai

55
3) Perlengkapan
4) Meubelair
5) Pencatatan dan pelaporan
(Lampiran 14 hal. 130)
d. Methods
Upaya program promosi kesehatan menggunakan kerangka
acuan program upaya kesehatan masyarakat dan SOP upaya
kesehatan masyarakat.
1) Kerangka acuan program upaya kesehatan
masyarakat
2) SOP upaya kesehatan masyarakat
- Upaya kesehatan masyarakat yang
berorientasi sasaran (UKMBS)
- Kepemimpinan dan manajemen upaya
kesehatan masyarakat
- Sasaran kinerja upaya kesehatan
masyarakat
e. Marketing
Upaya program promosi kesehatan pada tahap awal melakukan
penyusunan RUK (Rencana Usulan Kegiatan) selanjutnya
melakukan penyusunan RPK (Rencana Pelaksanaan Kegiatan)
dan bekerjasama lintas sektor yang kemudian bekerjasama
dengan kader, menyebar instrumen harapan pelanggan.

2. Proses
Data diperoleh melalui wawancara dengan Ibu Rika Adi
Kusumo, SKM. M. Kes, selaku koordinator program upaya
promosi kesehatan di Puskesmas Tambakaji pada hari Sabtu
tanggal 20 Januari 2018 jam 09.00 dan observasi di Puskesmas
Tambakaji dari 18 Januari 2018 sampai 20 Januari 2018.
a. P1 (Perencanaan)
1) Rapat Internal UKM
2) RUK
3) RPK
4) Rapat Lintas Program dengan koordinasi lintas program
b. P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan)
Pelaksanaaan program promosi kesehatan, Puskesmas
Tambakaji menggunakan buku pedoman pengembangan desa

56
dan kelurahan siaga aktif tahun 2010, buku pedoman penentuan
strata desa/kelurahan siaga aktif kota Semarang tahun 2016,
Kepmenkes No.585/MENKES/SK/V/2007.
c. P3 (Pengawasan, pengendalian, dan penilaian)
Pencatatan dan pelaporan data pasien program pengobatan
melalui SP3 Online (Sistem Pencatatan dan Pelaporan
Puskesmas) setiap bulan.
Monitoring dan evaluasi internal program pelayanan
Promkes dilakukan oleh kepala puskesmas, koordinator mutu,
dan pemegang program secara berkala setiap tiga bulan sekali
dalam Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir Penilaian
Kinerja Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program pelayanan
Promkes dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang
setiap satu tahun sekali pada bulan Februari berupa supervisi
atau bimbingan teknik program pelayanan promosi kesehatan.
3. Output
Semua program pada upaya promosi kesehatan di
Puskesmas Tambakaji sudah tercapai 100%, data diperoleh dari
dokumen Penilaian Kinerja Puskesmas Tambakaji tahun 2017.
(Lampiran 5 hal. 114)

4.4.3 Upaya Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit


1. Input
Data Puskesmas Tambakaji untuk pengendalian dan
pemberantasan penyakit diperoleh melalui studi dokumen laporan
Puskesmas tahun 2017 yaitu dokumen kinerja Puskesmas tahun
2016, dan wawancara dengan Toto Wurjadi selaku penanggung
jawab program untuk pengendalian dan pemberantasan penyakit
pada hari Kamis tanggal 18 Januari 2018 jam 07.15 WIB.
a. Man
Tenaga kerja pada program P2P Puskesmas Tambakaji
berjumlah 7 petugas yaitu 2 dokter umum, 4 perawat dan 1
surveilans kesehatan.

57
b. Money
Dana operasional program P2P di Puskesmas Tambakaji
didapatkan dari dana BOK dan JKN. Dana BOK digunakan
untuk: pencegahan dan pengendalian penyakit TB, pelacakan
pasien kusta, mobile VCT, pembinaan posbindu, pembinaan
dan pemeriksaan calon jemaah haji, sosialisasi lintas sektor
PIN Polio, pelaksanaan PIN, dan peningkatan kapasitas SDM
bagi kader. Sedangkan dana JKN digunakan untuk
PROLANIS.

c. Material
Terdapat satu ruang DOTS untuk pemberian obat TB. Buku
pedoman yang digunakan yaitu buku pengendalian dan
pemberantasan penyakit. (Lampiran 14 hal. 130)
d. Methods
Adapun kegiatan pokok program P2P dilaksanakan sesuai
dengan kerangka acuan tahun 2016 yang masih berlaku.
Kegiatan pokok program P2P sesuai kerangka acuan:
a) P2 TB
b) P2B2
c) P2 Kusta
d) VCT Mobile
e) P2 Imunisasi
f) Kesehatan Haji
g) Posbindu
h) Prolanis
e. Marketing
Sasaran pada program P2P adalah seluruh masyarakat di
wilayah kerja Puskesmas Tambakaji yang merupakan pasien
suspek dan penderita TB, pasien suspek dan penderita kusta,
pasien suspek dan penderita campak, pasien suspek dan
penderita IMS/HIV, penderita DBD, pasien penyakit kronis,
calon jemaah haji, bayi/balita, dan siswa SD/MI di wilayah
kerja Puskesmas Tambakaji.
2. Proses

58
Manajemen P2P dijabarkan dalam tiga indikator utama
yaitu P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan), dan P3
(Pengawasan, Pengendalian, dan Penilalian).
a. P1 (Perencanaan)
Puskesmas Tambakaji pada tahun 2017, menurut RPK
tahun 2017 mengadakan program: pencegahan dan
pengendalian penyakit TB; pencegahan dan pengendalian
penyakit kusta; pencegahan dan pengendalian penyakit
campak; pencegahan dan pengendalian penyakit diare;
pencegahan dan pengendalian penyakit pneumonia;
pencegahan dan pengendalian IMS, HIV, dan AIDS;
pencegahan dan pengendalian DBD; pencegahan dan
pengendalian penyakit tidak menular; dan imunisasi.
b. P2 (Pelaksanaan)
Program yang tercapai pelaksanaan program P2P di
Puskesmas Tambakaji berpedoman pada buku pengendalian
dan pemberantasan penyakit.
c. P3 (Pengawasan)
Program P2P selalu dilakukan pencatatan data di setiap
penyakitnya secara lengkap. Lalu data akan dimasukkan ke
dalam SIMPus (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas).
Monitoring dan evaluasi dilakukan 4 kali dalam setahun, dan
pelaporan pada setiap bulannya. Selain itu, dilaporkan ke
Dinas Kesehatan Kota Semarang 1 kali dalam setahun.
3. Output
Semua program pada P2P di Puskesmas Tambakaji sudah
tercapai 100% sesuai target kecuali pada TB Paru yaitu pada angka
penemuan kasus TB BTA positif. Data diperoleh dari dokumen
Penilaian Kinerja Puskesmas tahun 2017. (Lampiran 6 hal. 115)

4.4.4 Upaya Pengobatan


1. Pelayanan Pengobatan/Perawatan
a. Input

59
Data diperoleh melalui studi dokumen Penilaian Kinerja
Puskesmas Tambakaji tahun 2017 dan wawancara dengan dr.
Farida A. pada tanggal 18-19 Januari 2018.

1) Man
Pelaksana program pengobatan di Puskesmas
Tambakaji berjumlah 12 orang, dengan rincian dua orang
dokter umum, empat orang perawat umum, satu orang
dokter gigi, satu orang perawat gigi, tiga orang bidan, dan
satu petugas farmasi. Pelaksana program tersebut juga telah
mengikuti berbagai pelatihan.
2) Money
Dana operasional pelaksanaan program pengobatan
berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN),
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dana
tersebut digunakan untuk pembelanjaan peralatan medis
dan obat-obatan. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan
BOK digunakan untuk kegiatan diluar gedung.
3) Material
Terdapat tujuh ruangan dalam upaya pengobatan
yang terdiri dari ruangan BP Umum, ruang gawat darurat,
poli gigi, poli KIA/KB, poli MTBS, ruang DOTS, dan
ruang farmasi.
Alat dan bahan yang digunakan dalam upaya
pengobatan disesuaikan dengan kebijakan. (Lampiran 14
hal. 130)
4) Method
Upaya pengobatan dilaksanakan sesuai SOP berupa
SOP pemeriksaan, SOP tindakan, SOP penyakit, SOP
Imunisasi, dan SOP manajemen risiko dan Kejadian
Penyakit (KP).
5) Marketing

60
Sasaran program pengobatan adalah semua pasien
yang datang ke Puskesmas Tambakaji meliputi pelayanan
poli umum, poli lansia, poli gigi, dan poli KIA/KB

.
b. Proses
Data diperoleh melalui observasi di Puskesmas
Tambakaji dan wawancara dengan dr. Farida A. pada tanggal
18-19 Januari 2018.
a. P1 (Perencanaan)
Perencanaan dalam upaya pengobatan/perawatan
tertuang dalan RUK Puskesmas Tambakaji yang telah
dibuat pada tahun 2016.
b. P2 (Penggerakan dan Pelaksaanaan)
Pelaksanaan dalam upaya pengobatan telah sesuai
dengan Standar Operasional Prosedur.
c. P3 (Pengawasan, Penilaian, dan Pengendalian Kinerja)
Pencatatan dan pelaporan data pasien program
pengobatan melalui SIMPus (Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas) dan Primary Care BPJS. Monitoring dan
evaluasi internal program pelayanan Pengobatan dilakukan
oleh kepala puskesmas, koordinator mutu, dan pemegang
program secara berkala setiap tiga bulan sekali dalam
Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir Penilaian
Kinerja Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program pelayanan
Pengobatan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota
Semarang setiap satu tahun sekali pada bulan februari
berupa supervisi atau bimbingan teknik program pelayanan
Pengobatan. Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali
dengan cara audit internal sedangkan pencapaian program
dievaluasi dan monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya
mini.
Data penilaian mutu dan kepuasan pelanggan
dilakukan melalui wawancara dengan dr. Farida A. pada

61
tanggal 18-19 Januari 2018. Penilaian mutu dilakukan
observasi dengan cara pembatasan waktu pemeriksaan
selama tujuh menit setiap hari Senin. Sedangkan penilaian
kepuasan pelanggan dilakukan melalui koin kepuasan yang
dilakukan setiap hari Selasa. Koin kepuasan adalah koin
yang digunakan Puskesmas Tambakaji untuk menilai
tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan
dengan cara pasien memasukkan koin ke dalam kotak
kepuasan (puas atau tidak puas).
c. Output
Data cakupan kinerja upaya pengobatan/perawatan
diperoleh dari data penilaian kinerja Puskesmas Tambakaji.
Cakupan upaya pengobatan/perawatan telah tercapai 100%
untuk semua variabel. (Lampiran 7 hal. 118)
Data angka kesakitan pada upaya
pengobatan/perawatan didapatkan dari SIMPus, melalui
sepuluh besar penyakit dibantu oleh Bapak Adi selaku perawat
umum pada tanggal 15 Januari 2018. Diperoleh bahwa angka
kesakitan tertinggi pada tahun 2017 adalah faringitis akut.

2. Penyelenggaran Pelayanan Kefarmasian


Pada puskesmas tamakaji, data diperoleh melalui studi
dokumen laporan puskesmas seperti PTP, LPLPO tahun 2017 dan
juga melalui wawancara langsung dengan Kamali Arif Ikhsan dan
Norma Mawaddatur Rahma, selaku petugas pelayanan farmasi di
puskesmas Tambakaji. Hasil yang didapatkan yaitu :
a. Input
1) Man
Petugas pelaksana pelayanan farmasi di puskesmas
berjumlah 2 orang, yaitu 2 orang pelaksana, untuk struktur
organisasi terlampir. Jumlah petugas sudah mencukupi
kebutuhan petugas yang melaksanakan pelayanan farmasi

62
dan tidak ada kendala pada pelayanan farmasi. Tugas pada
pelayanan farmasi pada lampiran.
2) Money
Dana operasional pelaksanaan pelayanan farmasi di
puskesmas didapatkan dari anggaran JKN. Dimana 60%
dana tersebut dialokasikan kepada biaya operasional dan
40% menuju biaya pelayanan, untuk Alokasi yang lebih
lengkap tercatat pada LPLPO tahun 2017.
3) Material
Ruangan pada farmasi terdiri dari 1 ruang gudang
obat dan 1 ruangan pelayanan farmasi. Pada pelayanan
farmasi terdapat berbagai alat seperti SOP tahun 2016,
lemari pendingin, mesin perekat bungkus obat, plastik obat,
kardus obat, lemari penyimpanan obat, meja obat,
komputer, alat tulis dan lain-lain. Seluruh alat dan ruangan
dalam pelayanan farmasi masih dalam kondisi baik.
(Lampiran 14 hal. 130)
4) Methods
Pelaksanaan sesuai SOP yang diantaranya terdiri dari:
a) SOP tentang penyediaan obat emergensi di unit kerja
b) SOP penyimpanan obat emergensi di unit pelayanan
c) SOP monitoring penyediaan obat emergensi di unit
kerja
d) SOP penyimpanan obat
e) SOP pelabelan obat
f) SOP pemberian informasi penggunaan obat
g) SOP pemberian informasi efek samping obat
h) SOP cara penyimpanan obat di rumah
i) SOP penanganan obat kadaluarsa
j) SOP penyediaan dan penggunaan obat
k) SOP evaluasi ketersediaan obat terhadap formularium
l) SOP evaluasi kesesuaian peresepan dengan
formularium
5) Marketing
Pemasaran pada pelayanan farmasi adalah dalam
bentuk media lisan, beserta media cetak, dan bentuk
marketing yang digunakan sudah efektif. Sasaran pada

63
pelayanan farmasi adalah seluruh masyarakat yang terdaftar
sebagai pasien pada Puskesmas Tambakaji Semarang.
b. Proses
1) P1(perencanaan)
Perencanaan yang dipakai oleh pelayanan farmasi
adalah perencanaan pemesanan obat, dimana perencanaan
pemesanan obat dilakukan dengan cara menghitung
pemakaian obat 1 tahun terakhit ditambah 10% dan lalu
ditandatangani oleh kepala puskesmas.
2) P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan)
Pelaksanaan kegiatan pelayanan farmasi, yaitu yang
berupa penataan ruang obat di puskesmas, penataan obat di
gedung puskesmas, peracikan obat non-racikan, peracikan
obat racikan, pengemasan dan pelabelan obat, penyerahan
obat, penyimpanan/penataan vaksin, dan penulisan resep
yang rasional. Seluruh kegiatan tersebut sudah berjalan
dengan lancar dan sesuai dengan rencana yang sudah dibuat
sebelumnya sehingga dapat mencapai target dan tidak
terdapat kendala dalam pelaksanaannya.
3) P3 (Pengawasan, Penilaian, dan Pengendalian Kinerja)
Pencatatan dan pelaporan data pasien program
pengobatan melalui SIMPus (Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas) dan secara manual. Monitoring dan evaluasi
internal program pelayanan Pengobatan dilakukan oleh
kepala puskesmas, koordinator mutu, dan pemegang
program secara berkala setiap tiga bulan sekali dalam
Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir Penilaian
Kinerja Puskesmas. Dan juga penghitungan jumlah stok
obat yang tersedia pada gudang obat akan dihitung oleh Pak
Kamali dan akan diawasi oleh kepala puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program
pelayanan Farmasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota

64
Semarang setiap satu tahun sekali pada bulan februari
berupa supervisi atau bimbingan teknik program pelayanan
Farmasi. Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali
dengan cara audit internal sedangkan pencapaian program
dievaluasi dan monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya
mini.
c. Output
Semua program pada pelayanan farmasi di puskesmas
tambakaji sudah terpenuhi 100% sesuai dengan target. Untuk
data diperoleh dari dokumen variabel penilaian kinerja
puskesmas tambakaji.

4.4.5 Upaya Perbaikan Gizi


1. Input
Data diperoleh melalui studi dokumen Penilaian Kinerja
Puskesmas Tambakaji tahun 2017 dan wawancara dengan Ibu Ririh
Wijayanti, Am.Gz pada tanggal 19-20 Januari 2018.
1) Man
Pelaksana program perbaikan gizi di Puskesmas
Tambakaji berjumlah 1 orang, dengan rincian satu orang ahli
gizi. Pelaksana program tersebut juga telah mengikuti pelatihan,
diantaranya pelatihan surveillance gizi.

2) Money
Dana operasional pelaksanaan program perbaikan gizi di
Puskesmas Tambakaji didapatkan dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD). Alokasi dana digunakan untuk
kegiatan yang direncanakan sesuai dana APBD, yaitu kegiatan
selain kegiatan rutin dari program perbaikan gizi.
3) Material
Terdapat satu ruangan dalam program perbaikan gizi
yang tergabung dalam Ruang Konseling bersamaan dengan
upaya promkes dan upaya kesling.

65
Sarana yang terdapat di ruangan konseling diantaranya
almari, meja kerja, komputer, dan kursi.
Prasarana yang digunakan dalam program perbaikan gizi
disesuaikan dengan kegiatan yang dilaksanakan, diantaranya
dacin, microtoise, pengukur panjang badan, formulir data
sasaran bayi, vitamin A warna merah dan biru, formulir laporan
persalinan Bidan Praktek Mandiri (BPM), kohort bumil, data
BGM, Gakin MP-ASI, data balita gizi buruk, alat tulis kantor
dan ceklist, set tes yodium, lembar balik, alat peraga, LCD,
konseling ASI kit, dan leaflet. (Lampiran 14 hal. 130)
4) Method
Pelaksanaan program perbaikan gizi dilakukan sesuai
dengan SOP yang berlaku, diantaranya SOP Penanganan Gizi
Buruk dan SOP Promosi ASI.
Adapun kegiatan pokok program perbaikan gizi
dilaksanakan sesuai dengan kerangka acuan tahun 2016 yang
masih berlaku, yaitu:
a. Pembinaan dan pemantauan posyandu
b. Operasi timbang
c. Distribusi vitamin A
d. Pemantauan pemberian tablet Fe 90 pada ibu hamil
e. Pendistribusian PMT Balita Gakin
f. Pelacakan kasus Gibur/Gikur/BGM/2T
g. Konseling ASI dan MP-ASI
5) Marketing
Sasaran program perbaikan gizi adalah bayi, balita,
remaja, ibu hamil, wanita usia subur, pasangan usia subur, dan
lansia di wilayah kerja Puskesmas Tambakaji.
2. Proses
Data diperoleh melalui observasi di Puskesmas Tambakaji
dan wawancara dengan Ibu Ririh Wijayanti, Am.Gz pada tanggal
19-20 Januari 2018.
a. P1 (Perencanaan)
Perencanaan dalam upaya perbaikan gizi tertuang dalam
RUK Puskesmas Tambakaji yang telah dibuat pada tahun 2016.

66
Perencanaan dilaksanakan setiap awal tahun, dengan
mempertimbangkan program rutin, masalah yang ada pada
tahun sebelumnya, dan ketersediaan dana oleh APBD.
Rancangan yang diusulkan oleh program perbaikan gizi
pada RUK tahun 2017 disetujui dan dapat dilaksanakan
seluruhnya.
b. P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan)
Penggerakan dan pelaksanaan dalam program perbaikan
gizi telah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur.
Kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh program
perbaikan gizi yaitu :
a. Pembinaan posyandu balita dan posyandu lansia
b. Distribusi PMT bagi gizi buruk, balita kurus, bumil
KEK/Anemia Gakin
c. Distribusi vit.A pada bulan Februari & Agustus
d. Distribusi Fe bagi remaja putri
e. Pemantauan dan pendampingan balita gizi buruk
f. Pemantauan dan pendampingan balita stunting
(termasuk distriubsi sirup zinc)
g. Pemantauan status gizi (PWS) – bayi, balita, numil
h. Pemantauan garam beryodium (rutin)
i. Program ASI eksklusif & IMD
j. Pemantauan Kadarzi
k. Penyuluhan dan konseling gizi
Kegiatan yang dilaksanakan menurut pendanaan dari
APBD yaitu :
a. Pelacakan gizi buruk
b. Penanganan balita gizi buruk secara komprehensif
c. Edukasi gizi masyarakat
d. Kampanye gerakan masyarakat (germas) bagi kader
posyandu
e. Kampanye germas bagi remaja
f. Lomba cerdas cermat kader posyandu
g. Edukasi germas di Car Free Day
h. Sosialisasi gizi lansia & Pedoman Gizi Seimbang
(PGS) bagi kader posyandu lansia
c. P3 (Pengawasan, Penilaian, dan Pengendalian Kinerja)
Monitoring dan evaluasi internal program pelayanan gizi
dilakukan oleh kepala puskesmas, koordinator mutu, dan
pemegang program secara berkala setiap tiga bulan sekali

67
dalam Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir Penilaian
Kinerja Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program pelayanan gizi
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang setiap satu
tahun sekali pada bulan februari berupa supervisi atau
bimbingan teknik program pelayanan gizi.
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara
audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi dan
monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
3. Output
Data cakupan kinerja program perbaikan gizi diperoleh dari
data penilaian kinerja Puskesmas Tambakaji tahun 2017. Cakupan
program perbaikan gizi telah tercapai sesuai target untuk semua
variabel, kecuali pada variabel jumlah ibu hamil KEK dengan
realisasi 1.709% yang seharusnya target cakupan kurang dari 3,8%.
(Lampiran 8 hal. 120)

4.4.6 Upaya Kesehatan Lingkungan


l. Kesehatan lingkungan di Puskesmas Tambakaji
Kesehatan lingkungan yang mewujudkan mutu lingkungan
hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan
kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas-sektor
berwawasan kesehatan yang optimum.
Data yang didapatkan pada Puskesmas Tambakaji, diperoleh
melalui studi dokumen laporan Puskesmas tahun 2017, Perencana
Tingkat Puskesmas (PTP) tahun 2017, dan wawancara dengan
Dewi Sinta, S.KM, selaku penanggung jawab program upaya
kesehatan lingkungan di Puskesmas Tambakaji pada hari Rabu
tanggal 17 Januari 2018 jam 08.30. Hasil yang didapatkan adalah
sebagai berikut :
1. Input
a. Man

68
Petugas pelaksana program kesehatan lingkungan di
Puskesmas Tambakaji berjumlah satu petugas yaitu seorang
sanitarian. Jumlah petugas sudah sesuai dengan kebutuhan
petugas yang melaksanakan program kesehatan lingkungan.

b. Money
Dana operasional pelaksanaan program kesehatan
lingkungan di Puskesmas Tambakaji didapatkan dari dana
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk menjalankan
program kesehatan lingkungan.
c. Material
Ruangan program kesehatan lingkungan di Puskesmas
Tambakaji menjadi satu di ruang Tata Usaha (TU). Transportasi
untuk pelayanan program kesehatan lingkungan dengan
menggunakan motor dinas dari Puskesmas Tambakaji. Alat
yang digunakan pada program kesehatan lingkungan berupa
kartu status kesehatan lingkungan, register harian klinik
sanitasi, cek list inspeksi, botol sampel, cool bag dan alat tulis
kantor (ATK). (Lampiran 14 hal. 130)
d. Methods
Standard operasional prosedur yang dimiliki oleh program
Kesehatan Lingkungan di Puskesmas Tambakaji berupa
Inspeksi sanitasi rumah, Inspeksi sanitasi Perumahan dan
Inspeksi sanitasi Lingkungan.
e. Marketing
Sasaran pada program kesehatan lingkungan adalah
seluruh lingkungan pemukiman, Tempat Tempat Umum (TTU)
terdiri dari hotel, terminal, pasar, pertokoan dan usaha-usaha
lain, lingkungan pemukiman (rumah tinggal, asrama atau
sejenis), Tempat Pengelolaan Makanan/ Minuman (TPM) di
wilayah kerja Puskesmas Tambakaji. Sasaran klinik sanitasi
adalah pasien yang terdiagnosis penyakit berbasis lingkungan
namun belum ada sosialisasi mengenai pentingnya klinik

69
sanitasi secara lintas program dan lintas sektor maupun
masyarakat luas.

2. Proses
Data diperoleh melalui wawancara dengan Dewi Sinta,
S.KM, selaku penanggung jawab program upaya kesehatan
lingkungan di Puskesmas Tambakaji pada hari Rabu tanggal 17
Januari 2018 jam 08.30 dan observasi di Puskesmas Tambakaji dari
15 Januari 2018 sampai 25 Januari 2018.
a. P1 (Perencanaan)
1) Klinik sanitasi,
2) Pengawasan sanitasi dasar rumah tangga,
3) Pengawasan dan Pengendalian Kualitas Air,
4) Pengawasan dan Pengendalian tempat-tempat umum
(TTU),
5) Pengawasan dan Pengendalian tempat-tempat pengolahan
makanan/minuman (TPM),
6) Pengawasan dan Pembinaan Institusi,
7) Upaya pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan
kesehatan lingkungan
b. P2 (Pelaksanaan)
Dalam pelaksanaan program kesehatan lingkungan di
Puskesmas Tambakaji dapat berupa :
1) Konseling dilakukan setiap bulan
2) Kunjungan rumah dalam rangka tindak lanjut klinik sanitasi
dilakukan setiap tahun
3) Inspeksi rumah sehat dilakukan satu kali dalam setahun
4) Inspeksi depot air minum dilakukan satu kali dalam satu
tahun
5) Inspeksi tempat-tempat umum seperti pasar dan tempat
ibadah dilakukan dua kali dalam setahun
6) Inspeksi dan pengambilan sampel kolam renang dilakukan
dua kali dalam setahun
7) Inspeksi rumah makan/restoran dan pengambilan sampel
makanan dilakukan dua kali dalam setahun
8) Inspeksi jasa boga/ catering dan pengambilan sampel
makanan dilakukan dua kali dalam setahun

70
9) Inspeksi institusi pendidikan dan pengambilan sampel
jajanan anak sekolah dilakukan dua kali dalam setahun
10) Pemantauan jentik berkala di sekolah dilakukan empat kali
dalam setahun
11) Pendampingan kelurahan menuju sanitasi total berbasis
masyarakat (STBM) dilakukan satu kali dalam setahun
12) Pemantauan jentik berkala dirumah-rumah dilakukan empat
kali dalam setahun
c. P3 (Pengawasan)
Monitoring dan evaluasi internal program kesehatan
lingkungan dilakukan oleh kepala puskesmas, koordinator
mutu, dan pemegang program secara berkala setiap tiga bulan
sekali dalam Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir
Penilaian Kinerja Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program pemeriksaan
laboratorium dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang
setiap satu tahun sekali pada bulan februari berupa supervisi
atau bimbingan teknik program kesehatan lingkungan.
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara
audit internal.
3. Output
Data diperoleh dari Hasil Kinerja Puskesmas Tambakaji
tahun 2017, didapatkan bahwa semua cakupan upaya kesehatan
lingkungan sudah tercapai. (Lampiran 9 hal. 121)

4.4.7 Upaya Pemeriksaan Laboratorium


1) Input
Data diperoleh melalui studi dokumen laporan Puskesmas
tahun 2017, PTP tahun 2017, dan wawancara dengan Ibu Yani
selaku penanggungjawab Laboratorium di Puskesmas Tambakaji,
pada hari Sabtu, 20 Januari 2018 pukul 11.00 WIB.
a) Man

71
Jumlah total petugas yang melaksanakan program
pelayanan laboratorium tahun 2017 sebanyak dua orang, yang
terdiri dari dua analis kesehatan.
b) Money
Dana operasional pelaksanaan program pelayanan
laboratorium di Puskesmas Tambakaji didapatkan dari
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang
digunakan untuk setiap program dari laboratorium.
c) Material
Set laboratorium (batang pengaduk, beker, gelas, botol
pencuci, corong kaca, erlenmeyer, gelas ujur, hematology
analizer, fotometer, sentrifuse, rotator, lemari es, pipet, pot
spesimen dahak, pot spesimen urin, tip pipet), reagen siap
pakai. (Lampiran 14 hal. 130)

d) Methods
Pasien datang ke
laboratorium dengan *Pasien Kembali ke
membawa blanko membayar laboratorium untuk
rujukan internal dari poli di loket pengambilan sampel
umum dan KIA/KB

Penulisan hasil pemeriksaan di Tindakan


buku registrasi dan di blanko hasil laboratorium
pemeriksaan laboratorium

Penyerahan blanko ke pasien


untuk selanjutnya diserahkan ke
dokter/bidan
72 yang memeriksa
Catatan: *Pemeriksaan tidak tercover BPJS: selain dari
pemeriksaan darah rutin, urin rutin, dan pemeriksaan salah satu
gula.
e) Marketing
Sasaran pada pelayanan laboratorium adalah seluruh
masyarakat wilayah kerja Puskesmas Tambakaji yang
mendapatkan blanko rujukan internal.
2) Proses
Data diperoleh melalui wawancara dengan ibu Yani selaku
penanggungjawab program upaya pelayanan laboratorium pada
hari pada hari Sabtu, 20 Januari 2018 pukul 11.00 WIB.
a) P1 (Perencanaan)
1. Menyusun daftar belanja bahan dan peralatan laboratorium
2. Menyusun anggaran belanja bahan dan peralatan
laboratorium

b) P2 (Pelaksanaan)
Pelaksanaan program pemeriksaan laboratorium sudah sesuai
dengan SOP sebagai berikut :
1. Petugas memakai Alat Pelindung Diri
2. Petugas menerima rujukan internal dari Ruang
pemeriksaan umum, ruang kesehatan gigi dan mulut, ruang
KIA, ruang MTBS.
3. Petugas menjelaskan prosedur pemeriksaan ke pasien
beserta inform consent
4. Petugas memberi nota tindakan dan dipersilahkan
membayar ke kasir
5. Petugas mempersiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
6. Petugas mengambil sampel dan mempersilahkan pasien
untuk menunggu hasil pemeriksaan
7. Petugas mencatat hasil dan memberikan blangko hasil
kepada pasien
8. Petugas merekap data
c) P3 (Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian)

73
Monitoring dan evaluasi internal program pemeriksaan
laboratorium dilakukan oleh kepala puskesmas, koordinator
mutu, dan pemegang program secara berkala setiap tiga bulan
sekali dalam Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir
Penilaian Kinerja Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program pemeriksaan
laboratorium dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang
setiap satu tahun sekali pada bulan februari berupa supervisi
atau bimbingan teknik program pelayanan pemeriksaan
laboratorium.
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara
audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi dan
monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
3) Output
Berdasarkan penilaian Hasil Kinerja Puskesmas Tambakaji
tahun 2017 semua cakupan laboratorium sudah tercapai 100%.
(Lampiran 10 hal. 122)

4.4.8 Upaya Pelayanan Kesehatan Inovatif


Pelayanan kesehatan inovatif pada Puskemas Tambakaji tahun
2017 terdiri atas kesehatan gigi, Penyakit Tidak Menular (PTM), Pos
Pembinaan Terpadu (Posbindu), Pelayanan Keperawatan Kesehatan
Masyarakat (Perkesmas), kesehatan matra, kemitraan, praktek
mahasiswa, kesehatan olahraga, kesehatan indra/mata, dan kesehatan
kerja. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut.
1. Kesehatan Gigi
1) Input
a) Man
Petugas pelaksana program kesehatan gigi terdiri
dari 1 orang dokter gigi dan 1 orang perawat gigi. Data
diperoleh melalui studi dokumen laporan Puskesmas tahun
2017, RTP tahun 2017, dan wawancara dengan drg. Zuraida
Hanum selaku pemegang program upaya kesehatan gigi

74
dan mulut serta koordinator UKS/UKGS, dan Ujiyanti,
A.Md selaku petugas perawat gigi, dan selaku petugas
program kesehatan olahraga
b) Money
Dana operasional pelaksanaan program kesehatan gigi di
Puskesmas Tambakaji didapatkan dari dana JKN (Jaminan
Kesehatan Nasional), BLUD dan APBD. Dana JKN dan BLUD
dialokasikan untuk penyediaan alat kesehatan gigi, obat-obatan
di pelayanan dan operasional balai pengobata gigi. Sarana dan
prasarana menggunakan dana APBD.
c) Material
i. Ruangan : Ruang Balai Pengobatan Gigi, yang
berjumlah satu.
ii. Alat dan Bahan : Alat pelayanan balai pengobatan gigi,
buku pedoman pelayanan kesehatan gigi dan mulut di
Puskesmas cetakan tahun 2014, buku pedoman upaya
kesehatan gigi dan mulut di sekolah cetakan tahun 2012.
(Lampiran 14 hal. 130)
d) Methods
Pelayanan kesehatan gigi yang dilakukan sesuai dengan
SOP, sebagai berikut :
1. SOP persiapan sebelum pelayanan
2. SOP sesudah pelayanan
3. SOP pencucian alat
4. SOP anestesi infiltrasi
5. SOP anestesi blok
6. SOP pencabutan gigi dengan anestesi lokal
7. SOP pencabutan gigi susu dengan chor ethyl
8. SOP pembersihan karang gigi
9. SOP tumpatan glass ionomer
10. SOP tumpatan komposit resin
11. SOP penanganan karies
12. SOP pulpitis
13. SOP nekrosis pulpa
14. SOP impaksi M3
15. SOP gingivitis
16. SOP periodontitis
17. SOP abses periodontal
18. SOP penanganan stomatitis apthosa

75
e) Marketing
Sasaran dari upaya kesehatan gigi dan mulut adalah seluruh
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tambakaji. Upaya
Kesehatan Gigi Sekolah sasarannya adalah anak usia sekolah
pada awal tahun ajaran. Program Upaya Kesehatan Gigi
Sekolah memberikan penyuluhan kepada anak usia sekolah
dengan menggunakan LCD, dan leaflet.
2) Proses
Data diperoleh melalui wawancara dengan drg. Zuraida
Hanum, selaku penanggung jawab program upaya kesehatan gigi
dan mulut di Puskesmas Tambakaji, diwawancara pada hari Rabu
tanggal 20 Januari 2017 dan observasi di Puskesmas Tambakaji.
a) P1 (Perencanaan)
i. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas
ii. Kegiatan UKGS (Usaha Kegiatan Gigi Sekolah) tahap II
iii. Kegiatan UKGS (Usaha Kegiatan Gigi Sekolah) tahap III
b) P2 (Pelaksanaan)
Pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi yang dilakukan
sesuai dengan SOP dan pedoman yang ada, serta sesuai dengan
bimbingan teknis program pelayanan gigi dan mulut. Usaha
Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) tahap II, pada tahap ini
dilakukan penjaringan kesehatan gigi anak usia sekolah pada
awal tahun ajaran sekitar bulan agustus-september dan UKGS
tahap III dilaksanakan pada bulan Maret. Kegiatannya
dilaksanakan di satu sekolah yang terdekat dengan puskesmas,
sehingga memudahkan rujukan ke puskesmas untuk
pelaksanaan pengobatan gigi di puskesmas.
c) P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian)
Pada program kesehatan gigi dilakukan pencatatan data
kesehatan lingkungan secara lengkap yang dimasukkan
kedalam SIMPus (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas).
Pengawasan pelaksanaan program dilakukan monitoring setiap
satu bulan sekali dan evaluasi secara internal dan eksternal.
Evaluasi yang dilakukan puskesmas setiap tiga bulan sekali
melalui lokakarya mini yang terdiri dari kepala puskesmas,

76
mutu dan pemegang program di akhir kinerja puskesmas.
Sedangkan untuk eksternalnya pelaporan dilakukan setiap
setahun sekali oleh Dinas Keseharan Kota
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan
cara audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi
dan monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
d) Output
Berdasarkan studi dokumen dan wawancara
pelaksanaan program yang ada di balai pengobatan gigi sudah
mencapai target 100 % dari cakupan yang ada . (Lampiran 11
hal 124)

5. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)


1) Input
a) Man
Petugas atau tim pelaksana program UKS berjumlah 9
orang yang terdiri atas 1 dokter umum, 1 dokter gigi, 1
perawat, 1 perawat gigi, 1 bidan, 1 petugas gizi, 1 sanitarian, 1
laboran, 1 petugas promkes.
b) Money
Dana operasional pelaksanaan program UKS Tambakaji
didapatkan dari dana anggaran BOK (Bantuan Operasional
Kesehatan), yang dialokasikan untuk kegiatan di sekolah.
c) Material
Alat dan Bahan : buku pedoman pembinaan dan
pengembangan Usaha Kegiatan Sekolah (UKS) tahun 2008,
Pedoman Pelatihan Dokter Kecil tahun 2010, Petunjuk Teknis
Penjaringan Kesehatan dan Pemeriksaan Berkala di Satuan
Pedidikan Dasar dan Menengah 2015. (Lampiran 14 hal. 130)
d) Methods
Pelaksanaan program UKS dilakukan sesuai dengan buku
pedoman pembinaan dan pengembangan Usaha Kegiatan
Sekolah (UKS) tahun 2008
e) Marketing

77
Penyuluhan dan Pelaksanaan program UKS dilakukan di
SD/MI, SLTP dan SMU di wilayah kerja Puskesmas
Tambakaji.
2) Proses
Data diperoleh melalui wawancara dengan drg. Zuraida
Hanum, selaku koordinator program UKS & UKGS di Puskesmas
Tambakaji pada hari Sabtu tanggal 20 Januari 2017 dan observasi
di Puskesmas Tambakaji
a) P1 (Perencanaan)
i. Pemeriksaan kesehatan anak SD oleh tenaga kesehatan
ii. Pemeriksaan kesehatan anak SLTP dan SMU oleh tenaga
kesehatan
iii.Pelatihan guru UKS
iv. Pelatihan dokter kecil
b) P2 (Pelaksanaan)
Pelaksanaan program UKS yang dilakukan sesuai dengan
pedoman yang ada, serta sesuai dengan bimbingan teknis
program UKS pada tahun 2017. Pelatihan guru UKS dan
dokter kecil dilakukan sekali dalam setahun. Pelatihan dokter
kecil di sekolah dasar sesuai denga pedoman dan teknis.
Pelatihan guru UKS dilberikan oleh petugas kesehatan DKK.
Pelatihan dokter kecil dilaksanakan pada bulan November-
Desember.
c) P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian)
Monitoring dan evaluasi internal program UKS dilakukan
oleh kepala puskesmas, koordinator mutu, dan pemegang
program secara berkala setiap tiga bulan sekali dalam
Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir Penilaian Kinerja
Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program UKS dilakukan
oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang setiap satu tahun sekali
pada bulan februari berupa supervisi dan bimbingan teknik
program UKS.

78
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara
audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi dan
monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
3) Output
Berdasarkan studi dokumen dan wawancara, cakupan dari
program UKS yang meliputi penjaringan anak usia sekolah dan
pelatihan dokter kecil sudah dilaksanakan dan sudah mencapai
target 100%. (Lampiran 11 hal 124)

6. Kesehatan Olahraga
1) Input
Pada Puskesmas Tambakaji, data tentang kesehatan
olahraga diperoleh melalui dokumen penilaian kinerja Puskesmas
Tambakaji tahun 2017, PTP tahun 2017 serta wawancara dengan
Ibu Ujiyanti, Am.Kg Selaku pemegang program.
a) Man
Petugas pelaksana program kesehatan olahraga terdiri
atas satu orang perawat gigi.
b) Money
Dana operasional pelaksanaan program kesehatan
olahraga di Puskesmas Tambakaji didapatkan dari BOK (Biaya
Operasional Kesehatan), swadaya masyarakat dan BLUD
(Badan Layanan Umum Daerah). Guna sarana prasarana serta
pelaksanaan kegiatan kesehatan jasmani.
c) Material
Program kesehatan olahraga tidak memiliki ruangan
khusus karena program tersebut ikut di dalam program lain
seperti halnya kegiatan jasmani yang dapat dilaksanakan di
sekolah ataupun balai desa. (Lampiran 14 hal. 130)
d) Methods
Adapun program kesehatan olahraga memiliki kerangka
acuan tahun 2016 berupa senam kesehatan setiap hari jum’at
(PORPI), senam peregangan bagi karyawan, kegiatan integrase
dengan program lain, tes kebugaran, pembinaan kelompok
senam, penyuluhan, pelayanan kesehatan.

79
e) Marketing
Sasaran program upaya kesehatan olahraga dilakukan
seluruh masyarakat wilayah kerja Puskesmas terutama
kelompok potensial/klub olahraga masyarakat.
2) Proses
Manajemen kesehatan olahraga dijabarkan dalam tiga
indikator utama yaitu P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan dan
Pelaksanaan), serta P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian).
a) P1 (Perencanaan)
Puskesmas Tambakaji memiliki kerangka acuan tahun
2016.
b) P2 (Pelaksanaan)
Puskesmas Tambakaji memiliki pedoman kesehatan
olahraga tahun 2016 berupa kerangka acuan.
c) P3 (Pengawasan, PengendaliandanPenilaian)
Pencatatan program kesehatan olahraga dilakukan secara
lengkap dimasukkan kedalam SIMPus (Sistem Informasi
Manajemen Puskesmas). Pengawasan pelaksanaan program
dilakukan langsung oleh Kepala Puskesmas serta monitoring
dan evaluasi secara internal pelaporan tiga bulan sekali melalui
lokakarya mini dan eksternal nya setahun sekali oleh Dinas
Kesehatan Kota Semarang.
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan
cara audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi
dan monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
3) Output
Data diperoleh dari Hasil Kinerja Puskesmas Tambakaji
tahun 2017, didapatkan bahwa semua cakupan upaya kesehatan
olahraga sudah tercapai. (Lampiran 11 hal 124)
7. Kesehatan Mata
1) Input
Pada Puskesmas Tambakaji, data tentang kesehatan mata diperoleh
melalui dokumen penilaian kinerja Puskesmas Tambakaji tahun 2017,
PTP tahun 2017 serta wawancara dengan Ibu Sri Rejeki S.Kep Selaku
pemegang program.

80
a) Man
Petugas pelaksana program kesehatan mata terdiri atas 2
orang dokter umum dan 2 orang perawat.
b) Money
Dana operasional pelaksanaan program kesehatan mata di
Puskesmas Tambakaji didapatkan dari dana BOK dan APBD.
Program kesehatan mata tidak memiliki ruangan khusus
karena program tersebut sudah menyatu dengan pemeriksan umum.
c) Methods
Pelayanan kesehatan mata yang dilakukan sesuai dengan SOP
pemeriksaan umum tahun 2017.
d) Marketing
Sasaran program upaya kesehatan mataadalah seluruh
masyarakat yang berkunjungkepuskesmastambakaji.
2) Proses
Manajemen kesehatan mata dijabarkan dalam tiga indikator utama
yaitu P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan dan Pelaksanaan), serta P3
(Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian).
a) P1 (Perencanaan)
i. Kegiatan penjaringan gangguan pengelihatan pada anak

sekolah.
ii. Kegiatan deteksi dini penyakit glaucoma dan katarak pada
usia > 45 tahun.
iii. Kegiatan rujukan kasus gangguan pengelihatan.
b) P2 (Pelaksanaan)
Pelaksanaan pelayanan kesehatan mata yang dilakukan sesuai
dengan pedoman yang ada, serta sesuai dengan bimbingan teknis
program pelayanan kesehatan mata pada tahun 2017.
c) P3 (Pengawasan, Pengendaliandan Penilaian)
Pencatatan program kesehatan mata dilakukan secara
lengkap yang dimasukkan kedalam SIMPus (Sistem Informasi
Manajemen Puskesmas).
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara
audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi dan
monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
3) Output

81
Data diperoleh dari Hasil Kinerja Puskesmas Tambakaji tahun
2017, didapatkan bahwa seluruh cakupan pelayanan kesehatan mata
sudah tercapai. (Lampiran 11 hal 124)

8. Perawatan Kesehatan Masyarakat


Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan bagian
pelayanan kesehatan dasar yang wajib dilakukan oleh Puskesmas.
Pelayanan perkesmas bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.
a. Input
Data diperoleh melalui studi dokumen laporan Puskesmas
tahun 2017, PTP tahun 2017, dan wawancara dengan Ibu Sri
Rejeki, S.Kep selaku penanggungjawab Perkesmas Puskesmas
Tambakaji, pada hari Kamis tanggal 18 Januari 2017 pukul
09.00 WIB.
1) Man
Petugas pelaksana program Perkesmas terdiri dari
empat orang perawat, dan satu orang petugas diantaranya
mengikuti pelatihan Perkesmas pada tahun 2017.
2) Money
Dana operasional pelaksanaan program Perkesmas di
Puskesmas Tambakaji didapatkan dari dana Bantuan
Operasional Kesehatan (BOK) yang digunakan untuk
menjalankan program .
3) Material
Ruangan program Perkesmas di Puskesmas
Tambakaji di ruang BP umum. Alat yang digunakan adalah
buku pedoman Perkesmas, rekam medis, form pendataan.
(Lampiran 14 hal. 130)
4) Methods
Pelaksanaan program Perkesmas yang dilakukan
sesuai dengan kerangka acuan yang dimiliki oleh program
Perkesmas Puskesmas Tambakaji.
5) Marketing

82
Sasaran program Perkesmas adalah keluarga rawan
kesehatan, kelompok risiko tinggi, masyarakat rentan
kesehatan, dan masyarakat rawan kesehatan di wilayah
kerja Puskesmas Tambakaji.

b. Proses
Data diperoleh melalui wawancara dengan Sri Rejeki, S.Kep
selaku petugas Perkesmas di Puskesmas Tambakaji pada hari
Kamis tanggal 18 Januari 2017.
1) P1 (Perencanaan)
Direncanakan pada saat pembuatan Rencana Usulan Kegiatan
(RUK) dan dipaparkan pada Lokakarya Mini Puskesmas
Tambakaji.
a) Pendataan sasaran keluarga rawan, kelompok risiko tinggi,
masyarakat rentan kesehatan
b) Pembuatan rincian anggaran dana
c) Penjadwalan kegiatan
d) Penemuan kasus
e) Kujungan rumah keluarga
f) Pencatatan di asuhan keperawatan
2) P2 (Pelaksanaan)
Pelaksanaan program Perkesmas dilakukan sesuai jadwal
yang telah disepakati oleh pasien dengan petugas dan sesuai
dengan pedoman yang ada dan bimbingan teknis program
kesehatan , sebagai berikut :
a) Konsultasi keperawatan di dalam gedung Puskesmas
b) Kunjungan rumah kepada keluarga rawan kesehatan
c) Kunjungan dan pembinaan kepada kelompok risiko tinggi
d) Kunjungan dan pembinaan kepada masyarakat rentan
kesehatan
3) P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian)
Monitoring dan evaluasi internal program perkesmas dilakukan
oleh kepala puskesmas, koordinator mutu, dan pemegang program
secara berkala setiap enam bulan sekali dalam Lokakarya Mini
Puskesmas dan pada akhir Penilaian Kinerja Puskesmas.

83
Monitoring dan evaluasi eksternal program perkesmas
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang setiap satu tahun
sekali pada bulan februari berupa supervisi atau bimbingan teknik
program perkesmas.
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara
audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi dan
monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
c. Output
Data diperoleh dari Hasil Kinerja Puskesmas Tambakaji
tahun 2017, didapatkan bahwa semua cakupan upaya perawatan
kesehatan masyarakat sudah tercapai. (Lampiran 11 hal 124)

9. Kesehatan Matra
Pemeriksaan kesehatan merupakan upaya identifikasi status
kesehatan sebagai landasan karakterisasi, prediksi, dan
penentuan cara eliminasi faktor risiko kesehatan.
a. Input
Data diperoleh melalui studi dokumen laporan Puskesmas
tahun 2017, PTP tahun 2017, dan wawancara dengan Ibu Sri
Rejeki, S.Kep selaku penanggungjawab kesehatan matra
Puskesmas Tambakaji, pada hari Kamis tanggal 18 Januari
2017 pukul 09.00 WIB.
1) Man
Petugas pelaksana program kesehatan matra terdiri atas
dua orang dokter umum dan satu orang perawat.
2) Money
Dana operasional pelaksanaan program kesehatan matra
di Puskesmas Tambakaji didapatkan dari dana APBD dan
BOK.

3) Material
Ruangan program kesehatan matra di Puskesmas
Tambakaji di ruang BP umum. Alat yang digunakan adalah

84
buku pedoman upaya kesehatan haji dan form pendataan.
(Lampiran 14 hal. 130)
4) Methods
Pelayanan kesehatan matra yang dilakukan sesuai dengan
kerangka acuan dan pedoman yang ada di Puskesmas
Tambakaji.
5) Marketing
Pelayanan kesehatan matra dilakukan pada calon jamaah
haji yang sudah mendapat nomor porsi.
b. Proses
Data diperoleh melalui wawancara dengan Sri Rejeki, S.Kep,
selaku petugas pelayanan kesehatan umum di Puskesmas
Tambakaji pada hari Kamis tanggal 18 Januari 2017 pukul 09.00
WIB.
1) P1 (Perencanaan)
a) Pendataan calon jemaah haji
b) Pembuatan rincian anggaran dana
c) Analisis situasi
d) Pencatatan di asuhan keperawatan
2) P2 (Pelaksanaan)
Pelaksanaan pelayanan kesehatan haji yang dilakukan
sesuai dengan kerangka acuan yang ada, serta sesuai dengan
bimbingan teknis program pelayanan kesehatan haji
a) Pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji
1. Calon jemaah haji datang ke loket
2. Calon jemaah haji membawa buku kesehatan
jamaah haji (BKJH) dan hasil laboratorium
3. Petugas melakukan pemeriksaan medis dasar
4. Petugas merujuk apabila memiliki faktor risiko
5. Merekam hasil pemeriksaan dalam catatan
medik dan BKJH
6. Memasukkan data ke siskohart haji.
b) Pembinaan kebugaran calon jamaah haji
c) Pemantauan kesehatan calon jamaah haji yang kembali
(pulang haji)
3) P3 (Pengawasan, Pengendalian dan Penialian)
Monitoring dan evaluasi internal program kesehatan matra
dilakukan oleh kepala puskesmas, koordinator mutu, dan
pemegang program secara berkala setiap tiga bulan sekali dalam

85
Lokakarya Mini Puskesmas dan pada akhir Penilaian Kinerja
Puskesmas.
Monitoring dan evaluasi eksternal program kesehatan matra
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang setiap satu tahun
sekali pada bulan februari berupa supervisi atau bimbingan teknik
program pelayanan pemeriksaan laboratorium.
Penilaian mutu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan cara
audit internal sedangkan pencapaian program dievaluasi dan
monitoring setiap 3 bulan sekali di lokakarya mini.
c. Output
Data diperoleh dari Hasil Kinerja Puskesmas Tambakaji
tahun 2017, didapatkan bahwa semua cakupan upaya kesehatan
haji sudah tercapai. (Lampiran 11 hal 124)

4.5. IDENTIFIKASI MASALAH


Melihat cakupan pada hasil kinerja Puskemas Tambakaji tahun 2017
didapatkan adanya kesenjangan antara target dengan realisasi pada upaya TB
paru meliputi angka penemuan kasus TB BTA positif dan jumlah ibu hamil
KEK.

4.6. ANALISIS PRIORITAS MASALAH


Tabel 4.6 Prioritas Masalah
Permasalahan Urgensi (U) Serious (S) Growth (G) Total/Urutan
Angka Penemuan Kasus
4 4 5 13/ I
TB BTA Positif
Jumlah Ibu Hamil KEK 3 4 3 10/ II

Berdasarkan analisis dengan menggunakan metode USG dan kesepakatan


kelompok kemudian dikonfirmasikan kepada kepala puskesmas dan
pemegang program disimpulkan bahwa prioritas masalah di Puskesmas
Tambakaji adalah Angka Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru (TB
Paru).

4.7. ANALISIS PENYEBAB MASALAH


Prioritas masalah terpilih adalah angka keberhasilan pengobatan TB paru.

86
Analisis penyebab masalah dengan menggunakan pendekatan sistem
manajemen sebagai berikut:
1. Input
a. Man
Puskesmas Tambakaji memiliki tenaga pada program TB Paru
meliputi satu dokter, satu perawat, dua laborat, dan satu tenaga
promosi kesehatan. Pemegang program TB Paru adalah seorang
perawat yang sudah mengikuti pelatihan mengenai TB Paru sebanyak
satu kali, dan mengikuti pertemuan-pertemuan mengenai TB yang
diadakan oleh Dinas, sedangkan dokter yang bertanggung jawab dalam
program TB paru belum mengikuti pelatihan mengenai TB. Tidak ada
permasalahan pada jumlah tenaga kerja pada angka keberhasilan
pengobatan TB Paru.
b. Money
Pada program TB Paru pengadaan dana didapatkan dari APBD dan
BOK. Pembelanjaan dana dari BOK digunakan dalam pelaksanaan
Pelacakan Pasien Mangkir dan Pemeriksaan Kontak TB Serumah dan
Radius 100 meter. BOK juga memberikan anggaran kepada petugas
non Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di program TB Paru.
Pembelanjaan dana dari APBD digunakan untuk obat-obatan pasien
TB paru, pot sputum, dan berupa uang transportasi serta sembako
untuk pasien TB Multi Drug Resistance (MDR). Keuangan pada
program TB Paru sudah mencukupi, sehingga tidak menimbulkan
permasalahan.
c. Material
Program TB paru memiliki satu ruangan DOTS yang didalamnya
terdapat bed pemeriksaan, masker N95, satu meja dan dua kursi, serta
lemari obat tuberkulosis. Upaya promosi kesehatan program TB Paru
menggunakan leaflet, poster, dan melalui TV di ruang tunggu umum,
namun pada ruang DOTS belum terdapat poster maupun leaflet.
d. Method

Pada pelaksanaan program TB paru telah sesuai SOP. SOP yang


digunakan dalam penemuan kasus TB yang terdiri SOP pemeriksaan.

87
Kerangka acuan program P2P TB terdiri dari Skrining suspek TB,
Kontak Serumah Penderita TB BTA Positif atau Anak dan Pelacakan
Penderita Mangkir.

e. Marketing
Sasaran untuk program TB Paru adalah pasien suspek maupun
penderita yang telah terdiagnosa TB Paru. Pemasaran program TB
Paru dilaksanakan melalui kader-kader dan Gasurkes yang telah
mendapatkan pelatihan dari Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Puskesmas Tambakaji tidak memiliki Posbindu untuk penyakit
menular, namun program penyakit menular TB Paru dimasukkan
kedalam penyakit ISPA dan gizi di Posyandu,

2. Proses
a. P1 (Perencanaan)
Perencanaan untuk program TB yaitu:
1) Penemuan kasus baru TB BTA positif
2) Pemantauan/Pengobatan pasien TB MDR
3) Pemeriksaan kontak serumah pasien TB BTA (+) dan TB anak
(setiap mendapat laporan dari pelayanan umum atau rujukan dari
fasyankes lain)
4) Konseling PMO
5) Kunjungan rumah/pelacakan TB Paru Mangkir.
b. P2 (Pelaksanaan)
Pelayanan program TB Paru dilaksanakan hari Senin-Sabtu sesuai
jam kerja kecuali pengambilan obat dilaksanakan pada hari Sabtu
sesuai jam kerja. Pengambilan obat dilaksanakan di ruang DOTS dan
obat hanya diberikan untuk satu minggu sehingga pasien harus
berkunjung setiap minggu. Penemuan kasus baru/suspek dilakukan
pemeriksaan sputum dengan cara pasien diberi pot sputum untuk
dibawa pulang dan diberikan penjelasan pot diisi dengan dua dahak
yaitu dahak pagi (P) saat bangun tidur dan dahak saat akan
mengembalikan pot (S2). Pot sputum dikembalikan ke puskesmas

88
pada hari rabu untuk dikirim ke laboratorium Rumah Sakit Dr.
Karyadi, dan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Adhyatma, MPH. Hasil
pemeriksaan laboratorium dapat diambil kurang lebih seminggu sejak
diserahkan ke laboratorium. Pemeriksaan sputum dilakukan pada saat
pertama kali kunjungan, dua bulan selama pengobatan, tiga bulan
selama pengobatan, lima bulan pengobatan, dan pada akhir
pengobatan (AP).

c. P3 (Penilaian)
Laporan penemuan kasus TB Paru dilakukan setiap ada penemuan
kasus TB melalui media online dari petugas ke Dinas Kesehatan Kota
Semarang dan laporan akhir tertulis dilaporkan setiap bulan ke Dinas
Kesehatan Kota Semarang.

4.8. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


Tabel 4.7 Masalah beserta Prioritas Alternatif Solusi
Komponen Masalah Solusi
Material Ruang DOTS belum terdapat poster Ruang DOTS dipasang poster
maupun leaflet maupun leaflet tentang TB
Marketing Kurang aktifnya kader program TB Pengaktifan kembali kader
Paru program TB Paru
Pelaksanaan a. Pengiriman sputum dilakukan a. Send (pengiriman)
hanya seminggu sekali. sputum setiap hari
b. Penyuluhan program TB belum b. Penyuluhan program TB
terjadwal secara rutin

4.9. PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Pengambilan keputusan berdasarkan solusi yang diberikan untuk
menyelesaikan penyebab masalah tersebut ditentukan dengan “Matrix Cost
Benefit” dengan perbandingan antara biaya dan manfaat. Hasil perbandingan
dilihat pada tabel.
Tabel 4.8 Pengambilan Keputusan Berdasarkan Hasil Perkalian (Matrix Cost Benefit)
RASIO/
SOLUSI MASALAH MANFAAT BIAYA
RANKING

89
Ruang DOTS dipasang poster maupun leaflet
2 2 1 / IV
tentang TB
Pengaktifan kembali kader program TB Paru 4 3 1,3 / II
Send (pengiriman) sputum setiap hari 5 4 1,25 / III
CERMAT PERSIS (Penyuluhan program TB) 5 3 1,7 / I

Berdasarkan analisis menggunakan metode Matrix Cost Benefit,


pemecahan masalah yang menjadi pilihan utama adalah CERMAT PERSIS
(Penyuluhan program TB).

90
4.10. PENYUSUNAN RENCANA KEGIATAN
Tabel 4.9 Rencana Kegiatan CERMAT PERSIS (Penyuluhan program TB)

Tabel 4.22Rencana Kegiatan Skrining POA


Uraian Kegiatan Waktu Tempat Pelaksana (Who) Biaya Keterangan (Metode)
Persiapan a. Persiapan alat dan Februari Puskesmas a. Tim P2P Dana BOK a.Mempersiapkan presensi
bahan penyuluhan 2018 Tambakaji b. Promkes program b. Mempersiapkan petugas
b. Mempersiapkan TB Paru c.Mempersiapkan peralatan
daftar hadir peserta c. Kader d. Mempersiapkan materi
c. Persiapan materi
d. Lembar pretes dan
postes
Pelaksanaan a. Pencatatan Awal Maret Balai RW a. Tim P2P Dana BOK a.Mengisi daftar hadir
kehadiran 2018 b. Promkes program b. Mengerjakan pre-test
b. Pre-test TB Paru c.Pemberian materi oleh petugas
c. Pemberian materi c. Kader promkes program TB
penyuluhan d. Tanya jawab antara
d. Sesi tanya jawab peserta dengan petugas
penyuluhan

Pengawasan a. Post-tes Akhir Maret Puskesmas a. Penanggung jawab Dana BOK a. Mengerjakan soal post
Pengendalian b. Evaluasi kehadiran 2018 Tambakaji program P2P test
Penilaian peserta b. Penanggung jawab b. Pelaporan pertanggungjawaban
Promkes TB Paru kegiatan evaluasi
c. Dokter

91
B. Kerangka Konsep

Lingkungan fisik Kebijakan dari puskesmas pada program tersebut


puskesmas baik sesuai dengan kebijakan Dinas Kesehatan Kota
dirasa cukup dan sesuai dengan program

LINGKUNGAN FISIK KEBIJAKAN


PUSKESMAS

INPUT PROSES OUTPUT

1. Man 1. P1 Angka penemuan


2. Money 2. P2
kasus BTA
3. Material: a. Pengiriman sputum
Ruang DOTS belum positif
dilakukan hanya seminggu
terdapat poster maupun
leaflet sekali.
4. Metode b. Penyuluhan program TB
5. Marketing
Kurang aktifnya kader Paru belum terjadwal secara
program TB Paru rutin
3. P3

92
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Permasalahan yang diambil adalah permasalahan utama yang
menyebabkan belum tercapainya target yaitu penyuluhan program TB Paru
belum terjadwal rutin.
2. Berdasarkan delapan langkah problem solving, didapatkan langkah
pemecahan masalah yaitu dengan CERMAT PERSIS (Penyuluhan
program TB)
5.2 Saran
1. Penyuluhan tentang TB Paru terjadwal rutin
2. Petugas Puskesmas diharapkan saling berkoordinasi dengan pemegang
program dan kader untuk melakukan penyuluhan TB Paru.

93
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 75 tahun 2014 tentang Puskesmas. Jakarta : Kemenkes. 2014.

2. Permenkes RI. Nomor 44 Tahun 2016. Tentang Pedoman Manajemen


Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan.

3. Puskemas Tambakaji. Perencanaan Tingkat Puskesmas Tambakaji tahun 2017.


Semarang : Puskesmas Tambakaji. 2017.

4. Menkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun


2016 tentang Pedoman Manajemen Puskesmas. 2016.

5. Anies. Waspada Ancama Penyakit Tidak Menular. Jakarta: PT Lex Media


Komputindo. 2006

6. Kementrian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor: 585/MENKES/SK/V/2007 tentang Promosi Kesehatan. Jakarta :
Kemenkes. 2007.

7. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Kemenkes.


2014

8. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Penyakit Tuberculosis. Jakarta.


2002.

9. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 13 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan
Lingkungan Puskesmas. 2015.

94
10. Depkes RI. Petunjuk Teknis Pemantauan Status Gizi, Program Jaring
Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan. 1999.

11. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Dan Penyehatan


Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1996.

12. Republik Indonesia. Undang-Undang No.4 Tahun 1984 tentang Wabah


Penyakit yang Menular. Sekretariat Negara. Jakarta. 1984.

13. Republik Indonesia. Undang-Undang No. 36 tentang Kesehatan. Sekretariat


Negara. Jakarta. 2009.

14. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


279/Menkes/SK/IV/2006.

15. Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun


2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Sekretariat Negara. Jakarta. 2014.

16. Kementrian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014
tentang Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia. 2014.

17. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Teknis Pemeriksaan Kesehatan Jemaah


Haji. Jakarta. 2010.

18. World Health Oganization. 2018. Tuberculosis.


www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en diambil pada 18 januari 2018 pukul
19.45.

95
19. Nicas M, nazarrof. WW, Hubbard A. 2005. “Toward understanding the risk of
secondary airborne infection: emission of respirable pathogen”. Doi:10.1016/S0196-
6553(98)70046-X. PMID 9721404

20. Gerald L. Mandell, John E. Bennet, Raphael. 2010. “mandell, douglas, and bennett’s
principles and practice of infectious disease”. Philadelphia; Elsevier.

21. WHO, guideline on the management of tuberculosis infection.


WHO/HTM/TB/2015.01.

22. Zumia, Al. 2011. “Tuberculosis” Doi:10.1016/S0140-6736(10)62173-3. PMID


21420161.

96