Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATA KULIAH FISIOLOGI PERBANDINGAN

HEWAN

PERBANDINGAN SISTEM PENCERNAAN HEWAN


RUMINANSIA (SAPI) DAN NON RUMINANSIA (KUDA)

Nama anggota :

Mira Putri Agustin

Mila Miftahul Jannah

Kelompok :

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Mata Kuliah
Fisiologi Perbandingan Hewan.

Makalah ini kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatannya. Kami menyadari sesungguhanya bahwa
masih ada kekurangan. Akhir kata kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Semarang, 22 Maret 2018

Tim Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sistem pencernaan sangat berpengaruh dalam proses kehidupan makluk hidup.


Pengetahuan tentang organ pencernaan sangat penting karna berhubungan erat dengan proses
pencernaan termasuk absorbs. Proses pencernaan seperti sebuah Industri, misalnya industri
tekstil yang menghasilakan pakaian, dalam industri ini ada tiga kompenen yang harus di lewati
yaitu input, proses, dan output selain itu ada limbah . kalau dalam industri tekstil inputnya yaitu
berupa bahan baku yaitu benang lalu di masukkan dalam mesin dip roses untuk mengolah
bahan baku tersebut lalu keluarlah hasilnya berupa pakaian, sama halnya dalam proses
pencernaan ada tiga komponen yaitu input,proses dan ouput. kalau berbicara tentang
pencernaan punya berupa bahan makanan ,bahan makanan ini di gunakan sebagai bahan
baku,tidak mungkin proses pencernaan terjadi tanpa adanya bahan baku yang akan dicerna.

Sistem pencernaan pada mamalia memiliki anatomi dan fisiologi yang hampir sama
pada hewan mamalia yang satu dengan yang lain. Namun terdapat hal yang berbeda dalam
sistem pencernaan pada salah satu mamalia yaitu ruminansia. Mamalia khususnya ruminansia
atau biasa disebut hewan pemamah biak yang sering kita temui memiliki kebiasaan mengunyah
sepanjang hari. Mamalia ini memiliki lambung yang berbeda dari mamalia lain yakni memiliki
4 ruang. 4 ruang pada lambung tersebut yakni rumen, omasum, obamasum, dan retikulum.
Sedangkan mamalia lain memiliki lambung dengan 1 ruang. Sistem pencernaan pada ruminansi
dan non ruminansia akan kami bahas lebih jauh. Dalam mempelajari sistem pencernaan pada
mamalia ruminansia dan non ruminansia tersebut maka kelompok kami akan membahasnya
dalam makalah ini.

1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimana anatomi dan fungsi saluran pencernaan hewan ruminansia ?


2. Bagaimana sistem pencernaan pada hewan ruminansia?
3. Bagaimana anatomi dan fungsi saluran pencernaan hewan non ruminansia?
4. Bagaimana sistem pencernaan pada hewan non ruminansia?
1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui dan memahami anatomi dan fungsi saluran pencernaan hewan
ruminansia
2. Untuk mengetahui dan memahami sistem pencernaan pada hewan ruminansia
3. Untuk mengetahui dan memahami anatomi dan fungsi saluran pencernaan hewan non
ruminansia
4. Untuk mengetahui dan memahami sistem pencernaan pada hewan non ruminansia
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Hewan Ruminansia


Saluran Pencernaan pada ruminansia hampir sama dengan saluran pencernaan pada
mamalia lainnya. Namun terdapat perbedaan pada jumlah ruangan pada lambung, yakni
sebagai berikut :
a. Mulut
b. Esofagus
c. Lambung: Rumen, Retikulum, Omasum, Abomasum
d. Usus halus
e. Usus Besar (Kolon)
f. Rektum
Berikut ini adalah pembahasan pada masing-masing alat pencernaan pada ruminansia :
a. Mulut
Pencernaan di mulut pertama kali di lakukan oleh gigi molar dilanjutkan oleh mastikasi
dan di teruskan ke pencernaan mekanis. Di dalam mulut terdapat saliva. Saliva adalah cairan
kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas oral.
Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun demikian,
kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva
penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik terbanyak adalah sodium, potassium
(sebagai kation), khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya).
Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase,
maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, mucin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim,
laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol.
Selain itu, saliva juga mengandung gas CO2, O2, dan N2. Saliva juga mengandung
immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%
Fungsi saliva:
 membantu penelanan
 buffer (ph 8,4 – 8,5)
 suplai nutrien mikroba (70% urea)
Mekanisme sekresi saliva
Di kelenjar saliva, granula sekretorik (zymogen) yang mengandung enzim-enzim saliva
dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus. Karakteristik ketiga kelenjar saliva pada
sebagai berikut: manusia dapat diringkas saliva : sapi ± 150 liter/hari, domba ± 10 liter/hari,
Enzim : Pregastric esterase.
b. Lambung Ruminansia
1) Rumen
Rumen merupakan bagian saluran pencernaan vital pada ternak ruminansia. Pada
rumen terjadi pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Pencernaan
fermentatif membutuhkan bantuan mikroba dalam mencerna pakan terutama pakan dengan
kandungan selulase dan hemiselulase yang tinggi. Sedangkan pencernaan hidrokitik
membutuhkan bantuan enzim dalam mencerna pakan. Ternak ruminansia besar seperti sapi
potong dan sapi perah dapat memanfaatkan pakan dengan kandungan nutrisi yang sangat
rendah, akan tetapi boros dalam penggunaan energi.
Menurut (Aurora, 1989), rumen merupakan tabung besar dengan berbagai kantong yang
menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Isi rumen pada ternak
ruminansia berkisar antara 10-15% dari berat badan ternak tersebut. Kondisi dalam rumen
adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling sesuai dan dapat hidup serta ditemukan di
dalamnya. Tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam
rumen adalah 32-42°C, pH dalam rumen kurang lebih tetap yaitu sekitar 6,8 dan adanya
absorbsi asam lemak dan amonia berfungsi untuk mempertahankan pH (Aurora, 1989). Proses
pencernaan dalam rumen ini sangat bergantung pada species-species bakteri dan protozoa yang
berbeda dan saling berinteraksi melalui hubungan simbiosis.
Rumen pada sapi dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi yang tinggi
dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Rumen terletak di rongga abdominal bagian kiri.
Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan pada permukaan
rumen terdapat papilla dan papillae. Sedangkan substrat pakan yang dimakan akan mengendap
dibagian ventral. Pada retikulum dan rumen terjadi pencernaan secara fermentatif, karena pada
bagian tersebut terdapat bermilyaran mikroba.
Letak rumen ada di sebelah kiri rongga perut. Adapun anatomi rumen adalah sebagai
berikut :
 permukaan dilapisi papila (papila lidah) → memperluas
 permukaan untuk absorbs
 terdiri 4 kantong (saccus)
 terbagi menjadi 4 zona
Kondisi di dalam rumen adalah sebagai berikut :
o berat kasar isi rumen : 10 -15% dari badan ternak
o temperatur : 39-40ºc
o ph = 6,7 – 7,0
o gas: CO2, CH4, N2, O2, H2, H2S
o mikroba: bakteri, protozoa, jamur
o anaerob
Fungsi rumen antara lain sebagai berikut :
 tempat fermentasi oleh mikroba rumen
 absorbsi vfa, ammonia
 lokasi mixing
 menyimpan bahan makanan atau tempat fermentasi
Adapun pembagian zona di dalam rumen, pembagian mikrobiologis :
1) zona gas : CO2, CH4, N2, O2, H2, H2S
2) zona apung (pad zone) : ingesta yang mengapung (ingesta baru dan mudah
dicerna)
3) zona cairan (intermediate zone) : cairan dan absorbsi metabolit
yang terlarut dalam cairan ( banyak terdapat mikroba)
4) zona endapan (high density zone) : ingesta tidak dapat dicerna dan benda-
benda asing
2) Retikulum
Retikulum sering disebut sebagai perut jalang atau hardware stomach. Fungsi
retikulum adalah sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum
berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat.
Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan
menjadi tercampur.
a. Secara fisik tidak terpisahkan dari rumen
b. Terdapat lipatan-lipatan esofagus yang meru-pakan lipatan jaringan yg langsung dr
esofagus ke omasum
c. Permukaan dalam : papila → sarang laba-laba (honey comb) perut jala
Fungsi retikulum antara lain:
1. tempat fermentasi
2. membantu proses ruminasi
3. mengatur arus ingesta ke omasum
4. Absorpsi hasil fermentasi
5. tempat berkumpulnya benda-benda asing
3) Omasum
Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku.
Ph omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan abomasums terdapat lubang
yang disebut omaso abomasal orifice.
Letak omasum di sebelah kanan (retikulum) disebelah rusuk 7-11. Omasum berbentuk
ellips. Permukaan dalam berbentuk laminae (perut buku) pada lamina terdapat papila untuk
absorpsi. Fungsinya sebagai grinder, filtering, fermentasi, absorpsi.
4) Abomasum
Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal
orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke omasum. Ph pada
abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Abomasum terletak dibagian kanan bawah
dan jika kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam, maka abomasum dapat berpindah kesebelah
kiri. Permukaan abomasum dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi
dinding sel tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan
pepsinogen dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl membentuk
pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik.
Letak obamasum pada dasar perut (kanan bawah) berbentuk memanjang. Bagian dalam
terdapat tonjolan (fold) yang berfungsi sebagai absorpsi.Terdiri 3 bagian yaitu kardia (sekresi
mucus), Fundika (pepsinogen, renin, HCl, mukus), Pilorika (sekresi mukus). Obamasum
berfungsi sebagai tempat permulaan pencernaan enzimatis (perut sejati) pencernaan protein
serta mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum
c. Usus Halus (Intestinum Tenue)
Usus halus berfungsi sebagai pencernaan enzimatis dan absorpsi. Kedalam usus halus
masuk 4 sekresi yakni :
 Cairan duodenum: alkalis, fosfor, buffer.
 Cairan empedu: dihasilkan hati, K dan Na (mengemulsikan lemak), mengaktifkan
lipase pankreas, zat warna.
 Cairan pankreas: ion bikarbinat untuk menetralisir asam lambung.
 Cairan usus
Usus halus terletak pada lengkungan duodenum. Untuk mensekresikan enzim:
o Amilase : alfa amilase, maltase, sukrase
o Protease : tripsinogen, kemotripsinogen,prokarboksi, peptidase
o Lipase : lipase, lesitinase, fosfolapase, kolesterol, esterase
o Nuklease: ribonuklease, deoksi ribonuklease
d. Sekum dan Kolon
Kolon berbentuk menyerupai tabung berstruktur sederhana, dengan kondisi mirip pada
rumen. Berfungsi sebagai tempat fermentasi oleh mikroba, Absorpsi VFA dan air, Konsentrasi
VFA: sekum: 7 mM, kolon: 60 mM (rumen = 100 – 150 mM)

2.2 Sistem Pencernaan Hewan Ruminansia


Untuk setiap aktivitas fisiologik/faali dalam tubuh mahluk hidup, khususnya manusia
dan hewan piara, misalnya aktivitas organ-organ tubuh, proses pertumbuhan, pemeliharaan
kondisi tubuh, proses kerja, proses produksi dan reproduksi, memerlukan sejumlah energi dan
zat makanan pembangun atau zat pemelihara tubuh. Energi dan zat makanan tersebut hanya
diperoleh dari pangan/pakan atau bahan makanan yang dikonsumsi yang dirombak dan diserap
dalam saluran pencernaan, kemudian dimetaboilsme dalam sel genap seperti sapi, kerbau,
domba, kambing, rusa, dan kijang yang merupakan subordo dari ordo Artiodactyla. Nama
ruminansia berasal dari bahasa Latin “ruminare” yang artinya mengunyah kembali atau
memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hewan memamah biak.
Ruminansia merupakan ternak masa depan yang mampu meningkatkan kesejahteraan manusia,
karena hanya hewan ini yang mampu dengan baik memanfaatkan bahan yang tidak dapat
dimanfaatkan oleh manusia. Hijauan seperti rumput atau limbah pertanian yang tidak dimakan
oleh manusia dapat dikonversikan ke dalam makanan bernilai gizi tinggi yang dapat
dikonsumsi oleh manusia. Ternak non ruminansia selain kuda dan kelinci, pada suatu saat akan
merupakan saingan manusia, karena pakan ternak tersebut juga merupakan makanan manusia.

Proses pencernaan pada ternak ruminansia dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Pencernaan Mekanik yang terjadi di dalam mulut .


2. Pencernaan Hidrolitik yang disebabkan oleh enzim pencernaan ternak itu sendiri .
3. Pencernaan Fermentatif yang dilakukan oleh mikroorganisme rumen

Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang
sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan
fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa
tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan
dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan
dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan
kembali untuk diteruskan ke omasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi
enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum,
yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara
kimiawi oleh enzim.

Selulase yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan merombak selulosa
menjadi asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di abomasum karena pH yang
sangat rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun dapat dicernakan untuk menjadi sumber
protein bagi hewan pemamah biak. Dengan demikian, hewan ini tidak memerlukan asam amino
esensial seperti pada manusia. Asam lemak serta protein inilah yang menjadi bahan baku
pembentukkan susu pada sapi. Nah, inilah alasan mengapa hanya dengan memakan rumput,
sapi dapat menghasilkan susu yang bermanfaat bagi manusia.

Agar supaya memperoleh gambaran yang jelas bagaimana dan di mana proses
pencernaan baik kimiawi maupun mekanis dan bagaimana ternak memanfaatkan bahan
makanan berserat kasar tinggi, perlu diketahui dahulu sistem pencernaan serta fungsi bagian-
bagian dari alat pencernaan tersebut, khususnya rumen, retikulum, omasum dan abomasum.
Struktur khusus sistem pencernaan hewan ruminansia:
1. Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan
seperti rumput.
2. Geraham belakang (Molar) memiliki bentuk datar dan lebar.
3. Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.
4. Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen, Retikulum, Omasum dan
Abomasum.
Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas
mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan kadang-
kadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.

Tabel 2.1 susunan gigi sapi :


3 3 - - - - - - Rahang atas
M P C I I C P M Jenis gigi
3 3 - 4 4 - 3 3 Rahang bawah

Keterangan :
I = insisivus = gigi seri
C = kaninus = gigi taring
P = premolar = geraham depan
M = molar = geraham belakang

Berdasarkan susunan gigi di atas, terlihat bahwa sapi (hewan memamah biak) tidak
mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih banyak
dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah makanan berserat,
yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50% selulosa.
Jika dibandingkan dengan kuda, faring pada sapi lebih pendek. Esofagus
(kerongkongan) pada sapi sangat pendek dan lebar serta lebih mampu berdilatasi (mernbesar).
Esofagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan sekitar 5 cm.
Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung
mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah
kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan fermentasi.
Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum,
omasum, danabomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan
alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%.
Pembagian ini terlihat dari bentuk tonjolan pada saat otot sfinkter berkontraksi.
Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti
pada sapi untuk fermentasi seluIosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilaksanakan
oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada
sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung. Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan
marmut lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada
sekum. Sedangkan pada sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan
sekum yang kedua-duanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.
Pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan kembali.
Kotoran yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan, yang akan
dicernakan lagi oleh kelinci.
Sekum pada pemakan tumbuh-tumbuhan lebih besar dibandingkan dengan sekum
karnivora. Hal itu disebabkan karena makanan herbivora bervolume besar dan proses
pencernaannya berat, sedangkan pada karnivora volume makanan kecil dan
pencernaan berlangsung dengan cepat.
Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal itu
dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa). Enzim selulase
yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam
lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH4 yang dapat digunakan sebagai
sumber energi alternatif. Tidak tertutup kemungkinan bakteri yang ada di sekum akan keluar
dari tubuh organisme bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang mengandung
bahan organik akan diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).

2.3 Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Hewan Non Ruminansia


Saluran pencernaan non ruminansia. Pada ternak non ruminansia atau hewan yang
mempunyai labung tunggal alat pencernaanya terdiri dari :
a. Mulut ( cawar oris )
b. Tekak ( pharing )
c. Kerongkongan ( esophagus )
d. Gastrium ( lambung )
e. Intestinum tenue ( usus halus: duodenum, ileum ,jejunum ) usus kasar ( caecum dan
rektum)
f. Anus

Saluran pencernaan ini dinamakan dengan monogastrik, pada jenis hewan non
ruminansia saluran pencernaanya mempunyai beberapa perbedaan dalam bentuk anatominya
dengan hewan monogastrik lainnya, tetapi fungsinya secara umum dapat di katakana hampir
sama, sedangkan pada hewan ruminansia lebih komleks.
Perbedaan kebutuhan zat makanan hewan ruminansia dan non ruminansia pada
kebutuhan pakan atau sering juga diberi istilah dengan standar kebutuhan zat-zat makanan pada
hewan ruminansia sering menggunakan satuan yang beragam, misalnya untuk kebutuhan
energi dipakai Total Digestible Nutrient (TDN), Metabolizable Energy (ME) atau Net Energy
(NEl) sedangkan untuk kebutuhan protein dipakai nilai Protein Kasar (PK), PK tercerna atau
kombinasi dari nilai degradasi protein di rumen atau protein yang tak terdegradasi di rumen.
Istilah STANDAR didefinisikan sebagai dasar kebutuhan yang dihubungkan dengan fungsi
aktif (status faali) dari hewan tersebut.

2.4 Sistem Pencernaan Hewan Non Ruminansia


Mulut
Prehensi adalah menyenggut dan membawa pakan ke dalam mulut dengan bibir atas
yang sensitif dan dapat bergerak (Bradley, 1981). Selanjutnya, dengan aksi itu kuda dapat
menyenggut rumput hingga hampir pada tanah dan dapat memilih hay dari palung dengan
tangkas. Saliva disekresikan oleh 3 kelenjar saliva di dalam mulut, sebagian besar terdiri dari
air, 1% garam anorganik dan sangat sedikit amilase (Bradley, 1981). Selanjutnya, saliva
membasahi dan melumasi pakan untuk penelanan. Selama pengunyahan, hay menyerap saliva
sebanyak empat kali beratnya. Kuda menghasilkan sejumlah besar saliva ketika makan.
Pharynx
Pharynx terletak di bagian bawah mulut kuda tempat saluran pencernaan dan
pernafasan berseberangan (Bradley, 1981). Selanjutnya, fungsinya untuk mengarahkan pakan
ke dalam esofagus. Bila sudah di dalam pharynx, pakan dan air minum tidak dapat kembali ke
mulut karena aksi menutup langit-langit mulut yang lunak, epiglottis pada saat yang
sama mencegah masuknya pakan ke dalam paru-paru. Kuda tidak dapat bernafas melalui
mulut, dan hanya pada kondisi ekstrem dapat muntah.
Esofagus
Esofagus adalah pipa otot sepanjang 4 hingga 5 feet merentang antara mulut, turun pada
sisi kiri leher, melalui diafragma, menuju lambung (Bradley, 1981). Selanjutnya, esofagus
mengarahkan pakan dan air menuju lambung dengan gelombang otot yang disebut peristalsis.
Gelombang itu umumnya tidak dapat membalik, menguatkan alasan bahwa kuda tidak dapat
muntah dengan mudah. Juga tidak ada kuda yang membuang tekanan gas dengan bersendawa,
suatu mekanisme untuk mengatasi kasus kolik. Kuda yang makan biji-bijian dengan rakus
dapat tercekik di esofagus.
Lambung
Lambung adalah kantung berbentuk huruf U dekat diafragma pada bagian depan rongga
perut (Bradley, 1981). Selanjutnya, suatu otot yang kuat (sphincter) mengatur
pembukaan esofagus ke dalam lambung yang menjadikan muntah hampir tidak mungkin.
Lambung kuda termasuk kecil dibanding hewan lainnya, kapasitasnya 2-4 gallon (7,57-15,14
l; 1 gallon = 3,785 L). Karena pakan dengan cepat melalui lambung, sering memberi pakan
(dua atau tiga kali sehari) lebih efisien dan lebih memuaskan selera pakan kuda.
Lambung berperan sebagai reservoir (waduk atau tandon) bagi pakan yang ditelan
untuk menjadi sasaran pencernaan lambung (Chambliss, 2002). Selanjutnya, getah pencernaan
disekresikan oleh sejumlah kelenjar dalam membran mukosa lambung, mengandung asam HCl
dan dua enzim, pepsin dan lipase. HCl berperan mengaktifkan pepsin dengan menetapkan
konsentrasi ion hidrogen yang cocok (pH) yang memungkinkan pepsin merubah protein
menjadi proteosa dan pepton. Pemecahan lengkap kedua senyawa itu menjadi asam-asam
amino terjadi kemudian di usus kecil. Pepsin adalah suatu proteasa, suatu enzim yang
membantu mencerna protein menjadi asam-asam amino. Lipase membantu mencerna lemak
menjadi asam-asam lemak dan giserol, yang diabsorpsi dan digunakan sebagai energi seperti
gula sederhana.
Ketika menerima pakan 2/3 isi, lambung mulai melewatkan pakan ke dalam usus kecil
dan terus terjadi selama makan dilanjutkan (Bradley, 1981). Selanjutnya, bila terlalu banyak
makan pada suatu waktu, pakan meninggalkan lambung tanpa aksi pencernaan yang cukup
menyebabkan penurunan efisiensi pencernaan.
Bila hewan terkurung dan makan pakan kering dan disediakan air di dekatnya, hewan
melangkah tergesa antara pakan dan air, dan makan lebih banyak bila air tersedia (Bradley,
1981). Selanjutnya, ketika air diminum dalam jumlah sedikit, air mungkin membantu salivasi
dan proses pencernaan. Lambung adalah tempat terjadinya kelainan pencernaan yang
disebabkan oleh pakan berjamur, masa tanah yang halus, perubahan pakan mendadak, dan
situasi makan banyak (pesta) dan kelaparan. Lambung sebaiknya dijaga relatif bebas parasit.
Usus kecil
Usus kecil adalah pipa 2 inch (5,08 cm) sepanjang 70 foot (21,34 m) dengan kapasitas
12 gallon (45,42 l) dan menghubungkan lambung dengan usus besar (Bradley, 1981).
Selanjutnya, usus ini melipat dan menggulung berkaki-kali. Usus kecil dan usus besar
tergantung pada daerah pinggang dengan suatu membran berbentuk kipas yang
disebut mesentery. Aliran darah masuk pada tangkai kipas dekat pinggang melalui
arteri mesentery besar. Lokasi ini tempat cacing darah meletakkan diri dan makan,
menyebabkan aneurysm (bekuan darah) yanmengurangi aliran darah. Pada usus yang
menyebabkan colic (mulas/sakit perut) dan sering kematian. Program kontrol parasit yang baik
menghilangkan risiko tersebut.
Usus kecil dengan organ pelengkapnya, pankreas dan hati, menyediakan sebagian besar
enzim pencernaan (Cunha, 1978). Selanjutnya, peristalsis dinding usus menjamin
pencampuran sebagian besar campuran cairan yang dikandungnya. Getah pankreas
mengandung enzim tripsin, lipase pankreas, dan amilase. Tripsin mengkonversi protein dan
peptida menjadi asam-asam amino yang diabsorpsi oleh usus kecil dan diambil oleh aliran
darah menuju tempat yang membutuhkan, misalnya otot-otot pada kuda-kuda yang sedang
tumbuh dan kelenjar susu pada induk laktasi. Lipase pankreas menghidrolisa lemak menjadi
gliserol dan asam-asam lemak, dan amilase pankreas memecah pati menjadi maltosa, suatu
gula sederhana yang mudah dicerna.
Hati mensekresikan empedu, yang membantu pemecahan lemak, membantu absorpsi
asam lemak, dan mengaktifkan lipase pankreas (Bradley, 1981). Selanjutnya, villi, tonjolan-
tonjolan kecil dalam usus kecil, menambah permukaan usus kecil untuk absorpsi nutrien-
nutrien pokok seperti gula sederhana, asam-asam lemak, asam-asam amino, mineral-mineral,
dan vitamin-vitamin ke dalam aliran darah. Villi yang rusak disebabkan oleh kerja parasit pada
awal kehidupannmungkin mengandung jaringan konektif yang mempengaruhi pencernaan
selanjutnya.
Usus besar
Usus besar terdiri dari sekum, colon besar, colon kecil, rektum, dan anus, membawa
material yang tidak tercerna dari usus kecil menuju anus untuk eliminasi dan mengadakan
fungsi-fungsi penting (Bradley, 1981). Selanjutnya, Dengan kombinasi kapasitas 30-
35 gallon (113,55-132,47 l) dan panjang 26-30 foot (7,92-9,14 m) adalah tempat bakteri
beraksi; selulosa, pati, dan gula dicerna menjadi volatile fatty acids, yang kemungkinan
menyediakan energi seperempat dari energi yang digunakan seekor kuda. Sebagai tambahan
yang menguntungkan, aksi bakteri dalam kuda dewasa yang sehat menghasilkan vitamin B
yang dibutuhkan setiap hari, kecuali pada kondisi sangat stres.
Produksi asam-asam amino terjadi di usus besar, tetapi kontribusinya bagi kebutuhan
protein kuda relatif kecil dibandingkan produksi asam lemak untuk energi (Bradley, 1981).
Selanjutnya, sekum adalah tempat utama untuk absorsi air. Untuk penggunaan pakan kasar
(hay) lebih baik, lewatnya pakan kasar melalui sekum dan kolon besar diperlambat, tergantung
tingkat kandungan serat dan jumlah ketersediaan air. Penggunaan hay berkualitas rendah yang
pemotongannya terlambat (serat tinggi) tanpa air cukup kadang-kadang menyebabkan
penjepitan kolon besar atau kolon kecil, dan kadang-kadang rektum, menyebabkan kolik.
Usus terpelintir dapat disebabkan makan terlalu banyak kemudian segera bekerja keras,
atau pemutaran akibat parasit menyebabkan kolik (Cunha, 1991). Selanjutnya, pencegahannya
terdiri dari pemberian pakan berkualitas, air minum bersih melimpah, dan program pencegahan
parasit yang baik, dan berhati-hati pada saat mempekerjakan kuda. Nutrien dalam darah dari
usus dibawa melalui vena portal langsung ke hati, tempat nutrien diproses secara kimia
sebagaimana yang diperlukan untuk digunakan pada bagian lain tubuh.
Rektum menghubungkan kolon kecil pada anus dan menerima feces yang terbentuk
menjadi bola-bola oleh kolon kecil dan dikeluarkan melalui anus (Bradley, 1981). Selanjutnya,
ada 40-50 pounds (18,14-22,68 kg; 1 pound = 0,4536 kg) dikeluarkan 8-12 kali setiap hari oleh
kuda yang makan pakan standar terdiri dari biji-bijian dan hay. Bentuk, ukuran, dan konsistensi
(kepadatan)feces menunjukkan kesehatan kuda secara umum. Bila feces kering dan keras,
kuda kekurangan air atau protein. Jika feceslembek, kuda mungkin sakit atau mengkonsumsi
pakan yang terlalu menyerap air. Proses pakan dari mulut ke anus memerlukan waktu 70 jam.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Saluran pencernaan ruminansia Saluran pencernaan non ruminansia

Ruminansia merupakan hewan yang Non-ruminansia merupakan yang tidak bisa


dapat memuntahkan pakan dari memuntahkan kembali pakan yang sudah berada
lambung ke mulut untuk dikunyah didalam lambung untuk dikunyah kembali. Selain
kembali (dibaca: regurgitasi). Selain itu, itu, ternak non-ruminansia juga tergolong pada
ternak ruminansia juga merupakan ternak monogastrik, yaitu ternak yang memiliki
ternak yang memiliki sistem lambung tunggal. Dimana, sistem perncernaannya
pencernaan yang sempurna. Karena tidak sempurna dibandingkan dengan ternak
makanan utama dari ternak ruminansia ruminansia.
adalah pakan yang berserat kasar tinggi
(sulit untuk dicerna) dapat dicerna
dengan baik, contohnya rumput.
Ruminansia juga termasuk dalam
golongan hewan poligastrik, karena
memiliki lambung jamak (banyak),
yaitu rumen, retikulum, omasum, dan
abomasum.
Daftar Pustaka

Aurora, S .P . 1989 . Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia Srigondo, B (ed), Gajah Mada
University Press .

Blakely, J. and H.B. David. 1991. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. Gajah Mada University
Press, Yogyakarta

Chambliss, C. G. and E. L. Jhonson. 2002. Pastures and Forages Crops for Horses. In: C.G.
Chambliss (Ed.). Florida Forage Handbook. Institute of Food and Agricultural
Sciences, University of Florida.

Cunha, T. J., 1991. Feeding and Nutrition Horse. 2nd Edition. Academic Press Inc. San Diego.
California.

NRC. 1978. Nutrient Requirements of Horse. Fourth Revised Edition. National Academy of
Sciences, Institute of Medicine, USA.