Anda di halaman 1dari 28

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

MAKALAH

diajukan sebagai salah satu syarat tugas PKKMP masuk HIMIKAN yang dibina

oleh akang/teteh himpunan

Muhammad Heffiqri Riady

230110150201

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

SUMEDANG

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt yang telah melimpahkan

hidayah dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang

berjudul “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan”.

Dalam kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan penghargaan

dan terima kasih setinggi-tingginya kepada dosen yang terhormat. Keluarga yang

selalu memberikan waktu, kepercayaan, kasih sayang, dan doa. Selain itu, pihak

lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Karena adanya pihak-pihak

tersebut, penulis dapat memacu untuk segera menyelenggarakan tugas belajar ini.

Semoga makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Setiap saran, kritik, dan komentar sangat penulis harapkan untuk meningkatkan

kualitas makalah semacam ini di masa akan datang.

Sumedang, 9 April 2016

Muhammad Heffiqri Riady

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................... 1

Daftar

Isi..............................................................................................................................2

Bab I ........................................................................................................................ 4

Pendahuluan ............................................................................................................ 4

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 5

1.3 Tujuan ....................................................................................................... 6

1.4 Manfaat ..................................................................................................... 6

Bab II....................................................................................................................... 7

Pembahasan ............................................................................................................. 7

2.1 Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan(AMDAL) .............. 7

2.2 Tujuan AMDAL ....................................................................................... 8

2.3 Manfaat AMDAL ..................................................................................... 8

2.4 Peranan AMDAL Dalam Perencanaan Pembangunan ........................... 10

2.5 Prosedur Analisis Mengenai Dampak Lingkungan ................................ 12

2.5.1 Proses Penapisan (Screening) Wajib AMDAL............................... 12

2.5.2 Pelingkupan ..................................................................................... 13

2.5.3 Kerangka Acuan .............................................................................. 13

2
2.6 ANDAL .................................................................................................. 15

2.6.1 Rencana Pengelolaan Lingkungan Dan Rencana Pemantauan

Lingkungan.....................................................................................................16

2.6.2 Pelaporan ......................................................................................... 16

2.6.3 Penyusunan AMDAL ...................................................................... 18

2.6.4 Pihak Yang Terkait Proses AMDAL .............................................. 18

2.7 Pengertian UKl Dan UPL ........................................................................... 19

2.8 Perkembangan AMDAL Sosial .............................................................. 22

2.8.1 Halangan Dan Penyimpangan Pelaksanaan AMDAL Di Medan ... 23

Bab III ................................................................................................................... 25

Penutup.................................................................................................................. 25

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 25

3.2 Saran ............................................................................................................ 26

Daftar Pustaka ....................................................................................................... 27

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk hidup senantiasa selalu ingin hidup lebih baik dan

lebih baik lagi setiap harinya, manusia juga berinteraksi dengan lingkungan

hidupnya. Ia mempengaruhi lingkungan hidupnya dan sebaliknya juga ia dapat

dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Makhluk hidup yang sesuai dan cocok

dengan lingkunganya akan tetap bisa hidup dan berkembang biak, lain hal-nya

dengan makhluk hidup yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkunganya ia

akan mati dan tidak akan bisa berkembang biak (musnah), dan ini dinamakan

seleksi alam. “Manusia modern terbentuk oleh lingkungan hidupnya dan juga

membentuk lingkungan hidupnya, manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa atau di

luar lingkungan hidupnya. Membicarakan manusia harus pula membicarakan

lingkungan hidupnya. Manusia tanpa lingkungan hidupnya hanyalah abstraksi

semata”. (Otto Soemarwoto:18).

Dari uraian singkat diatas jelaslah bahwa manusia itu sangat tergantung

dengan lingkungan hidupnya, kelangsungan hidupnya tergantung dari sebagaimana

bisa ia menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan hidupnya, dan saat terjadi

4
perubahan yang dahsyat dari lingkungan hidupnya itu akan mengancam

kelangsungan hidupnya juga.

Seiring berjalanya waktu banyak pembangunan – pembangunan yang

manusia buat sendiri dan itu secara tidak langsung membuat perubahan juga

terhadap lingkungan hidupnya, manusia sebisa mungkin memanfaatkan sumber

daya alam yang ada untuk kelangsungan hidupnya yang lebih baik lagi dari

sebelumnya. Pola pemanfaatan sumberdaya alam harus memberi kesempatan dan

peran serta aktif masyarakat, serta memikirkan dampak – dampak yang timbul

akibat pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Untuk itu di perlukan suatu

pemahaman yang cukup dalam menganalisis mengenai dampak tehadap

lingkungan.

Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri perlu dikendalikan

untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak daerah antara lain

pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak memenuhi persyaratan teknis

dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan

pertanian, penangkapan ikan dan pengelolaan hutan yang mengabaikan daya

dukung dan daya tampung lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan analisis mengenai dampak lingkungan atau

AMDAL?

5
2. Bagaimana proses analisis mengenai dampak lingkungan atau AMDAL itu?

1.3 Tujuan

1. Mengatahui tentang apa itu analisis mengenai dampak lingkungan atau

AMDAL.

2. Mengetahui tentang bagaimana proses analisis mengenai dampak lingkungan

atau AMDAL.

1.4 Manfaat

1. Bagi penulis dapat dijadikan ilmu dalam kehidupan terutama dalam mengetahui

tentang apa dan bagaimana AMDAL.

2. Bagi pembaca diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang apa dan

bagaimana AMDAL.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan(AMDAL)

Amdal adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan

keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup

yang diperlukan proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha

dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No.27 tahun 1999 tentang Analisis

Mengenai Dampak Lingkungan).

AMDAL sendiri merupakan suatu kajian mengenai dampak positif dan

negatif dari kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam memutuskan apakah

suatu kegiatan/proyek Iayak atau tidak Iayak Iingkungan. Kajian dampak positif

dan negatif tersebut biasanya disusun dengan mempertimbangkan aspek fisik,

kimia, biologi, sosial-ekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat.Suatu

rencana kegiatan dapat dinyatakan tidak layak lingkungan, jika berdasarkan hasil

kajian AMDAL, dampak negatif yang timbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh

teknologi yang tersedia.

Demikian juga, jika biaya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak

negatif Iebih besar daripada manfaat dari dampak positif yang akan ditimbulkan,

maka rencana kegiatan tersebut dinyatakan tidak layak lingkungan. Suatu rencana

7
kegiatan yang diputuskan tidak Iayak Iingkungan tidak dapat dilanjutkan

pembangunannya.

2.2 Tujuan AMDAL

Secara umum tujuan AMDAL adalah : Menjaga dan meningkatkan kualitas

lingkungan Anekan pencemaran sehingga dampak negatifnya menjadi serendah

mungkin. Dalam pelaksanaannya yang menjadi tujuan AMDAL yaitu :

1. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah.

2. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan

hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

3. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantau

lingkungan hidup.

4. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu

rencana usaha dan atau kegiatan.

5. Memberikan alternatif solusi minimalisasi dampak negatif

6. Digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberi

ijin usaha dan/atau kegiatan. (http://ml.scribd.com/doc/49530355/Tujuan-

AMDAL, diakses tanggal 14 September 2012).

2.3 Manfaat AMDAL

Manfaat atau guna AMDAL. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan

dengan mengikuti Porsedur AMDAL yang benar. Berikut ini beberapa secara

umum manfaat yang bisa diperoleh dari adanya AMDAL:

8
1. Sebagai materi/bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah.

2. Membantu proses pengambilan keputusan yang benar tentang kelayakan

lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan/program.

3. Memberi masukan guna penyusunan disain secara rinci teknis dari rencana

usaha dan/atau kegiatan.

4. Memberi masukan bagi penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan

lingkungan hidup.

5. Memberi informasi bagi masyarakat umum atas dampak yang ditimbulkan

dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan.

6. AMDAL memberikan alternatif solusi minimalisasi dampaktidak baik

(negatif).

7. AMDAL digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan

atau pemberian ijin usaha dan/atau kegiatan.

 Bagi pemerintahan, AMDAL sendiri bermanfaat untuk:

1. Mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta

pemborosan sumber daya alam secara lebih luas. Menghindari timbulnya

konflik dengan masyarakat dan kegiatan lain di sekitarnya.

2. Menjaga agar pelaksanaan pembangunan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip

pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Perwujudan

tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan.

9
2.4 Peranan AMDAL Dalam Perencanaan Pembangunan

Adanya pembangunan ialah karena adanya kebutuhan untuk menaikan

kesejahteraan rakyat. Pembangunan itu dijabarkan ke dalam program dalam

berbagai bidang yang selanjutnya dirinci ke dalam berbagai proyek. Walaupun

AMDAL dapat juga digunakan untuk menganalisis dampak yang diprakirakan akan

ditimbulkan oleh program, namun pada umumnya AMDAL digunakan pada tingkat

proyek. Hal ini disebabkan karena AMDAL untuk program lebih sulit

pelaksanaanya dari pada untuk proyek. Padahal AMDAL untuk proyek pun sudah

sulit. Sebab kesulitan pada AMDAL untuk program ialah uraian program belumlah

terinci, bidangnya adalah luas dan daerah yang dijangkau pun sering luas. Sebagai

contoh ialah program transmigrasi, program intensfikasi produksi pangan dan

program pemberantasan penyakit malaria. Ketiga program ini meliputi daerah

seluruh Indonesia yang mempunyai kondisi lingkungan yang sangat bervariasi.

Jelaslah betapa sulitnya untuk membuat AMDAL untuk ketiga program tersebut.

AMDAL untuk daerah yang luas itu dapat menggunakan AMDAL kawasan dan

AMDAL regional.

Akan lebih mudahlah untuk, misalnya, membuat AMDAL untuk perencanaan

intensifiasi produksi ubi jalar dikabupaten Jaya Wijaya, Irian Jaya, perencanaan

transmigrasi penduduk dari daerah Cirata Jawa Barat, ke daerah Sintang,

Kalimantan Barat, dan perencanaan pemberantasan penyakit Mlaria dikecamatan

Wonodadi, Banjarnegara. Walaupun demikian AMDAL untuk program tidaklah

boleh diabaikan. Sebab dapat saja terjadi dampak dari suatu proyek yang

10
merupakan bagian program tidaklah besar, tetapi dampak kumulatif program

tersebut dapatlah sangat besar. Sebagai contoh ialah program introduksi huller ke

desa-desa. Dampak yang ditimbulkan oleh proyek satu atau dua huller disebuah

desa tidaklah besar. Akan tetapi dampak introduksi huller di beribu – ribu desa di

seluruh Indonesia sangatlah besar. Beratus ribu wanita telah kehilangan pekerjaan

tambahanya sebagai penumbuk padi. Oleh karena itu sangatlah penting untuk

dilakukan penelitian untuk mengembangkan teknik AMDAL untuk program. (Otto

Soemarwoto,1997:51).

Pengalaman menunjukan, AMDAL hingga sekarang masih belum efektif

digunakan dalam proses perencanaan. Sebab – sebab penting tidak efektifnya

AMDAL adalah pelaksanaan AMDAL yang terlambat, sehingga tidak dapat lagi

mempengaruhi proses perencanaan tanpa menyebabkan penundaan pelaksanaan

program atau proyek dan menaikan biaya proyek. Kurangnya pengertian dari

sementara pihak tentang arti dan peranan AMDAL, sehingga AMDAL

dilaksanakan hanya sekedar untuk memenuhi peraturan undang-undang atau

bahkan disalahgunakan untuk membenarkan suatu proyek, belum cukup

berkembangnya teknik AMDAL untuk dapat dibuatnya AMDAL yang relevan dan

dengan rekomendasi yang spesifik dan jelas.

Tujuan jangka panjang kita bukanlah untuk memperkuat lembaga AMDAL,

melainkan justru untuk mengeliminasinya dengan makin mengurangi kebutuhan

akan AMDAL. Sebagai proses terpisah dan mengintegrasikan pertimbangan

11
lingkungan yang holistik sebagai bagian internal proses perencanaan yang

berwawasan lingkungan. (Otto Soemarwoto, 1997:72).

2.5 Prosedur Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

2.5.1 Proses Penapisan (Screening) Wajib AMDAL

Penapisan bertujuan untuk memilih rencana pembangunan mana yang harus

dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Langkah ini sangat

penting untuk pemrakarsa untuk dapatmengetahui sedini mungkin apakah

proyeknya akan terkena AMDAL. Hal ini berkenaan dengan rencana anggaran dan

waktu.

Seperti diamanatkan dalam pasal 16 Undang-undang No.4 tahun 1982, hanya

rencana proyek yang diprakirakan akan mempunyai dampak penting terhadap

lingkungan saja yang diwajibkan untuk dilengkapi dengan analisis mengenai

dampak lingkungan. Dengan penapisan ini diharapkan kepeduliaan kita terhadap

lingkungan tidak akan mengakibatkan bertambahnya waktu, tenaga dan biaya yang

berlebihan yang diperlukan untuk pembanguna.

Dalam keadaan ekstrem penentuan diperlukan atau tidak diperlukanya

AMDAL adalah mudah. Misalnya, rencana untuk mendirikan sebuah gedung

sekolah dasar jelaslah tidak memerlukan AMDAL. Sebaliknya, rencana untuk

membangun sebuah Pusat Listrik Tenaga Nuklir jelas memerlukan AMDAL. Yang

sulit ialah untuk menentukan diperlukan atau tidak diperlukanya AMDAL untuk

rencana proyek yang ada diantara kedua ekstrem tersebut. Di Indonesia penapisan

12
dilakukan dengan daftar positif seperti ditentukan dalam keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup Kepmen-11/MENLH/4/1994.

2.5.2 Pelingkupan

Pelingkupan (scoping) ialah penentuan ruang lingkup studi ANDAL, yaitu

bagian AMDAL yang terdiri atas identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak.

Pelingkupan ANDAL nampaknya adalah suatu hal yang lumrah yang tidak perlu

dibicarakan. Semua mahasiswa dipelajari melakukan pembatasan ruang lingkup

permasalahan pada waktu mendapatkan tugas membuat makalah dan skripsi.

Akan tetapi jika kita lihat laporan AMDAL, didalam maupun diluar negeri,

batas penelitianya sering tidak jelas. Fokusnya kabur. Sebab terjadinya kekaburan

batas dan fokus itu ialah keharusan dilakukanya ANDAL secara komprehensif. Di

Amerika Serikat, tempat lahirnya AMDAL, laporan AMDAL dapat ditelaah oleh

umum, baik pakar maupun orang awam. Untuk dapat melakukan pelingkupan

haruslah dilakukan identifikasi dampak. Pada tahap pertama diusahakan untuk

mengidentifikasi dampak selengkapnya. Dari semua dampak yang teridentifikasi

ini kemudian ditentukan dampak mana yang penting. Dampak penting inilah yang

dimasukkan ke dalam ruang lingkup studi ANDAL, sedangkan dampak yang tidak

penting dikeluarkan.

2.5.3 Kerangka Acuan

Kerangka acuan ialah uraian tugas yang harus dilakukan dalam studi

ANDAL. Kerangka acuan dijabarkan dari pelingkupan sehingga KA memuat tugas-

13
tugas yang releven dengan dampak penting. Dengan KA yang demikian itu studi

ANDAL menjadi terfokus pada dampak penting.

Karena KA didasarkan pada pelingkupan dan pelingkupan mengharuskan

adanya identifikasi dampak penting maka pemrakarsa haruslah mempunyai

kemampuan untuk melakukan identifikasi dampak penting itu, baik sendiri ataupun

dengan bantuan konsultan.

Di dalam studi ANDAL dilakukan pula identifikasi dampak. Jika pelaksana

ANDAL adalah konsultan yang membantu pemrakarsa dalam penyusunan KA,

tidaklah akan terjadi perbedaan antara dampak penting yang diidentifikasikanya

dengan yang tertera dalam KA. Tetapi jika konsultanya lain, dapatlah terjadi bahwa

dalam proses identifikasi dampak itu dapat terjadi teridentifikasinya dampak

penting yang tidak termuat dalam KA. Dalam hal ini konsultan ANDAL

seyogyanya merundingkan dengan pihak pemrakarsa agar dilakukan pekerjaan-

tambah.

Sebaliknya juga dapat terjadi adanya dampak yang semula dianggap sebagai

penting dan karena itu dimuat dalam KA. Tetapi kemudian ternyata tidak penting.

Dalam hal ini seyogyamya diusulkan untuk dilakukan pekerjaan-kurang. Karena

menurut Kepmen KA harus disetujui oleh instansi yang berwenang, maka baik

dalam hal pekerjaan-kurang maupun pekerjaan-tambah persetujuan haruslah

bersifat resmi yang disetujui tidak saja oleh pemrakarsa, melainkan juga oleh

instansi yang berwenang.

14
2.6 ANDAL

Di dalam studi ANDAL hanya diprakirakan dan dievaluasi dampak penting

yang teridentifikasi dalam pelingkupan dan tertera dalam KA sehingga penelitian

ANDAL terfokus pada dampak penting saja. Dampak yang tidak penting diabaikan.

Dengan penelitian yang terfokus perhitungan untuk memprakirakan besarnya dan

pentingnya dampak juga menjadi terbatas. Besarnya dampak haruslah diprakirakan

dengan menggunakan metode yang sesuai dalam bidang yang bersangkutan.

Metode itu mungkin telah ada, tetapi mungkin juga harus dikembangkan atau

dimodifikasi dari metode yang ada.

Dalam hal ini diperlukan pakar yang menguasai bidang yang diliput dalam

AMDAL tertentu. Pakar itu tidaklah perlu untuk bekerja sepanjang pelaksanaa

AMDAL, melainkan cukup untuk periode tertentu saja pada waktu tenaga dan

keahlianya diperlukan. Pakar tidak perlu mempunyai sertifikat A dan B kursus

AMDAL, jadi pakar tersebut merupakan masukan untuk digunakan oleh ketua

gugus kerja dalam penyusunan AMDAL. Ketua ini dan seyogyanya juga wakil

ketualah yang harus mempunyai pengalaman dalam pelaksanaan dan penyusunan

AMDAL. Pengalaman ini harus dibuktikan dengan riwayat hidup mereka.

Sebaiknya pengalaman lebih dipentingkan dari pada sertifikat kursus AMDAL,

karena seseorang yang mempunyai sertifikat tapi tidak berpengalaman

kementakanya adalah kecil dapat membuat AMDAL yang baik.

15
2.6.1 Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan

Lingkungan

Dalam pengelolaan lingkungan pemantauan merupakan komponen yang

esensial. diperlukan sebagai sarana untuk memeriksa apakah persyaratan

lingkungan dipatuhi dalam pelaksanaan proyek. Informasi yang didapatkan dari

pemantauan juga berguna sebagai peringatan dini, baik dalam arti positif maupun

negatif, tentang perubahan lingkungan yang mendekati atau melampaui nilai

ambang batas serta tindakan apa yang perlu diambil. Juga untuk mengetahui apakah

prakiraan yang dibuat dalam ANDAL, sesuai dengan dampak yang terjadi. Karena

itu pemantauan sering juga disebut post-audit dan berguna sebagai masukan untuk

memperbaiki ANDAL di kemudian hari dan untuk perbaikan kebijaksanaan

lingkungan.

Seperti halnya metode prakiraan dampak, metode untuk pengelolaan dan

pemantauan dampak juga harus kita pinjam dari bidang yang bersangkutan atau

harus kita kembangkan sesuai dengan kaidah bidang yang bersangkutan.

2.6.2 Pelaporan

Pada akhirnya setelah semua pekerjaan itu selesai ditulislah hasil penelitian

dalam laporan. Pada umumnya laporan terdiri atas tiga bagian, yaitu ringkasan

eksekutif, laporan utama, dan lampiran. Pembagian dalam tiga bagian mempunyai

maksud untuk dapat mencapai dua sasaran kelompok pembaca. Sasaran pertama

adalah para pengambil keputusan pada pihak pemrakarsa (direktur dan direktur

utama) maupun pemerintah (direktur, direktur jenderal, dan menteri) yang

16
berkepentingan dengan proyek tersebut. Para pengambil keputusan ini sibuk dan

tidak mempunyai waktu untuk mempelajari laporan yang terperinci. Dan memang

tugas mereka bukanlah untuk melihat rincian, melainkan untuk melihat pokok-

pokok permasalahan. Bgi merekalah diperuntukan ringkasan eksekutif. Laporan ini

singkat dan berisi pokok permasalahan, cara pemecahanya dan rekomendasi

tindakan yang harus diambil. Bahasa laporan harus sederhana dan mudah

dimengerti , juga perlu dengan tabel dan grafikringkasan. Bahasa ilmiah dihindari,

panjang laporan sekitar 10 laman dan seyogyanya tidak lebih dari 20 halaman.

Laporan utama diperuntukan bagi para pelaksana proyek dan teknisi yang

memerlukan keterangan terinci. Laporan harus dapat dipertanggung jawabkan

secara ilmiah, baik isi maupun format, dengan bahasa yang harus dapat dimengerti

dengan mudah oleh pakar dalam bidang yang berbeda-beda. Hal ini mengingat

AMDAL bersifat lintas sektroal dan harus dipelajari oleh pakar dalam berbagai

bidang.

Suatu tantangan dalam metode penulisan laporan adalah untuk membuat

bagian-bagian dalam berbagai bidang menjadi satu kesatuan yang koheren, yaitu

terintegrasi. Yang sering terjadi adalah penelitian AMDAL yang bersifat

multidisiplin menghasilkan laporan yang terdiri atas bab-bab dalam berbagai

bidang yang berdiri sendiri-sendiri. Di sini pulalah yang letak bahaya tidak

terintegrasinya ANDAL dengan RKL dan RPL. (Otto Soemarwoto, 2007:81).

17
2.6.3 Penyusunan AMDAL

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha

dan/atau kegiatan Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta

jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun dokumen

AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya.

Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL diatur dalam

Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.

2.6.4 Pihak yang Terkait Proses AMDAL

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi Penilai

AMDAL, pemrakarsa, dan masyarakat yang berkepentingan. Komisi Penilai

AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL. Di tingkat pusat

berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup, di tingkat Propinsi

berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Propinsi, dan di

tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan

hidup Kabupaten/Kota. Unsur pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga

masyarakat yang terkena dampak diusahakan terwakili di dalam Komisi Penilai ini.

Tata kerja dan komposisi keanggotaan Komisi Penilai AMDAL ini diatur dalam

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sementara anggota-anggota Komisi

Penilai AMDAL di propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur dan

Bupati/Walikota.

Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas

suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

18
Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala

bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain

sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan,

faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial budaya, perhatian pada

lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya.

Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi

masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.

(http://www.bplhdjabar.go.id › Current Users, diakses tanggal 14 September

2012).

2.7 Pengertian UKL dan UPL

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan

Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan

pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang tidak

wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor

86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan

Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).

Kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan

upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan. Kewajiban

UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL

dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan teknologi yang tersedia.

UKL-UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan

19
keputusan dan dasar untuk menerbitkan ijin melakukan usaha dan atau kegiatan.

Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi dengan

menggunakan formulir isian yang berisi :

1. Identitas pemrakarsa

2. Rencana Usaha dan/atau kegiatan

3. Dampak Lingkungan yang akan terjadi

4. Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup

 Tanda tangan dan cap formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :

1. Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup

Kabupaten/Kota untuk kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah

kabupaten/kota

2. Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup

Propinsi untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota

3. Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan

pengendalian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari

satu propinsi atau lintas batas negara.

4. Apa kaitan Amdal dengan dokumen atau kajian lingkungan lainnya ?

AMDAL-UKL/UPL

Rencana kegiatan yang sudah ditetapkan wajib menyusun AMDAL tidak lagi

diwajibkan menyusun UKL-UPL (lihat penapisan Keputusan Menteri LH

17/2001). UKL-UPL dikenakan bagi kegiatan yang telah diketahui teknologi dalam

20
pengelolaan limbahnya.AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Wajib bagi

kegiatan yang telah berjalan dan belum memiliki dokumen pengelolaan lingkungan

hidup (RKL-RPL) sehingga dalam operasionalnya menyalahi peraturan

perundangan di bidang lingkungan hidup, maka kegiatan tersebut tidak bisa

dikenakan kewajiban AMDAL, untuk kasus seperti ini kegiatan tersebut dikenakan

Audit Lingkungan Hidup Wajib sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup

Nomor 30 tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan yang

Diwajibkan.

Audit Lingkungan Wajib merupakan dokumen lingkungan yang sifatnya

spesifik, dimana kewajiban yang satu secara otomatis menghapuskan kewajiban

lainnya kecuali terdapat kondisi-kondisi khusus yang aturan dan kebijakannya

ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kegiatan dan/atau usaha yang

sudah berjalan yang kemudian diwajibkan menyusun Audit Lingkungan tidak

membutuhkan AMDAL baru.

AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Sukarela Kegiatan yang telah

memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya menghendaki untuk meningkatkan

ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat melakukan audit lingkungan

secara sukarela yang merupakan alat pengelolaan dan pemantauan yang bersifat

internal. Pelaksanaan Audit Lingkungan tersebut dapat mengacu pada Keputusan

Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 42 tahun 1994 tentang Panduan umum

pelaksanaan Audit Lingkungan.

21
Penerapan perangkat pengelolaan lingkungan sukarela bagi kegiatan-

kegiatan yang wajib AMDAL tidak secara otomatis membebaskan pemrakarsa dari

kewajiban penyusunan dokumen AMDAL. Walau demikian dokumen-dokumen

sukarela ini sangat didorong untuk disusun oleh pemrakarsa karena sifatnya akan

sangat membantu efektifitas pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekaligus dapat

“memperbaiki” ketidaksempurnaan yang ada dalam dokumen AMDAL. Dokumen

lingkungan yang bersifat sukarela ini sangat bermacam-macam dan sangat berguna

bagi pemrakarsa, termasuk dalam melancarkan hubungan perdagangan dengan luar

negeri. Dokumen-dokumen tersebut antara lain adalah Audit Lingkungan Sukarela,

dokumen-dokumen yang diatur dalam ISO 14000, dokumen-dokumen yang

dipromosikan penyusunannya oleh asosiasi-asosiasi industri/bisnis, dan lainnya.

(www.bplhdjabar.go.id › Current Users, diakses tanggal 14 September 2012).

2.8 Perkembangan AMDAL Sosial

Pada mulanya paradigma yang dibuat para pakar AMDAL, baik di negara

maju maupun di negara berkembang, adalah pendekatan teknis dimana penyusunan

AMDAL sebaiknya dilakukan oleh para ahli saja dan tidak perlu melibatkan

masyarakat yang terkena dampak. Hal ini kemudian dikritisi oleh berbagai kalangan

bahwa interpretasi para pakar tidak sama dengan apa yang dialami dalam

masyarakat. Dari sini kemudian muncul konsep baru dalam pembangunan, bahwa

AMDAL tidak lepas dari keterkaitan masyarakat (yang terkena dampak) karena

mereka lebih mengetahui tentang keadaan yang ada disekitarnya.

22
Amerika Serikat dan Kanada tercatat sebagai negara pelapor dan terkemuka

dalam sistem penerapan AMDAL sosial. Perkembangan sistem AMDAL sosial

dinegara tersebut beriringan dengan kepedulian masyarakat yang begitu tinggi. Di

Amerika Serikat momentum memasukan unsur sosial dapat dirasakan pada tahun

1973 tatkala sebuah dinas yang mengurusi sumber daya air federal memberikan

mandat supaya menganalisis dampak pembangunan sumber daya air pada bidang-

bidang ekonomi, pembangunan daerah, kualitas lingkungan dan dampaknya secara

sosial. (Horas, Nommy, 2004;261).

2.8.1 Halangan dan Penyimpangan Pelaksanaan AMDAL di Medan

Dalam pelaksanaan AMDAL, yang paling utama adalah pengawasan

lingkungan hidup. Jenis halangan pelaksanaan AMDAL di Medan paling banyak

disebabkan oleh tingkat kesadaran pengusaha rendah. Sedangkan halangan lain

berturut-turut disebabkan oleh kekacauan sistem birokrasi, tidak berperanya komisi

AMDAL, kesulitan peralatan, mahalnya konsultasi. Masalah yang sangat bermakna

yaitu perasaan yang telah melaksanakan AMDAL dianggap telah mencukupi tanpa

melakukan penilaian dan pemantauan, disebabkan oleh alasan klasik yaitu

kurangnya tenaga untuk melaksanakan pemantauan dan penilaian.

Kenyataan ini menggambarkan bahwa, proses pemantauan atau penilaian

hanya formalitas saja, akan tetapi ada unsur-unsur lain yang lebih mendasar

mendasar dibalik aktifitas itu, sehingga proses pemantauan dan penilaian tidak

berjalan sebagaimana mestinya.

23
Keadaan ini bertambah buruk karena kriteria yang tidak jelas dan ukuran

pemberian ijin menurut pelaksanaan AMDAL. Pola kebijaksanaan dan penentuan

tindakan terhadap pelanggaran proses pelaksanaan AMDAL dapat dengan tepat

ditentukan. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh personal atau pegawai pemerintah.

Oleh karena itu, peranan pegawai pemerintah yang profesional sangat penting

dalam proses ini. (Djanius Djamin,2007:178).

24
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk

pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada

lingkungan hidup yang diperlukan proses pengambilan keputusan tentang

penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No.27 tahun 1999

entang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

AMDAL sendiri merupakan suatu kajian mengenai dampak positif dan

negatif dari kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam memutuskan apakah

suatu kegiatan/proyek Iayak atau tidak Iayak Iingkungan. Kajian dampak positif

dan negatif tersebut biasanya disusun dengan mempertimbangkan aspek fisik,

kimia, biologi, sosial-ekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat.

Prosedur AMDAL yaitu, Penapisan, Pelingkupan, Kerangka acuan, ANDAL,

Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan, dan

Pelaporan.

25
3.2 Saran

AMDAL adalah analisis yang berhubungan langsung dengan lingkungan

maka kita sebagai manusia haruslah menjaga lingkungan agar lingkungan tetap

terjaga dan kita sebagai manusia dapat memanfaatkan alam/lingkungan juga.

26
DAFTAR PUSTAKA

Djamin, Djanius.2007.Pengawasan & Pelaksanaan Undang-Undang Lingkungan

Hidup.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.

Horas,Nommy.2004.Hukum Lingkungan Ekologi Pembangunan.Jakarta:Erlangga.

Soemarno, Otto.2007. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.Yogyakarta:Gadjah

Mada University Press.

Rasminah, (online), (http//:pinterdw.blogspot.com/2012/03/amdal-komponen-dan-

manfaat),diakses Tanggal 7 April 2016.

27