Anda di halaman 1dari 17

PEMBUATAN MEDIUM, ISOLASI, DAN IDENTIFIKASI

JAMUR MIKROSKOPIS

Nama : Agung Wiriat Putra Pratama Hadi


NIM : B1A015100
Kelompok :3
Rombongan : III
Asisten : Hasnadhiazahra Rohadi

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI JAMUR MIKROSKOPIS

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jamur merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga tidak


mempunyai kemampuan untuk memproduksi makanan sendiri atau dengan kata lain
jamur tidak bisa memanfaatkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya. Oleh
karena jamur memerlukan senyawa organic baik dari bahan organic mati maupun
dari organisme hidup sehingga jamur dikatakan juga organisme heterotrofik. Jamur
ini ada yang hidup dan memperoleh makanan dari bahan organik mati seperti sisa-
sisa hewan dan tumbuhan, dan ada pula yang hidup dan memperoleh makanan dari
organisme hidup. Jamur yang hidup dan memperoleh makanan dari bahan organik
mati dinamakan saprofit, sedangkan yang hidup dan memperoleh makanan dari
organism hidup dinamakan parasit (Darnetty, 2006).
Penampilan jamur atau cendawan tidak asing bagi kita semua. Kita dapat
melihat pertumbuhan berwarna biru dan hijau pada buah jeruk dan keju.
Pertumbuhan berwarna putih seperti bulu pada roti dan selai basi, jamur dilapangan
dan hutan. Kesemuaan ini merupakan tubuh berbagai cendawan. Jadi cendawan
mempunyai berbagai macam penampilan, tergantung pada spesiesnya. Telaah
mengenai cendawan disebut mikologi. Cendawan terdiri dari kapang (mold) dan
khamir (yeast) (Pelczar & Chan, 1986).
Berbagai jenis fungi dapat ditemukan di alam dan untuk mendapatkan jamur
yang sesuai dengan keinginan diperlukan isolasi. Isolasi yaitu proses memisahkan
suatu jenis mikroba dengan jenis mikroba lainnya dari mikroba yang terdiri atas
berbagai macam spesies. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkan pada
medium padat. Sel-sel akan membentuk suatu koloni sel yang tetap. Jika sel-sel
tersebut tertangkap oleh medium pada beberapa tempat yang terpisah, maka setiap
sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloni yang
terpisah sehingga memudahkan pemisahan selanjutnya (Atlas, 2005).
B. Tujuan
Tujuan acara praktikum Pembuatan Medium, Isolasi, dan Identifikasi Jamur
Mikroskopis yaitu:
1. Mengetahui dan melakukan pembuatan medium biakan jamur
2. Melakukan tahapan isolasi jamur
3. Melakukan identifikasi jamur hasil isolasi
II. TELAAH PUSTAKA

Jamur adalah organisme heterotrofik, umunya mikroskopis, eukariotik,


berupa filamen atau benang, bercabang, menghasilkan spora, tidak memiliki klorofil.
Dinding sel yang mengandung kitin atau selulosa. Beberapa jenis jamur dapat
tumbuh dan memperbanyak diri apabila memiliki inang. Jamur tersebut disebut
sebagai parasi tobligat, sedangkan jamur yang bersifat parasit non-obligat yaitu
membutuhkan inanguntuk sebagian daur hidupnya tetapi tetap mampu
menyelesaikan daur hidupnya pada bahan organik mati maupun pada tumbuhan
hidup (Volk & Wheeler, 1993).
Pembiakan mikroorganisme dalam laboratorium memerlukan medium yang
berizi zat – zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai dengan
mikroorganisme. Zat hara digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan,
sintesis sel, keperluan energi dalam metabolisme dan pergerakan. Lazimnya, medium
berisis air, sember energi, zat hara sebagai sumber karbon, hidrogen, fosfat, sulfur
dan nitrogen. Bahan dasar dalam medium dapat pula ditambahkan faktor
pertumbuhan berupa asam amino, vitamin atau nukleotida. Medium adalah suatu
bahan yang berisi campuran zat – zat hara yang berguna untuk membakan
mikroorganisme. Penggunaan media pertumbuhan dapat dilakukan isolasi,
perbanyakan, pengujian sifat fisiologis dan perhitungan jumah mikroorganisme
(Waluyo, 2006).
Jenis medium sangat bervariasi bergantung kepada apa yang dijadikan dasar
penamaan. Menurut Rusli (2011), berdasarkan bentuknya medium terbagi menjadi
tiga macam, yaitu:
1. Medium cair
Medium ini tidak mengandung bahan pemadat, sehingga bentuknya cair.
Medium ini digunakan untuk pembiakan mikroorganisme dalam jumlah besar,
penelaahan fermentasi, dan berbagai macam uji. Contohnya Nutrient Broth.
2. Medium setengah padat (semi solid)
Medium ini menggunakan bahan pemadat sebanyak 0,3 – 0,4 % dari total
komposisinya. Medium ini digunakan untuk mengamati ada tidaknya motilitas dan
kemampuan fermentasi. Contohnya kaldu agar semi solid.
3. Medium padat
Medium ini menggunakan bahan pemadat 15 – 20 %. Medium ini digunakan
untuk mengamati morfologi, koloni, dan isolasi biakan murni. Contohnya PDA dan
TEA.
Menurut Sylvia (2008), berdasarkan fungsi atau tujuannya medium terbagi
menjadi empat, yaitu:
1. Medium umum
Medium ini dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme secara umum. Banyak
jenis mikroorganisme yang dapat tumbuh pada medium ini. Misalnya yaitu Nutrient
Agar (NA), Potato Dextrose Agar (PDA), Taoge Ekstrak Agar (TEA) dan lain
sebagainya.
2. Medium selektif
Medium ini komposisinya sedemikian rupa, sehingga hanya jenis-jenis
mikroorganisme tertentu saja yang dapat hidup. Misalnya Salmonella Shigella Agar
(SSA), Brilliant Green Lactose Broth (BGLB). Umumnya digunakan untuk
menumbuhkan satu atau lebih jenis mikroba tertentu dengan menghambat atau
mematikan jenis mikroorganisme lainnya.
3. Medium diperkaya (Enrichment)
Medium ini merupakan medium yang ditambah zat tertentu yang merupakan
nutrisi spesifik untuk jenis mikroba tertentu. Medium ini digunakan untuk membuat
kultur diperkaya (enrichment culture) dan untuk mengisolasi mikroba spesifik
dengan cara mengatur faktor lingkungan (suhu, pH, cahaya), kebutuhan nutrisi
spesifik dan sifat fisiologinya, dengan demikian dapat disusun medium diperkaya
untuk bakteri yang bersifat khemoheterotrof, khemoototrof, fotosintetik, dan untuk
mikroba lain yang bersifat spesifik
4. Medium diferensial
Medium ini digunakan untuk membedakan jenis mikroorganisme satu dengan
yang lain, disebabkan adanya suatu reaksi atau ciri yang khas. Reaksi ini terjadi
karena mikroorganisme mampu mengurai salah satu bahan dalam medium, misalnya,
Eosin Methylen Blue Agar (EMBA), Blood Agar (BA), dan sebagainya. Medium ini
berfungsi untuk membedakan kelompok mikroorganisme dan biasa digunakan untuk
identifikasi.
Menurut Novel et al. (2008), berdasarkan susunannya, medium dibagi
menjadi tiga, yaitu:
1. Medium alami, yaitu mengandung bahan alami dan komposisi bahan yang
digunakannya tidak diketahui secara pasti. Contohnya adalah Tomato juice Agar,
Blood Agar.
2. Medium semisintetis, yaitu terdiri atas bahan alami ditambah dengan senyawa
kimia dengan kompososi dan takaran bahan yang digunakan diketahui secara
pasti. Contohnya Potato Dextrose Agar (PDA), Taoge Ekstrak Agar (TEA), Malt
Ekstrak Agar (MEA), dan lain sebagainya.
3. Medium sintetis, yaitu terdiri atas senyawa-senyawa kimia yang komposisi dan
takarannya sudah diketahui. Misalnya Czapeks Dox Agar (CDA), Sabouraud
Dextrose Agar (SDA) dan lainnya.
Menurut Pelczar dan Chan (1986), medium berdasarkan bentuknya dibedakan
menjadi tiga, yaitu:
1. Medium cawan, medium yang dituangkan pada cawan petri. Volumenya antara 8
– 10 ml.
2. Medium tegak, medium yang ditempatkan pada tabung reaksi. Volumenya antara
3 – 5 ml.
3. Medium miring, medium yang ditempatkan pada tabung reaksi secara horizontal.
Volumenya antara 6 – 8 ml.
Sterilisasi adalah proses atau kerja untuk membebaskan suatu bahan seperti
medium pertumbuhan mikroba atau peralatan laboratorium dari semua bentuk
kehidupan. Proses sterilisasi dapat dibedakan menurut teknik pengerjaannya, yaitu
sterilisasi dengan penyaringan, khususnya untuk bahan cair yang bersifat termolabil,
seperti ekstrak enzim, serum, toksin bakteri, dan medium pertumbuhan, sterilisas
dengan pemanasan melalui teknik pemijaran, udara panas, uap air panas maupun uap
air panas bertekanan, sterilisasi dengan senyawa kimia, seperti etilen oksida, maupun
beta propiolacton dan sterilisasi melalui medium UV (Bhima, 2010).
Menurut Suriawiria (2005), sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa :
1. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek
yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak
akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Sterilisasi
dengan pemanasan dapat dilakukakn dengan :
a) Panas kering, alatnya berupa oven yang digunakan dengan
temperatur 170oC– 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam
yang umumnya untuk peralatan gelas.
b) Uap air panas atau tyndalisasi dengan menggunakan Arnold steam
sterilizer dengan suho 80 oC dan waktu 30 menit selama 3 kali
pengulangan dengan interval waktu 24 jam.
c) Uap air panas bertekanan menggunakan autoklaf dengan suhu
121oC dan tekanan 2 atm waktunya 15 sampai 20 menit.
d) Pemanasan langsung dengan menggunakan api bunsen contohnya
untuk sterilisasi bahan kawat misalnya jarum ose
2. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan
alkohol, larutan formalin).
3. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat
pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya
adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain
adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal
ini adalah mikroba). Filtrasi membran dapat menjadi metode alternatif yang
baik untuk sterilisasi media dari bakteri dan pelestarian kualitas zat
termolabil. Filtrasi ini merupakan cara terbaik untuk mensterilkan larutan
dengan cepat tanpa pemanasan (Medjemem et al., 2015).

Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan


menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Proses pemisahan atau pemurnian
dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan mikrobiologis,
misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan suatu populasi yang
hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Prinsip dari isolasi mikroba
adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari
campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan
menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni
sel yang tetap pada tempatnya (Singleton & Sainsbury, 2006).
Identifikasi merupakan proses pencarian identitas suatu zat, senyawa atau
organisme. Identifikasi jamur merupakan suatu kegiatan yang sangat penting
mengingat banyak jenis jamur belum diketahui jumlah dan jenisnya. Jumlah spesies
jamur yang sudah diketahui hingga kini hanya kurang lebih 69.000 dari per kiraan
1.500.000 spesies yang ada di dunia. Dapat dipastikan bahwa Indonesia yang sangat
kaya akan diservitas tumbuhan dan hewannya juga memiliki diversitas jamur yang
sangat tinggi mengingat lingkungannya yang lembab dan suhu tropik yang
mendukung pertumbuhan jamur (Handajani, 2006).

Isolasi mikroorganisme mengandung arti proses pengambilan


mikroorganisme dari lingkungan untuk kemudian ditumbuhkan dalam suatu medium
di laboratorium (Pelczar & Chan, 1986). Menurut Lay (1992), untuk memperoleh
jamur dari berbagai habitat dapat dilakukan isolasi umum, yaitu cara untuk
memperoleh jamur dari berbagai golongan. Isolasi umum dapat dibedakan menjadi
beberapa cara, yaitu:
1. Metode Perangkap
Metode ini dilakukan unntuk mendapatkan jamur dari udara sekitar
2. Metode Pengenceran
Metode ini dilakukan untuk memperoleh jamur dari sampel cair dengan
terlebih dahulu dilakukan pengenceran bertingkat pada sampel
3. Metode Semai
Metode ini dilakukan untuk memperoleh bermacam-macam jamur dari sampel
serbuk
4. Metode Tanam Langsung
Metode ini dilakukan untuk memperoleh jamur dari bahan-bahan yang diduga
terdapat jamur.
Isolasi khusus dilakukan untuk mengisolasi jamur-jamur tertentu yang
pertumbuhannya lambat atau sulit sehingga diperlukan umpan atau media tertentu
untuk menumbuhkan jamur tersebut. Setelah jamur tumbuh pada umpan tersebut
baru kemudian ditumbuhkan pada medium agar sebagai biakan murni (Waluyo,
2006).
Identifikasi adalah membandingkan isolat yang belum diketahui dengan taksa
yang ada untuk menetapkan identitasnya (Gadjar et al., 2006). Isolat tunggal dari
jamur kemudian diidentifikasi secara morfologi meliputi pengamatan makroskopis
maupun mikroskopis. Pengamatan makroskopis jamur meliputi: (1) pemeriksaan
warna dan permukaan koloni (granular; seperti tepung; menggunung; licin; ada atau
tidak adanya tetes-tetes eksudat); (2) ada atau tidak adanya garis-garis radial dari
pusat koloni ke arah tepi koloni; (3) ada atau tidak adanya lingkaran konsentris,
sedangkan penga-matan mikroskopis jamur meliputi: (1) ada atau tidak adanya
septum pada hifa; (2) pigmentasi hifa (tidak berwarna atau berwarna gelap); (3)
bentuk hifa (seperti spiral, bernodul atau mempunyai rizoid); dan (4) ukuran, warna,
hiasan serta bentuk spora atau konidia (Suciatmih et al., 2015).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pisau, gelas beaker,
panci, kompor gas, hotplate & stirer, labu Erlenmeyer, cotton plug, autoklaf,
LAF, tabung reaksi, rak tabung reaksi, mikropipet+tip, cawan petri, sprayer,
pembakar bunsen, jarum ose, batang Drugalsky, plastik wrapper, mikroskop,
object glass dan cover glass.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kentang, agar,
dextrose, akuades, medium biakan, sampel tanah, kayu lapuk, alkohol, dan buku
identifikasi.

B. Metode

1. Pembuatan Medium Biakan Jamur (PDA)

200 gram kentang dipotong dadu direbus dengan 500 ml


dikupas kulitnya akuades hingga lunak

Agar
15 gram Ekstrak Dextrose
kentang 20 gram

ekstrak kentang dilarutkan dalam dihomogenkan


disaring 500 ml akuades

dimasukkan ke dalam sterilisasi


Erlenmeyer
2. Isolasi
a. Pengenceran

Inkubasi
3 x 24 jam

b. Tanam Langsung

Sampel dicelupkan pada bilas dengan ditiriskan pada


1 cm2 alkohol 70% akuades steril kertas saring

Inkubasi
Inkubasi
3 x324 jamjam
x 24
Inokulasi pada
medium PDA

c. Semai

Inkubasi
3 x 24 jam

Sampel Inokulasi pada


bubuk medium PDA

d. Perangkap

Inkubasi
3 x 24 jam

Medium PDA Medium PDA


dibiarkan terbuka ditutup
15 menit
3. Pemurnian

Inkubasi
5 x 24 jam

Isolat hasil isolasi Medium PDA


baru

4. Identifikasi

Hasil pemurnian diambil 1 plug ditetesi akuades


Diamati makromorfologi

Bandingkan dengan
pustaka

Diamati menggunakan
mikroskop

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Hasil Identifikasi Jamur Mikroskopis Rombongan I

Kelompok 1 2 3
Karakter Makroskopis
Warna Koloni Putih Hijau Putih
Warna Sebalik Hijau
Kuning Cokelat
Koloni kekuningan
Permukaan Halus seperti Halus seperti Halus seperti
Koloni kapas kapas kapas
Persebaran
Konsentris Konsentris Konsentris
Koloni
Tepi Koloni Bergerigi Bergerigi Irregular
Karakter Mikroskopis
Bentuk Spora Lonjong Bulat Bulat
Warna Spora Hijau Abu-abu Hijau merah
Sporangiofor Tidak ada Ada Ada
Hifa
Septat Aseptat Septat
(Aseptat/septat)
Chrysosporium Pythium
Spesies Fusarium sp.
sp. dissimile

Gambar 1. Medium PDA Gambar 2. Hasil Isolasi dari


Sampel Tanah kuburan

Gambar 3. Pengamatan Gambar 4. Hasil Pemurnian


Mikromorfologi Jamur Hasil Isolasi
B. Pembahasan

Hasil identifikasi dari jamur kelompok 3 rombongan III yang diisolasi dari
tanah kuburan yaitu Pythium dissimile. Menurut Murao et al. (1992) Phytium sp hidup
saprofit di tanah lembab, Saprofit yaitu merupakan jamur pelapuk dan pengubah
susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme
yang telah mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit
mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk mendekomposisi
molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehinggamudah diserap oleh hifa.
Selain itu, hifa dapat juga langsung menyerap bahanbahan organik dalam bentuk
sederhana yang dikeluarkan oleh inangnya.Struktur tubuh jamur phytium ini terdiri
dari golongan Ascomycotina, golongan ini struktur tubuhnya ada yang multiseluler
atau uniseluler. Golongan Ascomycotina ini (Watanabe, 2010).
Hidup saprofit di dalam tanah atau hipogean, hidup di kotoran ternak disebut
koprofil,ada juga yang parasit pada tumbuhan. Tubuhnya terdiri atas benang-benang
yang bersekat atau ada yang unisel. Jamur Phytium adalah organisme yang kecil,
bersifat filamen yang kekurangan klorofil. Oleh karena itu organisme ini
mendapatkan makanannya dari tanaman atau binatang yang mengandung bahan
organik, apakah itu sebagai saprophyte, parasyte ataupun patogen (Watanabe, 2010).
Oospora memiliki dinding yang agak tebal dan halus, diameter 17 – 19
mikrometer Hyfa Phytium sp adalah hyaline, tidak bersekat dan umumnya memiliki
lebar 4 – 6 mikrometer. Sporangia panjangnya bervariasi dari 50 – 1000 um dan
umumnya memiliki cabang banyak (multi). Sporangia hanya berkecambah dengan
produksi vexicle yang membebaskan zoospora. Oogonia adalah berbentuk spherical
dan terminal dengan diameter 22 – 27 um/ antherium berbentuk interclary, barrel
ataupun kubah. Aplerotic oospora memiliki dinding yang tebal. Jamur Phytium Spp.
mempunyai miselium kasar, lebarnya kadang-kadang sampai 7 mikrometer. Selain
membentuk sporangium biasa, (berbentuk bulat atau lonjong), jamur juga
membentuk sporangium yang bentuknya tidak teratur seperti batang atau bercabang-
cabang yang dipisahkan dari ujung hifa. Bagian ini sering disebut presporangium dan
ukurannya dapat mencapai 800 x 20 mikrometer. Akan tetapi, juga termasuk salah
satu jamur patogen teragresif yang menyerang jagung (Zea mays L.), yang dapat
menyebabkan busuk akar, rendahnya tingkat germinasi, kematian bibit, mengurangi
pertumbuhan tanaman dan produktivitas yang berakibat pada kerugian yang besar
(Ricowski et al., 2016).
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:


1. Medium PDA terbuat dari 200 gram kentang, 20 gram dextrose, 15 gram agar,
dan dilarutkan dalam 1liter akuades.
2. Tahapan yang dilakukan dalam isolasi jamur dengan metode semai yaitu tanah
disemai kedalam medium PDA dan diinkubasi 3x24 jam, kemudian dilakukan
pemurnian dan identifikasi.
3. Hasil identifikasi dari jamur yang diisolasi dari sampel yaitu Pythium dissimile

B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah sebaiknya pengamatan dilakukan
tepat waktu sesuai yang sudah dijadwalkan.
DAFTAR REFERENSI

Atlas, R. 2005. Handbook of Medium for Environmental Microbiology Second


Edition. USA: Taylor & Francis Group.

Bhima, 2010. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah.


Darnetty. 2006. Pengantar Mikologi. Padang : Universitas Andalas.

Gadjar, Indrawati, Wellyzar, Sjamsuridzal & Aryanti, O. 2006. Mikologi Dasar dan
Terapan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lay, B.W. 1992. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: Raja Grafiada Persada.

Medjemem, N., Harabi, A., Bouzerara, F., Foughali, L., Boudaira, B., Guechi, A. &
Brihi, N., 2015. Elaboration and characterization of lowcost ceramics
microfiltration membranes applied to the sterilization of plant tissue culture
media. Journal of the Taiwan Institute of Chemical Engineers, 59, pp.79-85.
Murao, S., Itoh, H., Yajima, T., Ozaki, Y., Fukusaya S., Shin, T. 1992. Isolation and
Purification of Ascorbate Oxidase from Acremonium sp. HI-25. Biosci.
Biotech. Biochem. 56(6), pp. 847-852.

Novel, Sinta S., Asri, Peni W., Ratu, & Safitri. 2008. Praktikum Mikrobiologi Dasar.
Jakarta: Erlangga.

Pelczar, M. J dan E. C. S. Chan. 1986. Element of Microbiology. New York:


McGraw-Hill.

Racowski, I., Foramiglio, V. L. Teodore, J. A., Freire, V. T. 2016. Antifungal


Activity of Infusion from Fresh Oregano, Laurel and Rosemary Leaves and
Their Commercial Essential Oils Against Acremonium sp. Journal of
Microbiology Research. 6(2), pp. 35-39.

Rusli. 2011. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi Dasar. Makassar: Fakultas


Farmasi Universitas Muslim Indonesia.

Singleton & Sainsbury. 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology 3rd
Edition. England: John Wiley and Sons.

Suciatmih., Kartika, T., & Sulaeman, Y. 2015. Jamur Entomopatogen dan Aktivitas
Enzim Ekstraselulernya. Berita Biologi. 14 (2), pp. 131-143.

Suriawiria, U., 2005. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.


Sylvia. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.

Volk, W.A. & Wheeler, M.F., 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi Kelima.
Jakarta: Erlangga.
Waluyo, L. 2006. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.
Watanabe, T. (2010). Pictorial atlas of soil and seed fungi: morphologies of cultured
fungi and key to species. CRC press.