Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM ILMU GIZI


INDEKS MASSA TUBUH (IMT), ANGKA KECUKUPAN GIZI (AKG), DAN

ANGKA KECUKUPAN PROTEIN (AKP)

OLEH :
DEBORAH
05121003035

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kebutuhan gizi adalah sejumlah zat gizi minimal yang diperlukan seseorang yang
harus dipenuhi dari konsumsi makanan, agar terhindar dari munculnya gejala-gejala
defisiensi. Nilai kebutuhan gizi tiap individu berbeda, antara lain tergantung dari faktor
genetik. Sedangkan kecukupan gizi yang dianjurkan atau lebih dikenal dengan angka
kecukupan gizi (AKG), merupakan terjemahan bebas dari Recommended Dietary
Allowance (RDA), diartikan sebagai suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi
hampir semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan aktifitas
untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Karena AKG dimaksudkan hanya untuk
golongan orang yang sehat, maka penyimpangan-penyimpangan khusus kebutuhan gizi
sebagai akibat kelainan metabolisme (termasuk malnutrisi), perawatan khusus dan lainnya
tidak diperhitungkan dalam Angka Kecukupan Gizi.
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkaan (AKG) atau Recommended Dietary
Allowances (RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan
pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat.
Angka kecukupan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang dibutuhkan seseorang
untuk mempertahankan status gizi adekuat (Almatsier 2009).
AKG yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing
kelompok umumr, gender, aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis tertentu seperti kehamilan
dan menyusui. Dalam penggunaannya, bila kelompok penduduk yang dihadapi mempunyai
rata-rata berat badan yang berbeda dengan patokan yang digunakan, maka perlu dilakukan
penyesuaian. Bila berat badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu kurus, AKG
dihitung berdasarkan berat badan idealnya. AKG yang dianjurkan tidak digunakan untuk
perorangan (Almatsier 2009).
Angka Kebutuhan Gizi (Nutrient Requirement) adalah jumlah zat gizi minimal
yang diperlukan seseorang/individu agar dapat hidup sehat, diantaranya untuk
mempertahankan hidup, melakukan kegiatan internal/eksternal, menunjang pertumbuhan,
melakukan aktivitas fisik, pemeliharaan tubuh, basal metabolisme, pernapasan dan
evaporasi, serta pencernaan dan eksresi. Angka Kebutuhan Gizi dipengaruhi oleh variasi
kebutuhan tinggi atau rendah, antara lain faktor genetika, sementara itu dalam AKG sudah
memperhitungkan variasi kebutuhan individu dan cadangan zat gizi dalam tubuh.
B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah


1. Praktikan memahami perhitungan IMT, AKP, dan AKG.
2. Praktikan memahami perbedaan angka kecukupan berdasarkan jenis kelamin dan
usia.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Angka Kecukupan Gizi

Angka kecukupan gizi adalah merupakan terjemahan bebas dari Recommended


Dietary Allowance (RDA), diartikan sebagai suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari
bagi hampir semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan
aktifitas untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Karena AKG dimaksudkan hanya
untuk golongan orang yang sehat, maka penyimpangan-penyimpangan khusus kebutuhan
gizi sebagai akibat kelainan metabolisme (termasuk malnutrisi), perawatan khusus dan
lainnya tidak diperhitungkan dalam Angka Kecukupan Gizi.

Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkaan (AKG) atau Recommended Dietary


Allowances (RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan
pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat.
Angka kecukupan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang dibutuhkan seseorang
untuk mempertahankan status gizi adekuat (Almatsier 2009). AKG yang dianjurkan
didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing kelompok umumr, gender,
aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis tertentu seperti kehamilan dan menyusui. Dalam
penggunaannya, bila kelompok penduduk yang dihadapi mempunyai rata-rata berat badan
yang berbeda dengan patokan yang digunakan, maka perlu dilakukan penyesuaian. Bila
berat badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu kurus, AKG dihitung berdasarkan
berat badan idealnya. AKG yang dianjurkan tidak digunakan untuk perorangan (Almatsier
2009).
Angka kecukupan gizi yang dianjurkan digunakan untuk maksud-maksud sebagai
berikut:
1. Merencanakan dan menyediakan suplai pangan untuk penduduk atau kelompok
penduduk.
2. Menginterpretasikan data konsumsi makanan perorangan ataupun kelompok.

3. Perencanaan pemberian makanan di institusi, seperti rumah sakit, sekolah,


industri/perkantoran, asrama, panti asuhan, panti jompo dan lembaga permasyarakatan.

4. Menetapkan standar bantuan pangan, misalnya untuk keadaan darurat; membantu para
gtransmigrasin dan penduduk yang ditimpa bencana alam serta memberi makanan
tambahan untuk balita, anak sekolah, dan ibu hamil.

5. Menilai kecukupan persediaan pangan nasional.


6. Merencanakan program penyuluhan gizi.
7. Mengembangkan produk pangan baru di industri.
8. Menetapkan pedoman untuk keperluan labeling gizi pangan.(Almatsier 2009).

B. Indeks Massa Tubuh

Indeks massa tubuh (IMT), atau indeks Quetelet, merupakan proksi heuristik untuk
lemak tubuh manusia berdasarkan berat badan seseorang dan tinggi. IMT tidak benar-benar
mengukur persentase lemak tubuh. Itu ditemukan antara tahun 1830 dan 1850 oleh
polymath asal Belgia Adolphe Quetelet selama pengembangan "fisika sosial".
Indeks masa tubuh sering dijadikan patokan untuk ukuran gemuk atau tidaknya seseorang.
Sebenarnya dari penampilan saja sudah cukup kita menilai seseorang itu tergolong gemuk,
sedang atau kurus. Namun dengan mengetahui indeks massa tubuh, kita bisa secara terukur
menilai berapa kelebihan/kekurangan berat yang kita miliki. Dengan demikian juga kita
bisa merencanakan program diet sehat agar mendapatkan tubuh yang sesuai dan ideal.
Indeks Massa Tubuh (IMT) secara signifikan berhubungan dengan kadar lemak
tubuh total, sehingga dapat dengan mudah mewakili kadar lemak tubuh.

Rumus menghitung IMT :

IMT =

AKG yang ditetapkan pada Widyakarya Pangan dan Gizi Nasional (WNPG) tahun
2004 meliputi zat-zat gizi sebagai berikut: energi (kkal), protein (g), vitamin A (RE),
vitamin D (mcg), vitamin E (mg), vitamin K (mcg), tiamin (mg), riboflavin (mg), niasin
(mg), asam folat (mcg), piridoksin (mg), vitamin B12 (mcg), seng (mg), selenium (mcg),
mangan (mg), dan flour (mg) WNPG 2004 juga menganjurkan kebutuhan serta makanan
(dietary fiber) sebanyak 10-14 gram/1000 kkal atau 19-30 g/orang/hari.

III. METODOLOGI PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan di ruang kuliah RKC 1207 Fakultas Pertanian pada hari
Jumat 11 Oktober 2013 pukul 10.00 WIB.

B. Cara Kerja
Praktikan diminta membentuk kelompok yang terdiri atas 2 orang (pria dan
wanita). Masing-masing praktikan mencatat data berupa berat badan (kg), tinggi badan
(m), dan usia anggota kelompoknya. Data yang didapat digunakan unuk menghitung nilai
Indeks Massa Tubuh (IMT), Angka Kecukupan Protein (AKP), dan Angka Kecukupan Gizi
(AKG). Data dan hasil perhitungan disajikan dalam bentuk tabel sebagai hasil laporan.
Hasil yang didapat oleh 1 kelompok dibandingkan sebagai bahan pembahasan.

catatan : perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG) mengacu pada Tabel AKG 2004
(Lampiran 2)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL
Nama : Maya Prihastini
Umur : 19 tahun
BB : 50 kg
TB : 162 cm

IMT = =

B. PEMBAHASAN

V. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Angka kecukupan energi setiap individu berbeda-beda.


2. Energi yang dibutuhkan oleh laki-laki berbeda dengan perempuan yaitu lebih besar
dibanding dengan yang dibutuhkan oleh perempuan.
3. Salah satu metode untuk menghitung kebutuhan energi individu adalah metode food
record.
4. Kebutuhan energi tergantung pada jenis kelamin, usia, jenis kegiatan, serta jenis
makanan yang dikonsumsi.
5. Metode food record dilakukan selama satu hari (24 jam).

DAFTAR PUSTAKA

Anindita, Putri. 2012. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga,


Kecukupan Protein & Zinc Dengan Stunting (Pendek) Pada Balita Usia 6-25
Bulan di Kecamatan Tembalang Kota Semarang . Semarang. Jurnal Kesehatan
Masyarakat. Volume 1 (2) : 617-626
Ariningsih, Ening. 2011. Konsumsi Dan Kecukupan Energi dan Protein Rumah Tangga
Perdesaan Di Indonesia. Bogor. Jurnal Analisis Data Susenas. Volume 34 (4) :
233-234
Sugiarto, Felicita. 2012. Asupan makan Dan Status Gizi Anak Dengan Palsi Serebralis.
Semarang. Jurnal Media Medika Muda. Volume 3 (7) : 11-12