Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

METODOLOGI PENELITIAN

Tentang

MENYUSUN LANDASAN TEORI

OLEH :
SYAIPUL KHADRI
088172815

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
( UIN ) IMAM BONJOL PADANG
1439 H/2018 M
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu unsur terpenting dalam penelitian yang memiliki peran sangat besar
dalam penelitian adalah teori. Suatu landasan teori dari suatu penelitian tertentu atau
karya ilmiah sering juga disebut sebagai studi literatur atau tinjauan pustaka. Salah
satu contoh karya tulis yang penting adalah tulisan itu berdasarkan riset. Melalui
penelitian atau kajian teori diperoleh kesimpulan-kesimpulan atau pendapat-pendapat
para ahli, kemudian dirumuskan pada pendapat baru.

Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses


penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-
generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk
pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata dalam Sugiyono, 2010:52). Landasan teori
ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan
sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupakan
ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilimiah untuk mendapatkan data.

Metode penelitian merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan
dipelajari. Dengan penguasaan metode penelitian yang mantap, diharapkan para
tenaga pengajar dapat menyertakan metode-metode penelitian serta hal-hal yang
berkaitan dengan penelitian dalam bidang yang sedang diajarkan.

Dalam makalah ini disajikan bagian dari materi Metode penelitian tersebut, yakni
tentang menyusun landasan teori.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Masalah

1. Mengetahui pengertian tinjauan pustaka


BAB II
PEMBAHASAN

Sudah dipahami bersama bahwa penelitian merupakan proses mencari


pemecahan masalah melalui prosedur ilmiah. Tahap-tahap yang harus dilalui menurut
prosedur ilmiah bukan hanya dapat dilakukan di laboratorium saja, tetapi juga
mencari kajian pustakanya atau teorinya. Kegiatan penelitian selalu bertitik tolak dari
pengetahuan dari pengetahuan yang sudah ada. Pada semua ilmu pengetahuan,
ilmuwan selalu memulai penelitiannya dengan cara menggali apa-apa yang sudah
ada.1[1]
Dalam hal ini ada dua teori, yaitu dalam penelitian yang bersifat menjelajah
(exploratory) dimana pengetahuan mengenai persoalan masih sangat kurang, bahkan
teorinya belum ada sama sekali, dan dalam penelitian yang bersifat menerangkan
(explanatory) dimana sudah ada teori-teori yang menjadi dasar hipotesa-hipotesa yang
akan diuji.2[2]

A. Pengertian Teori
Sebelum mendefinisikan teori, ada dua istilah yang perlu dijelaskan yaitu
konsep dan proposisi. Konsep menunjuk pada istilah dan definisi yang digunakan
untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu
yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Proposisi merupakan hubungan yang
logis antara dua konsep.3[3] Teori adalah alur logika atau penalaran, yang
merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang di susun secara
sistematis.4[4]
Mark membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud
ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara
lain:

1[1] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Cet Ke-3 (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995),
hlm. 75.

2[2] Ahmad Tanzeh, Metodologi Penelitian Praktis, Cet Ke-1 (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm.
17.

3[3] Nanang Martono, Metode penelitian Kuantitatif, Cet Ke-2 (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2011), hlm. 40-41.

4[4] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Cet Ke-14 (Bandung:
Alfabeta, 2011), hlm. 54.
1. Teori yang deduktif: memberi keterangan yang di mulai dari suatu perkiraan
atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2. Teori yang induktif: cara menerangkan adalah dari data ke arah teori. Dalam
bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum
behaviorist.
3. Teori yang fungsional: di sini nampak suatu interaksi pengaruh antara data
dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan
pembentukan teori kembali mempengaruhi data.5[5]
Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat
dipandang sebagai berikut:
1. Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-
hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif.
2. Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu
kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu.
Di sini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu
datang suatu konsep yang teoritis (induktif).
3. Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang
menggeneralisasi. Di sini biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara
data dan pendapat yang teoretis.6[6]

Berdasarkan data tersebut di atas secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa,
suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem
pengertian ini diperoleh malalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji
kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.

Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep,
definisi, dan proporsisi yang disusun secara sistematis. Secara umum, teori
mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan
(prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala (Sugiyono, 2010).

Numan 2003, dalam (Sugiyono, 2010) mengemukakan tingkatan teori (level of


theory) menjadi tiga yaitu, micro, meso, dan macro. Micro level theory: small slices
of time, space, or a number of people. The concept are usually not very abstract.

5[5] Ibid, hlm. 53.

6[6] Ibid
Meso level theory: attempts to link macro and micro levels or to operate at an
intermediate level. Contoh teori: organisasi dan gerakan sosial, atau komunitas
tertentu. Macro level theory: concerns the operation of larger aggregates such as
social institutions, entire culture systems, and whole societies. It use more concepts
that are abstract.

Selanjutnya fokus teori menurut (Moleong,2002) yaitu teori substantif dan teori
formal. (Gleser dan Strauss dalam Maleong, 2002:37-38) mengemukakan Teori
substantif adalah teori yang dikembangkan untuk keperluan substantif atau empiris
dalam ingkuiri dalam suatu ilmu pengetahuan, misanya antropologi, sosiologi, dan
psikologi. Sedangkan teori formal adalah teori untuk keperluan formal atau yang
disusun secara konseptual dalam bidang ingkuiri suatu ilmu pengetahuan, misalnya
sosiologi, contohnya prilaku agresif, organisasi formal, sosialisasi.

Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui
pengumpulan data adalah teori subtantif, karena teori ini lebih fokus berlaku untuk
obyek yang akan diteliti.

B. Fungsi Teori dalam Proses Penelitian

Redja Mudyaharjo 2002 dalam (Sugiyono, 2010), mengemukakan bahwa, sebuah


teori pendidikan adalah sebuah sistem konsep yang terpadu, menerangkan dan
prediktif tentang peristiwa-peristiwa pendidikan. Sebuah teori ada yang berperan
sebagai asumsi atau titi tolak pemikiran pendidikan, dan ada pula yang berperan
sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Asumsi pokok pendidikan
adalah:

1. Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi


aktual dari individu yang belajar dan lingkungan belajarnya
2. Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal
yang baik atau norma-norma yang baik

3. pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa


serangkaian kegiatan yang bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu
yang belajar, tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama
digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk
variabel yang akan diteliti. Fungsi teori yang kedua adalah untuk merumuskan
hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu
merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ketiga
digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya
digunakan untuk memberikan saran dan upaya pemecahan masalah.

Berikut adalah fungsi teori dalam penelitian menurut Nanang Martono :


1. Memberikan pola dalam proses interpretasi data.
Teori menyediakan berbagai argumentasi yang dapat digunakan untuk
menganalisis atau memberikan penafsiran atas hasil penelitian yang telah
diolah. Argumentasi akan lebih kuat apabila di dukung dengan teori yang
ada.
2. Menghubungkan satu studi dengan studi lainnya.
Teori membantu peneliti menemukan suatu kerangka konseptual untuk
menjelaskan hubungan antara hasil penelitian yang pernah dilakukan
sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan.
3. Menyajikan kerangka
Teori memberikan penjelasan mengenai definisi atau makna sebuah konsep
atau variabel. Definisi konsep bermanfaat untuk membatasi studi yang
dilakukan serta memberikan informasi bagi orang lain yang tertarik dengan
hasil penelitian kita, sehingga ia dapat melakukan studi lanjutan.
4. Memungkinkan peneliti menginterpretasikan data yang lebih besar dari
temuan yang diperoleh dari suatu penelitian.7[7]

C. Landasan Teori

Dalam landasan teori perlu dikemukakan kerangka teori dan kerangka berpikir,
sehingga selanjutnya dapat dirumuskan hipotesis dan instrumen penelitian. Kajian
pustaka dalam suatu penelitian ilmiah adalah salah satu bagian penting dari
keseluruhan langkah-langkah metode penelitian. Cooper dalam Creswell (2010:40)
mengemukakan bahwa kajian pustaka memiliki beberapa tujuan yakni;
menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan erat
dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan

7[7] Nanang Martono, op.cit, hlm. 43.


literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian
sebelumnya.

Selanjutnya Geoffrey dan Airasian mengemukakan bahwa tujuan utama kajian


pustaka adalah untuk menentukan apa yang telah dilakukan orang yang berhubungan
dengan topik penelitian yang akan dilakukan. Selain itu dengan kajian pustaka tidak
hanya mencegah duplikasi penelitian orang lain, tetapi juga memberikan pemahaman
dan wawasan yang dibutuhkan untuk menempatkan topik penelitian yang kita lakukan
dalam kerangka logis. Dengan mengkaji penelitian sebelumnya, dapat memberikan
alasan untuk hipotesis penelitian, sekaligus menjadi indikasi pembenaran pentingnya
penelitian yang akan dilakukan (Gay, dkk, 2009 : 80). Lebih lanjut Anderson
mengemukakan bahwa kajian pustaka dimaksudkan untuk meringkas, menganalisis,
dan menafsirkan konsep dan teori yang berkaitan dengan sebuah proyek penelitian
(Gary, dkk, 1998 : 83)

Hasil kajian pustaka adalah dukungan teori (apa yang dikenal dengan “kerangka
teori” dan “kerangka berpikir”). Kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat
bagi peneliti memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan
variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya.
Sedangkan kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang
penting.

a) Kerangka Teori
Kerangka teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis
tentang teori (dan bukan hanya sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan
hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Kerangka teori
paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti,
melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai
referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan
antarvariabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.8[8]
Langkah-langkah menyusun kerangka teori adalah sebagai berikut :
1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.

8[8]Sugiyono, op.cit, hlm. 58.


2. Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedi, jurnal ilmiah, laporan
penelitian, skripsi, tesis, disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan
dengan setiap variabel yang diteliti.
3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel
yang akan diteliti. (untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat
judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian,
sampel sumber data, tekhnik pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan
sarana yang diberikan).
4. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan,
dibandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi
yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5. Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti,
lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri
tentang isi setiap sumber data yang di baca.
6. Deskripsikan teori-teori yang telah di baca dari berbagai sumber kedalam
bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip
atau digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus
dicantumkan.9[9]
Agar bagian kerangka teori dapat baik sesuai dengan ketentuan, (calon)
peneliti dapat menggunakan pedoman sebagai berikut:
a. Kerangka teori hendaknya lengkap, meliputi konsep-konsep variabel
pokok yang ada dalam permasalahan penelitiannya. Yang dimaksud
dengan “lengkap” adalah bahwa semua konsep yang tercakup dalam
permasalahan atau judul penelitian diberi dukungan teori.
b. Kerangka teori bukan hanya langsung memberikan penjelasan tentang
variabel yang dimaksud, tetapi mulai dari beberapa penjelasan umum
kemudian mengarah pada alternatif yang dimaksudkan.
c. Kerangka teori tidak selalu hanya dicari dari sumber yang menyangkut
bidang yang diterangkan tetapi dapat diambil dari bidang-bidang lain
yang relevan.
d. Hendaknya diusahakan agar sumber kajian pustaka bukan hanya yang
berbahasa Indonesia saja tetapi juga buku-buku yang berbahasa asing,
agar informasi yang didapat adalah yang “up to date”.

9[9] Ibid, hlm. 60.


e. Hendaknya diusahakan agar terdapat imbangan yang serasi antara
jumlah kutipan yang bersifat teori dengan kutipan yang bersifat
analitis.10[11]

b) Kerangka Berpikir

Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar
variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar
variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan
intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam
penelitian. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk
paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian
harus didasarkan pada kerangka berfikir (Sugiyono, 2010:60)

Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam


penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya
membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti
disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga
argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sapto Haryoko, 1999,
dalam Sugiyono, 2010).

Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan
hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu dalam rangka
menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka
perlu dikemukakan kerangka berfikir.

Suriasumantri 1986, dalam (Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa seorang


peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam
menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Krangka pemikiran ini
merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek
permasalahan.

Kiteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan,
adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang
membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan
10[11] Ibid, hlm. 96-99
sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah
dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya
dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang
hubungan antar variabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut,
selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis (Sugiyono, 2010:60-61).

Selanjutnya menurut Sekaran (1992:72) kerangka berpikir yang baik adalah


memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Variabel penelitian diidentifikasikan secara jelas dan diberi nama

2. Uraiannya menyatakan bagaimana dua atau lebih variabel berhubungan satu


dengan lainnya

3. Jika sifat dan arah hubungan dapat diteorikan berdasarkan penemuan dari
penelitian sebelumnya, hal ini seharusnya menjadi dasar dalam uraian kerangka
berfikir apakah hubungan itu positif atau negatif

4. Dinyatakan secara jelas mengapa peneliti berharap bahwa hubungan antara


variabel itu ada.

5. Digambarkan dalam bentuk diagram skematis, sehingga pembaca dapat jelas


melihat hubungan antar variabel

6. Pada analisis kuantitatif, kerangka pikir ini memuat latar belakang masalah,
kemudian masalah yang diteliti, dan dilanjutkan dengan metode serta variabel
penelitian. Terakhir kerangka ini biasanya memuat tujuan penelitian, saran atau
kesimpulan penelitian. Sebelum ataupun setelah dibuat bagan kerangka pikir
penelitian, maka biasanya peneliti membuat penjelasan runtut dan sistematis terkait
dengan bagan yang akan / telah dibuatnya tersebut.

D. Kriteria Memilih Sumber Bacaan

Untuk menilai sumber-sumber pustaka yang akan dipakai sebagai acuan dalam
tinjauan kepustakaan, peneliti dapat menggunakan suatu kriteria.kriteria untuk
menilai penggunaan dan kehadiran kajian pustaka menurut Tuckman (1988)
tersebut mencakup sebagai berikut:
a. Ketepatan

Sumber pustaka yang menjadi pijakan pembahasan yang dipilih harus memiliki
kriteria ketepatan, artinya sumber tersebut dipilih sesuai dengan derajat
kesesuaian antara masalah dengan sumber pendukungnya, atau variabel
penelitian yang sedang dikaji sesuai betul dengan referensi yang menjadi
rujukan.

b. Kejelasan

Hal kejelasan ini sangat terkait dengan apakah si peneliti dapat memahami
betul hal-hal yang menjadi perhatiannya. Dalam hal ini peneliti memahami
masalah atau variabel penelitian.

c. Empiris Atau Alamiah

Berkenaan dengan kriteria empiris ini sangat terkait dengan temuan aktual
(temuan lapangan) yang didapatkan bukan pendapat semata. Dukungan empiris
yang berasal dari lapangan secara reliabel dan shahih dapat meningkatkan
keakuratan kajian.

d. Kemutakhiran

Kemutakhiran ini terkait dengan penutipan dari sumber-sumber yang terbaru,


up to date. sumber-sumber terbaru biasanya berdasarkan pada hasil-hasil
penelitian terkini pula.

e. Relevansi

Relevansi ini terkait dengan kutipan-kutipan yang berhubungan dengan


variabel-variabel dan hipotesis-hipotesis yang jadi perhatian peneliti.

f. Organisasi

Kriteria penilaian yang terkait dengan organisasi ini adalah berkenaan dengan
keberadaan kajian pustaka atau literatur itu disusun secara baik yang mencakup
pendahuluan, bagian dan ringkasan. Penataan atau penyusunan tata tulis
dilakukan secara sistematis sehingga terjadi hubungan logis.
g. Meyakinkan

Perihal ini berkenaan dengan apakah kajian pustaka itu membantu peneliti atau
penulis memahami benar masalahnya sehingga mampu menyakinkan orang
lain.

E. Sumber-sumber Kajian Pustaka

Bahan-bahan tinjauan pustaka dapat diambil dari berbagai sumber, seperti buku
teks, jurnal penelitian, tesis dan skripsi, buletin, terbitan-terbitan resmi pemerintah
dan lembaga-lembaga lain dan internet. Sumber yang terbesar pustakanya harus
dari buku dan sumber terkEcil pustakanya adalah internet.11[5]

1) Buku Teks
Buku teks merupakan arsip ilmu pengetahuan tentang berbagai segi kehidupan
(berbagai ilmu pengetahuan). Buku teks bisa juga diartikan salah satu jenis buku
pendidikan yang berisi uraian bahan tentang mata pelajaran atau bidang studi
tertentu, yang disusun secara sistematis dan telah diseleksi berdasarkan tujuan
tertentu, orientasi pembelajaran, dan perkembangan siswa, untuk diasimilasikan.

Sementara itu Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2004:3) menyebutkan


bahwa buku teks atau buku pelajaran adalah sekumpulan tulisan yang dibuat
secara sistematis berisi tentang suatu materi pelajaran tertentu, yang disiapkan
oleh pengarangnya dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku.
Substansi yang ada dalam buku diturunkan dari kompetensi yang harus dikuasai
oleh pembacanya (dalam hal ini siswa).

Buku teks masuk dalam katagori buku referensi. Referensi menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga Balai Pustaka, mengandung makna sumber
acuan, rujukan, petunjuk. Yang dimaksud sumber acuan diantaran buku teks
(lembaran terjilid).

2) Jurnal Penelitian
Jurnal penelitian adalah majalah ilmiah yang berisi hasil-hasil penelitian dan
pertemuan ilmiah (misalnya seminar), yang diterbitkan oleh himpunan profesi
ilmiah. Jurnal ini berisi lebih dari satu artikel yang merupakan hasil karya para

11[5] Dr. J.R Raco, M.E., M. Sc, Metode Penelitian, Jenis, Karakter Dan Keunggulannya, Pangantar
Prof. Dr. Conny R.Semiawan, Jakarta: Grasindo.
pakar dan ilmuwan. Misalnya jurnal penelitian yang diterbitkan oleh Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

3) Tesis, Skripsi dan Disertasi


Skripsi, Tesis, dan Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang disyaratkan untuk
lulus pendidikan jenjang S-1, S-2 dan S-3. Dalam penulisan Skripsi, Tesis, dan
Disertasi sebenarnya sama, bedanya semakin tinggi tingkatannya, maka semakin
dibutuhkan banyak data-data otentik dan teori-teori yang harus dirujuk sebagai
dasar penelitian, dan juga cara penyajiannya mulai dari hanya mendeskripsikan
suatu obyek penelitian sampai dengan menghasilkan suatu teori berdasarkan
fakta-fakta empiris.

4) Buletin
Buletin adalah tulisan ilmiah pendek yang terbit secara periodic yang berisi
catatan-catatan ilmiah atau petunjuk ilmiah tentang satu kegiatan operasional.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga Balai Pustaka, buletin adalah
media cetak berupa selebaran atau majalah berisi warta singkat atau pernyataan
tertulis yang diterbitkan secara periodik oleh suatu organisasi atau kelompok
profesi tertentu.

5) Media Elektronik dan Internet atau on line


Di era globalisasi dengan kemajuan yang sangat pesat dibidang informasi dan
teknologi, banyak informasi ilmiah yang tersedia untuk diakses secara elektronis
atau on-line. Informasi ilmiah tersebut tersedia dari media seperti: CD, rekaman
suara, rekaman video, dan lewat internet.

Mencari informasi ilmiah secara online mempunyai beberapa keuntungan,


yaitu antara lain: tersedia banyak informasi yang dapat dipilih, informasi
elektronik biasanya lebih baru karena prosesnya lebih cepat dari pada literature
yang berupa media cetak, dan hasilnya sudah berupa tulisan yang bisa langsung
dipakai atau di edit sesuai kebutuhan.

F. Cara mengutip karya atau sumber tertulis


a. Kutipan Langsung
Kutipan langsung ada dua macam, yaitu :
1) Kutipan langsung yang terdiri atas tidak lebih dari 3 baris tau tidak
lebih dari 40 kata ditempatkan didalam paragraf sebagaimana baris
yang lain, tetapi diapit oleh tanda petik dua (“…”) yang dimulai atau
ditutup dengan identitas rujukan. Contoh :
Tolla (1996:89) menegaskan “Metode CBSA dalam pengajaran bahasa
berdasarkan pendekatan komunikatif seharusnya berbeda denga
metode CBSA dalam bidang studi yang lain.” Cara yang lain adalah
“Metode CBSA dalam pengajaran bahasa berdasarkan pendekatan
komunikatif seharusnya berbeda denga metode CBSA dalam bidang
studi yang lain.” (Tolla, 1996:89).
2) Kutipan langsung yang terdiri atas lebih dari 3 baris atau lebih dari 40
kata diketik dalam paragraf tersendiri dengan spasi tunggal yang
didahului dan ditutup dengan tanda petik dua (“…”) dan dimulai pada
ketukan ketujuh. Contoh :
“Perihal perbedaan metode CBSA dalam pengajaran bahasa harus
diwarnai oleh aktivitas berbahasa secara dinamis dan kreatif. Keaktifan
secara intelektual tanpa disertai dengan keaktifan verbal tidak dapat
dikatakan CBSA dalam pengajaran bahasa karena hakikat bahasa
adalah tuturan lisan yang kemudian dikembangkan menjadi aturan
lisan dan tulisan. Oleh karena itu, CBSA dalam pengajaran bahasa
harus dimuati dengan kreativitas berbahasa sehingga nama yang paling
tepat adalah CBSA Komunikatif.”
b. Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung umumnya tampil bervariasi; bergantung kepada
gaya bahasa penulis. Setiap penulis mempunyai cara sendiri-sendiri
mengungkapkan kembali ide atau konsep orang lain didalam tulisannya.
Ada penulis yang memberi komentar lebih panjang, tetapi ada yang
menyatakannya dengan singkat. Kutipan tidak langsung tidak perlu
disertai dengan halaman buku sumber, cukup dengan mencantumkan nama
penulis yang diikuti dengan tahun terbitan buku sumber. Contoh :
Tolla (1996) mengemukakan bahwa metode CBSA dalam pengajaran perlu
dibedakan dengan metode CBSA dalam bidang studi yang lain kerena
pengajaran bahasa mempunyai karakteristik khusus yang berbeda dengan
bidang studi yang lain. Cara Lain : Penerapan metode CBSA dalam
pengajaran bahasa harus dibedakan dengan penerapannya dalam budang
studi yang lain dengan alasan bahwa karakteristik pengajaran bahasa
adalah penggunaan bahasa secara dinamis dan kreatif (Tolla, 1996).
BAB III
PENUTUP

Kerangka teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang


teori (dan bukan hanya sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil
penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Kerangka teori paling tidak
berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui
pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi,
sehingga ruang lingkup, kedudukan, dan prediksi terhadap hubungan antarvariabel
yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Langkah-langkah menyusun kerangka teori adalah sebagai berikut :
Ø Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
Ø Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus, ensiklopedi, jurnal ilmiah, laporan
penelitian, skripsi, tesis, disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan
setiap variabel yang diteliti.
Ø Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang
akan diteliti. (untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian, lihat judul penelitian,
permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, tekhnik
pengumpulan data, analisis, kesimpulan dan sarana yang diberikan).
Ø Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan,
dibandingkan anatara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang
sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
Ø Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan
analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap
sumber data yang di baca.
Ø Deskripsikan teori-teori yang telah di baca dari berbagai sumber kedalam bentuk
tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau SSdigunakan
sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1995. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Creswell John W., 2010, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed
Methods Approaches, 3th, terjemahan Achmad Fawaid, Yogyakarta.

Dr. J.R Raco, M.E., M. Sc, Metode Penelitian, Jenis, Karakter Dan Keunggulannya,
Pangantar Prof. Dr. Conny R.Semiawan, Jakarta: Grasindo.

Gary Anderson, Nancy Arsenault, 1998, Fundamentals of Educational Research, 2nd


Edition, The Falmer Press, Philadelphia, h. 83.
L. R. Gay, Geoffrey E. Mills, Peter Airasian, 2009, Educational Research:
Competencies for Analysis and Applications 9th, Pearson Education, New Jersey.
h. 80.

Martono, Nanang. 2011. Metode penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Moleong, Lexy.J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kulaitatif


dan R & D. Bandung : Cv. Alfa Beta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta. Cet Ke-14

Tanzeh, Ahmad. 2011. Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras.