Anda di halaman 1dari 17

Organ Genitalia Feminina, Siklus Menstruasi dan Hormon yang Berperan

Andika Prasetyo Arifin


102016244
A3
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: andikaprasetyo12@gmail.com

ABSTRAK

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang kompleks dimana banyak faktor yang dapat
mempengaruhi kehidupan itu sendiri. Manusia mengalami homeostasis dimana pada
perempuan terdapat siklus menstruasi dalam homeostasis dirinya. Siklus menstruasi pada
wanita didukung oleh organ genitalia feminina. Genitilia feminina pada wanita digolongkan
menjadi 2 yaitu genitalia feminina yang interna dan genitalia feminina yang eksterna. Genitalia
feminina interna terdapat uterus, tuba fallopii, ovarium, vagina sedangkan pada genitalia
feminine eksterna terdapat labia majora, labia minora, clitoris dan vulva. Organ-organ tersebut
akan membantu saat menjalani siklus menstruasi dimana terdapat fase folikuler, fase ovulasi
dan fase luteal. Pada siklus menstruasi juga terdapat beberapa hormon seperti FSH, LH, GnRH,
progresteron dan esterogen yang membantu untuk terjadinya fase folikuler, fase ovulasi dan
fase luteal.

Kata kunci: Genitalia feminina eksterna, genitalia feminina interna, siklus menstruasi, fase
folikuler, fase ovulasi, fase luteal.

ABSTRACT

Human life is a complex life which have a lot of factor that can influence their life. Human
always experience homeostasis which at woman have menstruation cycle in their homeostasis.
The cycle of menstruation at woman supported by genitalia feminina organ. Genitalia feminina
on woman classified into two classes which are genitalia feminina interna and genitalia
feminina externa. Genitalia feminina interna consists of uterus, tuba fallopii, ovarium, vagina
while genitalia feminina externa consists of labia majora, labia minora, clitoris and vulva.
Those organe will help when menstruation cycle happen which menstruation cycle classified
into follicular phase, ovulation phase and luteal phase. In menstruation cycle also have some
hormone that supported the cycle like FSH, LH, GnRH, Progresteron and esterogen which
help at follicular phase, ovulation phase and luteal phase.
Keywords: Genitalia feminina externa, genitalia feminina interna, menstruation cycle,
follicular phase, ovulation phase, lutheal phase.

1
Pendahuluan

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang kompleks dimana banyak faktor yang dapat
mempengaruhi kehidupan itu sendiri. Salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan
manusia adalah faktor dari tubuh manusia itu sendiri. seperti yang telah kita ketahui, tubuh
manusia tersusun dari bermilyar-milyar sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda-
beda.1-3 Semua sel-sel itu akan menyusun suatu bentuk yang lebih kompleks yang dinamakan
sebagai sebuah jaringan.4 Semua jaringan itu akan membentuk suatu organ, yang pada akhirnya
semua organ itu akan saling berkolaborasi dalam suatu sistem yang sangat teliti dan terampil
dalam menjalankan proses kehidupan.4,5 Homeostasis adalah suatu istilah yang merupakan
keadaan stasis dan seimbang dimana keadaan inilah yang dapat dianggap sebagai patokan
dalam menentukan apakah seseorang dapat dikatakan sehat dan tidak. Keadaan seimbang ini
dicapai dengan cara mengkolaborasikan berbagai jenis sistem organ yang kompleks dalam
tubuh manusia yang menunjang kehidupan manusia yang bersangkutan.1-3 Tubuh yang
mengalami homeostasis terkhususnya pada wanita ada yang dinamakan menstruasi yang
mengacu kepada pengeluaran secara periodik darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal
dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas dan menandai kemampuan
seorang wanita untuk mengandung anak. Menstruasi biasanya dimulai antara umur 10 dan 16
tahun dan berhenti ketika mencapai usia. Akhir dari kemampuan wanita untuk bermenstruasi
disebut menopause dan menandai akhir dari masa-masa kehamilan seorang wanita. Panjang
rata-rata siklus menstruasi adalah 28 hari, namun berkisar antara 21 hingga 40 hari. Panjang
siklus dapat bervariasi pada satu wanita selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan
bahkan dari bulan ke bulan tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi,
nutrisi dan keadaan hormonal wanita tersebut. Oleh karena itu, penulis akan membahas lebih
dalam lagi mengenai menstruasi beserta organ genitalia pada perempuan.

Struktur makroskopis genitalia feminina

Organ pada wanita dibedakan menjadi 2 golongan yaitu genitalia feminina interna dan genitalia
feminina eksterna. Pada golongan genitalia feminina interna terdapat uterus, ovarium, tuba
uterina/fallopii, vagina lalu pada golongan genitalia feminina eksterna terdapat vulva, labia
majora, labia minora dan clitoris. Uterus memiliki besar seperti telur ayam, letak normalnya
anteversio 90 antefleksio 170, positio dari uterus berada di antara sumbu uterus dan sumbu

2
panggul, konsistensi dari uterus kenyal lalu pada masa nulli para ukurannya 7.5 x 5 x 2.5 cm.
Pada masa anak-anak ukuran dari uterus lebih kecil sedangkan pada masa akil baliq ukurannya
akan membesar karena pengaruh estrogen ovarium. Pada ibu hamil ukuran uterus juga akan
membesar karena hipertrofi dari myometrium. Uterus memiliki bagian-bagian seperti fundus,
corpus dan cervix. Fundus uterus merupakan bagian dari uterus yang terdapat di atas muara
tuba sedangkan corpus uterus merupakan bagian terbesar, dia terletak di antara muara tuba dan
orificium internum uteri dan menciut ke distal lalu cervix yang merupakan bagian bawah dari
uterus tang sempit dan menembus dinding ventral dari vagina (Lihat Gambar 1).6,7

Gambar 1: Bagian-bagian dari Uterus7

Pada uterus juga terdapat bagian seperti isthmus uteri yamg terletak diantara corpus dan cervis
uteri, yang penting pada kehamilan serta persalinan sebab jika bagian ini melemah dapat terjadi
abortus lalu terdapat cavum uteri yang pada potongan frontal cavum uteri berbentuk segi tiga
terbalik, tetapi pada potongan sagital membentuk celah lalu pada sudut atas terdapat muara
kedua tubae. Pada bagian distal cavum uteri beralih menjadi canalis isthmi dan berakhir pada
orificium. Bagian selanjutnya rongga cervix atau yang bisa disebut juga canalis cervicis yang
menghubungkan cavum uteri melalui lubang bagian dalam cervix (ostium internum) dengan
vagina melalui lubang bagian luar cervix (ostium externum). Setelah itu terdapat juga ostium
uteri yang merupakan lubang yang pada bagian dalam (ostium interna) terletak pada distal
cavum uteri sedangkan bagian luarnya (ostium eksterna) terletak pada distal cavum cervix.
Pada nulli para ostium eksternum berbentuk sirkuler, sedangkan pada multipara berbentuk
lintang (mempunyai bibir depan dan bibir belakang). Bagian terakhir adalah dinding uterus

3
yang terdiri dari tiga lapisan yaitu endometrium, miometrium (otot polos, tempat pembuluh
darah dan nidasi), dan perimetrium.6,7

Gambar 2: Perdarahan uterus8

Uterus diperdarahi oleh arteri uterina yang berasal dari arteri iliaca interna lalu memiliki
permbuluh balik yaitu vena uterina yang pada akhirnya akan bermuara ke vena cava inferior
melalui vena iliaca interna dan vena iliaca communis (Lihat Gambar 2). Uterus juga memiliki
getah bening yaitu pada fundus uteri, dia akan mengikuti A.ovarica dan berakhir pada nnll para
aortae (setinggi vertebrae L1) sedangkan pada bagian corpus dan cervix uteri berakhir pada
nnll iliaca interna tetapi ada sebagian kecil getah bening yang mengikuti ligamentum rotundum
memasuki canalis inguinalis dan berakhir pada nnll.inguinalis superficialis. Uterus dipersarafi
oleh cabang dari plexus hypogastricus inferior. Uterus difiksasi oleh beberapa alat sehingga
mencegah terjadinya keadaan dimana uterus masuk ke dalam vagina (prolapsus uteri). Alat
tersebut digolongkan menjadi 2 yaitu alat-alat penahan uterus yang merupakan diaphragm
pelvis terdiri dari m. levator ani dan pars membranecea diaphragm urogenitale serta alat-alat
penggantung uterus yaitu lig.cardinale (Mackenrodt) yang merupakan jaringan ikat yang
berjalan dari batas antara cervix dan corpus uteri menuju dinding panggul lalu di dalamnya
berjalan a.uterina, Lig.teres uteri(rotundum) yang merupakan jaringan ikat yang berjalan dari
sudut antara tuba uterine dengan uterus menuju inguinal dan berakhir pada labium serta
memiliki fungsi untuk menahan uterus dalam kedudukan anteversi dan antefleksi, Plica
rectouterina yang merupakan lipatan peritoneum dari uterus menuju rectum dan di bagian
dalamnya berjalan serabut-serabut otot polos (Lihat Gambar 3).6,7,8

4
Gambar 3: Alat-alat penggantung uterus7

Pada masa kehamilan, alat-alat fiksasi uterus dipakai dan yang penting adalah lig.teres uteri
dan plica rectouterina. Pada kehamilan uterus membesar dan menonjol ke dalam rongga perut
sehingga kedua alat di atas akan berjalan dari bawah ke atas. Pada waktu partus (persalinan)
uterus berkontraksi kuat, serabut-serabut otot polos kedua alat di atas juga berkontraksi,
sedangkan fundus uteri tidak dapat bergerak ke cranial. Akibat fiksasi fundus dan kontraksi
uterus, isi uterus akan didorong keluar.6 Organ wanita selanjutnya adalah tuba falopii atau
tuba uterina yang dimulai dari fundus uteri sampai fimbrae. Tuba uterine divaskularisasi oleh
arteri uterine dan arteri ovarica serta memiliki vena yang mengikuti nadinya. Muara pada
corpus uteri disebut ostium internum tuba uterina. Bagian-bagiannya: isthmus yang
merupakan bagian tuba paling sempit, ampulla merupakan bagian paling lebar, tempat
fertilisasi, infundibulus merupakan bagian berbentuk corong dan mempuyai fimbriae, dan pars
intertitialis yang merupakan bagian tuba yang terdapat dalam dinding uterus (Lihat Gambar
4).

5
Gambar 4: Bagian- bagian tuba fallopii8

Lalu genitalia feminina interna selanjutnya adalah ovarium yang memiliki bentuk oval 4x2 cm,
melekat pada bagian belakang dari ligamentum latum uteri, memiliki penggantung yang
dinamakan mesovarium dan terletak di dalam fossa ovarii Waldeyer pada dinding lateral
pelvis. Ovarium diperdarahi oleh a. ovarica lalu dipersarafi oleh plexus aorticus yang terletak
di sekitar arteri ovarica dan memiliki pembuluh balik yaitu v. ovarica dextra dan v. ovarica
sinistra dan pembuluh getah bening yang mengikuti AV. Ovarica yang menuju nnll. Para aortae
setinggi L1. Pada fossa ovarii Waldeyer terdapat batas-batas yaitu pada bagian cranial dibatasi
oleh AV. Iliaca externa, pada bagian distal dibatasi oleh A.uterina, pada bagian dorsal dibatasi
oleh AV. Iliaca interna serta N.obturatorius, dan pada bagian ventral dibatasi oleh perlekatan
lig.latum. Ovarium juga memiliki beberapa bagian-bagian yaitu permukaan, tepi dan ujung-
ujung. Pada permukaan terdapat facies medialis yaitu cavum Douglas dan facies lateralis yaitu
dinding panggul sedangkan bagian tepi terdapat margo liber yaitu belakang dan margo
mesovaricus yaitu ligamentum latum lalu pada bagian ujung-ujung terdapat extremitas tubari
dan extremitas uterina.6,7 Lalu bagian genitalia feminina interna yang terakhir adalah vagina
yang merupakan bumbung buntu di sebelah cranial, di caudalis bermuara pada introitus vagina,
dari vulva sampai cervix. Panjang dari vagina kurang lebih adalah 8 cm, vagina diperdarahi
oleh arteri vaginalis cabang dari a.iliaca interna, arteri uterine ramus vaginalis dan arteri
pudenda interna ramus vaginalis. Vagina dipersarafi oleh plexus hypogastricus inferior serta
memiliki pembuluh getah bening yaitu pada 1/3 proximalnya nnll.iliaca externa dan interna,
pada 1/3 tengahnya nnll.iliaca interna lalu 1/3 distal oleh nnll.inguinalis superficialis. Pada
bagian cranial dinding ventral vagina ditembus oleh cervix uteri dan setengah bagian cranial
vagina terletak diatas dasar panggul sedangkan setengah bagian distal terletak dalam perineum.
Tunika mukosa pada vagina berlipat-lipat dimana terdapat lipat transversa/ rugae vaginales dan
lipat longitudinal. Pada dinding muka vagina terdapat cervix uteri menonjol ke dalam vagina
sehingga di belakang portio vaginalis cervicis terdapat lekukan yaitu fornix posterior
sedangkan lekukan pada bagian sebelah muka adalah fornix anterior (Lihat Gambar 3). Fornix
posterior lebih dalam daripada fornix anterior serta langsung berhbungan dengan peritoneum
yang melapisi cavum douglasi. Pada orificium vagina terdapat selaput tipis berbentuk bulan
sabit yang disebut hymen dan selaput ini akan robek posterior saat coitus pertama. Vagina
difiksasi oleh beberapa alat di beberapa bagian; pada bagian proximal vagina dengan perantara
fascia pelvis yaitu M.levator ani, ligamentum transversum cervicis, ligamentum pubocervicale,

6
ligamentum sacrocervicale lalu pada bagian tengah yaitu diaphragm urogenitale dan pada
bagian distal adalah perineal body (centrum tendineum perinei).6,7

Selanjutnya organ genitalia feminina yang eksterna yaitu mons pubis yang letaknya dari labia
majora sampai symphisi pubis, memiliki jaringan lemak serta ditumbuhi oleh rambut lalu pada
organ genitalia feminina yang eksterna terdapat labia majora yang merupakan lipatan yang
besar dari mons pubbis ke arah perineum, luarnya ditumbuhi rambut serta bagian dalamnya
licin dan banyak kelenjar sebasea. Selanjutnya terdapat vulva atau bisa disebut rima pudendi
yang merupakan ruangan yang terletak antara labia majora kanan dan kiri dan bermuara pada
vestibulum vagina. Pada labia minora vagina yang merupakan lipatan kecil vagina terdapat
frenulum labiorum pundendi merupakan kedua labia minora yang menuju ke arah distal, labia
minora terdapat preputium clitoridis yang merupakan labia minora yang ke arah proximal
berhubungan dengan glands clitoridis. Selanjutnya vestibulum yang adalah sebuah ruang
dibatasi oleh labia minora, pada bagian distalnya membentuk lekukan yang disebut fossa
naviculare dan pada vestibulum terdapat beberapa lubang yaitu orificium urethra externum
yang lateralnya terdapat gl.vestibularis minor, orificium vagina yang ditutupi hymen dan
ductus gl.vestibularis major Batolini.6,8

Struktur mikroskopis genitalia feminina

Uterus selama siklus menstruasi normal, endomentrium mengalami perubahan siklik yang
berhubungan erat dengan fungsi ovarium. Aktivitas daur uterus yang tak hamil dapat dibagi
dalam tiga stadia: stadium proliferasi (folikular), stadium sekretori (luteal) dan stadium
menstruasi. Pada stadium proliferasi, potongan melintang arteri spiralis belum sampai pada
stratum fungsionalis yang hanya mengandung kapiler. Jaringan ikat atau stroma tipe ‘selular’,
dengan masa fibroblast bercabang menyerupai sel mesenkim berada dalam jala serat reticular
dan zat kolagen dan terdapat tiga lapis jaringan muscular yang sulit dibedakan. Ketika stadium
sekretorik (luteal), endometrium menjadi bertambah tebal, karena sebagian besar berrambah
aktibitas sekretoris kelenjar dan karena cairan edema dalam stroma. Arteri spilaril menjulur
melalui endometrium ke dalam bagian superficial. Karena perubahan stroma, dua daerah
sekarang dapat dibedakan dalam fungsinya, yaitu daerah sempit stratum kompakta di bawah

7
epitel, dan daerah lebar stratum spongiosum dengan perubahan seperti diuraikan di atas
sedangkan stratum menstruasi (haid), permukaan endometrium lepas epitelnya dan banyak
jaringan dibawahnya. Terdapat banyak bekuan darah bersama sisa-sisa stroma yang terlepas
dan kelenjar yang berisi darah. Pada lamina propia daerah spongiosa kebanyakan berkumpul
eritrosit bebas yang dikeluarkan dari pembuluh darah. Terdapat infiltrasi sedang dari limfosit
dan netrofil. Pada endometrium dapat dibedakan dua zona atau lapisan, lapisan dalam, sempit
yaitu stratum basal atau bsalis dan lapisan luar superficial, lebar, yaitu stratum fungsional.9,10

Organ genitalia feminina selanjutnya adalah tuba uterina yang dibagi menjadi ampula, isthmus,
intramuralis. Pada tuba uterina bagian ampula terdapat banyak lipatan tinggi, membuat bentuk
sangat tidak teratur pada lumen uterina. Perluasan lumen membentuk alur dalam antara lipatan-
lipatan. Epitel selapis kolumnar. Tunika muskularis 2 lapisan, lapisan dalam sirkular dan
lapisan luar longitudinal. Karena jaringan ikat interstisial banyak sekali, jadi lapisan muscular
tidak demikian nyata, terutama pada lapisan luar. Pada dinding tuba uterine terdapat beberapa
macam sel, sel toraks dengan kinosilia (gerak ke proximal), sel sekretorik, sel basal (untuk
menggantikan sel sekretoris) (Lihat Gambar 5).

Gambar 5: Ampula dan Fimbriae Tuba Uterina9,10

Lalu terdapat ovarium yang permukaannya diliputi oleh epitel germinativum, modifikasi
mesotel dari peritoneum viseralis. Pada wanita masa reproduksi epitel kubis selapis, diluar
masa reproduksi epitel gepeng. Ovarium berasal dari mesoderm sedangkan oosit dari
ektoderm. Di bawah epitel ada tunika albugenia, suatu daerah tipis jaringan ikat kolagen.
Terdapat banyak folikel. Yang paling banyak adalah folikel primer. Bermacam-macam folikel:
folikel primordial (epitel gepeng), folikel primer (epitel selapis kubis), folikel sekunder (epitel
berlapis, ada zona pellucid). Folikel tersier (epitel toraks rendah, belum terbentuk antrum,

8
terdapat rongga kecil di folikel, ada badan Callexer, diliputi membrane vitrea, diluar folikel
ada tekainterna dan eksterna). Folikel graf (ada antrum, sel granulose terdesak ke pinggir menjd
hanya 1 lapis yang melapisi oosit II dan disebut korona radiate, yang mengikat oosit disebut
cumulus ooforus).9,10

Lalu vagina yang mempunyai 3 lapisan pada dindingnya yaitu mukosa, lapisan muskularis dan
adventisia. Epitel mukosa wanita dewasa adalah epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
dan dapat mengandung sedikit keratohialin. Bakteri dalam vagina memetabolisme glikogen
dan membentuk asam laktat, menyebabkan pH vagina menjadi asam. Lamina propria terdiri
atas jaringan ikat longgar dengan banyak serat elastin dan mengandung limfosit dan neutrofil.
Lapisan otot terdiri atas otot polos longitudinal, beberapa yang sirkuler terdapat di lapisan
dalam yang bersebalahan dengan mukosa. Tunika adventisia kaya akan serat elastin tebal,
akibatnya vagina menjadi sangat lentur. Lapisan ini menyatukan vagina dengan jaringan
sekitar. Disini terdapat sejumlah besar plexus vena, berkas saraf dan kelompok sel saraf.9,10

Pertumbuhan seks sekunder


Perubahan-perubahan pubertas pada anak perempuan sama dengan yang terjadi pada anak laki-
laki. Wanita berusia muda dan tua sama-sama mengalami siklus haid yang teratur, tetapi
dengan alasan yang berbeda. Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai yang bersangkutan
mencapai pubertas. Tidak seperti testis janin, ovarium janin belum berfungsi karena feminisasi
sistem reproduksi wanita secara otomatis berlangsung jika tidak terdapat sekresi testosteron
janin tanpa memerlukan keberadaan hormon seks wanita. Sistem reproduksi wanita tetap
inaktif sejak lahir sampai pubertas, yang terjadi pada usia sekitar sebelas tahun, karena GnRH
hipotalamus secara aktif ditekan oleh mekanisme-mekanisme yang serupa dengan yang terjadi
pada anak laki-laki prapubertas. Seperti pada anak laki-laki, hilangnya pengaruh-pengaruh
inhibitorik tersebut oleh mekanisme yang belum diketahui menyebabkan pubertas.11 Sekresi
esterogen yang dihasilkan oleh ovarium aktif akan menginduksi pertumbuhan dan pematangan
saluran reproduksi wanita serta perkembangan karakteristik seks sekunder wanita.12 Efek
esterogen yang menonjol pada perkembangan karakteristik seks sekunder adalah mendorong
penimbunan lemak di lokasi-lokasi strategis, misalnya payudara, pantat, dan paha, sehingga
terbentuk sosok melekuk-lekuk khas wanita. Pembesaran payudara pada saat pubertas terutama
disebabkan oleh perkembangan fungsional kelenjar-kelenjar mamaria. Tiga perubahan
pubertas lainnya pada wanita yaitu: pertumbuhan rambut ketiak dan pubis, lonjakan
pertumbuhan pubertas, dan munculnya libido disebabkan oleh lonjakan sekresi androgen

9
adrenal pada pubertas, bukan akibat esterogen. Namun, peningkatan esterogen pada masa
pubertas memang menyebabkan lempeng epifisis menutup, sehingga tidak lagi terjadi
pertambahan tinggi tubuh, serupa dengan efek testoteron pada pria.11

Siklus menstruasi
Sebagian besar wanita pertengahan usia reproduktif, perdarahan menstruasi terjadi setiap 25-
35 hari dengan median panjang siklus adalah 28 hari. Wanita dengan siklus ovulatorik, selang
waktu antara awal menstruasi hingga ovulasi – fase folikular – bervariasi lamanya. Siklus yang
diamati terjadi pada wanita yang mengalami ovulasi. Selang waktu antara awal perdarahan
menstruasi – fase luteal – relatif konstan dengan rata-rata 14 ± 2 hari pada kebanyakan wanita.
Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi; pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari,
tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah menstruasi
terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur dengan darah yang
banyaknya tidak tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu
besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Ketidakbekuan darah
menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem fibrinolitik lokal yang aktif di dalam
endometrium.13,14

Hari pertama fase menstruasi menandai permulaan siklus berikutnya. Sekelempok folikel yang
baru telah direkrut dan akan berlanjut menjadi folikel berlapis yang matang, salah satunya akan
berovulasi dan dinamakan folikel de Graf. Fenomena yang disebut menstruasi sebagian besar
merupakan peristiwa endometrial yang dipicu oleh hilangnya dukungan progesterone terhadap
korpus luteum pada siklus nonkonsepsi. Dalam menstruasi ada 2 silus yang terjadi secara
parallel, yaitu siklus menstruasi dan siklus ovarium. Siklus menstruasi terdiri dari fase
deskuamasi, regenerasi, proliferase dan sekresi. Sedangkan pada siklus ovarium terdapat fase
folikular, ovulasi, luteal.13,14 Setiap satu siklus menstruasi terdapat 4 fase perubahan yang
terjadi dalam uterus. Fase-fase ini merupakan hasil kerjasama yang sangat terkoordinasi antara
hipofisis anterior, ovarium, dan uterus. Fase-fase tersebut adalah :
1. Fase menstruasi atau deskuamasi
Siklus menstruasi secara spesifik mengacu pada perubahan yang terjadi pada uterus.
Melalui kesepakatan, hari pertama menstruasi dinyatakan sebagai hari 1 dalam siklus
tersebut. Fase menstruasi, yaitu saat hilangnya sebagian besar lapisan fungsional

10
endometrium dari dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih
utuh hanya stratum basale. Fase ini berlangsung selama 3-4 hari.
Adalah fase yang paling jelas karena ditandai oleh pengeluaran darah dan debris
endometrium dari vagina. Berdasarkan perjanjian, hari pertama haid dianggap
sebagai awal siklus baru. Fase ini berakhir bersamaan dengan berakhirnya fase luteal
ovarium dan permulaan fase folikel. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi karena
tidak terjadi pembuahan dan implantasi ovum yang dikeluarkan dari siklus
sebelumnya, kadar esterogen dan progesteron di sirkulasi turun drastis. Karena efek
netto estrogen dan progesteron adalah mempersiapkan endometrium untuk
implantasi ovum yang dibuahi, penarikan kembali kedua hormon steroid tersebut
menyebabkan lapisan endometrium yang kaya akan nutrisi dan pembuluh darah itu
tidak ada lagi yang mendukung secara hormonal. Penurunan kadar hormon-hormon
ovarium itu juga merangsang pengeluaran prostaglandin uterus yang menyebabkan
vasokontriksi pembuluh-pembuluh endometrium, sehingga aliran darah ke
endometrium terganggu. Penurunan penyaluran O2 yang terjadi menyebabkan
kematian endometrium, termasuk pembuluh-pembuluh darahnya. Perdarahan yang
timbul melalui disintegrasi pembuluh darah itu membilas jaringan endometrium
yang mati kedalam lumen uterus.15
Pada setiap kali haid, seluruh lapisan endometrium terlepas, kecuali suatu lapisan
dalam dan tipis yang terdiri dari sel-sel epitel dan kelenjar yang akan menjadi bakal
regenerasi endometrium. Prostaglandin uterus juga merangsang kontraksi ritmi
ringan miometrium. Kontraksi-kontraksi ini membantu mengeluarkan darah dan
debris endometrium dari rongga uterus melalui vagina sebagai darah haid. Kontraksi
uterus yang kuat akibat pemebentukan prostaglandin yang berlebihan merupakan
penyebab kejang haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita (Lihat
Gambar 6).15

2. Fase pasca menstruasi atau fase regenerasi


Fase ini, terjadi penyembuhan luka akibat lepasnya endometrium. Kondisi ini mulai
sejak fase menstruasi terjadi dan berlangsung selama ± 4 hari.
3. Fase intermenstum atau fase proliferasi
Setelah luka sembuh, akan terjadi penebalan pada endometrium ± 3,5 mm. Fase ini
berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus menstruasi. Fase proliferasi
dibagi menjadi 3 tahap:

11
a. Fase proliferasi dini, terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat
dikenali dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel.
b. Fase proliferasi madya, terjadi pada hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini
merupakan bentuk transisi dan dapat dikenali dari epitel permukaan yang
berbentuk torak yang tinggi.
c. Fase proliferasi akhir berlangsung antara hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini
dapat dikenali dari permukaan yang tidak rata dan dijumpai banyaknya mitosis.
4. Fase pramenstruasi atau fase sekresi.
Fase ini berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28. Fase ini endometrium kira-kira
tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang berkelok-kelok dan
mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata. Bagian dalam sel endometrium
terdapat glikogen dan kapur yang diperlukan sebagai bahan makanan untuk telur
yang dibuahi. Fase sekresi dibagi dalam 2 tahap, yaitu:15
a. Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya
karena kehilangan cairan.
b. Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan
menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang
mengandung glikogen dan lemak. Akhir masa ini, stroma endometrium berubah
kearah sel-sel; desidua, terutama yang ada di seputar pembuluh-pembuluh
arterial. Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi. Jika embrio belum
terimplantasi dalam dinding uterus pada akhir fase sekresi maka aliran menstruasi
baru akan dimulai yang menandai hari 1 siklus berikutnya.

12
Gambar 6: Siklus menstruasi11

Fase Folikular
Fase ini dikenal sebagai fase pertama yang merupakan suatu fase pada siklus menstruasi
sampai terjadinya ovulasi. Pada siklus menstruasi 28 hari, fase ini meliputi 14 hari
pertama. Apabila siklus lebih dari 28 hari, perbedaan lamanya waktu tersebut akibat
fase folikular. Selama fase ini, sekelompok folikel ovarium akan mulai matang,
walaupun hanya 1 yang akan lebih dominan dan disebut folikel de graaf. Sejak lahir,
ada banyak folikel primordial di bawah capsula ovarium. Pada manusia, satu folikel
dalam satu ovarium mulai tumbuh cepat pada sekitar hari ke enam, sementara lainnya
beregresi. Belum diketahui cara terpilihnya folikel selama perkembangan. Hari pertama
pendarahan menstruasi ditetapkan sebagai hari pertama fase folikular. Selama fase
folikuler, pituitary mensekresikan sebagian kecil FSH dan LH sebagai respon terhadap
peransangan GnRH oleh hipotalamus.

Selama 4-5 hari pertama fase ini, perkembangan folikel ovarium awal ditandai oleh
proliferasi dan aktivitas aromatase sel granulose yang diinduksi oleh FSH. Sel teka pada
folikel yang berkembang menghasilkan precursor androgen. Precursor ini dikonversi
menjadi estradiol dalam sel granulose yang berdekatan. Proses ini disebut sebagai
hipotesis 2 sel. Kadar estradiol meningkat, folikel memiliki beberapa lapis sel granulose

13
yang mengelilingi oositnya dan sedikit akumulasi cairan folikular. FSH menginduksi
sintesis reseptor FSH tambahan pada sel granulose yang memperbesar efeknya masing-
masing. FSH juga menstimulasi sintesis reseptor LH yang baru pada sel granulose yang
kemudian memulai respon LH. Pada hari ke-7 siklus menstruasi, sebuah folikel
mendominasi folikel lain dan akan menjadi matang pada hari ke-13 sampai 15. Jumlah
estrogen/estriol bertambah secara lambat selama masa pembentukan folikel.
Peningkatan kecil kadar estrogen tersebut akan menghambat sekresi pituitary sehingga
mempertahankan kadar FSH dan LH tetap rendah. Hubungan antar hormone tersebut
berubah secara radikal dan mendadak ketika sekresi estrogen oleh folikel yang sedang
tumbuh mulai meningkat tajam. Sementara peningkatan lambat estrogen menghambat
sekresi gonadotropin, peningkatan cepat mempunyai pengaruh berlawanan dan
merangsang sekresi gonadotropin dengan cara mempengaruhi hipotalamus untuk
meningkatkan produksi GnRH nya sehingga terjadi peningkatan tajam FSH dan LH.
Pengaruh itu lebih besar unutk LH karena konsentrasi estrogenyang tinggi, selain
merangsang sekresi GnRH juga meningkatkan sensitivitas pelepasan LH di pituitary
terhadap sinyal hipotalamus. Pada saat itu folikel telah mempunyai reseptor terthadap
LH dan merespon terhadap peribahan kadar ini.

Fase Ovulasi
Fase dalam silus menstruasi ini ditandai oleh lonjakan sekresi LH hipofisis yang
memuncak saat dilepaskannya ovum matang melalui kapsul ovarium. Dua sampai tiga
hari sebelum onset lonjakan LH, estradiol dan inhibin B yang bersirkulasi meningkat
secara cepat dan bersamaan. Sintesis estradiol maksimal dan tidak lagi bergantung pada
FSH. Progesterone mulai meningkat saat lonjakan LH menginduksi sintesis
progesterone oleh sel granulose.

Fase Luteal
Setelah ovulasi pertumbuhan gambaran fisiologis dan morfologis yang dominan
adalah pertumbuhan dan pemeliharaan korpus luteum. Pada manusia, sel luteal
membuat estrogen dan inhibin dalam jumlah besar. Sebenarnya, oknsentrasi estrogen
yang bersirkulasi selama fase luteal berada dalam keadaan praovulatoir dengan umpan
balik positif. Progesterone dengan kadar tinggi disekresi korpus luteum mencegah
estrogen untuk menstimulasi lonjakan LH yang lain dari hipofisis. Lamanya fase luteal
lebih konsisten dari fase folikuler, biasa 14 + 2 hari. Jika tidak terjadi kehamilan, korpus

14
luteum secara spontan mengalami represo dan perkembangan folikel berlanjut ke siklus
berikutnya. Selama fase menstruasi, secara bersamaan terjadilah oogenesis. Yang akan
mengisi folikel dan apabila terjadi fertilisasi akan berubah menjadi ovum.
Dalam siklus menstruasi juga dapat terjadi gangguan dapat dibedakan pada gangguan pada
darah yang keluar, kelainan pada siklus dan perdarahan di luar siklus menstruasi. Pada
gangguan menstruasi pada darah yang keluar terdapat hipermenorea yaitu darah banyak keluar
saat menstruasi dan hipomenorea yaitu darah kurang dengan siklus normal lalu jika gangguan
pada siklus terdapat polimenorea yaitu siklus kurang dari 20 hari, oligomenorea yaitu siklus di
atas 35 hari dan amenorea yaitu terlambat menstruasi selama tiga bulan berturut-turut.
Gangguan terakhir adalah perdarahan di luar siklus menstruasi atau bisa disebut dengan
metroagia.16

Hormon yang mempengaruhi siklus menstruasi

Secara garis besar terdapat tiga hirarki hormonal yang berperan saat pubertas pada wanita yaitu
(1) Gonadotopin-releasing hormone (GnRH) yang dihasilkan oleh hipotalamus, (2) Follicle-
stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH) yang dihasilkan oleh hipofisis
anterior sebagai respons atas GnRH, dan (3) Estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh
ovarium sebagai respons atas FSH dan LH.11,13,14
1. Gonadotopin-releasing hormone (GnRH)
GnRH adalah hormon peptida yang dihasilkan oleh hipotalamus, yang menstimulasi
sel-sel gonadotrop pada hipofisis anterior. Di hipotalamus sendiri pengeluaran GnRH
diatur oleh nukleus arkuata. Neuron pada nukleus arkuata memiliki kemampuan untuk
memproduksi dan melepas gelombang GnRH ke hipofisis.
2. Gonadotropin
Gonadotropin pada wanita meliputi Follicle-stimulating hormone (FSH) dan
Luteinizing hormone (LH). Baik FSH dan LH disekresikan oleh kelenjar hipofisis
anterior pada usia antara 9-12 tahun. Efek dari sekresi hormon tersebut adalah siklus
menstruasi yang terjadi pada usia sekitar 11-15 tahun. Periode ini dikatakan pubertas
sedangkan siklus menstruasi pertama disebut menarche. FSH dan LH bekerja
menstimulasi ovarium dengan berikatan pada reseptor FSH dan reseptor LH. Reseptor
yang teraktivasi akan meningkatkan laju sekresi sel, pertumbuhan, dan proliferasi sel.
Aktivitas ini diperantarai oleh cAMP.11,13,14
a. Follicle-stimulating hormone (FSH)

15
FSH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein, diproduksi di sel
gonadotrop hipofisis, distimulasi oleh hormon aktivin dan dihambat oleh hormon
inhibin. FSH berfungsi dalam pertumbuhan, perkembangan, maturasi saat
pubertas, dan reproduksi. Pada wanita, FSH menstimulasi maturasi sel-sel
germinal, menstimulasi pertumbuhan folikel terutama pada sel-sel granulosa dan
mencegah atresia folikel. Pada akhir fase folikular kerja FSH dihambat oleh
inhibin dan pada akhir fase luteal aktivitas FSH kembali meningkat untuk
mempersiapkan siklus ovulasi berikutnya, demikian seterusnya. Kerja FSH juga
dihambat oleh estradiol (estrogen) yang dihasilkan oleh folikel matang sehingga
menyebabkan folikel tersebut dapat mengalami ovulasi sedangkan folikel
lainnya mengalami atresia.11,13,14
b. Luteinizing hormone (LH)
LH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein heterodimer,
diproduksi di sel gonadotrop hipofisis dan kerjanya tidak dipengaruhi oleh
aktivitas aktivin, inhibin, dan hormon seks. Pada saat FSH menstimulasi
pertumbuhan folikel, khususnya sel granulosa, maka pengeluaran estrogen akan
memicu munculnya reseptor untuk LH. LH akan berikatan pada reseptornya
tersebut dan estrogen akan mengirim umpan balik positif untuk mengeluarkan
lebih banyak lagi LH. Dengan semakin banyaknya LH, maka akan memicu
ovulasi (pengeluaran ovum) dari folikel sekaligus mengarahkan pembentukan
korpus luteum. Korpus luteum yang terbentuk akan menghasilkan progesteron
yang berguna pada saat implantasi.11,13,14

Kesimpulan
Genitalia feminina dibedakan menjadi dua yaitu interna dan eksterna. Pada genitalia feminina
interna terdapat ovarium, uterus, tuba uterina dan vagina sedangkan pada genitalia feminine
eksterna terdapat vulva, labia majora, labia minora dan clitoris. Organ tersebut akan membuat
wanita merasakan siklus menstruasi dimana terdapat fase folikuler, fase ovulasi dan fase luteal
dan siklus ini dibantu oleh beberapa hormon seperti LH, FSH dan GnRH.

16
Daftar Pustaka

1. Ramadhani D, Ong HO, editors. Fisiologi manusia: Dari sel ke sistem. 8th ed.
Diterjemahkan dari: Sherwood L. Introduction to human physiology. 8th ed. Jakarta: EGC;
2012. P. 4-6. P.326-38.
2. Albert B, Johnson A, Lewis J, Morgan D, Raff M, Robert K, et al. Molecular biology of
the cell. 6th ed. New York: Garland Science; 2015. P. 1-4, 963-6.
3. Goodman SR. Medical cell biology. 3rd ed. California: Elsevier; 2012. P. 1-6.
4. Clark DP, Pazdernik NJ. Molecular biology. 2nd ed. Oxford: Elsevier; 2013. P. 3-9.
5. Karp G. Cell and molecular biology. Concepts and experiments. Oxford. P. 19.
6. Kasim YI. Buku ajar traktus urogenitalis. Jakarta: Universitas Kristen Krida Wacana; 2017.
7. Netter FH. Atlas of human anatomy. 6th Ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2004. P. 381-
6.
8. Paulsen F, Waschke J, editors. Sobotta: atlas of human anatomy. 15th Ed. Munich: Elsevier;
2011. P. 202-13.
9. Junqueira LC, Carneiro J. Histologi dasar teks dan atlas. Jakarta: EGC ; 2007.
10. Gunawijaya, Arifin F, Kartawiguna E. Penuntun praktikum : kumpulan foto mikroskopik
histologi. Jakarta : Penerbit Universitas Trisakti. 2009.
11. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit :
Kedokteran EGC ; 2001.
12. Sheldon H. Cherry MD. Bimbingan ginekologi : kesehatan wanita. Bandung : Pionir Jaya,
2004. h. 55-7.
13. Sloane Ethel. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC ; 2003.
14. Ganong W.F. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC 2005.
15. Benson CR, Pernoll LM, Wijaya S, Primarianti SS, Resmisari. Buku saku obstetri dan
ginekologi. Edisi 9. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC ; 2008. h. 669.
16. Manuaba IBG. Penuntun kepaniteraan klinik obstetri dan ginekologi. 2nd Ed. Jakarta: EGC
; 2010. P. 236.

17