Anda di halaman 1dari 9

Nyeri Dada Akibat Peningkatan Kadar Biomark

Cynthia Kartika Estheria Tambunan

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

email: cynthia.2016fk091@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Jantung sebagai pusat sirkulasi, baik pulmonal yang menghantarkan darah ke paru
maupun sistemik yang menghantarkan darah ke seluruh tubuh, memegang peranan
penting dalam menjaga agar aliran darah di tubuh berjalan lancar. Siklus jantung dan
aktifitas listrik jantung merupakan sistem kardiovaskular. Jantung untuk memulai
impulsnya, tidak dipersarafi oleh saraf apapun karena jantung memiliki generator impuls
sendiri, yaitu nodus SA, nodus AV, berkas His, dan serat purkinje dimana nodus yang
berperan sebagai pacemaker potential adalah nodus SA. Apabila terdapat gangguan pada
jantung, yang salah satu contohnya adalah penyakit jantung koroner, dan biasanya
diawali dengan gejala nyeri dada seperti ditekan, hal ini akan sangat membahayakan
pasien.
Kata Kunci : Sistem kardiovaskular, aktivitas listrik jantung, biomarker jantung, EKG.
Abstract
The heart of the center of circulation, which delivers both pulmonary and systemic blood
to the lungs which delivers blood throughout the body, plays an important role in
maintaining blood flow in the body running smoothly. The cardiac cycle and electrical
activity of the heart is the cardiovascular system. Heart to start impulse, not supplied by
the nerve anything, because the heart has its own impulse generator, which is the SA
node, AV node, the bundle of His and the Purkinje fibers in which the nodes that act as
pacemaker potential is the SA node. If there is strain on the heart, which one example is
coronary heart disease, and is usually preceded by symptoms of angina pectoris, which is
chest pain like pressure, it would be very dangerous for patients.
Keywords: cardiovascular system, the electrical activity of the heart, heart biomarker,
EKG.

1
Pendahuluan
Salah satu bagian dari tubuh manusia yang memegang peranan penting dalam
menjaga kelangsungan hidup manusia adalah sistem sirkulasi. Jantung sebagai pusat
sistem sirkulasi atau yang lebih dikenal sebagai kardiovaskuler, sangat berkontribusi
dalam pengaliran darah guna menyalurkan oksigen, karbon dioksida, nutrisi, sisa
metabolit, dan berbagai molekul lain. Keseluruhan kerja dari sistem sirkulasi ini pada
akhirnya akan berkontribusi dalam menunjang homeostasis tubuh. Jantung merupakan
popma yang dapat memompa darah ke seluruh tubuh maupun ke paru- paru, siklus
jantung terdapat dua, yaitu siklus jantung berdasarkan kelistrikan atau simpul SA, simpul
AV, serat purkinye, sedangkan terdapat juga siklus pompa jantung yaitu sistol atau
pengosongan dan diastole atau pengisian ventrikel. Pada jantung terdapat 4 ruangan yaitu
2 ventrikel dan 2 atrium, lapisan ventrikel lebih tebal daripada ventrikel, karena terdapat
miokardium yang lebih tebal dan lapisan mikroskopik lainnya. Sedangkan pada ventrikel
kiri lebih tebal daripada ventrikel kanan karena pada ventrikel kiri, jantung akan
memompa ke sistem sistemik atau seluruh tubuh. Enzim pada tubuh terdapat 2 jenis,
yaitu fungsional dan non fungsional. Kelainan- kelainan pada kelistrikan jantung dapat
dideteksi dengan melakukan EKG yang terdiri dari 12 sadapan yaitu 3 pemahaman yang
berbeda.Salah satu penyakit pada jantung yang mematikan adalah penyakit jantung
koroner (Coronary Artery Disease).
Struktur Makroskopis Jantung
Jantung merupakan organ muscularis berongga, dimana rongganya berbentuk kerucut
(conus) dengan ukuran sebesar kepalan tangan pemiliknya. Jantung bersandar pada
diafragma di antara bagian inferior kedua paru, dan dibungkus oleh membran khusus yang
disebut pericardium. Pada batas atas jantung terdapat pembuluh darah besar seperti aorta,
dan truncus pulmonalis, bagian bawah terdapat diafragma, batas belakang terdapat aorta
descendens, oesophagus, dan columna vertebralis sedangkan pada setiap sisi jantung
terdapat paru. Jantung terdiri dari 4 ruang, yaitu (a) Atrium kanan, atrium kanan
berdinding tipis dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah dan sebagai penyalur
darah dari vena-vena sirkulasi sistemik yang mengalir ke ventrikel kanan. Darah yang
berasal dari pembuluh vena ini masuk ke dalam atrium kanan melalui vena kava superior,
vena kava inferior dan sinus koronarius. (b) Atrium kiri, atrium kiri menerima darah

2
teroksigenasi dari paru-paru melalui keempat vena pulmonalis. Atrium kiri memiliki
dinding yang tipis dan bertekanan rendah. Darah mengalir dari atrium kiri ke dalam
ventrikel kiri melalui katup mitralis. (c) Ventrikel kanan, ventrikel kanan berhubungan
dengan atrium kanan melalui ostium atrioventriculare kanan dan dengan truncus
pulmonalis melalui ostium trunci pulmonalis. Dinding ventrikel kanan jauh lebih tebal
dibandingkan dengan atrium kanan dan menunjukkan beberapa rigi menonjol ke dalam,
yang dibentuk oleh berkas-berkas otot. (d) Ventrikel kiri, ventrikel kiri berhubungan
dengan atrium kiri melalui ostium atrioventriculare kiri dan dengan aorta melalui ostium
aortae. Dinding ventrikel kiri tiga kali lebih tebal daripada dinding ventrikel kanan.1-3

Gambar 1. Makroskopis Jantung


Struktur Mikroskopis Jantung
Dinding jantung dibagi menjadi tiga lapisan, yaitu endocardium, miokardium, dan
epicardium. Potongan memanjang pada bagian kiri jantung akan memperlihatkan bagian-
bagian serta lapisan-lapisan atrium kiri dan ventrikel kiri. Lapisan endocardium
membungkus ruang atrium dan ventrikel. Dibawah lapisan endocardium, adalah lapisan
subendokardium yang merupakan jaringan ikat. Lapisan miokardium terdapat di atrium
kiri dan ventrikel kiri yang berisi serat otot jantung. Lapisan luar, epicardium saling
berhubungan dan menutupi jantung di bagian luar. Lapisan subepikardium terdiri dari
lapisan jaringan ikat, jaringan lemak, dan beberapa pembuluh darah koronaria, yang
jumlahnya sedikit dibandingkan dengan proporsi ukuran jantung. Diantara atrium dan

3
ventrikel, terdapat suatu lapisan jaringan ikat yang disebut annulus fibrosus. Katup mitral
atau atrioventricularis kiri memisahkan ruangan atrium dengan ventrikel. Katup mitral ini
disusun oleh dua lapis membran endocardium dan jaringan ikat yang kuat yang
berkesinambungan dengan annulus fibrosus. Serat purkinje merupakan serat hantar
khusus, yang terletak di lapisan subendokardium. Serat purkinje berukuran lebih besar
dan lebih terang. A. coronaria, juga ditemukan pada lapisan subepikardium. Di bawah A.
coronaria, terdapat sinus coronaries, yang merupakan pembuluh yang mendrainase darah
dari arteri koronaria. Di dalam sinus ini terdapat katup layaknya vena pada umumnya.

Gambar 2. Potongan Memanjang Bagian Kiri Jantung Memperlihatkan Atrium Kiri dan
Ventrikel Kiri serta Lapisannya.
Potongan memanjang ventrikel kanan dan bagian bawah dari trunkus pulmonalis.
Sebagaimana pembuluh darah lainnya, trunkus pulmonalis dibatasi oleh lapisa endotel
yang disebut sebagai tunika intima. Tunika media merupakan lapisan paling tebal pada
dinding trunkus pulmonalis. Pada tunika media, lamina elastika tidak terlihat walaupun
dengan perbesaran kuat. Tunika adventisia menutupi bagian luar trunkus pulmonalis dan
mengelilingi lapisan subepikardium yang mengandung jaringan lemak dan arteriol serta
venula coronaria.4-5

Gambar 3. Potongan Memanjang Bagian Kanan Jantung Memperlihatkan Atrium Kanan,


Ventrikel Kanan Lapisannya, serta Trunkus Pulmonalis.

4
Persarafan Jantung
Pengaturan kerja jantung oleh saraf simpatis dan parasimpatis. (1) Perangsangan oleh
Saraf simpatis, perangsangan simpatis meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung
sampai dua kali normal sehingga akan meningkatkan volume darah yang dipompa dan
meningkatkan tekanan ejeksi. (2) Perangsangan oleh saraf parasimpatis (Vagus),
perangsangan serabut serabut-serabut vagus didistribusikan terutama ke atrium dan tidak
begitu banyak ke ventrikel, tempat terjadinya tenaga kontraksi yang sebenarnya.
Pengaruh perangsangan vagus yang terutama mengurangi frekuensi denyut jantung.6
Pengaturan Kerja Jantung
Sirkulasi darah ditubuh ada dua yaitu sirkulasi pulmonal dan sirkulasi sistemis. (1)
Sirkulasi pulmonal dimulai dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis, arteri besar dan
kecil, kapiler lalu masuk ke paru, setelah dari parukeluar melalui vena kecil, vena
pulmonalis dan akhirnya kembali ke atrium kiri. (2) Sirkulasi sistemik dimulai dari
ventrikel kiri ke aorta lalu arteri besar, arteri kecil, arteriol lalu ke seluruh tubuh lalu ke
venule, vena kecil, vena besar, vena cava inferior, vena cava superior akhirnya kembali
ke atrium kanan.7
Aktivitas Listrik Jantung
Kontraksi sel otot jantung untuk menyemprotkan darah dipicu oleh potensial aksi
yang menjalar ke seluruh membran sel otot. Jantung berkontraksi, atau berdenyut, secara
ritmis akibat potensial aksi yang dihasilkannya sendiri. Jantung memiliki kemampuan
autorhytmicity, yaitu kemampuan untuk membentuk impuls secara spontan dan teratur.
Ada dua jenis sel otot jantung, yaitu (1) sel-sel kontraktil yang berjumlah sekitar
99% dari seluruh miokardium, dan (2) sel-sel otoritmik atau sel-sel penghantar khusus
yang menempati sisanya. Sel-sel kontraktil adalah sel otot jantung biasa yang
memiliki kemampuan kontraksi sehingga jantung memiliki kemampuan untuk
memompa. Sedangkan sel-sel otoritmik atau sistem penghantar khusus tidak berkontraksi
tetapi memiliki kemampuan khusus untuk memulai dan menghantarkan potensial aksi
yang menyebabkan kontraksi sel-sel jantung kontraktil, biasa disebut dengan kemampuan
pencetus irama atau picu jantung. Sistem penghantar khusus ada lima, yaitu (a) simpul
SA, (b) simpul AV, (c) jaras intermodal, (d) berkas his, dan (e) serat-serat purkinje.
Fase awal depolarisasi lambat ke ambang disebabkan oleh penurunan

5
permeabilitas ion K+ sehingga ion K+ yang keluar menjadi berkurang dan permeabilitas
Na+ tetap menyebabkan terjadinya depolarisasi lambat hingga mencapai ambang
letup. Setelah mencapai ambang letup, permeabilitas terhadap Ca2+ meningkat
sehingga terjadi influks Ca2+ yang cepat dan dalam jumlah besar (fase naik
potensial aksi). Setelah mencapai puncak potensial aksi, terjadi penurunan
permeabilitas Ca2+ dan peningkatan permeabilitas K+ yang menyebabkan banyak
ion K+ banyak yang keluar dari sel sehingga mengakibatkan terjadinya repolarisasi
(penurunan pada grafik). Siklus berlanjut terus tanpa adanya potensial membran
istirahat.7-8

Gambar 3. Mekanisme Listrik Jantung


Simpul SA akan menghasilkan potensial aksi yang akan dijalankan menuju simpul
AV melalui jalur intermodal dan menuju atrium sinistra (simpul AV ada di atrium
dextra) melalui jalur interatrial. Pada simpul AV, impuls yang diterima akan dijalankan
dengan lambat sehingga timbul jeda sekitar 0,08-0,12 detik yang disebut sebagai AV
delay. Karena adanya AV delay ini, kontraksi atrium dan ventriculus tidak terjadi
bersamaan tapi atrium akan berkontraksi terlebih dahulu. Dari simpul AV, impuls akan
berjalan melalui berkas his yang bercabang dua menuju ke seluruh miokardium yang
dibantu oleh serat-serat purkinje. Potensial aksi yang ada pada otot-otot jantung berbeda
dengan otot rangka atau otot polos biasa. Pada potensial ini ditemukan gambaran
dataran yang menyebabkan masa refrakter otot jantung berlangsung lebih panjang,
bahkan hampir sama lamanya dengan kontraksi otot jantung sehingga mengakibatkan
otot jantung tidak dapat dirangsang kembali sebelum kontraksinya selesai (tidak ada
peristiwa sumasi). Pada fase 0, potensial membran dengan cepat berbalik ke nilai

6
positif +30mV akibat pengaktifan saluran Na+ yang menyebabkan Na+ masuk
dengan cepat ke dalam sel. Setelah mencapai puncak (fase 1), permeabilitas Na+
dengan cepat menurun ke nilai istirahatnya yang rendah, tetapi, khas untuk sel otot
jantung, potensial membran dipertahankan mendekati tingkat positif puncak ini
selama beberapa ratus milidetik, menghasilkan fase datar potensial aksi (fase 2).
Hal ini terjadi karena permeabilitas Ca2+ meningkat sehingga ion Ca2+ masuk ke
dalam sel.Sebaliknya, potensial aksi singkat di neuron dan sel otot rangka
berlangsung 1 sampai 2 mdet. Setelah fase 2, terjadi fase turun potensial aksi yang
cepat (fase 3) karena inaktivasi saluran Ca2+dan tetap aktifnya saluran K+. Karena itu,
seperti pada sel peka rangsang lainnya, sel kembali ke potensial istirahat.7-8

Gambar 4. Mekanisme Listrik Jantung


Stroke Volume dan Cardiac Output
Cardiac Output atau curah jantung adalah jumlah darah yang dipompa keluar dari
ventrikel kiri setiap menit. Curah jantung normal adalah 4 sampai 6 liter per menit
pada orang dewasa yang sehat. Volume darah yang bersirkulasi berubah sesuai
kebutuhan oksigen dan metabolik tubuh. Misalnya, selama latihan, kehamilan,
demam, curah jantung meningkat, tetapi selama tidur, curah jantung menurun.9
Biomarker Jantung
Biomarker jantung terbagi dua, yaitu (1) Biomarker jantung enzim, yang terdiri dari (a)
LDH (Lactate Dehydrogenase), kadarnya meningkat 8-12 jam setelah infark mencapai
puncak 24-28 jam untuk kemudian menurun hari ke-7. (b) CK (Creatine Kinase), kadar

7
serum CK-MB mulai naik 3-8 jam setelah infark, puncaknya pada 24 jam, dan kembali
normal dalam waktu 48 sampai 72 jam. (c) Aspartate amino transferase (AST), adalah
enzim yang kurang sensitif terhadap kerusakan miokardium. AST levelnya meningkat
seiring kurang berfungsinya hati karena gagal jantung. (2) Biomarker jantung bukan
enzim, yang terdiri dari (a) Mioglobin, dikeluarkan jika ada kerusakan sel otot jantung
dan otot rangka. Dikeluarkan dalam darah setelah 2-3 jam setelah adanya kerusakan (b)
Troponin, pada infark miokard kadar serum troponin mulai meningkat 3 - 4 jam setelah
awal timbulnya gejala, puncaknya antara 18 dan 36 jam dan kemudian menurun
perlahan, yang dapat terdeteksi hingga 10-14 hari. Dengan demikian, pengukuran
troponin dapat membantu untuk mendeteksi infark miokard selama hampir 2 minggu
setelah peristiwa terjadi.10
Elektrokardogram
Elektrokardogram merekam aktivitas listrik sel di atrium dan ventrikel serta membentuk
gelombang dan kompleks yang spesifik. Aktivitas listrik tersebut di dapat dengan
menggunakan elektroda di kulit yang dihubungkan dengan kabel ke mesin EKG. Jadi
EKG merupakan voltmeter yang merekam aktivitas listrik akibat depolarisasi sel otot
jantung. Gambaran EKG normal menunjukkan bentuk dasar sebagai berikut (1)
Gelombang P, gelombang ini pada umumnya berukuran kecil dan merupakan hasil
depolarisasi atrium kanan dan kiri. (2) Segmen PR, segmen ini merupakan garis iso-
elektrik yang menghubungkan antara gelombang P dengan Kompleks QRS. (3)
Kompleks QRS, kompleks QRS merupakan suatu kelompok gelombang yang merupakan
hasil depolarisasi ventrikel kanan dan kiri. (4) Segmen ST, segmen ini merupakan garis
iso-elektrik yang menghubungkan kompleks QRS dengan gelombang T. (5) Gelombang
T, gelombang T merupakan pontesial repolarisasi dari ventrikel kiri dan kanan. (6)
Interval PR merupakan waktu yang diukur dari awal gelombang P sampai dengan awal
Kompleks QRS. (7) Interval QT merupakan waktu yang diukur dari awal gelombang Q
sampai akhir gelombang T. Interval QT mempresentasikan waktu yang dibutuhkan untuk
depolarisasi dan repolarisasi ventrikel.11

8
Kesimpulan
Jantung merupakan organ pompa yang autoritmis dan menghasilkan medan listrik.
Medan listrik tersebut dapat direkam dengan menggunakan EKG. EKG memiliki
komponen yaitu gelombang segmen, dan interval. Dalam skenario hasil EKG laki-laki
tersebut menyatakan adanya elevasi segmen ST, dan peningkatan kadar biomarker
jantung di serum. Elevasi segmen ST dan peningkatan kadar biomarker menggambarkan
adanya STEMI pada pasien.
Daftar pustaka
1. Paulsen F, Washcke J. Sobotta, General anatomy and musculoskeletal system.
23rd ed. Vol. 2. Munchen: EGC; 2010. P. 10-4.
2. Drake RL, Vogl AW, Mitchell AWM. Gray. Dasar-dasar anatomi. Jakarta:
Elsevier: 2014; h.93-114
3. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern. Ed. 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2003.
4. Eroschenko VP. DiFiore atlas of histology with functional correlations. 11th ed.
Baltimore: Lippincott Williams and Wilkins; 2008. p. 180-4.
5. Mescher AL. Junqueira’s basic histology text and atlas. 13th ed. New York:
McGraw-Hill; 2013. p. 212-7.
6. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC;
2006.h.102-12.
7. Ganong F.W. Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC; 2011.h.553-564.
8. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC;
2012.h. 96,333-47.
9. Nursalim A, Suryaatmadja M, dan Panggabean M. Potential Clinical Application
of Novel Cardiac Biomarkers for Acute Myocardial Infarction. 2013. Diunduh
dari http://www.inaactamedica.org/archives/2013/24045397.pdf
10. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC, 2003.h.228-247
11. Mustofa. Elektrocardiografi. 2011. Diunduh dari
http://fk.unsoed.ac.id/sites/default/files/img/modul%20labskill/genap%20II/Gena
p%20II%20-%20Elektrocardiografi.pdf.