Anda di halaman 1dari 13

SOFT DRINK SEBAGAI BAGIAN GAYA HIDUP REMAJA

Disusun Oleh :

NOVIANA ANJAR HASTUTI =================================================================

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit degeneratif merupakan penyakit menurun yang menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), terdapat sekitar 17 juta orang meninggal dunia akibat penyakit degeneratif setiap tahun (Anonim, 2011). Penyakit ini muncul akibat perilaku makan yang tidak baik, khusunya pada kalangan remaja yang menjadi sasaran utama karena banyak ditemuinya masalah tingkat kesehatan dan status gizi pada kalangan remaja. Selain itu, menurut Dyah Arofah (2006) meningkatnya prevalensi obesitas pada remaja juga menimbulkan kekhawatiran. Obesitas pun banyak disebabkan oleh pola makan yang tidak baik, kurang olahraga, dan faktor lingkungan. Penyakit degeneratif maupun obesitas salah satunya disebabkan karena pola makan yang tidak baik, misalnya konsumsi beberapa jenis mineral seperti besi, kalsium, dan beberapa vitamin yang ternyata masih kurang pada remaja walaupun asupan kalori dan protein sudah tercukupi (Arisman dalam Anonim, 2011). Konsumsi makanan siap saji (junk food) dan minuman ringan (softdrink) menjadi salah satu bentuk pola makan remaja saat ini. Minuman ringan (soft drink) menjadi salah satu bagian gaya hidup remaja kota-kota besar, karena penyajian kemasan yang menarik, serta iklan-iklan minuman ringan yang dikemas dengan nuansa remaja, dan juga slogan-slogan yang mempengaruhi pandangan tentang produk itu sendiri. Soft drinks are one of the most recognized parts of Western culture. Beginning as tonics for fatigue and anything else that might be the matter with a patient, they have evolved into sweet bubbly accompaniments to hamburgers and french fries and other widely recognized parts of Western culture.

Wardlaw menegaskan bahwa kalangan remaja cenderung mengkonsumsi minuman berupa soft drink. Yule menambahkan bahwa jumlah konsumsi harian softdrink mengalami peningkatan sebesar 74% pada remaja putra dan 64% pada remaja putri dari tahun 1979 sampai dengan tahun 197 (Anonim, 2011). Soft drink merupakan minuman berkarbonasi yang diberi tambahan berupa bahan perasa dan pemanis seperti gula. Soft drink terdiri dari sugar-sweetened soft drink dan non-sugar soft drink. Sugar-sweetened soft drink merupakan soft drink dengan zat pemanis yang berasal dari gula, sedangkan non-sugar soft drink merupakan soft drink dengan zat pemanis yang berasal dari pemanis buatan (Australian Beverages Council, 2004). Rasa softdrink yang manis dan menyegarkan memang menjadi candu tersendiri bagi para penikmatnya. Terlepas dari rasanya, banyak penelitian yang menemukan efek negatif dari kebiasaan minum soda. Mulai dari obesitas, hingga ancaman penyakit jantung. Pemanis yang terdapat dalam soft drink berjumlah besar yaitu setara dengan 10 sendok teh gula dalam kemasan 12 oz, satu oz setara dengan 30 ml (American Academy of Pediatrics, 2004). Konsumsi soft drink memiliki dampak buruk terhadap kesehatan seperti karies gigi. Konsumsi soft drink juga dapat dihubungkan terhadap insidensi terjadinya osteoporosis dan fraktur tulang (Jacobson dalam Anonim, 2011). Sebuah situs kesehatan Global Healing Center (2013) menyatakan bahwa disaat para remaja terekspose dengan iklan dan slogan-slogan soft drink, banyak bukti yang menemukan bahwa minuman ini sangat berbahaya. The most commonly associated health risks are obesity, diabetes and other blood sugar disorders, tooth decay, osteoporosis and bone fractures, nutritional deficiencies, heart disease, food addictions and eating disorders, neurotransmitter dysfunction from chemical sweeteners, and neurological and adrenal disorders from excessive caffeine.

Dengan banyaknya penelitian yang telah membuktikan hbahwa soft drink berbahaya bagi kesehatan, sudah semestinya pengkonsumsian soft drink menjadi salah satu bagian penelitian kesehatan karena target sasaran konsumen mereka adalah remaja dan softdrink telah menjadi salah satu bagian gaya hidup remaja. Dengan demikian, makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi mengenai soft drink serta bahayanya terhadap kesehatan. Sehingga dengan diketahuinya informasi mengenai soft drink ini nantinya dapat dibuat perubahan

keputusan-keputusan yang terkait gaya hidup sehat dan terkait dengan kesehatan remaja.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana kandungan dari minuman ringan (soft drink)?

2. Bagaimana dampak konsumsi soft drink bagi kesehatan?

3. Bagaimana bentuk pengaturan pengkonsumsian soft drink agar tidak berdampak negatif bagi kesehatan?

C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:

1. Kandungan dari minuman ringan (soft drink)

2. Dampak konsumsi soft drink bagi kesehatan

3. Bentuk pengaturan pengkonsumsian soft drink agar tidak berdampak negatif bagi

kesehatan

BAB II PEMBAHASAN

Belum lama ini, masyarakat di AS dan Eropa kembali diingatkan mengenai bahaya yang tersimpan dalam satu kaleng soda. Temuan dari badan kesehatan di AS menemukan bahwa salah satu zat pewarna yang digunakan dalam produk soda buatan Coca-cola dan Pepsi ditenggarai mampu memicu penyakit kanker. Parahnya, studi lain yang dilakukan oleh beberapa pakar kesehatan dari Centre for Science in the Public Interest menemukan bahwa satu kaleng soda ternyata mengandung zat pewarna yang cukup tinggi.

soda ternyata mengandung zat pewarna yang cukup tinggi. A. Kandungan Minuman Ringan (Soft Drink) Bila kita
soda ternyata mengandung zat pewarna yang cukup tinggi. A. Kandungan Minuman Ringan (Soft Drink) Bila kita

A. Kandungan Minuman Ringan (Soft Drink) Bila kita melihat detail komposisi secara umum yang terdapat dalam soda memang banyak. Eko Prayitno (2011) memaparkan beberapa saja dari komposisi tersebut, yaitu air Berkarbonasi (Air CO2), Natrium Benzoat, Kafein, dan pewarna makanan.

1. Air Berkarbonasi (Air CO2) Minuman berkarbonasi adalah minuman yang tidak memiliki kandungan alkohol. Di seluruh belahan bumi, minuman berkarbonasi memiliki beberapa nama populer yang berbeda-beda. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, dikenal dengan nama soda, soda pop, pop atau tonik, di Inggris dikenal dengan fizzy drinks, di Canada dikenal dengan Soda atau Pop saja. Sedangkan di daerah Ireland, mereka menyebutnya Minerals. Pada 1770-an, seorang ilmuwan berhasil menciptakan suatu proses untuk menghasilkan air mineral berkarbonasi. Adalah seorang berkebangsaan Inggris bernama Joseph Priestley yang berhasil memproses air hasil destilasi dan mencampurnya dengan CO2. Ilmuwan Inggris yang lain John Mervin Nooth, berhasil

memperbaiki hasil penemuan Priestley dan menjualnya secara komersial alat untuk memproduksi air soda yang pertama untuk digunakan di bidang farmasi. Karbonasi terjadi ketika gas CO2 terlarut secara sempurna dalam air. Proses ini akan menghasilkan sensasi karbonasi "Fizz" pada air berkarbonasi dan sparkling mineral water. Hal tersebut diikuti dengan reaksi keluarnya buih pada minuman soda yang tidak lain adalah proses pelepasan kandungan CO2 terlarut di dalam air. CO2 digunakan untuk menambahkan rasa menggelitik di rongga mulut saat mengkonsumsi soda. Reaksi CO2 menimbulkan rasa asam.

2. Pengawet Natrium Benzoat Benzoat (acidum benzoicum atau flores benzoes atau benzoic acid). Benzoat yang biasa diperdagangkan adalah garam natrium benzoate. Ciri-ciri berbentuk serbuk atau kristal putih, halus, sedikit berbau, berasa payau, dan pada pemanasan yang tinggi akan meleleh lalu terbakar. Natrium benzoat merupakan zat tambahan (eksipien) yang digunakan sebagai pengawet. Natrium benzoat memiliki ambang batas penggunaan 600 mg/l. (Dyah Arofah, 2006). Natrium benzoat digunakan secara luas dalam industri minuman. Di Inggris natrium benzoat digunakan oleh minuman bermerek Britvic, termasuk Britvic 55 rasa apel dan jeruk, Pennine Spring, dan Shandy Bass. Belum diketahui apakah produk- produk ini juga merupakan produk yang dites.Manfaat lain dari Natrium Benzoat adalah sebagai bahan pengawet agar tidak berbau tengik, tidak cepat rusak, menjaga rasa makanan, dan sebagainya.

3. Kafein

Kafein adalah zat kimia yang berasal dari tanaman yang dapat menstimulasi otak dan sistem saraf. Kafein tergolong jenis alkaloid yang juga dikenal sebagai trimetilsantin. Selain pada kopi, kafein juga banyak ditemukan dalam minuman teh, soda, cokelat, minuman berenergi maupun obat-obatan. Bagi orang yang sering mengonsumsi soda, kadar gula dan kafein akan tinggi diikuti jumlah kalori berlebihan. Namun, banyak penikmat soda yang belum menyadarinya.

4. Pewarna Makanan Secara umum bahan pewarna yang sering digunakan dalam makanan olahan terbagi atas pewarna natural (alami) dan pewarna sintetis (buatan).

a) Pewarna Makanan Alami Pewarna alami merupakan pewarna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan yang lebih aman untuk dikonsumsi. Contohnya karotenoid adalah

kelompok zat warna yang meliputi warna kuning, oranye, dan merah. Biasanya terdapat pada tomat, wortel, cabai merah, dan jeruk. Sedangkan dari hewan terdapat dalam lobster dan kulit udang.

b) Pewarna Sintesis Pewarna sintetis pada umumnya terbuat dari bahan-bahan kimia. Misalnya tartrazin untuk warna kuning, allura red untuk warna merah, dan seterusnya. Kadang-kadang pengusaha yang nakal juga menggunakan pewarna bukan makanan untuk memberikan warna pada makanan. Pewarna buatan/sintetis adalah pewarna yang biasanya dibuat di pabrik-pabrik dan berasal dari suatu zat kimia. Pewarna ini digolongkan kepada zat berbahaya apabila dicampurkan ke dalam makanan. Pewarna sintetis dapat menyebabkan gangguan kesehatan terutama pada fungsi hati dalam tubuh. Jenis pewarna yang masuk dalam komposisi soda sebagaimana yang sudah geDoor Lab lihat adalah pewarna Kuning FCF 15985, Karmoisin CI 14720, Karamel, dan Allura. Sesuai izin dari Kementerian Kesehatan, pewarna yang diperbolehkan adalah pewarna alami seperti Anato CI 75120, Beta Apo-8, Karotenal CI 80820, Kanta santin CI 40850, Karmin CI 75470, Beta Karoten CI 75130, Karamel, dan lain sebagainya.

Berikut gambar kandungan salah satu soft drink yang sering dikonsumsi:

\
\

Gambar 2. Komposisi soft drink yang Sering Dikonsumsi

Jenis-jenis kandungan yang terdapat dalam soft drink menurut Australian Beverages Council (2004), meliputi antara lain:

1. Carbonated water (air soda) Air soda merupakan kandungan utama yang terdapat dalam soft drink yaitu sekitar 86%. Air soda berperan sebagai salah satu sumber air pada tubuh manusia. Di dalam air soda, terdapat kandungan gas berupa karbon dioksida (CO2).

2. Bahan pemanis Rasa manis yang terdapat dalam soft drink dapat berasal dari sukrosa atau pemanis buatan. Sukrosa merupakan perpaduan antara fruktosa dan glukosa yang termasuk dalam karbohidrat. Jumlah sukrosa yang terdapat dalam soft drink sekitar 10%. Pemanis buatan yang sering dipakai dalam soft drink ialah aspartam. Aspartam dibentuk dari perpaduan asam aspartat dengan fenilalanin dan bersifat 200 kali lebih manis dari gula sehingga hanya sedikit jumlah aspartam yang terkandung dalam soft drink.

3. Bahan perasa Bahan perasa terdiri dari bahan perasa alami dan bahan perasa buatan. Bahan perasa alami berasal dari buah-buahan, sayuran, kacang, daun, tanaman herbal, dan bahan alami lainnya. Bahan perasa buatan digunakan agar soft drink memberi rasa yang lebih baik.

4. Asam

Asam berperan dalam menambah kesegaran dan kualitas pada soft drink. Asam yang dipergunakan yaitu asam sitrat dan asam fosfor.

5. Kafein Kafein berperan dalam meningkatkan rasa yang terkandung dalam soft drink. Kafein yang terkandung dalam soft drink berjumlah ¼ sampai ⅓ dari jumlah kafein yang terkandung dalam kopi.

6. Pewarna Pewarna bersamaan dengan gas CO2 merupakan bagian dari karakteristik soft drink. Pewarna terdiri dari pewarna alami dan pewarna buatan yang dapat digunakan. Warna yang ada dalam minuman seperti Coca-cola, Pepsi atau minuman sejenis lainnya berasal dari zat yang disebut dengan methylimidazole (4- MI).

(Anonim, 2011)

B. Dampak Konsumsi Soft Drink Terhadap Kesehatan Beberapa kandungan zat kimia yang terdapat pada softdrink tersebut tentu membawa dampak sendiri bagi kesehatan tubuh.

1. Air soda yang mengandung CO 2 menimbulkan reaksi asam, tingkat keasaman dan kandungan gula pada soft drink akan memicu terjadinya kerusakan gigi. Minuman soda mengandung CO2 sebagai penyebab lambung tidak bisa menghasilkan enzim yang sangat penting bagi proses pencernaan. Hal ini terjadi jika mengkonsumsinya bersamaan saat makan maupun sesudah makan. Menurut para peneliti dari rumah sakit Universitas Kopenhagen, Denmark pria yang minum seliter air bersoda atau lebih setiap hari, memiliki jumlah sperma lebih sedikit dari mereka yang tidak minum air bersoda. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam "American Journal of Epidemiology". (Eko Prayitno, 2011)

2. Natrium benzoat sebagai bahan pengawet pada soft drink, telah teridentifikasi dapat menyebabkan kerusakan pada DNA dan hiperaktif. Jika dikonsumsi dalam waktu panjang dapat menyebabkan penyakit kanker. (Wikipedia, 2013)

3. Kafein, jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan masalah bagi kesehatan, diantaranya warna gigi berubah, bau mulut, meningkatkan stres, serangan jantung, kemandulan pada pria, gangguan pencernaan, kecanduan dan bahkan penuaan dini. Kafein juga merupakan salah satu penyebab utama sakit kepala. (Eko Prayitno, 2011)

4. Zat pewarna, yang banyak ditemukan pada soft drink adalah methylimidazole (4- MI). Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di California, konsumsi zat 4-MI secara berlebihan dan terus menerus dapat memicu kanker. Bahayanya, teryata dalam satu kaleng soda terkandung hampir 140 mcg zat 4-MI (www.jurukunci.net, 2012)

5. Tingkat kandungan fosfat yang tinggi dalam soft drink dapat menghancurkan mineral penting dalam tubuh. Kekurangan mineral yang serius dapat menyebabkan penyakit jantung (kekurangan magnesium), osteoporosis (kekurangan kalsium) dan banyak lagi. Sebagian besar vitamin tidak berfungsi di dalam tubuh tanpa adanya mineral.

6. Jumlah gula yang tinggi dalam soft drinks menyebabkan pankreas memproduksi insulin dalam jumlah besar, yang mengakibatkan “benturan gula”, kelebihan dan kekurangan gula dalam insulin dapat menyebabkan diabetes dan penyakit yang terkait dengan ketidakseimbangan dalam tubuh. Keadaan ini dapat mengganggu

pertumbuhan anak sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan seumur hidup. Secara umum dijelaskan bahwa pengkonsumsian soft drink memiliki dampak bagi kesehatan tubuh manusia, antara lain (Anonim, 2011) :

a. Kelebihan Berat Badan (Overweight) dan Obesitas Overweight merupakan keadaan gizi lebih, dinyatakan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih besar dari 23 di daerah Asia Pasifik. Suatu keadaan yang melebihi overweight dinamakan obesitas. Obesitas ialah peningkatan berat badan sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh yang melebihi batas kebutuhan skeletal dan fisik. Pada anak-anak dan remaja, obesitas berkaitan dengan intoleransi glukosa, hipertensi, dan dislipidemia. Konsumsi sugar- sweetened soft drink dapat menjadi faktor penting terhadap kejadian obesitas remaja. He et al (2010) melakukan studi intervensi berupa pengurangan 1,5 kaleng konsumsi soft drink setiap minggu selama satu tahun dan didapati hasil bahwa anak mengalami penurunan terhadap berat badan dan obesitas sekitar

7,7%.

b. Karies Gigi Konsumsi soft drink memiliki banyak potensi untuk masalah kesehatan. Kandungan asam dan gula dalam soft drink memiliki potensi untuk menimbulkan karies gigi dan erosi lapisan enamel. Karies gigi ialah suatu penyakit dari jaringan kapur atau kalsium pada gigi yang ditandai adanya kerusakan jaringan gigi. Asam terutama asam fosfor sebagai penyebab kehilangan total enamel gigi. Asam fosfor menurunkan pH saliva dari 7,4 menjadi suasana asam. Agar dapat meningkatkan level pH kembali di atas 7, tubuh akan berusaha menarik ion kalsium dari gigi sehingga lapisan enamel gigi menjadi sangat berkurang, ditandai dengan gigi yang terlihat berwarna kekuningan.

c. Diabetes Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung fruktosa memiliki sejumlah kecil insulin dibandingkan dengan asupan karbohidrat. Pada penelitian hewan, konsumsi fruktosa dapat menimbulkan resistensi insulin, impaired glucose tolerance, hiperinsulinemia, hipertriasilgliserolemia, dan hipertensi. Keadaan-keadaan ini dapat menyebabkan timbulnya diabetes. Diabetes ialah suatu sindrom kronik terjadinya gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan

protein akibat ketidakcukupan sekresi insulin atau resistensi insulin pada jaringan yang dituju. Dalam suatu studi yang melibatkan 91249 wanita dan dilakukan selama delapan tahun, terjadi peningkatan dua kali lipat penyakit diabetes pada mereka yang mengonsumsi satu atau lebih soft drink per hari dibandingkan dengan yang mengonsumsi kurang dari satu soft drink per bulan.

d. Osteoporosis dan Fraktur Tulang Konsumsi soft drink telah menggantikan konsumsi susu, dengan jumlah konsumsi susu menjadi 1½ gelas susu per hari pada remaja putra dan kurang dari satu gelas per hari pada remaja putri. Akibatnya, konsumsi soft drink meningkat yang diikuti dengan penurunan konsumsi susu menyebabkan seseorang dapat mengalami penurunan asupan kalsium. Hal ini meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis, terutama perempuan dan mengarah pada kejadian fraktur tulang. Jacobson (2008) menjelaskan bahwa ada suatu penelitian yang menyatakan konsumsi soft drink dapat menyebabkan kejadian fraktur tulang pada anak. Studi yang dilakukan pada anak berusia 3 sampai 15 tahun dengan fraktur tulang hebat memiliki tingkat kepadatan tulang yang rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh asupan kalsium yang rendah.

C. Bentuk pengaturan pengkonsumsian soft drink agar tidak berdampak negatif bagi kesehatan Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahayanya soft drink bagi kesehatan tubuh manusia. Penelitian Diya Arofah (2006) mengenai konsumsi soft drink sebagai faktor resiko terjadinya obesitas pada remaja 15-17 tahun

menunjukkan bahwa konsumsi soft drink dalam batas-batas tertentu tidak memberikan faktor resiko terjadinya obesitas. Saran yang kemudian diberikan dalam penelitian tersebut adalah:

1. Perlu dilakukan upaya penyuluhan kepada siswa-siswi SMU mengenai masalah gizi, khususnya mengenai obesitas yang berhubungan dengan konsumsi minuman ringan yang berlebihan.

2. Bagi remaja perlu meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari dengan kegiatan rutin seperti berolahraga agar mengurangi faktor risiko terjadinya obesitas Selain itu, hal yang mungkin bisa dilakukan adalah tidak membeiasakan

minum softdrink dari kecil, membiasakan anak-anak untuk mengkonsumsi makanan

dan minuman yang lebih sehat, serta tidak menyediakan/menyimpan junk food ataupun softdrink di rumah. Beberapa negara di Amerika dan Eropa sendiri telah lebih banyak melakukan penelitian mengenai efek softdrink terhadap kesehatan, sehingga mereka kemudian lebih peduli untuk bersama menanggulangi efek negatif pengkonsumsian soft drink oleh remaja, dengan cara sebagai berikut:

a. Peraturan hukum di negara bagian Maryland menonaktifkan mesin penjual softdrink pada hari sekolah. Serta senator Patrick Leahy melarang pemberian soda dan junk food sebelum makan siang

b. Philipina menerapkan “junk food diet” dengan memberi pajak pada setiap botol kecil minuman ringan berkabonasi yang dijual

c. Aliansi generasi yang lebih sehat, Cadburry Schweppes, Coca-cola, PepsiCo, dan asosiasi minuman Amerika mengumumkan pedoman minuman sekolah yang secara sukarela memindahkan soft drink yang tinggi kalori dari semua sekolah di Amerika

d. Sekretaris Pendidikan British, Alan Johnson mengumumkan standar minimum nutrisi pada makanan sekolah. Dari september 2006, makan siang sekolah harus bebas dari minuman berkarbonasi. Sekolah juga membatasi penjualan junk food (termasuk minuman berkarbonasi) pada mesin penjual otomatis dan toko truk.

Beberapa langkah nyata untuk meminimalisir dampak negatif softdrink telah dilakukan, agar didapat hidup yang lebih sehat

BAB III

SIMPULAN

Berdasarkan penjelasan yang telah dilakukan di atas, didapatkan kesimpulan bahwa:

1. Komposisi utama dari soft drink antara lain air soda, bahan perasa, bahan pemanis, kafein, asam, dan pewarna

2. Dampak pengkonsumsian soft drink terhadap kesehatan antara lain dapat menyebabkan: kelebihan Berat Badan (Overweight) dan Obesitas; karies gigi; diabetes; osteoporosis dan fraktura tulang

3. Beberapa langkah yang dilakukan untuk meminimalisir efek negatif pengkonsumsian soft drink pada remaja antara lain: menetapkan peraturan untuk menonaktifkan mesin penjual soft drink; mengenai pajak untuk setiap botol kecil soft drink yang dijual; memindahkan soft drink yang tinggi kalori dari semua sekolah; membatasi penjualan softdrink di sekolah

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2011.

Tinjauan

Pustaka.

Diambil

pada

tanggal

12

April

2013

dari

Australian Beverages Council. 2004. Soft Drink. Diambil pada tanggal 12 April 2013 dari www.google.com

Dyah Arofah. 2006. Konsumsi Soft Drink Sebagai Faktor Resiko Terjadinya Obesitas pada remaja Usia 15-17 Tahun. Daimbil pada tanggal 12 April 2013 dari www.eprints.undip.ac.id

Eko Prayitno. 2011. Analisis Minuman Bersoda. Diambil pada tanggal 12 April 2013 dari www.gedoor.com

Global Healing Center. 2013. Soft Drinks-America. Diambil pada tanggal 12 April 2013 dari www.globalhealingcenter.com

Wikipedia. 2013. Soft Drinks. Diambil pada tanggal 12 April 2013 dari www.wikipedia.com