Anda di halaman 1dari 10

POTENSI BATU BARA DAN STRATIGRAFI DI CEKUNGAN KUTAI, BALIK PAPAN,

KALIMANTAN TIMUR

Siti Iawandari
155090700111005

Summary or Abstract Widayat, 2007). Pemanfaatan batubara sebagai


Kualitas batubara ditentukan oleh lingkungan sumber energi dapat menjadi salah satu skenario
pengendapan, aspek fisika, kimia, dan biologi, dalam mengatasi krisis energi. Cekungan Kutai
yang akan mempengaruhi besarnya kandungan merupakan cekungan hidrokarbon terbesar
komponen penting dalam batubara antara lain kedua di Indonesia saat ini.
ash, fixed carbon, moisture, volatile matter, dan
vitrinite reflectance kandungan dari unsur – Field Geology
unsur tersebut mempengaruhi dalam besarnya Cekungan Kutai memiliki luas sekitar 43.680
kalori dan total gas content dalam batubara. km2. Cekungan ini merupakan salah satu
Kandungan komponen - komponen tersebut cekungan tersier terbesar dan terdalam di
sangat penting dalam mengetahui kualitas Indonesia. Cekungan ini termasuk dalam
batubara. Batubara menjadi sangat penting dan klasifikasi Paleogene Continental Fracture-
perlu dipelajari karena merupakan salah satu Neogene Passive Margin. Secara geografis,
aspek penting dalam usaha mengembangkan cekungan Kutai terletak dibagian timur Pulau
kegiatan penambangan batubara sebagai Kalimantan pada koordinat 103o LU - 2o LS, dan
penggerak roda ekonomi dan pegembangan 113o - 118o BT. Batuan dasar dari Cekungan
batubara sebagai sumber energi baru yaitu Kutai tersusun oleh kerak kontinen yang
sebagai reservoar coalbed methane. Berdasarkan diinterpretasikan sebagai bagian dari Kraton
uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian Sunda dan akresi dari lempeng mikro. Adang
mengenai hubungan antara kualitas batubara Flexure dengan arah umum baratlaut – tenggara
dengan lingkungan pengendapan pembentuk (batas patahan Paternosfer) membatasi bagian
batubara dengan judul “Analisis Fasies dan selatan dari cekungan ini dengan Cekungan
Karakteristik Pertrofisik Batubara Seam CBM 2, Barito. Di utara, arah utarabaratlaut Busur
Formasi Balikpapan, Lapangan “X”, Cekungan Mangkalihat memisahkan Cekungan Kutai
Kutai, Berdasarkan Data Log Sumur dan Inti dengan Cekungan Tarakan. Cekungan Kutai
Batuan”. berdampingan dengan Cekungan Lariang di
bagian timur dan Tinggian Kuching di sebelah
Introduction baratnya. Peta dibawah ini merupakan lokasi
Batubara adalah batuan sedimen yang dapat penelitian yang dilakukan untuk menunjukkan
terbakar, berasal dari tumbuh-tumbuhan adanya potensi batu bara pada suatu daerah di
(komposisi utamanya karbon, hidrogen, dan Balikpapan, Kalimantan Timur.
oksigen), berwarna coklat sampai hitam, sejak
pengendapannya terkena proses kimia dan fisika
yang mengakibatkan terjadinya pengkayaan
kadungan karbonnya (Wolf,1984, dalam
Kuncoro, 1996). Dalam dasawarsa terakhir ini
penggunaan batu bara sebagai bahan energi
menjngkat dengan pesatnya (Anggayana &
Double click here to type your header

fracture/foreland basin ke marginal-sag..


Sebagian besar produk awal pengisi Cekungan
Kutai telah terbalik dan diekspos (Satyana et al.,
1999), pada Miosen Tengah sampai Miosen
Akhir sebagai akibat dari terjadinya tumbukan /
kolusi block Micro Continent. Dari peristiwa ini
menyebabkan adanya pengangkatan cekungan,
perubahan sumbu antiklin dan erosi permukaan
yang mengontrol sedimentasi pada Delta
Mahakam. Delta Mahakam terbentuk di mulut
sungai Mahakam sebelah timur pesisir pulau
Kalimantan. Dengan garis pantainya berorientasi
arah NE-SW dan dibatasi oleh Selat Makasar,
selat yang memisahkan pulau Kalimantan dan
Sulawesi.

Gambar 1. Lokasi Penelitian

Methodology
Metodologi yang digunakan adalah studi
literature. Studi literatur adalah cara yang
dipakai untuk menghimpun data-data atau
sumber-sumber yang berhubungan dengan topik
yang diangkat dalam suatu penelitian. Studi
literatur bisa didapat dari berbagai sumber,
jurnal, buku dokumentasi, internet dan pustaka.
Jadi paper ini diambil dari beberapa literature
yang ada.

Theory
GEOLOGI REGIONAL DAN DAERAH
PENELITIAN ]

Geologi Regional Gambar 2. Peta Regional Cekungan Kutai

Cekungan Kutai dibatasi oleh Paternoster STRATIGRAFI


platform, Barito Basin, dan Pegunungan Stratigrafi Regional Cekungan Kutai
Meratus ke selatan, dengan Schwaner Blok ke Satyana et all, 1999 dalam An Outline Of The
barat daya, lalu Tinggian Mangkalihat di sebelah Geology Of Indonesia, 2001 melakukan
utara - timur laut, dan Central Kalimantan penelitian dan menyusun stratigrafi Cekungan
Mountains (Moss dan Chambers, 1999) untuk Kutai dari tua ke muda sebagai berikut :
barat dan utara. Cekungan Kutai memiliki 1) Formasi Beriun
sejarah yang kompleks (Moss et al., 1997), dan Formasi Beriun terdiri dari batulempung, selang
merupakan satu - satunya cekungan Indonesia seling batupasir dan batugamping. Formasi
yang telah berevolusi dari internal rifting Beriun berumur Eosen Tengah – Eosen Akhir
Double click here to type your header

dan diendapkan dalam lingkungan fluviatil batupasir dengan sisipan batubara dan
hingga litoral. batugamping di bagian bawah. Data pemboran
2) Formasi Atan yang pernah dilakukan di Cekungan Kutai
Diatas Formasi Beriun terendapkan Formasi membuktikan bahwa Formasi Balikpapan
Atan yang merupakan hasil dari pengendapan diendapkan dengan sistem delta, pada delta
setelah terjadi penurunan cekungan dan plain hingga delta front. Umur formasi ini
pengendapan padaFormasi Beriun. Formasi Atan Miosen Tengah – Miosen Akhir.
terdiri dari batugamping dan batupasir kuarsa. 8) Formasi Kampungbaru
Formasi Atan berumur Oligosen Awal. Formasi Kampung Baru ini berumur Mio-
3) Formasi Marah Pliosen, terletak di atas Formasi Balikpapan,
Formasi Marah Diendapakan secara selaras terdiri dari selang-seling batupasir, batulempung
diatas Formasi Atan. Formasi Marah terdiri dari dan batubara dengan disipan batugamping tipis
batulempung, batupasir kuarsa dan batugamping sebagai marine influx. Lingkungan pengendapan
berumur Oligosen Akhir. formasi ini adalah delta.
4) Formasi Pamaluan 9) Formasi Mahakam
Diendapkan pada kala Miosen Awal hingga Formasi Mahakam terbentuk pada kala
Miosen Akhir di lingkungan neritik, dengan ciri Pleistosen – sekarang. Proses pengendapannya
litologi batulempung, serpih, batugamping, masih berlangsung hingga saat ini, dengan ciri
batulanau dan sisipan batupasir kuarsa. Formasi litologi material lepas berukuran lempung
ini diendapkan dalam lingkungan delta hingga hingga pasir halus.
litoral.
5) Formasi Bebulu
Diendapkan pada kala Miosen Awal hingga
Miosen Tengah di lingkungan neritik. Ciri
litologi Formasi Bebulu adalah batugamping.
6) Formasi Pulubalang
Formasi Pulubalang diendapkan selaras di atas
Formasi Pamaluan, terdiri dari atas selang-seling
pasir lanauan dengan disipan batugamping tipis
dan batulempung. Umur dari formasi ini adalah
Miosen Tengah dan diendapkan pada lingkungan
sub litoral, kadang-kadang dipengaruhi oleh
marine influx. Formasi ini mempunyai hubungan
menjari dengan Formasi Bebulu yang tersusun
oleh batugamping pasiran dengan serpih.
7) Formasi Balikpapan
Formasi Balikpapan diendapkan secara selaras
di atas Formasi Pulubalang. Formasi ini terdiri
dari selang seling antara batulempung dan
Double click here to type your header

Gambar 3. Stratigrafi Regional Cekungan 1998). Pemekaran ini merupakan manifestasi


Kutai tumbukan sub lempeng Benua India dengan
lempeng Benua Asia yang memacu pemekaran
di sepanjang rangkaian strike-slip fault dengan
STRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN arah baratlaut-tenggara (NW-SE) yang
Secara regional, daerah penelitian termasuk pada merupakan reaktifasi struktur sebelumnya, yaitu
Formasi Balikpapan. Formasi Balikpapan terdiri sesar Adang- Lupar dan sesar Mangkalihat.
dari beberapa formasi, yaitu Formasi Mentawir, Cekungan ini mulai terisi endapan sedimen
Formasi Maruat, dan Formasi Klandasan. transgresif pada kala Eosen Akhir hingga
Formasi Balikpapan diendapkan pada Kala Oligosen. Kemudian diikuti oleh sekuen regresif
Miosen tengah.Pada derah telitian ini terdapat pada kala Miosen Awal yang merupakan inisiasi
Formasi Balikpapan tersusun atas litologi kompleks Delta Mahakam saat ini. Proses
dominan batupasir yang berselingan dengan progadasi Delta Mahakam meningkat dengan
litologi batulempung dan perlapisan batubara. sangat signifikan pada kala Miosen Tengah,
yaitu ketika tinggian Kuching di bagian Barat
terangkat dan inversi pertama terjadi. Progradasi
tersebut masih berlangsung hingga saat ini.
Inversi Kedua terjadi pada masa Mio-Pliosen,
ketika bagian lempeng Sula-Banggai menabrak
Sulawesi dan menghasilkan mega shear Palu-
Koro. Pembentukan dan perkembangan struktur
utama yang mengontrol sub Cekungan Kutai
Bawah erat kaitannya dengan proses tektonik
Inversi Kedua, yaitu struktur-struktur geologi
dengan pola kelurusan arah timurlaut-baratdaya
(NNE-SSW). Menurut Allen dan Chambers,
(1998) pola ini dapat terlihat pada struktur
umum yang tersingkap di Cekungan Kutai saat
ini, yaitu berupa jalur sesar-sesar anjakan dan
kompleks rangkaian antiklin /antiklinorium.
Perkembangan struktur lainnya adalah pola
kelurusan berarah baratlauttenggara (NW-SE),
berupa sesar-sesar normal yang merupakan
manifestasi pelepasan gaya utama yang
terbentuk sebelumnya. Sesar-sesar ini terutama
berada di bagian utara cekungan, memotong
Gambar 4. Stratigrafi Daerah Penelitian sedimen berumur Miosen Tengah dan bagian
lain yang berumur lebih tua.
STRUKTUR GEOLOGI
Struktur Geologi Regional Cekungan Kutai Struktur Geologi Daerah Penelitian
Struktur geologi yang berkembang di daerah
Seperti halnya beberapa cekungan di Asia telitian adalah perlipatan antiklin. Perlipatan
Tenggara lainnya, half graben terbentuk selama antiklin ini berarah relatif utara timur laut –
Eosen sebagai akibat dari fase ekstensional atau selatan barat daya, hal tersebut dapat diketahui
pemekaran regional (Allen dan Chambers, berdasarkan dari kenampakan pada peta geologi
Double click here to type your header

daerah telitian, serta laporan internal VICO Kutai, sebagian terkait dengan rifting di
indonesia. Pola-pola struktur yang berkembang Selat Makassar, dan terakumulasinya
pada daerah telitian mengikuti pola struktur shale bathial sisipan sand.
Cekungan Kutai yaitu pola anticlinorium yang  Awal Postrift (Oligosen ke Awal
berarah relatif utara timur laut – selatan barat
Miosen): Selama periode ini, kondisi
daya. Struktur pada daerah telitian dikontrol
oleh gaya kompresi pada Cekungan Kutai yang bathial terus mendominasi dan beberapa
berhubungan dengan pemekaran lantai samudra ribu meter didominasi oleh akumulasi
(sea floor spreading) di selat Makasar pada shale. Di daerah structural shallow area
akhir Tersier. platform karbonat berkembang.
 Akhir Postrift (Miosen Tengah ke
Kuarter): Dari Miosen Tengah dan
seterusnya sequence delta prograded
secara major berkembang terus ke laut
dalam Selat Makassar, membentuk
sequence Delta Mahakam, yang
merupakan bagian utama pembawa
hidrokarbon pada cekungan. Berbagai
jenis pengendapan delta on – dan
offshore berkembang pada formasi
Balikpapan dan Kampungbaru,
termasuk juga fasies slope laut dalam
dan fasies dasar cekungan. Dan juga
hadir batuan induk dan reservoir yang
sangat baik dengan interbedded sealing
Gambar 5. Peta Geologi Daerah shale. Setelah periode ini, proses erosi
Penelitian
ulang sangat besar terjadi pada bagian
Tatanan Tectonic Cekungan Kutai sekuen Kutai synrift.
Tatanan tectonic cekungan kutai dapat diringkas
sebagai berikut :
 Awal Synrift (Paleosen ke Awal Eosen):
Sedimen tahap ini terdiri dari sedimen
aluvial mengisi topografi NE-SW dan
NNE-SSW hasil dari trend rifting di
Cekungan Kutai darat. Mereka menimpa
di atas basemen kompresi Kapur akhir
sampai awal Tersier berupa laut dalam
sekuen.
 Akhir Synrift (Tengah sampai Akhir
Eosen): Selama periode ini, sebuah Gambar 6. Tectonic Setting Cekungan Kutai
transgresi besar terjadi di Cekungan
Double click here to type your header

Tabel 1. Kurva Log Sumur

Result and Discussion Berdasarkan metode penelitian yang telah


Penelitian fasies batubara dan karakteristik dikemukakan sebelumnya, analisis analisis
petrofisik batubara Lapangan “X”, Formasi lingkungan pengendapan, analisis geometri
Balikpapan, seam CBM2, Cekungan Kutai seam, analisis petrofisik dan analisis penyebaran
menggunakan data inti batuan dan data log parameter petrofisik berdasarkan berdasarkan
sumur. Data inti batuan dan data log sumur data core dan data wireline log dari delapan
mempergunakan 8 buah sumur. Data tersebut sumur. Penelitian ini difokuskan pada formasi
dapat diperinci sebagai berikut : lapisan batubara seam CBM 2 yang berperan
sebagai reservoar.
Data Inti Batuan
Dalam penelitian ini mempergunakan data inti Analisis Lingkungan Pengendapan
batuan dari 8 buah sumur dengan rincian data Analisis lingkungan pengendapan batubara
yang didapatkan. Data tersebut dapat digunakan seam CBM2 menurut model Horne, 1987 adalah
untuk mengidentifikasi faises dan karakteristik lingkungan pengendapan Transitional Lower
petrofisik dari batubara, lapangan “X”, Formasi Delta Plain hal ini ditunjukan juga dengan
Balikpapan, seam CBM2, Cekungan Kutai. keberadaan batubara seam CBM2 yang tebalnya
dapat mencapai lebih dari 10 m di daerah telitian
Data Log Sumur dan juga dapat ditunjukan dengan adanya pola
Dalam penelitian mempergunakan data log log sumur yang sesuai dengan pola yang ada
sumur dari 8 buah sumur dengan rincian pada pada lingkungan pengendapan Transitional
contoh tampilan log dapat X-1. Data log sumur Lower Delta Plain menurut Horne, 1987
ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi fasie (Gambar). Disamping itu seam CBM ini
dan karakteristik petrofisik dari batubara memiliki kandungan sulfur agak rendah dan
lapangan “X”, Formasi Balikpapan, seam dibeberapa daerah terdapat spliting.
CBM2, Cekungan Kutai.

Gambar 7. Lingkungan Pengendapan

Penulis melakukan analisis lingkungan


pengendapan meurut model Horne, 1978 dengan
cara mengidentifikasi pola-pola dari log sumur
pada seam CBM 2. Pada log sumur tersebut
Double click here to type your header

penulis mengidentifikasikan bahwa seam CBM


2 termasuk dalam lingkungan pengendapan
transitional lower delta plain. Karena pada log
sumur menunjukkan pola menghalus keatas
yang menunjukkan adanya endapan channel,
swamp, interdistributary bay, dan creavasse
splay.

Gambar 9. Peta Ketebalan dan Kedalaman


Batubara
Gambar 8. Peta Fasies Batubara Seam CBM
2 Analisis Petrofisik
Analisis petrofisik dapat dilakukan setelah
Analisis Geometri Batubara terlebih dahulu melakukan beberapa analisis
Analisis geometri seam CBM 2 dilakukan data core yang telah didapatkan dari
dengan metode pembuatan peta ketebalan laboratorium berupa hasil pengukuran dari
batubara. Dari hasil pembuatan peta ketebalan beberapa analisis. Analisis tersebut mencakup
dan peta kedalaman batubara dapat diketahui analisis proximate, analisis ultimate, analisis
ketebalan batubara seam CBM 2 pada daerah maceral dan analisis kandungan gas. Pada
telitian sekitar 5 – 35 ft. Selain itu penulis dapat analisis petrofisik ini menggunakan data yang
mengidentifikasi arah pengendapan seam CBM dihasilkan dari analisis proximate, kemudian
2, yaitu Barat Laut – Tenggara hal tersebut dapat dari data tersebut dilakukan analisis dengan
terlihat dari arah garis konur pada peta ketabalan membuat beberapa crossplot untuk mendapat
batubara. Disamping itu penulis dapat rumus yang dapat digunakan untuk melakukan
mengidentifikasikan bahwa seam CBM 2 ini perhitungan parameter petrofisik dan pembuatan
semakin menebal ke arah tenggara dan menipis model penyebaran parameter petrofisik.
kearah barat laut hal tersebut terjadi karena Dalam perhitungan petrofisik juga memerlukan
dipengaruhi oleh lingkungan pengendapan. nilai dari density ash dan density batubara.
Berdasarkan hasil overlay dari peta ketebalan Untuk mendapatkan nilai atau harga dari
dan peta kedalaman batubara dapat diketahui denisity ash dan density batubara penulis
beberapa daerah prospek yaitu berada di membuat crossplot antara helium density dan %
kedalaman sekitar 4000 hingga 4400 ft dengan Ash. Penulis menggunakan helium density dan
ketebalan batubara mencapai 35 ft atau 11.67 m. ash karena helium density mempunyai hubungan
yang baik dengan bahan anorganik seperti Ash.
Double click here to type your header

Sebelum penulis memilih parameter yang dapat


digunakan untuk melakukan perhitungan
petrofisik. Terlebih dahulu penulis melakukan
analisis dengan cara membuat crossplot antara
density dari data log dengan density dari data
core berupa bluk densit. Dari crossplot penulis
mendapatkan hasil yang baik yaitu density dari
log dan density dari data core memiliki korelasi
yang baik. Sehingga penulis dapat menggunakan
density dari data log (RHOB) dan density dari
data core untuk melakukan perhitungan
petrofisik ke semua sumur yang ada.
Gambar 10. Crossplot semua parameter
antara %Ash dengan Fixed Carbon,
Moisture dan Volatile Meter

Dari crossplot tersebut didapatkan beberapa


formula yang dapat digunakan untuk
menghitung parameter – parameter petrofisik,
sebagai berikut :
% Ash = (33.15 x RHOB) – 39.29
% Fixed Carbon = 44.73 – (0.547 x %
Ash)
% Volatile Matter = 39.68 – (0.378 x %
Ash)
% Moisture = 100 -% Ash -% Fixed
Carbon -% Volatile Matter
Setelah penulis melakukan analisis dan
mendapatkan formula yang dapat digunakan
untuk perhitungan parameter – parameter
petrofisik. Kemudian penulis melakukan analisis
untuk mengetahui hubungan antara total gas
content dengan kandungan mean vitrinite
reflectance dengan membuat crossplot . Dari
crossplot tersebut penulis dapat mengetahui
hubungan antara total gas content. Dengan
kandungan mean vitrinite reflectance, yaitu
semakin tinggi kandungan mean vitrinite
reflectance maka semakin besar kandungan total
gas dan berdasarkan crossplot tersebut penulis
mendapatkan formula yang dapat digunakan
untuk menghitung total gas content.
Double click here to type your header

Analisis Penyebaran Batubara dan Non petrofisik batubara dan analisis lingkungan
Batubara pengendapan, maka didapatkan hasil sebagai
Peta ini menggambarkan penyebaran batubara berikut :
yang ada pada daerah kajian penelitian. Terlihat 1. Lingkungan pengendapaan lapisan
pada gambar, bahwa batubara yang ditunjukkan batubara seam CBM 2 berdasarkan
oleh warna hitam, menyebar secara umum di Horne, 1978 adalah Transitional Lower
bagian baratlaut menerus ke bagian tengah Delta Plain dan Lingkungan
hingga ke bagian tenggara sedangkan non
batubara yang ditunjukkan oleh warna kuning. pengendapan lapisan batubara seam
Pada peta penyebaran ini juga dapat terlihat juga CBM 2 berdasarkan Allen, 1998 adalah
pola pengendapan dari batubara tersebut. Delta Plain.

2. Geometri seam CBM 2 dapat diketahui


ketebalan batubara seam CBM 2 pada
daerah telitian sekitar 5 – 35 feet dan
arah pengendapan seam CBM 2, yaitu
Barat Laut – Tenggara. Disamping seam
CBM 2 menebal kearah tenggara dan
menipis kearah barat laut.

3. Berdasarkan analisis petrofisik


didapatkan karakteristik petrofisik dari
seam CBM 2, nilai tertinggi dari
kandungan ash sebesar 2.68 %, fixed
carbon sebesar 46.07 %, volatile matter
sebesar 41.28 %, moisture sebesar 0.11
%, mean vitrinite reflectance sebesar
0.45 %, total gas content sebesar 127.88
scft/ton dan kalori sebesar 6260
Kcal/kg. Dari hasil tersebut penulis
dapat diketahui bahwa seam CBM 2
memiliki kualitas yang baik berdasarkan
ASTM coal rank yaitu termasuk dalam
batubara jenis bituminous high volatile
C, sehingga berpotensi sebagai reservoar
Gambar 11. Peta Penyebaran Batubara dan coalbed methane dan sebagai bahan
NonBatubara bakar yang ekonomis.

Kesimpulan 4. Berdasarkan hasil overlay dari peta


Dari hasil penelitian yang dilakukan pada penyebaran kandungan moisture, peta
parameter batubara dengan melakukan analisis fasies batubara, peta kedalaman, peta
pertofisik, analisis model penyebaran parameter ketebalan batubara dan peta geologi.
Double click here to type your header

Didapatkan daerah yang berpotensi Kuncoro, P. B. (1996). Perencanaan Eksplorasi


Batubara, Program Pasca Sarjana Institut
untuk eksplorasi batubara dan coalbed
Teknologi Bandung. Bandung.
methane pada seam CBM2. Daerah
telitian ini memiliki struktur geologi Lamberson, M. N., & Bustin, R. M. (1993).
berupa perlipatan antiklin yang berarah Coalbed methane characteristics of the Gates
Formation coals, northestern British Columbia:
utara timur laut - selatan barat daya,
effect of maceral composition. AAPG Bull,77;
diendapkan pada lingkungan p2062-2076.
pengendapan delta plain yang
berdasarkan analisis ultimate didapatkan Rahmat, Basuki, & Ediyanto. (2008). Modul
Kompetensi Geologi Level 3 (Bahan Galian
kandungan sulfur yang rendah, yaitu
Batubara).
sekitar 0.4 %, berada pada kedalaman
sekitar 4000 hingga 4400 feet dengan
ketebalan batubara mencapai 35 feet
atau 11.67 m dengan kandungan %
moisture relatif rendah, yaitu 1.3 %,
Sehingga dapat disimpulakan daerah ini
memiliki potensi sebagai daerah
eksplorasi coalbed methane dan
batubara pada seam CBM 2.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, G. P., Chambers, & J., L. C.


(1998). Sedimentation in the Modern
and Miocene Mahakam Delta. IPA.

Bhanja, A. K. (2007). Multi Log


Techniques for Estimation of CBM Gas
Content Scores Over the Available
Techniques Based on Single Log, A
Case Study.

Crain, E. R., & P., E. (2010). Part II Coal.


Reservoir Issue.

Fransisca, V. D. (2011). Analisis Fasies Batubara


Dan Karakteristik Petrofisik, Formasi
Balikpapan, Lapangan “X”, Cekungan Kutai
Berdasarkan Data Log Sumur Dan Inti Batuan.
Yogyakarta: Universitas Pembangunan Nasional
”Veteran”.