Anda di halaman 1dari 26

Tugas Kelompok

Mata Kuliah : Anatomi Fisiologi Kebidanan


Dosen : Prof. Dr. dr. Andi Wardihan Sinrang, MS.

“MATURASI DAN FERTILISASI OVUM”

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Pada Mata Kuliah Anatomi
Fisiologi Kebidanan
DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 3
KELAS B

Chandra Ariani Saputri (P102172033)

Fajar Dhini Yahya (P102172043)

Triana Rahmiaty (P102172048)

SuciRahmaDani (P102172049)

MAGISTER ILMU KEBIDANAN SEKOLAH PASCASARJANA


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASAR
2018

i
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha

Esa, atas rahmat hidayah dan izinNya kami dapat menyelesaikan makalah

dengan tema “Maturasi dan Fertilisasi Ovum” dapat terselesaikan tepat pada

waktunya.

Tugas ini merupakan tugas dari mata kuliah “Anatomi Fisiologi

Kebidanan”, dalam penyusunan makalah ini kami mengalami beberapa

kendala atau hambatan namun semua dapat di atasi dengan baik karena

bantuan dari semua pihak yang membantu kami. Oleh karenanya kami

mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Makalah yang kami susun ini, masih jauh dari kesempurnaan. Karena

itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi

penyempurnaan makalah kami berikutnya.

Makassar, Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL ......................................................................................... i

KATA PENGANTAR ........................................................................ ii

DAFTAR ISI ..................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN .................................................................. 1

A. Latar Belakang ...................................................................... 1

B. Tujuan ................................................................................... 2

C. Sistematika Penulisan Makalah ............................................ 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................ 4

A. Implantasi Ovum................................................................... 4

B. Placentasi………………………………………......................... 12

BAB IV. PENUTUP .......................................................................... 21

A. Kesimpulan ............................................................................ 21

B. Saran ..................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA 23

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk hidup yang selalu mengalami

perubahan dari waktu ke waktu. Bermula dari proses pembuahan yang

terjadi dalam bentuk menyatunya sperma dengan sel telur, terbentuklah

serangkaian organ yang kemudian tumbuh menjadi janin. Dari proses

inilah yang akan menentukan menjadi manusia yang dimulai dari

“gerak” (perubahan) dari dua sel yang berubah terus sehingga menjadi

jaringan, organ dan terbentuklah sistem yang lengkap (Rohman, 2013).

Melalui semacam pembelahan sel yang disebut meiosis, tiap sel

seks atau gamet (gamete/sperma atau ovum) hanya terdiri dari 23

kromosom, satu kromosom dalam tiap pasangan. Karena itu, ketika

sperma dan ovum menyatu saat kehamilan, mereka akan

memproduksi zigot dengan 46 kromosom, 23 dari pihak ibu dan 23 dari

pihak ayah (Rohman, 2013).

Spermatozoa merupakan hasil dari proses spermatogenesis yang

terjadi di dalam tubulus seminiferus pada testis. Proses spermatogenesis

dipengaruhi oleh hormon testosteron. Kadar testosteron merupakan

parameter antifertilitas. Kadar testosteron tinggi atau rendah (di bawah

ambang normal) akan berakibat negatif feed back pada hipotalamus dan

mengakibatkan proses spermatogenesis terganggu, jika kadar testosteron

1
normal akan mempengaruhi testis untuk melakukan proses

spermatogenesis. Fertilisasi dapat terjadi, jika spermatozoa memiliki

kemampuan menembus (melakukan penetrasi) lapisan-lapisan ovum,

kemudian terjadi serangkaian proses dari kedua inti spermatozoa dan

ovum sehingga menghasilkan zigot (Susetyarini, 2011).

Implantasi dimulai dengan menetas dari zona pellucida sekitar 1-3

hari setelah morula memasuki rongga uterus. proses implantasi dimulai

dengan aposisi dan adhesi blastokista ke epitelium uterus, sekitar 2 hari

setelah morula memasuki rongga uterus. Proses ini dimediasi oleh sitokin

dan melibatkan molekul adhesi (integrin) yang berinteraksi dengan

komponen ekstraseluler, terutama laminin dan fibronektin (Speroff, 1992).

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mampu memahami maturasi dan fertilisasi ovum.

2. Tujuan khusus

a. Mampu memahami proses implantasi ovum

b. Mampu memahami pembentukan plasenta (placentasi)

C. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan

C. Sistematika Penulisan

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Implantasi ovum

B. Placentasi

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Implantasi Ovum

Pada hari ketiga dan keempat setelah fertilisasi embrio berbentuk

bola yang ditutupi kapsul translusen yang disebut zona pellucida. Pada

hari keempat dan kelima setelah fertilisasi, terdapat cavitas didalam

embrio yang berisi cairan yang disebut blastocele, pada stadium ini

embrio disebut blastosit. Lapisan paling luar blastosit disebut

tropectoderm. Sekitar hari keenam sampai hari ketujuh setelah

fertilisasi, zona pellusida mengalami degenerasi sehingga tropectoderm

berinteraksi langsung dengan epitel luar endometrium. Awalnya blastosit

tidak invasive, namun setelah terjadi hatching dari zona pellucida

permukaan non adhesive dari tropectoderm berubah menjadi adhesive

dan sel tropoblas berinteraksi dengan komponen epitel endometrium

yang reseptif yaitu pinopodes (Fauziyah, 2012).

Implantasi adalah proses terbenamnya blastosit ke dalam

endometrium setelah pelepasan zona pellucida. Berbagai penelitian

menunjukkan bahwa harus ada perkembangan yang sinkron dari embrio

dan endometrium agar embrio berhasil dalam proses implantasi. Banyak

sinyal sikronisasi perkembangan blastosit dan persiapan dari

endometrium. Hormone steroid merupakan aspek sinkronisasi yang

4
paling dikenali. Proses implantasi membutuhkan peningkatan estradisol

preovulasi yang memacu proliferasi dan differensiasi sel epitel,

dilanjutkan dengan produksi progesterone oleh korpus luteum yang

memacu proliferasi dan differensiasi stroma endometrium. Kerja

hormone steroid ini meliputi juga dalam pengaturan growth factor dan

sitokin (Fauziyah, 2012).

(Gambar 2. Proses Implantasi)

5
Fungsi primer endometrium adalah menyiapkan dan menyokong

adanya kehamilan. Endometrium menjadi ‘reseptif’ (bersedia menerima)

implantasi dalam waktu yang terbatas dibawah pengaruh hormone

steroid dan sinyal parakrine dari embrio yang sedang berkembang.

Hormone steroid mersepon jaringan endometrium untuk siklus

pertumbuhan dan perkembangan melalui pelepasan dan regenerasi.

Perkembangan reseptivitas endometrium dipengaruhi 2 hal, yaitu :

a. Cara kerja hormone steroid pada perkembangan reseptivitas

endometrium.

Perkembangan reseptivitas endometrium bergantung pada

terpaparnya endometrium terhadap keberadaan estrogen dan

progesterone. Hormone ini bekerja primer melalui reseptor estrogen

inti yaitu reseptor alpha (Erα), ERβ, progesterone reseptor alpha

(PRα), PRβ, yang secara berurut akan bekerja merangsang

transkripsi gene.

Pada saat implantasi, pada hari 21-22 siklus, gambaran

morfologis yang dominan adalah edema stroma endometrium.

Perubahan ini mungkin bersifat sekunder terhadap peningkatan

produksi prostaglandin oleh endometrium yang dimediasi oleh

estrogen dan progesterone. Peningkatan permeabilitas kapiler

merupakan akibat dari peningkatan local jumlah prostaglandin ini.

Reseptor-reseptor untuk steroid seks terdapat dalam dinding

6
muskuler pembuluh darah endometrium, dan sistem enzim untuk

sintesis prostaglandin terdapat dalam dinding muskuler maupun

endotel arteriol-arteriol endometrium. Mitosis pertama kali tampak

dalam sel-sel endotel pada hari 22 siklus. Proliferasi vaskuler

menyebabkan terpilinnya vasa spiralis, suatu respon kepada steroid

seks, prostaglandin, dan faktor-faktor autokrin dan parakrin yang

diproduksi sebagai respon terhadap estrogen dan progesterone.

Fertilization
Isthmus Ampulla
LH Surge Ovulation Function Morula in the Uterus Implantation

Cycle Days 14 15 16 17 18 19 20 21 22

HCG in Embryo HCG in Mother

Selama fase sekrotik, tampak sel-sel yang disebut sel K

(kornchenzellen), mencapai konsentrasi puncak pada trimester

pertama kehamilan. Sel-sel ini adalah granulosis yang memiliki

peranan imunoprotektif dalam implantasi dan plasentasi. Sel-sel

terletak diperivaskuler dan dianggap berasal dari darah. Pada hari

26-27, stroma endometrium diinfiltrasi oleh lekosit-lekosit

prolimorfonuklear yang mengalami ekstravasasi.

Sel-sel stroma endometrium merespon kepada sinyal-sinyal

hormonal, mensintesis prostaglandin, dan jika diubah menjadi sel-sel

7
desidua, memproduksi berbagai macam substansi, dimana beberapa

diantaranya adalah prolaktin, relaksin, rennin, insulin-like growth

factor (IGF), dan protein pengikat insulin-like growth factor (IGFBP).

Sel-sel stroma endometriu, progenitor dari sel-sel desidua awalnya

diyakini berasal dari sumsum tulang (dari sel-sel yang menginvasi

endometrium), tetapi saat ini sel-sel tersebut dianggap berasal dari

sel stem mesenkim uterus primitif.

Proses desidualisasi dimulai pada fase luteal, dibawah

pengaruh progesterone dan dimediasi oleh faktor-faktor autokrin dan

parakrin. Pada hari 22-23 siklus, dapat dijumpai sel-sel pradesidua.

Awalnya sel-sel ini mengelilingi pembuluh darah, ditandai oleh

pembesaran sitonuklear, peningkatan aktifitas mitotic, pembentukan

membrane basement. Desidua berasal dari sel-sel stroma, menjadi

jaringan structural dan biokimiawi penting dalam kehamilan. Sel-sel

desidua mengontrol sifat invasive tropoblast dan produk-produk dari

desidua memegang peranan penting dalam jaringan janin dan

jaringan ibu.

Sel-sel desidua sangat berperan dalam proses pendarahan

endometrium (menstruasi) maupun proses hemostasis endometrium

(implantasi dan plasentasi). Implantasi memerlukan hemostatis

endometrium dan uterus ibu memerlukan resistensi terhadap invasi.

Inhibisi perdarahan endometrium dapat dikaitkan, sampai tingkat

8
tertentu, dengan perubahan-perubahan yang tepat dalam faktor-

faktor penting sebagai akibat dari desidualisasi;mislanya lebih

rendahnya kadar aktifator plasminogen, menurunnya ekspresi enzim

yang mendegradasi matriks ekstraselular stroma (seperti

metaloproteinnase), dan meningkatnya kadar inhibitor aktifator

plasminogen-1. Withdrawal estrogen dan dukungan progesterone

menyebabkan perubahan kearah yang berlawanan, konsisten

dengan peluruhan endometrium (Fauziyah, 2012).

Ekspresi endometrium dari estrogen dan reseptor progesterone

sangat penting dalam implantasi. Saat fase luteal, progesterone

menyebabkan hilangnya kelenjar epitel reseptor progesterone

dimana bertepatan saat implantasi. Down regulasi dari reseptor

progesterone melalui waktu kritis pada penurunan molecular saat

implantasi, dengan reseptor progesterone yang abnormal pada

pasien dengan defekfase luteal menyebabkan kegagalan implantasi

(Fauziyah, 2012).

b. Cara kerja embrio dalam mempengaruhi receptive endometrium.

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa chorionic

gonadotrophin (CG), diketahui memiliki efek antiluteolytic pada

ovarium. Bagaimanapun CG memiliki efek langsung baik pada

epithelium maupun stroma sel endometrium. Stimulasi yang

bermakna berupa pengeluaran dari angiogenic protein vascular

9
endothelial growth factor (VEGF) dan matric metalloproteinase MMP-

9, yang sangat berperan dalam remodeling jaringan, terjadi hanya

dalam beberapa menit. Sekresi IGFBP-1, suatu marker dari stromal

cell decidualization, juga meningkat. Sinkronisasi dari kerja molekul

tersebut bekerja langsung mempengaruhi endometrium.

Impalantasi pada manusia terdiri dari 3 tahap, yaitu : tahap

pertama adalah aposisi, yaitu adesi blastosit pada endometrium,

pada tahap ini terjadi pertemuan antara mikrovili permukaan

sinsiotropoblast dengan mikroprotrusion dari epitel permukaan

endometrium yang disebut pinopodes. Aposisi dan selanjutnya

implantasi terutama terjadi pada bagian fundus uterus. Tahap

selanjutnya adalah adensi yang stabil, ditandai dengan meningkatnta

interaksi fisik antara blastosit dengan epitel endometrium. Tahap

selanjutnya adalah invasi, pada tahap ini terjadi penetrasi blastosit

kedalam epitel endometrium.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implantasi :

1) Hormon-hormon ovarium dan berbagai reseptor di dalamnya.

2) Growth factors, yang meliputi Epidermal Growth Factor (EGF)

family member, Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF).

3) Cytokines, seperti Leukemia Inhibitory Factor (LIF), interleukin 11

(IL-11), Colony Stimulating Factor-1 (CSF-1), Cyclooxygenase-2

(Cox-2).

10
4) Modulator-modulator untuk perlekatan sel.

- Mucin 1 (Muc 1)

- Integrins

- Basigin (Bsg)

5) Faktor-faktor perkembangan (developmental factors), misalnya

homeobox (Hox) genes, Wnt genes.

B. Plasentasi

Plasentasi adalah proses pembentukan plasenta. Setelah nidasi

embrio ke dalam endometrium, plasentasi dimulai. Pada manusia,

plasentasi berlangsung sampai 12-18 minggu setelah fertilisasi

(Prawirohardjo, 2010).

Terjadinya implantasi mendorong sel blastula mengadakan

diferensiasi, sel yang dekat dengan ruangan eksoderm membentuk

“endoterm” dan yolk sac (kantung yolk) sedangkan sel lain membentuk

“endoderm” dan ruangan amnion. Plat embrio (embrional plate)

terbentuk di antara dua ruangan yaitu ruangan amnion dan kantung

yolk. Plat embrio terdiri dari unsur ektoderm, endoderm, dan mesoderm.

Ruangan amnion dengan cepat mendekati korion sehingga jaringan

yang terdapat antara amnion dan embrio padat dan berkembang

menjadi tali pusat (Prawirohardjo, 2010).

Pada permulaan kantung yolk berfungsi sebagai pembentuk darah

bersama dengan hepar, limfe dan sumsum tulang. Pada minggu kedua

11
sampai ketiga terbentuk bakal jantung dengan pembuluh darahnya yang

menuju body stalk (bakal tali pusat). Jantung bayi mulai dapat dideteksi

pada minggu keenam sampai delapan dengan mempergunakan

ultrasonografi atau Doppler. Pembuluh darah pada body stalk terdiri

dari arteri umbilikalis dan vena umbilikalis. Cabang arteri dan vena

umbilikalis masuk ke vili koriialis sehingga dapat melakukan pertukaran

nutrisi dan sekaligus membuang hasil metabolisme yang tidak

diperlukan (Prawirohardjo, 2010).

Vili korialis menghancurkan desidua sampai pembuluh darah,

mulai dengan pembuluh darah vena pada hari ke-10 sampai ke-11

setelah konsepsi. Bagian desidua yang tidak dihancurkan membagi

plasenta menjadi sekitar 15 sampai 20 kotiledon maternal, sedangkan

dari sudut fetus, maka plasenta dibagi menjadi 200 kotiledon fetus,

fungsinya memberikan nutrisi, pertumbuhan dan perkembangan janin

dalam rahim ibu tetapi dipisahkan langsung oleh lapisan troboblas

dinding pembuluh darah janin. Fungsinya dilakukan berdasarkan sistem

osmosis dan enzimatik serta pinositosis, situasi plasenta demikian

disebut sistem plasenta-hemokorial (Prawirohardjo, 2010).

1. Struktur Plasenta

Plasenta merupakan organ yang luar biasa. Plasenta berasal

dari lapisan trofoblas pada ovum yang dibuahi, lalu terhubung

dengan sirkulasi ibu untuk melakukan fungsi – fungsi yang belum

12
dapat dilakukan oleh janin itu sendiri selama kehidupan intrauterine

(Lalita, 2013).

a. Susunan plasenta

Menjelang permulaan bulan keempat, plasenta mempunyai dua

komponen :

1) Bagian janin dibentuk oleh korion frondosum dan vili

2) Bagian ibu dibentuk oleh desidua basalis

b. Bagian janin/permukaan fetal (fetal portion)

1) Pada sisi janin plasenta dibatasi oleh lempeng korion

2) Pada daerah penyatuan, sel-sel trofoblas dan desidua saling

bercampur baur. Daerah ini ditandai dengan adanya sel

raksasa desidua dan sintisium serta kaya akan zat

mukopolisakarida amorf.

3) Sebagian besar sel sitotrofoblas berdegenerasi.

4) Antara lempeng korion dan lempeng desidua terdapat ruang

antar jonjot yang berisi darahibu.

5) Ruang-ruang ini berasal dari lakuna dalam sinsititrofoblas

dan dibatasi oleh sinsitisium yang berasal dari janin.

6) Cabang-cabang jonjot tumbuh kedalam danau – danau

darah antar jonjot.

c. Bagian ibu / permukaan maternal (maternal portion)

13
1) Selama bulan keempat dan kelima, desidua membentuk

sejumlah sekat yaitu sekat desidua yang menonjol kedalam

ruang antar jonjot tetapi tidak mencapai lempeng korion.

Sekat-sekat ini mempunyai inti jaringan ibu, tetapi

permukaan yang diliputi oleh selapis sel sinsitium sehingga

selamanya selapis sel sinsitium memisahkan darah ibu

didalam danau antar jonjot dari jaringan janin pada jonjot.

2) Sebagai akibat pembentuk sekat ini, plasenta terbagi dalam

sejumlah ruangan atau kotiledon oleh karena sekat desidua

tidak mencapai lempeng korion, hubungan antara ruang

antar jonjot dalam berbagai kotiledon tetap berpelihara

3) Sebagai akibat berlanjutnya pertumbuhan janin dan

pembesaran Rahim plasenta juga membesar peningkatan

luas permukaan secara kasar sebanding dengan

pembesaran Rahim dan selama kehamilan, plasenta

menutup kira-kira 25-30% permukaan dalam Rahim.

Penigkatan tebal plasenta diakibatkan oleh terbentuknya

kaki-kaki dari jonjot -jonjot yang sudah ada dan tidak

disebabkan oleh penembusan lebih lanjut ke dalam jaringan

ibu.

d. Ciri – ciri permukaan fetal :

1) Terdiri dari vili

14
2) Mengahadap ke janin

3) Warnanya keputih-putihan dan licin karena tertutup oleh

amnion. Dibawah amnion nampak pembuluh-

pembuluhdarah.

e. Ciri –ciri permukaan maternal :

1) Terdiri dari desidua compacta dan sebagaian desidua

spongiosa yang kelak ikut lepas dengan plasenta

2) Menghadap ke dinding Rahim

3) Warnanya merah dan terbagi oleh celah-celah plasenta

terdiri dari 16 -20 kotiledon

4) Permukaanya kasar beralur-alur

f. Letak plasenta

Letak plasenta pada umumnya pada korpus uteri bagian depan

atau belakang agak kearah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologi

karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga

lebih banyak tempat untuk berimplantasi.

g. Bentuk dan ukuran plasenta

Plasenta berbentuk bundar atau oval ukuran diameter 15-

20 cm, tebal 2-3 cm dan beratnya 500-600 gram.

Biasanya plasenta akan terbentuk lengkap pada usia

kehamilan kira-kira 16 minggu, dimana ruang amnion telah

mengisi seluruh rongga Rahim. Meskipun ruang amnion

15
membesar sehingga amnion tertekan kearah korion, namun

amnion hanya menempel saja tidak sampai melekat pada

korion.

2. Fungsi Plasenta

a. Nutrisasi

Plasenta sebagai alat nutritive. Peyaluran bahan nutrisi dari ibu ke

janin dengan jalan :

1) Difusi air dan bahan yang larut dalam air, garam ,kalium dan

natrium. Makin besar berat jenis bahan makanan maka makin

lambat terjadi difusi.

2) Sistem enzimatik. Prinsip bahan tersebut dipecah dan

selanjutnya disintesis ke bentuk aslinya dalam bentuk vili

korialis.

3) Pinositosis. Caranya seperti aktivitas amoben. Bahan tersebut

adalah immunoglobulin G dan albumin.

b. Eksresi

Ginjal, hati dan usus janin belum berfungsi dengan baik sebagai

alat pembuangan. Sisa metabolism akan dibuang melalui plasenta

yang dapat menghubungkan janin dengan dunia luar secara tidak

langsung.

Zat utama yang dieksresikan adalah karbon dioksida (CO2).

Bilirubin juga dieksresikan karena sel darah merah diganti relative

16
sering. Terdapat sedikit pemecahan jaringan yang terpisah serta

jumlah urea dan asam urat yang diekskresi sangat sedikit.

c. Respirasi

Dalam sirkulasi janin terdapat fetal hemoglobin (F) yang

memiliki afinitas tinggi terhadap oksigen dan sebaliknya mudah

melepaskan karbon dioksida melalui system difusi dalam plasenta.

Dengan adanya perbedaan afinitas tersebut, plasenta dapat

menjalankan fungsinya sebagai alat pernafasan. Makin tua

kehamilan, semakin tinggi konsentrasi adult hemoglobin (A)

sebagai persiapan bernafas melalui paru-paru pada saat kelahiran.

d. Produksi

Hormon yang dikeluarkan oleh plasenta adalah :

1) Korionik gonadotropin

- Merangsang korpus luteum menjadi korpus luteum

gravidarum sehingga tetap mengeluarkan estrogen dan

progesterone. Korpus luteum berfungsi sampai plasenta

sempurna

- Bersifat khas kehamilan sehingga dapat dipakai sebagai

hormon tes kehamilan.

- Puncaknya tercapai pada hari ke-60

- Setelah persalinan, dalam urin tidak dijumpai lagi.

2) Korionik somato-mammotropin

17
- Hormon untuk metabolisme protein

- Bersifat laktogenik dan luteotropik

- Menimbulkan pertumbuhan janin

- Mengatur metabolisme karbohidrat dan lemak

3) Estrogen plasenta

- Dalam bentuk estradiol, estriol dan estron.

- Pertumbuhan dan perkembangan otot rahim

- Retensi air dan garam

- Perkembangan tubulus payudara sebagai pengganti ASI

- Melaksanakan sintesis protein

4) Progesteron

- Permulaan hamil dibuat oleh korpus luteum dan plasenta.

- Penenang otot rahim selama hamil

- Bersama estrogen mengaktifkan tubulus dan alveolus

payudara.

- Menghalangi proses pematangan folikel de graff sehingga

tidak terjadi ovulasi serta menghalangi pengeluaran LH.

5) Imunisasi

Janin mempunyai kekebalan pasif sampai umur 4 bulan dan

selanjutnya kekebalan tersebut berkurang. Antibody yang

dibentuk ibu melalui plasenta menybebkan bayi kebal terhadap

18
infeksi. Antibody disalurkan melalui ASI sehingga kolostrum

harus diberikan.

6) Berrier

Sel trofoblas cukup kuat untuk bertindak sebagai barrier

terhadap beberapa bacteria atau virus. Demikian juga obat

yang dapat membahayakan pertumbuhan dan perkembangan

janin dalam rahim dihalangi masuk melalui plasenta.

3. Sirkulasi Plasenta

Darah janin mengandung sedikit oksigen. Dipompa oleh jantung

janin menuju ke plasenta melalui arteri umbilicus dan diangkut

sepanjang cabang ke pembuluh darah kapiler vili korionik. Setelah

membuang karbondioksida dan menyerap oksigen, darah kembali ke

janin melalui vena umbilicus.

Darah maternal diangkut ke dasar plasenta dalam desidua oleh

arteri spiralis dan mengalir ke dalam ruang darah disekitar vili.

Sirkulasi retroplasentaer terjadi karena aliran darah arteri spiralis

dengan tekanan 70 mmHg sampai 80 mmHg sedangkan tekanan

darah pada vena di dasar desidua mirip mata air ; darah mengalir ke

atas dan membasahi vilus saat disirkulasikan di sekelilingnya dan

mengalir kembali ke dalam cabang-cabang vena uterin. Darah arteri

maternal kaya akan oksigen dan nutrien.

19
Darah janin dan maternal memiliki hubungan yang dekat, tetapi

tidak memiliki hubungan langsung. Perpindahan zat antara darah janin

dan maternal adalah melalui difusi, transfor aktif dan pinositosis.

Menjelang akhir kehamilan, plasenta memungkinkan antibody

maternal memasuki sirkulasi janin antibody memberikan imunitas pasif

sementara pada janin. Obat-obatan, alcohol, polutan lingkungan, virus

dan agens penyebab penyakit lainnya masuk dengan bebas dari

sirkulasi maternal ke sirkulasi janin. Sebagai zat ini disebut teratogen

atau agens yang dapat menyebabkan defek lahir (Lalita, 2013).

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Implantasi atau nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil

konsepsi ke dalam endometrium (Lalita, 2013). Pada akhir minggu

pertama (hari ke 5 sampai ke 6) zygot mencapai cavum uteri.

Poin kunci dari proses implantasi ovum, adalah :

1. Embrio awal memasuki ruang rahim uterus sebagai 8 sel dan

menjadi 30 sampai 200 sel blastosit sebelum implantasi.

2. Implantasi dimulai dengan menetas dari zona pellucida sekitar 1-3

hari setelah morula memasuki rongga uterus.

3. Endometrium disiapkan untuk implantasi oleh aktivitas kompleks

sitokin, faktor pertumbuhan, dan lipid yang dimodulasi oleh hormon

seks, terutama progesteron. endometrium bersifat reseptif untuk

implantasi hanya beberapa hari.

4. Proses implantasi dimulai dengan aposisi dan adhesi blastokista ke

epitelium uterus, sekitar 2 - hari setelah morula memasuki rongga

uterus. proses ini dimediasi oleh sitokin dan melibatkan molekul

adhesi (integrin) yang berinteraksi dengan komponen ekstraseluler,

terutama laminin dan fibronektin.

5. Invasi trophoblastic dengan cepat mengikuti adhesi blastokista,

dimediasi oleh degradasi proteinase dari matriks ekstraseluler.

21
plasenta terbentuk pada minggu kedua setelah ovulasi.

Keterbatasan invasi trofoblastik adalah karena pembatasan yang

dikenakan oleh inhibitor proteinase, terutama inhibitor aktivator

plasminogen dan inhibitor jaringan metaloproteinase.

B. Saran

Ketika berbicara tentang anatomi manusia, maka hal yang penting

diketahui adalah bagaimana anatomi dari organ tubuh termasuk organ

reproduksi terutama terbentuknya sperma dan ovum sebagai sel

terpenting dalam proses reproduksi sehingga menghasilkan keturunan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Fauziyah, Yuli. (2012). Indertilitas dan Gangguan Alat Reproduksi Wanita.


Yogyakarta : Nuha Medika.

Lalita, Elizabeth. (2013). Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta : In Media.

Prawirohardjo, S. (2010) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Rohmah. (2013). Bahan Ajar Embriologi Manusia. Yogyakarta: Deepublish.

Setiadi. (2007). Anatomi & Fisiologi Manusia. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Susestyarini, E. (2011). Kehamilan Minggu Demi Minggu. Jakarta: Erlangga.

23