Anda di halaman 1dari 9

1 TINJAUAN PUSTAKA

Sayuran Kacang Indigenous Indonesia

Sayuran kacang termasuk dalam anggota famili Fabaceae atau yang lebih dikenal juga
dengan Leguminosae yang merupakan famili terbesar ketiga dalam kelompok tanaman berbunga
setelah famili Orchidaceae dan Asteraceae. Famili Fabaceae juga merupakan famili terpenting
kedua setelah famili Poaceae secara ekonomi dan pertanian yang terdiri atas 730 genus dan 19.400
spesies (Wojciechowski et al. 2004). Famili ini dibagi menjadi menjadi tiga sub famili yakni
Papilionoideae, Caesalpinioideae dan Mimosoideae. Sub famili Papilionideae adalah sub famili
terbesar yang terdiri dari 476 genus dan 14.000 spesies (Smýkal et al. 2014) dan dikenal sebagai
edible legum yang menjadi komoditas hortikultura tergolong ke dalam sayuran. Salah satu tribe
dari sub famili ini adalah Phaseoleae yang terdiri dari genus-genus penting seperti Vigna,
Phaseolus, Lablab dan Psophocarpus dan Canavalia (Broughton et al. 2003).

Kacang Tunggak (Vigna unguiculata)

Genus Vigna memiliki sekitar 150 spesies yang terdiri dari lima subgenus yakni Ceratotropis,
Plectotropis, Sigmoidotropis, Lasiosporon dan Haydonia. Spesies Vigna yang tumbuh pada daerah
subtropis dan tropis memiliki kekerabatan yang dekat dengan spesies Phaseolus, khususnya
spesies Vigna Asiatik (sub genus Ceratotropis) yang sebelumnya tergolong ke dalam Phaseolus
hingga tahun 1970. Kromosom dasar spesies Vigna maupun Phaseolus adalah n = x = 11, kecuali
V. glabrescens (2n = 4x = 44) (Smýkal et al. 2014).
Salah satu spesies penting anggota genus Vigna adalah Vigna unguiculata (L.) Walp. yang
berasal dari Afrika barat dan memiliki keragaman yang besar dan menyebar luas di Afrika, India
dan Brazil (Smýkal et al. 2014). Berdasarkan pada karakteristik bentuk biji dan polong, V.
unguiculata (var. unguiculata) yang telah dibudidayaan dibedakan ke dalam empat kelompok
kultivar (cv-gr), yaitu (1) cv-gr. Unguiculata, (2) cv-gr. Biflora, (3) cv-gr. Sesquipedalis, dan (4)
cv-gr. Textilis (Ghalmi et al. 2010).
Kacang tunggak (2n = 22) tergolong ke dalam spesies V. unguiculata sub sp. Unguiculata
cv-gr Unguiculata dengan pusat keragaman berada di Afrika selatan dan Afrika timur berdasarkan
atas keberadaan tetuanya, baik yang dibudidayakan maupun jenis liar (Trustinah 1998). Di
Indonesia, Vigna unguiculata (L.) Walp dikenal dengan nama kacang tunggak atau kacang tolo.
Kacang tunggak adalah tanaman tropik dan subtropik yang biasanya ditanaman sebagai tanaman
annual. Tanaman ini memiliki tipe pertumbuhan determinate dan indeterminate dengan sifat
pertumbuhan yang tegak, agak tegak dan menjalar dengan tinggi berkisar antara 30-140 cm. Akar
tanaman kacang bersimbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium dan mampu meningkatkan produksi
sebesar 60-90% (Pule-Meulenberg et al. 2010). Potensi hasil tanaman kacang tunggak dapat
mencapai 1.5–2 ton/ha tergantung varietas, lokasi, musim tanam, dan budidaya yang diterapkan
(Haliza et al. 2007; Sayekti et al. 2011).
Daun kacang tunggak memiliki tiga helaian daun (trifoliate) yang letaknya berseling dengan
ukuran yang bervariasi dengan panjang berkisar 6.5-16 cm, lebar 4-10 cm dan panjang petiol antara
5-15 cm (Gambar ). Daun muda kacang tunggak dapat dikonsumsi sebagai sayuran dan kaya akan
protein dengan kandungan sebesar 33% (Okonya & Maass 2014). Bunga kacang tunggak
merupakan bunga hermaprodit. Kelopak bunga (calyx) kacang tunggak berbentuk lonceng
berwarna hijau; mahkota bunga (corolla) terdiri 5 helai, yaitu 1 helai standar (standard), 2 helai
sayap (wings) dan 2 helai perahu (keel); benangsari (stamen) berjumlah 10 buah yang terbagi
menjadi dua kelompok (diadelphouse), yaitu 1 bebas dan 9 lainnya menyatu, dengan kepala sari
yang sama. Bunga kacang tunggak tersusun dalam bentuk tandan (raceme) yang terdapat pada
ujung poros bunga (pedunculus) yang muncul pada ketiak daun, Bunga mekar pada pukul 06.00
s/d 10.00 sedangkan pemasakan serbuksari terjadi antara pukul 22.00 s/d 01.00 (Trustinah 1998).
Bentuk dan ukuran polong bervariasi tergantung jenisnya biasanya berisi 8-20 biji dengan
panjang berkisar antara 8-20 cm. Polong muda berwarna hijau muda atau hijau tua dan setelah tua
berwarna krem, coklat atau hitam. Selain beragam dalam warna dan ukuran, kekerasan polong tua
kacang tunggak juga beragam, yakni polong keras seperti polong kacang hijau atau polong tidak
keras seperti polong kacang panjang. Kedudukan polong kacang tunggak juga bervariasi, ada yang
tegak (menghadap ke atas) dan ada yang terjurai (menghadap ke bawah). Biji kacang tunggak
bervariasi dalam ukuran, bentuk ataupun warna tergantung jenisnya. Panjang biji berkisar antara
6-12 mm dengan bobot 100 biji berkisar antara 7-25 g. Permukaan biji mempunyai variasi dari
halus hingga berkerut (Trustinah 1998). Antova et al (2014) menyatakan biji kacang tunggak
mengandung protein 22.5-25.6%, lemak 1.3-1.9% dan serat 1.7-3.0%.
Tanaman kacang tunggak dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, baik yang betekstur
ringan (berpasir) maupun bertekstur berat (liat), namun akan tumbuh dengan baik pada jenis tanah
dengan drainase dan aerasi yang baik serta cukup mengandung unsur hara P dan K dan mempunyai
pH sekitar 5.0-6.5. kacang tunggak toleran pada lahan sub optimal karena toleransinya terhadap
kekeringan (Hall 2012), tanah sulfat masam (Gweyi-Onyango et al. 2011; Haliza et al. 2007) dan
salinitas (Win & Oo 2015). Suhu otimum untuk pertumbuhan kacang tunggak adalah antara 25-30
0
C dengan curah hujan 100-1500 mm per tahun. Tanaman kacang tunggak toleran untuk tanah-
tanah marginal, seperti tanah masam dan tahan kekeringan, namun tidak tahan genangan. Tanaman
kacang tunggak sangat responsif terhadap pemberian air, sehingga pada kondisi tanah yang subur
dan ketersediaan air yang cukup, pertumbuhan vegetatifnya menjadi sangat subur dan dominan
yang mengakibatkan produksi biji rendah (Trustinah 1998).
Kacang Panjang (Vigna sinensis)

Kacang panjang (2n = 22) tergolong ke dalam Vigna unguiculata cv-gr. sesquipedalis dengan
pusat keragaman di Asia Tenggara (NARO 2017a). Taksonomi kacang panjang adalah kingdom
Plantae, sub-kingdom Tracheobionta, super divisi Spermatophyta, divisi Magnoliophyta, kelas
Magnoliopsida, sub kelas Rosidae, ordo Fabales, famili Fabaceae, genus Vigna, species Vigna
sinensis (L.) Savi Ex Hassk ssp. Sesquipedalis (L.) (FAO 2017a).
Kacang panjang adalah tanaman semusim yang tumbuh membelit dengan tinggi berkisar
antara 2.0-4.0 m. Daun kacang panjang agak mengkilat dan merupakan daun majemuk yang
tersusun atas tiga helai dengan anak daun berbentuk ovate hingga lanceolate yang berwarna hijau
muda hingga hijau tua. Bunga kacang panjang berwarna putih atau atau ungu berbentuk kupu-
kupu yang muncul pada ketiak daun dan terletak pada ujung tangkai yang panjang. Setiap tangkai
bunga mempunyai tiga sampai lima bunga. Buah kacang panjang berbentuk polong dan bulat
dengan ukuran pnjang sekitar 30-90 cm. Pelengkatan polong pada pedunkulus terjurai ke bawah
(NARO 2017a). Polong muda kacang panjang dimanfaatkan sebagai sayur yang siginifikan
sebagai sumber gizi dengan komposisi gizi pada setiap 100 g bagian kacang panjang yang dapat
dimakan adalah 87.85 g air, 2.8 g protein, 0.4 g lemak, 8.35 g kabohidrat, 0.6 g hidrat arang, 50
mg kalsium, 59 mg fosfor, 0.47 mg zat besi, 865 IU vitamin A, 18.8 mg vitamin C dan
mengahasilkan 47 kcal. Biji kacang panjang umumnya berbentuk kidney dengan warna dan ukuran
yang bervariasi tergantung varietasnya. Biji tua kacang panjang data dijadikan alternatif pangan
sumber protein nabati karena dalam 100 g mengandung 24.33 g protein, 1.31 g lemak, 61.91 g
karbohidrat dan 11 g serat (USDA 2017a). Potensi hasil tanaman kacang panjang untuk dipanen
polong muda mencapai 1.5-8.0 ton ha-1, sedangkan biji kering rata-rata berkisar antara 400-750 kg
ha-1, namun hasil tertinggi dapat mencapai 2.8 ton ha-1 (FAO 2017a)
Kacang panjang dapat dapat tumbuh pada ketinggian 700-1000 m dpl. Akan tetapi, pada
ketinggian di atas 700 m dpl menyebabkan pertumbuhan kacang panjang terhambat. Suhu udara
yang dibutuhkan adalah 18-32 ºC dengan suhu optimal 25 ºC. Tanaman ini membutuhkan banyak
sinar matahari dan curah hujan berkisar antara 750-1100 mm per tahun. Waktu tanam yang baik
adalah awal atau akhir musim hujan. Kacang panjang beradaptasi pada tanah bertekstur berpasir
hingga liat. Jenis tanah yang optimal untuk pertumbuhan kacang panjang adalah latosol (lempung
berpasir), regosol dan alluvial dengan pH 5.5 – 6.5 (FAO 2017a).

Kacang Bogor (Vigna subterranea)

Kacang bogor (2n= 22) atau Bambara groundnut pertama kali dideskripsikan dengan nama
botani Glycine subterranea L., kemudian berubah menjadi Voandzeia subterranea (L.) Thours dan
terakhir penamaan kacang bogor menjadi (Vigna subterranea (L.) Verdcourt) (FAO 2017b).
Kacang bogor berasal dari Afrika Barat, kemudian berkembang di kawasan Amerika, Asia dan
Australia. Tanaman ini dikembangkan di daerah Sub-Sahara Afrika, terutama pada daerah semi
kering. Di Afrika, kacang bogor merupakan tanaman kacang-kacangan terpenting ke tiga setelah
kacang tanah dan kacang tunggak (Bamshaiye et al. 2011). Di Asia, kacang bogor telah
dibudidayakan di India, Srilanka, Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand. Di Indonesia,
kacang bogor banyak ditemukan Jawa Barat, Banten dan Jawa Timur seperti Sukabumi,
Sumedang, Majalengka, Tasikmalaya, Cirebon, Madura, Lamongan dan Gresik (Hindun et al.
2013).
Tanaman kacang bogor merupakan herba semusim dengan tinggi berkisar antara 0.30-0.35
m. Percabangan tumbuh sangat cepat, yakni 1 minggu setelah berkecambah dengan jumlah cabang
mencapai 20 cabang. Batang memiliki ruas yang pendek dan cabang-cabang lateral yang menjalar
di atas tanah sehingga terlihat seperti tidak mempunyai batang. Tanaman tampak merumpun yang
terdiri atas kumpulan daun yang bertangkai panjang dengan panjang berkisar 15 cm. Daun terminal
kacang bogor memiliki panjang ± 5 cm. Bunga kacang bogor berwarna kuning yang muncul dari
ketiak daun dengan tangkai bunga yang yang pendek dan berbulu. Setiap tangkai bunga terdiri dari
dari satu sampai tiga bunga yang berukuran kecil. Bunga yang telah mengalami penyerbukan akan
masuk ke dalam permukaan tanah dan membentuk polong sama seperti pada tanaman kacang
tanah. Polong kacang bogor berdiameter antara 1.25-2.50 cm, berbentuk bulat berisi satu atau dua
biji. Polong muda berwarna putih dan halus, sedangkan jika polong tua berwarna coklat. Tanamana
kacang bogor berbunga pada umur 30-55 hari setelah tanam (Bamshaiye er al. 2011).
Tanaman kacang bogor bertipe “bunch” dapat dipanen pada umur 90-120 HST, sedangkan
tanaman yang bertipe “spreading” berkisar antara 120-180 HST. Potensi hasil tanaman kacang
bogor dalam bentuk biji kering adalah 650-850 kg ha-1, namun hasil tertinggi dapat mencapai 3.6
ton ha-1 (FAO 2017b). Yao et al. (2015) melaporkan dalam kompisisi 100 gram biji kering kacang
bogor mengandung 18.8 g protein dan 1.4 g lemak. Kacang bogor dapat dibudidayakan sampai
ketinggian 1600 m dpl pada kondisi lingkungan yang bersuhu harian rata-rata 20-28 °C dan suhu
optimum untuk perkecambahan adalah 30-35 °C dengan curah hujan tahunan berkisar antara 600-
700 mm. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah lempung berpasir dengan pH 5.0-6.5 (Bamshaiye
er al. 2011).
Buncis dan Kacang Merah (Phaseolus vulgaris)

Genus phaseoulus terdiri dari 76 spesies dengan ukuran genom antara 450- 650 Mb (Harand
et al. 2013). Salah satu anggota genus ini yang sering dibudidayakan di Indonesia adalah buncis.
Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.) (2n = 22) berasal dari Amerika Selatan dan Amerika
Tengah. Tanaman buncis yang berasal dari dari Amerika Tengah bercirikan biji yang berukuran
kecil, dan menghasilkan phaseolin bertipe S dan B, sedangkan yang berasal dari Amerika Selatan
memiliki biji yang berukuran besar dan menghasilkan phaseoline tipe T, C, H dan A (Gepts et al.
1986). Kacang buncis dikenal juga dengan nama latin Phaseolus communis Pritzel atau Phaseolus
esculentus Salisb (FAO 2017c).
Tanaman buncis tergolong dalam legume semusim yang terdiri dari dua tipe pertumbuhan,
yaitu (1) tipe merambat (indeterminate) dan (2) tipe tegak (determinate). Buncis tipe merambat
memiliki tinggi tanaman berkisar antara 2.0-5.0 m dan memiliki lebih dari 25 buku pembungaan.
Sedangkan, buncis tipe tegak memiliki tinggi tanaman berkisar antara 20-60 cm dan memiliki
jumlah buku yang sedikit serta pembungaannya terbentuk di ujung batang utama (Rubatzky &
Yamaguchi 1997). Buncis tipe tegak lebih cocok ditanam di dataran rendah pada ketinggian 300-
500 m dpl), sedangkan buncis tipe merambat lebih cocok ditanam di dataran tinggi pada ketinggian
500-1500 m dpl (Pinilih 2005).
Kacang buncis dan kacang merah mempunyai nama ilmiah yang sama yaitu Phaseolus
vulgaris L. Perbedaannya antara kacang buncis dan kacang merah adalah tipe pertumbuhan dan
kebiasaan panennya (kebiasaan konsumsi). Kacang buncis tumbuh merambat (pole beans) dan
dipanen polong mudanya, sedangkan kacang kacang merah merupakan kacang buncis jenis tegak
dan yang dipanen polong tua atau bijinya saja, sehingga disebut bush bean. Nama umum kacang
buncis adalah common bean atau french bean (Rukmana 2009). Umur panen untuk konsumsi
polong muda berkisar 50-90 HST, sedangkan umur panen untuk konsumsi biji kering berkisar
antara 90-270 HST. Potens hasil tanaman kacang buncis dalam bentuk biji kering adalah 0.5-1.5
ton ha-1 dalam dalam bentuk polong muda sebesar 5.0-7.5 ton ha-1. Tanaman buncis atau kacang
merah memiliki batang berbentuk silindris, daun terminal bentuk bulat dengan ujung daun
meruncing, berbulu dan tulang daun menyirip. Bunga berwarna putih, merah jambu dan ungu.
Polong buncis memiliki bentuk dan warna yang bervariasi tergantung pada varietasnya dengan
panjang berkisar antara 10-20 cm dan jumlah biji per polong berkisar antara 4-6 biji. (FAO 2017c).
Shimelis dan Rakshit (2005) melaporkan dalam 100 g biji kering kacang buncis mengandung
17.96-22.07 g protein, 1.27-3.02 g lemak, 4.66-5.95 g serat dan 56.53-61.56 g karbohidrat.
Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1998), berdasarkan kegunaannya, buncis terbagi
menjadi 4 kelompok, yaitu:
a) Buncis Perancis: bagian yang dikonsumsi ialah polong berdaging yang berwarna hijau,
kuning, atau ungu yang mengandung biji yang belum berkembang. Polong tidak mempunyai
mempunyai urat samping.
b) Buncis filet haricot: polong mengandung urat samping (string), tetapi polong muda
berdaging yang dikonsumsi.
c) Buncis haricot: biji segar adalah bagian yang dikonsumsi, sedangkan polong mengandung
urat samping, berserat dan umumnya tidak dikonsumsi.
d) Buncis bijian kering: biji kupasan kering adalah bagian yang dikonsumsi, sedangkan polong
mempunyai urat samping, serat dan tidak dikonsumsi.
Koro Kratok (Phaseolus lunatus)

Koro kratok (Phaseolus lunatus L) (2n = 22) berasal dari dua daerah domestika yaitu
Amerika tengah (Mexico, Guatemala) dengan morfologi biji kecil disebut dengan tipe
Mesoamerican, sedangkan yang terdapat di Amerika selatan (terutama di Peru) morfologi bijinya
besar disebut dengan tipe Andean. Tipe Andean penyebaran geografisnya terbatas hanya pada
daerah Equador, Peru, sedangkan tipe Mesoamerican distribusi geografis menyebar hampir ke
seluruh benua Amerika, Eropa (Spanyol) kemudian ke Asia yang pertama kali ditemukan di
Filipina kemudian ke Myanmar dan Indonesia (Jawa) (NARO 2017c).
Tanaman kacang kratok memiliki tipe pertumbuhan merambat dengan tinggi 2.0-4.0 m
maupun bertipe tegak dengan tingggi 30-90 cm. Bunga berwarna putih atau merah muda dengan
ukuran bunga lebih kecil dibandingkan ukuran bunga P. vulgaris atau P. coccineus. Polong kacang
kratok berbentuk oblong dengan panjang berkisar antara 5.0-12.0 cm dan lebar 1.5-2.5 cm dengan
jumlah biji per polong 2-4 biji. Polong muda kacang kratok dapat dikonsumsi sebagai sayur. Umur
panen polong muda berkisar antara 60-110 HST, sedangkan panen biji kering pada umur 180-240
HST. Warna, ukuran, bentuk biji kacang koro kratok beragam tergantung jenisnya. Ukuran
panjang biji 1-3 cm dengan bentuk pipih hingga bulat berwarna krem, merah, ungu, coklat, hitam
ataupun belang-belang serta hilum berwarna putih (NARO 2017c). Biji koro kratok mengandung
protein 20.69–23.08 %, lemak 0.59–1.14 %, serat 4.06–6.86 %, dan karbohidrat 54.31-59.64 %
dan energy 313.28-328.10 kcal/100 g.serta mineral seperti P dan Fe 2.45–172.77 mg/100g
(Yellavila et al. 2015). Potensi hasil jika dipanen dalam bentuk polong muda berkisar 2.0-8.0 ton
ha-1, sedangkan panen dalam bentuk biji kering rata-rata berkisar antara 1.0-1.5 ton ha-1 pada
daerah tropis. Kacang koro kratok bertipe tegak menghasilkan 2.0-2.5 ton ha-1 biji kering dan koro
kratok bertipe merambat menghasilkan 3.0-4.0 ton ha-1(FAO 2017d).

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus)

Genus Psophocarpus terdiri atas sembilan spesies, yaitu P. grandiflorus, P. lancifolius, P.


lukafuensis, P. monophyllus, P. palustris, P. scandens, P. tetragonolobus, P. necker dan P.
lecomtei. Dari sembilan spesies tersebut, delapan spesies tersebar di Afrika dan Madagaskar,
sedangkan satu spesies (P. tetragonolobus) menyebar luas di Asia dan Papua Nugini. Spesies P.
tetragonolobus dan P. palustris telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sedangkan spesies yang
lain belum dibudidayakan. Spesies P. palustris bersifat semiliar, namun dikonsumsi sebagai bahan
pangan oleh masyarakat Afrika Barat pada saat paceklik (Prasanna 2007).
Tanaman kecipir (P. tetragonolobus) (2n = 18) diperkirakan berasal dari Papua Nugini,
Mauritus, Madagaskar dan India, sedangkan pusat keragaman genetik terbesar berada di Papua
Nugini dan Indonesia. Kecipir tergolog tanaman merambat dengan panjang mencapai 3-4 m
dengan warna batang umumnya hijau. Daun majemuk dengan tiga anak daun dan daun terminal
berbentuk deltate, ovate, ovate lanceolate hingga lanceolate. Bunga kecipir berjumlah 2-10 yang
berada dalam tandan di ketiak daun, bertipe kupu-kupu dan berwarna lembayung muda atau putih
(Krisnawati 2010). Tanaman kecipir termasuk ke dalam tanaman menyerbuk sendiri, namun
peluang untuk menyerbuk silang yang tinggi yang dapat mencapai 20% (BOSTID 1981).
Polong kecipir berbentuk tetragonal (persegi empat) dan setiap segi memiliki sayap serta di
bagian pinggirnya berombak. . Lebar sayap berkisar antara 0.30-1.00 cm. Oleh karena itu, kacang
kecipir disebut sebagai “kacang bersayap” atau winged bean. Panjang polong berkisar antara
15−40 cm. Polong muda berwarna hijau dan berubah menjadi coklat atau hitam saat tua yang berisi
5-20 biji. Biji kecipir bebentuk membulat dengan panjang 0.60-1.00 cm dan berwarna kuning,
kehijauan, coklat, putih dan hitam atau belang-belang tergantung pada jenisnya (Krisnawati 2010).
Tanaman kecipir disebut juga sebagai Supermarket on The Stalk karena semua bagian
tanaman dapat dikonsumsi kecuali batang, yaitu daun, bunga, polong muda, biji muda, biji tua dan
umbi (BOSTID 1981). Dalam 100 gram daun muda kecipir mengandung 5.85 g protein, 1.10 g
lemak dan 14.10 g karbohidrat. Pada biji muda mengandung 3.06 g protein, 0.38 g lemak dan 1.90
g karbohidrat (USDA 2017b). Amoo et al. (2006) juga melaporkan bahwa pada biji kering kecipir
mengandung 33% protein, 22.3% karbohidrat, dan 17.5% lemak sehingga kecipir disebut sebagai
“A Possible Soybean for The Tropics” yang sangat potensial untuk dibudidayakan di Indonesia
dibandingkan dengan kedelai yang sulit dibudidayakan dengan baik pada lingkungan tropik yang
lembab. Selain itu, dalam 100 gr umbi kecipir memiliki kandungan 11.60 g protein dan 28.10 g
karbohidrat (USDA 2017b) sehingga berpotensi lebih baik dibanding umbi bengkuang yang hanya
mengandung sekitar 1.53 g protein dan 27.88 g karbohidrat (USDA 2017c) dalam produksi tepung
kaya protein.
Tanaman kecipir dapat ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 2000 m dpl. Iklim yang
sesuai adalah iklim kering dengan suhu udara 18-30 0C dan curah hujan tahunan 2500 mm dengan
penyinaran matahari yang penuh. Tanaman kecipir sangat rentan terhadap suhu rendah dan
merupakan tanaman hari pendek, jika ditumbuhkan pada pencahayaan lama (hari panjang) dapat
meningkatkan luas daun. Kecipir dapat tumbuh pada tanah dengan bahan organik rendah, tanah
berlempung, berpasir dan tanah kering dngan pH 5.5-7.0. (FAO 2017e). Kecipir juga dapat
dimanfaatkan dalam reklamasi lahan bekas pertambangan yang rendah unsur dan air (Sinha 2013).
Potensi hasil tanaman kecipir dalam bentuk polong muda mencapai 25 ton ha-1, biji kering berkisar
antara 0.7-4.5 ton ha-1 dan umbi berkisar antara 2.0-6.0 ton ha-1 (FAO 2017e).

Koro Benguk (Mucuna pruriens)

Tanaman koro benguk (Mucuna pruriens (L.) DC.) berasal dari Asia Selatan Koro benguk
tergolong tanaman merambat dengan panjang dapai mencapai 10 m. Daun trifoliate dengan daun
terminal berbentuk bulat telur (ovate) atau belah ketupat (rhombic). .

tumbuh subur pada tanah geluh pasiran (sandy loam) hingga geluh lempungan dengan pH
4.5-7.7. Hasil optimal dicapai antara pH 5.0-6.5. Koro benguk tumbuh dengan baik curah hujan
380-3150 mm per tahun. Umumnya tanaman korok benguk ini sensitif pada suhu rendah dan
memerlukan keadaan bebas suhu rendah pada periode pembungaan hingga pengisian biji. Selama
pertumbuhan dibutuhkan suhu 20-30 oC (Duke 1981). Pproduktivitas koro benguk cukup tinggi
mencapai 1.00-2.00 ton per hektar. Daerah penghasil koro benguk berpusat di Jawa, terutama yang
memiliki daerah pertanian kering seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Koro benguk
juga ditemukan di Sumatera khususnya di lahan-lahan perkebunan. Tanaman koro benguk
digunakan sebagai tanaman penutup tanah (LCC) yang berguna untuk rehabilitasi lahan. Namun
sayangnya, bagian biji koro benguk belum dimanfaatkan secara khusus sebagai bahan pangan yang
bernilai tambah.

Tanaman koro benguk sangat bermanfaat karena bijinya dapat digunakan sebagai bahan
pangan sumber protein. Biji koro benguk memiliki kandungan protein berkisar antara 20.2-29,3%,
lemak 6.3-7.4%, serat 8.7-10.5%, dan karbohidrat 49.9-61.2% (Vadivel & Janardhanan 2000).
Koro benguk juga dapat dijadikan pangan fungsional dan obat. Koro benguk dilaporkan mampu
menghentikan pendarahan dari luka kecil; mengurangi gejala tremor pada Parkinson;
meningkatkan fertilitas pada pria; sebagai pengganti Viagra, digunakan oleh ahli farmasi dari
Rumah Sakit Chao Phya Abhaibhubejhr di Prachinburi Thailand; sebagai bahan industri farmasi
di Amerika Serikat contohnya merk kapsul ekstrak koro benguk yang paling popoler di AS, yakni
Dopa Bean yang dipasarkan oleh Solaray, Mucuna oleh Physician Formulas, Inc, dan L-Dopa oleh
Unique Nutrition (Lampariello et al. 2012; Litbang Pangan 2013). Kandungan L-Dopa berkisar
antara 3,1 - 6,7%. Biji koro benguk juga dilaporkan menghasilkan dopamin, nikotin, fisostigmin
dan serotonin (Duke 1981).

Koro Pedang (Canavalia ensiformis)

Genus Psophocarpus terdiri atas sembilan spesies, yaitu P. grandiflorus, P. lancifolius, P.


lukafuensis

Kacang Komak (Lablab )

Genus Psophocarpus terdiri atas sembilan spesies, yaitu P. grandiflorus, P. lancifolius, P.


lukafuensis

Pemuliaan Tanaman Kacang-kacangan

Pemuliaan tanaman memiliki tujuan untuk memperbaiki karakter suatu tanaman agar sesuai
dengan keinginan pemulia atau kebutuhan manusia. Pemuliaan tanaman merupakakn kegiatan
perbaikan dan peningkatan potensi genetik tanaman sehingga diperoleh varietas baru dengan hasil
dan kualitas yang lebih baik. Tanaman kacang-kacangan umunya termasuk ke dalam tanaman
menyerbuk sendiri dengan peluang untuk menyerbuk silang yang sangat kecil, yakni hanya 1% ()
serta persarian terjadi sebelum bunga mekar (kleistogami). Sifat menyerbuk inilah yang
menentukan metode pemuliaan yang akan dilaksanakan.
Idiotipe dalam pemuliaan kacang tunggak antara lain 1) Peningkatan potensi hasil. Daya
hasil merupakan sifat kuantitatif dan bersifat poligenik, sehingga perbaikan daya hasil memerlukan
waktu yang lama dan peubah daya hasil yang dikehendaki dapat berupa biji ataupun penghasil
hijauan. 2) Perbaikan dalam arsitektur tanaman. Tujuan dari perbaikan sifat arsitektur tanaman
kacang tunggak yang dikehendaki adalah bentuk percabangan yang tegak, tahan rebah dan
keserempakan panen. 3) Perbaikan dalam resistensi terhadap hama dan penyakit tanaman. Sasaran
dalam resistensi biotik adalah ketahanan dalam. 4) Perbaikan terhadap kemampuan mengatasi
cekaman lingkungan, seperti toleransi terhadap genangan, toleransi kekeringan, toleransi terhadap
lahan masam dan toleransi lahan dengan tingkat salinitas yang tinggi. 5) Peningkatan kualitas biji.
Tujuan dari perbaikan sifat-sifat kualitas biji kacang tunggak dengan melihat nilai gizi yang
terkandung seperti kandungan protein, Fe maupun Zn dalam pemanfaatannya sebagai pangan
fungsional ()
Proses pemuliaan tanaman diawali dengan 1) eksplorasi dan introduksi plasma nutfah, 2)
seleksi dan koleksi plasma nutfah, 3) pengembangan keragaman genetik, 4) seleksi setelah
pengembangan, 5) evaluasi dan pengujian serta 6) pelepasan varietas. Plasma nutfah merupakan
bahan dasar dalam merakit varietas unggul atau dapat dikatakan sebagai sumber daya genetik.
Semakin luas keragaman genetik plasma nutfah yang dimiliki maka peluang untuk mendapatkan
varietas unggul yang diinginkan semakin besar pula. Eksplorasi plasma nutfah merupakan
kegiatan mencari mengumpulkan, dan meneliti serta dilakukan karakterisasi awal untuk membuat
data paspor berkaitan sifat-sifat penting yang bernilai ekonomis atau karakter penciri utama dari
aksesi tersebut (Kurniawan et al. 2004).

Penanda Morfologi dan Molekuler

Pengetahuan tentang keragaman genetik dan kekerabatan antaraksesi atau genotipe sangat
berguna dalam memahami variabilitas genetik yang tersedia dan berpotensi untuk digunakan
dalam program pemuliaan tanaman. Kegunaan lainnya adalah mengidentifikasi kelompok dengan
latar belakang genetik yang sama untuk memilih genotipe yang menjadi prioritas dalam konservasi
(Thormann et al. 1994). Keragaman genetik dan hubungan kekerabatan dapat terungkap melalui
kegiatan karakterisasi dan evaluasi terhadap plasma nutfah sehingga diperlukan dasar atau penanda
yang dapat dijadikan ciri pembeda antar aksesi. Penanda terbagi menjadi penanda morfologi,
sitologi, biokimia dan molekuler.

Penanda Morfologi
Penanda morfologi merupakan penanda awal yang dapat digunakan untuk mengukur
besarnya keragaman dalam pengelolaan plasma nutfah melalui pengamatan secara langsung
terhadap fenotipe tanaman yang tidak memerlukan prosedur yang rumit, akan tetapi memiliki
kerentanan terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mempengaruhi estimasi variasi genetik
(Muthusamy et al. 2008). International Board for Plant Genetic Resources menerbitkan descriptor
for cowpea sebagai panduan dalam mengkarakterisasi plasma nutfah baru kacang tunggak.
Keragaman morfologi yang tinggi, baik pada populasi intraspesifik dan interspesifik
merupakan salah satu keunggulan yang memungkinkan untuk dibuat varietas-varietas baru. Upaya
dalam mendapatkan varietas baru dapat melalui persilangan antar tetua yang mempunyai karakter-
karakter tertentu, baik persilangan intraspesifik, interspesifik maupun intergenerik sehingga
diperlukan informasi kedekatan dalam hubungan kekerabatan untuk menunjang keberhasilan
persilangan. Hubungan kekerabatan dapat diukur berdasarkan kesamaan sejumlah karakter dengan
asumsi bahwa perbedaan karakter disebabkan oleh adanya perbedaan susunan genetik. Hubungan
kekerabatan juga dapat dipelajari dengan menggunakan penanda morfologi. Pada kacang tunggak
dan kerabat dekatnya, karakter morfologi tipe pertumbuhan, daun, bunga, polong, biji, ketahanan
terhadap hama dan penyakit, ketahanan terhadap cekaman abiotik merupakan karakter yang dapat
digunakan sebagai penanda untuk membedakan kelompok tanaman.

Penanda Biokimia
Penanda biokimia sangat dipengaruhi oleh perkembangan tanaman. Komposisi nutrisi pada
bunga, daun, polong, biji muda dan biji tua tanaman sayuran kacang memiliki kandungan yang
berbeda-beda. Hasil analisis protein pada kacang tunggak dilaporkan bahwa kandungan protein
daun muda sebesar 33% (Okonya & Maass 2014) dan kandungan protein pada pada biji tua
berkisar 22,5 – 25,6% (Antova et al. 2014). Pada kacang kecipir, kandungan protein juga berbeda-
beda pada setiap bagian tanaman, dalam 100 g berat basah terkandung protein sebesar 2.80−5.60
g pada bunga; 5.00−7.60 g pada daun; 1.90−4.30 g pada polong muda; 4.60−10.70 g pada biji
muda; 29.80−39.00 g pada biji tua; dan 3.00−15.00 g pada umbi (Krisnawati 2010). Keragaman
pada kandungan vitamin dan antioksidan kacang tunggak juga beragam (Carvalho et al. 2012; Ul-
Haq et al. 2013) sehingga keragaman biokimia populasi intraspesies maupun interspesies dapat
digunakan untuk pengembangan varietas unggul baru dalam peningkatan kualitas nutrisi.

Penanda Molekuler Inter Simple Sequence Repeats (ISSR)


Keterbatasan pada penanda morfologi dan biokimia dapat diatasi dengan pemanfaatan
penanda molekuler sehingga diperoleh data yang lebih akurat dalam menggambarkan keragaman
genetik tanaman guna mendukung program pemuliaan tanaman. ISSR merupakan penanda
molekuler berbasis PCR (polymerase chain reaction), yang dikenal juga dengan istilah random
amplified microsatellites (RAMs) (Ng & Tan 2015), mengamplifikasi daerah di antara dua
mikrosatelit. Teknik ini memanfaatkan daerah mikrosatelit yang berukuran 16-25 bp sebagai
primer tunggal yang terdiri dari pengulangan dinukleotida, trinukleotida, tetranukleotida atau
pentanukleotida. Primer ISSR terbagi menjadi dua jenis, yaitu (1) Un-anchored primer (primer tak
berjangkar), bersifat multipel produk sehingga jumlah pola pita yang dihasilkan dapat lebih dari
satu. (2) Anchored primer (primer berjangkar), yaitu primer dengan penambahan 1 atau 2 basa
tidak berulang pada ujung ‘3 atau ujung ‘5 untuk memastikan target amplifikasi (Gambar 2)
(Reddy et al. 2001).

Gambar 2 Jenis primer ISSR (a) primer Unanchored (AG)n, (b) primer anchored dengan
penambahan 2 nukleotida (NN) di ujung 3’ (5’(AG)nNN3).