Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Standarisasi Mesin CNC 2A

Computer Numerical Control / CNC (berarti "komputer kontrol numerik")


merupakan sistem otomasi mesin perkakas yang dioperasikan oleh perintah yang
diprogram secara abstrak dan disimpan di media penyimpanan, hal ini berlawanan
dengan kebiasaan sebelumnya di mana mesin perkakas biasanya dikontrol dengan
putaran tangan atau otomasi sederhana menggunakan cam. Kata NC sendiri adalah
singkatan dalam bahasa Inggris dari kata Numerical Control yang artinya "kontrol
numerik". Mesin NC pertama diciptakan pertama kali pada tahun 1940-an dan
1950-an, dengan memodifikasi mesin perkakas biasa. Dalam hal ini mesin perkakas
biasa ditambahkan dengan motor yang akan menggerakan pengontrol mengikuti
titik-titik yang dimasukan kedalam sistem oleh perekam kertas. Mesin perpaduan
antara servo motor dan mekanis ini segera digantikan dengan sistem analog dan
kemudian komputer digital, menciptakan Mesin perkakas modern yang disebut
Mesin CNC (computer numerical control) yang dikemudian hari telah merevolusi
proses desain. Saat ini mesin CNC mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
program CAD. Mesin-mesin CNC dibangun untuk menjawab tantangan di dunia
manufaktur modern. Dengan mesin CNC, ketelitian suatu produk dapat dijamin
hingga 1/100 mm lebih, pengerjaan produk massal dengan hasil yang sama persis
dan waktu permesinan yang cepat.

Secara garis besar pengertian mesin CNC adalah suatu mesin yang dikontrol oleh
komputer dengan menggunakan bahasa numerik (perintah gerakan yang
menggunakan angka dan huruf). Sebagai contoh: apabila pada layar monitor mesin
kita tulis M03 maka spindel utama mesin akan berputar, dan apabila kita tulis M05
maka spindel utama mesin akan berhenti berputar.

2.2 Prinsip Kerja dan Sistem Persumbuan pada Mesin CNC TU 2A

Mesin Bubut CNC TU 2A mempunyai prinsip kerja gerakan dasar layaknya


Mesin Bubut Konvensional yaitu gerakan ke arah melintang dan horizontal dengan
sistem kartesius X dan Z, dimana benda kerja dicekam dan diputar oleh motor,
sedangkan pahat menghampiri benda kerja untuk dapat melakukan penyayatan atau
pemakanan.

Sedangkan untuk arah gerakan pada Mesin Bubut diberi lambang sebagai
berikut :

a. Sumbu X untuk arah gerakan melintang tegak lurus terhadap sumbu


putar.
b. Sumbu Z untuk arah gerakan memanjang yang sejajar sumbu putar.
Untuk memperjelas fungsi sumbu-sumbu Mesin Bubut CNC TU-2A
dapat dilihat pada gambar ilustrasi di bawah ini :

Gambar 2.8 Mekanisme arah gerakan Mesin CNC 2A

2.3 Bagian-bagian Mesin CNC TU 2A

a.) Bagian mekanik

1. Motor Utama Motor utama adalah motor penggerak cekam untuk memutar benda
kerja. Motor ini adalah jenis motor arus searah/DC (Direct Current) dengan
kecepatan putaran yang variabel. Adapun data teknis motor utama adalah:

a. Jenjang putaran 600 – 4000 rpm

b. Power Input 500 Watt

c. Power Output 300 Watt

2. Eretan/support Eretan adalah gerak persum-buan jalannya mesin. Untuk Mesin


Bubut CNC TU-2A dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :

11
a. Eretan memanjang (sumbu Z) dengan jarak lintasan 0–300 mm.

b. Eretan melintang (Sumbu X) dengan jarak lintasan 0–50 mm.

Gambar 2.9. Ilustrasi gerak eretan.

3. Step motor Step motor berfungsi untuk menggerakkan eretan, yaitu gerakan
sumbu X dan gerakan sumbu Z. Tiap-tiap eretan memiliki step motor sendirisendiri,
adapun data teknis step motor sebagai berikut:

a. Jumlah putaran 72 langkah

b. Momen putar 0.5 Nm.

c. Kecepatan gerakan :

1. Gerakan cepat maksimum 700 mm/menit.

2. Gerakan operasi manual 5 – 500 mm/menit.

3. Gerakan operasi mesin CNC terprogram 2 – 499 mm/menit.

Gambar 2.10. Step motor

12
Gambar 2.11 Poros berulir dengan bantalan

4. Rumah alat potong (revolver/ toolturret)

Gambar 2.12. Revolver

Rumah alat potong berfungsi sebagai penjepit alat potong pada saat proses
pengerjaan benda kerja. Adapun alat yang dipergunakan disebut revolver atau
toolturet, revolver digerakkan oleh step motor sehingga bisa dige-rakkan secara
manual maupun terpogram.

Pada revolver bisa dipasang enam alat potong sekaligus yang terbagi mejadi dua
bagian, yaitu :

a. Tiga tempat untuk jenis alat potong luar dengan ukuran


12x12 mm. Misal: pahat kanan luar, pahat potong, pahat
ulir, dll.

b. Tiga tempat untuk jenis alat potong dalam dengan


maksimum diameter 8 mm. Misal: pahat kanan dalam,
bor, center drill, pahat ulir dalam, dll.

13
5.) Cekam Cekam pada Mesin Bubut berfungsi untuk menjepit
benda kerja pada saat proses penyayatan berlangsung.
Kecepatan spindel Mesin Bubut ini diatur menggunakan
transmisi sabuk. Pada sistem transmisi sabuk dibagi menjadi
enam transmisi penggerak.

Gambar 2.13. Cekam

Adapun tingkatan sistem transmisi penggerak spindle utama mesin CNC TU-2A,
bisa dilihat dari gambar ilustrasi berikut :

Gambar 2.14. Transmisi penggerak.

Enam tingkatan pulley penggerak tersebut memungkinkan untuk pengaturan


berbagai putaran sumbu utama. Sabuk perantara pulley A dan pulley B bersifat tetap
dan tidak dapat diubah, sedangkan sabuk perantara pulley B dengan pulley C dapat
dirubah sesuai kecepatan putaran yang diinginkan, yaitu pada posisi BC1, BC2, dan
BC3.

6.) Meja mesin Meja mesin atau sliding bed sangat mempengaruhi
baik buruknya hasil pekerjaan menggunakan Mesin Bubut ini,
hal ini dikarenakan gerakan memanjang eretan (gerakan sumbu

14
Z) tertumpu pada kondisi sliding bed ini. Jika kondisi sliding bed
sudah aus atau cacat bisa dipastikan hasil pembubutan
menggunakan mesin ini tidak akan maksimal, bahkan benda
kerja juga rusak. Hal ini juga berlaku pada Mesin Bubut
konvensional.

Gambar 2.15 Sliding bed

7.) Kepala lepas (Tailstock)

Kepala lepas berfungsi sebagai tempat pemasangan senter putar pada saat proses
pembubutan benda kerja yang relatif panjang. Pada kepala lepas ini bisa dipasang
pencekam bor, dengan diameter mata bor maksimum 8 mm. Untuk mata bor dengan
diameter lebih dari 8 mm, ekor mata bor harus memenuhi syarat ketirusan MT1.

Gambar 2.16 Tailstock

15
b.) Bagian Pengendali

Bagian pengendali/kontrol merupakan bak kontrol mesin CNC yang berisikan


tombol-tombol dan saklar serta dilengkapi dengan monitor. Bagian Pengendali
merupakan unsur layanan langsung yang berhubungan dengan operator. Gambar
berikut menunjukan secara visual dengan nama-nama bagian sebagai berikut:

Gambar 2.17. Bagian pengendali mesin CNC

1. Saklar utama/main switch

Saklar utama adalah pintu masuk aliran listrik ke control pengendali CNC. Cara
kerja saklar utama yaitu jika kunci saklar utama diputar ke posisi 1 maka arus listrik
akan masuk ke kontrol CNC. Sebaliknya jika kunci saklar utama diputar kembali
ke angka 0 maka arus listrik yangmasuk ke kontrol CNC akan terputus. Untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar di bawah ini:

Gambar 2.18 Saklar Utama

16
2. Tombol darurat/emergency switch

Tombol ini digunakan untuk memutus aliran listrik yang masuk ke kontrol mesin.
Hal ini dilakukan apabila akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat
kesalahan program yang telah dibuat.

Gambar 2.19 Tombol Darurat

3. Saklar operasi mesin (operating switch).

Saklar layanan mesin ini digunakan untuk memutar sumbu utama yang
dihubungkan dengan rumah alat potong. Saklar ini yang mengatur perputaran
sumbu utama sesuai menu yang dijalankan, yaitu perputaran manual dan CNC.

Gambar 2.20 Ilustrasi Kerja Saklar Operasi

17
Cara kerja saklar operasi adalah sebagai berikut :

a) Jika saklar diputar pada angka 1 maka menu yang dipilih adalah menu manual
(lihat Gambar 12.16), yaitu pergerakan eretan, kedalaman pemakanan tergantung
oleh

b) Jika saklar diputar pada “CNC” berarti menu yang dipilih adalah menu CNC
(lihat Gambar12.17), yaitu semua pergerakan yang terjadi dikontrol oleh komputer
baik itu gerakan sumbu utama gerakan eretan, maupun kedalaman pe-makan-an.

4. Saklar pengatur kecepatan sumbu utama

Saklar ini berfungsi untuk mengatur kecepatan putar alat potong pada sumbu utama.
Saklar ini bisa berfungsi pada layanan CNC maupun manual. Kecepatan putaran
sumbu utama mesin CNC TU-2A berkisar antara 50 – 3000 RPM, sesuai tabel
putaran pada mesin.

Gambar 2.21 Saklar Pengatur Kecepatan sumbu utama

Cara pengoperasian saklar pengatur kecepatan sumbu utama ini adalah, saklar
pengatur kecepatan sumbu utama diputar ke arah kanan mendekati angka 100 untuk
meningkatkan kecepatan putaran spindle. Untuk mengurangi kecepatan spindle
putar kembali saklar pengatur kecepatan sumbu utama ke arah kiri mendekati angka
0.

5. Saklar layanan dimensi mesin

18
Saklar ini berfungsi untuk mengatur layanan dimensi yang akan bekerja pada mesin
CNC, yaitu layanan dalam bentuk satuan Metris maupun Inch. Cara kerja saklar ini,
apabila mesin akan difungsikan pada dimensi tertentu, maka simbol penunjuk
saklar diputar pada titik satuan dimensi yang sesuai dengan program kerja. Agar
lebih jelas lihat dan perhatikan gambar ilustrasi berikut ini:

Gambar 2.22 Ilustrasi cara kerja saklar layanan dimensi mesin

6. Ampere Meter

Ampere meter berfungsi sebagai display besarnya pemakaian arus aktual dari motor
utama. Fungsi utama dari ampere meter ini untuk mencegah beban berlebih pada
motor utama.

Gambar 2.23 Amperemeter

7. Disk Drive

19
Disk drive pada mesin CNC dimaksudkan untuk pelayanan pengoperasian disket.
Meskipun pada mesin CNC sekarang penggunaan disket sudah jarang digunakan.
Dengan pelayanan disket dapat dilakukan:

1. Menyimpan data dari memori mesin ke dalam memori disket.

2. Memindah data program dari data ke dalam memori mesin.

Gambar 2.24 Disk Drive

8. Saklar pengatur asutan (feed override)

Saklar ini berfungsi sebagai pengatur kecepatan gerakan asutan dari eretan mesin.
Saklar ini hanya dipergunakan pada pengoperasian mesin secara manual.
Kecepatan asutan untuk mesin CNC-TU2A berkisar antara 5–400
mm/menit. Untuk menjalankan gerakan cepat (rapid) dapat
menggunakan tombol yang ditekan secara bersamaan dengan tombol koordinat
sumbu X dan Z yang dikehendaki.

Gambar 2.25Saklar feed overdrive

2.4 Sambungan Las

Jenis Sambungan Pengelasan adalah tipe sambungan material atau plat


yang digunakan untuk proses pengelasan. Jenis sambungan las mempunyai
beberapa macam yang menjadi jenis sambungan utama yaitu,

1. Butt Joint
2. Fillet (T) Joint

20
3. Corner Joint
4. Lap Joint dan
5. Edge Joint.

Gambar 2.4 Jenis-jenis Sambungan Las

1. Butt joint
Sambungan butt joint adalah jenis sambungan tumpul, dalam aplikasinya
jenis sambungan ini terdapat berbagai macam jenis kampuh
2. T Joint adalah jenis sambungan yang berbentuk seperti huruf T, tipe
sambungan ini banyak diaplikasikan untuk pembutan kontruksi atap,
konveyor dan jenis konstruksi lainnya. Untuk tipe groove juga terkadang
digunakan untuk sambungan fillet adalah double bevel, namun hal tersebut
sangat jarang kecuali pelat atau materialnya sangat tebal. Berikut ini gambar
sambungan T pada pengelasan.

21
Gambar 2.5 Sambungan Fillet

3. Corner Joint mempunyai desain sambungan yang hampir sama dengan T


Joint, namun yang membedakannya adalah letak dari materialnya. Pada
sambungan ini materialnya yang disambung adalah bagian ujung dengan
ujung. Ada dua jenis corner joint, yaitu close dan open. Untuk detailnya
silahkan lihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.6 Sambungan Las Corner

4. Tipe sambungan las yang sering digunakan untuk pengelasan spot atau seam.
Karena materialnya ini ditumpuk atau disusun sehingga sering digunakan

22
untuk aplikasi pada bagian body kereta dan cenderung untuk plat plat tipis.
Jika menggunakan proses las SMAW, GMAW atau FCAW pengelasannya
sama dengan sambungan fillet.
5. Edge Joint

Gambar 2.7 Sambungan Edge

2.5 Kampuh Las

Kampuh las merupakan luasan area yang sengaja dibuat yang digunakan
pada umunya untuk mengisi logam pengisi pada benda kerja.

Jenis kampuh atau groove yaitu V groove (kampuh V), single bevel, J
groove, U Groove, Square Groove untuk melihat macam macam kampuh las lebih
detail silahkan lihat gambar berikut ini.

Gambar 2.8 Macam-macam Kampuh

23
2.6 Siklus Termal Las

Logam akan mengalami pengaruh pemanasan akibat pengelasan dan


mengalami perubahan struktur mikro disekitar daerah lasan. Bentuk struktur mikro
bergantung pada temperatur tertinggi yang dicapai pada pengelasan, kecepatan
pengelasan dan laju pendinginan daerah lasan. Daerah logam yang mengalami
perubahan struktur mikro akibat mengalami pemanasan karena pengelasan disebut
daerah pengaruh panas (DPP), atau Heat Affected Zone. Daerah hasil pengelasan
yang akan kita temui bila kita melakukan pengelasan, yaitu :

Gambar 2.9 Siklus Termal Las

Keterangan :

1. Logam Las (Weld Metal) adalah daerah dimana terjadi pencairan logam dan
dengan cepat kemudian membeku.

2. Fusion Line Merupakan daerah perbatasan antara daerah yang mengalami


peleburan dan yang tidak melebur. Daerah ini sangat tipis sekali sehingga
dinamakan garis gabungan antara weld metal dan H A Z.

3. H A Z ( Heat Affected Zone ) merupakan daerah yang dipengaruhi panas dan


juga logam dasar yang bersebelahan dengan logam las yang selama proses
pengelasan mengalami siklus termal pemanasan dan pendinginan cepat, sehingga
terjadi perubahan struktur akibat pemanasan tersebut disebabkan daerah yang
mengalami pemanasan yang cukup tinggi .

4. Logam Induk (Parent Metal) merupakan logam dasar dimana panas dan suhu
pengelasan tidak menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan struktur dan sifat

24
Daerah HAZ merupakan daerah paling kritis dari sambungan las, karena selain
berubah strukturnya juga terjadi perubahan sifat pada daerah ini. Secara umum
struktur dan sifat daerah panas efektif dipengaruhi dari lamanya pendinginan dan
komposisi dari logam induk itu sendiri. Siklus termal las adalah proses pemanasan
dan pendinginan yang terjadi pada daerah lasan. Proses las terjadi proses
pemanasan dan juga pendinginan maka dapat dikatakan proses las juga proses heat
treatment hanya saja terjadinya lokal, tidak seperti proses heat treatment pada
umumnya. Untuk melihat fenomena proses tersebut dapat dilihat pada grafik siklus
termal las.

Gambar 2.10 Grafik Siklus Termal Las

2.7 Kerusakan dan Solusi Pada Sambungan Las

Cacat las/defect weld adalah suatu keadaan yang mengakibatkan turunnya


kualitas dari hasil lasan. Kualitas hasil las-an yang dimaksud adalah berupa
turunnya kekuatan dibandingkan kekuatan bahan dasar base metal atau tidak
baiknya performa/tampilan dari suatu hasil las. atau dapat juga berupa terlalu
tingginya kekuatan hasil las-an sehingga tidak sesuai dengan tuntutan kekuatan
suatu konstruksi.

Terjadinya cacat las ini akan mengakibatkan banyak hal yang tidak diinginkan dan
mengarah pada turunnya tingkat keselamatan kerja, baik keselamatan alat,

25
pekerja/user/operator, lingkungan dan perusahaan/industri/instansi. Di samping itu
juga secara ekonomi akan mengakibatkan melonjaknya biaya produksi dan pada
gilirannya industri/perusahaan/instansi tersebut mengalami kerugian atau
penurunan laba.

Cacat las ada beberapa macam, yaitu

1. Retak Las

Cacat las yang sering sekali terjadi pada saat proses pengelasan adalah retak las
yang dapat dibagi menjadi dua kategori yakni : retak dingin dan retak panas.

Retak dingin adalah retak yang terjadi pada daerah las pada suhu kurang
lebih 300oC. Sedangkan retak panas adalahretak yang terjadi pada suhu diatas
500oC. Retak dingin tidak hanya terjadi pada daerah HAZ(Heat Affected Zone)
atau sering disebut dengan daerah pergaruh panas tetapi biasanya terjadipada
logam las. Retak dingin ini dapat terjadi pada daerah panas yang sering terjadi.
Dan retakan ini dapat dilihat dibawah manik Ias, retak akar dan kaki, serta retak
melintang.

Retak dingin didaerah HAZ ini biasanya terjadi antara beberapa menit
sampai 48 jamsesudah pengelasan. Retak dingin ini disebabkan oleh :

a. Struktur daerah pangaruh Panas.


b. Hidrogen difusi didaerah las.
c. Tegangan.

Sedangkan retak panas dibagi menjadi dua kelas yaitu retak karena
pembebasan tegangan pada daerah pengaruh panas yang terjadi pada suhu
500oC - 700oC dan retak yangterjadi pada suhu diatas 900oC yang terjadi pada
peristiwa pembekuan logam las. Retak panas sering teriadi pada logam las
karena pembekuan, biasanya berbentuk kawah dan retak memanjang.
Retak panas ini terjadi karena pembebasan tegangan pada daerah kaki didalam
daerah pengaruh panas.

Retak ini biasanya terjadi pada waktu logam mendingin setelah pembekuan
danterjadi karena adanya tegangan yang timbul, yang disebabkan oleh

26
penyusutan dan sifat bajayang ketangguhannya turun pada suhu dibawah suhu
pembekuan. Keretakkan las yang lainadalah retak sepanjang rigi-rigi lasan retak
disamping las dan retak memanjang diluar rigi-rigilasan. Akan tetapi penyebab
umum pada semua jenis keretakan las ini adalah:

a. Pilihan jenis elektroda yang salah atau tidak tepat.


b. Benda kerja terbuat dari baja karbon tinggi.
c. Pendinginan setelah pengelasan yang terlalu cepat.
d. Benda kerja yang dilas terlalu kaku.
e. Penyebaran panas pada bagian-bagian yang di las tidak seimbang

2. Penembusan Kurang Baik

Selain retak cacat las yang juga sering terjadi , adalah penembusan las yang
kurang dan jelek. Jika penembusan pengelasan kurang maka akibat yang
timbul pada konstruksi adalahkekuatan konstruksi yang kurang kokoh karena
penembusan yang kurang. Karena kurangpenembusan inilah maka
penyambungan tidak sempurna. Penyebab dari penembusan yangkurang ini
antara lain :

a. Kecepatan pengelasan yang terlalu tinggi.


b. Arus terlalu rendah.
c. Diameter elektroda yang terlalu besar atau terlalu kecil.
d. Benda kerja terlalu kotor.
e. Persiapan kampuh atau sudut kampuh tidak baik.
f. Busur las yang terlalu panjang.

3. Pengerukan / Under cut

Cacat las yang lain adalah pengerukan atau yang sering disebut dengan under
cut pada benda kerja. Pengerukan ini terjadi pada benda kerja atau konstruksi
yang termakan oleh las sehingga benda kerja tadi berkurang kekuatan
konstruksi meskipun sebelumnya telah dilakukan pengelasan. Sebab-sebab
pengerukan las antara lain :

27
a. Arus yang terlalu tinggi.
b. Kecepatan pengelasaan yang terlalu tinggi pula.
c. Busur nyala yang terlalu panjang.
d. Ukuran elektroda yang salah.
e. Posisi elektroda selama pengelasan tidak tepat.
f. Ayunan elektroda selama pengelasan tidak teratur.

4. Keropos

Keropos merupakan cacat las yang juga sering terjadi dalam pengelasan.
Keropos ini bila didiamkan, lama kelamaan akan menebar yangdiikuti dengan
perkaratan atau korosi padakonstriksi sehingga kontruksi menjadi rapuh karena
korosi tadi. Cacat ini memangkelihatannya sepele akan tetapi dampak yang
ditirnbulkan oleh cacat ini cukupmembahayakan juga. Penyebab keropos
ini yakni :

a. Busur pendek.
b. Kecepatan mengelas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
c. Kurang waktu pengisian.
d. Terdapat kotoran-kotoran pada benda kerja.
e. Kesalahan memilih jenis elektroda.

5. Bentuk Yang Tidak Sempurna

Jenis cacat ini memberikan geometri sambungan las yang tidak baik (tidak
sempurna) seperti: undercut, underfill, overlap, excessive reinforcement dan
lain-lain. Morfologi geometri dari cacat ini biasanya bervariasi. Pengerukan ini
terjadi pada benda kerja atau konstruksi yang termakan oleh las sehingga benda
kerja tadi berkurang kekuatan konstruksi meskipun sebelumnya telah dilakukan
pengelasan

Sebab-sebab pengerukan las antara lain :

a. Ayunan elektroda selama pengelasan tidak teratur.


b. Kecepatan pengelasaan yang terlalu tinggi pula.

28
c. Busur nyala yang terlalu panjang.
d. Posisi elektroda selama pengelasan tidak tepat.
e. Ukuran elektroda yang salah.
f. Arus yang terlalu tinggi
g. sudut dari brander dan bahan tambah yang tidak benar.

6. Pengerutan Benda Kerja.

Pada dasarnya setiap logam bila dipanasi akan memuai dan mengkerut bila di
dinginkan.Bila salah satu permukaan las tipis dilas pada arah memanjang, maka
setelah dingin terjadilahpelengkungan atau melenting atau deformasi.

Dan pada dua bilah plat tipis dilas (tanpa membuat pengikat lebih dulu)
maka kedua sisikampuh yang masih bebas akan bergeser, bahkan sampai kedua
sisi tersebut dapat berimpitPenyebab pengerutan adalah:

a. Pengisian pengelasan kurang.


b. Pengkleman salah.
c. Pemanasan yang berlebihan.
d. Kesalahan persiapan kampuh.
e. Pemanasan tidak merata.
f. Penempatan bagian-bagian yang disambung kurang baik.
g. Salah urutan pengelasan.

7. Hot Cracking: yaitu retakan yang biasanya timbul pada saat vairan las mulai
membeku karena luas penampang yang terlalu kecil dibandingkan dengan
benda kerja yang akan yang akan dilas sehingga terjadi pendinginan.
8. Underbread cracking: terjadi karena adanya hydrogen ataupun karena
kuatnya kontruksi penguat sampingan.dapat di tanggulangi dengan
menggunakan elektroda las low hydrogen atau pemanasan awal benda kerja
sampai suhu 120 C.
9. Lack of fussion: adalah cacat antara bahan dasar dengan logam las tidak
dapat di tanggulangi dengan menambah kuat arus ,ayunan las dapat di
tambah.

29
10. Wearning foult: adalah timbuan las yang berlebihan di atasi dengan menjaga
kontinutias kecepatan pengelasaan.

Penanggulangan Retak Las

Dalarn menghindari terjadinya retakan las pada daerah panas, atau usaha
penaggulanganyasupaya tidak terjadi retak pada las antara lain,

a. Menggunakan elektroda yang betul, dalam hal ini sedapat mungkin


menggunakan elektrodadengan fluk yang mempunyai kadar hydrogen
rendah.
b. Sebelum mengelas, pada daerah sekitar kampuh harus dibersihkan dari air,
karat, debu,minyak dan zat organik yang dapat menjadi sunrber hidrogen.
c. Mendinginkan perlahan-lahan setelah dilas.
d. Membebaskan kampuh dari kekakuan.
e. Mengadakan pemanasan pendahuluan sebelum memulai pengelasan,
dengan cara ini retak lasdapat terhindarkan.

Penanggulangan Penembusan Las Yang Kurang Baik.

Cara untuk mengatasi cacat las penembusan yang kurang baik dapat dilakukan
denganlangkahlangkah sebagai berikut :

a. Penyetelan arus pengelasan yang tepat.


b. Pengelasan diperlambat dan stabil agar panas yang didapat lebih merata.
c. Mengatur kecepatan las, sehingga kedua sisi benda kerja mencair dengan
baik.
d. Memilih diameter elektroda yang sesuai dengan ukuran coakan.
e. Membersihkan benda kerja dari terak dan kotoran yang ada.
f. Mempertahankan panjang busur nyala yang tepat.
g. Membetulkan sudut kampuh

Penanggulangan Pengerukan las(Under Cut)

Cara untuk mengatasi cacat las pengerukan/under cut dapat dilakukan


dengan langkah-langkah sebagai berikut :

30
a. Menyetel arus yang tepat.
b. Mengurangi kecepatan mengelas.
c. Mempertahankan panjang busur nyala yang tepat.
d. Menggunakan ukuran elektroda yang benar.
e. Menyetel posisi elektroda, sehingga gaya busur nyala akan menahan cairan
pengelasan.
f. Mengupayakan ayunan elektroda dengan teratur.

Penanggulangan Cacat Las Karena Keropos.

Cara untuk mengatasi cacat las keropos dapat dilakukan dengan langkah-
langkah sebagaiberikut:

a. Mempertahankan jarak busur yang baik.


b. Mengurangi kecepatan pengelasan atau kecepatan dipertinggi.
c. Member waktu pengisian yang cukup untuk melepaskan gas.
d. Membersihkan benda kerja.
e. Menggunakan elektroda yang tepat.

31