Anda di halaman 1dari 5

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

( SOP )
INSTALASI BEDAH SENTRAL

RUMAH SAKIT DERA AS-SYIFA


Jl. Merdeka Banjarharjo-Brebes 52265
Tlp. (0283) 889 588 – 889583

I
PROSEDUR PENGGUNAAN DC SHOCK

No. Dokumen No. Revisi Halaman


008/SOP/V/2010 0 1
Ditetapkan oleh :
Tanggal terbit DIREKTUR RSU DERA AS - SYIFA

1 MEI 2010
PROSEDUR
TETAP
dr. ARIA SABEDI
Pengertian Defibrilasi (eksternal) adalah suatu tindakan terapi dengan cara
memberikan aliran listrik yang kuat ke jantung pasien melaluli elektrode
(pedal) yang ditempatkan di permukaan dining dada pasien.
Tujuan 1. Menghilangkan ancaman kematian karena fibrilasi ventrikel
2. Mengembalikan irama jantung dan cardiac output yang hilang karena VF/VT
non pulse dan mengembalikan oxygenasi dan perfusi ke jaringan.

Indikasi
1. Pasien dengan VT
2. Pasien dengan VT non pulse

Kebijakan 1. Memenuhi kebutuhan oksigen


2. Dilakukan oleh perawat terlatih

Prosedur 1. Persiapan
1.1. Perawat
Perawat harus paham akan:
1.1.1. Anatomi dan fisiologi kardiovaskuler
1.1.2. Interpretasi gambaran EKG
1.1.3. Prinsip-prinsip BCTLS dan ATLS
1.1.4. Prinsip-prinsip keamanan terhadap listrik

1.2. Peralatan
1.2.1. DC shock dengan elektrode (pedal) nya
1.2.2. Elektrolit jelly
1.2.3. Ambubag dengan facemask
1.2.4. Oksigenasi
1.2.5. Papan resusitasi
1.2.6. Obat-obatan emergency

1.3. Pasien
1.3.1. Posisi supine di atas papa yang rata dan keras (papan resusitasi)
1.3.2. Singkirkan semua bersi yang menempel langsung ke pasien
1.3.3. Ambil gigi palsu atau protesa yang lain dari pasien.

2. Cara kerja
2.1. Cuci tangan dan keringkan
2.2. Siapkan pasien dan alat-alat yang diperlukan untuk RKP dan DC shock
2.3. Dekatkan defibrilator ke pasien sehingga kabel pedal tidak tertarik
2.4. Pasang EKG monitor, bila belum terpasang pastikan gambaran EKG
pasien adalah VF/VT non pulse
2.5. Hidupkan defibrilator (posisi asyncronice)
2.6. Berikan elektrolit jelly pada pedal secukupnya (seluruh permukaan
pedal dan agak tebal)
2.7. Tempatkan pada energi 360 joule
2.8. Tempatkan satu pedal pada apex jantung dan satu lagi di sternum di
bawah klavikula
2.9. Charge dan tunggu sampai energi yang diperlukan tercapai
2.10. Berikan sedikit tekanan pada pedal ke dinding dada
2.11. Nyutakan bahwa DC shock telah siap dan aman, baik bagi pasien,
perawat mau pun permberi bantuan nafas jika ada
2.12. Tekan kedua tombol DC shock secara bersama-sama dan jagnan
sampai terangkat
2.13. Lihat gambaran EKG post DC shock di monitor. Berubah irama atau
tetap VF/VT
2.14. Bila tetap maka ulangi lagi dengan energi 360 joule, bila tetap belum
berhasil maka ulangi lagi dengan energi 360 joule. Bila masih belum
berhasil maka lanjutkan dengan RKP.
2.15. Bila setelah DC shock (bisa yang I, II, III) terjadi perubahan irama maka
lanjutkan perawatan pasien sesuai irama yang muncul
2.16. Matikan defibrilator dan bersihkan pedal dan jeli pada tubuh pasien,
kembaliah ke tampat semila
2.17. Cuci tangan dan dokumentasikan

3. Hasil yang harus diperhatikan


3.1. Rekam EKG sesuai kebutuhan
3.2. Monitor EKG dan haemodinamika secara kontinue
3.3. Perawatan luka bakar bila terjadi

Referensi
Unit terkait Instalasi farmasi
PROSEDUR TINDAKAN SUCTION
No. Dokumen No. Revisi Halaman
008/SOP/V/2010 0 1
Ditetapkan oleh :
Tanggal terbit DIREKTUR RSU DERA AS - SYIFA

1 MEI 2010
PROSEDUR
TETAP dr. ARIA SABEDI
Pengertian Suctioning merupakan tindakan mengangkat sekresi yang
terdapat pada dinding bronkus atau trachea. Tindakan ini
dilakukan pada pasien yang terpasang ETT, ,ET.
Tujuan 1. Mengangkat sekresi yang tak dapat dikeluarkan sendiri atau
dibatukkan oleh pasien
2. Mengurangi penumpukan CO2 di paru-paru
3. Mencegah terjadinya bronkopneumonia
4. Memperlancar sirkulasi dan perfusi ke seluruh jaringan

Kebijakan Pemenuhan kebutuhan oksigen


Prosedur 1. Persiapan alat
1.1. Perlatan oksigen viva, oksigen + selang
1.2. Peralatan suction yang lengkap : suntion dinding, selang
suction, tubing/kateter seuction yang steril yang sesuai denga
nomor dan usia dan nomor endotrakeal atau trakeostomi tube
1.3. Sarung tangan steril atau pinset steril
1.4. Ember yang berisi larutan savlon untuk tempat suction kateter
bekas
1.5. Handuk untuk alas dada

2. Cara kerja
2.1. Cuci tangan
2.2. Jelaskan prosedur ke pasien
2.3. Observasi saturasi, nadi, pernapasan, tekanan darah dan EKG
2.4. Berikan oksigen dengna konsentrasi tinggi melalui air viva atau
ventilator
2.5. Atur tekanan pada suction.
Bayi: 60-100 mmHg
Dewasa: 120-200 mmHg
2.6. Gunakan sarung tangan atau pinset steril
2.7. Pilih kateter suction yang sesuai dengan umur pasien dan nomor
ukuran ETT/TT (1/3 diameter ETT/TT)
2.8. Sambungkan kateter seutioning pada selang suction
2.9. Lakukan ventilasi dengna air viva 3X, dengan oksigen 12-15
lt/mnt
2.10. Masukkan kateter dalam keadaan terbuka, jika ada refleks
trakea, angkat kateter 1-2 cm kemudian tutup kateter dan
angkat kateter dengan gerakan memutar (lama tindakan 5-15
detik)
2.11. Berikan oksigen kembali dengan konsentrasi tinggi 12-15
lt/menit melalui air viva
2.12. Prasat ini boleh diulangi sampai bersih atau banyak berkurang
2.13. Monitor kembali hemodinamika dan tanda vital pasien
2.14. Jika akn suction hidung dan mulut lakuakn suctioning ETT/TT
dahulu sampai selesai kemudian suctioning hidung lalu mulut
yang terakhir.
2.15. Bilas kateter dengan air yang ada diember, matikan suction dan
buang suction kateter pada ember tersebut.
2.16. Alat-alat dirapikan kembali dan dokumentasikan

Referensi
Unit terkait Instalai Farmasi
PROTAP PENANGANAN HENTI JANTUNG

No. Dokumen No. Revisi Halaman


008/SOP/V/2010 0 1
Ditetapkan oleh :
Tanggal terbit DIREKTUR RSU DERA AS - SYIFA

1 MEI 2010
PROSEDUR
TETAP
dr. ARIA SABEDI
Pengertian Henti jantung adalah terhentinya kontraksi jantung yang efektif ditandai
dengan pasien tidak sadar, tidak bernafas, tidak ada denyut nadi. Pada
keadaan seperti ini kesepakatan diagnostis harus ditegakkan dalam 3 – 4
menit. Keterlambatan diagnosis akan menimbulkan kerusakan otak.
Harus dilakukan resusitasi jantung – paru.
Tujuan Sebagai acuan dalam penanganan pasien henti jantung
Kebijakan Penanganan henti jantung dilakukan untuk membantu menyelamatkan
pasien / mengembalikan fungsi cardiovascular.
Prosedur 1. Tahap I :
1.1. Berikan bantuan hidup dasar
1.2. Bebaskan jalan nafas, seterusnya angkat leher / topang dagu.
1.3. Bantuan nafas, mulut ke mulut, mulut ke hidung, mulut ke alat
bantuan nafas.
1.4. Jika nadi tidak teraba :
1.4.1. Satu penolong : tiup paru kali diselingi kompres dada 30
kali.
1.4.2. Dua penolong : tiup paru setiap 2 kali kompresi dada 30
kali.

2. Tahap II :
2.1. Bantuan hidup lanjut.
2.2. Jangan hentikan kompresi jantung dan Venulasi paru.
2.3. Langkah berikutnya :
2.3.1. Berikan adrenalin 0,5 – 1 mg (IV), ulangi dengan dosis
yang lebih besar jika diperlukan. Dapat diberikan Bic – Nat
1 mg/kg BB (IV) jika perlu. Jika henti jantung lebih dari 2
menit, ulangi dosis ini setiap 10 menit sampai timbul
denyut nadi.
2.3.2. Pasang monitor EKG, apakah ada fibrilasi, asistol komplek
yang aneh : Defibrilasi : DC Shock.
2.3.3. Pada fibrilasi ventrikel diberikan obat lodikain / xilokain 1-
2 mg/kg BB.
2.3.4. Jika Asistol berikan vasopresor kaliumklorida 10% 3-5 cc
selama 3 menit.

3. Petugas IGD mencatat hasil kegiatan dalam buku catatan pasien.


4. Pasien yang tidak dapat ditangani di IGD akan di rujuk ke Rumah
Sakit yang mempunyai fasilitas lebih lengkap.

Referensi
Unit terkait 1. Instalasi Gawat Darurat
2. Rekam Medik
3. Rumah Sakit Rujukan