Anda di halaman 1dari 14

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR


(KETERAMPILAN BERTANYA)

Disusun oleh:
Sri Hayati
4301415054

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
KETERAMPILAN BERTANYA
Keterampilan dasar mengajar bagi guru diperlukan agar guru dapat melaksanakan
perannya dalam pengelolaan proses pembalajaran, sehingga pembelajaran dapat berjalan efektif
dan efesien. Salah satu keterampilan dasar tersebut adalah keterampilann dasar bertanya. Bertanya
dikatakan keterampilan karena dengan bertanya seorang guru maupun siswa bisa melaksanakan
proses pembelajaran. Akan tetapi ada cara yang dilakukan untuk melaksanakan keterampilan
bertanya dengan baik.

Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umumnya guru tidak berhasil menggunakan
teknik bertanya secara efektif. Keterampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan
pendapat yang mengatakan “berfikir itu sendiri adalah bertanya”. Untuk mengetahui bagaimana
keterampilan bertanya yang baik dan efektif berikut akan kami paparkan dengan jelas tentang
keterampilan bertanya.

1. Pengertian Keterampilan Bertanya


Pengertian keterampilan bertanya secara etimologis bertanya diuraikan menjadi dua
suku kata yaitu “terampil” dan “tanya”. Menurut kamus bahasa Indonesia “bertanya” berasal
dari kata “tanya” yang berarti antara lain permintaan keterangan. Bertanya merupakan ucapan
verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenal. Respons yang diberikan dapat
berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Bertanya
merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berfikir. Dan kemampuan
mengemukakan pendapat/gagasan/jawaban.
Sedangkan kata “terampil” memiliki arti “cakap dalam penyelesaian tugas ataupun
mampu dan cekatan”. Dengan demikian keterampilan bertanya secara sederhana dapat
diartikan dengan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam meminta keterangan atau
penjelasan dari orang lain atau pihak yang menjadi lawan bicara.
Keterampilan bertanya adalah suatu pengajaran itu sendiri, sebab pada umumnya,
guru selalu melibatkan/menggunakan Tanya jawab dalam pengajarannya. Keterampilan
Bertanya merupakan keterampilan yang digunakan untuk mendapatkan jawaban / balikan dari
orang lain . hampir semua proses evaluasi, pengukuran, penilaian dan pengujian dilakukan
dengan pertanyaan. Jadi, keterampilan bertanya adalah suatu kemampuan seorang guru dalam
meminta keterangan siswa ataupun sebaliknya untuk mendapatkan informasi dalam
pelaksanaan pengajaran.
Dalam proses belajar mengajar bertanya memainkan peranan penting sebab
pertanyaan yang tersusun dengan baik dan tekhnik penyampaian yang tepat pula akan
memberikan dampak positif terhadap siswa. Keterampilan bertanya bagi seorang guru
merupakan keterampilan yang sangat penting untuk dikuasai sebab melalui keterampilan ini
guru dapat menciptakan suasana pembelajaran lebih bermakna. Oleh karena itu dalam
setiap proses pembelajaran, model pembelajaran apapun yang digunakan bertanya
merupakan kegiatan yang selalu merupakan bagian yang tak terpisahkan. Mengingat begitu
pentingnya peranan bertanya dalam proses pembelajaran, maka setiap guru harus memiliki
keterampilan ini, untuk menjamin kualitas pembelajaran.
Keterampilan bertanya sangat penting dikuasai oleh guru, keterampilan ini
merupakan salah satu kunci untuk meningkatakan mutu dan kebermaknaan pembelajaran.
Dengan demikian setiap guru harus terampil dalam mengembangkan pertanyaan. Pertanyaan
dalam pembelajaran bukan hanya untuk mendapatkan jawaban atau informasi dari pihak yang
ditanya. Jauh lebih luas dari itu adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

2. Komponen-Komponen
a. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat.
Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-
kata yang dapat dipahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.
b. Pemberian acuan.
Kadang-kadang guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi
informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan.
c. Pemindahan giliran
Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari satu siswa, karena jawaban
siswa benar atau belum memadai.
d. Penyebaran.
Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya dalam pembelajaran, guru perlu
menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak.
e. Pemberian waktu berfikir
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi waktu untuk
berfikir sebelum menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab.
f. Pemberian tuntunan
Bila siswa itu menjawab salah atau tidak bisa menjawab pertanyan, guru hendaknya
memberikan tuntunan kepada siswa itu agar dapat menemukan sendiri jawaban yang
benar.

3. Prinsip-Prinsip Keterampilan Bertanya


Prisip-prisip yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan bertanya antara lain:
a. Kehangatan dan keantusiasan
Suasana pembelajaran harus diciptakan dalam kondisi yang menyenangkan, sehingga
merasa nyaman dan betah dalam belajar. Salah satu upaya mengembangkan suasana
pembelajarana yang menyenangkan antara lain yaitu bagaimana pertanyaan yang diajukan
memiliiki nuansa psikologis yang hangat dan mendorong semangat belajar yang tinggi.
b. Memberikan waktu berfikir
Setelah guru mengajukan pertanyaan hendaknya tidak langsung menunjuk salah seorang
dari siswa untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya tetapi memberikan kelonggaran
(waktu) kepada siswa untuk memikirkan atau menemukan jawaban atas pertanyaannya.

4. Keterampilan Bertanya Lanjut


a. Pengertian
Dalam kegiatan pembelajaran di atas telah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan
keterampilan bertanya dasar adalah pertanyaan pertama atau pembuka untuk mendapatkan
keterangan atau informasi dari siswa. Untuk menindaklanjuti pertanyaan pertama diikuti
oleh pertanyaan berikutnya atau disebut dengan pertanyaan lanjut.
Dengan demikian, pertanyaan lanjut adalah kelanjutan dari pertanyaan pertama
(dasar) yaitu mengorek atau mengungkapkan kemampuan berfikir yang lebih dalam dan
komperehensif dari pihak yang diberi pertanyaan (siswa). Keberhasilan mengembangkan
kemampuan berfikir yang dilakukan melalui bertanya lanjut banyak dipengaruhi oleh hasil
pembelajaran yang dikembangkan melalui pengggunaan pertanyaan dasar.
Kemampuan bertanya lanjut sebagai kelanjutan dari bertanya dasar lebih
mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berfikir, memperbesar partisipasi dan
mendorong lawan bicara agar lebih aktif dan kritis mengembangkan kemampuan
berfikirnya.

b. Komponen-Komponen
1) Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab suatu pertanyaan
Pengubahan ini artinya agar seorang guru dalam mengajukan pertanyaan dapat
berusaha mengubah tingkat kognitif siswa dalam menjawab suatu pertanyaan dari
tingkat yang rendah ke tingkat kognitif yang lebih tinggi. Seperti: tingkat pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis maupun tingkat evaluasi.
2) Pengaturan urutan pertanyaan secara tepat
Dalam memberikan urutan pertanyaan seorang guru harus memberikannya secara
terurut, misal: pertama seorang guru mengajukan pertanyaan pemahaman penerapan,
analisis, sintesis dan yang terakhir lanjut ke pertanyaan evaluasi. Selain itu, seorang
guru hendaknya memberikan waktu yang cukup untuk bisa menjawab pertanyaan yang
diajukan.
3) Penggunaan pertanyaan pelacak
Ada tujuh teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan oleh seorang guru.
a) Klarifikasi
Jika ada salah satu siswa menjawab pertanyaan guru dengan kalimat yang kurang
tepat, maka guru memberikan pertanyaan pelacak yang meminta siswa untuk
menjelaskan atau dengan kata-kata lain sehingga jawaban siswa menjadi lebih baik
atau menyuruh siswa untuk mengulang jawabannya dengan kata yang lebih lugas.
Contoh: Dapatkah kamu menjelaskan sekali lagi apa yang kamu maksud?
b) Meminta siswa memberikan alasan
Guru dapat meminta siswa untuk memberikan bukti yang menunjang kebenaran
suatu pandangan yang diberikan dalam menjawab pertanyaan. Contoh: Mengapa
kamu mengatakan demikian?
c) Meminta kesepakatan pandangan
Guru memberikan kesempatan kepada siswa-siswa lainnya untuk menyatakan
persetujuan atau penolakan siswa serta memberikan alasan-alasannya terhadap
suatu pandangan yang diungkapkan oleh seorang siswa, dengan maksud agar
diperoleh pandangan yang benar dan dapat diterima oleh semua pihak.
Contoh: Siapa setuju dengan jawaban itu? Mengapa
d) Meminta ketepatan jawaban
Jika jawaban siswa belum tepat guru dapat meminta siswa untuk meninjau kembali
jawaban itu agar diperoleh jawaban yang tepat atau guru dapat menggunakan
metode pemberian pertanyaan dengan sistem bergilir.
e) Meminta jawaban yang lebih relevan
Mengajukan pertanyaan yang memungkinkan siswa menilai kembali jawabannya
atau mengemukakan kembali jawabannya menjadi lebih relevan.
f) Meminta contoh
Jika ada jawaban dari siswa yang kurang jelas maka guru dapat meminta siswa
untuk memberikan ilustrasi atau contoh yang konkret.
Contoh: Dapatkah kamu memberi satu atau beberapa contoh dari jawabanmu?
g) Meminta jawaban yang lebih kompleks
Guru memberikan penjelasan agar jawaban siswa menjadi lebih kompleks dan
mampu menemukan ide-ide penting lainnya.
Contoh: Dapatkah kamu memberikan penjelasan yang lebih luas lagi dari ide yang
dikatakan tadi?
c. Peningkatan terjadinya interaksi
Ada 2 cara guru untuk menghilangkan peranannya sebagai penanya sentral.
1) Guru mencegah pertanyaan dijawab langsung oleh seorang siswa tetapi siswa diberi
kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya untuk didiskusikan
2) Jika siswa mengajukan pertanyaan, guru tidak segera menjawab pertanyaan dari
murid, tetapi melontarkan kembali pertanyaan tersebut kepada siswa untuk
didiskusikan.
3) Komponen ini akan dapat membantu siswa memberikan komentar yang wajar dan
mampu mengembangkan cara berfikir siswa.

5. Jenis-Jenis Pertanyaan
Jenis-jenis pertanyaan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Klasifikasi Pertanyaan Menurut Taksonomi Bloom
Menurut Beni (2008), Taksonomi Bloom merupakan salah satu cara yang dipakai
dalam merumuskan tujuan pengajaran. Taksonomi ini dapat juga diterapkan untuk
mengklasifikasikan pertanyaan yang diajukan guru di kelas.
Ada tiga kawasan atau disebut juga ranah (domein) yang dikemukan Bloom dan
kawan-kawan dalam taksonomi tersebut ialah: kognitif (yang menyangkut aspek pikir);
afektif (yang menyangkut aspek sikap); psikomotor (yang menyangkut aspek
keterampilan).
Dalam kaitannya dengan pertanyaan ini, maka domein yang digunakan ialah
kognitif oleh karena seseorang yang bertanya berarti ia berpikir (aspek pikir yang
diutamakan). Untuk domein kognitif ini ada enam tingkatan, yang masing-masing tingkat
dituntut proses berpikir yang berbeda. Sesuai dengan tingkat kesukarannya dari keenam
tingkatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan ialah:

1) Pertanyaan kognitif tingkatan yang lebih rendah:


- pengetahuan (knowledge)
- pemahaman (comprehension)
- penerapan (application)
2) Pertanyaan kognitif tingkatan yang lebih tinggi:
- analisis (analysis)
- sintesis (synthesis)
- evaluasi (evaluation)
Dari keenam tingkatan tersebut secara berturut-turut akan diuraikan sebagai berikut:

1. Pertanyaan pengetahuan
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan penalaran dalam kategori yang terendah,
yang hanya menuntut siswa untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan tentang
fakta, kejadian, definisi dan sebagainya. Siswa hanya dituntut mengingat kembali apa
yang dipelajarinya. Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan pengetahuan ini
antara lain: Apa?, Siapa?, Bilamana?, Di mana?, Sebutkan!, Ingatlah istilah,
Kemukakan definisi!, Pasangkan!, Berilah nama!, dan Golongkan!.
2. Pertanyaan pemahaman
Pertanyaan ini meminta untuk menujukkan bahwa ia telah mengerti atau
memahami sesuatu. Ia dikatakan memahami sesuatu berarti ia telah dapat
mengorganisasikan dan mengutarakan kembali apa yang dipelajarinya dengan
menggunakan kalimatnya sendiri. Beberapa kata yang dapat digunakan untuk
pertanyaan pemahaman adalah: Bedakanlah, Terangkan, Simpulkan, Bandingkanlah,
Jelaskan dengan kata-katamu sendiri, Terjemahkan, Ubahlah, Berilah contoh, dan
Berikan interpretasi.
3. Pertanyaan penerapan (aplikasi)
Pertanyaan penerapan adalah pertanyaan pertanyaan yang menuntut suatu
jawaban dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Siswa
dihadapkan pada pemecahan masalah sederhana dengan menggunakan pengetahuan
yang telah dipelajarinya. Dengan menggunakan konsep, prinsip, aturan, hukum atau
proses yang dipelajari sebelumnya, siswa diharapkan dapat menentukan suatu jawaban
yang benar terhadap masalah itu. Beberapa kata yang sering digunakan untuk
pertanyaan penerapan adalah: Gunakanlah, Tunjukkanlah, Demonstrasikan, Buatlah
sesuatu, Carilah hubungan, Tuliskan suatu contoh, Siapkanlah, dan Klasifikasikanlah.
4. Pertanyaan analisis
Pertanyaan ini merupakan jenjang pertama dari kelompok pertanyaan tingkat
tinggi. Pertanyaan analisis menuntut siswa untuk berpikir secara mendalam, kritis,
bahkan menciptakan sesuatu yang baru, untuk menjawab pertanyaan analisis, siswa
harus mampu menguraikan sebab-sebab, motif-motif atau mengadakan deduksi (dari
suatu generalisasi/kesimpulan umum/hukum/teori, dicari fakta-faktanya). Oleh karena
itu, pertanyaan analisis tidak hanya mempunyai satu jawaban yang benar, melainkan
berbagai alternatif. Pertanyaan analisis menuntut siswa terlibat dalam proses kognitif
sebagai berikut:
a. Menguraikan alasan atau sebab-sebab dari suatu kejadian
b. Mempertimbangkan dan menganalisis inforamsi yang tersedia agar mencapai suatu
kesimpulan atau generalisasi berdasarkan informasi
c. Menganalisis kesimpulan atau generalisasi untuk menemukan bukti yang
menunjang atau menyangkal kesimpulan/generalisasi itu.
d. Kata-kata yang sering digunakan dalam pertanyaan analisis adalah: Analisislah,
Kemukakan bukti-bukti, Mengapa, Identifikasikan, Tunjukkanlah sebabnya, dan
Berilah alasan-alasan.
5. Pertanyaan sintesis
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan tingkat tinggi yang menuntut siswa
untuk berpikir orisinil dan kreatif. Dengan pertanyaan ini akan diperoleh kemampuan
untuk menghubungkan bagian-bagian atau unsur-unsur agar dapat menjadi suatu
kesatuan. Mereka dituntut untuk dapat mengambil suatu kesimpulan dari informasi
yang telah diberikan. Siswa tidak hanya menerka jawaban, melainkan harus berpikir
dengan sungguh-sungguh. Berikut ini adalah kata-kata yang sering digunakan dalam
pertanyaan-pertanyaan sintesis: Ramalkanlah, Bentuk, Ciptakanlah, Susunlah,
Rancanglah, Tulislah, Bagaimana kita dapat memecahkan, Apa yang terjadi
seaindainya, Bagaimana kita dapat memperbaiki, dan Kembangkan.
6. Pertanyaan evaluasi
Pertanyaan ini menuntut proses berpikir yang paling tinggi dan untuk dapat
menyatakan pendapat atau menilai berbagai ide, karya seni, pemecahan masalah serta
alasan-alasan keputusannya, harus digunakan kriteria-kriteria tertentu. Pertanyaan
evaluasi dapat dikategorikan sebagai berikut:
1) pertanyaan yang meminta siswa memberikan pendapat tentang berbagai persoalan
2) pertanyaan yang menilai suatu ide
3) pertanyaan yang meminta siswa menetapkan suatu cara pemecahan masalah
4) pertanyaan yang meminta siswa menetapkan karya seni terbaik.

b. Pertanyaan Berdasarkan Maksudnya


Menurut Hutasoit (2010), pertanyaan berdasarkan maksudnya, terdiri atas:
1. Pertanyaan permintaan ( compliance question) adalah pertanyaan yang mengharapkan
peserta didik mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pernyataan.
2. Pertanyaan retoris (rhetorical question) adalah pertanyaan yang tidak menghendaki
jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru, dengan maksud hanya menyampaikan
informasi kepada peserta didiknya.
3. Pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) adalah pertanyaan yang
bermaksud memberi arah atau menuntun peserta didik sehingga dapat menemukan
sendiri jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya. Pertanyaan ini diperlukan
jika guru ingin agar peserta didiknya memperhatikan dengan seksama bagian-bagian
tertentu atau pokok inti dari bahan yang disajikannya.
4. Pertanyaan menggali (probing question) adalah pertanyaan lajutan yang dapat
mendorong peserta didik untuk lebih mendalami jawaban atas pertanyaan yang
diajukan sebelumnya. Jenis pertanyaan ini dimaksudkan untuk mendorong peserta
didik meningkatkan kuantitas dan kualitas jawaban yang diberikan.

c. Pertanyaan Berdasarkan Tujuannya


Menurut Wartono (2003), pertanyaan berdasarkan maksudnya terdiri atas:
1. Pertanyaan Kognitif
Pertanyaan kognitif adalah pertanyaan yang dilakukan guru kepada siswa dengan
tujuan untuk menguji pengetahuan, pemahaman, dan pendapat siswa tentang materi
pelajaran. Contohnya dalam ilmu fisika: “ Apa yang dimaksud dengan laju reaksi?”
2. Pertanyaan Performansi
Pertanyaan performansi adalah pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa dengan
tujuan agar siswa melakukan penampilan/performansi sesuai dengan yang dianjurkan
guru. Contonya: “ Bisakah Kamu menyebutkan factor apa saja yang mempengaruhi
laju reaksi?”.
3. Pertanyaan Konsekuensi
Pertanyaan konsekuensi adalah adalah pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa
dengan tujuan agar siswa menjelaskan atau memberikan alas an terhadap tindakan
ataupun pendapat yang telah dikemukakan. Contohnya: “Apa yang terjadi ketika gula
dimasukkan dalam air panas? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?”
4. Pertanyaan Eksplorasi
Prtanyaan eksplorasi adalah pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa dengan
tujuan untuk menjajagi sejauh mana pengetahuan dan pengalaman siswa sebelum ia
menempuh pelajaran baru. Contonya: setelah guru selesai menjelaskan tentang factor
suhu dalam laju reaksi, kemudian meberikan pertanyaan “Jika suhu dinaikkan,maka
lajunya akan bagaimana?”.

d. Pertanyaan Berdasarkan Sifatnya


Menurut Wartono (2003), pertanyaan berdasarkan sifatnya terdiri atas:
1. Pertanyaan Ingatan
Pertanyaan ingatan adalah pertanyaan yang menghendaki siswa untuk mengenal atau
mengingat kembali apa yang telah dipelajari. “ Ada berapa macam macam factor yang
mempengaruhi laju reaksi?”
2. Pertanyaan Pemahaman
Pertanyaan pemahaman adalah pertanyaan yang meminta siswa untuk membuktikan
bahwa mereka telah mempunyai pengertian yang cukup untuk menyusun materi yang
telah diketahui secara mantap. Contihnya: “ Tolomg jelaskan dengan bahasa kamu
sendiri, bagaimana kenaikan suhu bisa mempercepat laju reaksi?”.
3. Pertanyaan Analisis
Pertanyaan analisis adalah pertanyaan yang menghendaki siswa untuk berpikir secara
kritis dan mendalam.Biasanya meminta siswa untuk mencari alasan atau sebab dari
suatu masalah atau dapat juga dengan menganalisa suatu informansi. Contohnya: “
Mengapa gula jika dilarutkan diair panas menjadi lebih cepat larut dari pada air
dingin?”.
4. Pertanyaan Sintesis
Pertanyaan sintesis adalah pertanyaan tingkat tinggi yang meminta siswa untuk
menampilkan pikiran yang murni dan kreatif. Contohnya: “ Apa yang terjadi
seandainya konsentrasi dinaikkan dan suhu diturunkan?”
5. Pertanyaan Evaluasi
Pertanyaan evaluasi adalah pertanyaan tingkat tinggi berdasarkan proses mental yang
terlibat di dalamnya. Pertanyaan evaluasi tidak memiliki satu jawaban yang benar
mutlak dan tidak mempunyai jawaban tunggal. Contohnya: “ Menurut kalian cara
mana yang paling mudah untuk mempercepat laju reaksi?”.

e. Pertanyaan Berdasarkan Caranya


Menurut Wartono (2003), pertanyaan berdasarkan caranya terdiri atas:
1. Pertanyaan Mengarahkan
Pertanyaan mengarahkan adalah pertanyaan yang diberikan guru untuk menuntun
siswa dalam dalam proses berpikir, sehingga siswa dapat menemukan inti
permasalahannya.
2. Pertanyaan Menggali
Pertanyaan menggali adalah pertanyaan lanjutan yang mendorong siswa untuk lebih
mendalami maksud dari pertanyaan yang diajukan sebelumnya, dan meningkatkan
kualitas dan kuantitas pertanyaan sebelumnya.
3. Pertanyaan Memancing
Pertanyaan memancing adalah pertanyaan yang bertujuan untuk memancing ide-ide
siswa secara original, sehingga siswa dapat memberikan jawaban secara tepat, jujur,
benar, tidak malu, dan takut menjawabnya.

6. Tujuan Keterampilan Bertanya


1) Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu .
2) Memusatkan perhatian siswa –siswi terhadap pokok bahasan
3) Mendiagnosis Kesulitan belajar
4) Mengembangkan Active Learning
5) Memberi kesempatan peserta didik mengasimiloasi informasi
6) Mendorong peserta didik untuk mengeluarkan Pendapat
7) Menguji dan mengukur hasil belajar .

7. Teknik Bertanya
Pertanyaan yang dirumuskan dan digunakan dengan tepat merupakan suatu alat
komunikasi yang ampuh antara guru dan siswa .Karena itu seyogyanya guru menguasai
berbagai teknik bertanya. Selain itu guru juga hendaknya mendengarkan dengan sunguh-
sungguh apa yang dikemukakan siswa, kemudian memberikan tanggapan yang positif
terhadapnya. Penguasaan berbagai teknik bertanya harus disertai dengan keinginan dan
kemampuan untuk mendengarkan dengan baik, dilandasi sikap terbuka dan positif .
Penguasaan teknik bertanya merupakan suatu wahana penunjang terlaksananya cara
belajar siswa aktif. Dalam mengajukan pertanyaan dapat digunakan teknik sebagai berikut :
a. Guru bertanya kepada semua siswa, lalu memberikan giliran kepada seseorang
b. Siswa memberikan jawaban yang tepatdan dapat mendorong siswa lainnya untuk
memberikan tanggapan dan mengajukan pertanyaan
c. Setelah beberapa tanggapan dan jawaban siswa, guru mengemukakan pertanyaan lagi dan
akhirnya siswa bersama guru membuat kesimpulan jawaban .

Selain itu dapat pula digunakan teknik sebagai berikut :


a. Semua siswa dalam kelas secara serentak memberikan tanggapan terhadap pertanyaan
b. Pertanyaan ditujukan kepada seluruh kelas, kemudian beberapa siswa diminta untuk
menjawab
c. Masing-masing siswa ditanya secara langsung
d. Dengan cara berkompetisi sehat, misalnya antara siswa wanita dengan laki-laki,atau
antara kelompok pertama dengan kelompok kedua, dan seterusnya.
8. Kebiasaan yang perlu dihindari
a. Jangan mengulang-ulang pertanyaan bila siswa tidak mampu menjawabnya. Hal ini dapat
menyebabkan menurunnya perhatian dan partisipasi siswa .
b. Jangan mengulang-ulang jawaban siswa. Hal ini akan membuang-buang waktu, siswa
tidak memperhatikan jawaban dari temannya karena menungu komentar dari guru.
c. Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum siswa memperoleh
kesempatan untuk menjawabnya. Hal ini membuat siswa frustasi dan mungkin ia tidak
mengikuti pelajaran dengan baik.
d. Usahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serentak karena guru tidak dapat
mengetahui dengan pasti siapa yang menjawab benar dan siapa yang menjawab salah serta
menutup kemungkinan berinteraksi selanjutnya.
e. Menentukan siapa siswa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan akan
menyebabkan siswa yang tidak ditunjuk untuk menjawab tidak memikirkan jawaban
pertanyaan. Oleh karena itu, pertanyaan hendaknya ditujukan lebih dahulu kerpada
seluruh siswa, baru kemudian guru menunjuk salah seorang untuk menjawabnya .
f. Pertanyaan ganda: Guru kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang sifatnya ganda
,menghendaki beberapa jawaban atau kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. contoh :
Apa yang menyebabkan perubahan laju reaksi dan bagaimana mekanismenya ?

9. Prinsip-prinsip pokok keterampilan bertanya yang harus diperhatikan guru antara


lain:
a. Berikan pertanyaan secara hangat dan antusis kepada siswa di kelas.
b. Berikan waktu berfikir untuk menjawab pertanyaan
c. Berikan kesempatan kepada yang bersedia menjawab terlebih dahulu
d. Tunjuk peserta didik untuk menjawab setelah diberikan waktu untuk berfikir
e. Berikan penghargaan atas jawaban yang diberikan.

10. Tipe dan syarat-syarat bertanya


Adapun Tipe dan bentuk pertanyaan sangat beragam, penggunaan dalam bentuk setiap
pertanyaan bergantung pada tujuan yang diharapkan, tipe pertanyaan yaitu:
a. Pertanyaan yang menuntut fakta-fakta, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan atau
melatih daya ingat siswa terhadap sesuatu yang pernah dipelajarinya.
b. Pertanyaan yang menuntut kemampuan yang membandingkan,, yaitu pertanyaan untuk
mengembangkan atau melatih daya fakir analisis dan sintesis.
c. Pertanyaan yang menuntut kemampuan memperkirakan, yaitu pertanyan untuk
mengembangkan atau melatih kemampuan atau membuat perkiraan-perkiraan.
d. Pertanyaan yang menuntut kemampuan analisis, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan
dan melatih kemampuan daya analisis.
e. Pertanyaan yang menuntut pengorganisasian, yaitu pertanyaan untuk mengembangkan
atau melatih kemampuan berfikir secara teratur.
f. Pertanyan yang tidak perlu dikemukakan jawabannya, yaitu pertanyaan untuk
memberikan penegasan atau meyakinkan tentang sesuatu kepada siswa, pertanyaan ini
digolongkan dengan pertanyan retorika yang tidak perlu mendapatkan jawaban.

11. Kelebihan dan Kelemahan dari Keterampilan Bertanya


a. Kelebihan
1. Mempererat hubungan keilmuan antara guru dan siswa.
2. Melatih anak-anak mengeluarkan pendapatnya secara merdeka, sehingga pelajaran
akan lebih menarik.
3. Menghilangkan verbalisme, individualisme dan intelektaulisma (Munsyi (1981:70)
dalam Albantati, 2010).
b. Kelemahan
1. Mudah menjurus kepada hal yang tidak dibahas.
2. Bila guru kurang waspada pedebatan beralih kepada sentiment pribadi.
3. Tidak semua anak mengerti dan dapat mengajukan pendapat (Munsyi (1981:70)
dalam Albantati, 2010).

Contoh bertanya dasar dan bertanya lanjutan :


a. Bertanya dasar
Contoh keterampilan bertanya dasar pada pembelajaran kimia, dalam materi asam basa. Guru
bertanya kepada siswa :
Guru : apakah defenisi laju reaksi?
PD : laju reaksi adalah konsestrasi pereaksi tiap satuan waktu atau berkurangnya
konsentrasi hasil reaksi tiap satuan waktu.

b. Bertanya lanjutan
Contoh keterampilan bertanya lanjut pada pembelajaran kimia, dalam materi laju reaksi. Guru
bertanya kepada siswa
Guru : ada berapa faktor kah yang mempengaruhi laju reaksi?
PD : ada 4 faktor
Guru : Apa saja?
PD : Konsentrasi, luas permukaan bidang sentuh, suhu, dan katalisator.
Guru : bagaimanakah pengaruh dari masing-masing faktor tersebut?
PD : (1) Konsentrasi : bila konsentrasi bertambah maka laju teaksi akan bertambah.
Sehingga konsentrasi berbanding lurus dengan laju teaksi. (2) Luas permukaan bidang sentuh
: semakin luas permukaan bidang sentuhnya, maka laju reaksi juga semakin bertambah. Luas
permukaan bidang sentuh berbanding lurus dengan laju rekasi. (3) Suhu : suhu juga
berbanding lurus dengan laju reaksi karena suhu reaksi dinaikkan maka laju reaksi juga
semakin besar. (4) Katalisator adalah suatu zat yang akan mempercepat (katalisator positif)
atau memperlambat (inhibitor) rekasi tetapi tidak ikut bereaksi.
DAFTAR PUSTAKA

Asril, Zainal. 2012. Micro Teaching. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.Jakarta: PT. Asdi
Mahasatya.
J.J.Hasibuan, dkk. 2009. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Marno dan M. Idris. 2010. Strategi dan Metode Pengajaran Cet.VII. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Munsyi, Abdul Kodir, dkk. 1981. Pedoman Mengajar Bimbingan Praktis untuk
Calon Guru. Surabaya: Al – Ikhlas.
Nur Hamiyah dan Muhammad Jauhar. 2014. Strategi Belajar-Mengajar Di Kelas. Jakarta:
Prestasi Pustakaraya.
Popham, W. James, dkk. 2003. Tekhnik mengajar secara sistematis. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Purwati, Eni, dkk. 2009. Micro Teaching. Surabaya: Lapis PGMI.
Putra, Udin. S Winata, dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta: Kencana.
--------------. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Semiawan, Conny. 1985. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT.Gramedia.
Seri Manajemen Sekolah Bermutu, Model-Model Pembelajaran. Rajawali Pers.
Soetomo. 1993. Dasar – Dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Sukirman, Dadang, dkk. 2006. Pembelajran Mikro. Bandung: Upi Press.
Supriadie, Didie dan Deni Darmawan. 2012. Komunikasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2008. Menjadi Guru yang professional (edisi kedua), Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.