Anda di halaman 1dari 8

KELOMPOK 3 :

Ni Made Ardi Naraswari (1707531062)/ (09)/


Ni Ketut Wardayanti (1707531145)/ (23)/
Ni Komang Sri Cristi Okta Dewi (1707531148)/ (25)/
Ida Ayu Sinta Mahadewi (1707531151)/ (26)/

SAP 9

A. Metode Penilaian Persediaan Barang


Ada tiga penilaian persediaan yaitu (1)metode harga pokok, (2) metode
harga pokok/nilai realisasi bersih yang lebih rendah, dan (3) juga metode harga
jual.
1. Metode Harga Pokok
Dalam metode ini harga pokok persediaan akhir akan dicantumkan
dalam neraca. Tidak ada perbedaan antara harga pokok persediaan dan nilai
persediaan dalam neraca. Harga pokok persediaan barang dapat ditentukan
dengan cara MPKP (FIFO), MTKP (LIFO), dan rata-rata tertimbang.
Berikut ini adalah contoh penilaian persediaan berdasarkan Metode
Harga Pokok
a. Metode FIFO
Metode FIFO metode ini mengasumsikan bahwa barang pertama yang
dibeli adalah barang pertama yang dijual. Oleh karena itu, persediaan
yang tersedia merupakan barang yang dibeli paling terakhir.
Pembelian Penjualan Saldo
Tanggal
Unit Harga/ unit Jumlah Unit Harga/ unit Jumlah Unit Harga/ unit Jumlah
1/10 - - - - - - 100 Rp 1,000 Rp 100,000
4/10 200 Rp 1,100 Rp 220,000 - - - 100 Rp 1,000 Rp 100,000
- - - - - - 200 Rp 1,100 Rp 220,000
5/10 - - - 60 Rp 1,000 Rp 60,000 40 Rp 1,000 Rp 40,000
- - - - - - 200 Rp 1,100 Rp 220,000
6/10 100 Rp 1,200 Rp 120,000 - - - 40 Rp 1,000 Rp 40,000
- - - - - - 200 Rp 1,100 Rp 220,000
- - - - - - 100 Rp 1,200 Rp 120,000
7/10 - - - 40 Rp 1,000 Rp 40,000 180 Rp 1,100 Rp 198,000
- - - 20 Rp 1,100 Rp 22,000 100 Rp 1,200 Rp 120,000
Dari tabel di atas, maka dapat diketahui:
 Nilai persediaan akhir = Rp318.000 (198.000 + 120.000)
 Nilai HPP = Rp122.000 (60.000 + 40.000 + 22.000)

1
b. Metode LIFO
Metode LIFO mengasumsikan bahwa barang-barang yang terakhir
dibeli atau diproduksi akan dijual atau digunakan terlebih dahulu,
sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah barang-barang
yang dibeli atau diproduksi pertama kali.
Pembelian Penjualan Saldo
Tanggal
Unit Harga/ unit Jumlah Unit Harga/ unit Jumlah Unit Harga/ unit Jumlah
1/10 - - - - - - 100 Rp 1,000 Rp 100,000
4/10 200 Rp 1,100 Rp 220,000 - - - 100 Rp 1,000 Rp 100,000
- - - - - - 200 Rp 1,100 Rp 220,000
5/10 - - - 60 Rp 1,100 Rp 66,000 100 Rp 1,000 Rp 100,000
- - - - - - 140 Rp 1,100 Rp 154,000
6/10 100 Rp 1,200 Rp 120,000 - - - 100 Rp 1,000 Rp 100,000
- - - - - - 140 Rp 1,100 Rp 154,000
- - - - - - 100 Rp 1,200 Rp 120,000
7/10 - - - 60 Rp 1,200 Rp 72,000 100 Rp 1,000 Rp 100,000
- - - 140 Rp 1,100 Rp 154,000
40 Rp 1,200 Rp 48,000

Dari tabel di atas, maka dapat diketahui:


 Nilai HPP = Rp. 138.000  (66.000 + 72.000)
 Nilai persediaan akhir = Rp302.000  (100.000 + 154.000 +
48.000)
c. Weighted Average Method ( Metode rata-rata Tertimbang)
Pembelian Penjualan Saldo
Tanggal
Unit Harga/ unit Jumlah Unit Harga/ unit Jumlah Unit Harga/ unit Jumlah
1/10 - - - - - - 100 Rp 1,000.00 Rp 100,000
4/10 200 Rp 1,100 Rp 220,000 - - - 300 Rp 1,066.67 Rp 320,000
5/10 - - - - - - 240 Rp 1,066.67 Rp 256,000
6/10 100 Rp 1,200 Rp 120,000 340 Rp 1,105.88 Rp 376,000
7/10 - - - 60 1,106 66,353 280 Rp 1,105.88 Rp 309,647
Dari tabel di atas, maka dapat diketahui:
 Nilai HPP = Rp130.353  (64.000 + 66.353)
 Nilai persediaan akhir = Rp309.647
2. Metode Harga Pokok atau Nilai Realisasi Bersih yang Lebih Rendah
PSAK No. 14 menyatakan bahwa persediaan barang akan dicantumkan
dalam neraca dengan nilai sebesar harga pokoknya atau nilai realisasi

2
bersihnya, yang lebih rendah. Menurut PSAK No. 14 nilai realisasi bersih
adalah taksiran harga penjualan dalam usaha normal dikurangi taksiran
biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan
penjualan.
Ketentuan standar biaya atau nilai realisasi bersih yang lebih rendah:
a. Taksiran harga jual dalam kegiatan usaha sehari - hari dikurangi
biaya-biaya yang dapat diperkirakan terlebih dahulu untuk
penyelesaiannya atau penjualannya.
b. Tidak boleh lebih rendah dari nilai realisasi bersih sesuadah
dikurangi dengan laba normal.
Nilai realisasi bersih merupakan batas maksimum yang diperkenankan
untuk mencantumkan persediaan dan disebut batas atas. Nilai realisasi
bersih dikurangi laba normal merupakan batas minimum di mana nilai
persediaan barang tidak boleh lebih rendah. Untuk menentukan nilai
persediaan yang akan dicantumkan pada neraca yaitu: (1) bandingkan harga
pokok dengan nilai realisasi bersih,dipilih yang lebih rendah (2) bandingkan
jumlah yang lebih rendah tersebut dengan batas atas dan batas bawahnya.
(3) Apabila jumlah yang lebih rendah tersebut masih dalam batas – batas
atas dan bawah maka nilai persediaan dalam neraca adalah jumlah yang
lebih rendah tersebut. (4) Tetapi apabila jumlah yang lebih rendah tersebut
diluar batas atas atau di bawah batas bawah, maka persediaan akan dinilai
dengan batas atas atau batas bawah.
Contoh :
Nilai Realisasi Bersih Harga Pokok atau
Keadaan Taksiran Harga Nilai Realiasi
Harga Pokok Harga Pokok Bersih yang Lebih
No. Jual Batas Bawah Batas Atas
Pengganti Rendah
1 Rp 1,500 Rp 1,050 Rp 800 Rp 1,100 Rp 1,200 Rp 1,050
2 Rp 1,500 Rp 1,050 Rp 800 Rp 1,100 Rp 950 Rp 950
3 Rp 1,500 Rp 1,050 Rp 800 Rp 1,100 Rp 750 Rp 800
4 Rp 1,350 Rp 1,050 Rp 650 Rp 950 Rp 1,000 Rp 950
5 Rp 1,350 Rp 1,050 Rp 650 Rp 950 Rp 850 Rp 850
6 Rp 1,350 Rp 1,050 Rp 650 Rp 950 Rp 600 Rp 650

Keterangan :
1. Nilai realisasi bersih yang dipilih adalah batas atas (Rp. 1.100), karena
harga pokok pengganti (Rp.1.200) lebih tinggi dari batas atas. Nilai

3
realisasi bersih yang dipilih ini (Rp.1.100) dibandingkan dengan harga
pokoknya (Rp.1.050) dan dipilih yang lebih rendah, yaitu Rp.1.050
2. Harga pokok pengganti (Rp.950) masih di dalam batas atas dan batas
bawah, sehingga harga pokok pengganti ini (Rp.950) dipilih sebagai nilai
realisasi bersih. Nilai realisasi bersih yang dipilih ini (Rp.950)
dibandingkan dengan harga pokok (Rp.1.050) dan dipilih yang lebih
rendah, yaitu Rp.950.
3. Harga pokok pengganti (Rp.750) lebih rendah dari batas bawah (Rp.800)
sehingga batas bawah (Rp.800) dipilih sebagai nilai realisasi bersih. Nilai
realisasi bersih yang dipilih ini (Rp.800) kemudian dibandingkan dengan
harga pokoknya (Rp.1.050) dan dipilih yang lebih rendah, yaitu Rp.800.
4. Harga pokok pengganti (Rp.1.000) lebih tinngi dari batas atas (Rp.950)
sehingga yang dipilih adalah batas atas (Rp.950). Nilai realisasi bersih
yang dipilih ini kemudian dibandingkan dengan harga pokoknya
(Rp.1.050) dan dipilih yang lebih rendah, yaitu Rp.950
5. Harga pokok pengganti (Rp.850) masih berada di antara batas bawah dan
batas atas, sehingga harga pokok pengganti ini yang dipilih (Rp.850).
Nilai realisasi bersih yang dipilih ini (Rp.850) dibanding dengan harga
pokoknya (Rp.1.050) dan pilih yang lebih rendah, yaitu Rp.850
6. Harga pokok pengganti (Rp.600) lebih rendah dari batas bawah (Rp.650)
sehingga yang dipilih adalah batas bawah. Nilai realisasi bersih yang
dipilih ini kemudian dibandingkan dengan harga pokoknya (Rp.1.050)
dan dipilih yang lebih rendah, yaitu Rp.650.

4
Cara Penerapan Metode Harga Pokok atau Nilai Realisasi Bersih
yang Lebih Rendah
Harga Pokok atau Harga Pasar yang Lebih
Rendah
Jenis Barang Harga Pokok Harga Pasar Masing-masing Kelompok-
Keseluruhan
Jenis kelom- pok
Persediaan
Persediaan Persediaan

Kelompok 1 :
Barang A Rp 50,000 Rp 45,000 Rp 45,000
Barang B Rp 45,000 Rp 52,000 Rp 45,000

Rp 95,000 Rp 97,000 Rp 95,000

Kelompok 2 : Rp.
Barang C Rp 105,000 Rp 110,000 Rp 105,000
Barang D Rp 70,000 Rp 60,000 Rp 60,000
Rp
Rp 175,000 Rp 170,000 Rp 170,000

Jumlah Rp 270,000 Rp 267,000 Rp 267,000


Nilai persediaan Rp. 225.000,00 Rp. 265.000,00 Rp.276.000,00

Apabila metode harga pokok atau nilai realisasi bersih yang lebih
rendah diterapkan kepada:
(1) Masing-masing jenis persediaan barang, maka nilai persediaan yang
dicantumkan dalam neraca pada tanggal 31 Desember 2005 sebesar
Rp255.000
(2) Kelompok-kelompok persediaan barang, maka nilai persediaan
yang dicantumkan dalam neraca pada tanggal 31 Desember 2005
sebesar Rp265.000
(3) Keseluruhan persediaan barang, maka nilai persediaan yang
dicantumkan dalam neraca pada tanggal 31 Desember 2005 sebesar
Rp 267.000

Pencatatan Metode Harga Pokok atau Nilai Realisasi Bersih yang


Lebih Rendah
Pembelian barang barang-barang dicatat pada saat terjadinya berdasar
harga pokok, oleh karena itu jika persediaan akan dicatat di bawah harga
pokoknya maka ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

5
(1) Harga pokok penjualan/harga pokok barang-barang yang dipakai
(2) Kerugian karena turunnya harga persediaan.
Ada 3 prosedur yang dapat digunakan untuk mencatat aturan harga
pokok atau nilai realiasasi bersih yang lebih rendah.
a. Metode pengurangan langsung, di mana kerugian penurunan harga
persediaan tidak dilaporkan tersendiri.
b. Metode pengurangan persediaan langsung, di mana hanya kerugian
penurunan harga persediaan akhir yang dilaporkan tersendiri.
c. Metode cadangan persediaan, di mana kerugian penurunan harga
persediaan awaL dan akhir dilaporkan tersendiri.

3. Metode Harga Jual


Penyimpangan dari prinsip harga pokok untuk penilaian persediaan
yaitu dengan mencantumkan persediaan dengan harga jual bersihnya dapat
diterima asalkan dipenuhi syarat – syarat nya. Adapun syarat – syaratnya
yaitu:
1. Ada kepastian bahwa barang – barang itu akan dapat segera dijual
dengan harga yang telah ditetapkan
2. Merupakan produk standar, yang pasarnya mampu menampung serta
sulit untuk menentukan harga pokoknya.

B. Melaporkan Nilai Persediaan Pada Neraca


Persediaan di neraca disajikan dalam aset lancar dari neraca. Baik
menggunakan metode (FIFO, LIFO, atau rata-rata tertimbang). Hal yang biasa
dilakukan bagi perusahaan untuk menggunakan metode biaya yang berbeda
adalah untuk keperluan dari masing-masing segmen persediaan yang berbeda.
Sehingga dengan alasan tertentu suatu perusahaan dapat mengganti metode
biaya persediaannya. Dalam kasus tertentu, pengaruh perubahan dan alasan dari
perubahan tersebut dapat diungkapkan dalam laporan keuangan untuk periode
di mana perubahan terjadi.

6
PT. MAHAKARYA
NERACA
31 DESEMBER 2017
Aset Lancar
Kas Rp 50,000,000
Piutang Usaha Rp 65,000,000
Dikurangi: Penyisihan Piutang Tak Tertagih Rp 2,000,000 Rp 63,000,000
Persediaan- pada nilai yang lebih rendah antara
biaya (Metode FIFO) atau nilai pasar Rp 95,000,000

7
DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 2004. Intermediate Accounting, Edisi Kedelapan. Yogyakarta:


BPFE.

Donald E. Kieso, Jerry J, Weygandt, Terry D.Warfield. 2008. Akuntansi


Intermediate, Edisi 12. Jakarta: Erlangga.