Anda di halaman 1dari 5

A.

Epidemiologi/Insiden kasus
Konjungtivitis merupakan penyakit mata paling umum di dunia. Penyakit ini
variasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair sampai berat dengan banyak
sekret purulen kental. Penyebab umumnya eksogen tetapi bisa juga penyebab
endogen.
Di negara maju seperti Amerika (2005), insidens rate konjungtivitis bakteri
sebesar 135 per 10.000 penderita konjungtivitis bakteri baik pada anak-anak maupun
pada orang dewasa dan juga lansia (Smith dan Waycaster, 2009). Konjungtivitis juga
salah satu penyakit mata yang paling umum di Nigeria bagian timur, dengan
insidensrate yaitu 32,9% dari 949 kunjungan di Departemen Mata Aba Metropolis,
Nigeria, pada tahun 2004 hingga 2006 (Amadi etal, 2009).
Penelitian di Philadelphia, menunjukkan insidens rate konjungtivitis bakteri
sebesar 54% dari semua kasus di departemen mata pada tahun 2005 hingga tahun
2006 (Patel, 2007). Provinsi Yunnan, Cina, antara Agustus dan September tahun 2007
telah terjadi wabah konjungtivitis hemoragik akut (AHC). Sebanyak 3.597 kasus yang
dilaporkan secara resmi dan tingkat kejadian penderita hingga mencapai
1391/100.000 penduduk (Yan etal, 2010).
Berdasarkan Bank Data Departemen Kesehatan Indonesia (2004), pasien
rawat inap konjungtivitis dan gangguan lain konjungtivitis 12,6%, dan pasien rawat
jalan konjungtivitis 28,3%. Indonesia pada tahun 2009 dari 135.749 kunjungan ke poli
mata, total kasus konjungtivitis dan gangguan lain pada konjungtiva 73% dan yang
tersering diderita adalh konjungtivitis jenis kataralis epidemika 80%. Konjungtivitis
juga termasuk dalam 10 besar penyakit rawat jalan terbanyak pada tahun 2009
(Kemenkes RI, 2010).

B. Patofisiologi
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan
kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dalpat menutup dan membuka
sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan
konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya pelebaran
ditandai dengan konjungtiva dan sklera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya
sekret mukopurulent. Akibat jangka panjang dari konjuntivitis yang dapat bersifat
kronos yaitu, mikroorganisme, bahan alergen dan iritatif menginfeksi kelenjar air
mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada
konjungtivitis ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan
meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air
mataatau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan
menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan
kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata
sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing.
Pathway
C. Manifestasi Klinis
Gejala subjektif meliputi rasa gatal, kasr ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada
benda asing. Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva, terbentuknya
hipertrofi papilaris, dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda asing
didalam mata. Gejala objektif meliputi hyperemia konjungtiva, epifora (keluar air
mata berlebihan), pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan menutup), tampak
semacam membrane atau pseudomembran akibat koagulasi fibrin.
Adapun manifestasi sesuai klasifikasinya adalah sebagai berikut:
1. Konjungtivitis Alergi
a. Edea berat sampai ringan pada konjungtivitas
b. Rasa seperti terbakar
c. Injekstion vaskuler pada konjungtivitas
d. Air mata sering keluar sendiri
e. Gatal-gatal adalah bentuk konjungtivitas yang paling berat
2. Konjungtivitis Bakteri
a. Pelebaran pembuluh darah
b. Edema konjungtiva sedang
c. Air mata keluar terus
d. Adanya secret atau kotoran pada mata
e. Kerusakan kecil pada epitel kornea mungkin ditemukan
3. Konjungtivitis Viral
a. Fotofobia
b. Rasa seperti ada benda asing didalam mata
c. Keluar air mata banyak
d. Nyeri prorbital
e. Apabila kornea terinfeksi bisa timbul kekeruhan pada kornea
f. Kemerahan konjungtiva
g. Ditemukan sedikit eksudat
4. Konjungtivitis Bakteri hiperakut
a. Infeksi mata menunjukkan secret purulen yang massif
b. Mata merah
c. Iritasi
d. Nyeri palpasi
e. Biasanya terdapat kemosis
f. Mata bengkak dan adenopati preaurikuler yang nyeri
5. Konjungtivitis Blenore
Tanda-tanda blenore adalah sebagai berikut:
a. Ditularkan dari ibu yang menderita penyakit GO
b. Menyebabkan penyebab utama oftalmia neinatorm
c. Memberikan secret purulen padat secret yang kental
d. Terlihat setelah lahir atau masa inkubasi antara 12 jam hingga hari
e. Perdarahan subkonjungtita dan kemotik

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Mata
a. Pemeriksaan tajam penglihatan
b. Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter dan perimeter (sebagai alat
pemeriksaan pandangan).
c. Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya efek
epitel kornea).
d. Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk mengetahui letak adanya
kebocoran kornea).
e. Pemeriksaan oftalmoskop
f. Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat
benda menjadi lebih besar disbanding ukuran normalnya).
2. Therapy Medik
Antibiotic topical, obat tetes steroid untuk alergi (kontra indikasi pada herpes
simplek virus).
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut
di buat sediaan yang dicat dengan pegecatan gram atau giemsa dapat dijumpai
sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada
pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.
Daftar Pustaka
Amadi, A., etal., 2009. Common Ocular Problems in Aba metropolis of Albia State, Easter
Nigeria. Federalmedical center Owerri. Available from
http://docsdrive.com/pdfs/medwelljournals/pjssci/2009/32-35.pdf. (Diakses tanggal
13 April 2018).
Corwin. E.J. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Ed 3. Jakarta: EGC.
Ilyas & S.R Yulianti. 2012. Ilmu Penyakit Mata, Edisi keempat. Jakarta: FKUI.
Ilyas, Sidarta dkk. 2002. Ilmu Penyakit Mata Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia.
Jakarta : CV. Sagung Seto.
Kemenkes RI. 2010. 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009, Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2009. Available from: http://www.Depkes.go.id. (Diakses tanggal 13
April 2013).
Tamsuri, Anas. 2010. Buku Ajar Klien Gangguan Mata dan Penglihatan. Jakarta: EGC.
Yan, D., etal. 2010. Outbreak of Acute Hemorrhagic Conjunctivitis inYunnan, People's
Republic of China, 2007. Virology Journal, Vol.7, China.