Anda di halaman 1dari 9

EKSPLORASI AIR TANAH

A. Definisi Air Tanah

Air merupakan sumberdaya alam yang terbatas me-nurut waktu dan tempat. Pengolahan
dan pelesta-riannya merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan. Airtanah adalah salah satu
sumber air yang karena kualitas dan kuantitasnya cukup potensial untuk dikembangkan guna
memenuhi kebutuhan dasar mahluk hidup.

Air tanah merupakan salah satu komponen dalam peredaran air di bumi yang dikenal
sebagai siklus hidrologi. Dengan demikian airtanah adalah salah satu sumberdaya alam yang
dapat diperbaharui, tetapi hal ini tidak berarti sumberdaya ini dapat dieks-ploitasi tanpa batas.
Eksploitasi airtanah yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap
keseimbangan alam itu sendiri. Pengem-bangan sumber airtanah harus berdasar pada konsep
pengawetan, yaitu memanfaatkan airtanah secara optimal, mencegah pemborosan dengan
menjaga skala prioritas pemakaian dan menjaga kelestarian alam. Air merupakan komponen
yang sangat penting bagi kehidupan di muka bumi. Sirkulasi suplai air di bumi juga disebut
siklus hidrologi. Siklus ini berawal dari sistem energi matahari yang merupakan energi yang
berperan cukup penting bagi siklus hidrologi memancarkan energinya sehingga air yang
berasal dari danau, rawa, sungai maupun dari laut secara tetap mengalami evaporasi menjadi
uap air yang naik ke atmosfer. Angin akan mengangkut uap air pada jarak yang sangat jauh
dan akan berkumpul membentuk awan, setelah mengalami jenuh akan berubah menjadi
butiran-butiran air. Butiran air yang jatuh ke permukaan bumi juga disebut dengan hujan.
Turunnya hujan ke bumi ini mengakhiri siklus hidrologi dan akan dimulai dengan siklus yang
baru.

Air tanah (Groundwater) adalah nama untuk menggambarkan air yang tersimpan di
bawah tanah dalam batuan yang permeabel. Periode penyimpanannya dapat berbeda
waktunya bergantung dari kondisi geologinya (beberapa minggu – tahun). Pergerakan air
tanah dapat muncul ke permukaan, dengan manifestasinya sebagai mata air (spring) atau
sungai (river).

Air tanah adalah air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat didalam ruang antar
butir-butir tanah yang meresap ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan tanah yang
disebut akifer. Lapisan yang mudah dilalui oleh air tanah disebut lapisan permeable, seperti
lapisan yang terdapat pada pasir atau kerikil, sedangkan lapisan yang sulit dilalui air tanah
disebut lapisan impermeable, seperti lapisan lempung atau geluh. Lapisan yang dapat
menangkap dan meloloskan air disebut akuifer.

Air tanah adalah salah satu faset dalam daur hidrologi , yakni suatu peristiwa yang
selalu berulang dari urutan tahap yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan kembali ke
atmosfer; penguapan dari darat atau laut atau air pedalaman, pengembunan membentuk awan,
pencurahan, pelonggokan dalam tanih atau badan air dan penguapan kembali.

Batas lateral dan vertical cekungan airtanah akan menunjukkan geometri cekungan
airtanah. Penentuan agihan lateral dan vertikal akuifer maupun non akuifer menunjukkan
konfigurasi sistem akuifer.
Air Tanah memiliki cakupan yang cukup luas, diantaranya: jenis akuifer, parameter
akuifer yang menunjukkan karakteristik akuifer, maupun pemanfaatan serta kualitasnya.

Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah
permukaan tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya
terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit
dilakukan. Selain air sungai dan air hujan, air tanah juga mempunyai peranan yang sangat
penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk
kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Dibeberapa
daerah, ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%.

Air tanah merupakan salah satu sumber akan kebutuhan air bagi kehidupan makhluk
di muka bumi. Usaha memanfaatkan dan mengembangkan air tanah telah dilakukan sejak
jaman kuno. Dimulai menggunakan timba yang ujungnya diikat pada bambu kemudian
dilengkapi dengan pemberat (sistem pegas), kemudian berkembang dengan menggunakan
teknologi canggih dengan cara mengebor sumur-sumur dalam sampai kedalaman 200 meter.
Dalam usaha untuk mendapatkan susunan mengenai lapisan bumi, kegiatan penyelidikan
melalui permukaan tanah atau bawah tanah haruslah dilakukan, agar bisa diketahui ada atau
tidaknya lapisan pembawa air (akuifer), ketebalan dan kedalamannya serta untuk mengambil
contoh air untuk dianalisis kualitas airnya. Meskipun air tanah tidak dapat secara langsung
diamati melalui permukaan bumi, penyelidikan permukaan tanah merupakan awal
penyelidikan yang cukup penting, paling tidak dapat memberikan suatu gambaran mengenai
lokasi keberadaan air tanah tersebut. Beberapa metode penyelidikan permukaan tanah yang
dapat dilakukan, diantaranya : metode geologi, metode gravitasi, metode magnit, metode
seismik, dan metode geolistrik. Dari metode-metode tersebut, metode geolistrik merupakan
metode yang banyak sekali digunakan dan hasilnya cukup baik merupakan sumberdaya alam
yang terbaharui, namun waktu pengisian kembali (replenishment) sangat relatif, tergantung
pada: ketersediaan air, kondisi permukaan, curah hujan, litologi, konduktivitas hidraulik,
topografi, kedalaman muka air tanah dan pengaruh sifat zona tidak jenuh. Air tanah
tersimpan dalam suatu lapisan batuan yang dapat menyimpan dan meluluskan air yang
disebut sebagai akuifer. Terdapat beberapa macam perlapisan batuan atau formasi geologi
yang dapat berfungsi sebagai akuifer, antara lain: endapan aluvial, batugamping, batuan
vulkanik, dan batupasir. akuifer berdasarkan letak dan kedudukannya terhadap batuan, yang
dibagi menjadi: akuifer tidak tertekan (unconfined aquifer) dan akuifer tertekan (confined
aquifer). Berkaitan dengan geometri dan konfigurasi akuifer. Bahwa penentuan batas lateral
dan vertical cekungan airtanah akan menunjukkan geometri cekungan airtanah. Penentuan
agihan lateral dan vertikal akuifer maupun non akuifer menunjukkan konfigurasi sistem
akuifer. Tinjauan terhadap airtanah memiliki cakupan yang cukup luas, diantaranya: jenis
akuifer, parameter akuifer yang menunjukkan karakteristik akuifer, maupun pemanfaatan
serta kualitasnya. Informasi geologi diantaranya: penampang (cross section) geologi, log
pemboran dan sumur yang dikombinasi dengan informasi hidrogeologi akan menunjukkan
unit hidrostratigrafi cekungan airtanah. Penampang (cross section) geologi dapat
menunjukkan formasi geologi, unit stratigrafi, bidang piezometrik, kandungan kimia air dan
korelasi formasi dari log pemboran dari beberapa sumur.
Cekungan Air Tanah

Boonstra dan Ridder (1981) ; Zeffitni, (2010) menjelaskan bahwa pada suatu
cekungan airtanah mengalami proses hidrologi yang berlangsung secara terus menerus. Proses
pertambahan volume airtanah dalam cekungan melalui proses perkolasi dari air permukaan,
sebaliknya volumenya akan berkurang akibat proses evapotranspirasi, pemunculan sebagai
mataair, serta adanya aliran menuju sungai. Faktor litologi sangat menentukan terhadap
kecepatan proses perkolasi air permukaan. Keterdapatan endapan alluvial merupakan ciri
utama litologi suatu cekungan airtanah. Todd (1980); Zeffitni, (2010) berpendapat bahwa
cekungan air tanah merupakan suatu satuan hidrogeologi yang terdiri dari satu atau beberapa
bagian akuifer yang saling berhubungan membentuk suatu sistem dan dapat berubah akibat
perubahan lingkungan. Hadian dkk., (2006) menambahkan bahwa airtanah merupakan air
inter koneksi secara terbuka pada batuan saturasi di bawah permukaan tanah, baik pada zona
jenuh maupun tidak jenuh. Pada zona jenuh, terdapat sistem air jenuh berupa air bawah tanah.
Sistem ini dipengaruhi oleh kondisi geologi, hidrogeologi, dan gaya tektonik yang
membentuk cekungan airtanah. Pada pendapat lain Gregory dan Walling (1973); Zeffitni
(2010), menjelaskan bahwa cekungan airtanah merupakan suatu area dengan air yang berasal
dari aliran permukaan. Cekungan airtanah merupakan salah satu contoh dari sistem
geomorfologi.

B. Jenis Air Tanah

1. Air Tanah Freatik

Merupakan air tanah dangkal, air tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan
tanah serta berada di atas lapisan kedap air / impermeable. contohnya air sumur yang terletak
di antara air permukaan dan lapisan kedap air (impermeable).

2. Air Tanah Dalam (Artesis)

meruapakan air tanah dalam, terletak di antara lapisan akuifer dengan lapisan batuan
kedap air (akuifer terkekang).

3. Air Tanah Meteorit (Vados)

Merupakan air tanah yang berasal dari proses presipitasi (hujan) dari awan yang
mengalami kondensasi bercampur debu meteorit.

4. Air Tanah Baru (Juvenil)

Merupakan air tanah yang terbentuk dari dalam bumi karena intrusi magma. air tanah
juvenil ditemukan dalam bentuk air panas (geyser).

5. Air Konat

Merupakan air tanah yang terjebak pada lapisan batuan purba sehingga sering
copypaste dari fuat cepat disebut fosil water.
Macam - macam Air Tanah

Menurut Krussman dan Ridder (1970) dalam Utaya (1990:41-42) bahwa macam-macam
akifer sebagai berikut:

· Akifer Bebas (Unconfined Aquifer)

yaitu lapisan lolos air yang hanya sebagian terisi oleh air dan berada di atas lapisan kedap air.
Permukaan tanah pada aquifer ini disebut dengan water table (preatiklevel), yaitu permukaan
air yang mempunyai tekanan hidrostatik sama dengan atmosfer.

· Akuifer terangkat (perched)

merupakan kondisi khusus, dimana ABT pada akuifer ini terpisah dari ABT utama oleh
lapisan yang relatif kedap air dengan penyebaran terbatas, dan terletak di atas muka ABT
utama.

· Akifer Tertekan (Confined Aquifer)

yaitu aquifer yang seluruh jumlahnya air yang dibatasi oleh lapisan kedap air, baik yang di
atas maupun di bawah, serta mempunyai tekanan jenuh lebih besar dari pada tekanan
atmosfer.

· Akifer Semi tertekan (Semi Confined Aquifer)

yaitu aquifer yang seluruhnya jenuh air, dimana bagian atasnya dibatasi oleh lapisan semi
lolos air dibagian bawahnya merupakan lapisan kedap air.

· Akifer Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer)

yaitu aquifer yang bagian bawahnya yang merupakan lapisan kedap air, sedangkan bagian
atasnya merupakan material berbutir halus, sehingga pada lapisan penutupnya masih
memungkinkan adanya gerakan air. Dengan demikian aquifer ini merupakan peralihan antara
aquifer bebas dengan aquifer semi tertekan.

C. Sumber Air Tanah

Asal - Usul Air Tanah dan Sifat Air Tanah

Adalah hal yang mutlak bagi para birokrat pengelola sumber daya air (tanah), untuk
memahami asal-usul (origin) dan sifat-sifat (nature) air tanah, agar tidak terjadi kesalah-
pengertian tentang sumberdaya yang dikelola. Kesalah-pengertian tersebut akan menjadikan
tujuan mewujudkan kemanfaatan air tanah terutama bagi kaum miskin pengelolaan tidak
mencapai sasarannya, bahkan justru akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi
keterdapatan air tanah itu sendiri serta kaum miskin tersebut. Hal-hal pokok yang perlu
dipahami tentang asal-usul dan sifat-sifat air tanah antara lain tentang: Asal air tanah,
Pembentukan air tanah, wadah air tanah, pegaliran dan imbuhan air tanah serta mutu air
tanah.

Asal Air Tanah


Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah dan terletak pada
zona jenuh air. Air tanah berasal dari permukaan tanah, misalkan hujan, sungai, danau. Dan
dari dalam bumi sendiri diamana air tersebut terjadi bersama-sama dengan batuannya,
misalkan pada waktu terjadinya batuan endapan terdapat air yang terjebak oleh batuan
endapan tersebut. Contohnya: air fosil yang biasanya asin air volkanik – panas dan
mengandung sulfur.

Pembentukan Air Tanah

Air tanah adalah semua air yang terdapat di bawah permukaan tanah pada lajur/zona
jenuh air (zone of saturation). Air tanah terbentuk berasal dari air hujan dan air permukan ,
yang meresap (infiltrate) mula-mula ke zona tak jenuh (zone of aeration) dan kemudian
meresap makin dalam (percolate) hingga mencapai zona jenuh air dan menjadi air tanah.

Gambar ABT pada Zona Jenuh

Air tanah adalah salah satu faset dalam daur hidrologi , yakni suatu peristiwa yang
selalu berulang dari urutan tahap yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan kembali ke
atmosfer; penguapan dari darat atau laut atau air pedalaman, pengembunan membentuk awan,
pencurahan, pelonggokan dalam tanih atau badan air dan penguapan kembali (Kamus
Hidrologi, 1987). Dari daur hidrologi tersebut dapat dipahami bahwa air tanah berinteraksi
dengan air permukaan serta komponen-komponen lain yang terlibat dalam daur hidrologi
termasuk bentuk topografi, jenis batuan penutup, penggunaan lahan, tetumbuhan penutup,
serta manusia yang berada di permiukaan. Air tanah dan air permukaan saling berkaitan dan
berinteraksi. Setiap aksi (pemompaan, pencemaran dll) terhadap air tanah akan memberikan
reaksi terhadap air permukaan, demikian sebaliknya.

Wadah Air Tanah

Suatu formasi geologi yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan


melalukan air tanah dalam jumlah berarti ke sumur-sumur atau mata air – mata air disebut
akuifer. Lapisan pasir atau kerikil adalah salah satu formasi geologi yang dapat bertindak
sebagai akuifer. Wadah air tanah yang disebut akuifer tersebut dialasi oleh lapisan lapisan
batuan dengan daya meluluskan air yang rendah, misalnya lempung, dikenal sebagai akuitard.
Lapisan yang sama dapat juga menutupi akuifer, yang menjadikan air tanah dalam akuifer
tersebut di bawah tekanan (confined aquifer). Di beberapa daerah yang sesuai, pengeboran
yang menyadap air tanah tertekan tersebut menjadikan air tanah muncul ke permukaan tanpa
membutuhkan pemompaan. Sementara akuifer tanpa lapisan penutup di atasnya, air tanah di
dalamnya tanpa tekanan (unconfined aquifer), sama dengan tekanan udara luar. Semua
akuifer mempunyai dua sifat yang mendasar: (i) kapasitas menyimpan air tanah dan (ii)
kapasitas mengalirkan air tanah. Namun demikaian sebagai hasil dari keragaman geologinya,
akuifer sangat beragam dalam sifat-sifat hidroliknya (kelulusan dan simpanan) dan volume
tandoannya (ketebalan dan sebaran geografinya). Berdasarkan sifat-sifat tersebut akuifer
dapat mengandung air tanah dalam jumlah yang sangat besar dengan sebaran yang luas
hingga ribuan km2 atau sebaliknya.

Sebaran akuifer serta pengaliran air tanah tidak mengenal batas-batas kewenangan
administratif pemerintahan. Suatu wilayah yang dibatasi oleh batasan-batasan geologis yang
mengandung satu akuifer atau lebih dengan penyebaran luas, disebut cekungan air tanah.
Pengaliran dan Imbuhan Air Tanah

Saat ini di daerah-daerah perkotaan yang pemanfaatan air tanah dalamnya sudah
sangat intensif, seperti di Jakarta, Bandung, Semarang, Denpasar, dan Medan, muka air tanah
dalam (piezometic head) umumnya sudah berada di bawah muka air tanah dangkal (phreatic
head). Akibatnya terjadi perubahan pola imbuhan, yang sebelumnya air tanah dalam
memasok air tanah dangkal (karena piezometic head lebih tinggi dari phreatic head), saat ini
justru sebaliknya air tanah dangkal memasok air tanah dalam.

Jika jumlah total pengambilan air tanah dari suatu sistem akuifer melampaui jumlah
rata-rata imbuhan, maka akan terjadi penurunan muka air tanah secara menerus serta
pengurangan cadangan air tanah dalam akuifer. (Seperti halnya aliran uang tunai ke dalam
tabungan, kalau pengeluaran melebihi pemasukan, maka saldo tabungan akan terus
berkurang). Jika ini hal ini terjadi, maka kondisi demikian disebut pengambilan berlebih (over
exploitation) , dan penambangan air tanah terjadi.

Gerakan Air Tanah

Air yang meresap kedalam tanah akan mengalir mengikuti gaya gravitasi bumi.
Akibat adanya gaya adhesi butiran tanah pada zona tidak jenuh air, menyebabkan poripori
tanah terisi air dan udara dalam jumlah yang berbeda-beda. Setelah hujan, air bergerak
kebawah melalui zona tidak jenuh air. Sejumlah air beredar didalam tanah dan ditahan oleh
gaya-gaya kapiler pada pori-pori yang kecil atau tarikan molekuler di sekeliling partikel-
partikel tanah. Bila kapasitas retensi dari tanah telah habis, air akan bergerak kebawah
kedalam daerah dimana pori-pori tanah atau batuan terisi air. Air di dalam zona jenuh air ini
disebut Air Bawah Tanah. Penambahan volume air akan berhenti seiring dengan berhentinya
hujan. Air yang tersimpan di bawah tanah itu disebut air tanah. Sementara air yang tidak bisa
diserap dan berada di permukaan tanah disebut air permukaan Permukaan air tanah disebut
water table, sementara lapisan tanah yang terisi air tanah disebut zona saturasi air. Permukaan
air tanah disebut water table, sementara lapisan tanah yang terisi air tanah disebut zona
saturasi air. Disamping air tanah bergerak dari atas ke bawah, air tanah juga bergerak dari
bawah ke atas (gaya kapiler). Air bergerak horisontal pada dasarnya mengikuti hukum
hidrolika, air bergerak horisontal karena adanya perbedaan gradien hidrolik. Gerakan air
tanah mengikuti hukum Darcy yang berbunyi “volume air tanah yang melalui batuan
berbanding lurus dengan tekanan dan berbanding terbalik dengan tebal lapisan.

Kondisi Air Tanah Dataran Aluvial

Dataran alluvial merupakan dataran yang terbentuk akibat proses-proses


geomorfologi yang lebih didominasi oleh tenaga eksogen antara lain iklim, curah hujan,
angin, jenis batuan, topografi, suhu, yang semuanya akan mempercepat proses pelapukan dan
erosi. Hasil erosi diendapkan oleh air ketempat yang lebih rendah atau mengikuti aliran
sungai. Dataran alluvial menempati daerah pantai, daerah antar gunung, dan dataran lembah
sungai. daerah alluvial ini tertutup oleh bahan hasil rombakan dari daerah sekitarnya, daerah
hulu ataupun dari daerah yang lebih tinggi letaknya. Potensi air tanah daerah ini ditentukan
oleh jenis dan tekstur batuan.

Volume air tanah dalam dataran alluvial di tentukan oleh tebal dan penyebaran
permeabilitas dari akifer yang terbentuk dalam aluvium dan dilluvium yang mengendap
dalam dataran. Apabila suatu daerah materi penyusunnya atas materi halus (liat/berdebu)
umumnya permeabilitasnya kecil, sedangkan suatu daerah yang tersusun atas pasir dan kerikil
permeabilitasnya besar. Air tanah yang mengendap di dataran banjir ditambah langsung dari
peresapan air susupan. Permukaan air tanahnya dangkal sehingga pengambilan air dapat
dengan sumur dangkal.

Dataran alluvial unsur-unsur yang dominan adalah unsur NO2, NO3, Ca, Mg, Si, dan
Fe. Kelebihan Nitrit karena pengaruh zat buangan (urine), pembusukan organik dari hasil
reduksi nitrat yang ada disekitar air tanah (Karmono dan Joko Cahyo, 1978:11). Hal ini selain
dipengaruhi oleh faktor alam juga sebagai aktivitas manusia misalnya adanya lahan pertanian
yang mengkonsumsi pupuk organik yang mengandung nitrat.

Metode Pencarian Air Tanah

Tiap jenis airtanah memerlukan metode pencarian yang spesifik. Diantaranya adalah:

a. Metode berdasarkan aspek fisika (Hidrogeofisika)

Penekanannya pada aspek fisik yaitu merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Beberapa
metode yang sudah umum kita dengar dalam metode ini adalah pengukuran geolistrik yang
meliputi pengukuran tahanan jenis, induce polarisation (IP) dan lain-lain. Pengukuran lainnya
adalah dengan menggunakan sesimik, gaya berat dan banyak lagi.

b. Metode berdasarkan aspek kimia (Hidrogeokimia)

Penekanannya pada aspek kimia yaitu mencoba merunut pola pergerakan airtanah. Secara
teori ketika air melewati suatu media, maka air ini akan melarutkan komponen yang
dilewatinya. Sebagai contoh air yang telah lama mengalir di bawah permukaan tanah akan
memiliki kandungan mineral yang berasal dari batuan yang dilewatinya secara melimpah.

Munculan Air Bawah Tanah (ABT)

ABT dapat muncul ke permukaan secara alami, seperti mata air, maupun karena budidaya
manusia, lewat sumur bor. Mata air (spring) adalah keluaran terpusat dari ABT yang muncul
di permukaan sebagai suatu aliran air. Mata air dilihat dari penyebab kemunculannya dapat
digolongkan menjadi dua (Bryan vide Tood, 1980), yakni:

• Akibat dari kekuatan non gravitasi

• Akibat dari kekuatan- kekuatan gravitasi

Yang termasuk dalam golongan pertama adalah mata air yang berhubungan dengan rekahan
yang meluas hingga jauh ke dalam kerak bumi. Mata air jenis ininbiasanya berupa mata air
panas.

Mata air gravitasi adalah hasil dari aliran air di bawah tekanan hidrostatik. Secara umum
jenis-jenisnya dikenal sebagai berikut:

• Mata air depresi (depression springs) terbentuk karena permukaan tanah

memotong muka ABT.


• Mata air sentuh (countact springs) terbentuk karena lapisan yang lulus air yang dialasi oleh
lapisan yang relatif kedap air teriris oleh muka tanah.

• Mata air artesis (artesian springs) terbentuk oleh pelepasan air di bawah tekanan dari akuifer
tertekan pada singkapan akuifer atau melalui bukaan dari lapisan penutup.

• Mata air pipaan atau rekahan (tubular of fracture springs) muncul dari saluran, seperti
lubang pada lava atau saluran pelarutan, atau muncul dari rekahan-rekahan batuan padu yang
berhubungan dengan ABT.

D. Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Air Tanah

Sifat fisika dan komposisi kimia air tanah yang menentukan mutu air tanah secara
alami sangat dipengaruhi oleh jenis litologi penyusun akuifer, jenis tanah/batuan yang dilalui
air tanah, serta jenis air asal air tanah. Mutu tersebut akan berubah manakala terjadi intervensi
manusia terhadap air tanah, seperti pengambilan air tanah yang berlebihan, pembuangan
libah, dll.

Air tanah dangkal rawan (vulnerable) terhadap pencemaran dari zat-zat pencemar dari
permukaan. Namun karena tanah/batuan bersifat melemahkan zat-zat pencemar, maka tingkat
pencemaran terhadap air tanah dangkal sangat tergantung dari kedudukan akuifer, besaran
dan jenis zat pencemar, serta jenis tanah/batuan di zona takjenuh, serta batuan penyusun
akuifer itu sendiri. Mengingat perubahan pola imbuhan, maka air tanah dalam di daerah-
daerah perkotaan yang telah intensif pemanfaatan air tanahnya, menjadi sangat rawan
pencemaran, apabila air tanah dangkalnya di daerah-daerah tersebut sudah tercemar. Air tanah
yang tercemar adalah pembawa bibit-bibit penyakit yang berasal dari air (water born
diseases).

a. Faktor alami

Artinya, bahwa unsur-unsur kimia yang ada dalam air tanahterjadi karena adanya
interaksi antara air tanah yang bersifat pelarut unsur kimia yang ada dalam batuan penyimpan
air tanah (akuifer).

Faktor alami yang laian adalah keadaan lingkungan terbentuknya akuifer, misalnya
pada dearah lingkungan pantai cenderung akan menghasilkan kandungan ion klorida yang
lebih besar dibandingkan di daerah yang jauh dari pantai.

Faktor lain adalah masuknya unsur-unsur kimia sejak awal ketika berupa air hujan.
Air hujan banyak meangkap terutama unsur oksigen, karbon, hydrogen, nitrogen klorida,
menjadi air tanah bereaksi dengan batuan permukaan membentuk terutama unsure kalsium,
natrium, magnesium, bikarbonat, sulfat dan klorit.

b. Faktor non alami

Artinya bahwa masuknya unsur kimia tertentu kedalam air tanah disebabkan karena
ada kaitannya demgan kegiatan manusia, misalnya pada daerah-daerah pertanian yang sering
menggunakan pupuk atau pestisida dengan kadar tinggi kemungkinan dapat mencemari air
tanahnya. Pupuk umumnya mengandung unsur utama berupa nitrogen, fosfor dan kalium,
sedangkan pestisida antara lian mengandung diasenon, endrin, linden, metoksiktor, tosapen,
propasin, dll. Disamping kegiatan untuk pertanian, kegiatan industry dan rumah tangga dapat
memperburuk kualitas air tanah. Limbah industri umumnya menghasilkan logam-logam berat
yang sangat berbahaya bagi manusia walaupun dalam jumlah yan sedikit.

E. Faktor Yang Mempengaruhi Kuantitas Air Tanah

· Struktur tanah merupakan tatanan (susunan) partikel-partikel tanah menjadi agregat


yang lebih besar. Rongga di antara agregat-agregat ini menyediakan ruang bagi pergerakan air
drainage, aerasi tanah, dan pertumbuhan akar tanaman. Hal ini sangat penting pada tanah-
tanah berat dengan partikel tanah yang halus ukurannya.

· Komposisi tanah : komposisi tanah terdiri dari empat komponen utama yaitu: bahan
mineral, bahan organik, udara dan air tanah. keberadaan air dan udara sangat penting bagi
pertumbuhan tanaman dan mikroba tanah. perbandingan air dan udara tidak selalu sama dapat
berubah sesuai dengan kondisi cuaca dan faktor lingkungan lainnya.

· Tekstur Tanah: Semakin halus ukuran partikel tanah , semaki besar luas permukaannya,
dan dengan demikian semakin besar pula jumlah air yang dapat ditahannya. Hal ini
mengakibatkan semakin besarnya kapasitas simpanan lengas tersedia.

· Bahan organic dapat meningkatkan kapasitas simpanan lengas tanah, terutama melalui
perbaikan kondisi fisika tanah.

· Lapisan cadas (Hardpans) semacam lapisan yang kompak dan keras yang disebabkan
oleh proses-proses fisika dan kimia dan membatasi drainage tanah. Ha ini menghasilkan
kondisi sepeeti pada tanah yang strukturnya jelek.

· Kandungan garam dalam tanah dapat membatasi kemampuan tanaman menyerap air
dari larutan tanah.