Anda di halaman 1dari 80

PEMERIKSAAN IMUNOHISTOKIMIA CD 10 DIBANDINGKAN

DENGAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS HISTOPATOLOGI


KONVENSIONAL DALAM MENILAI JENIS KISTA COKLAT
OVARIUM DI LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI
FAKULTAS KEDOKTERAN USU MEDAN

TESIS

JESSY CHRESTELLA
117041119

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2012

Universitas Sumatera Utara


PEMERIKSAAN IMUNOHISTOKIMIA CD 10 DIBANDINGKAN
DENGAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS HISTOPATOLOGI
KONVENSIONAL DALAM MENILAI JENIS KISTA COKLAT
OVARIUM DI LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI
FAKULTAS KEDOKTERAN USU MEDAN

TESIS

JESSY CHRESTELLA
117041119

Diajukan untuk melengkapi persyaratan dalam mencapai


keahlian dibidang Magister Kedokteran Klinik
pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2012

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
PERNYATAAN

Pemeriksaan Imunohistokimia CD 10 Dibandingkan


Dengan Pemeriksaan Mikroskopis Histopatologi
Konvensional Dalam Menilai Jenis Kista Coklat
Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran USU Medan

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan

tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau

pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang

secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 23 Juli 2012

Jessy Chrestella

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, berkat kasih dan karunia-Nya penulisan tesis ini dapat
diselesaikan. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus
dilaksanakan dalam rangka memenuhi persyaratan menyelesaikan
jenjang pendidikan Strata dua (S2) pada Program Pendidikan Magister
Kedokteran Klinik di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih
jauh dari sempurna, namun demikian besar harapan penulis kiranya
tulisan sederhana ini dapat bermanfaat dalam menambah
perbendaharaan bacaan khususnya tentang :

Pemeriksaan Imunohistokimia CD 10 Dibandingkan Dengan


Pemeriksaan Mikroskopis Histopatologi Konvensional Dalam Menilai
Jenis Kista Coklat Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran USU Medan

Dengan selesainya laporan penelitian ini, perkenankan penulis


menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepada yang terhormat :

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. DR. Dr. Syahril Pasaribu,


DTM&H, Sp.A(K) dan seluruh jajarannya yang telah memberi
kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan pada
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di Departemen
Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr.
Gontar A. Siregar, SpPD(KGEH) atas kesempatan dan fasilitas yang
diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pada
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di Departemen
Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

i
Universitas Sumatera Utara
3. Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik Universitas Sumatera
Utara, Prof. DR. Dr. Chairuddin P. Lubis, Sp.A(K) atas kesempatan
dan fasilitas yang diberikan kepada Penulis untuk mengikuti dan
menyelesaikan Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di Departemen
Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4. Dr. H. Soekimin, Sp PA (Pembimbing I) dan Dr. H. Joko S. Lukito,
Sp.PA (Pembimbing II), yang dengan penuh perhatian dan kesabaran
telah mengorbankan waktu untuk memberikan dorongan, bimbingan,
semangat, bantuan serta saran-saran yang bermanfaat kepada
Penulis, mulai dari persiapan penelitian sampai pada penyelesaian
tesis ini.
5. Ketua Departemen Patologi Anatomi FK USU; Dr. T. Ibnu Alferraly,
Sp.PA, dan seluruh Staf Pengajar Departemen Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bantuan dan
dukungannya dalam penyelesaian tesis ini.
6. Ibu Maya Fitria, SKM, M.Kes selaku pembimbing statistik yang telah
dengan sabar memberikan bimbingan dalam penyusunan tesis ini.
7. Terima kasih kepada teman sejawat dan para senior, pegawai dan
analis di lingkungan Departemen Patologi Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas kerja sama dan saling
pengertian yang diberikan sehingga penulis dapat sampai pada akhir
program pendidikan ini.
8. Persembahan terima kasih yang tulus, rasa hormat dan sembah sujud
kepada ayahanda dan ibunda tercinta (Bpk. Riady dan Ibu Elisabeth
Tan) yang telah membesarkan, membimbing dan mendidik penulis
dengan penuh kasih sayang dari masa kecil hingga kini. Dengan jasa
mereka inilah Penulis dapat menjalani pendidikan Magister
Kedokteran Klinik.
9. Persembahan terima kasih yang tulus, rasa hormat dan sembah sujud
kepada ibunda mertua Dr. Endang Haryanti Gani, SpPar.K, yang telah
banyak membantu dan memberi dorongan semangat kepada penulis,

ii

Universitas Sumatera Utara


memberi contoh yang baik dalam menjalani hidup serta motivasi
selama mengikuti pendidikan ini.
10. Buat suamiku yang tercinta Dr. Wahyudi Gani, SpOG dan anak-
anakku yang tercinta, Samuel Joe Anderson Gani, Grace Abigail Gani
dan Nathan Azriel Gani, tiada kata yang terindah yang dapat saya
ucapkan selain puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas
kehadiran kalian berempat dalam hidup saya dan terima kasih yang
sebesar-besarnya atas pengertian, kesabaran, dorongan semangat,
pengorbanan dan doa yang diberikan kepada saya hingga dapat
sampai pada akhir masa pendidikan ini.

Akhirnya, Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih perlu mendapat


koreksi dan masukan untuk kesempurnaan. Oleh karena itu Penulis
berharap adanya kritik dan saran untuk penyempurnaan tulisan ini.
Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Juli 2012


Penulis

Jessy Chrestella

iii

Universitas Sumatera Utara


Pemeriksaan Imunohistokimia CD 10 Dibandingkan Dengan
Pemeriksaan Mikroskopis Histopatologi Konvensional Dalam Menilai
Jenis Kista Coklat Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran USU Medan

Jessy Chrestella
Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara Medan

ABSTRAK

Latar belakang : Dalam penegakan diagnosis histopatologi kista coklat atau


endometriosis pada ovarium, tidak jarang ditemukan adanya
diskrepansi antara klinis dengan patologi. Kista lutein berdarah yang
secara klinis mirip dengan kista endometriosis juga sering disalah
diagnosis sehingga penanganan kista-kista tersebut menjadi tidak
optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan
pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan histopatologi
konvensional dalam membedakan kista endometriosis dengan kista
lutein berdarah.

Metode : Terhadap 44 kasus sediaan kista ovarium yang telah didiagnosis


awal dengan pemeriksaan histopatologi konvensional H&E, masing-
masing 22 spesimen kista endometriosis dan 22 kista lutein berdarah,
dilakukan pemeriksaan imunohistokimia CD 10 untuk melihat adanya
ekspresi positif pada sel-sel stroma endometrium.

Hasil : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dibandingkan dengan


pemeriksaan histopatologi konvensional untuk menilai kista
endometriosis ovarium memiliki sensitivitas sebesar 72,27% dan
spesifisitas sebesar 77,27%. Secara statistik terdapat perbedaan
yang bermakna antara pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan
histopatologi konvensional (p= 0,001).

Kesimpulan : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 bermanfaat dalam


penegakan diagnosis kista endometriosis yang akurat dan
membedakannya dengan kista lutein berdarah.

Kata kunci : kista coklat, endometrioma, endometriosis, kista lutein


berdarah, ovarium, imunohistokimia, CD 10, histopatologi.

iv

Universitas Sumatera Utara


CD 10 Immunostaining Versus Conventional Histopathology In
Assessing Ovarian Chocolate Cysts At Anatomical Pathology
Laboratory University of North Sumatera Medan

Jessy Chrestella
Department of Anatomical Pathology, Faculty of Medicine,
University of North Sumatera, Medan

ABSTRACT

Background : Because endometriotic ovarian cysts and hemorrhagic corpus


luteum cysts both contain blood products, they commonly have an
overlapping appearance. Hence, it’s not uncommon to find
discrepancies between clinical and pathological diagnosis, resulting in
over or under treatment of the cysts. The purpose of this study were to
investigate CD10 immunoreactivity compared to conventional routine
histopathology in differentiating endometriotic cysts from hemorrhagic
corpus luteum cysts.

Methods : Formalin-fixed and paraffin-embedded tissues from 44


hemorrhagic cysts of the ovary were included in this study. Among
them are 22 cases of endometriotic cysts and another 22 cases of
corpus luteum cysts. They were retrieved by hematoxylin-eosin
examination in the initial pathologic diagnosis and were evaluated by
immunohistocemistry with CD 10 antibody.

Results : CD 10 immunohistochemistry were found to have improved


diagnostic sensitivity for endometriosis in the ovary by 72,27% with
specificity about 77,27% if compared to conventional routine
histopathology findings in assessing chocolate cysts of the ovaries.
Statistically, there are significant difference between them (p value =
0,001).

Conclusions : CD10 immunostaining may play a useful role in assessing


the differential diagnosis between endometriotic ovarian cysts and
hemorrhagic corpus luteum cysts.

Key words : chocolate cyst, endometriosis, endometriotic cyst, corpus


luteum cyst, hemorrhagic cyst, ovary, immunohistochemistry, CD 10,
histopathology.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR……………………………………...…………….………… i
ABSTRAK……………………………………...……………...…………………… iv
DAFTAR ISI…………………………………………………...…………………… vi
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………….. viii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………….. viii
DAFTAR SINGKATAN………………………………………………..………….. ix

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian…………………………………………….... 1
1.2. Identifikasi Masalah.……………………………………………………. 4
1.3. Tujuan Penelitian……………………………………………………….. 6
1.3.1. Tujuan Umum……………………………………………………... 6
1.3.2. Tujuan Khusus……………………………………………………. 6
1.4. Hipotesis………………………………………………………………… 7
1.5. Manfaat Penelitian…………………………………………………….. 7

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Endometriosis……...………………………………………………….…. 9
2.1.1. Definisi……………………………..….…………………………… 9
2.1.2. Patogenesis…………………………….…………………………. 9
2.1.3. Epidemiologi…………………………….…………………………. 12
2.1.4. Patologi Endometriosis………..……….…………………………. 13
2.1.5. Neoplasma Yang Berasal Dari Endometriosis…..…..…………. 16
2.1.6. Endometriosis dan Infertilitas………….…………………………. 19
2.2. Kista Ovarium Hemoragis....................…………….………………...... 21
2.2.1. Kista korpus luteum.................…………….………………......... 22
2.3. CD 10……………………………………………………………………… 23
2.3.1. Diagnosis stroma endometrium………….……….…………..... 28
2.4. Kerangka Konsepsional………………………………………………... 34

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………. 35

vi

Universitas Sumatera Utara


3.1.1. Tempat penelitian………………………………………………… 35
3.1.2. Waktu penelitian…………………………………………………. 35
3.2. Rancangan Penelitian………………………………………………….. 35
3.3. Kerangka Operasional………………………………………………….. 36
3.4. Populasi, Sampel, dan Besar Sampel Penelitian……………………. 37
3.4.1. Populasi…………………………………………………………… 37
3.4.2. Sampel……………………………………………………………. 37
3.4.3. Besar sampel penelitian………………………………………… 37
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi……………………………………………. 39
3.5.1. Kriteria inklusi…………………………………………………….. 39
3.5.2. Kriteria eksklusi…………………………………………………… 39
3.6. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional………………………… 39
3.6.1. Variabel penelitian……………………………………………….. 39
3.6.2. Definisi operasional variabel……………………………………. 40
3.7. Prosedur dan Teknik Penelitian……………………………………….. 41
3.7.1. Pembuatan sediaan mikroskopis………………………………. 41
3.7.2. Prosedur kerja..………………… ………………………………. 42
3.8. Alat dan Bahan Penelitian……………………………………………… 43
3.8.1. Alat-alat penelitian…………………………………….…………. 43
3.8.2. Bahan penelitian………………………………………….……… 43
3.9. Instrumen Penelitian……………………………………………..……... 44
3.10. Analisis Data…………………………………………………..….…..... 45

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil Penelitian………………………………………………………….. 46
4.2. Pembahasan…………………………………………………………….. 49

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan……………………………………………..……………….. 52
5.2. Saran……………………………………………………………….…….. 53

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………. 54

LAMPIRAN…………..……………………………………………………………. 59

vii

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1. Intensitas tampilan imunohistokimia CD 10 pada
kista endometriosis dan kista lutein berdarah ………………..……. 45
Tabel 4.1. Distribusi umur dari seluruh sampel kista ovarium yang
digunakan dalam penelitian.…………………………………………. 46
Tabel 4.2. Distribusi jenis kista berdarah ovarium berdasarkan pemeriksaan
konvensional hematoksilin-eosin dan pewarnaan imunohistokimia
CD 10..………………………………………………………..…………. 47
Tabel 4.3. Pengukuran sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan histopatologi
konvensional kista endometriosis dan kista lutein berdarah
terhadap pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan uji
Chi-square………………………………………………………………. 48

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Pewarnaan H&E dan IHK CD 10 terhadap biopsi


dengan sangkaan endometriosis ……………………………...… 30

viii

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR SINGKATAN

COX2 Cyclooxygenase 2
GnRH Gonadotropin Releasing Hormone
HE Hematoksilin Eosin
IHC immunohistochemistry
IHK imunohistokimia
IL Interleukin
TNF Tumor Necrosis Factor
USG Ultrasonography

ix

Universitas Sumatera Utara


Pemeriksaan Imunohistokimia CD 10 Dibandingkan Dengan
Pemeriksaan Mikroskopis Histopatologi Konvensional Dalam Menilai
Jenis Kista Coklat Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran USU Medan

Jessy Chrestella
Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara Medan

ABSTRAK

Latar belakang : Dalam penegakan diagnosis histopatologi kista coklat atau


endometriosis pada ovarium, tidak jarang ditemukan adanya
diskrepansi antara klinis dengan patologi. Kista lutein berdarah yang
secara klinis mirip dengan kista endometriosis juga sering disalah
diagnosis sehingga penanganan kista-kista tersebut menjadi tidak
optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan
pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan histopatologi
konvensional dalam membedakan kista endometriosis dengan kista
lutein berdarah.

Metode : Terhadap 44 kasus sediaan kista ovarium yang telah didiagnosis


awal dengan pemeriksaan histopatologi konvensional H&E, masing-
masing 22 spesimen kista endometriosis dan 22 kista lutein berdarah,
dilakukan pemeriksaan imunohistokimia CD 10 untuk melihat adanya
ekspresi positif pada sel-sel stroma endometrium.

Hasil : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dibandingkan dengan


pemeriksaan histopatologi konvensional untuk menilai kista
endometriosis ovarium memiliki sensitivitas sebesar 72,27% dan
spesifisitas sebesar 77,27%. Secara statistik terdapat perbedaan
yang bermakna antara pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan
histopatologi konvensional (p= 0,001).

Kesimpulan : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 bermanfaat dalam


penegakan diagnosis kista endometriosis yang akurat dan
membedakannya dengan kista lutein berdarah.

Kata kunci : kista coklat, endometrioma, endometriosis, kista lutein


berdarah, ovarium, imunohistokimia, CD 10, histopatologi.

iv

Universitas Sumatera Utara


CD 10 Immunostaining Versus Conventional Histopathology In
Assessing Ovarian Chocolate Cysts At Anatomical Pathology
Laboratory University of North Sumatera Medan

Jessy Chrestella
Department of Anatomical Pathology, Faculty of Medicine,
University of North Sumatera, Medan

ABSTRACT

Background : Because endometriotic ovarian cysts and hemorrhagic corpus


luteum cysts both contain blood products, they commonly have an
overlapping appearance. Hence, it’s not uncommon to find
discrepancies between clinical and pathological diagnosis, resulting in
over or under treatment of the cysts. The purpose of this study were to
investigate CD10 immunoreactivity compared to conventional routine
histopathology in differentiating endometriotic cysts from hemorrhagic
corpus luteum cysts.

Methods : Formalin-fixed and paraffin-embedded tissues from 44


hemorrhagic cysts of the ovary were included in this study. Among
them are 22 cases of endometriotic cysts and another 22 cases of
corpus luteum cysts. They were retrieved by hematoxylin-eosin
examination in the initial pathologic diagnosis and were evaluated by
immunohistocemistry with CD 10 antibody.

Results : CD 10 immunohistochemistry were found to have improved


diagnostic sensitivity for endometriosis in the ovary by 72,27% with
specificity about 77,27% if compared to conventional routine
histopathology findings in assessing chocolate cysts of the ovaries.
Statistically, there are significant difference between them (p value =
0,001).

Conclusions : CD10 immunostaining may play a useful role in assessing


the differential diagnosis between endometriotic ovarian cysts and
hemorrhagic corpus luteum cysts.

Key words : chocolate cyst, endometriosis, endometriotic cyst, corpus


luteum cyst, hemorrhagic cyst, ovary, immunohistochemistry, CD 10,
histopathology.

Universitas Sumatera Utara


1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Kista coklat ovarium adalah salah satu entitas atau jenis kista ovarium

yang paling sering ditemukan para klinisi dalam bidang obstetri dan

ginekologi. Salah satu dari kista coklat yang paling memberikan dampak

klinis adalah kista endometriosis atau sering disebut endometrioma.

Prevalensi endometriosis pada ovarium masih belum pasti diketahui.

Namun kasus endometriosis sendiri dikatakan sering terjadi pada sekitar

5–15% wanita usia reproduktif pada populasi umum.

Data penderita endometriosis di Indonesia yang diambil dari beberapa

rumah sakit pemerintah adalah sebagai berikut : di RSUD dr. Muwardi

Surakarta angka kejadian endometriosis pada temuan bedah ginekologis

tahun 2000 menurut Danujo berkisar antara 13,6%; di RSUD dr. Sutomo

Surabaya angka kejadian endometriosis tahun 1987-1991 sebesar

23,8% dan meningkat menjadi 37,2% pada tahun 1992-1993; dan di

RSUP dr. Cipto Mangunkusumo menurut Yacob (1998) angka kejadian

endometriosis berkisar 69,5%.1

Endometriosis selain dapat menyebabkan nyeri pelvis kronis atau

dysmenorrhea, ia sering juga menyebabkan infertilitas. Selain daripada

itu, sering kasus neoplasma ganas pada ovarium maupun ekstraovarium


2,3
berawal dan berkembang dari lesi endometriosis itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara


2

Seringkali tindakan operasi untuk penanganan kista endometriosis

dianggap tidak cukup, bahkan diperlukan terapi medikamentosa yang

memakan waktu cukup lama sehingga menyebabkan biaya yang

dibutuhkan seringkali tidak murah. Juga adanya efek samping dari obat-
3
obatan yang tersedia untuk terapi kista endometriosis.

Tampilannya yang khas secara ultrasonografi dan tampilan makroskopik

saat operasi sering kali begitu khas sehingga klinisi sering menjadi

sangat yakin akan diagnosis kista endometriosis ini. Padahal kista coklat

ovarium dalam terminologi histopatologi bukanlah semata hanya kista

endometriosis. Kita masih mengenal jenis - jenis kista coklat lainnya

seperti kista lutein berdarah dan kista hemoragis lainnya. 2,3

Tampilan mikroskopik histopatologi kista coklat ini sebenarnya cukup

khas untuk bisa menegakkan jenis dari kista coklat tersebut. Seperti

contoh, untuk menegakkan diagnosis kista endometriosis atau

endometrioma, diperlukan kriteria identifikasi kelenjar dan stroma

endometrium ektopik di dalam ovarium. Namun sering sekali terjadi,

dalam sebuah specimen histopatologi, gambaran kelenjar maupun

stroma endometriosis tidaklah begitu spesifik. Begitu juga halnya dengan

jenis kista ovarium hemoragis lainnya yang memberikan gambaran yang

mirip dengan endometrioma. Pemeriksaan histopatologi rutin

konvensional ini sering memberikan hasil negatif palsu atau positif palsu.

Karena terapi dari kondisi di atas sangat berbeda, maka penting sekali

untuk dapat mengkonfirmasi diagnosis endometriosis sehingga

Universitas Sumatera Utara


3

diperlukan metode yang lebih baik dan objektif dalam penegakan

diagnosis endometriosis.4

Beberapa tahun belakangan ini, dunia telah melihat penggunaan marker

antibodi-antibodi yang sangat luas dan bervariasi dalam pemeriksaan

imunologi terutama dalam patologi ginekologi. Kebanyakan

penggunaannya berhubungan dengan diagnosis kasus-kasus

neoplasma ginekologi dan tidak jarang untuk menilai prognosis dan

nilai prediktif.5

Perkembangan imunohistokimia membuka celah ketajaman diagnostik

baru untuk kasus-kasus endometriosis, dimana menurut beberapa

penelitian, sel-sel stroma endometrium akan menampilkan ekspresi

positif terhadap CD 10.

Chu dan Arber (2000) dalam penelitian mereka menyebutkan bahwa

CD10 tertampil positif kuat pada 100% kasus sarkoma stroma

endometrium, dan 89% dari 46 kasus karsinoma sel renal.6

Dengan pewarnaan imunohistokimia CD 10, sel-sel endometrium akan

memberikan respon positif untuk pewarnaan ini. Kista endometriosis

haruslah terwarnai positif karena secara per definisi harus mengandung

sel-sel stroma endometrium, sedangkan kista-kista coklat lainnya

tentunya harus memberikan pewarnaan imunohistokimia yang negatif.

Untuk itulah penulis tertarik untuk apakah penilaian mikroskopik

konvensional terhadap kista coklat dapat sebanding dengan pengujian

imunohistokimia CD 10.

Universitas Sumatera Utara


4

Bila ternyata pembacaan mikroskopik dapat menunjukkan sensitifitas

yang cukup baik, maka pewarnaan imunohistokimia tidak diperlukan

untuk menegakkan jenis kista coklat. Namun bila ternyata pembacaan

mikroskopik konvensional terpaut jauh sensitifitasnya dengan

pemeriksaan imunohistokimia, maka seyogyanya setiap pemeriksaan

preparat kista coklat harus diteruskan dengan pemeriksaan

imunohistokimia CD 10 sehingga penegakan diagnosis histopatologi

dapat benar benar mendukung kerja para klinisi dan memberikan

pelayanan pasien yang terbaik pada akhirnya.

Peneliti juga berkeinginan untuk mengevaluasi hasil pemeriksaan

histopatologi konvensional terhadap kista endometriosis dan kista lutein

berdarah dengan membandingkannya terhadap hasil pemeriksaan

ekspresi CD 10 secara imunohistokimia pada berbagai spektrum kista

coklat ovarium. Diharapkan dengan adanya penelitian ini, diagnosis kista

berdarah pada ovarium akan menjadi lebih akurat, jelas dan memberi

dampak pada usaha kuratif dan tata laksana lanjutan bagi penderita

endometriosis.

1.2. Identifikasi Masalah

Banyak kasus endometriosis menyebabkan masalah infertilitas pada

wanita usia reproduktif umumnya dan nyeri pelvis kronis khususnya.

Bahkan menurut beberapa penelitian, lesi endometriosis juga dikatakan

sering berkembang menjadi kasus neoplasma ganas pada ovarium

Universitas Sumatera Utara


5

maupun ekstraovarium. Hal ini mengakibatkan penyakit endometriosis

khususnya pada ovarium membutuhkan diagnosis yang akurat.

Pada laboratorium kami, sering dijumpai diskrepansi antara diagnosis

histopatologi kista berdarah dengan diagnosis klinis. Klinisi sering sekali

merasa cukup yakin akan temuan mereka terhadap kista endometriosis

dengan bantuan USG dan juga pada saat durante operasi. Padahal

selain kista endometriosis, kista berdarah ovarium lainnya seperti kista

lutein berdarah sering memberikan gambaran perdarahan yang cukup

masif dan mengaburkan diagnosis.

Untuk menegakkan diagnosis kista endometriosis, diperlukan kriteria

identifikasi kelenjar dan stroma endometrium ektopik pada ovarium.

Namun terkadang, kelenjar-kelenjar endometrium tidak begitu jelas

terlihat pada sediaan histopatologi, dan stroma endometrium kadang

tampak seperti stroma ovarium normal. Ditambah lagi massa perdarahan

yang disertai makrofag hemosiderin-laden dapat dijumpai pada kedua

jenis kista ini, menyebabkan diagnosis kista endometriosis bisa positif

palsu atau negatif palsu.

Hal ini berefek pada pengobatan kista endometriosis dimana tata

laksana yang diberikan terhadapnya sangat kompleks karena seringkali

tindakan operasi saja dianggap tidak cukup. Endometriosis bahkan

perlu diterapi medikamentosa dalam waktu cukup lama sehingga

menyebabkan biaya yang dibutuhkan seringkali tidak murah. Sedangkan

kista lutein berdarah, setelah dilakukan pengangkatan kista, tidak perlu

Universitas Sumatera Utara


6

lagi diberikan pengobatan lanjutan. Karena terapi dari kondisi diatas

berbeda, untuk itulah dalam penegakan diagnosis histopatologi kista

berdarah ovarium, diperlukan diagnosis yang akurat.

Maka dengan itu, penting sekali untuk bisa mengkonfirmasi diagnosis

endometriosis yang ditegakkan dengan pemeriksaan sampel biopsi yang

diwarnai dengan HE. Metode yang paling objektif adalah dengan

menandai atau memberi marker terhadap stroma endometrium yang

telah terbukti menurut literatur dapat memberikan ekspresi positif

terhadap antibodi CD 10. Sedangkan kista berdarah yang tidak

mengandung stroma endometrium (seperti kista lutein berdarah) tidak

akan memberikan ekspresi terhadap CD 10.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui peranan imunohistokimia CD 10 dalam menentukan

jenis kista endometriosis ovarium atau kista berdarah lainnya.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Melihat gambaran karakteristik penderita lesi kista berdarah

ovarium khususnya kista endometriosis ovarium dan kista lutein

berdarah.

2. Mengevaluasi kembali diagnosis kista endometriosis dan kista

lutein berdarah menurut pemeriksaan histopatologi

konvensional.

Universitas Sumatera Utara


7

3. Melihat perbandingan antara positivitas imunoekspresi CD 10

dengan diagnosis kista endometriosis berdasarkan histopatologi

Hematoksilin Eosin konvensional.

1.4. Hipotesis

Hipotesis kami adalah bahwa pemeriksaan imunohistokimia CD10

dapat meningkatkan sensitivitas dari penegakan diagnosis

endometriosis secara histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin-

Eosin dengan mempertajam identifikasi sel stroma endometrium

ektopik. Untuk menguji kemungkinan ini, maka kami membandingkan

efikasi diagnostik dengan perwarnaan HE dengan atau tanpa bantuan

pewarnaan imunohistokimia CD10 pada sampel biopsi surgikal kasus

endometriosis.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sarana indikator untuk

mendiagnosis secara akurat lesi-lesi kista endometriosis ovarium dan

menurunkan angka misdiagnosis/overdiagnosis kista ovarium berdarah

lainnya.

2. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan pemahaman ahli Patologi

Anatomi akan peran imunohistokimia secara umum dan

imunohistokimia CD 10 secara khusus dalam mengevaluasi dan

membantu penegakan diagnostik kista coklat endometriosis dapat

menjadi lebih baik.

Universitas Sumatera Utara


8

3. Pemahaman akan peranan antibodi CD 10 dalam menegakkan

diagnosis kista coklat endometriosis diharapkan akan memberikan

sumbangsih dalam usaha penanganan lanjut terhadap endometriosis

dan pencegahan kista endometriosis berkembang menjadi lesi

neoplasma traktus genitalia wanita lainnya.

Universitas Sumatera Utara


9

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Endometriosis

2.1.1. Definisi

Endometriosis, yang pertama kali dilaporkan oleh Sampson tahun

1921, adalah kondisi dimana endometrium atau jaringan menyerupai

endometrium tumbuh di area di luar endometrium. Penyakit ini sering

dijumpai di area pelvis namun dapat muncul pada area selain uterus

atau ovarium. Keadaan ini disebut endometriosis ektopik.7,8

2.1.2. Patogenesis

Hingga kini, patogenesis endometriosis masih belum jelas.

Diperkirakan endometriosis ovarium muncul akibat proses invaginasi

dan metaplasia coelomic dari pelapis epitel ovarium atau dapat terjadi

akibat implantasi langsung jaringan endometrium ke dalam kista folikel

atau kista luteum. Mekanisme lain yang diperkirakan menjadi

penyebab endometriosis peritoneum dan endometriosis pada ovarium

adalah perubahan mekanisme apoptosis sehingga terbentuklah

implantasi endometrium.8

Terdapat empat teori yang berusaha untuk menjelaskan terjadinya lesi

endometriosis.9.10

1. Teori regurgitasi dimana diperkirakan aliran darah menstruasi

mengalir ke arah berlawanan yaitu mengarah ke tuba falopi

Universitas Sumatera Utara


10

sehingga menghasilkan tumpahan dan implantasi sel endometrium

yang masih hidup ke dalam rongga abdomen atau pelvis. Namun

demikian, teori ini tidak bisa menjelaskan endometriosis yang

tumbuh di dalam kelenjar limfe, otot skeletal atau paru-paru.9

2. Teori metaplasia dimana terjadi proses diferensiasi epitel coelomic

(mesothel pada pelvis atau abdomen) dimana pembentukan

duktus mullerian dan endometrium bermula pada saat

perkembangan embrio. Teori ini juga tidak bisa menjelaskan

terjadinya proses endometriosis di organ seperti paru-paru dan

kelenjar limfe.9,10

3. Teori diseminasi vaskular atau limfatik yang dianggap bisa

menjelaskan implantasi ekstrapelvis atau implantasi intra nodal.9

4. Teori metastasis dimana jaringan endometrium mengadakan

implantasi di cavum peritoneal akibat menstruasi retrograde

ataupun pada mukosa serviks oleh karena prosedur bedah. Dalam

hal ini, penyebaran endometriosis ke tempat-tempat yang jauh

adalah melalui ‘metastasis’ hematogen dan limfogen. Istilah

metastasis disini hanya menunjukkan adanya jaringan

endometrium yang menyebar ke tempat lain, namun tidak

menunjukkan mekanisme yang sama dengan metastasis

keganasan.10

Dari kesemua teori di atas, teori yang paling diterima dan menjadi

jawaban bagi banyak kasus endometriosis adalah teori metastasis.

Universitas Sumatera Utara


11

Namun teori ini juga mempunyai kelemahan dimana ia tak dapat

menjelaskan mengenai endometriosis pada wanita amenorrhea seperti

oleh karena gonadal dysgenesis dan sebagainya.10

Sebagai tambahan, rendahnya insidensi endometriosis dibandingkan

dengan tingginya kejadian menstruasi retrograde pada wanita (76%

hingga 90%) memunculkan dugaan adanya faktor individual yang

spesifik yang mendorong wanita tertentu lebih rentan menderita

endometriosis.10

Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor genetik, hormonal, dan

faktor imunitas. Analisis molekuler yang menyangkut profil ekspresi

genetik mulai menunjukkan patogenesis endometriosis. Beberapa

abnormalitas spesifik yang dapat membedakan endometrium normal

dengan jaringan endometriosis dapat diterangkan sebagai berikut di

bawah ini : 10

 Terdapat aktivasi kaskade proses inflamasi pada endometriosis

yang dikarakteristik oleh tingginya kadar prostaglandin E2, IL-1β,

TNF dan IL6. Peran utama prostaglandin dalam endometriosis

juga didukung oleh efek penggunaan obat inhibitor COX2 dalam

penganganan nyeri pelvis yang merupakan gejala klinis utama dari

endometriosis. 10

 Produksi estrogen oleh sel stroma endometriosis secara bermakna

meningkat, hal ini disebabkan oleh peningkatan proses enzimatik

aromatase steroidogenik. Enzim ini tidak dijumpai pada stroma

Universitas Sumatera Utara


12

endometrium normal. Estrogen sendiri meningkatkan ketahanan

hidup dan persistensi dari jaringan endometrium. Oleh karena itu

penggunaan inhibitor aromatase dapat mengguntungkan dalam

terapi endometriosis. 10

 Hubungan antara aktivasi inflamasi dan produksi estrogen juga

didukung oleh kemampuan prostaglandin E2 untuk merangsang

sintesis lokal estrogen pada jaringan endometriosis.10

 Jaringan endometriosis juga ternyata resisten terhadap efek anti

estrogen yang didapat dari progesterone, sehingga diperkirakan

resistensi hormone progesteron juga berperan dalam patogenesis

endometriosis.10

2.1.3. Epidemiologi

Endometriosis dapat terjadi pada sekitar 5–15% wanita usia reproduktif

pada populasi umum, dan pada 40% wanita yang mencari pengobatan

infertilitas.8,11 Lebih sering terjadi pada wanita usia 25-35 tahun, jarang

pada wanita premenars dan postmenopause. Prevalensi endometriosis

secara umum juga terlihat lebih rendah pada wanita dengan ras hitam

dan Asia dibandingkan dengan Kaukasia. 12

Prevalensi kejadian endometriosis berdasarkan visualisasi organ pelvis

dapat diestimasi sebagai berikut : 12

 1% dari wanita yang menjalani bedah mayor dengan semua indikasi

ginekologis.

 1 sampai 7 % dari wanita yang ditubektomi steril.

Universitas Sumatera Utara


13

 12 sampai 32% dari wanita usia reproduktif yang dilakukan

laparoskopi diagnostik terhadap keluhan nyeri pelvis.

 9 sampai 50% wanita women yang dilakukan laparoskopi karena

infertilitas.

 50% dari remaja perempuan yang dilakukan laparoskopi evaluasi

terhadap nyeri pelvis kronis atau dysmenorrhea.

Pengaruh status sosioekonomi, ras dan umur pada angka prevalensi

endometriosis juga sangat kontroversial. Penundaan kehamilan

dikatakan meningkatkan risiko endometriosis, sehingga kejadian

endometriosis dikatakan lebih sering pada wanita dengan kelas

ekonomi tinggi dimana wanita tersebut lebih sering menunda

kehamilan. Namun hal ini mungkin juga diakibatkan oleh karena wanita

tersebut mempunyai kans lebih tinggi untuk mendapat pelayanan

medis. 12

Angka prevalensi kejadian kista endometriosis pada ovarium belum

diketahui secara pasti. Menurut Masson, endometriosis kulit

merupakan dengan total hanya 1,1% dari keseluruhan kasus

endometriosis. Namun menurut Scott dan TeLinde, persentasenya

mencapai 2,6%.7,13

2.1.4. Patologi Endometriosis

Dinding dari rongga kelenjar terdiri dari lapisan epitel kolumnar tinggi

dan dapat juga terdiri dari lebih satu lapisan. Bukti adanya perdarahan

dapat diamati di luar rongga kelenjar. Bentuk spindle atau sel stellate

Universitas Sumatera Utara


14

dapat diamati pada area interstitial yang edematous di sekitar rongga

kelenjar. Sel atipik tidak tampak pada pemeriksaan sel-sel ini. 7,14

Endometrioma adalah massa soliter, non neoplastik, berbatas tegas

yang mengandung jaringan endometrium dan juga seringkali darah.

Endometrioma secara klinis bisa dikenali dengan perabaan pada

palpasi bila massa berukuran besar atau hanya muncul sebagai nyeri

pelvis kronik dan nyeri abdomen. Kebanyakan kasus terjadi di dalam

pelvis, namun pada endometrioma atipikal, endometrioma dapat

ditemukan pada usus, thorax, dan dinding abdomen. Banyak dari

pasien ini sebelumnya menjalani operasi ginekologi atau seksio sesar

dan histerektomi. Endometrioma dinding abdomen banyak dijumpai


13,15
pada pasien dengan riwayat operasi ginekologi.

Penemuan khas dari kasus endometriosis adalah dijumpainya implan

endometriosis, endometrioma dan perlengketan atau adhesi. Implan

yang terbentuk dapat sangat kecil sampai dengan beberapa

sentimeter, dapat merupakan lesi implan superfisial ataupun tertanam

cukup dalam. Penampakan warna dari implantasi endometriosis ini bisa

berubah selama siklus menstruasi, dapat membesar dan mengalami

kongesti dan mengalami perdarahan seiring dengan perdarahan siklus

menstruasi. Implan endometriosis lebih mudah diamati saat fase

sekresi siklus menstruasi. Saat ini lesi endometriosis akan

mengeluarkan respons inflamasi dengan pembentukan area

perdarahan, proses fibrotik dan pembentukan perlengketan.16

Universitas Sumatera Utara


15

Kista endometriosis (endometrioma) biasanya terjadi di dalam ovarium

sebagai akibat dari perdarahan intra ovarium berulang. Lebih dari 90%

endometrioma adalah pseudokista yang terbentuk akibat invaginasi

korteks ovarium, yang kemudian tertutup oleh pembentukan jaringan

adhesi. Endometrioma dapat sepenuhnya menggantikan jaringan

ovarium normal. Dinding kista umumnya tebal dan fibrotik dan biasanya

memiliki perlekatan fibrotik dan adanya area dengan perubahan warna.

Di dalam kista umumnya terdapat cairan kental, berwarna gelap, berisi

produk darah yang sudah berdegenerasi dimana penampilan ini

menyebabkan kista endometriosis atau endometrioma ini sering

disebut kista coklat. Kebanyakan endometrioma terjadi pada ovarium

kiri.16

Endometrioma bilateral terjadi dalam 50 % kasus dan bisa ditemukan

cukup besar walau jarang melebihi diameter 15 cm. Lokasi lain dari

endometriosis selain ovarium adalah ligament uterus (ligamentum

latum posterior, ligament sacro uterine), cavum Douglas, peritoneum

rongga pelvis, tuba falopi, daerah rektosigmoid dan kandung kemih.16

Lesi yang besar dan lesi dengan dinding noduler harus diperiksa untuk

menyingkirkan keganasan. Endometriosis biasanya akan mengalami

regresi alami setelah menopause.16

Diagnosis standar untuk endometriosis adalah dengan menggunakan

modalitas laparoskopi, karena hanya dengan menggunakan

laparoskopi, maka kesempatan untuk bisa mengidentifikasi lesi kecil

Universitas Sumatera Utara


16

dan lesi pada peritoneal dapat dilakukan. Namun demikian, karena

laparoskopi adalah tindakan diagnostik invasif, maka sebaiknya

laparoskopi hanya dipakai bila teknik imaging seperti ultrasound masih

belum mendapatkan kepastian diagnostik.16

Massa adneksa seperti kista ovarium berdarah, kista teratoma matur,

korpus luteum berdarah, tumor ovarium jinak dan radang panggul serta

mioma bertangkai dapat menyerupai gambaran endometrioma. 16

2.1.7. Neoplasma yang berasal dari endometriosis

Angka kejadian kanker yang berasal dari endometriosis pelvis tidak

diketahui secara akurat karena frekuensi endometriosis di dalam

populasi umum juga tidak jelas. Lebih jauh lagi, beberapa kanker yang

terjadi pada jaringan endometriosis tumbuh sedemikian besar dan

menyamarkan endometriosis yang merupakan sumber dari tumor itu

sendiri.17

Dalam penelitiannya, Stern dkk (2001) menemukan 10% dari kasus

endometriosis pelvis berkaitan dengan kanker rongga pelvis yang

memiliki gambaran histopatologi yang sejalan dengan dugaan asal

tumor yang berasal dari endometriosis. Dalam beberapa kasus, tumor

yang berasal dari endometriosis didahului oleh riwayat terapi sulih

hormon dengan estrogen tanpa preparat progesteron dalam waktu

lama.17

Universitas Sumatera Utara


17

Dibandingkan dengan tumor sejenis yang tidak berkaitan dengan

endometriosis, maka karsinoma yang berkaitan dengan endometriosis

umumnya terjadi pada grup usia muda, dengan stadium rendah dan

mempunyai angka harapan hidup yang lebih baik.17

Menurut Heaps (1990), transformasi malignan dari endometriosis

merupakan suatu fenomena. Ia melaporkan 10 kasus baru pada saat

itu dan total jumlah kasus yang dilaporkan pada literatur dunia

berjumlah 205. Okugawa et al (2002) melaporkan adanya 9 kasus

baru yang ditemukan pada Medline sejak tahun 1990. Suatu studi oleh

Brinton et al. (1997) di Swedia yang dilakukan terhadap 20,686

wanita antara periode tahun 1969-1993, menyatakan bahwa risiko

terjadinya keganasan meningkat pada wanita dengan endometriosis

kronis (Relative Risk 4.2).18

Beberapa penelitian juga pernah mencatat, sekitar 20-30% kanker

epitel permukaan ovarium ternyata berhubungan dengan endometriosis

ovarium. Kaitan ini khususnya kuat untuk jenis karsinoma clear cell dan

karsinoma endometrioid; dimana 40-70% dari jenis clear sel dan 30-

40% dari jenis karsinoma endometrioid berkaitan dengan endometriosis

dalam penelitian tersebut.17,18

Del Carmen Mercila et al. (2003) dalam jurnal yang telah

dipublikasikan, menemukan jenis histopatologi keganasan yang paling

sering ditemukan berasal dari endometriosis ovarium adalah

adenokarsinoma endometrioid (69%) dan karsinoma clear cell (13%).

Universitas Sumatera Utara


18

Dalam penelitian ini juga ditemukan sebanyak 61% endometriosis

ovarium dalam kasus kanker tersebut merupakan endometriosis fokal

atipik yang secara bersamaan ada atau bergabung dengan karsinoma.


17,18

Lokasi ekstra ovarium tersering dari tumor terkait endometriosis adalah

septum rektovaginal, dengan lokasi yang lebih jarang seperti vagina,

colon dan rectum, kandung kemih dan lokasi lain di dalam rongga

pelvic atau abdomen. Sebanyak 90% karsinoma yang berasal dari

endometriosis ekstra ovarium adalah karsinoma endometrioid. Heaps

(1990) juga menyatakan bahwa lesi endometriosis ekstraovarium yang

berlanjut menjadi tumor endometrioid adalah sebanyak 66% dan

menjadi sarcoma sebanyak 25%.17,18

Beberapa penelitian menemukan variasi tumor yang berasal dari

endometriosis kolon dapat menyerupai adenokarsinoma kolon primer,

suatu misdiagnosis yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam

staging dan pemberian terapi. Beberapa fitur yang mendukung

karsinoma endometrioid dalam kasus ini adalah adanya endometriosis,

penampakan makroskopis yang atipikal dari adenokarsinoma colon

termasuk tidak ditemukannya keterlibatan mukosa, grade nukleus

yang rendah, metaplasia skuamosa dan tidak adanya proses nekrotik

kotor dan fenotipe CK7+/CK20/CDX2. 17

Universitas Sumatera Utara


19

2.1.7. Endometriosis dan infertilitas

Endometriosis sering dikaitkan dengan infertilitas pada wanita. Hal ini

terutama sangat nyata bila endometriosis menyebabkan proses adhesi

atau perlengketan tuba fallopi dan atau adhesi ovarium . Sedangkan

endometriosis derajat ringan tidak memiliki hubungan yang jelas

dengan kejadian infertilitas. Oleh karena itu terapi endometriosis

ringan untuk kasus infertilitas sering menjadi dilema. Dalam beberapa

penelitian di Kanada, angka harapan kehamilan untuk endometriosis

ringan dalam 5 tahunan mencapai 90%. Pada grup yang mendapatkan

terapi, angka kehamilan mencapai 48% sedangkan bila tidak diterapi

35%.19

Endometriosis sedang dan berat dengan atau tanpa adhesi harus

ditangani dengan pembedahan, terutama untuk endometrioma >2cm

atau adanya perlengketan hebat. Fungsi pembedahan adalah untuk

mengembalikan posisi anatomis yang baik. Kehamilan umumnya paling

sering terjadi dalam 2 tahun paska pembedahan. Untuk penanganan

nyeri menstruasi karena endometriosis dapat dilakukan presakral

neurectomy dan pemberian terapi medikamentosa paska operasi.

Pembedahan radikal seperti histerektomi dan ooforektomi juga dapat

dilakukan untuk pasien yang tidak menginginkan keturunan lagi.19

Angka kekambuhan endometriosis dalam 5 tahun paska pembedahan

mencapai 20%; pada pasien dengan konservasi ovarium terdapat 6 kali

pengingkatan resiko kekambuhan dibandingkan dengan pasien yang

dilakukan ooforektomi.19

Universitas Sumatera Utara


20

Terapi medikamentosa diberikan untuk penanganan nyeri menstruasi

(dismenorea), nyeri saat berhubungan badan (dispareunia) dan nyeri

rongga pelvis. Terapi medikamentosa tidak berguna dalam

penanganan infertilitas.19

Beberapa opsi pemilihan medikamentosa untuk kasus endometriosis

adalah sebagai berikut :19

1. Pil KB yang diberikan continue. Bertujuan untuk menekan laju

endometriosis dengan proses desidualisasi sel dan inaktifasi

kelenjar endometriosis. Angka kehamilan setelah terapi ini

dihentikan bisa mencapai 40-50%. Pemberian pil KB hanya

merupakan terapi supresif namun tidak kuratif.

2. Danazol

Danazol merupakan derivat isozazole dari etinil testosterone.

Terapi dengan danazol menciptakan lingkungan tinggi androgen –

rendah estrogen yang akan mencetuskan keadaan amenorea. Oleh

karena itu 80% pasien pengguna danazol dapat mengalami efek

samping berupa pengecilan ukuran payudara, bertambahnya

jerawat, hirsustisme, perubahan suara, vaginitis atrofik dan hot

flushes. Danazol diberikan dengan dosis 2x 400 mg atau 4 x 200

mg . Bila diberikan dengan dosis lebih rendah, efektifitas terapi ini

tidak tercapai. Angka kekambuhan setelah 1 tahun pemakaian

danazol mencapai 30%.

Universitas Sumatera Utara


21

3. Progestin

Progestin dapat diberikan dalam bentuk oral atau intramuskuler

medroxyprogesterone acetat. Dosis oral adalah 30 mg per hari.

Progestin bekerja dengan menekan sekresi LH hingga tercapai

keadaan hipoestrogen. Terapi ini cukup efektif untuk menekan

nyeri tapi tidak berguna dalam penanganan infertilitas. Efek

samping pemberian progestin mencakup kehilangan masa tulang,

kenaikan berat badan, retensi cairan, perdarahan bercak dan

depresi.

4. GnRH agonist mempunyai efektifitas yang sebanding dengan

danazol atau progestin. Pemberian GnRH agonist merupakan

terapi supresif tapi tidak kuratif, dan tidak bermanfaat untuk

perbaikan fertilitas. GnRH diberikan dalam bentuk suntikan sebulan

sekali untuk durasi 6 bulan.19

2.2. Kista ovarium hemorhagis

Kista ini adalah akibat dari perdarahan yang terjadi didalam kista

fungsional dan biasanya sejalan dengan timbulnya nyeri pelvik akut.

Kebanyakan akan membaik dengan sendirinya dalam 2 sampai 8

minggu. Di Amerika, lesi ini tampak pada pemeriksaan ultrasound

sebagai lesi dengan echogenik rendah, dan sering mempunyai

gambaran serabut halus, fibrin-fibrin avaskular yang sering menyerupai

gambaran jala nelayan. Kebanyakan kista ovarium berdarah ini adalah

Universitas Sumatera Utara


22

lesi benigna dan dapat membaik dengan sendirinya pada follow up

jangka pendek. Terkadang sulit untuk membedakan kista hemorhagis

dengan endometrioma, Namun kista hemorhagis ini biasanya soliter

sedangkan endometrioma biasanya dijumpai multipel.20

Gejala klinik klasik dari suatu perdarahan kista ovarium adalah

timbulnya nyeri pelvik akut atau nyeri perut bawah yang sedemikian

rupa sehingga dapat membangunkan wanita dari tidurnya. 16

Salah satu dari jenis kista berdarah ovarium adalah kista korpus

luteum.

2.2.1. Kista korpus luteum

Kista korpus luteum adalah struktur ovarium yang normal terbentuk

setelah ovulasi dan berasal dari folikel dominan. Dinding folikel

mengalami vaskularisasi dan menebal, yang dikenal dengan proses

luteinisasi dan berkaitan dengan sekresi estrogen dan progesterone

pada paruh kedua siklus menstruasi. Walaupun kista corpus luteum

tidak patologis, namun dapat menyebabkan nyeri periovulatoar yang

terkadang membutuhkan pemeriksaan radiologis. Sonografi merupakan

modalitas utama untuk mengevaluasi kelainan ginekologis ini.21

Tampilan karakteristik kista korpus luteum adalah penebalan mural dan

krenulasi yang sejalan dengan perubahan histopatologi saat ovulasi.

Secara makroskopik, kista ini membentuk konvulasi, dengan pinggiran

Universitas Sumatera Utara


23

kuning yang secara mikroskopis terdiri dari invaginasi sel theca lutein

yang berasal dari stroma ovarium yang berubah menjadi sel lutein

granulosa dari dinding folikel de graff. Sel lutein menghasilkan

progesterone dalam jumlah banyak dan proses luteinisasi dinding kista

ini diikuti dengan proses neovaskularisasi dalam 2-4 hari masa ovulasi.
21,22

Kista corpus luteum dapat dijumpai pada awal kehamilan namun

biasanya akan menghilang pada trimester kedua kehamilan. Biasanya

berdinding tipis dan unilocular dengan diameter antara 3 sampai 11 cm.

Perdarahan dari ruptur kista corpus luteum dapat mengakibatkan

keadaan akut abdomen dalam kehamilan.16,23

Kista theca lutein biasanya berkaitan dengan peningkatan kadar AhCG

(A human chorionic gonadotropin). Peningkatan kadar hormon ini

biasanya diakibatkan oleh penyakit trophoblast dalam kehamilan,

termasuk di dalamnya mola hidatidosa atau choriocarcinoma.

Penyebab lain adalah kehamilan kembar, diabetes, atau stimulasi

farmakologis terhadap ovarium. Kista theca lutein adalah salah satu

dari kista ovarium fungsional , juga merupakan kista fisiologis yang

dapat mencapai ukuran cukup besar, antara 6-12 cm hingga 20 cm.

Kista ini biasanya berdinding tipis tanpa komponen noduler atau bagian

padat di dalamnya. Oleh karena besarnya diameter kista ini, kista ini

dapat pecah atau mengalami torsi ovarium. 20,23

Universitas Sumatera Utara


24

Adalah penting untuk mempertimbangkan adanya kista theca lutein

dalam keadaan pembesaran ovarium bilateral pada wanita

premenopause untuk menghindari pembedahan yang tidak perlu.

Neoplasma ovarium yang sesungguhnya biasanya unilateral dengan

adanya penebalan septa dan pertumbuhan papiler di dalam kista. 20,22

Tingginya kadar gonadotropin atau androgen dapat menyebabkan

sekresi cairan oleh struktur epitel halus di dalam dinding ovary yang

membentuk kumpulan cairan sehingga menjadi kista.24

Hal ini tidaklah jarang dan dapat terjadi terutama di tahun tahun awal

setelah menopause. Prevalensi dari kista unilokuler pada wanita pasca

menopause berkisar antara 2,5% sampai 18 %, tergantung pada

populasi dan kriteria yang digunakan (misal diameter <5 atau

<10cm).22,24

Kista fungsional dan kista fisiologis seperti kista korpus luteum dan

kista folikel biasa terjadi sebagai bagian dari proses ovulasi. Kista-kista

tersebut berasal dari folikel Graaf yang tidak ruptur, atau folikel yang

ruptur namun segera menjadi tertutup kembali. Kista folikel dan kista

lutein juga bisa ditemukan multipel dan berada dekat pada lapisan

serosa ovarium. 9,24

Kista folikel biasanya berukuran kecil antara 1-1,5 cm, namun bisa

menjadi cukup besar namun tidak melebihi 10 cm. Kista ini biasanya

asimptomatik, walaupun pasien dengan kista fungsional yang besar

dapat mengalami nyeri yang diakibatkan distensi kapsul kista. Kista

Universitas Sumatera Utara


25

folikel mempunyai ciri permukaan licin, berdinding tipis dan unilokuler

serta berisi cairan serous jernih, sedangkan kista korpus luteum dilapisi

oleh sel-sel terluteinisasi yang apabila terjadi penimbunan cairan dalam

kista, tekanan intrakistik dapat menyebabkan sel-sel pelapis mengalami

atrofi. Kadang-kadang apabila kista ini ruptur, akan terjadi perdarahan


9,22,24
intraperitoneal dan gejala akut abdomen.

Karena terapi dari kondisi diatas berbeda, maka sangatlah penting

untuk bisa mengkonfirmasi diagnosis endometriosis yang ditegakkan

dengan pemeriksaan sampel biopsi yang diwarnai dengan HE. Namun

demikian pemeriksaan histologi ini dapat memberikan hasil negatif

palsu, sehingga diperlukan metode yang lebih baik dalam penegakan

diagnosis endometriosis.4

Oleh karena itu kami mempunyai hipotesis bahwa imunohistokimia

CD10 dapat meningkatkan sensitivitas dari penegakan diagnosis

endometriosis secara histopatologi dengan pewarnaan HE dengan

mempertajam identifikasi sel stroma ektopik. Untuk menguji

kemungkinan ini, maka kami membandingkan efikasi diagnostik

dengan perwarnaan HE dengan bantuan pewarnaan imunohistokimia

CD10 pada sampel biopsi eksisi kasus endometriosis.4

2.3. CD 10

Beberapa tahun belakangan ini, dunia telah melihat penggunaan marker

antibodi-antibodi yang sangat luas dan bervariasi dalam pemeriksaan

Universitas Sumatera Utara


26

imunologi terutama dalam patologi ginekologi. Kebanyakan

penggunaannya berhubungan dengan diagnosis kasus-kasus neoplasma

ginekologi dan tidak jarang untuk menilai prognosis dan nilai prediktif. 5

Dalam tahun-tahun mendatang, diagnosis molekuler akan lebih lanjut lagi

berperan penting dalam kesehatan publik secara global. Berbagai

pemeriksaan molekuler genetik akan memfasilitasi dalam banyak hal

seperti deteksi dan menentukan karakterisasi penyakit, dan bukan hanya

itu, bahkan dapat menjadi monitor terhadap respon pengobatan dan

identifikasi patogenesis serta suseptibilitas penyakit.25

Banyak antibodi immunologis yang pada awalnya diperkirakan spesifik

untuk satu jenis tumor tertentu, di kemudian hari akhirnya terbukti memiliki

reaktivitas yang lebih luas terhadap beberapa kondisi atau jenis tumor

yang lebih beragam.5

Sebagai contoh, CD 10 pada awalnya dikenal sebagai CALLA (Common

Acute Lymphoblastic Leukemia Antigen), yang disebut juga

endopeptidase netral yang ditampilkan oleh sel-sel precursor limfoid dan

sel limfoid B yang berasal dari sentra germinal.18 Antigen ini berukuran

90-110 kDa, dependen terhadap zincum permukaan metalloproteinase,

yang mengontrol pertumbuhan dan differensiasi sel normal. CD 10

dikenal juga sebagai antigen leukemia limfoblastik akut, endopeptidase

netral, neprilysin, dan enkephalinase.26,27

Dalam perannya sebagai peptidase permukaan sel, CD10 membantu

mengatur aktifitas biologis substrat peptid dengan mengurangi

Universitas Sumatera Utara


27

konsentrasi local yang tersedia untuk berikatan dengan reseptor dan

transduksi signal. CD10 telah diidentifikasi dalam banyak jenis sel (seperti

pusat germinal limfoid, tubulus renalis, glomerulli, kanalikuli parenkim hati,

sinsitiotrofoblas, fibroblast dan mioepitel payudara) dan tumor (karsinoma

sel renal, adenocarcinoma prostat, sarcoma stroma endometrium,

rabdomiosarkoma dan neoplasma urothelial).5,27,28,29

Neves dkk dan juga Keller dkk (2011) menemukan ekspresi positif CD

10 pada myoepitel payudara sehingga CD10 dapat digunakan untuk


28,30
membedakan epitel basal dari epitel luminal jaringan payudara.

Pada jaringan tumor, aktifitas peptidase CD 10 telah menunjukkan

pengaturan akumulasi peptid selama proses proliferasi sel dan terlibat

pula dalam pertumbuhan seperti yang tampak pada kanker prostat,

pankreas ataupun kanker paru. Walaupun CD 10 tidak bisa digunakan

sendirian, CD 10 tetap merupakan alat yang sangat berguna baik dalam

penegakan diagnosis ataupun penentuan prognosis, tidak hanya terbatas

pada tumor hemopoetik, tapi juga beberapa tumor lainnya.30

Metalloendopeptidase CD10 pada permukaan sel ditemukan atau

terekspresikan pada jaringan mioepitel payudara, sel tubulus renalis

normal, sel glomerulus, karsinoma ginjal, karsinoma hepatosellular, epitel

kelenjar prostat , alveoli paru, sel limfoid, asal mesenkim tumor kulit,

tumor mesonefrik dan leukemia limfoblastik akut dan limfoma . sebagai

tambahannya, pada beberapa penelitian kecil CD10 juga ditemukan pada

Universitas Sumatera Utara


28

stroma normal endometrium dan endometrium ektopik, serta neoplasma

stroma endometrium dan adenomyosis.4

2.3.1. Diagnosis stroma endometrium

CD 10 belakangan ini sering digunakan sebagai marker

imunohistokimia bagi tumor stroma endometrium. Tumor stroma

endometrial yang bermetastase ke ovarium dan sarcoma stroma

endometrioid primer dapat menunjukkan gambaran histology yang

berdekatan dengan tumor stroma murni atau pun tumor stroma sex

cord (SCST). Pada genital wanita, Imai dkk pertama kali

mendeskripsikan ekspresi positif CD10 pada sel stroma endometrium

pada kasus endometriosis dan adenomyosis, juga pada sel desidua,

dan hal ini telah dikonfirmasi oleh peneliti lainnya.26,27

Oliva E (2007) meneliti untuk memastikan peranan dan kegunaan dari

ekspresi CD10 dalam pembedaan kasus tumor stromal murni dan

SCST ovarium.7,26,27

McCluggage (2009) dalam penelitiannya terhadap tumor stroma

endometrium menyatakan bahwa kadang-kadang gambaran morfologi

tumor tersebut sangat mirip dengan otot polos uterus dan juga

sebagian tumor sex cord- stroma. Ia menemukan bahwa CD 10

tertampil dengan persentase yang tinggi pada tumor stroma

endometrium, sedangkan pada leiomyosarcoma hanya 6 persen.5,29

Universitas Sumatera Utara


29

Berkenaan dengan kegunaannya sebagai modalitas diagnostik, Neves

dan Soares (2010) juga merekomendasikan agar CD10 dipakai dalam

panel pewarnaan imunohistokimia sehingga untuk sarcoma stroma

endometrium dan karsinoma sel renal.28

Kriteria diagnosis HE memerlukan identifikasi dari kelenjar

endometrium dan stroma. Pewarnaan positif CD10 berarti dijumpainya

stroma endometrium dan dianggap konsisten dengan diagnosis

endometriosis.4

Ketika IHC CD10 dinyatakan positif, seorang patologis dapat

memeriksa ulang slide HE yang bersangkutan, sehingga

berkesempatan untuk merevisi diagnosis yang tadinya hanya

didasarkan pada morfologi kelenjar dan stroma endometrium.4

Penelitian terkini mendeteksi sejumlah kecil negatif palsu pada

pemeriksaan endometriosis berbasis HE. Penambahan IHC CD10

meningkatkan deteksi histologi dari 35% menjadi 45%, sehingga

menghasilkan diagnosis baru endometriosis pada 3 dari 12 wanita yang

tadinya dinyatakan negatif berdasar pewarnaan HE.4,30

Penelitian Potlog-Nahari (2004) menunjukkan bawa penggunakan

CD10 secara bersamaan degan HE meningkatkan sensitivitas

diagnostik endometriosis dibandingkan dengan pewarnaan HE saja.

Karena IHC CD10 dapat mengkonfirmasi semua diagnosis positif

endometriosis yang telah ditetapkan dengan pewarnaan HE, mereka

Universitas Sumatera Utara


30

merekomendasikan penggunaan IHC CD10 digunakan hanya pada

kasus-kasus negatif HE pada semua spesimen pada seorang wanita,

sehingga dapat menekan biaya. Pewarnaaan CD 10 juga dapat

memperbaiki akurasi diagnostik untuk kasus endometriosis ringan,

yang juga sangat penting dalam menentukan terapi paling tepat. 4,30

A B

Gambar 2.1. (A) Pewarnaan H&E biopsi cul-de-sac dengan sangkaan


endometriosis. (B) Imunohistokimia CD10 mengkonfirmasi diagnosis
endometriosis, terlihat positif pada sel-sel stroma endometrium
bukan pada kelenjar (diambil dari kepustakaan no.4).

Dalam penelitian lain dimana dicurigai adanya endometriosis namun

stroma tidak jelas dijumpai, 17 dari 20 biopsi dinyatakan diagnosis

endometriosis setelah pewarnaan CD10. Secara kontras dari 70 lesi

negatif yang dievaluasi dengan menggunakan imunohistokimia CD10,

hanya 15% yang memang mempunyai endometriosis. Bila disimpulkan,

maka penelitian ini menunjukkan bawa terdapat variabilitas di antara

ahli patologi dalam mendiagnosa endometriosis dari pewarnaan HE

Universitas Sumatera Utara


31

dan pewarnaan CD 10 terbukti sangat berguna dalam kasus-kasus

yang meragukan secara morfologi histologi.4,30

Wanita yang salah didiagnosis menderita endometriosis dapat

mendapat terapi yang tidak semestinya diterima, yang tentunya

mempunyai resiko dan efek samping pula. Demikian pula dengan

wanita yang tidak terdiagnosa dengan benar, justru akan luput dari

terapi yang semestinya diberikan. Oleh karena itu diperlukan standar

baku dalam penegakan endometriosis. Diagnosis klinis saat

pembedahan mempunyai tingkat positif palsu dan negatif palsu,

dimana kasus yang ringan, kasus atipik atau lesi endometriosis dalam

dapat terlewatkan. 4,30

Secara kontras, pemeriksaan histologi kasus dengan sangkaan

endometriosis memiliki tingkat positif palsu yang sangat rendah namun

dapat secara tidak sengaja menganggap seorang wanita bebas dari

penyakit ini. Walter dkk gagal mengkonfirmasi secara histologi

diagnosis pembedahan endometriosis minimal pada 32 % dari 37

wanita. Hal ini dapat merupakan diagnosis pembedahan yang positif

palsu atau hanya merepresentasikan kegagalan deteksi histologi. 4,30

Beberapa patologis dapat mendiagnosa specimen yang diduga

endometriosis dengan hanya bertumpu pada ditemukannya makrofag

laden hemosiderin, kelenjar endometrium atau stroma endometrium,

sedangkan yang lain memerlukan ditemukannya baik kelenjar dan

Universitas Sumatera Utara


32

stroma endometrium secara bersamaan untuk menegakkan diagnosa.

Oleh karena itu, diagnosis endometriosis juga memiliki problem lainnya

yaitu sangat rendahnya reprodusibilitas interobserver terutama bila

patologis tidak menggunakan kriteria diagnostik yang sama. 4,30

Penelitian ini menunjukkan bawah penggunaan imunohistokimia CD10

bersamaan dengan pewarnaan HE dapat meningkatkan deteksi

histologi endometriosis. Beberapa penelitain mengindikasikan bawa

CD10 merupakan marker sensitive untuk stroma endometrium ektopik

dan neoplasma stroma endometrium. Dalam penelitian terhadap 25

biopsi, 22 kasus dinyatakan positif endometriosis dengan

menggunakan HE dan 22 positif CD10. Hanya satu dari tiga kasus

negatif HE ternyata positif imunohistokimia CD10 nya. 4,30

Dalam seri penelitian dari rumah sakit terkenal seperti Mayo Clinic,

NIH, Bethesda, Maryland dan Chicago, ditemukan lebih sepertiga

biopsi endometriosis yang diambil saat pembedahan menunjukkan

hasil negatif dengan pewarnaan HE dengan tingkat negativitas yang

lebih tinggi untuk penyakit endometriosis derajat ringan; 60% pada

derajat I ( minimal ), 30% pada derajat II dan III (endometriosis ringan-

moderat) dan 0% pada derajat IV (endometriosis berat). 31,32

Groisman dan Meir dalam empat penelitian retrospektif mempelajari

20 kasus endometriosis yang secara histologi dianggap ekuifokal,

‘mencurigakan’, mengarah atau sesuai dengan dugaan klinis, dan

Universitas Sumatera Utara


33

menemukan bahwa 85% positif dengan pewarnaan IHC CD10, yang

langsung mengkonfirmasi diagnosis endometriosis. Potlog –Nahari

dkk (2004) menggunakan imunohistokimia CD10 pada 31 wanita

dengan nyeri pelvis kronik, dan berhasil melipatduakan ketajaman

diagnostik endometriosis derajat I. 31,32

Universitas Sumatera Utara


34

2.4. Kerangka Konsepsional

Kista coklat ovarium

Kista Kista lutein


endometriosis berdarah

 Pelapis epitel  Massa perdarahan (+)  Stroma ovarium


kelenjar (+)  Hemosiderin laden menyerupai
 Stroma makrofage (+) endometrium
endometrium (+)  Pelapis epitel (-)
 Stroma endometrium (-)

Immunohistokimia CD 10

CD 10 (+) CD 10 (-)

Kista Kista lutein


endometriosis berdarah

Universitas Sumatera Utara


35

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

3.1.1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sentra Diagnostik Laboratorium Patologi

Anatomi Fakultas Kedokteran USU Medan.

3.1.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai dari Januari 2012 sampai Juli 2012

yang meliputi studi kepustakaan, pengumpulan data, pengumpulan

sampel, pengolahan data penelitian serta penulisan tesis.

3.2. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan specimen jaringan kista ovarium yang telah

didiagnosis sebelumnya menggunakan mikroskop cahaya dengan

pewarnaan rutin H&E (Hematoksilin dan Eosin), berupa kista

endometriosis dan kista berdarah lainnya terutama kista lutein berdarah.

Jaringan-jaringan tersebut kemudian dievaluasi secara imunohistokimia

untuk melihat tampilan/ekspresi CD10. Rancangan penelitian ini akan

menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross

sectional. Dalam penelitian ini, tidak diberikan perlakuan terhadap

variabel, namun hanya dilihat hasil pulasan imunohistokimia CD 10.

Pengukuran variabelnya hanya dilakukan satu kali dan pada satu saat.

Universitas Sumatera Utara


36

3.3. Kerangka Operasional

Blok paraffin kista


coklat ovarium Kriteria eksklusi

Pemeriksaan histopatologi konvensional H&E

Kista Kista lutein


endometriosis berdarah

Immunohistokimia CD 10

CD 10 (+) CD 10 (-)

Kista Kista lutein


endometriosis berdarah

Universitas Sumatera Utara


37

3.4. Populasi, Sampel dan Besar Sampel Penelitian

3.4.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah sediaan blok parafin yang

berasal dari jaringan kista ovarium yang didiagnosa sebagai kista

lutein berdarah dan kista endometriosis pada Sentra diagnostik

Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan Laboratorium

swasta di Medan.

3.4.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah sediaan blok parafin dari

jaringan kista ovarium berupa endometriosis dan kista lutein

berdarah yang sesuai dengan kriteria inklusi dan sesuai besar

sampel penelitian.

3.4.3. Besar Sampel Penelitian

Perkiraan besarnya sampel penelitian berdasarkan perhitungan

dengan menggunakan rumus uji hipotesis terhadap 2 proporsi :

(Zα√2PQ + Zβ√P1Q1+P2Q2 )2
n = (P1-P2)2

Keterangan :

n = besar sampel  n1 = n2

Zα = nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya tergantung pada

nilai α yang ditentukan (untuk α = 0,05  Zα = 1,96)

Universitas Sumatera Utara


38

Zβ = nilai baku normal dari tabel Z yang besarnya tergantung pada

nilai β yang ditentukan (untuk β = 0,10  Zβ = 1,282)

P1 = proporsi penderita kista endometriosis = 0,695

 menurut salah satu studi, angka kejadian endometriosis di

RSCM = 69,5% (kepustakaan no.1)

Q1 = 1- P1 = 1 – 0,695 = 0,305

P2 = proporsi penderita kista lutein berdarah yang diharapkan

dalam penelitian ini = 0,495

Q2 = 1- P2 = 1 - 0,495 = 0,505

P = ½ (P1+P2) = ½ (0,695 + 0,495) = 0,545

Q = 1- P = 1 – 0,545 = 0,455

Hasil perhitungan :

n = [ (1,96√2(0,545)(0,455) + 1,282√(0,695)(0,305)+(0,495)(0,505) ]2
(0,50)2

= (0,9714 + 0,8589)2
(0,30)2

= 37,22 ≈ 38

Jadi dibutuhkan sampel minimal untuk masing-masing kelompok

pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan imunohistokimia CD 10

kista ovarium masing-masing adalah 38.

Dalam penelitian ini, setengah jumlah sampel minimal diambil dari

kelompok kista endometriosis dan setengah lagi dari kelompok kista

lutein berdarah.

Universitas Sumatera Utara


39

Kemudian untuk kelompok ke-2 yaitu untuk pemeriksaan IHK CD 10,

sampel minimal juga 38 kasus.

3.5. Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi

3.5.1. Kriteria Inklusi

Yang termasuk kriteria inklusi adalah sediaan blok parafin jaringan

kista lutein berdarah dan kista endometriosis dan slide pulasan

Hematoksilin-Eosin nya.

3.5.2. Kriteria Eksklusi

 Sediaan blok parafin jaringan kista jenis lain seperti kista adenoma,

kista ganas, kista folikel, kista sex cord, kista germ cell, kista

metastase.

 Sediaan blok parafin yang rusak dan tidak dapat diproses lebih

lanjut dengan pulasan imunohistokimia CD 10.

3.6. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.6.1. Variabel Penelitian

Variabel yang menjadi perhatian di dalam penelitian ini adalah :

 Variabel bebas berupa tampilan immunohistokimia CD 10,

dan

 Variabel terikat berupa lesi kista endometriosis dan kista

lutein berdarah.

Universitas Sumatera Utara


40

3.6.2. Definisi Operasional

 Kista endometriosis adalah kista ovarium yang mengandung sel-

sel endometrium ektopik baik epitel kelenjar maupun sel

stromanya.

 Kista lutein berdarah adalah kista ovarium yang mengandung

banyak massa perdarahan yang mirip dengan kista endometriosis.

 Pemeriksaan histopatologi konvensional adalah pemeriksaan

jaringan menggunakan mikroskop cahaya terhadap specimen yang

telah melalui prosesing sampai diwarnai dengan hematoksilin-

eosin.

 CD 10 adalah antibodi yang mampu mewarnai sel-sel stroma

endometrium menjadi coklat.

 Hasil pulasan immunohistokimia CD 10 adalah tampilan pulasan

warna coklat pada sitoplasma sel stroma yang dinyatakan dengan :

 Negatif, bila tidak berhasil menampilkan warna coklat,

dimana pada saat proses yang sama kontrol (+)

menampilkan warna coklat dengan pewarnaan kromogen

DAB.

 Positif, bila terlihat tampilan pulasan warna coklat pada

sitoplasma sel stroma dengan menggunakan mikroskop

cahaya pembesaran 100X dan 400x pada seluruh lapangan

pandang dan pada saat yang sama kontrol (+) juga

menampilkan warna yang sama.

Universitas Sumatera Utara


41

3.7. Prosedur dan Teknik Penelitian

3.7.1. Pembuatan sediaan mikroskopis

Sediaan mikroskopis dibuat dengan cara sebagai berikut :

1. Blok parafin yang telah dikumpulkan, disimpan dalam freezer

sampai cukup dingin, selanjutnya dipotong tipis dengan

menggunakan mikrotom dengan tebal 4 µm. Setiap blok parafin,

dipotong ulang 1 kali untuk pulasan imunohistokimia CD 10.

2. Sampel blok parafin yang sudah dipotong tipis (4 µm)

ditempelkan pada kaca objek.

Pada pulasan imunohistokimia CD 10 digunakan kaca objek yang

telah di-coating dengan poly-L-lysine atau Silanized slide agar

jaringan dapat menempel pada kaca objek selama proses pulasan

imunohistokimia.

Cara menempelkan potongan tipis pada kaca objek silanized adalah

menggunakan ujung pisau atau pinset yang runcing. Potongan tipis

dipisahkan dan diratakan dengan memasukkannya ke dalam air

hangat. Setelah mengembang, pindahkan ke atas kaca objek.

Selanjutnya, kaca objek diletakkan di atas alat pemanas (hot plate).

Setelah parafin melunak, kaca objek dikeringkan dan potongan

jaringan siap untuk dipulas.

Universitas Sumatera Utara


42

3.7.2. Prosedur kerja

 Deparafinisasi dengan xylol I, II (masing-masing 5 menit).

 Rehidrasi (Alkohol absolute, Alk 96%, Alk 80%, Alk 70%) masing-

masing 5 menit.

 Cuci dengan air mengalir.

 Masukkan slide ke dalam PT Link Dako Epitope Retrieval : set up

Preheat 65°C, Running time 98°C selama 15 menit.

 Pap Pen. Segera masukkan dalam Tris Buffered Saline (TBS) pH

7,4.

 Cuci dalam Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4

 Blocking dengan Normal horse Serum (NHS) 3 %.

 Cuci dalam Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4.

 Inkubasi dengan Antibodi Primer sesuai kasus yaitu CD 10 Ready

to Use.

 Cuci dalam Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4 /Tween 20

 Dako Real Envision Rabbit/Mouse.

 Cuci dalam Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4 /Tween 20.

 DAB+Substrat Chromogen solution dengan pengenceran 20 µL

DAB : 1000 µL substrat.

 Cuci dengan air mengalir.

 Counterstain dengan Hematoxylin.

 Cuci dengan air mengalir.

 Lithium carbonat (5% dlm aqua) 3 celup.

 Cuci dengan air mengalir.

Universitas Sumatera Utara


43

 Dehidrasi (Alk 80%, Alk 96%, Alk Abs).

 Clearing (Xylol 1, Xylol 2, Xylol 3).

 Mounting dengan entellan + cover glass.

3.8. Alat dan Bahan Penelitian

3.8.1. Alat-Alat Penelitian

Alat-alat yang diperlukan untuk penelitian ini adalah : mikrotom,

waterbath, hot plate, freezer, inkubator, staining jar, rak kaca objek,

kaca objek, rak inkubasi, pensil Diamond, pipet mikro, timbangan

bahan kimia, kertas saring, pengukur waktu, gelas Erlenmeyer,

gelas beker, tabung sentrifuge, Dako PT Link (Heat mediated

Antigen Retrieval Method), thermolyte stirrer, kaca penutup, entelan

dan mikroskop cahaya.

3.8.2. Bahan Penelitian

 Blok parafin yang telah didiagnosis dengan pulasan

Hematoksilin Eosin sebagai kista endometriosis ovarium dan

kista lutein berdarah.

 Antibodi primer yang digunakan adalah Rabbit Polyclonal Hu-

antibody CD 10 Ready to Use.

 Pulasan imunohistokimia menggunakan metode The EnVision+

Dual Link System kit yang terdiri dari :

Universitas Sumatera Utara


44

 1 botol Dual endogenous enzyme block (15 ml)

 1 botol Labelled polymer-HRP (15 ml)

 1 botol DAB+ Substrat Buffer (18 ml)

 1 botol DAB+ Chromogen (1 ml)

 Larutan TBS

 Larutan Tris EDTA

 Xylol, Alkohol

 Lithium carbonat

 Hematoksilin

 Mounting media : entellan

3.9. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan adalah hasil pulasan

imunohistokimia CD 10 terhadap sampel sediaan jaringan kista ovarium.

Untuk penilaian terhadap pulasan imunohistokimia CD 10 adalah

sebagai berikut :

 Kontrol positif : jaringan limfe nodi.

 Kontrol negatif : kista ovarium dengan antibodi primer yang

digantikan dengan serum normal.

 Positif : warna coklat yang tertampil pada sitoplasma sel-sel

stroma pada kista.

Universitas Sumatera Utara


45

Tabel 3.1. Intensitas tampilan imunohistokimia CD 10 pada kista


endometriosis dan kista lutein berdarah.

INTENSITAS Kista Kista lutein


JUMLAH
IHK CD 10 endometriosis berdarah
NEGATIF
POSITIF
JUMLAH

Keterangan : Intensitas tampilan CD 10 :


Negatif : tidak tertampil
Positif : tertampil warna coklat pada sel stroma.

3.10. Analisa Data

 Untuk melihat gambaran karakteristik kista coklat ovarium berupa

kista endometriosis dan kista lutein berdarah, disajikan dalam

bentuk tabulasi dan dideskripsikan.

 Untuk menganalisa perbedaan hasil pulasan hematoksilin-eosin

konvensional terhadap tampilan imunohistokimia CD 10

menggunakan uji Chi-square.

Universitas Sumatera Utara


46

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil penelitian

Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dilakukan terhadap 44 sediaan blok

paraffin jaringan histopatologi kista ovarium yang sebelumnya didiagnosa

dengan pulasan Hematoksilin & Eosin sebagai kista endometriosis dan kista

lutein berdarah. Berdasarkan umur, distribusi sampel yang dimasukkan dalam

penelitian ini tertampil pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Distribusi umur dari seluruh sampel kista ovarium yang
digunakan dalam penelitian.

Umur n %
<20 tahun 2 4,5
20-35 tahun 30 68,2
>35 tahun 12 27,3
Total 44 100,0
Mean = 32,50 SD = 7,407
Minimum = 18 Maksimum = 49

Dari data distribusi yang digambarkan pada tabel 4.1., umur penderita kista

ovarium berupa endometriosis dan kista lutein berdarah yang paling banyak

adalah kelompok usia reproduktif yaitu umur 20-35 tahun, dengan jumlah

sampel sebanyak 30 kasus (68,2%). Dan sampel yang minimal adalah yang

termasuk pada kelompok umur kurang dari 20 tahun, berjumlah 2 orang

(4,5%).

Universitas Sumatera Utara


47

Usia rata-rata penderita kista endometriosis ovarium dan kista lutein berdarah

yang ikut dalam penelitian ini adalah 32,5 tahun, dengan usia yang paling

muda adalah 28 dan yang paling tua adalah 49 tahun.

Perincian distribusi jenis kista ovarium yang didiagnosis dari pemeriksaan

konvensional Hematoksilin Eosin dan dari pewarnaan imunohistokimia CD 10

terhadap 44 sampel tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2. Distribusi jenis kista berdarah ovarium berdasarkan


pemeriksaan konvensional hematoksilin-eosin dan
pewarnaan imunohistokimia CD 10.

Karakteristik Parameter n %
Histopatologi Kista endometriosis 22 50,0
Kista lutein berdarah 22 50,0
Jumlah 44 100,0
Imunoekspresi CD 10 Positif 21 47,7
Negatif 23 52,3
Jumlah 44 100,0

Sediaan histopatologi konvensional yang diikutkan dalam penelitian ini ada

dua kelompok yaitu kista endometriosis dan kista lutein berdarah masing-

masing sebanyak 22 kasus (50%). Dari penelitian ini, pewarnaan

imunohistokimia CD 10 hanya ditemukan pada 21 kasus (47,7%), dan

selebihnya 23 kasus (52,3%) negatif.

Dengan pewarnaan imunohistokimia CD 10, ekspresi positivitas pada jaringan

menunjukkan adanya sel stroma endometrium pada kista tersebut, sehingga

hal ini bermakna kista tersebut adalah kista endometriosis. Begitu juga

sebaliknya, hasil yang negatif akan menandakan bahwa kista tersebut

Universitas Sumatera Utara


48

bukanlah suatu kista endometriosis, melainkan jenis kista berdarah lainnya,

yang mana dalam penelitian ini merupakan kista lutein berdarah.

Sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan histopatologi konvensional kista

endometriosis dan kista lutein berdarah terhadap pemeriksaan

imunohistokimia CD 10 dengan uji Chi-square ditunjukkan pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Pengukuran sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan


histopatologi konvensional kista endometriosis dan kista
lutein berdarah terhadap pemeriksaan imunohistokimia CD
10 dengan uji Chi-square.

Histopatologi konvensional
Total p-
Kista Kista Lutein value
Pewarnaan Endometriosis Berdarah
n % n % n %

Kista
Endometriosis 16 36,4% 5 11,4% 21 47,7 0,001
IHK (Positif)
CD 10 Kista Lutein
Berdarah 6 13,6% 17 38,6% 23 52,3
(Negatif)
Total 22 50,0% 22 50,0% 44 100,0

Hasil tabel 4.3. ini menunjukkan p-value = 0,001 (p<0,05), maka H0 ditolak

artinya ada beda hasil pemeriksaan histopatologi konvensional dengan

pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dalam mengidentifikasi kista

endometriosis ovarium dan kista lutein berdarah.

Dari 22 kasus kista endometriosis yang ditemukan dari pemeriksaan

histopatologi, sebanyak 16 orang (36,4%) juga dinyatakan sebagai kista

Universitas Sumatera Utara


49

endometriosis dari hasil pemeriksaan imunohistokimia CD 10 (true positive)

dengan sensitivitas sebesar 72,27%.

Dari 22 kasus kista lutein berdarah yang ditemukan dari pemeriksaan

histopatologi, sebanyak 17 orang (38,6%) juga dinyatakan sebagai kista lutein

berdarah dari hasil pemeriksaan imunohistokimia CD 10 (true negative)

dengan spesifisitas sebesar 77,27%.

4.2. Pembahasan

Imunoekspresi CD 10 pada beberapa penelitian di dunia telah dibuktikan

sangat berguna dalam mendemonstrasikan adanya stroma endometrium

pada lokasi-lokasi ektopik dan sudah sering dipakai untuk mengkonfirmasi

suatu diagnosis endometriosis. Hal ini dibuktikan dari penelitian Sumathi,

McCluggage serta Onda, Simhizu, dkk dalam 2 penelitian di sentra yang

berbeda. Mereka mengumpulkan kasus-kasus ‘suggestive of endometriosis’

pada ovarium yang diagnosisnya belum dapat ditegakkan secara pasti.

Menurut kepustakaan, tidak jarang perdarahan yang berulang pada

endometriosis menyebabkan jaringan endometrium hilang secara total

sehingga kista hanya dilapisi oleh beberapa lapisan makrofage hemosiderin-

laden. Pada situasi tersebut, kebanyakan patolog hanya dapat menegakkan

kasus sebagai kista hemoragis/berdarah yang konsisten dengan

endometriosis. Pada penelitian mereka, pemakaian imunostaining CD 10

sangat bermanfaat karena penegakan diagnosis terhadap kista endometrium

Universitas Sumatera Utara


50

dapat dilakukan secara definit walaupun tidak tampak komponen epithel

endometrium yang jelas.33

Pada penelitian kami, secara deskriptif dan statistik terdapat perbedaan

antara pemeriksaan histopatologi konvensional dengan pemeriksaan

imunohistokimia CD 10. Hal ini ditunjukkan hasil penelitian bahwa dari 22

kista endometriosis, secara imunohistokimia CD 10 terbukti 6 kasus negatif

sehingga terjadi overdiagnosis (positif palsu).

Pada kelompok kista lutein berdarah yang secara histopatologi konvensional

ditegakkan, ternyata 5 kasus positif terdapat sel-sel stroma endometrium

sehingga hal ini berarti terjadi underdiagnosis (negatif palsu). Namun setelah

dilakukan review, ternyata 2 kasus di antaranya adalah kasus kista lutein

berdarah yang disertai kehamilan ektopik pada tuba fallopi. Kemungkinan

positivitas CD 10 pada 2 di antara 5 kasus kista lutein berdarah yang negatif

palsu, adalah tidak spesifik untuk kista endometriosis karena CD 10 pasti

akan mewarnai sel-sel desidua pada kehamilan ektopik tersebut.

Beberapa bias yang mungkin terjadi pada penelitian ini juga terlihat pada

tampilan CD 10 yang terekspresi positif pada sel-sel radang limfosit. Pada

beberapa kasus, ditemukan gambaran kista ovarium terutama kista lutein

yang terpelintir pada pemeriksaan histopatologi konvensional. Hal ini

menyebabkan massa kista mengalami nekrosis dan menarik sel-sel radang

untuk datang menginfiltrasi jaringan kista. Sel-sel radang inilah yang

mengakibatkan CD 10 tertampil pada jaringan kista lutein.

Universitas Sumatera Utara


51

Penelitian kami juga memiliki beberapa keterbatasan, dimana penegakan

diagnosis dari histopatologi tidak disertai dengan keterangan klinis pasien

yang lengkap dan gambaran radiologis USG dari klinisi dokter spesialis

Obgyn.

Namun pada dasarnya, pemeriksaan CD 10 pada penelitian ini memberikan

angka sensitivitas dan spesifitas yang lebih dari cukup untuk membedakan

antara kista endometriosis dan kista lutein berdarah yang ditelah didiagnosis

secara histopatologi konvensional. Hal ini sesuai dengan penelitian

McMaster-Fay et al yang mengatakan bahwa pemeriksaan CD 10 sangat

berguna dalam mengkonfirmasi penegakan diagnosis endometriosis di lokasi

ektopik di luar endometrium itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara


52

Bab 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari penelitian terhadap 44 sampel blok parafin yang berasal dari jaringan

kista ovarium yang didiagnosis sebagai kista endometriosis dan kista

lutein berdarah dengan pemeriksaan histopatologi konvensional

pewarnaan Hematoksilin Eosin dibandingkan dengan pemeriksaan

imunohistokimia CD 10 pada Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan, maka dapat disimpulkan

bahwa :

1. Hasil pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dibandingkan dengan

pemeriksaan histopatologi konvensional dalam mengidentifikasi

kista endometriosis ovarium dan kista lutein berdarah secara

statistik terdapat perbedaan yang bermakna, dimana p-value =

0,001 (p<0,05).

2. Usia rata-rata penderita kista endometriosis ovarium dan kista

lutein berdarah yang ikut dalam penelitian ini adalah 32,5 tahun

dimana paling banyak adalah kelompok usia reproduktif yaitu umur

20-35 tahun, dengan jumlah sampel sebanyak 30 kasus (68,2%).

3. Dengan pewarnaan imunohistokimia CD 10, ditemukan 21 kasus

(47,7%) yang memberikan gambaran imunoekspresi positif, dan

selebihnya 23 kasus (52,3%) negatif.

4. Hasil pemeriksaan Imunohistokimia CD 10 dibandingkan dengan

pemeriksaan histopatologi konvensional untuk menilai kista

Universitas Sumatera Utara


53

endometriosis ovarium memiliki sensitivitas sebesar 72,27% dan

spesifisitas sebesar 77,27%.

5.2. Saran

Dengan hasil penelitian ini, diharapkan :

1. Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dianjurkan untuk dilakukan

secara rutin pada pemeriksaan histopatologi terhadap kista

endometriosis dan jenis kista berdarah lainnya di laboratorium

patologi anatomi karena lebih objektif sehingga dapat membantu

klinisi memberikan penanganan optimal terhadap pasien-pasien

tersebut.

2. Agar penelitian dapat dilanjutkan dengan melihat tampilan

imunohistokimia CD 10 terhadap berbagai jenis kista berdarah lainnya

bukan hanya kista lutein berdarah dan terhadap berbagai lesi

endometriosis di lokasi-lokasi lain dalam hubungannya dengan

gambaran klinis dan radiologis USG untuk menimimalisasi bias yang

dapat timbul.

3. Penelitian lanjutan terhadap endometriosis dengan berbagai panel

imunohistokimia lain yang dapat memberikan angka sensitivitas dan

spesifisitas yang lebih tinggi.

Universitas Sumatera Utara


54

DAFTAR PUSTAKA

1. Oepomo TD. Kadar TNF-α dalam Zalir Peritoneal Penderita

Endometriosis. Bioteknologi 2005; 2 (2): 54-7.

2. Crum CP, Rose PG. Endometrium. In : Crum CP, Lee KR editor.

Diagnostic Gynecologic and Obstetric Pathology. Philadelphia : Elsevier

Saunders, Inc. 2006 ; 267 – 344.

3. D’ Hooghe TM, Hill JA. Endometriosis. In : Berek JS editor. Novak’s

Gynecology. 13th edition. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.

2010 ; 931-59.

4. Potlog-Nahari C, Feldman AL, Stratton P, Koziol DE, Segars J, Merino

MJ, Nieman LK. CD10 immunohistochemical staining enhances the

histological detection of endometriosis. Fertility And Sterility. Elsevier Inc,

American Society for Reproductive Medicine. 2004 ; 82 (1) : 86-92.

5. McCluggage WG. Immunohistochemical and Functional Biomarkers of

Value in Female Genital Tract Lesions. In : Robboy SJ, Mutter GL, et al

editors. Robboy’s Pathology of the Female Reproductive Tract. 2 nd ed.

China : Churchill Livingstone Elsevier. 2009 ; 999-1002.

6. Chu P, Arber DA. Paraffin-Section Detection of CD10 in 505

Nonhematopoietic Neoplasms, Frequent Expression in Renal Cell

Carcinoma and Endometrial Stromal Sarcoma. Am J Clin Pathol 2000;

113 : 374-82.

7. Fukuda H, Mukai H. Cutaneous endometriosis in the umwbilical region:

The usefulness of CD10 in identifying the interstitium of ectopic

endometriosis. Journal of Dermatology 2010; 37: 545–9.

Universitas Sumatera Utara


55

8. Depalo R, Cavallini A, Lorusso F, Bassi E, Totaro I, Marzullo A, Bettocchi

S, Selvaggi L. Apoptosis in normal ovaries of women with and without

endometriosis. Reproductive BioMedicine Online. 2009 ; 19 (6) : 808–15.

Available at : www.rbmonline.com/Article/4115 on web 30 September

2009.

9. Crum CP, Lester SC, Cotran RS. The Female Genital System and Breast.

In : Kumar V, Cotran RS, Robbins S, editors. Robbins Basic Pathology.

International 7 th edition. Philadelphia : Saunders. 2003 ; 690-5.

10. Ellenson LH, Pirog EC. The Female Genital Tract. Robbins and Cotran

Pathologic Basis of Disease. 8th edition. E-book edition. Philadelphia :

Saunders Elsevier. 2010; 1028-9; 39.

11. Robboy SJ, Haney A, Russell P. Endometriosis. In : Robboy SJ, Mutter

GL, et al editors. Robboy’s Pathology of the Female Reproductive Tract.

2nd ed. China : Churchill Livingstone Elsevier. 2009 ; 515-38.

12. Schenken RS. Pathogenesis, Clinical Features, and Diagnosis of

Endometriosis. UpToDate version 14.1. 2006.

13. Smith RP, Netter FH, Craig JA, Machado CAG. Netter’s Obstetrics,

Gynecology and Women’s Health. International edition. New Jersey : Icon

Learning Systems LLC. 2002 ; 246-9.

14. Donnelly JK, Pfeifer JD, Huettner PC. The Ovary. In : Humphrey PA,

Dehner LP, Pfeifer JD, editors. The Washington Manual of Surgical

Pathology. Washington : Lippincott Williams & Wilkins. 2008; 400.

15. Gabriel A, Shores JT, Poblete M, Victorio A, Gupta S. Abdominal Wall

Endometrioma, Case Report and Review. Ann Plast Surg 2007;58: 691–3.

Universitas Sumatera Utara


56

16. Bhatt S, Kocakoc E, Dogra VS. Endometriosis : Sonographic Spectrum.

Ultrasound Quarterly 2006;22:273- 80.

17. Clement PB, Young RH, Scully RE. The Peritoneum. In : Mills SE, Carter

D et al, editors. Sternberg’s Diagnostic Surgical Pathology. Volume 2. 5th

ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. 2010; 2403-8.

18. Maruthini D, Amin A, Buxton J. Endometrioid adenocarcinoma of the

ovary arising from endometriosis and presenting as an acute abdomen. J

Obstet Gynaecol. 2007; 27(5):540-1.

19. Gordon JD, Speroff L. Handbook for Clinical Gynecologic Endocrinology

and Infertility. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. 2002 ; 448-53.

20. Heilbrun ME, Olpin J, Shaaban A. Imaging of Benign Adnexal Masses

Characteristic Presentations on Ultrasound, Computed Tomography, and

Magnetic Resonance Imaging. Top Magn Reson Imaging 2010; 21 (4) :

213-23.

21. Borders RJ, Breiman RS, Yeh BM, Qayyum A, Coakley FV. Computed

Tomography of Corpus Luteal Cysts. J Comput Assist Tomogr 2004;

28:340–2.

22. Rosai J. Rosai and Ackerman’ s Surgical Pathology. Tenth Edition.

Volume 2. Philadelphia : Mosby Elsevier. 2011 ; 1553-9.

23. Jarvis RR, Olsen ME. Type I von Willebrand’s Disease Presenting as

Recurrent Corpus Hemorrhagicum. Obstet Gynecol 2002; 99:887–8.

24. Drake JG, Londono J, Hoffman MS. Overview of the etiology and

evaluation of the adnexal mass. UpToDate published. Available at :

http://www.UpToDate.com. version 14.1. 2005.

Universitas Sumatera Utara


57

25. Patrinos GP, Ansorge WJ. Molecular Diagnostics : Past, Present and

Future. In : Patrinos GP, Ansorge WJ editors. Molecular Diagnostics. 2 nd

edition. London : Academic Press, Elsevier. 2010 ; 9.

26. Oliva E, Garcia-Miralles N, Vu Q, Young RH. CD10 Expression in Pure

Stromal and Sex Cord-Stromal Tumors of the Ovary: An

Immunohistochemical Analysis of 101 Cases. Lippincott Williams &

Wilkins, Baltimore. International Journal of Gynecological Pathology. 2007

; 26:359–367. DOI: 10.1097/pgp.0b013e318064511c.

27. Soslow RA, Isacson C, Zaloudek C. Immunohistology of the Female

Genital Tract. In : Dabbs DJ editor. Diagnostic Immunohistochemistry. 2 nd

edition. Philadelphia : Churchill Livingstone Elsevier. 2006; 652-9.

28. Neves CO, Soares AB, Costa AF, de Araujo VC, Furuse C, Juliano PB,

Altemani A. CD10 (Neutral Endopeptidase) Expression in Myoepithelial

Cells of Salivary Neoplasms. Appl Immunohistochem Mol Morphol 2010;

18: 172–8.

29. Miller RT. Focus on Immunohistochemistry CD10. Available at :

http://www.propathlab.com/ ProPath Immunohistochemistry Lab . May

2001.

30. Maguer-Sattaa V, Chapelliera M, Delaya E, Bachelard-Cascalesf E.

CD10: A tool to crack the role of stem cells in breast cancer. E1264,

PNAS. 2011; 108 No. 49 (letter to editor). Available at :

www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas.1116567108.

31. McMaster-Fay R, Osborn R, Chandraratnam E. The Clinical Utility Of

CD10 Immunohistochemical Staining In The Diagnosis Of Endometriosis.

J clin path 2002;55:391–2.

Universitas Sumatera Utara


58

32. Rabban JT, Soslow RA, Zaloudek CZ. Immunohistology of The Female

Genital Tract. In : Dabbs DJ. Diagnostic Immunohistochemistry :

Theranostic and Genomic Applications. Philadelphia : Saunders Elsevier.

3rd edition. 2010; 704.

33. Sumathi VP, McCluggage WG. CD10 is useful in demonstrating

endometrial stroma at ectopic sites and in confirming a diagnosis of

endometriosis. J Clin Pathol 2002;55:391–2.

Universitas Sumatera Utara


59

LAMPIRAN 1 DATA BAKU PENELITIAN


TAMPILAN IMUNOHISTOKIMIA CD 10 PADA KISTA ENDOMETRIOSIS OVARIUM
DAN KISTA LUTEIN BERDARAH

No. No. Slide Nama Umur Keterangan klinis Histopatologi IHK CD


(H & E) 10
1. JH/12.576 Iman Shally Aulia 35 thn Kista ovarium Kista endometriosis +

2. JH/12.378 Evi 20 thn Kista Kista endometriosis --


endometriosis
3. JH/12.286 Rostina Tarigan 38 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
4. JH/12.251 Evi Rosiana 38 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
duplex
5. JH/11.1085 Mei Anita 26 thn Kista Kista endometriosis --
endometriosis
6. JH/11.1084 Boinem Sembiring 43 thn Kista ovarium Kista endometriosis --
7. JH/11.1029 Mirna 29 thn Kista Kista endometriosis +
endometriosis
8. JH/11.914 Priska Natalia 25 thn Kista coklat Kista endometriosis +
Sembiring ovarium
9. JH/11.860 Tianggur 46 thn Kista coklat + Kista endometriosis +
myoma uteri
10. JH/11.776 Nella Hutagalung 26 thn Kista Kista endometriosis +
endometriosis
11. JH/11.678 Febriani FR 29 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
12. JH/11.515 Fauziah Saragih 35 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
duplex duplex
13. OK/124/12 Yusefa 32 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
14. OK/37/12 Sri Wahyuni 30 thn Kista coklat Kista endometriosis +
15. OB/46/12 Rahmalem Ginting 44 thn Ovarium Kista endometriosis +
16. H/12.266 Suarti 27 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
17. H/12.030 Hasnah 41 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
18. H/12.031 Fitri 30 thn Kista ovarium Kista endometriosis +
19. H/12.221 Suhereina 33 thn Kista Kista endometriosis +
endometriosis duplex
20. H/12.099 Samiati 30 thn Kista ovarium Kista endometriosis --
21. H/11.269 Meli Kasmawati 35 thn Kista ovarium Kista endometriosis --
22. H/11.313 Nurlela 46 thn Kista ovarium Kista endometriosis --
23. H/11.317 Anni Farida 37 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
24. H/11.140 Elida Mariana 26 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
25. JH/12.529 Sri Rama Yani 29 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
kanan +
Kehamilan ektopik
26. JH/12.518 Juniar Saudur 29 thn Tumor ovarium Kista lutein berdarah --
27. JH/12.478 Juliana 30 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
terpelintir + abses
rongga pelvis
28. JH/12.462 Yanti br Padang 19 thn Ruptur kista Kista lutein berdarah --
ovarium
29. JH/12.400 Nanda Lestari 26 thn Hamil, kista Kista lutein berdarah +

Universitas Sumatera Utara


60

duplex duplex
30. JH/12.031 Rose 35 thn Kehamilan ektopik Kista lutein berdarah +
+ kista
31. JH/11.1052 Mariyah 34 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah +
32. JH/11.900 Mardiana 33 thn Kista ovarium Kista lutein --
kanan + kehamilan berdarah
ektopik salfing kiri
33. JH/11.777 Lina 30 thn Kista ovarium kiri Kista lutein +
34. OB/26/12 Pipin 18 thn Kista ovarium Kista lutein --
duplex berdarah
35. OB/09/12 Maisarah 49 thn Kista ovarium Kista lutein --
berdarah
36. OK/85/12 Maholina Situmeang 32 thn Kista ovarium Kista lutein --
duplex berdarah
37. OK/136/12 Maya Wardani 31 thn Kista ovarium Kista lutein --
berdarah
38. OK/119/12 Purnama Dewi 41 thn Kista coklat Kista lutein +
berdarah
39. H/11.189 Nurdewi 32 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
40. JH/11.423 Lina 31 thn Kista ovarium + Kista lutein berdarah --
kehamilan ektopik
41. JH/12.506 Ayu Lisda 23 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
42. JH/12.914 Yusniar 24 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
yang torsi dan
ruptur
43. JH/12.314 Siti Hadijah 44 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --
44. JH/12.142 Anna 39 thn Kista ovarium Kista lutein berdarah --

Keterangan tabel :

1. No. Slide : nomor pengenal kasus di lab PA USU.


2. Keterangan klinis : keterangan diagnosis dari dokter pengirim yaitu dokter ahli kandungan
yang melakukan operasi terhadap kista ovarium.
Semua pasien adalah wanita, dan semua kasus yang diambil adalah kista ovarium.
3. Histopatologi (H&E) : hasil pemeriksaan histopatologi jaringan di Lab PA dengan
menggunakan pewarnaan konvensional rutin yaitu Hematoksilin dan Eosin.
4. Imunohistokimia CD 10 : Hasil penelitian dengan pewarnaan imunohistokimia menggunakan
antibodi CD 10, sel stroma endometrium akan terwarnai secara positif sehingga artinya
apabila CD 10 positif  kistanya adalah jenis endometriosis.

Universitas Sumatera Utara


61

LAMPIRAN 2
FOTO-FOTO MIKROSKOPIS IMUNOHISTOKIMIA CD 10 KISTA ENDOMETRIOSIS
OVARIUM DAN KISTA LUTEIN BERDARAH

Gambar 1. Sediaan kista endometriosis secara konkordan terwarnai


positif pada sel-sel stroma kista ovarium(x100).

Gambar 2. Sel-sel stroma endometrium terlihat positif dengan CD 10 dengan


intensitas kuat dan difus. Sebaliknya pelapis epitel kelenjar endometrium
terlihat negatif terhadap CD 10. (x100).

Universitas Sumatera Utara


62

Gambar 8 . Ekspresi positif kuat dan


diffuse pada jaringan hepar
sebagai kontrol positif IHK
(x200).

Gambar 3. Jaringan kista lutein berdarah dengan tampilan IHK CD 10 positif karena pada
pasien tersebut, ia juga mengalami kehamilan ektopik, sehingga ditemukan jaringan
stroma endometrium pada tuba fallopi dan dekat kista ovarium. Di samping itu,
sebukan sel radang yang cukup masif juga membuat CD 10 tertampil positif. (x100).

Gambar 4. Sediaan kista lutein dengan ekspresi negatif pada sel stroma
ovarium yang mirip dengan stroma endometrium ektopik(x100).

Universitas Sumatera Utara


63

Gambar 5. Jaringan kista coklat ovarium (klinis) tanpa pelapis epitel, tanpa
sel-sel stroma endometrium maupun sel makrofage hemosiderin
laden, tidak terwarnai coklat dengan CD 10 sehingga ekspresinya
dinyatakan negative (x100).

Universitas Sumatera Utara


64

CURRICULUM VITAE

Nama : dr. Jessy Chrestella


Tempat/ Tgl Lahir : Medan, 13 Januari 1982
Pekerjaan : Staf Pengajar Dept. Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran USU
Status : Menikah
Agama : Kristen
Alamat : JL. Dr. Mansur No. 77
Medan – 20131, Indonesia
Telepon : 061- 8211272 / HP. 08126023988
Email : jes_ch@msn.com

RIWAYAT PENDIDIKAN :
1. SD St. Yoseph II Medan – tahun 1987 - 1993
2. SMP St. Thomas 1 Medan – tahun 1993 - 1996
3. SMA St. Thomas 1 Medan – tahun 1996 - 1999
4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara – tahun 1999 - 2004.
5. Pendidikan Dokter Spesialis Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara – Januari 2006 – November 2009.

RIWAYAT PEKERJAAN :
2005 – 2006 : Dokter umum di Lab. Prodia Cab. Jl. S.Parman, Medan.
2005 – sekarang : Praktek dokter umum.
2008 – sekarang : Staf Pengajar Dept. Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara, Medan.

KARYA ILMIAH :
1. Gambaran Imunoekspresi Matrix Metalloproteinase 9 (MMP-9) Pada Lesi-Lesi
Prakanker dan Karsinoma Serviks Invasif. Penulis utama, dalam : Majalah Patologi
Indonesia Vol. 19 No. 2 tahun 2010.
2. Sarcomatoid Renal Cell Carcinoma : a case report. Penulis utama, dalam : Majalah
Kedokteran Nusantara USU. The Journal of Medical School. Volume Januari 2009.
3. Gambaran Plasenta Penderita Systemic Lupus Erythematosus : Laporan 2 Kasus,
dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Konferensi Kerja Ke-11 (KONKER) dan
Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) 15 – 18 Juli 2008 di Manado.

Universitas Sumatera Utara


65

PARTISIPASI DALAM KEGIATAN ILMIAH :


1. Peserta pelatihan Basic Life Support Education Program, Medan, 10-11 November
2001.
2. Panitia 2nd Asean Conference on Medical Sciences, Medan, 18-20 Agustus 2002.
3. Peserta Simposium Early Detection of Ovarian Cancer, Medan, 4-5 Oktober 2003.
4. Peserta Pelatihan Advanced Cardiac Life support (ACLS), USU, MEDAN, 27-29 MEI
2005.
5. Peserta Kursus Neuropatologi, Medan, 18 Maret 2006.
6. Peserta Pertemuan Ilmiah IDI Cabang Medan, Medan, 13 Januari 2007.
7. Peserta Seminar Waspada Kanker pada Anak - IDAI dan USU, Medan, 24-25 Maret
2006.
8. Peserta Kursus Patologi Limforetikuler dan Sumsum Tulang, Jakarta, 24-25 Maret
2007.
9. Peserta 24th World Congress of Pathology and Laboratory Medicine, Kuala
Lumpur, 20-24 Agustus 2007.
10. Peserta Simposium Upaya Deteksi Dini Karsinoma Nasofaring di Sumatera Utara,
Medan, 29 April 2008.
11. Peserta Kursus Patologi Ginekologi, Jakarta, 3-4 Mei 2008.
12. Panitia Seminar awam Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker pada Wanita, Medan,
14 Juni 2008.
13. Peserta Konferensi Kerja ke-11 dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhimpunan
Dokter Spesialis Patologi Anatomi (IAPI), Manado, 15-18 Juli 2008.
14. Peserta Kursus Patologi Tiroid dan Payudara, Jakarta, 13-14 Desember 2008.
15. Peserta Seminar dan Workshop Dermatopatologi, Medan, 25-26 Januari 2009.
16. Peserta Seminar Advances in Breast Cancer, Medan, 21 Februari 2009.
17. Peserta Kursus Patologi Gastrointestinal, Jakarta, 25-26 April 2009.
18. Panitia Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomi (IAPI) ke-
16, Medan, 4-7 November 2009.
19. Peserta Kursus Patologi Paru dan Sistem Urogenital USU, Medan, 27-28 Februari
2010.
20. Peserta Kursus Patologi Nasofaring dan Limforetikuler USU, Medan 26-27 Juni
2010.
21. Peserta Diagnostic Cytopathology Workshop National University Hospital,
Singapore, 4-6 Juni 2010.
22. Panitia 19th Annual Meeting Indonesian Society of Surgical Oncology in
conjunction with World Federation of Surgical Oncology Society (WFSOS), Medan,
25-26 November 2010.

Universitas Sumatera Utara