Anda di halaman 1dari 3

Contra

Yuridis

Hak Angket terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan lemahnya aspek legitimasi dari
pansus tersebut.Yang jelas dari kontroversi itu menggambarkan bahwa legitimasinya kurangdari aspek
legalitas, setiap orang bisa berpendapat soal sah atau tidaknya pembentukan pansus hak angket.Namun
jika dilihat dari perkembangannya, banyak pihak yang mempersoalkan, bahkan menentang
pembentukan pansus. mengindikasikan lemahnya legitimasi pembentukan pansus. Bisa saja itu legal tapi
kemudian ada yang mempersoalkan tidak legal. Beda itu antara legalitas dan legitimasi. Legalitas oke tapi
legitimasi kurang. Karena legitimasi itu lebih sosiologis, kalau legalitas sifatnya lebih normatif. Ditambah
lagi KPK tidak bisa dijadikan objek hak angket.bedasarkan pada pengertian tentang hak angket dalam
UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3), bahwa objek angket adalah kebijakan pemerintah.

Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang
dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan. istilah pemerintah ada yang bersifat generik dan spesifik. Di konstitusi,
pemerintah generik mencakup semua lembaga negara dari pusat sampai RT dikatakan pemerintah. Tapi
menurut konstitusi, pemerintah sudah terkait dengan negara. Konstitusi menyebut pemerintah sudah
spesifik,Sekarang di Indonesia menurut konstitusi tata hukum, pemerintah itu selalu mengacu pada arti
sempit yaitu hanya lembaga eksekutif

Menurut prof. mahfud md Sama sekali KPK tidak bisa disebut masuk bagian pemerintah, apalagi
dikaitkan dengan trias politika. KPK tidak bisa diangket, Mahfud merinci, komisioner KPK tidak diangkat
Presiden, tapi hanya diresmikan Presiden dengan Kepres seperti anggota DPD, DPR, bukan diangkat
sehingga bukan bawahan Presiden.

"Karenanya orang-orang KPK komisionernya tidak bisa digeser-geser oleh presiden, sebelum masa
jabatan habis. Semua tugas KPK menurut saya justru berkaitan dengan lembaga yudikatif (bukan
eksekutif -red),"

.hakim konstitusi Saldi Isra mengatakan KPK bukanlah lembaga eksekutif. Dengan begitu, menurut Saldi,
DPR tidak bisa menggunakan hak angket terhadap KPK.

"Berdasarkan penafsiran secara sistematis adalah tidak koheren apabila objek dari pelaksanaan hak
angket dan hak-hak DPR lainnya yang diatur dalam pasal 79 UU MD3 dikatakan mencakup hal-hal yang
berada di luar ruang lingkup kekuasaan pemerintah atau eksekutif,"

Jika di kaitkan pembentukan Pansus Angket KPK sendiri telah melanggar ketentuan yang ada dalam
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD.
Pasal 201 Ayat (2)yang menyebutkan bahwa keanggotaan Pansus Angket terdiri dari semua unsur fraksi
yang ada di DPR.Sementara, dalam Pansus Angket KPK, ada sejumlah fraksi yang tidak ikut ambil bagian,
seperti Fraksi Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai Demokrat, dan Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa. Nah sekarang fraksinya di Pansus Angket tinggal enam, tak bisa pansus membuat
keputusan angket

Filosofis

filosofi dasar dari hak angket DPR adalah sebagai instrumen pengawasan dan keseimbangan (check and
balances) dalam sistem demokrasi presidensial.Memang tujuan hak angket DPR adalah untuk
pengawasan dan keseimbangan antara cabang kekuasaan DPR dan cabang kekuasaan presiden sebagai
instrumen pengawasan dan keseimbangan, hak angket DPR berarti hanya ditujukan bagi lembaga
eksekutif di bawah presiden, atau lembaga yang menjalankan fungsi kekuasaan pemerintah. Hal
tersebut, sudah dijelaskan secara eksplisit dalam Pasal 79 ayat (3) UU MD3 terutama dalam frasa
pelaksanaan suatu undang-undang dan atau kebijakan pemerintah Karena ujungnya nanti dari
penggunaan hak angket adalah untuk memakzulkan," jelas Refly.Menurut Refly, bila hak angket
ditindaklanjuti, maka kemudian akan menjadi hak untuk menyatakan pendapat yang berujung pada
pemakzulan. Sebelumnya, sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pengujian
terkait tentang hak angket DPR yang meminta keseluruhan Pasal 79 ayat (3) UU MD3 menjadi
konstitusional bersyarat (Perkara Nomor 40/PUU-XV/2017).

Hal serupa juga diungkapkan oleh mantan wakil ketua KPK Busyro Muqoddas, Yayasan Lembaga Bantuan
Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Corruption Watch (ICW) serta Konfederasi Persatuan buruh
Indonesia (KPBI) yang tergabung dalam Tim Advokasi Selamatkan KPK selaku Pemohon Perkara Nomor
47/PUU-XV/2017.

Kemudian beberapa pemohon perseorangan juga mengajukan permohonan serupa yang teregistrasi
dengan Nomor 36/PUU-XV/2017 dan 37/PUU-XV/2017.

Sosiologis

Adanya hak angket terhadap kpk hal ini meresakan masyarakat karena ibarat menangkap ikan dengan
cara di bom sehingga akan merusak suatu tatanan padahal ada cara lain dengan mengunakan jaring,
bom ibarat sebuah hak angket karena itu merupakan senjata pamungkas yang dimuliki oleh dpr swbagai
wakil rakyat, masyarakat akan takut apabila hak angket ini terhadap kpk akan
melemahkan/menghancurkan suatu tatanan, apalagi di negara ini lembaga kpk adalah lembaga satu-
satunya yang menangani masalah korupsi, degan adanya hak angket ditakutkan akan menghambat
kinerja kpk dalam meberantas korupsi

Hasil survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa hak angket yang
digulirkan DPR RI bukan merupakan hasil aspirasi rakyat.

Lantas, hak angket oleh wakil rakyat di Senayan itu justru mewakili siapa?
Pada survei yang dilakukan periode 14 Mei sampai 20 Mei 2017 dengan 1.350 responden tersebut, 65
persen responden menilai langkah DPR mengunakan hak angket terhadap KPK tidak dapat dibenarkan.

Hanya 29,5 persen responden yang menyatakan langkah DPR menggunakan hak angket bisa dibenarkan,
sementara 5,6 persen responden yang tidak tahu atau tidak menjawab.

Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas menyatakan, temuan ini menunjukkan publik menolak DPR
menggunakan hak angket terhadap KPK. Padahal, lanjut Abbas, DPR dalam pengawasan terhadap
pelaksana negara, termasuk KPK, harus menyalurkan aspirasi rakyat yang diwakilinya.

"DPR ternyata tidak mewakili aspirasi atau kepentingan rakyat. Rakyat umumnya (pada hasil survei) tidak
membenarkan penggunaan hak angket untuk KPK. Lalu, DPR mewakili siapa?